JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3044 - 3053 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Mutiara Melati Jannatul Adn1. An Nuril Maulida Fauziah2A Universitas Negeri Surabaya. Indonesia1,2 E-mail: annurilfauziah@unesa. Abstrak Problem Based Learning (PBL) memiliki keselarasan dengan indikator keterampilan pemecahan masalah (KPM), dimana menggunakan permasalahan sebagai pusat pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dampak implementasi PBL terhadap KPM di kalangan peserta didik SMP dalam pembelajaran IPA. Partisipan penelitian ini terdiri dari 30 peserta didik kelas Vi SMP Negeri 58 Surabaya. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Pra-eksperimental. Analisis data melibatkan berbagai tahap pengumpulan data, observasi, reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Tes tertulis . retest dan posttes. digunakan untuk pengumpulan data. Skor uji paired sample t-test ditunjukkan dengan sig. sebesar 0,000 < 0,05, terdapat perbedaan KPM peserta didik kelas Vi SMP Negeri 58 Surabaya dan hasil uji N-gain dari rata-rata pretest dan posttest diperoleh 0,73 dengan kriteria peningkatan tinggi, menunjukkan adanya peningkatan KPM. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dan peningkatan KPM IPA khususnya materi nutrisi peserta didik kelas Vi SMP Negeri 58 Surabaya. Berdasarkan hasil analisis data, dapat ditarik kesimpulan implementasi PBL dapat meningkatkan KPM peserta didik SMP Negeri 58 Surabaya. Kata Kunci: Problem Based Learning, keterampilan pemecahan masalah, nutrisi Abstract Problem-based learning (PBL) is aligned with the indicators of problem-solving skills, which use the problem as the center of learning. This study aims to examine the impact of PBL implementation on KPM among junior high school students in science learning. The participants of this study consisted of 30 students of class Vi of SMP Negeri 58 Surabaya. The research methodology used was pre-experimental. Data analysis involved various stages of data collection, observation, data reduction, presentation, and conclusion drawing. Written tests . retest and posttes. were used for data collection. The paired sample t-test score is indicated by sig. 000 < 0. 05, there is a difference in the KPM of students in class Vi SMP Negeri 58 Surabaya, and the Ngain test results from the average pretest and posttest obtained 0. 73 with high improvement criteria, indicating an increase in KPM. These results indicate that there is a significant difference and increase in KPM science, especially nutrition material for students in class Vi SMP Negeri 58 Surabaya. Based on the results of the data analysis, it can be concluded that the implementation of PBL can improve the KPM of students of SMP Negeri 58 Surabaya. Keywords: Problem Based Learning, problem solving skills, nutrition Copyright . 2024 Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah A Corresponding author : Email : annurilfauziah@unesa. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3045 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Era modern, peserta didik diharapkan untuk unggul dalam kompetensi abad ke-21, yang menghadirkan tantangan yang signifikan bagi para pendidik untuk terus menyempurnakan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan kontemporer. Beradaptasi dengan perkembangan pesat dalam IPTEK sangat penting bagi setiap individu untuk memperoleh keterampilan penting seperti pemecahan masalah di dunia saat ini (Pare & Sihotang, 2. Keterampilan pemecahan masalah (KPM) sangat penting bagi peserta didik karena memungkinkan mereka untuk secara efektif mengatasi dan mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Kemahiran dalam pemecahan masalah menandakan kapasitas untuk berpikir kritis dan menavigasi kompleksitas selama perjalanan belajar (Mardhiyah et al. , 2. Di Indonesia, masih ada kekurangan yang mencolok dalam keterampilan ini. Ketidakmampuan ini digarisbawahi oleh data PISA yang secara konsisten menempatkan Indonesia di peringkat 10 terbawah selama lebih dari satu dekade (Zahro & Haerudin, 2. Di SMP Negeri 58 Surabaya, telah