Journal for Quality in Women's Health Vol. 3 No. 2 September 2020 | pp. p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan dan Tinggi Badan Orang Tua Anak Usia 12-36 Bulan di Puskesmas Kinoivaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah Miftakhur Rohmah1*. Regina Safira Natalie2 Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia Akademi Kebidanan Graha Ananda Palu. Indonesia Corresponding author: Miftakhur Rohmah . 1111ftaa@gmail. Received: Mei, 20 2020. Accepted: June, 28 2020. Published: September, 1 2020 ABSTRAK Masih tingginya angka kejadian stunting di wilayah Puskesmas Kinovaro sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas di suatu daerah tersebut, hal ini disebabkan salah satunya oleh pola pemebrian makan dan tinggi badan orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kejadian stunting yang di tinjau dari pola makan dan tinggi badan orang tua anak usia 12-36 bulan di puskesmas Kinovaro Sulawesi Tengah. Jenis penelitian ini adalah studi analitik observasional dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi dan sampel pada penelitian ini yaitu orang tua dan anak stunting usia 12-36 bulan dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden, menggunakan tehnik simple random sampling, dengan penggumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah Uji Phi dengan nilai signifikasi =0,05. Pada hasil penelitain ini didapatkan Sebagian besar 47 anak . %) responden dengan kejadian stunting sangat pendek, kategori pendek 38 responden . %). Pada Pola makan didapatkan Sebagian besar 63 responden . %) pada kategori tidak Pada tinggi badan ayah didapatkan Sebagian besar 58 responden . %) pada kategori Ou161,9cm, tinggi badan ibu didapatkan sebagian besar 55 responden . %) pada kategori Ou150cm dari 85 responden. Pada Uji statistik Phi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Pola pemberian makan p-value > 0,05 . ,562 > 0,. dan Tinggi Badan Ibu p-value > 0,05 . ,119 > 0,. dengan Kejadian Stunting, sebaliknya terdapat Hubungan yang signifikan antara Tinggi Badan Ayah p-value < 0,05 . ,004 > 0,. dengan Kejadian Stunting. Hubungan yang terdapat pada variabel ini merupakan hubungan yang searah artinya semakin baik pola pemberian makan maka tingkat kejadian stunting akan berkurang dengan meningkatkan pola pemberian makan. Kata Kunci: Anak Balita. Kejadian Stunting. Pola Makan. Tinggi Badan Orang tua This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. PENDAHULUAN Stunting merupakan indikator kekurangan gizi kronis akibat ketidakcukupan asupan makanan dalam waktu yang lama, pemberian makan yang kurang tepat, kualitas pangan yang buruk, meningkatnya morbiditas serta terjadinya peningkatan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya (TB/U). Pada umumnya, masalah pertumbuhan linier pada balita sering Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. diabaikan karena masih dianggap normal asalkan berat badan anak telah memenuhi standar. Menurut beberapa penelitian, stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan kemampuan motorik dan mental (Priyono. Sulistiyani dan Ratnawati, 2. Anak dikatakan stunting jika memiliki panjang atau tinggi badan dibawah standar untuk Diperkirakan dari 171 juta anak stunting di seluruh dunia, 167 juta anak . %) hidup dinegara berkembang. United Nations international ChilderenAos Emergency Fundation (UNICEF) mengatakan bahwa pada tahun 2011, 1 dari 4 anak balita mengalami stunting (Kemenkes, 2. Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan pada empat program prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan prevalensi balita . , pengendalian penyakit menular dan pengendalian penyakit tidak menular. Salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam sasaran pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015-2019 yaitu upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita stunting (Kemenkes, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariati et al . dalam penelitian berjudul AuDescription of Nutritional Status and the Incidence of Stunting Children in early Childhood Education Programs in Bali-IndonesiaAy bahwa orang tua adalah pemberi dan harus memperhatikan kebutuhan pemenuhan gizi anak sehingga anak-anak tidak mengalami kekurangan gizi. Dan perlu dilakukan survey rutin untuk menentukan status gizi dan mencari faktor penyebab terjadinya gizi buruk dan stunting. World Health Organization (WHO) . , mengatakan bahwa retardasi pertumbuhan atau stunting pada anak-anak di negara berkembang terjadi terutama sebagai akibat dari kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi yang mempengaruhi 30% dari anak-anak usia di bawah lima tahun WHO . , mengatakan bahwa anak yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 150 cm lebih berisiko pada kejadian stunting. Tinggi badan ibu dan ayah yang pendek merupakan faktor risiko stunting (WHO, 2. World Health Organisation (WHO), telah menargetkan akan menurunkan angka stunting sebesar 40% pada tahun 2025 atau sekitar 70 juta anak yang diselamatkan dari Tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia . %), sedangkan lebih dari sepertiganya . %) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak berasal dari Asia Selatan . ,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah . ,9%) (Kemenkes RI, 2. Dampak stunting tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya, tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomian dan pembangunan bangsa. Hal ini karena sumberdaya manusia stunting memiliki kualiatas lebih rendah dibandingkan dengan sumber daya manusia normal (Bentian, 2. Menurut UNICEF, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunnya produktifitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan. Oleh karena itu, solusi dari masalah ini dimana stunting perlu mendapat perhatian khusus termasuk pada anak usia 12-36 bulan. Proses pertumbuhan pada usia 12-59 bulan cenderung mengalami perlambatan sehingga peluang untuk terjadinya Usia 12-59 bulan merupakan usia anak mengalami perkembangan yang pesat dalam kemampuan kognitif dan motorik. Diperlukan kondisi fisik yang maksimal untuk mendukung perkembangan ini, dimana pada anak yang 12-59 bulan perkembangan kemampuan motorik maupun kognitif dapat terganggu. Anak pada usia ini juga membutuhkan perhatian lebih dalam hal asupan karena kebutuhan energi yang lebih tinggi dan kebutuhan makanan yang lebih Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. Berdasarkan fenomena di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pola makan dan tinggi badan orang tua berhubungan dengan terjadinya Stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Tujuan Penelitian yang akan saya lakukan meliputi Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. Yang pertama Tujuan Umum dimana Tujuan ini Menganalisis Kejadian Stunting ditinjau dari Pola Makan dan Tinggi Badan Orang Tua Anak Usia 12-36 Bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Kedua Tujuan Khusus terdiri dari. Mengidentifikasi Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Mengidentifikasi Pola Makan Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Mengidentifikasi Tinggi Badan Orang Tua Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Menganalisis Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Menganalisis Hubungan Tinggi Badan Orang Tua dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. METODE Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional, dengan pendekatan Cross-secrional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua dan anak usia 12-36 bulan, sampel yang digunakan adalah Sebagian orang tua dan anak usia 12-36 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pada definisi operasional variabel pola makan alat ukurnya menggunakan kuesioner dengan kategori Tidak Tepat (<55%) dan Tepat . %-100%), pada variabel tinggi badan orang tua alat ukurnya menggunakan microtoise dengan ketepatan 1 cm dengan kategori pendek dan tinggi, sedangkan untuk variabel kejadian stunting alat ukurnya menggunakan observasi dengan table Z-Score antropometri indeks TB/U dengan kategori Sangat pendek (<-3SD) dan Pendek (-3SD sampai <-2SD). Analisis data untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen dengan menggunakan uji statistik Phi dengan nilai signifikasi = 0,05. HASIL Data khusus Kejadian Stunting Tabel 2. 