Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 7 Nomor 1 (Desember 2. : 13-35 DOI: 10. 55076/didache. KEADILAN SOSIAL DAN INJIL: MEMAHAMI PERAN GEREJA DALAM ERA KETIDAKSETARAAN Alvin Budiman Kristian Sekolah Tinggi Agama Kristen Reformed Remnant Internasional Email: alvinforeducation@gmail. Submitted: 20 February 2025 Revision: 4 November 2025 Accepted: 7 November 2025 Abstract In an increasingly complex society, where social inequality has become a pressing issue requiring serious attention, the church, as a religious institution, has great potential to contribute to the creation of a more just and equitable society. This study aims to explore how the church can be at the forefront of social justice by integrating the principles of the Gospel into concrete actions. This research uses a qualitative approach with a literature study method to examine theological and social theories about social justice, as well as the role of the church in addressing inequality. The results of this study show that the church has a moral responsibility to educate its congregation on social justice and encourage them to engage in social activities that combat inequality. Through skills training, economic empowerment, and advocacy for just policies, the church can play a crucial role in creating positive social The study also emphasizes the importance of collaboration between the church, social institutions, and the government to achieve common goals in combating inequality. With an approach based on the teachings of the Gospel, the church is expected to make a significant contribution to creating a more just and equitable world. Keywords: Social Justice. Gospel. Role of the Church. Inequality. Responsibility Abstrak Dalam masyarakat yang semakin kompleks dengan ketidaksetaraan sosial menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius, dan gereja sebagai institusi keagamaan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana gereja dapat menjadi ujung tombak keadilan sosial dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip Injil ke dalam tindakan konkret Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk menggali teori-teori teologis dan sosial mengenai keadilan sosial, serta peran gereja dalam mengatasi ketidaksetaraan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi jemaatnya mengenai keadilan sosial dan mendorong mereka untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang memerangi ketidaksetaraan. Melalui pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kebijakan yang adil, gereja dapat memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah untuk mewujudkan tujuan bersama dalam memerangi ketidaksetaraan. Dengan pendekatan yang berbasis pada ajaran Injil, gereja diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan setara. Kata Kunci: Keadilan Sosial. Injil. Peran Gereja. Ketidaksetaraan. Tanggung jawab Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen by https://jurnal. id/index. php/didache/ is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional PENDAHULUAN Ketidaksetaraan sosial, ekonomi, dan politik telah menjadi isu yang semakin mendesak di dunia saat ini. Dari distribusi kekayaan yang tidak merata hingga akses terbatas terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan dan layanan kesehatan, dampaknya dirasakan oleh miliaran orang di seluruh dunia. Fakta mencengangkan dari laporan Oxfam menunjukkan bahwa 1% populasi terkaya dunia menguasai hampir setengah kekayaan global, sementara jutaan orang masih bergulat dengan kemiskinan ekstrem. 1 Dalam situasi ini, gereja memiliki posisi unik untuk menjadi suara moral yang mengadvokasi perubahan. Dalam Alkitab, keadilan sosial merupakan tema yang berulang, di mana kasih kepada sesama dan perhatian kepada kaum marginal menjadi inti dari pesan Injil. Misalnya, dalam Lukas 4:18-19. Yesus menjelaskan misi-Nya untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin dan membebaskan yang tertindas. Selain itu, nabi-nabi Perjanjian Lama seperti Amos dan Mikha sering menekankan pentingnya keadilan sebagai bagian dari hubungan yang benar antara manusia dan Allah. 2 Hal ini menegaskan bahwa keadilan sosial bukan hanya isu kontemporer, melainkan bagian tak terpisahkan dari iman Kristen. Namun, tantangan muncul ketika prinsip-prinsip ini dihadapkan pada realitas modern. Salah satu contoh nyata dapat dilihat di Indonesia, di mana akses pendidikan masih menjadi tantangan besar bagi anak-anak di daerah terpencil. Di Papua, banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak dapat melanjutkan sekolah karena minimnya fasilitas pendidikan dan tingginya biaya. Gereja lokal di sana berperan penting dengan mendirikan sekolah, menyediakan beasiswa, dan melatih guru untuk mengabdi di komunitas terpencil. 3 Kisah ini mencerminkan potensi besar gereja sebagai agen perubahan yang membawa harapan bagi mereka yang terpinggirkan. Tantangan lain adalah bagaimana gereja dapat mempertahankan relevansinya di tengah globalisasi dan perubahan nilai-nilai sosial. Globalisasi sering kali memperdalam kesenjangan Ashfaq Khalfan and et al. Climate Equality: A Planet for the 99%, 2023, 23. Walter Brueggemann. Prophetic Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 11. Imron Arifin and Agustinus Hermino. AuThe Role of Church and Parent in Early Childhood Education in the Central Highlands of Papua,Ay in Proceedings of the 1st International Conference on Early Childhood and Primary Education (ECPE 2. (Paris. France: Atlantis Press, 2. , 33. antara kaya dan miskin, tetapi juga membuka peluang baru bagi gereja untuk berkolaborasi lintas batas negara dalam mempromosikan keadilan sosial. Dalam konteks ini, pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara Injil dan keadilan sosial menjadi semakin penting. Meskipun banyak penelitian telah membahas peran gereja dalam konteks teologis dan sosial, terdapat kekurangan literatur yang mengaitkan secara spesifik antara prinsip-prinsip Injil dan strategi praktis untuk menangani ketidaksetaraan sosial dalam konteks Indonesia. Sebagian besar studi lebih berfokus pada konteks global atau wilayah tertentu seperti Afrika dan Amerika Latin, sementara Indonesia dengan keragaman budaya dan tantangan uniknya sering kali Artikel ini mengisi celah tersebut dengan memberikan perspektif yang lebih fokus pada peran gereja di Indonesia dalam menangani isu ketidaksetaraan sosial secara konkrit. Gereja memiliki peran historis dalam memperjuangkan keadilan sosial dan menjadi suara bagi mereka yang tertindas. Namun, di era modern, ketidaksetaraan sosial semakin kompleks, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, dan budaya yang terus berkembang. Ketidaksetaraan tidak hanya terjadi dalam bentuk kemiskinan, tetapi juga dalam akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi. Dalam konteks ini, gereja dihadapkan pada berbagai tantangan dalam menjalankan misinya sebagai agen perubahan Tantangan ini dapat dikategorikan ke dalam tiga aspek utama: . dinamika