diamati bahwa kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah masih terbatas. Hal ini terutama disebabkan oleh kegagalan guru dalam mengintegrasikan masalah dunia nyata ke dalam pendekatan pengajaran mereka, terutama dalam bidang pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA, sangat esensial bagi peserta didik untuk terjun secara aktif dan menemukan implikasi praktis dari kurikulum, yang meningkatkan pemahaman dan kemudahan mereka dalam mempelajari konsep-konsep ilmiah (Sudana & Wesnawa, 2. Pembelajaran IPA membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan teoritis atau membaca. pendidikan sains membutuhkan aplikasi praktis agar peserta didik dapat mengubah konsep abstrak menjadi pemahaman yang nyata melalui pengalaman langsung (Aliyyah et al. , 2. Pemilihan masalah memainkan peran penting dalam meningkatkan pembelajaran IPA dengan menjembatani kegiatan di kelas dengan konteks kehidupan nyata, seperti nutrisi, yang secara langsung berdampak pada kehidupan nyata peserta didik. Kurangnya pengembangan KPM peserta didik juga disebabkan oleh guru yang belum sepenuhnya menggunakan pendekatan yang berpusat pada peserta didik, sehingga gagal menumbuhkan keterampilan ini secara efektif di kalangan peserta didik. Peningkatan diperlukan dalam memilih model untuk kegiatan belajar mengajar yang sepadan dan mengoptimalkan tahapannya untuk meningkatkan KPM peserta didik. Mengadopsi model yang berpusat pada peserta didik yang selaras dengan persyaratan abad ke-21 sangat penting dalam hal ini (Redhana, 2. Selain itu, untuk meningkatkan efektivitas upaya belajar mengajar, pendekatan yang diadopsi berpusat pada peserta Contoh yang tepat dari model tersebut adalah problem based learning (PBL), dimana peserta didik berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah dan terlibat dalam pemikiran reflektif berdasarkan pengalaman mereka (Ariyani & Tego, 2. PBL berakar pada teori konstruktivis dan Vygotsky. Secara umum, teori konstruktivisme menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses dimana peserta didik secara aktif terlibat dalam mengkonstruksi pengetahuan, membentuk konsep, dan mengaitkan makna pada materi yang mereka pelajari (Kusumawati et al. , 2. Teori Vygotsky menggarisbawahi pentingnya konteks sosial dan budaya dalam perkembangan individu, dengan menyoroti peran penting interaksi sosial dan pertukaran pengetahuan. Menurut teori perkembangan sosiokultural Vygotsky, pertumbuhan kognitif sangat dipengaruhi oleh interaksi interpersonal dan faktor budaya (Suardipa, 2. Model PBL terklasifikasikan menjadi 5 fase utama meliputi orienting students to the problem, . organizing students to research, . guiding independent and group investigations, . developing and presenting the results of work, dan ( . analyze and evaluate the problem solving process (Arends, 2. Fase utama PBL memiliki keselarasan dengan indikator KPM yang meliputi yaitu . stating the problem, . preparing a problem solving plan, . implementing the problem solving plan, dan . evaluating the results obtained (Polya, 1. Korelasi antara fase-fase PBL dan indikator-indikator KPM dapat dilihat dari Pada fase awal PBL dan indikator pertama KPM, masalah berfungsi sebagai titik fokus kegiatan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3046 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. belajar mengajar. Kedua pendekatan tersebut menekankan peran sentral masalah dalam memfasilitasi perolehan pengetahuan baru. Hasil penelitian Azizi & Rasyidi, . , dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang menjalani PBL menunjukkan peningkatan yang jauh lebih besar dalam KPM dibandingkan dengan peserta didik yang diajar dengan metode yang lebih tradisional. Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, pemilihan masalah IPA harus sesuai dengan karakteristik PBL. Kedua, mengintegrasikan PBL dengan teknik kerja kelompok yang efisien dapat mengoptimalkan pemanfaatan waktu. Mendorong peserta didik untuk mencari informasi secara mandiri bertujuan untuk meningkatkan potensi PBL dalam mengembangkan keterampilan pencarian informasi mereka. Langkah-langkah ini diantisipasi untuk meningkatkan efektivitas PBL dalam meningkatkan KPM peserta didik dalam pembelajaran IPA. Sejalan dengan penelitian Pandiangan & Surya, . yang menunjukkan bahwa peserta didik kelas Vi di SMPS Santa Maria Medan mengalami peningkatan yang signifikan dalam KPM matematika setelah penerapan model PBL. Hasil positif ini menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk prestasi mereka di bidang studi ini di masa mendatang. Hasil penelitian Jayadiningrat & Ati, . , menyatakan para peserta didik melaporkan peningkatan substansial dalam KPM mereka setelah penerapan PBL. Para pemecah masalah yang lebih baik mampu mengidentifikasi, mengartikulasikan, menghasilkan, memilih solusi optimal, dan memecahkan masalah secara efektif di semua tahap proses pembelajaran. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang memaksimalkan sintkas ke 2 PBL yaitu organizing students to research, peneliti lebih memaksimalkan sintaks ke 3 PBL yaitu guiding independent and group Pengoptimalan fase ini dilakukan saat peserta didik melakukan wawancara kepada dokter atau ahli gizi di puskesmas terdekat, yang berhubungan dengan materi nutrisi. Peserta didik akan diberikan panduan wawancara yang berisi kisi-kisi pertanyaan, kemudian peserta didik akan mengkomunikasikan sendiri sesuai dengan bahasa mereka. Hal tersebut bertujuan supaya peserta didik mendapatkan pengetahuan awal sebelum peserta didik menyajikan solusi pada pertemuan kedua. Penelitian ini sangat penting karena berfungsi sebagai sumber daya yang berharga bagi para pendidik yang ingin menerapkan metode ini dalam praktik mengajar mereka, sehingga dapat meningkatkan KPM peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana KPM dapat ditingkatkan dengan mengimplementasi PBL di antara peserta didik kelas delapan di SMPN 58 Surabaya. Secara khusus, penelitian ini berfokus pada pengoptimalan fase ketiga dari PBL, yang melibatkan peserta didik dalam melakukan wawancara dengan dokter atau ahli gizi tentang topik terkait gizi yang tercakup dalam kurikulum. Penelitian ini penting karena bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik selama kegiatan pembelajaran. Penelitian ini juga berfungsi sebagai tolak ukur untuk menilai efektivitas PBL dalam meningkatkan KPM di antara peserta didik kelas Vi di SMPN 58 Surabaya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memajukan pemahaman implementasi metodologi pengajaran inovatif di dalam kelas. Meningkatkan KPM adalah urgensi dari penelitian ini. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini mengadopsi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, di mana guru bertindak sebagai fasilitator, mendorong keterlibatan peserta secara aktif dalam mengelola informasi. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pra-eksperimental yang dikenal dengan One Group Pretest-Posttest Design. Desain ini menggunakan satu kelas tanpa kelompok kontrol. Kelas tersebut menjalani pretest untuk mengumpulkan data awal sebelum pelaksanaan intervensi. Selanjutnya, intervensi, yang melibatkan implementasi model PBL, diperkenalkan, diikuti dengan posttest untuk mengumpulkan data setelah periode perawatan, seperti yang diilustrasikan pada tabel berikut. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3047 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Tabel 1. Rancangan Penelitian Pretest Perlakuan Posttest Keterangan: O1: Pretest X : Diberi perlakuan O2: Posttest Penelitian ini dilakukan selama dua sesi di SMPN 58 Surabaya, yang terletak di Kecamatan Gubeng. Kota Surabaya. Penelitian ini melibatkan 30 peserta didik yang ditetapkan secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi lembar pelaksanaan pembelajaran, pretest, dan posttest. Metode analisis data meliputi uji normalitas, uji hipotesis . aired sample t-tes. , dan analisis N-gain. Proses pelaksanaan dimulai dengan inisiasi kegiatan belajar mengajar, diawali dengan pemberian pretest kepada peserta didik, dilanjutkan dengan tahap perlakuan, dan diakhiri dengan pemberian posttest untuk KPM peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam dua