1 Variabel Kejadian Stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan Februari 2020. Variabel Kategori Kejadian Sangat Pendek Stunting Pendek Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kejadian Stunting dengan kategori Sangat Pendek yaitu sebanyak 47 responden dengan presentase . %) Pola Pemberian Makan Tabel 2. 2 Variabel Pola Pemberian Makan pada anak usia 12-36 bulan Variabel Kategori Pola Pemberian Tidak Tepat Makan Tepat Total Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki pola pemberian makan dengan kategori Tidak Tepat yaitu sebanyak 63 responden dengan presentase . %). Tinggi Badan Orang tua (Aya. Tabel 2. 3 Variabel tinggi badan Orangtua (Aya. di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari 2020 Variabel Kategori Tinggi Badan < 161,9 cm Ayah Ou 161,9 cm Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tinggi badan Ou161,9cm yaitu sebanyak 58 responden dengan presentase . %). Tinggi Badan Orang Tua (Ib. Tabel 2. 4 Variabel tinggi badan Orangtua (Aya. di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari 2020 Variabel Kategori Tinggi Badan < 150 cm Ibu Ou 150 cm Total Berdasarkan tabel di s atas didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tinggi badan <150cm yaitu sebanyak 55 responden dengan presentase . %) Tabulasi Silang antar Variabel Variabel hubungan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting Tabel 3. 1 Tabulasi Silang antar variabel pola pemberian makan dengan kejadian Stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari 2020 Stunting Total Pola Pemberian Pendek Sangat Pendek Makan Tidak Tepat Tepat Total Uji Phi Nilai Value Phi 0,063. Approx. Sig 0,002 Berdasarkan tabel di atas sebagian besar pola pemberian makan dengan kategori tidak tepat dengan kategori kejadian stunting dalam kategori Sangat pendek yaitu sebesar 38 . %). Hasil uji statistik menggunakan uji phi diperoleh nilai Approx. Sig sebesar p = 0,002 O 0,05 yang artinya ada hubungan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting. Variabel hubungan Tinggi Badan Orang Tua (Aya. dengan Kejadian Stunting Tabel 3. 2 Tabulasi Silang antar variabel Tinggi Badan Orang Tua (Aya. dengan Kejadian Stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari 2020 Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. Stunting Total Pendek Sangat Pendek < 161,9 cm Ou 161,9 cm Total Uji Phi Nilai Value Phi 0,309. Approx. Sig 0,004 Berdasarkan tabel di atas sebagian besar tinggi badan orang tua (Aya. dengan kejadian stunting dalam kategori pendek 32 . %). Hasil uji statistik menggunakan uji phi diperoleh nilai Approx. Sig sebesar p = 0,004 O 0,05 yang artinya ada hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting. Tinggi Variabel hubungan Tinggi Badan Orang Tua (Ib. dengan Kejadian Stunting. Tabel 3. 3 Tabulasi Silang antar variabel Tinggi Badan Orang Tua (Ib. dengan Kejadian Stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari 2020 Stunting Total Pola Pemberian Pendek Sangat Pendek Makan < 151 cm Ou 151 cm Total Uji Phi Nilai Value Phi 0,167. Approx. Sig 0,119 Berdasarkan tabel di atas sebagian besar tinggi badan orang tua (Aya. dengan kejadian stunting dalam kategori pendek 28 . %). Hasil uji statistik menggunakan uji phi diperoleh nilai Approx. Sig sebesar p = 0,119 O 0,05 yang artinya tidak ada hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting PEMBAHASAN Pola Pemberian Makan anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Kinovaro Pada hasil penelitian ini di wilayah kerja Puskesmas Kinovaro yang didapatkan bahwa pola pemberian makan dengan 85 responden sebagian besar dlam kategori pola pemberian makan tidak tepat yaitu sebanyak 63 responden . %). Hasil penelitian yang dilakukan (Ridha, 2. menjukkan bahwa pola pemberian yang tepat merupakan pola pemberian makan yang sesuai dengan jenis makanan, jumlah makanan dan jadwal