ketidaksetaraan sosial di era modern yang semakin beragam dan sulit ditangani, . hambatan internal gereja yang berkaitan dengan struktur organisasi, sumber daya, dan keterlibatan jemaat, serta . tantangan eksternal yang mencakup tekanan politik, ekonomi, dan budaya yang menghambat peran gereja dalam menanggapi ketidaksetaraan. Beberapa penelitian terdahulu telah menyoroti peran gereja dalam mendorong keadilan sosial dari perspektif Misalnya. Manalu membahas tanggung jawab sosial gereja dalam konteks pembangunan masyarakat dan menegaskan bahwa gereja tidak dapat memisahkan pelayanan rohani dari keterlibatan sosial yang nyata. Menurutnya, kehadiran gereja seharusnya membawa transformasi yang menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan umat. Sihombing juga menjelaskan bahwa teologi keadilan sosial merupakan panggilan profetik gereja yang menuntut keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas, serta menjadi cerminan dari kasih Allah yang aktif di dunia. Hubungan antara Injil dan transformasi sosial di Indonesia. L Pasaribu. AuGospel and Social Transformation: Contextual Theology in the Indonesian Church,Ay Verbum et Vita 5, no. : 33Ae47. R Manalu. Gereja Dan Tanggung Jawab Sosial Di Indonesia: Refleksi Teologis Dan Praktis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 47. dan menemukan bahwa penerapan nilai-nilai Injil dapat menjadi dasar untuk membangun komunitas yang inklusif dan berkeadilan. Oleh karena itu, kebaruan penelitian . ini terletak pada upayanya untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menggali peran gereja sebagai agen keadilan sosial melalui pendekatan teologis kontekstual dan studi kasus nyata di lapangan. Penelitian ini tidak hanya menelaah doktrin atau teks Alkitab, tetapi juga menawarkan panduan praktis bagi gereja untuk mengintegrasikan nilai-nilai Injil dalam tindakan sosial yang berdampak langsung bagi Dengan demikian, artikel ini diharapkan dapat memperkaya literatur teologi kontekstual di Indonesia dan menjadi referensi bagi praktik pelayanan sosial gereja masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan jenis penelitian studi pustaka. Pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta menganalisis secara kritis berbagai pandangan teologis dan sosial mengenai peran gereja dalam memperjuangkan keadilan sosial di tengah ketidaksetaraan. Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus utama penelitian ini adalah untuk menggali, memahami, dan menginterpretasikan secara mendalam makna, konsep, dan penerapan nilai-nilai keadilan sosial dalam konteks ajaran Injil dan peran gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi teori-teori sosial, teologis, serta praktik yang berkaitan dengan peran gereja dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial berdasarkan literatur yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterkaitan antara Injil dan keadilan sosial bukan hanya isu konseptual, melainkan juga panggilan iman yang menuntut penerapan nyata di tengah dunia yang penuh ketimpangan. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menelusuri dasar-dasar teologis dari keadilan sosial serta menelaah bagaimana gereja dapat mewujudkan misi Injil melalui tindakan-tindakan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Pemahaman Keadilan Sosial dalam Alkitab Keadilan sosial merupakan salah satu tema utama dalam narasi Alkitab yang mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, serta antara sesama J Hombing. AuTeologi Keadilan Sosial: Suatu Tinjauan Kontekstual Terhadap Pelayanan Gereja Di Indonesia,Ay Jurnal Teologi dan Misi Kontekstual 8, no. AD): 22Ae38. U Flick. An Introduction to Qualitative Research, 5th ed. (London: SAGE Publications, 2. , 22. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keadilan tidak hanya dipandang sebagai nilai moral tetapi juga sebagai perintah ilahi. Pemahaman ini mengajarkan bahwa keadilan adalah ekspresi dari kasih Allah yang memulihkan relasi yang rusak akibat Pandangan ini juga diperkuat oleh teolog kontemporer seperti Walter Brueggemann, yang dalam karyanya menekankan bahwa keadilan dalam Alkitab selalu memiliki dimensi komunitas, yakni menciptakan tatanan sosial yang mencerminkan shalom atau damai sejahtera Allah. Menurut Brueggemann, keadilan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk memperbaiki relasi sosial yang rusak akibat struktur yang menindas. Dalam Perjanjian Lama, konsep keadilan (Ibrani: tsedaqah dan mishpa. sering kali dikaitkan dengan tindakan pembelaan terhadap kaum yang tertindas, seperti anak yatim, janda, dan orang asing (Mzm 82:3-4. Yes. Allah memerintahkan umat Israel untuk menegakkan keadilan sebagai bagian dari perjanjian mereka dengan-Nya,keadilan sosial sering kali dipandang sebagai tanggung jawab umat Allah untuk memastikan kesejahteraan kelompok rentan, seperti yatim piatu, janda, dan orang asing (Ul. 10:18-. Nabi Amos, misalnya, mengecam ketidakadilan sosial yang dilakukan oleh bangsa Israel dan menuntut agar keadilan mengalir seperti air (Am. Hal ini sejalan dengan pandangan Nicholas Wolterstorff, yang dalam bukunya menguraikan bahwa keadilan adalah hak asasi yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia sebagai bagian dari martabat ciptaan-Nya. Wolterstorff juga menekankan bahwa setiap tindakan keadilan sosial adalah respons iman terhadap panggilan Allah. Di sisi lain. Perjanjian Baru memberikan fokus pada kasih sebagai dasar keadilan. Yesus Kristus, melalui pengajaran dan tindakan-Nya, memberikan teladan bagaimana kasih kepada sesama harus diwujudkan dalam bentuk keadilan yang nyata. Dengan demikian, memahami keadilan sosial dalam Alkitab tidak dapat dilepaskan dari panggilan umat Kristen untuk hidup dalam kasih yang aktif terhadap sesama. Keadilan sosial merupakan salah satu tema utama dalam narasi Alkitab yang mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, serta antara sesama Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keadilan tidak hanya dipandang sebagai nilai moral tetapi juga sebagai perintah ilahi. Pemahaman ini mengajarkan bahwa keadilan adalah ekspresi dari kasih Allah yang memulihkan relasi yang rusak akibat Untuk memahami lebih lanjut, peneliti membagi pembahasan ini ke dalam dua poin Walter Brueggemann. Peace (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 112. Nicholas Wolterstorff. Peace (Jakarta: Kanisius, 2. , 98. Ajaran Yesus tentang Keadilan dan Kasih Yesus secara konsisten menekankan pentingnya keadilan dan kasih sebagai inti dari Kerajaan Allah. Dalam Lukas 4:18-19. Yesus menyatakan misi-Nya untuk "memberitakan kabar baik kepada orang miskin" dan "membebaskan yang tertindas. " Pesan ini menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual tetapi juga mencakup pembebasan sosial dan ekonomi bagi mereka yang tertindas. Menurut Christopher Marshall, misi Yesus dapat dilihat sebagai upaya mendobrak struktur sosial yang tidak adil untuk memulihkan keharmonisan ciptaan. 