pertemuan yang terstruktur sebagai berikut: pada pertemuan pertama, para peserta didik terlibat dalam kegiatan belajar mengajar hingga tahap 3 dari model PBL, yang melibatkan investigasi mandiri dan kelompok. Setelah pertemuan ini, para peserta didik ditugaskan untuk melakukan wawancara dengan dokter di sebuah pusat kesehatan tentang topik yang berkaitan dengan gizi. Pada pertemuan kedua, kegiatan belajar mengajar mencakup semua tahapan PBL, dari fase 1 hingga fase 5. Pertemuan pertama berfungsi untuk membangun pengetahuan dasar di antara para peserta didik sebelum berlanjut pertemuan kedua. Pertemuan kedua, peserta didik mempresentasikan temuan atau solusi mereka, menghubungkannya dengan investigasi yang dilakukan pada pertemuan pertama dan wawasan yang diperoleh dari wawancara. Setelah melakukan uji normalitas dengan menggunakan SPSS versi 25, ditemukan bahwa data pretest . ilai signifikansi = 0,. dan posttest . ilai signifikansi = 0,. berdistribusi normal. Kemudian dilakukan uji beda dua sampel berpasangan dengan memanfaatkan SPSS, dan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (H. , yang menyatakan bahwa implementasi model PBL meningkatkan KPM peserta didik, diterima, sedangkan hipotesis nol (H. , yang menyatakan tidak ada pengaruh, ditolak. Setelah analisis statistik, uji N-gain dilakukan untuk mengevaluasi peningkatan KPM di kalangan peserta didik SMP. Nilai N-gain untuk setiap indikator disajikan di bawah ini. Tabel 2. N-gain Tiap Indikator Indikator KPM Nomor Soal Nilai Pretest Nilai Posttest N-gain Kategori Stating the problem 1 dan 5 0,70 TINGGI Preparing a problem solving plan 2 dan 6 0,81 TINGGI Implementing the problem solving plan 3 dan 7 0,78 TINGGI Evaluating the results obtained 4 dan 8 0,63 SEDANG Berdasarkan data yang diberikan, terdapat perbedaan yang signifikan antara skor yang diperoleh pada pretest dan posttest. Pada indikator stating the problem, peserta didik diminta untuk menganalisis masalah yang disajikan dan mengartikulasikan esensi atau masalah utamanya. Pada indikator ini, nilai N-gain sebesar 0,70 terklasifikasikan tinggi. Hasil jawaban pretest peserta didik pada indikator menyatakan masalah sangat kurang Jawaban peserta didik sering kali kurang tepat karena mereka cenderung kurang teliti dalam menentukan masalah yang mendasari masalah dalam soal (Saparwadi, 2. Pada indikator ini, peserta didik diberikan sebuah permasalahan kemudian ditugaskan untuk menganalisis masalah yang diberikan. Pernyataan tersebut Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3048 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. menunjukkan bahwa dalam pemecahan masalah, peserta didik didorong untuk memahami proses pemecahan masalah, dengan mahir mengidentifikasi dan memilih kondisi dan konsep yang relevan, mencari pola atau generalisasi, merancang strategi solusi, dan mengatur keterampilan yang diperoleh sebelumnya (Rachmawati & Adirakasiwi, 2. Analisis masalah peserta didik disajikan pada gambar berikut. Gambar 1. Jawaban Peserta Didik Indikator Pertama Pada Pretest Pada pretest, jawaban peserta didik kurang sistematis. Setelah intervensi, jawaban posttest mereka meningkat, meskipun kurang komprehensif dalam menyatakan masalah. Peningkatan indikator ini menunjukkan bahwa. Peningkatan indikator ini menunjukkan bahwa peserta didik telah meningkatkan keterampilan mereka untuk memahami dan menganalisis masalah secara efektif (Halimah et al. , 2. Jawaban peserta didik dapat ditinjau pada gambar berikut. Gambar 2. Jawaban Peserta Didik Indikator Pertama Pada Posttest Pada indikator kedua, yaitu preparing a problem solving plan diperoleh N-gain sebesar 0,81 menunjukkan peningkatan yang signifikan dan termasuk dalam kategori tinggi. Indikator ini merupakan indikator dengan hasil N-gain tertinggi. Pada indikator ini, peserta didik ditugaskan untuk membuat menu makanan yang melibatkan penghitungan total kalori, yang berfungsi sebagai rencana pemecahan masalah untuk permasalahan yang Namun, dalam jawaban pretest mereka, peserta didik tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi dalam indikator ini, dimana mereka