Vol 2 No. 4 Oktober 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 74 - 81 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI:https://doi. org/10. 69714/d1dd5z24 KONTRIBUSI FAMILY FUNCTION DAN ACADEMIC RESILIENCE TERHADAP STUDENT SUBJECTIVE WELL-BEING PADA SISWA SMP Ika Budi Nurani a*. Tri NaiAoimah b. Fatin Rohmah Nur Wahidah c. Eka Rizki Meilani d a Fakultas Psikologi / Jurusan Psikologi, ikabudinurani23@gmail. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Jawa Tengah. b Fakultas Psikologi / Jurusan Psikologi, trinaimah@ump. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Jawa Tengah. c Fakultas Psikologi / Jurusan Psikologi, fatinrohmahwahidah@ump. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Jawa Tengah. d Fakultas Psikologi / Jurusan Psikologi, ekarizkimeilani18@ump. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Jawa Tengah. *Korespondensi ABSTRACT Adolescence is a crucial period in individual development, during which students begin to face academic pressure and complex family dynamics. Family function plays a significant role in supporting student subjective well-being. however, challenges such as poor communication, lack of emotional support, and interfamily conflicts can hinder a child's development. Simultaneously, students are also confronted with high academic demands, potentially leading to stress and feelings of inadequacy. This study aims to examine the influence of family function and academic resilience on student subjective well-being among students of SMP Muhammadiyah 48 Cikupa. Tangerang Regency. This is a quantitative study involving 169 students selected through simple random sampling. Data were collected using the Student Subjective WellBeing Questionnaire (SSWQ), the Family Functioning Questionnaire (FFQ), and the Academic Resilience Scale (ARS). The analysis revealed a t-value of 11. 247 for the effect of family function on student subjective well-being and a t-value of 12. 831 for the effect of academic resilience. The F-value of 93. 053 indicates a significant joint influence of family function and academic resilience on student subjective well-being. With an R. Square value of 0. 529, the findings suggest that family function and academic resilience, contribute effectively to 52. 9% of the vanance in student subjective well-being while the remaining 47. 1% is influenced by other unexamined factors. These findings highlight the importance of a supportive family environment and the development of academic resilience in helping students navigate academic stress and maintain psychological well-being. Keywords: Academic Resilience. Family Function. Student Subjective Well-Being. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan individu, di mana siswa mulai menghadapi tekanan akademik dan dinamika keluarga. Family function berperan penting dalam mendukung student subjective well-being, namun tantangan seperti komunikasi yang buruk, kurangnya dukungan emosional, dan konflik antar anggota keluarga dapat menghambat perkembangan anak. Di sisi lain, siswa juga harus menghadapi tuntutan akademik yang tinggi, yang dapat menimbulkan stres dan rasa ketidakmampuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh family function dan academic resilience terhadap student subjective well-being pada siswa SMP Muhammadiyah 48 Cikupa Kabupaten Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan melibatkan 169 siswa yang diambil melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Student Subjective Well-Being Questionnaire (SSWQ). Family Functioning Questionnaire (FFQ), dan Academic Resilience Scale (ARS). Hasil analisis menunjukkan nilai t = 11. 247 untuk family function terhadap student subjective well-being dan t = 12. 831 untuk academic resilience terhadap student subjective well-being. Nilai F = 93. Received June 3, 2025. Revised July 2, 2025. Accepted July 26 2025. Online Available August 2, 2025 Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara family function dan academic resilience terhadap terhadap student subjective well-being. Dengan R Square = 0. 529, penelitian ini menandakan bahwa family function dan academic resilience memberikan kontribusi efektif sebesar 52. 9% terhadap student subjective wellbeing, sementara 47. 