10 Dalam pelayanan-Nya. Yesus sering kali menghubungkan kedua nilai ini, menunjukkan bahwa kasih sejati selalu diwujudkan dalam tindakan yang mencerminkan Ajaran-Nya menyoroti bahwa keadilan bukan hanya tentang penegakan hukum, tetapi juga tentang memperhatikan dan memulihkan mereka yang lemah dan tertindas. Dalam Matius 23:23. Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi yang menekankan aspekaspek legalistik dari hukum Taurat, tetapi mengabaikan "hal-hal yang lebih penting dari hukum Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. " Hal ini menunjukkan bahwa keadilan dalam pandangan Yesus tidak bisa dipisahkan dari kasih dan belas kasihan sebagai ekspresi dari karakter Allah. Perinta Yesus untuk Aumengasihi sesamamu seperti dirimu sendiriAy (Mat. adalah inti dari hukum kasih. Kasih ini tidak hanya bersifat individual tetapi juga kolektif, yang berarti mencakup upaya memperbaiki struktur sosial yang tidak adil. Dengan demikian, kasih dan keadilan dalam ajaran Yesus adalah dua sisi dari satu koin: kasih memberikan dasar moral bagi tindakan keadilan, sedangkan keadilan memastikan bahwa kasih diterapkan secara konkret dalam kehidupan bermasyarakat. 12 Sejalan dengan itu, sebagaimana dinyatakan oleh teolog Wright. AuKetika Yesus berbicara tentang keadilan dan kasih. Dia tidak hanya berbicara tentang konsep abstrak, tetapi tentang bagaimana hidup di dunia di bawah pemerintahan Allah. 13 Oleh karena itu, ajaran Yesus tentang keadilan dan kasih menantang umat-Nya untuk hidup dengan visi Kerajaan Allah yang mengutamakan pemulihan, belas kasihan, dan integritas dalam hubungan antarmanusia. Christopher Marshall. Compassionate Justice: An Interdisciplinary Dialogue with Two Gospel Parables on Law. Crime, and Restorative Justice (Eugene: Cascade Books, 2. , 45. Stephen J Pope. AuSocial Justice in the New Testament,Ay Theological Studies 51, no. : 521Ae John R W Stott. Issues Facing Christians Today (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 47. N T Wright. Simply Jesus: A New Vision of Who He Was. What He Did, and Why He Matters (New York: HarperOne, 2. , 92. Paulus dan Agustinus, semakin memperkuat pemahaman bahwa kasih adalah pusat dari keadilan, yang mempromosikan visi keadilan yang berakar pada belas kasih dan belas kasihan. Bagi Paulus, keadilan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan dalam Kristus, yang diwujudkan dalam hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Dalam surat-suratnya. Paulus menekankan bahwa umat percaya dipanggil untuk hidup dalam kasih, yang mengarah pada tindakan keadilan yang memberdayakan dan memulihkan. Sebagai contoh, dalam Galatia 5:14. Paulus menulis. AuSebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu perkataan ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Ay Hal ini menunjukkan bahwa hukum keadilan tidak terpisah dari hukum kasih yang memanifestasikan diri dalam tindakan seharihari. Agustinus juga memandang keadilan sebagai sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari Menurut Agustinus, keadilan yang sejati hanya dapat ditemukan dalam kasih Allah. mengajarkan bahwa keadilan tidak hanya mengenai penegakan hukum yang adil, tetapi juga tentang hidup menurut kasih ilahi yang memberikan kehidupan yang lebih baik kepada semua Dalam konteks ini. Agustinus mengembangkan pandangan bahwa kasih adalah dasar dari segala tindakan adil. Dalam Confessiones (Pengakua. Agustinus menulis. AuKasih adalah akar dari segala kebaikan, dan keadilan adalah hasil dari kasih tersebut. Maka itu ajaran Yesus tentang keadilan dan kasih mengajarkan bahwa keduanya tidak terpisahkan, di mana kasih menjadi dasar moral bagi keadilan, dan keadilan memberikan arah konkret bagi tindakan kasih. Yesus menekankan pentingnya mengasihi sesama seperti diri sendiri, yang berarti memperlakukan orang lain dengan adil dan penuh belas kasih, terutama mereka yang terpinggirkan dan tertindas. Hal ini diperkuat oleh ajaran para pemikir Kristen awal seperti Paulus dan Agustinus, yang memandang keadilan sebagai wujud dari kasih ilahi, di mana keadilan yang sejati tercapai melalui tindakan kasih yang memulihkan hubungan antar Dengan demikian, ajaran Yesus mengajak umat Kristen untuk mewujudkan keadilan sosial yang berakar pada kasih dan belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari, yang tetap relevan dalam konteks dunia modern. Panggilan Gereja untuk Meneggakkan Keadilan Panggilan Gereja untuk menegakkan keadilan adalah bagian integral dari misi dan identitasnya dalam dunia ini. Gereja, sebagai tubuh Kristus, dipanggil untuk menjadi saksi dan agen perubahan yang mempromosikan keadilan berdasarkan ajaran Yesus, yang menekankan N Wolterstorff. AuLove and Justice,Ay in Springer. Cham, 2018, 143Ae151. Agustinus. De Doctrina Christiana (London: Harvard University Press, 1. , 58. kasih, belas kasihan, dan pemulihan. Keadilan dalam konteks gereja bukan hanya tentang menegakkan hukum atau aturan, tetapi lebih tentang memulihkan hubungan yang rusak, membantu mereka yang tertindas, dan menciptakan masyarakat yang adil. Adams menjelaskan bahawa panggilan gereja untuk dalam menekankan keadilan berakar pada ajaran-ajaran Alkitab dan pertimbangan etis yang menekankan kesetaraan sosial dan kepedulian terhadap orangorang yang terpinggirkan. Panggilan ini bermanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk pendanaan perawatan kesehatan, keadilan ekonomi, dan keadilan lingkungan, yang mencerminkan pendekatan holistik terhadap keadilan yang mencakup semua aspek Keadilan, dalam ajaran Injil adalah konsep yang menjangkau lebih dari sekadar urusan hukum atau distribusi sumber daya. keadilan ini juga didasarkan pada keadilan Allah yang dimaknai pembelaan Allah dan tuntutan yang Allah ingin setiap orang percaya lakukan dalam kehidupan bermasyarakat agar bisa maksimal sebagai saksi Tuhan dan menjadi garam serta terang bagi komunitas dimana Tuhan tempatkan. Keaddilan social harusnsya melampaui Batasan-batasan materi dan mengakar pada prinsip-prinsip spiritual yang mendalam. Dalam konteks agama, terutama dalam teologi Kristen, keadilan tidak hanya dipandang sebagai tuntutan moral, tetapi juga sebagai cerminan dari karakter Allah yang adil. Gereja memiliki peran penting dalam menegakkan keadilan sosial, yang merupakan bagian integral dari misi dan ajaran Kristiani. Panggilan ini tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi juga mencakup tindakan nyata dalam masyarakat untuk memperjuangkan hakhak yang terpinggirkan. Sebagai tubuh Kristus. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah yang tidak hanya menyuarakan keadilan secara teologis tetapi juga bertindak secara konkret untuk membela mereka yang tertindas. 