seharusnya menyusun menu makanan sekaligus menghitung kalori harian mereka. Selama tahap ini, kesalahan umum yang dilakukan oleh peserta didik adalah ketidaktepatan dalam mencatat langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan penyelesaian secara akurat. Kesalahan dalam langkahlangkah yang tidak lengkap ini mungkin berasal dari kesenjangan dalam pemahaman peserta didik tentang materi pelajaran (Hadiana et al. , 2. Jawaban pretest pada indikator kedua disajikan bawah ini. Gambar 3. Jawaban Peserta Didik Indikator Kedua Pada Pretest Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3049 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Gambar yang disajikan menampilkan peserta didik mampu membuat menu makanan tetapi kesulitan dalam menghitung kalori harian selama pretest. Namun, pada posttest, peserta didik yang sama menunjukkan Mereka berhasil menyusun menu makanan dan menghitung kalori harian yang dibutuhkan secara Peningkatan tersebut dikarenakan peserta didik memahami materi dengan baik, sehingga dapat menjawab soal sesuai dengan ekspektasi indikator kedua KPM. Pemahaman yang kuat tentang materi pelajaran memungkinkan peserta didik untuk mengidentifikasi dengan benar metode yang tepat untuk diterapkan berdasarkan informasi yang disajikan dalam soal (Amaliah et al. , 2. Jawaban posttest dapat diamati pada gambar berikut. Gambar 4. Jawaban Peserta Didik Indikator Kedua Pada Posttest Perbandingan antara hasil pretest dan posttest pada indikator ini menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan temuan N-gain untuk indikator menyusun rencana pemecahan masalah, skor tertinggi dicapai karena peserta didik berhasil merumuskan strategi yang komprehensif untuk memecahkan masalah (Azizah et , 2. Indikator ketiga dari KPM adalah implementing the problem solving plan. Nilai N-gain untuk indikator ini adalah 0,78, yang terklasifikasikan kategori tinggi. Indikator ini menyajikan masalah yang berkaitan dengan status gizi dan kebutuhan kalori harian, dimana peserta didik ditugaskan untuk menghitung nilai-nilai tersebut. Pada pretest, sebagian besar peserta didik mengalami kesukaran dalam menamatkan soal terkait dengan indikator ini. Peserta didik sering melakukan kesalahan ini karena kurang teliti dalam perhitungan (Hidayat & Pujiastuti, 2. Hal ini sesuai dengan jawaban peserta didik yang ditunjukkan oleh jawaban yang diberikan oleh siswa sebelum intervensi Gambar 5. Jawaban Peserta Didik Indikator Ketiga Pada Pretest Indikator ini mengharuskan peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah dengan menghitung kebutuhan kalori harian mereka. Namun, pada Gambar 5, peserta didik hanya mencantumkan status gizi tanpa merinci langkah-langkah yang terlibat dalam pemecahan masalah. Setelah guru membimbing peserta didik melalui pelaksanaan rencana pemecahan masalah pada LKPD pertemuan kedua, terjadi peningkatan pada indikator ini. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik dapat menjawab dengan cara yang lebih sistematis. Jawaban posttest indikator ketiga dapat diamati di bawah ini. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3050 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Gambar 6. Jawaban Peserta Didik Indikator Ketiga Pada Posttest Perolehan jawaban peserta didik menunjukkan adanya peningkatan pada indikator ketiga. Peningkatan ini disebabkan oleh fakta bahwa peserta didik mampu memecahkan masalah yang disajikan (Halimah et al. Berdasarkan kedua gambar tersebut, dapat disimpulkan bahwa peserta didik telah menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mereka untuk mengimplementasikan rencana pemecahan masalah. Indikator keempat dari KPM adalah evaluating the results obtained. Indikator ini memiliki nilai N-gain terendah yaitu 0,63 yang termasuk dalam kategori sedang. Indikator ini mengharuskan peserta didik untuk mengevaluasi berdasarkan informasi yang diberikan. Namun, sebagian besar peserta didik masih kesulitan untuk memberikan evaluasi secara rinci, seperti yang terlihat pada pretest dan posttest. Jawaban peserta didik pada pretest dapat diamati di bawah ini. Gambar 7. Jawaban Peserta