1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hal ini menunjukkan pentingnya family function dalam menciptakan lingkungan yang mendukung, serta academic resilience dalam membantu siswa menghadapi tekanan yang ada Kata Kunci: Academic Resilience. Family Function. Student Subjective Well-Being. PENDAHULUAN Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan jenjang pendidikan yang ditempuh oleh remaja pada usia 12Ae15 tahun. Pada masa ini, remaja mengalami berbagai perubahan signifikan dalam aspek fisik, psikologis, kognitif, sosial, dan emosional . Periode ini juga disebut sebagai masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, di mana individu mulai mencari identitas diri, membentuk hubungan sosial yang lebih kompleks, serta mulai mengalami tekanan dari lingkungan sekitar . Proses perkembangan yang berlangsung pesat ini sering kali menimbulkan berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis remaja. Kesejahteraan psikologis dalam konteks pendidikan dikenal sebagai student subjective well-being (SSWB), yang merujuk pada perasaan dan pandangan positif siswa terhadap pengalaman mereka di lingkungan sekolah. Konsep ini mencakup persepsi siswa terhadap keterhubungan dengan sekolah . chool connectednes. , kesenangan dalam belajar . oy of learnin. , kejelasan tujuan pendidikan . ducational purpos. , serta keyakinan terhadap kemampuan akademik mereka . cademic efficac. Menurut Fan . student subjective well-being berperan penting dalam meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan sosial, serta ketahanan dalam menghadapi tekanan akademik. Namun, tidak semua siswa bisa merasakan kenyamanan dan kebahagiaan saat berada di sekolah Beberapa studi menunjukkan bahwa siswa SMP sering mengalami stres akibat tekanan akademik, permasalahan sosial, hingga konflik dalam keluarga . Tekanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menurunkan minat belajar, menciptakan kecemasan akademik, bahkan memicu perilaku menyimpang seperti membolos atau menyakiti diri sendiri . Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap student subjective well-being adalah family function. Family function mencakup kemampuan keluarga dalam menjalankan peran dan tanggung jawab secara seimbang, mulai dari komunikasi yang efektif, penyelesaian masalah, pemberian dukungan emosional, hingga keterlibatan aktif dalam kehidupan anak . Menurut Epstein et al. family function adalah kemampuan keluarga dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan anggotanya yang berperan dalam menunjang kesejahteraan emosional dan sosial. Keluarga yang menjalankan fungsinya secara optimal akan menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, serta mendukung proses pembelajaran anak . Sebaliknya, keluarga yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan emosional, kurang percaya diri, serta kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah . Hafshoh dan Saleh . menemukan bahwa komunikasi yang efektif dan fleksibilitas dalam peran keluarga memiliki pengaruh positif terhadap student subjective well-being. Sementara itu Nabilah dan Hermaleni . menjelaskan bahwa siswa yang memiliki kedekatan dengan keluarga cenderung memiliki pemahaman diri yang lebih baik, yang berkontribusi terhadap well-being mereka di sekolah. Selain faktor eksternal, faktor internal seperti academic resilience juga turut berperan dalam menentukan tingkat student subjective well-being. Academic resilience didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk tetap bertahan, bangkit, dan menyelesaikan tugas-tugas akademik meskipun menghadapi tantangan, hambatan, atau kegagalan . Menurut Wulandari dan Kumalasari . siswa dengan tingkat academic resilience yang tinggi cenderung memiliki kontrol emosi yang baik, mampu mengelola stres akademik, dan memiliki harapan positif terhadap masa depan. Academic resilience memiliki tiga aspek utama, yaitu perseverance, negative affect and emotional response, self-reflection and adaptation dan adaptive help-seeking . Keo . menyatakan bahwa siswa yang mampu mencari dukungan secara adaptif dan tidak larut dalam emosi negatif akan lebih mudah mencapai keberhasilan akademik meskipun dalam kondisi sulit. Di sisi lain, siswa dengan resiliensi yang rendah cenderung mengalami kecemasan, kehilangan motivasi, dan menyerah saat menghadapi tekanan belajar . Kontribusi Family Function Dan Academic Resilience Terhadap Student Subjective Well-Being Pada Siswa SMP (Ika Budi Nuran. Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa family function dan academic resilience berkontribusi terhadap student subjective well-being, namun hasil yang ditemukan tidak selalu konsisten. Misalnya Hafshoh dan Saleh . menemukan bahwa family function hanya menyumbang 7. 