makan anak. Pola pemberian makan merupakan faktor determinan terjadinya stunting teritama pada anak di bawah usia 5 tahun, dimana oleh sebagian besar masyarakat pola pemberian makannya kurang tepat begitu pula pada masyarakat di wilayah Puskesmas Kinovaro, padahal pada masa ini kebutuhan zat gizi anak akan terpenuhi apabila makanan yang dia konsumsi memenuhi standar pemberian makanan sesuai yang di tetapkan oleh WHO. Jenis konsumsi makanan juga sangat menentukan status gizi anak. Hal ini disebabkan karena balita merupakan kelompok rawan gizi sehingga jenis makanan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan tubuh anak dan daya cerna. Jenis makanan yang lebih variatif dan cukup nilai gizinya sangat penting untuk menghindari anak kekurangan zat gizi. Pola pemberian makan yang baik harus dilakukan sejak dini dengan cara memberikan makanan yang bervariasi dan memberikan informasi kepada Dengan demikian, anak akan terbiasa dengan pola makan sehat. Stunting tidak hanya Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi berdampak pada roda perekonomian dan pembangunan bangsa. Oleh karena itu, semakin banyak ibu memberikan pola makan yang tepat pada anak balita terkhususnya pada masa 1000 hari pertama kehidupan maka semakin sedikit anak balita yang mengalami stunting. Tinggi Badan Orang Tua pada Anak Usia 12-36 Bulan di Puskesmas Kinovaro Pada hasil penelitian ini Responden di wilayah kerja Puskesmas Kinovaro yang terdapat pada table distribusi frekuensi Tinggi Badan Orang Tua (Aya. dengan menggunakan pengukuran microtois, dimana dari 85 responden didapatkan hasil sebagian besar memiliki tinggi badan yang tidak pendek dengan nilai ambang Ou161,9 cm yaitu sebanyak 58 responden . %). Sedangkan distribusi frekuensi tinggi badan orang tua (Ib. dengan menggunakan pengukuran microtois, dimana dari 85 responden didapatkan hasil sebagian besar memiliki tinggi badan yang tidak pendek dengan nilai ambang Ou150 cm yaitu sebanyak 55 responden . %). Terdapat pendapat mengatakan bahwa anak yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dan untuk kategori ayah tinggi badan kurang dari 161,9 cm lebih berisiko pada kejadian stunting. Tinggi badan ibu dan ayah yang pendek merupakan factor risiko WHO juga menargetkan akan menurunkan angka stunting sebesar 40% pada tahun 2025 atau sekitar 70 juta anak yang diselamatkan dari stunting. Ibu pendek yang memiliki tinggi badan <150 cm mempunyai peluang lebih besar melahirkan bayi yang pendek Stunting sebesar 2,04 kali dari pada ibu dengan tinggi badan > 150 cm. Hal ini karena aliran darah Rahim dan pertumbuhan uterus, plasenta dan janin pada ibu hamil pendek terbatas sehingga bayi yang dilahirkan memiliki retardasi pertumbuhan janin yang dikenal dengan IUGR (Intra Uterine Growth Retardatio. Dimana dalam penelitian ini Tidak semua ibu dan ayah pendek memiliki anak pendek (Stuntin. , meskipun terdapat kecendrungan pada ibu pendek akan melahirkan anak yang pendek atau orang tua . yah maupun ib. yang pendek akan mempunyai keturunan yang pendek pula. Namun apabila pola pemberian makan dilakukan dengan tepat, anak akan tumbuh sehat dan optimal. Kejadian stunting pada anak usia 12-36 bulan di wilayah Puskesmas Kinovaro Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari 85 anak didapatkan sebagian besar anak memiliki kejadian stunting dengan kategori Sangat Pendek dengan perincian sebanyak 47 anak dengan presentase . %) memiliki kategori sangat pendek. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Bella Safira tahun 2019 menunjukkan dari 60 responden terdapat 20 balita . ,3%) yang mengalami stunting, angka ini sangat tinggi dibanding temuan dalam penelitian ini. Stunting merupakan indikator kekurangan gizi kronis akibat ketidakcukupan asupan makanan dalam waktu yang lama, pemberian makan yang kurang tepat, kualitas pangan yang buruk, meningkatkan morbaditas serta terjadinya peningkatan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya. Tingginya angka kejadian stunting pada tahun 2020 di wilayah Puskesmas Kinovaro Sulawesi Tengah disebabkan oleh