18 Ajaran Yesus yang menekankan pentingnya kasih kepada sesama, terutama kepada orang miskin, lemah, dan terpinggirkan, memotivasi Gereja untuk terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan sosial, seperti melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan penindasan. Gereja, dalam panggilan ini, juga diajak untuk membangun masyarakat yang lebih adil dengan melibatkan diri dalam reformasi sosial dan advokasi untuk perubahan yang memperbaiki kondisi hidup mereka yang paling membutuhkan. Dalam hal ini, keadilan sosial bukan hanya tentang penegakan hukum, tetapi juga tentang memulihkan relasi S L Adams. AuThe Justice Imperative in Scripture,Ay Interpretation 69, no. : 399Ae414. Y L Buan and H W Elena. AuPeran Gereja Dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat: Respons Terhadap Disrupsi Sosial Masyarakat Kristen,Ay Yada Ae Jurnal Teologi Biblika & Reformasi 1, no. : 1Ae Nekson Balang Rusli. AuPanggilan Gereja Dalam Memperjuangkan Keadilan Sosial Bagi Kelompok Marginal: Sebuah Tantangan Etis-Teologis,Ay Jurnal Teruna Bhakti 5, no. : 363Ae371. yang rusak dan menciptakan dunia yang mencerminkan kasih Allah bagi semua umat Panggilan gereja untuk menegakkan keadilan adalah sebuah misi yang mendasar, mencakup aspek spiritual dan sosial. Dengan melibatkan diri secara aktif dalam perjuangan untuk keadilan, gereja dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih adil serta manusiawi bagi semua orang. Gereja, sebagai tubuh Kristus, dipanggil untuk menerapkan ajaran kasih Yesus dengan memperjuangkan hak-hak yang terpinggirkan dan mendukung mereka yang paling rentan. Keadilan yang ditegakkan oleh gereja bukan hanya tentang menegakkan hukum, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan antar sesama, mengatasi ketidaksetaraan, dan memberikan suara bagi mereka yang sering tidak Dalam konteks ini, gereja berfungsi sebagai agen perubahan yang mempromosikan perdamaian dan kesetaraan, mengajak umatnya untuk berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang mencakup kasih, belas kasih, dan pemulihan. Dengan demikian, panggilan gereja untuk menegakkan keadilan adalah misi yang melibatkan baik aspek spiritual maupun sosial, di mana gereja tidak hanya berkewajiban untuk menyampaikan ajaran kasih Kristus tetapi juga untuk bertindak dalam memperjuangkan hakhak yang terpinggirkan dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. Dengan melibatkan diri dalam perjuangan sosial, gereja dapat memberikan dampak yang signifikan dalam membangun lingkungan yang lebih manusiawi, di mana setiap individu diperlakukan dengan martabat dan Keadilan yang ditegakkan oleh gereja merupakan wujud nyata dari kasih Allah yang mengajak umat-Nya untuk memulihkan relasi yang rusak dan memperjuangkan kebaikan bersama bagi semua orang. Praktik Keadilan Sosial oleh Gereja Gereja memiliki peran penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan menjalankan tanggung jawab sosialnya di tengah masyarakat. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga mencakup tindakan nyata yang berdampak pada kesejahteraan sosial. Sejarah mencatat bahwa gereja telah lama terlibat dalam upaya mewujudkan keadilan sosial. Pada abad kelima dan keenam, misalnya, pengaruh orang-orang Kristen memungkinkan adanya perlindungan hukum bagi anak-anak pada zaman Kekaisaran Romawi, yang Natalia Rama Kudadiri et al. AuPeran Gereja Protestan Dalam Gerakan Keadilan Sosial : Antara Ajaran Injil Dan Realitas Maskyarakat Sumatera UtaraAy 2, no. : 1157Ae1161. H Pardede. AuAnalisis Peran Gereja Sebagai Penyelenggara Keadilan Sosial Dalam Konteks Bangsa Indonesia,Ay ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2, no. : 46Ae53. sebelumnya tidak dianggap sama sekali. Demikian juga, orang-orang Kristen berada pada garis terdepan dalam membantu para janda dan anak yatim, membangun rumah sakit, menyediakan bantuan bagi korban bencana, dan mendirikan balai pengobatan. Gereja dipanggil untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan, pengemis, dan anak-anak terlantar. Ini mencerminkan ajaran kasih Kristus dan tanggung jawab moral untuk membantu mereka yang membutuhkan. Gereja harus menunjukkan solidaritas dengan masyarakat marginal melalui dukungan emosional dan spiritual. Ini termasuk menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara dan terlibat dalam advokasi kebijakan yang berpihak kepada kaum marginal. Gereja memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan keadilan sosial sebagai bagian dari panggilan etis teologisnya. Dengan terlibat aktif dalam memerangi ketidakadilan dan mendukung kaum marginal, gereja dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan Melalui pelayanan nyata dan advokasi kebijakan, gereja dapat merefleksikan kasih dan keadilan Allah di dunia ini. 23 Gereja diharapkan berperan sebagai "garam dan terang dunia" dengan berpartisipasi aktif dalam permasalahan kemasyarakatan tanpa terlibat dalam politik Hal ini berarti gereja harus arif dan hati-hati berintegrasi dengan kehidupan sosial masyarakat, mengembangkan panggilan kudusnya, serta menyadari tanggung jawab sebagai warga negara dan masyarakat. Tanggung Jawab Sosial Gereja dalam Masyarakat Gereja memiliki tanggung jawab untuk membantu mengentaskan kemiskinan tanpa memandang etnis ataupun agama. Gereja berperan sebagai agen perubahan dan pembawa nilainilai moral. Tanggung jawab ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelayanan kepada masyarakat hingga advokasi untuk keadilan sosial. Gereja diharapkan untuk memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk orang miskin, sakit, dan Tanggung jawab sosial gereja dalam masyarakat adalah tindakan yang dilakukan gereja untuk membantu masyarakat dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya. Tanggung jawab ini juga merupakan panggilan untuk menghormati dan Gunawan. AuPeranan Gereja Dalam Mewujudkan Keadilan Sosial,Ay Kemenag, last modified 2021, https://kemenag. id/kristen/peranan-gereja-dalam-mewujudkan-keadilan-sosial3f37jd?utm_source=chatgpt. Rusli. AuPanggilan Gereja Dalam Memperjuangkan Keadilan Sosial Bagi Kelompok Marginal: Sebuah Tantangan Etis-Teologis. Ay Resmi Hutasoit. AuPeran Gereja Dalam Mendorong Keadilan Sosial Dan Kesejahteraan Masyarakat Bagi Insan Dengan Disabilitas,Ay LETTRA: Jurnal pendidikan Penyuluhan Agama Kristen Institut Agama Kristen Negeri Tarutung 1, no. : 19Ae30. mengakui nilai-nilai manusia sebagai ciptaan Tuhan. 24 Tanggung jawab sosial gereja tidak hanya terbatas pada memberikan bantuan materi, tetapi juga mencakup perhatian terhadap dimensi spiritual, emosional, dan mental manusia. Gereja dipanggil untuk menjadi tempat yang memberikan pengharapan dan pemulihan bagi individu yang mengalami berbagai tekanan hidup, seperti kemiskinan, konflik keluarga, ketidakadilan sosial, serta krisis identitas. Dalam aspek spiritual, gereja berperan dalam membimbing umat untuk menemukan makna hidup melalui iman dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Melalui pengajaran, doa, serta ibadah bersama, gereja membantu individu mengatasi keputusasaan dan membangun ketahanan rohani. gereja juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung kesejahteraan emosional Banyak orang yang mengalami tekanan batin akibat masalah ekonomi, sosial, atau bahkan pengalaman traumatis. Dalam hal ini, gereja dapat menyediakan layanan konseling pastoral, kelompok pendukung, serta lingkungan yang penuh kasih untuk membantu individu mengelola emosinya dengan baik. Selain itu, gereja juga harus memperhatikan kesehatan mental umatnya dengan menciptakan ruang aman bagi mereka yang mengalami kecemasan, depresi, atau gangguan psikologis lainnya. Beberapa gereja bahkan telah mengembangkan program kesehatan mental yang bekerja sama dengan profesional di bidang psikologi dan konseling untuk memastikan jemaat mendapatkan bantuan yang tepat. 