9% terhadap student subjective well-being. Sedangkan Sari dan Dahlia . menemukan kontribusi sebesar 28%. Sebaliknya Silalahi . tidak menemukan pengaruh signifikan antara family function terhadap student subjective well-being. Dalam hal academic resilience Maulidhah dan Fahmawati . melaporkan kontribusi sebesar 31%, sementara Amelasasih et al. menemukan pengaruh yang lebih besar, yakni 53. Namun Iskandar dan Mastuti . menemukan bahwa academic resilience tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap student subjective well-being. Melihat adanya evidence gap serta population gap dalam studi-studi sebelumnya yang lebih banyak dilakukan pada siswa SMA . , boarding school . , dan mahasiswa . , maka penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan fokus pada siswa kelas Vi SMP berbasis agama. Berdasarkan studi pendahuluan, ditemukan bahwa siswa di sekolah tersebut mengalami gejala rendahnya student subjective well-being, terutama pada aspek school connectedness, joy of learning, dan academic efficacy. Hal ini diperkuat oleh permasalahan dalam family function dan academic resilience yang tampak dari kurangnya komunikasi dengan keluarga, kurang percaya diri dalam belajar, serta kecenderungan untuk menyerah saat menghadapi tantangan akademik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana pengaruh family function dan academic resilience terhadap student subjective well-being pada siswa kelas Vi SMP Muhammadiyah 48 Cikupa Kabupaten Tangerang. TINJAUAN PUSTAKA Student Subjective Well-being Zhang dan Renshaw . berpendapat bahwa student subjective well-being berkaitan dengan bagaimana seseorang merasakan dan menilai pengalaman mereka di lingkungan akademik. Menurut Zhang et al. well-being atau kesejahteraan adalah keadaan di mana seseorang merasa puas dan bahagia dengan Well-being merupakan kondisi di mana seseorang merasa baik dan berfungsi dengan baik dalam kehidupannya (Ruggeri et al. , 2. Dalam konteks pendidikan, student subjective well-being merujuk padan bagaimana perasaan dan pandangan siswa tentang kehidupan sehari-hari di sekolah. Hal ini mencakup perasaan bahagia dan puas yang mereka alami terkait dengan hubungan sosial, seperti temanteman dan guru, serta pencapaian akademik mereka (Panjaitan et al. , 2. Family Function Roncone et al. mendefinisikan family function sebagai kemampuan keluarga untuk saling Melibatkan keterampilan komunikasi yang baik, membantu dalam memecahkan masalah, dan pencapaian tujuan pribadi setiap anggota, yang semuanya berkontribusi pada kesejahteraan keluarga secara Keluarga yang sehat bisa menjalankan fungsi-fungsi ini dengan baik, yang berdampak positif pada kesehatan mental semua anggotanya (Epstein et al. , 1. Menurut Herawati et al. kunci keberhasilan dalam menjalankan family function terletak pada peran orang tua sebagai pengendali utama. Lyng . menyatakan bahwa family function berkaitan dengan bagaimana keluarga berinteraksi dan mendukung kesejahteraan anggotanya. Keluarga yang sehat, dengan keseimbangan kohesi, fleksibilitas, dan komunikasi yang baik, dapat mendukung kesejahteraan remaja. Sebaliknya, ketidakseimbangan dalam fungsi ini, seperti kurangnya ikatan emosional atau komunikasi yang buruk, dapat menyebabkan masalah emosional dan perilaku pada remaja. Academic Resillience Secara umum resilience diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengatasi kesulitan dan menyesuaikan diri dengan situasi yang sulit (Terrill et al. , 2. Resilience dalam konteks pendidikan dikenal dengan istilah academic resilience. Menurut Honra . academic resilience adalah kemampuan siswa untuk menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan dalam belajar, sambil tetap berusaha untuk mencapai prestasi yang baik. Siswa yang memiliki academic resilience bisa bangkit kembali setelah mengalami kegagalan, mengelola stres, dan tetap fokus pada tujuan belajarnya. Individu yang memiliki tingkat academic resilience yang tinggi cenderung memiliki kesejahteraan yang lebih baik (Iskandar & Mastuti, 2. Sedangkan siswa dengan academic resilience yang tinggi juga lebih mampu menghadapi tekanan dan mempertahankan sikap positif terhadap pengalaman belajar mereka (Govorova et al. , 2. Academic resilience tidak hanya berkaitan dengan prestasi di sekolah, tetapi juga mencakup sifat-sifat seperti ketekunan, rasa percaya diri, dan partisipasi dalam proses belajar (Cui et al. , 2. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 74 - 81 Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 Cassidy . juga berpendapat bahwa academic resilience mencakup kemampuan siswa untuk menghadapi dan bangkit kembali dari berbagai tantangan dalam konteks pendidikan. Siswa dengan academic resilience yang tinggi mampu mencapai kesuksesan meskipun menghadapi situasi sulit (Oktavia et al. , 2. Di sisi lain, siswa dengan academic resilience yang rendah cenderung menyerah ketika menghadapi tantangan dan berisiko mengalami kegagalan (Sukma et al. , 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel yang diukur dalam bentuk angka dan dianalisis secara Penelitian ini melibatkan dua variabel bebas, yaitu family function dan academic resilience, serta satu variabel terikat yaitu student subjective well-being. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi di SMP Muhammadiyah 48 Cikupa Kabupaten Tangerang yang berjumlah 304 siswa. Berdasarkan tabel Krejcie dan Morgan, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 169 Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode probability sampling jenis simple random sampling, yaitu teknik yang memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel secara acak. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga jenis instrumen skala psikologi yang telah dimodifikasi sesuai konteks subjek penelitian. Skala student subjective well-being disusun dengan memodifikasi dari Student Subjective Well-Being Questionnaire (SSWQ) yang dikembangkan oleh Renshaw et al. dan terdiri dari empat aspek, yaitu school connectedness, joy of learning, educational purpose, dan academic Skala ini berjumlah 16 item dengan contoh item seperti AuSaya merasa nyaman berada di sekolah Ay dan memiliki nilai reliabilitas sebesar = > 0. Skala family function disusun dengan memodifikasi Family Functioning Questionnaire (FFQ) yang disusun oleh Roncone et al. , . yang mencakup tiga aspek yaitu problem solving, communication skills, dan personal goals. Contoh item dari skala ini adalah AuKeluarga saya bekerja sama untuk menyelesaikan masalah. Ay dengan total 24 item dan reliabilitas sebesar = 0. Skala academic resilience disusun dengan memodifikasi Academic Resilience Scale yang disusun oleh . Skala ini terdiri dari empat aspek, yaitu perseverance, negative affect and emotional response, self-reflection and adaptation dan adaptive help-seeking dengan jumlah 26 item dan contoh item seperti AuSaya akan belajar lebih giat. Ay Skala ini memiliki reliabilitas sebesar = > 0. Proses analisis data dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS versi 26. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahapan analisis data yang dilaksanakan adalah uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji Adapun uji tersebut akan diuraikan sebagai berikut. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Metode Nilai P Asympt Sumber : Hasil Penelitian Penulis Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa ketiganya terdistribusi normal. Hal ini terlihat pada uji normalitas yang menghasilkan nilai Sig. = 0. 200 (> 0. untuk variabel student subjective well-being, family function dan academic resilience. Tabel 2. Hasil Uji Linearitas Variabel Student Subjective Well-Being & Family Function Student Subjective Well-Being & Academic Resilience Sumber : Hasil Penelitian Penulis Nilai Sig. Ket Linear Linear Berdasarkan hasil uji linear menunjukkan bahwa variabel student subjective well-being dan variabel family function memiliki signifikansi deviasi sebesar 0. 501 (> 0. , dan variabel student subjective well-being dan variabel academic resilience memiliki signifikansi deviasi sebesar 0. 530 (> 0. Dengan demikian. Kontribusi Family Function Dan Academic Resilience Terhadap Student Subjective Well-Being Pada Siswa SMP (Ika Budi Nuran. Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 dapat disimpulkan bahwa garis antara variabel student subjective well-being dan variabel family function memiliki hubungan yang linear, begitu juga dengan variabel student subjective well-being dan variabel academic resilience memiliki hubungan yang linear. Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance Family Function Academic Resilience Sumber : Hasil Penelitian Penulis VIF Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diketahui nilai tolerance 0. 408 (> 0. dan nilai VIF 2. 449 (< yang artinya tidak terjadi multikolinearitas. Kemudian, uji hipotesis dilakukan untuk melihat perngaruh antar variabel dalam penelitian. Hasil uji parsial untuk pengaruh family function terhadap student subjective well-being dipaparkan sebagai berikut. Tabel 4. Hasil Uji Parsial Pengaruh Family Function Terhadap Student Subjective Well-Being Unstandardized Coefficients Constant Family Function > Student Subjective WellBeing Sumber : Hasil Penelitian Penulis Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. R square Berdasarkan tabel di atas, ditemukan nilai signifikansi 0. 000 (> 0. dan nilai t sebesar 11. 247 dengan garis regresi sebesar 0. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh family function terhadap student subjective well-being dan memiliki arah hubungan yang positif. Ditemukan juga koefisien determinasi yang memperlihatkan R Square sebesar 0. 431, artinya variabel ini memberikan sumbangan sebesar 43. 9% sisanya disebabkan oleh faktor lain. Tabel 5. Hasil Uji Parsial Pengaruh Academic Resilience Terhadap Student Subjective Well-Being Unstandardized Coefficients Constant Academic Resilience > Student Subjective WellBeing Sumber : Hasil Penelitian Penulis Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Berdasarkan tabel di atas, ditemukan nilai signifikansi 0. 