kekurangan gizi yang menjadi pemicu utama terjadinya stunting, di mana suatu kondisi tinggi badan lebih pendek dibanding orang lain yang seusianya. Oleh karena itu kita sebagai tenaga Kesehatan mempunyai peran yang sangat penting dalam melakukan pelayanan untuk pencegahan serta mengurangi angka kejadian stunting di masa Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Stunting pada anak usia 12-36 Bulan Berdasarkan Hasil uji statistik menggunakan uji phi diperoleh nilai Approx. Sig sebesar p = 0,002 O 0,05 yang artinya ada hubungan antara pola pemberian makan dengan kejadian Hasil penelitian ini sejalan dengan Eko Setiawan tahun 2018 bahwa terdapat hubungan yang sangat bermakna antara pola pemberian makan dengan Kejadian Stunting dimana terdapat perbedaan tingkat kecukupan asupan energi yang adejuat merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Energi tersebut bersumber dari mikronutrien seperti: karbohidrat, lemak, dan protein. Disini kita sebagai tenaga Kesehatan mempunyai peran yang sangat penting dalam melakukan pelayanan agar selalu memberikan Asuhan dan Masukan kepada ibu terkhususnya yang mempunyai anak usia 12-36 bulan dalam pemberian makanan dan minuman yang diberikan sehari hari dengan melihat kandungan gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Tidak semua makanan murah tidak mempunyai nilai gizi yang tinggi serta sebaliknya tidak semua makanan mahal mempunyai nilai gizi yang tinggi juga. Jadilah orang tua yang bijak dalam memilih asupan gizi yang baik untuk anak. Cegah Stunting dari sekarang jika bukan kita siapa lagi, jika bukan sekarang kapan lagi. Hubungan Tinggi Badan Orang Tua dengan Kejadian Stunting anak usia 12-36 Bulan di wilayah Puskesmas Kinovaro Pada hasil penelitian ini terdapat hubungan antara Tinggi badan orang tua Ayah dengan kejadian stunting pada anak usia 12-36 bulan. Dari hasil uji statistik yang diperoleh menggunakan uji phi dimana nilai Approx Sig. 0,004 lebih kecil dari 0,05 sehingga diputuskan terdapat hubungan antara tinggi badan orang tua (Aya. dengan kejadian stunting, jika dilihat dari nilai kefisiensi phi 0,309. Sedangkan hasil penelitian tinggi badan orang tua Ibu didapatkan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan dengan kejadian stunting, dengan hasil uji statistik yang diperoleh menggunakan uji phi dimana nilai Approx Sig. 0,119 lebih besar dari 0,05 sehingga diputuskan tidak ada hubungan antara tinggi badan orang tua (Ib. dengan kejadian stunting, jika dilihat dari nilai kefisiensi phi 0,167. Seperti penelitian yang dilakukan Nur Hadibah . bahwa hasil analisis berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang tidak bermakna antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan . =0,. Ternyata Hasil penelitian ini menjukkan bahwa tinggi badan orang tua khususnya ayah terdapat keterkaitan atau hubungan yang sangat signifikan dengan kejadian stunting. Berbeda dengan halnya tinggi badan Ibu, dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting anak. Namun apabila orang tua pendek tersebut akibat karena factor masalah gizi yang dialami orang tua maka belum tentu memiliki anak pendek sehingga ibu dan ayah pendek tidak semua memiliki pengaruh terhadap tinggi badan anakknya. KESIMPULAN Dari total 85 responden anak dengan kejadian stunting di Puskesmas Kinovaro, sebagian besar dengan kategori sangat pendek yaitu sebanyak 47 anak . %). Pada Pola pemberian makan didapatkan Sebagian besar 63 responden . %) pada kategori tidak tepat. Pada tinggi badan ayah didapatkan Sebagian besar 58 responden . %) pada kategori Ou161,9cm, tinggi badan ibu didapatkan sebagian besar 55 responden . %) pada kategori Ou150cm dari 85 Pada Uji statistik Phi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Pola pemberian makan p-value< 0,05 . ,002 < 0,. dan Tinggi Badan Ibu p-value > 0,05 Journal for Quality in Women's Health Kejadian Stunting di Tinjau dari Pola Makan danA. ,119 > 0,. dengan Kejadian Stunting, terdapat Hubungan yang signifikan antara Tinggi Badan Ayah p-value < 0,05 . ,004 > 0,. dengan Kejadian Stunting. REFERENSI