26 Dengan demikian, tanggung jawab sosial gereja tidak hanya bersifat karitatif dalam bentuk pemberian bantuan finansial atau logistik, tetapi juga bersifat transformatif dengan membantu individu berkembang secara holistik. Ketika gereja mampu menjalankan peran ini secara seimbang, maka ia dapat menjadi agen perubahan yang membawa keadilan sosial serta kesejahteraan bagi masyarakat luas. Gereja yang Aktif dalam Keadilan Sosial Gereja memiliki peran penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dengan berbagai bentuk keterlibatan dalam masyarakat. Banyak gereja di berbagai belahan dunia telah menunjukkan komitmen nyata dalam membela hak-hak kaum marginal, mengentaskan kemiskinan, serta memperjuangkan keadilan bagi semua. Buan and Elena. AuPeran Gereja Dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat: Respons Terhadap Disrupsi Sosial Masyarakat Kristen. Ay Mikha Arya Dhana. Timotius Tote Jelahu, and Paulina Maria. AuTanggung Jawab Sosial Gereja Dalam Mengentaskan Kemiskinan,Ay Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 7, no. : 83Ae97. A Aritonang. AuKekristenan Dan Nasionalisme Di Indonesia,Ay Jurnal Amanat Agung 15, no. 111Ae141, https://doi. org/10. 47754/jaa. Pada pembahasan bagian ini tidak bersumber dari hasil penelitian lapangan secara langsung, melainkan merupakan kajian deskriptif yang disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur, laporan kelembagaan gereja, serta publikasi akademik yang relevan. Dengan demikian, istilah Austudi kasusAy dalam konteks ini dimaknai sebagai upaya untuk menyajikan gambaran konseptual dan faktual mengenai praktik-praktik gerejaAi baik Katolik maupun ProtestanAiyang secara aktif terlibat dalam upaya memperjuangkan keadilan sosial di berbagai konteks, termasuk di Indonesia dan di tingkat global. Berikut ini adalah beberapa studi kasus gereja yang aktif dalam keadilan sosial: Gereja Katolik dan Octogesima Adveniens Dalam ensiklik Octogesima Adveniens yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, gereja diingatkan untuk berperan aktif dalam mempromosikan keadilan sosial. Ajaran ini menekankan bahwa solidaritas adalah esensi dari keadilan sosial, yang mengharuskan umat Katolik untuk terlibat dalam kehidupan sosial dan politik demi mendukung hak-hak kaum marginal. Gereja Protestan dan Keadilan Sosial Gereja Protestan juga memiliki peran signifikan dalam gerakan keadilan sosial. Melalui ajaran Alkitab, seperti dalam Yesaya 1:17, gereja diajak untuk berbuat baik dan mencari keadilan bagi yang tertindas. Dalam konteks ini, gereja tidak hanya memberikan bantuan tetapi juga berupaya mengatasi ketidakadilan struktural dan sistemik yang menyebabkan penderitaan bagi banyak orang. Hal ini termasuk dialog dengan pemerintah untuk memastikan kebijakan yang mendukung kesejahteraan Masyarakat. Program Pelayanan Sosial oleh Gereja Beberapa gereja telah mengembangkan program pelayanan sosial yang holistik untuk membantu kaum marginal, seperti gelandangan dan anak-anak terlantar. Melalui tindakan nyata, gereja berusaha memenuhi kebutuhan dasar individu dan menghilangkan Ini mencerminkan panggilan gereja untuk menjadi agen perubahan yang memperjuangkan keadilan di semua level, baik melalui pelayanan langsung maupun advokasi Studi kasus mengenai keterlibatan gereja dalam keadilan sosial menunjukkan bahwa baik Gereja memiliki peran penting dalam memperjuangkan hak-hak kaum marginal. Melalui Maria Sonita Bay and Teresia Noiman Derung. AuSolidaritas Dan Keadilan Sosial Menurut Gereja Dalam Octogesima Adveniens,Ay no. Kudadiri et al. AuPeran Gereja Protestan Dalam Gerakan Keadilan Sosial : Antara Ajaran Injil Dan Realitas Maskyarakat Sumatera Utara. Ay Rusli. AuPanggilan Gereja Dalam Memperjuangkan Keadilan Sosial Bagi Kelompok Marginal: Sebuah Tantangan Etis-Teologis. Ay ajaran teologis dan program-program konkret, gereja dapat menjadi instrumen kasih dan keadilan Allah di dunia ini. Dinamika Ketidaksetaraan Sosial di Era Modern Salah satu tantangan terbesar bagi gereja adalah mengatasi ketidaksetaraan struktural yang mendasari berbagai masalah sosial. Ini mencakup sistem ekonomi dan sosial yang menciptakan dan memperkuat kemiskinan, diskriminasi, dan marginalisasi. Ketidaksetaraan sosial di era modern semakin diperburuk oleh perkembangan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat. Kemiskinan masih menjadi isu utama, tetapi ketidaksetaraan kini juga mencakup kesenjangan digital, ketidakadilan gender, dan marginalisasi kelompok Dalam dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial semakin terpinggirkan, sehingga gereja dituntut untuk menawarkan solusi yang lebih kontekstual dan relevan. Banyak gereja cenderung lebih fokus pada praktik ritual dan upacara keagamaan, seperti ibadah mingguan, perayaan sakramen, dan kegiatan spiritual lainnya, yang memang penting dalam membangun kehidupan rohani jemaat. Namun, hal ini sering kali menyebabkan kurangnya perhatian terhadap situasi sosial yang dihadapi oleh jemaat mereka di luar tembok Ketidakadilan sosial, seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, diskriminasi rasial, dan isu-isu lingkungan, sering kali tidak mendapat sorotan yang memadai dalam kegiatan Kurangnya keterlibatan gereja dalam masalah sosial ini dapat berakibat pada ketidaktahuan jemaat terhadap tantangan-tantangan yang ada di masyarakat, atau bahkan ketidakpedulian terhadap kesulitan yang dihadapi sesama. 31 Jika gereja hanya berfokus pada kehidupan rohani tanpa menghubungkannya dengan kenyataan sosial, maka jemaat mungkin merasa terpisah dari dunia luar dan kesulitan untuk mengaitkan ajaran iman dengan tindakan konkret di dalam masyarakat. Hambatan Internal Gereja Meskipun gereja memiliki mandat moral untuk menanggapi ketidaksetaraan, terdapat berbagai hambatan internal yang menghambat efektivitasnya. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran dan keterlibatan jemaat dalam isu-isu sosial. Banyak gereja yang masih berfokus pada aspek spiritual tanpa melihat bahwa keadilan sosial juga merupakan bagian integral dari John T McGreevy. Catholicism: A Global History from the French Revolution to Pope Francis (New York: W. Norton & Company, 2. , 45. Martinus Hary Purwanto and Intansakti Pius X. AuPeran Gereja Dalam Mengatasi Kesenjangan Sosial,Ay In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi 2, no. : 314Ae320. ajaran Kristiani. 