Didik Indikator Keempat Pada Pretest Pada saat pretest, sebagian besar peserta didik memberikan jawaban yang serupa dengan Gambar 7, dimana mereka tidak secara menyeluruh mengevaluasi dan membandingkan dua gambar yang disajikan seperti yang disyaratkan oleh indikator ini. Tanggapan siswa masih tidak terorganisir, mengindikasikan kurangnya pemahaman yang menyeluruh tentang masalah yang disajikan (Rahman & Nur, 2. Pada posttest, terdapat peningkatan di antara para peserta didik, meskipun beberapa kekurangan masih terlihat jelas dalam tanggapan mereka, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. Gambar 8. Jawaban Peserta Didik Indikator Keempat Pada Posttest Kedua gambar tersebut menunjukkan peningkatan pada indikator keempat. Namun, belum terdapat peserta didik yang mencapai nilai sempurna, sehingga nilai N-gain untuk indikator ini rendah. Rendahnya Ngain ini mencerminkan bahwa peserta didik belum menguasai kemampuan menginterpretasikan hasil yang setara dengan permasalahan, serta belum secara konsisten melakukan evaluasi ulang terhadap hasil temuannya. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3051 Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah (KPM) dengan Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) Ae Mutiara Melati Jannatul Adn. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. (Aziz, 2. Hal ini menyiratkan bahwa selama tahap yang direkomendasikan oleh Polya untuk evaluasi ulang, beberapa peserta didik belum sempurna untuk mengevaluasi permasalahan (Ramadhan et al. , 2. Berdasarkan penjelasan ini, terbukti bahwa hasil posttest melampaui hasil pretest. Nilai yang lebih rendah pada pretest peserta didik berasal dari kesulitan mereka dalam menjelaskan atau memahami alasan di balik solusi yang mereka pilih untuk mengatasi masalah yang diberikan. (Azizah & Wulandari, 2. Nilai tinggi yang diamati pada hasil posttest berbanding terbalik dengan pretest. Hal ini menyiratkan bahwa implementasi model PBL secara efektif meningkatkan KPM peserta didik SMP (Saputro et al. , 2. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa mengimplementasikan model PBL efektif meningkatkan KPM peserta didik SMP. Prinsip utama dari PBL adalah memaksimalkan pembelajaran melalui eksplorasi, penjelasan, dan penyelesaian masalah-masalah dunia nyata dan bermakna (Witantri et al. , 2. Model PBL membutuhkan partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran, menumbuhkan keterlibatan dalam pembelajaran, dan mendorong kolaborasi di antara peserta didik untuk mencari solusi, sehingga meningkatkan KPM peserta didik (Wulandari & Nana, 2. Peneliti mengakui bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu soal yang digunakan untuk pretest dan posttest sama, sehingga tidak cukup untuk mengamati dampak jangka panjang apabila soal yang diberikan Diharapkan peneliti selanjutnya menggunakan soal yang berbeda antara pretest dan posttest namun masih dalam kisi-kisi yang sama. Implikasi dalam penelitian ini dapat meningkatkan KPM peserta didik karena pada saat pembelajaran guru sebagai fasilitator membimbing peserta didik untuk merumuskan solusi atau pemecahan masalah terkait permasalahan yang ada. Pada proses tersebut akan memberikan dampak positif bagi peserta didik sehingga dapat memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkan solusi berdasarkan permasalahan yang disajikan. KESIMPULAN Implementasi PBL pada materi nutrisi ini memberikan dampak positif kepada peserta didik dengan meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis, merumuskan, dan mengevaluasi masalah, terutama selama fase membimbing investigasi dalam PBL. PBL juga meningkatkan KPM peserta didik, terutama dalam materi yang berhubungan dengan nutrisi, yang dibuktikan dengan adanya perbedaan yang signifikan berdasarkan perolehan nilai. Rekomendasi peneliti selanjutnya adalah memberikan penekanan yang lebih besar pada indikator keempat dari keterampilan pemecahan masalah-mengevaluasi hasil yang diperoleh-sehingga peserta didik tidak hanya menganalisis dan merumuskan solusi, tetapi juga secara efektif menilai hasil dari rumusan mereka. DAFTAR PUSTAKA