Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 2, 2024, pp. 33 Ae 40 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pasangan Usia Subur dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Nur Hamni1a*. Murniati Muchtar1b. Elvia Metti1c Kemenkes Poltekkes Padang. Indonesia smarahamni@gmail. muchtar@yahoo. elmetty@yahoo. HIGHLIGHTS A Pengetahuan dan Sikap Pasangan Usia Subur dengan Pemakaian Kontrasepsi ARTICLE INFO Article history Received date June 19th 2023 Revised date August 03rd 2024 Accepted date September 28th 2024 Keywords: Kontrasepsi. Pengetahuan. Sikap ABSTRACT/ABSTRAK The use of contraceptives aims to regulate birth spacing, particularly among couples of childbearing age (COCBA). However, many women still do not use contraceptives due to various factors. In Dadok Tunggul Hitam, the number of COCBA is the highest . , yet the percentage of family planning participants remains low at 2. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes of COCBA and their contraceptive use. A quantitative analytic descriptive design with a crosectional approach was employed. The study involved 82 respondents, selected using total sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test. The results showed that most respondents had good knowledge, more than half had negative attitudes, and the majority did not use contraceptives. There was a significant relationship between knowledge . = 0. OR = 3. and attitude . = OR = 5. and contraceptive use. Respondents with good knowledge were 3. 85 times more likely, and those with positive attitudes 47 times more likely to use contraceptives. Copyright A 2024 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Nur Hamni Jurusan Keperawatan Kemenkes Poltekkes Padang. Koto Baru. Kecamatan Rao Utara. Kabupaten Pasaman. Email: smarahamni@gmail. PENDAHULUAN Pasangan usia subur (PUS) merupakan pasangan suami istri yang sudah menikah, di mana istrinya berumur 25Ae35 tahun, atau pasangan yang istrinya berumur <15 tahun namun sudah haid, atau >50 tahun tetapi masih mengalami haid (Sugiharti, 2. PUS menjadi sasaran utama dalam program Keluarga Berencana (KB) untuk menurunkan fertilitas melalui pengaturan kelahiran, jarak dan usia ideal melahirkan, serta pengaturan kehamilan yang menjunjung tinggi hak reproduksi dalam rangka membentuk keluarga Page . berkualitas (Harahap, 2. Penggunaan kontrasepsi, baik berupa alat, obat, maupun tindakan medis tertentu, bertujuan untuk mencegah kehamilan (Harwijayanti, 2. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia mencatatkan peningkatan jumlah penduduk dari 270. 917 jiwa . menjadi 515 jiwa . Ironisnya, prevalensi PUS peserta KB mengalami penurunan dari 56,04% . menjadi 55,06% . (BPS, 2. Di Sumatera Barat, dari 709. 389 PUS, hanya 363. 659 tercatat sebagai peserta aktif KB dengan prevalensi 51,26%, masih di bawah target 54,78% (BKKBN, 2. Di Kota Padang, terdapat 100. 096 PUS, namun hanya 42. 068 yang aktif menggunakan KB . revalensi 42,03%), padahal kota ini memiliki jumlah PUS terbanyak dari seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat. Puskesmas Dadok Tunggul Hitam menjadi salah satu yang tertinggi dengan 8. 140 PUS, namun hanya 177 yang menjadi akseptor KB (Dinas Kesehatan, 2. Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, khususnya RW 04 RT 01, menunjukkan kesenjangan besar antara jumlah PUS dan penggunaan kontrasepsi. Saat ini belum banyak bagaimana pengetahuan dan sikap PUS secara spesifik mempengaruhi keputusan penggunaan kontrasepsi di wilayah dengan angka akseptor Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap PUS terhadap penggunaan kontrasepsi di wilayah tersebut. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan crosectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu pasangan usia subur (PUS) yang berada di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, dengan total sebanyak 82 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan kriteria inklusi yaitu ibu berusia 15Ae49 tahun dan bersedia serta kooperatif mengikuti Instrumen yang digunakan berupa dua jenis kuesioner. Kuesioner pengetahuan diadaptasi dari Ritonga . , yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas dengan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,761. Sedangkan kuesioner sikap berasal dari penelitian Angraini . dengan nilai reliabilitas sebesar 0,764 dan telah dimodifikasi ringan pada istilah Aukontrasepsi efektifAy. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner untuk mengukur variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap ibu PUS, sedangkan data pada variabel dependen yaitu penggunaan alat kontrasepsi diperoleh melalui wawancara langsung kepada responden. Pengolahan data meliputi tahapan editing, coding, processing, data entry, cleaning, dan tabulating. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat signifikansi = 0,05. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan PUS Terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi . Pengetahuan Baik Kurang Jumlah Berdasarkan Tabel 1, sebagian besar Pasangan Usia Subur (PUS) di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai alat kontrasepsi. Dari total 82 responden, sebanyak 66 orang . ,5%) memiliki pengetahuan dalam kategori baik, sementara 16 orang . ,5%) berada dalam kategori pengetahuan kurang. Page . Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap PUS Terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi . Sikap Positif Negatif Jumlah Pada Tabel 2, ditunjukkan bahwa sikap PUS terhadap pemakaian alat kontrasepsi masih cukup beragam. Dari 82 responden, sebanyak 44 orang . ,7%) memiliki sikap negatif terhadap penggunaan alat kontrasepsi, sedangkan 38 orang . ,3%) memiliki sikap positif. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemakaian Alat Kontrasepsi . Pemakaian Kontrasepsi Dipakai Tidak dipakai Jumlah Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa tingkat pemakaian alat kontrasepsi oleh PUS di wilayah RT 01 RW 04 masih rendah. Sebanyak 39 responden . ,6%) menyatakan menggunakan alat kontrasepsi, sementara 43 orang . ,4%) lainnya tidak Tabel 4. Hubungan Pengetahuan PUS Dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Kurang Pemakaian Alat Kontrasepsi Tidak Dipakai Dipakai Baik Total Pengetahuan Total CI) P Value Pada Tabel 4, diperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan PUS dengan perilaku penggunaan alat kontrasepsi. Responden dengan pengetahuan kurang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak menggunakan kontrasepsi, dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 8,93 dan p-value 0,004. Artinya. PUS yang berpengetahuan kurang memiliki kemungkinan sekitar 9 kali lebih besar untuk tidak memakai alat kontrasepsi dibandingkan dengan PUS yang memiliki pengetahuan baik. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dapat menjadi intervensi penting dalam meningkatkan penggunaan kontrasepsi. Tabel 5. Hubungan Sikap PUS Dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Sikap Negatif Pemakaian Alat Kontrasepsi Tidak Dipakai Dipakai Total Positif Total CI) 19,92 6,4861,22 P Value Berdasarkan Tabel 5, terdapat hubungan yang sangat signifikan antara sikap PUS dan penggunaan alat kontrasepsi. Responden dengan sikap negatif cenderung tidak menggunakan alat kontrasepsi, dengan nilai OR sebesar 19,92 dan p-value Page . sebesar 0,000. Ini menunjukkan bahwa PUS yang bersikap negatif memiliki kemungkinan hampir 20 kali lebih besar untuk tidak memakai kontrasepsi dibandingkan mereka yang bersikap positif. Temuan ini menekankan pentingnya pembentukan sikap positif melalui edukasi, bimbingan, dan konseling yang komunikatif dan empatik. PEMBAHASAN Pengetahuan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Hasil pada Tabel 1, diketahui bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan yang baik mengenai kontrasepsi, yaitu sebanyak 66 orang . ,5%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Maghfiroh . yang menunjukkan bahwa mayoritas responden . %) memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hasil serupa juga ditunjukkan dalam studi yang dilakukan oleh Musyayadah . , di mana lebih dari separuh responden . %) memiliki pengetahuan yang baik. Selain itu, penelitian oleh Angraini . juga mendukung hasil ini, yaitu 63% responden memiliki pengetahuan baik dan 37% lainnya memiliki pengetahuan kurang. Pengetahuan merupakan hasil dari proses belajar yang diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun informasi dari berbagai media seperti televisi, internet, radio, majalah, atau koran. Menurut Budiman dan Riyanto . , tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal seperti motivasi dan persepsi, serta faktor eksternal seperti ketersediaan informasi dan kondisi sosial Dalam konteks ini, ibu pasangan usia subur yang memiliki pengetahuan kurang dapat disebabkan oleh persepsi keliru, misalnya anggapan bahwa penggunaan alat kontrasepsi akan menyebabkan kesulitan untuk hamil kembali. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi yang menyeluruh mengenai jenis-jenis kontrasepsi, manfaatnya, serta mekanisme kerja masing-masing alat kontrasepsi. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan mendorong sikap positif ibu pasangan usia subur terhadap penggunaan kontrasepsi, sehingga program keluarga berencana dapat berjalan Sikap PUS terhadap pemakaian alat kontrasepsi di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Tabel 2, menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden bersikap negatif terhadap penggunaan alat kontrasepsi, yaitu sebanyak 44 orang . ,7%). Hal ini tercermin dari beberapa pernyataan sikap, seperti hampir separuh ibu pasangan usia subur (PUS) yaitu 47,6% setuju bahwa tidak menggunakan alat kontrasepsi dikarenakan ingin menjarangkan anak secara alami. Selain itu, 42,7% responden menyatakan setuju tidak menggunakan alat kontrasepsi karena takut terhadap efek sampingnya, dan sebanyak 30,5% tidak setuju dengan keberadaan program Keluarga Berencana (KB). Sikap sendiri merupakan bentuk kesiapan mental atau predisposisi untuk bertindak terhadap suatu objek yang dapat bersifat positif maupun negatif. Sikap negatif ditunjukkan melalui tindakan penolakan, penghindaran, bahkan ketidaksukaan terhadap suatu objek atau kebijakan tertentu (Ikhsanto, 2. Dalam konteks ini, sikap negatif ibu PUS terhadap kontrasepsi kemungkinan besar dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap efek samping serta kurangnya pemahaman tentang manfaat kontrasepsi dan keberadaan program KB. Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Harahap . , yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden . %) memiliki sikap negatif terhadap penggunaan kontrasepsi, sedangkan hanya 32% yang memiliki sikap Hasil serupa juga ditemukan oleh Sari . , yang melaporkan bahwa Page . 58% responden menunjukkan sikap negatif. Sikap negatif ini berpotensi menjadi hambatan dalam keberhasilan program KB di masyarakat, terutama di wilayah dengan angka akseptor kontrasepsi yang rendah. Dengan demikian, peningkatan edukasi dan pendekatan berbasis komunitas oleh tenaga kesehatan menjadi penting untuk membentuk sikap positif ibu PUS terhadap penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini dapat dilakukan melalui penyuluhan yang menjelaskan keamanan, efektivitas, serta keuntungan jangka panjang dari kontrasepsi sebagai upaya mendukung kesejahteraan ibu dan keluarga. Pemakaian alat kontrasepsi di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa lebih dari separuh responden dalam penelitian ini tidak menggunakan alat kontrasepsi, yaitu sebanyak 43 orang . ,4%). Alasan utama ketidakterlibatan dalam program KB ini antara lain adalah adanya kepercayaan bahwa "banyak anak banyak rezeki" yang diyakini oleh 55,8% responden, belum dikaruniai anak sesuai jenis kelamin yang diinginkan . ,3%), belum memiliki anak . ,3%), serta tidak cocok dengan alat kontrasepsi . ,6%). Sementara itu, kurang dari separuh ibu pasangan usia subur (PUS), yaitu 47,6%, tercatat menggunakan alat kontrasepsi, dengan jenis yang paling banyak digunakan adalah pil KB . ,5%). Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian Adhe dan Nelawati . yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden . ,6%) tidak menggunakan kontrasepsi karena berbagai alasan seperti keinginan untuk memiliki anak, kekhawatiran terhadap efek samping, ketidaknyamanan, masalah akses, hingga faktor kepercayaan dan fertilitas. Dukungan terhadap hasil ini juga datang dari penelitian Dini dan Eprina . , yang menemukan bahwa 66,7% responden tidak menggunakan alat kontrasepsi, dengan alasan dominan yaitu tidak adanya dukungan dari suami . ,1%) dan minimnya peran aktif petugas kesehatan . ,8%). Selain itu, penelitian Sudirman dan Herdiana . menyebutkan bahwa hampir separuh responden . ,5%) memilih pil KB sebagai metode kontrasepsi, yang mendukung temuan jenis kontrasepsi terbanyak digunakan dalam penelitian Fenomena ini mengindikasikan bahwa selain faktor pengetahuan dan sikap, keyakinan budaya, preferensi anak berdasarkan jenis kelamin, serta dukungan dari pasangan juga menjadi determinan penting dalam pengambilan keputusan pemakaian kontrasepsi. Adopsi pil KB sebagai pilihan utama juga menunjukkan adanya preferensi terhadap metode kontrasepsi yang bersifat reversibel, mudah digunakan, dan memungkinkan kembalinya kesuburan secara cepat setelah Oleh karena itu, peningkatan program edukasi berbasis budaya dan pendekatan interpersonal yang melibatkan suami dan tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan angka partisipasi ibu PUS dalam program KB. Hubungan Pengetahuan PUS dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di RT 01 RW 04 Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Hasil penelitian pada Tabel 4, diketahui bahwa sebagian besar ibu pasangan usia subur (PUS) yang memiliki pengetahuan kurang tidak menggunakan alat kontrasepsi, yaitu sebesar 87,5%. Hasil uji statistik menggunakan chi-square menunjukkan nilai p = 0,004, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan pemakaian alat kontrasepsi . < 0,. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Angraini . yang menunjukkan hasil serupa dengan nilai p value = 0,001, menandakan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dan pemakaian alat kontrasepsi, di mana 51,4% responden yang memiliki pengetahuan kurang tidak menggunakan Page . alat kontrasepsi. Rahayu . juga mendukung hasil tersebut dengan nilai p = 0,000 yang mengindikasikan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku pemakaian kontrasepsi. Minimnya pengetahuan tentang manfaat, mekanisme kerja, serta jenis-jenis kontrasepsi cenderung memicu munculnya persepsi negatif terhadap penggunaan alat kontrasepsi di kalangan ibu PUS. Ketidaktahuan ini dapat berdampak pada kekhawatiran berlebihan terkait efek samping atau dampak jangka panjang dari pemakaian kontrasepsi. Hal ini selaras dengan teori perilaku kesehatan yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan fondasi dalam proses pengambilan keputusan yang rasional dalam kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukatif yang sistematis dan berkelanjutan dari tenaga kesehatan, baik dalam bentuk penyuluhan langsung, penggunaan media edukasi cetak dan digital, maupun melalui program pemberdayaan masyarakat agar ibu PUS mendapatkan informasi yang akurat dan komprehensif tentang kontrasepsi. Edukasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membentuk sikap positif terhadap program keluarga berencana sebagai upaya peningkatan kualitas hidup keluarga. Hubungan Sikap PUS dengan Pemakaian alat kontrasepsi di RT 01 RW Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5, diketahui bahwa sebagian besar ibu pasangan usia subur (PUS) yang memiliki sikap negatif tidak menggunakan alat kontrasepsi, yaitu sebesar 81,8%. Sikap negatif ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh pengalaman pribadi responden terhadap efek samping alat kontrasepsi yang pernah digunakan sebelumnya. Sebagian responden yang menggunakan kontrasepsi suntik . ,6%) mengeluhkan efek berupa kemerahan pada lokasi penyuntikan, gangguan menstruasi, dan perubahan berat badan. Responden yang menggunakan pil . ,5%) melaporkan dampak seperti kulit berjerawat, sering lupa minum, sakit kepala, dan merasa pemakaiannya terlalu Sementara itu, sebagian kecil responden . ,4%) yang menggunakan IUD mengeluhkan haid tidak teratur dan perdarahan berlebihan. Efek-efek tersebut berkontribusi terhadap pembentukan sikap negatif, yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi. Hasil uji chisquare menunjukkan nilai p = 0,000 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan pemakaian alat kontrasepsi. Penelitian ini sejalan dengan temuan Nilawarasati . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap dan perilaku penggunaan kontrasepsi. Sikap ibu PUS terhadap kontrasepsi merupakan cerminan dari pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan terhadap manfaat maupun risiko kontrasepsi yang pernah atau belum mereka alami. Oleh karena itu, intervensi edukatif yang mampu mengatasi kekhawatiran dan membangun persepsi positif terhadap kontrasepsi sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan penggunaan kontrasepsi secara sukarela KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ibu pasangan usia subur (PUS) memiliki pengetahuan yang baik mengenai alat kontrasepsi, masih ditemukan sikap negatif dan rendahnya tingkat pemakaian kontrasepsi. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan . = 0,. dan sikap . = 0,. dengan perilaku penggunaan kontrasepsi. Temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan dan sikap merupakan faktor kunci dalam keberhasilan program KB. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif berkelanjutan dari petugas kesehatan serta keterlibatan tokoh masyarakat untuk membentuk sikap positif terhadap kontrasepsi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi variabel lain seperti faktor budaya dengan cakupan sampel yang lebih luas. Page . DAFTAR PUSTAKA