32 Selain itu, struktur organisasi gereja yang hierarkis sering kali membuat respons terhadap masalah sosial menjadi lambat dan birokratis. Beberapa gereja juga menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dalam hal pendanaan maupun tenaga kerja, sehingga sulit untuk menjalankan program-program sosial secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi gereja untuk mengembangkan model pelayanan yang lebih inklusif dan partisipatif, serta memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan umat dalam perjuangan keadilan sosial. Gereja sering kali berhadapan dengan ketidaksetaraan struktural yang mengakar dalam masyarakat, termasuk diskriminasi berdasarkan ras, kelas sosial, dan gender. Hal ini membuat gereja harus berupaya keras untuk menjadi agen perubahan yang memperjuangkan keadilan sosial bagi semua anggota komunitas, terutama bagi mereka yang terpinggirkan seperti kaum difabel dan masyarakat marginal lainnya. 34 Gereja juga harus menghadapi tantangan terkait persepsi publik tentang perannya dalam masyarakat. Jika gereja hanya dilihat sebagai institusi yang memberikan nasihat moral tanpa tindakan nyata, hal ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap gereja sebagai agen perubahan sosial. Tantangan Eksternal Selain hambatan internal, gereja juga menghadapi tantangan eksternal yang signifikan. Salah satunya adalah tekanan dari pemerintah dan kelompok-kelompok kepentingan yang tidak selalu mendukung upaya gereja dalam memperjuangkan keadilan sosial. Gerakan oikumene di Indonesia sering kali terganggu oleh dinamika politik nasional. Pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang menuntut pengakuan agama-agama tertentu sebagai cara untuk mengontrol masyarakat, seperti pada era Orde Baru. Bahkan, setelah reformasi, politisasi agama tetap menjadi tantangan yang memperkeruh hubungan antarumat beragama dan mempengaruhi hubungan internal antar gereja. Stereotip dan prasangka negatif terhadap umat Kristen, atau sebaliknya, masih menjadi tantangan dalam membangun hubungan yang harmonis di masyarakat yang majemuk. Ketidakpercayaan ini sering kali berakar dari sejarah konflik, kesalahpahaman budaya, atau penyebaran informasi yang tidak akurat mengenai keyakinan dan praktik keagamaan masing32 Boff and Boff. Introducing Liberation Theology. Sobrino. Jesus the Liberator: A Historical-Theological Reading of Jesus of Nazareth. Rusli. AuPanggilan Gereja Dalam Memperjuangkan Keadilan Sosial Bagi Kelompok Marginal: Sebuah Tantangan Etis-Teologis. Ay Kurniawan Madyo Utomo. AuPanggilan Gereja Dalam Realitas Ketidakadilan Di Indonesia,Ay Forum 52, no. : 13Ae24. Artariah and Meditatio Situmorang. AuTantangan Perkembangan Oikumene Di Indonesia,Ay Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese dan Pastoral 3, no. : 190Ae202. masing pihak. Jika tidak ditangani dengan baik, prasangka semacam ini dapat menghambat proses dialog dan kerja sama lintas agama yang sebenarnya sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang damai dan inklusif. Salah satu faktor yang memperkuat prasangka adalah kurangnya interaksi langsung antara kelompok-kelompok yang berbeda. Ketika individu atau komunitas jarang berinteraksi, mereka cenderung membentuk pemahaman berdasarkan stereotip yang diwariskan turun-temurun atau dari informasi yang tidak diverifikasi. Selain itu, peristiwa masa lalu, baik yang berskala lokal maupun global, sering kali dijadikan alasan untuk mempertahankan kecurigaan dan ketidaksukaan terhadap kelompok tertentu. Selain tantangan dari kelompok radikal yang menentang dialog antaragama, gereja juga menghadapi tantangan eksternal yang muncul dari perubahan sosial dan ekonomi global. Dominasi kapitalisme dalam berbagai aspek kehidupan sering kali bertentangan dengan nilainilai solidaritas dan kesejahteraan bersama yang diperjuangkan oleh gereja. Sistem ekonomi yang semakin kompetitif dan individualistik mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada keuntungan pribadi, sering kali dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan Budaya konsumtif yang berkembang di tengah masyarakat modern juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika masyarakat lebih mengutamakan kepemilikan materi dan gaya hidup mewah, mereka cenderung mengabaikan kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap kelompok yang kurang beruntung. Nilai-nilai Kristiani yang menekankan kasih, kepedulian terhadap orang miskin, serta keadilan sosial, sering kali tersisihkan dalam arus budaya yang semakin sekuler dan materialistis. Gereja memiliki tanggung jawab besar dalam menanggapi ketidaksetaraan sosial, namun tantangan yang dihadapinya semakin kompleks di era modern ini. Dinamika ketidaksetaraan sosial yang terus berkembang, hambatan internal dalam organisasi gereja, serta tantangan eksternal dari faktor politik dan ekonomi menjadi penghambat utama dalam perjuangan gereja untuk keadilan. Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan strategi yang lebih adaptif, memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, serta memperbarui pendekatan dalam pelayanan sosial agar tetap relevan dan efektif dalam mewujudkan keadilan bagi semua. Rekomendasi untuk Peran Gereja dalam Menghadapi Ketidaksetaraan Sosial Saprina Marbu. Sella Angel Ika Br Siagian, and Sri Halimah. AuTantangan dan Peluang Gereja Kristen dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama Di Sumatera Utara,Ay NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan 5, no. : 1Ae23. Ibid. Mitri Raheb. Faith in the Face of Empire: The Bible through Palestinian Eyes (Maryknoll. NY: Orbis Books, 2. , 42. Ketidaksetaraan sosial merupakan realitas yang masih dihadapi oleh banyak masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perbedaan dalam akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta kesempatan ekonomi sering kali menciptakan kesenjangan yang semakin melebar antara kelompok yang lebih mampu dan mereka yang kurang beruntung. Dalam konteks ini, gereja sebagai institusi keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial dan menghadirkan solusi konkret yang berlandaskan nilai-nilai kasih dan keadilan dalam ajaran Kristen. Sebagai komunitas yang berlandaskan iman, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Dengan menanamkan pemahaman teologis yang relevan, membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak, serta memberdayakan jemaat untuk berperan aktif dalam upaya kesetaraan, gereja dapat menjadi katalisator dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Pendidikan Teologis yang Relevan Pendidikan teologis yang komprehensif dan relevan memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman yang mendalam tentang ajaran Kristen dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Gereja sebagai institusi spiritual memiliki tanggung jawab untuk membekali jemaat dengan nilai-nilai Kristiani yang tidak hanya berpusat pada kehidupan rohani tetapi juga berdampak pada aspek sosial, termasuk dalam mengatasi ketidaksetaraan Gereja perlu mengembangkan program pendidikan teologis yang tidak hanya berfokus pada aspek doktrinal, tetapi juga menekankan relevansi ajaran Kristen dalam konteks