000 (> 0. dan nilai t sebesar 12. 831 dengan garis regresi sebesar 0. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh academic resilience terhadap student subjective well-being dan memiliki arah hubungan yang positif. Ditemukan juga koefisien determinasi yang memperlihatkan R Square sebesar 0. 496, artinya variabel ini memberikan sumbangan sebesar 49. 4% sisanya disebabkan oleh faktor lain. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 74 - 81 Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 Tabel 6. Hasil Uji Simultan Family Function. Academic Resilience terhadap Student Subjective Well Being Sum of Model Squares Mean Sig. Square Family Function. Regression Academic Resilience Residual > Student Subjective Total Square Well-Being Sumber : Hasil Penelitian Penulis Berdasarkan tabel diatas, ditemukan nilai signifikansi 0. 000 (> 0. dan nilai F sebesar 93. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh family function dan academic resilience terhadap student subjective wellbeing. Ditemukan juga koefisien determinasi yang memperlihatkan R Square sebesar 0. 529, artinya variabel ini memberikan sumbangan sebesar 52. 9%, sementara 47. 1% sisanya disebabkan oleh faktor lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa family function memiliki pengaruh terhadap student subjective well Hal ini berarti, jika hubungan dalam keluarga berjalan baik seperti adanya komunikasi yang terbuka, dukungan emosional, dan kebersamaan antar anggota keluarga, siswa akan merasa lebih bahagia, tenang, dan semangat dalam belajar. Temuan ini sesuai dengan penelitian Bradshaw et al. yang menyebutkan bahwa keluarga yang hangat dan suportif dapat membantu siswa merasa lebih percaya diri dan tidak mudah stres di sekolah. Penelitian lain dari Djabumir . juga menjelaskan bahwa peran keluarga sangat penting dalam membantu siswa menghadapi tekanan sekolah dan masalah pribadi. Tapi berbeda dengan hasil penelitian Silalahi . menemukan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara family function dan student subjective well being. Hal ini bisa disebabkan oleh kondisi keluarga yang berbeda-beda, seperti komunikasi yang kurang lancar, orang tua yang sibuk, atau anak merasa tidak dekat dengan keluarganya. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa academic resilience berperan penting terhadap student subjective well-being. Siswa yang mampu tetap semangat walaupun menghadapi tugas yang sulit, nilai yang kurang memuaskan, atau tekanan belajar, cenderung merasa lebih tenang dan optimis. Hal ini didukung oleh penelitian Honra . dan Cassidy . yang menyatakan bahwa siswa dengan academic resilience yang tinggi tidak mudah menyerah dan bisa berpikir positif saat mengalami kegagalan. Namun hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Iskandar dan Mastuti . yang menyatakan bahwa academic resilience tidak terlalu berpengaruh terhadap student subjective well-being. Hal ini bisa jadi karena siswa belum punya strategi untuk mengatasi tekanan belajar, atau kurang mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya. Secara bersamaan family function dan academic resilience sama-sama berkontribusi dalam membentuk student subjective well-being. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih ada faktor lain sebesar 47,1% yang belum diteliti, yang mungkin juga ikut memengaruhi student subjective well-being. Faktor tersebut bisa berupa dukungan teman sebaya, hubungan dengan guru, lingkungan sekolah, atau bahkan kondisi psikologis siswa itu sendiri. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian family function dan academic resilience sama-sama berpengaruh terhadap student subjective well-being. Family function sebagai dukungan dari luar membuat siswa merasa aman dan didukung, sedangkan academic resilience sebagai kekuatan dari dalam diri membantu siswa tetap semangat meski menghadapi kesulitan belajar. Jika keduanya berjalan seimbang, siswa akan lebih mudah merasa bahagia dan nyaman di sekolah. Ucapan Terima Kasih Dengan penuh rasa syukur, peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama proses penyusunan penelitian ini. Secara khusus, peneliti menyampaikan apresiasi kepada siswa kelas Vi SMP Muhammadiyah 48 Cikupa yang telah bersedia menjadi responden. Kontribusi Family Function Dan Academic Resilience Terhadap Student Subjective Well-Being Pada Siswa SMP (Ika Budi Nuran. Ika Budi Nurani dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 74 Ae 81 Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat, terutama dalam pengembangan ilmu psikologi DAFTAR PUSTAKA