sosial. Hal ini mencakup pengajaran tentang keadilan sosial, kasih terhadap sesama, dan tanggung jawab moral terhadap kaum marginal. Dengan demikian, jemaat dapat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Kristen dalam upaya mengurangi ketidaksetaraan sosial. Pendidikan teologis memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pemahaman dan sikap jemaat terhadap isu-isu sosial, termasuk ketidaksetaraan sosial. Gereja perlu memastikan bahwa pendidikan teologi yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek doktrinal, tetapi juga mengajarkan bagaimana prinsip-prinsip iman Kristen dapat diterapkan dalam kehidupan Pemahaman yang mendalam mengenai keadilan sosial dalam perspektif Alkitab akan mendorong jemaat untuk lebih aktif dalam memperjuangkan kesetaraan dan membantu mereka yang terpinggirkan. Ajaran Yesus banyak menyoroti pentingnya keadilan, belas kasih, dan kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap mereka yang termarjinalkan. Melalui pendidikan teologis yang berbasis Alkitab, gereja dapat membantu jemaat memahami bahwa ketidaksetaraan sosial bukan hanya isu kemanusiaan tetapi juga persoalan teologis yang menuntut tindakan nyata dari umat beriman. Pendidikan teologis yang kuat akan membuka wawasan jemaat mengenai realitas sosial di sekitar mereka. Dengan memahami ajaran kasih dan keadilan dalam Alkitab, jemaat akan terdorong untuk lebih peduli terhadap mereka yang kurang beruntung, seperti kaum miskin, anak-anak terlantar, dan kelompok rentan lainnya. Gereja dapat mengembangkan berbagai program pelayanan sosial yang berbasis pada nilai-nilai teologis yang diajarkan. Dengan adanya pendidikan teologis yang relevan, gereja dapat mengarahkan kebijakan dan program internalnya untuk lebih inklusif serta berpihak pada mereka yang mengalami ketidakadilan sosial. Hal ini mencakup pengelolaan dana gereja yang lebih berorientasi pada pemberdayaan sosial maka itu, pendidikan teologis yang dirancang dengan baik tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran doktrin tetapi juga menjadi alat transformasi sosial. Kolaborasi dengan Lembaga Sosial dan Pemerintah Kerja sama antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah sangat penting dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial. Melalui kemitraan ini, gereja dapat berperan dalam programprogram pemberdayaan masyarakat, seperti penyediaan layanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan. Kolaborasi semacam ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya yang lebih efektif dan penyebaran bantuan yang lebih luas. Dalam teori kolaborasi. Barbara Gray mendefinisikan kolaborasi sebagai proses melalui mana pihakpihak yang memiliki persepsi yang berbeda tentang suatu masalah bersama-sama mencari solusi yang memuaskan kepentingan mereka masing-masing. Kerja sama antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah merupakan langkah strategis dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial. Gereja, sebagai institusi yang berlandaskan nilai-nilai kasih dan keadilan, memiliki peran penting dalam membawa perubahan di tengah masyarakat. Latumahina Victor. AuPeran Gereja Dalam Menanggapi Kemiskinan,Ay Jurnal Teologi Biblika 6, no. : 29Ae36. Warseto Freddy Sihombing and Antonius Seri. AuMembangun Teologi Pendidikan Agama Kristen Di Gereja Lokal,Ay Jurnal Teruna Bhakti 5, no. : 126Ae135. Barbara Gray. Collaborating: Finding Common Ground for Multiparty Problems (San Francisco: Jossey-Bass, 2. , 4. Namun, agar upaya tersebut lebih efektif dan berdampak luas, gereja perlu menjalin kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam membangun kesejahteraan sosial. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat, gereja dapat berkontribusi melalui berbagai program sosial, seperti penyediaan layanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan. Gereja sering kali memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan masyarakat, sehingga dapat menjadi jembatan dalam menyampaikan bantuan secara langsung dan efektif. Melalui program-program seperti klinik gratis, beasiswa pendidikan, serta pelatihan kewirausahaan, gereja dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang kurang beruntung. Lembaga sosial, sebagai organisasi yang memiliki pengalaman dalam menangani isu-isu sosial, dapat memperkuat upaya gereja dengan menyediakan keahlian dan program berbasis riset. Kemitraan ini memungkinkan gereja untuk mengakses metode yang lebih sistematis dalam menangani permasalahan sosial, serta memperluas jangkauan pelayanan melalui jaringan yang dimiliki oleh lembaga sosial. Selain itu, lembaga sosial juga dapat membantu dalam advokasi kebijakan serta menghubungkan gereja dengan berbagai sumber daya, baik dalam bentuk dana, tenaga ahli, maupun fasilitas. Pemerintah, sebagai pemegang kebijakan dan regulator, juga berperan penting dalam mendukung upaya gereja dan lembaga sosial dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial. Dukungan pemerintah dapat berupa penyediaan bantuan dana, akses terhadap program kesejahteraan masyarakat, serta kerja sama dalam penyelenggaraan layanan publik. Dengan adanya kebijakan yang mendukung, program-program sosial yang dijalankan oleh gereja dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, sinergi antara gereja dan pemerintah juga dapat mempercepat upaya peningkatan kesejahteraan bagi kelompok rentan, seperti kaum miskin, anak-anak terlantar, serta lansia yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan demikian kerja sama yang baik antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah membawa manfaat besar dalam menciptakan perubahan sosial yang lebih luas dan Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik dalam bentuk finansial, tenaga kerja, maupun fasilitas, program pemberdayaan masyarakat dapat dijalankan dengan lebih efektif. Jangkauan bantuan pun menjadi lebih luas, sehingga lebih banyak individu yang Rafles Ngilamele. Frans Pantan, and Heru Cahyono. AuKolaborasi Antara Gereja Dan Lembaga Kesehatan Dalam Pencegahan Stunting Di Kabupaten Supiori . Papua,Ay MATHEO: Jurnal Teologi/Kependetaan 13, no. : 173Ae186. Robert Bradley Mitchell. AuThe Case for a Theology of Disaster Risk Management,Ay Christian Journal for Global Health 5, no. : 47Ae53. Jeni Murni Gulo. Arismawati Halawa, and Malik Bambangan. AuPeran Gereja Dalam Pemerintahan Sejarah Tentang Agama Kristen,Ay Sabar: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2, no. : 145Ae dapat merasakan dampak positifnya. Pada akhirnya, kerja sama ini bukan hanya menjadi solusi dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kasih, keadilan, dan solidaritas yang diajarkan dalam ajaran Kristen. Pemberdayaan Jemaat Gereja memiliki peran yang sangat penting dalam memberdayakan jemaatnya untuk terlibat aktif dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial. Gereja harus memberdayakan jemaatnya untuk terlibat aktif dalam upaya mengatasi ketidaksetaraan sosial. Ini dapat dilakukan melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha mikro, dan program-program lain yang meningkatkan kapasitas ekonomi dan sosial jemaat. Gereja dapat menghadirkan damai sejahtera Allah bagi dunia melalui tindakan pemberdayaan jemaat. Gereja memperoleh mandat dari Allah untuk melayani orang-orang miskin, menyampaikan kabar baik dan pembebasan kepada orang-orang yang tertindas, membawa penglihatan akan masa depan kepada orangorang buta dan terbelenggu oleh kekuasaan dunia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan pelatihan keterampilan yang relevan, yang dapat membantu jemaat memperoleh keterampilan praktis untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Program-program pelatihan ini dapat mencakup berbagai bidang, mulai dari keterampilan teknis, seperti pertukangan atau tata boga, hingga keterampilan manajerial untuk menjalankan usaha kecil. Selain itu, gereja dapat mengembangkan usaha mikro yang memberikan peluang bagi jemaat untuk memulai dan mengelola bisnis kecil, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi Dengan menyediakan modal, pelatihan, dan bimbingan, gereja dapat mendorong jemaat untuk menjadi lebih mandiri secara ekonomi dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan keluarga dan komunitas. Gereja juga dapat menjalankan program sosial yang lebih luas, seperti penyuluhan tentang kesehatan, pendidikan, dan hak-hak sosial, yang akan semakin memperkuat kapasitas sosial jemaat dan mengurangi ketidaksetaraan yang ada. Pemberdayaan jemaat melalui gereja dipandang sebagai seluruh gerak pelayanan oleh warga gereja di tengah-tengah jemaat dan masyarakat yang bersifat saling membangun. Hal ini bukan semata untuk memerhatikan atau membantu warga yang lemah, tetapi juga warga gereja dapat bergerak bersama-sama pada tempatnya, sesuai potensinya dan memahami bagian yang Welhelmus Abraham Beresaby. AuPemberdayaan Jemaat Dalam Perspektif Diakonia Transformatif: Studi Implementasi Dana Sharing GPM,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 3, no. 201Ae217. Josef P Widyatmadja. Yesus Dan Wong Cilik. Praksis Diakonia Transformasi Dan Teologi Rakyat Di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 127. harus dilakukannya. Kristus telah merancangkan dan melengkapi setiap anggota tubuh-Nya untuk melaksanakan tugas tersebut untuk memulihkan segala sesuatu. Peran Gereja dalam Mempromosikan Kesetaraan Global Selain berfokus pada isu-isu lokal, gereja juga memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan kesetaraan di tingkat global. Ini termasuk advokasi terhadap kebijakan internasional yang adil, partisipasi dalam gerakan global untuk keadilan sosial, dan edukasi jemaat tentang isu-isu global yang mempengaruhi ketidaksetaraan. Dengan mengambil peran aktif dalam arena global, gereja dapat membantu membentuk dunia yang lebih adil dan setara. Gereja tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan ketidaksetaraan di tingkat lokal, tetapi juga berperan penting dalam mempromosikan kesetaraan di tingkat global. Sebagai lembaga yang berpegang pada ajaran kasih dan keadilan, gereja dapat memainkan peran strategis dalam mengadvokasi kebijakan internasional yang mendukung keadilan sosial dan kesetaraan. Melalui partisipasi aktif dalam organisasi internasional atau gerakan global, gereja dapat memberikan suara terhadap isu-isu yang mempengaruhi ketidaksetaraan global, seperti perubahan iklim, kemiskinan, ketidakadilan ekonomi, dan pelanggaran hak asasi Selain itu, gereja memiliki peran penting dalam mendidik jemaatnya mengenai isuisu global yang mendalam, sehingga mereka memahami keterkaitan antara ketidaksetaraan lokal dan global. Dengan memberdayakan jemaat untuk terlibat dalam gerakan sosial yang lebih besar, gereja dapat memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan di seluruh dunia. Dengan begitu, gereja tidak hanya menjadi agen perubahan di komunitasnya sendiri, tetapi juga di panggung global, berkontribusi pada terciptanya dunia yang lebih adil, setara, dan penuh kasih. Di sisi lain, edukasi jemaat juga memainkan peranan penting dalam mempromosikan kesetaraan global. Gereja dapat menyelenggarakan program-program yang mendidik jemaat mengenai isu-isu global yang mempengaruhi ketidaksetaraan, seperti krisis migrasi, eksploitasi pekerja, atau ketimpangan dalam distribusi kekayaan. Dengan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang isu-isu ini, gereja dapat memberdayakan jemaat untuk berperan aktif dalam gerakan sosial dan politik yang memperjuangkan keadilan global. Pendidikan semacam ini tidak hanya memperluas wawasan jemaat mengenai dunia yang lebih luas, tetapi juga Natalina Simamora. AuGereja Yang Sehat Gereja Yang Sehat Dan Tugas Pemberdayaan Jemaat,Ay PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA 1, no. : 63Ae75. Rusli. AuPanggilan Gereja Dalam Memperjuangkan Keadilan Sosial Bagi Kelompok Marginal: Sebuah Tantangan Etis-Teologis. Ay mendorong mereka untuk melibatkan diri dalam perubahan yang lebih besar, baik di tingkat lokal maupun internasional. Dengan demikian, melalui berbagai inisiatif dan kerja sama internasional, gereja tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang peduli terhadap isu-isu lokal, tetapi juga sebagai agen perubahan yang berperan aktif dalam membentuk dunia yang lebih baik dan penuh keadilan. Gereja memiliki potensi besar untuk mempengaruhi kebijakan global, mendidik masyarakat, serta mendukung gerakan global untuk menciptakan kesetaraan, baik di tingkat individu, masyarakat, maupun negara. KESIMPULAN Gereja memiliki peran penting dalam memperjuangkan keadilan sosial sesuai dengan ajaran Injil. Dalam era ketidaksetaraan yang semakin mencolok, gereja dipanggil untuk tidak hanya berfokus pada penyelamatan jiwa, tetapi juga untuk terlibat aktif dalam mengatasi ketidaksetaraan yang ada di masyarakat. Melalui pengajaran Alkitabiah, gereja dapat mengedukasi jemaat mengenai nilai-nilai kasih, keadilan, dan perdamaian yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, gereja memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan jemaatnya dalam berbagai bentuk pelayanan sosial, termasuk pemberian bantuan kepada mereka yang terpinggirkan, pengembangan program pemberdayaan ekonomi, serta advokasi untuk kebijakan yang lebih adil baik di tingkat lokal maupun global. Gereja juga berperan sebagai agen perubahan dalam mengadvokasi kebijakan sosial yang mendukung kesetaraan dan keadilan. Dengan menanggapi tantangan ketidaksetaraan yang ada di dunia, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai wadah yang menggerakkan jemaat untuk melakukan tindakan nyata dalam membangun masyarakat yang lebih adil. Oleh karena itu, peran gereja dalam mempromosikan keadilan sosial adalah bagian tak terpisahkan dari misi Injil, yang mengajarkan bahwa kasih kepada sesama adalah bagian integral dari kehidupan Kristen. Melalui komitmen pada prinsip-prinsip Injil, gereja dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan dunia yang lebih adil, setara, dan penuh kasih. DAFTAR PUSTAKA