REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: Penerapan Moderasi Beragama Guna Meningkatkan Sikap Sosial-Religius Dan Toleransi Beragama Di Pantai Anyer Kabupaten Serang Provinsi Banten Ahmad Hujaeri1. Rumbang Sirojudin2. Rifyal Ahmad Lugowi3. Wasehudin4. Uyu Muawanah5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten Email 232621111ahmad@uinbanten. rumbangs@uinbantenac. lugowi@uinbanten. id wasehudin@uinbanten. id uyu. muawanah@uinbanten. ABSTRAK ARTICLE INFO Pantai Anyer, yang terletak di Kabupaten Serang. Provinsi Banten, merupakan destinasi wisata utama di Indonesia dengan keberagaman geografis dan sosial. Kawasan ini menjadi tempat interaksi lintas budaya dan agama, mengingat masyarakat lokal yang terdiri dari berbagai Kata Kunci: komunitas agama serta kehadiran wisatawan dari latar Terdiri dari 3-5 kata dan dipisahkan belakang budaya yang beragam. Kondisi ini menciptakan dengan semicolon (. dinamika sosial yang unik, namun juga memunculkan tantangan sosial-religius, seperti potensi gesekan akibat Keywords: perbedaan nilai-nilai budaya dan agama. Dalam konteks ini. Please provide 3-5 words and every keyword separated by semicolon (. penerapan moderasi beragama menjadi krusial untuk menjaga keharmonisan sosial dan mencegah konflik di Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sikap sosial-religius dan toleransi beragama masyarakat Pantai Anyer, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penerapan moderasi beragama, serta merumuskan strategi efektif untuk meningkatkan moderasi Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman masyarakat lokal, wisatawan, tokoh agama, dan pemerintah daerah dalam membangun harmoni sosial melalui dialog lintas agama, edukasi sosial-religius, serta kegiatan berbasis komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberagaman di Pantai Anyer menjadi aset sekaligus tantangan dalam menciptakan harmoni sosial. Faktor pendukung moderasi beragama meliputi peran tokoh agama, program pemerintah yang inklusif, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya Namun, tantangan utama adalah minimnya pemahaman masyarakat lokal tentang moderasi beragama, pengaruh tradisi lokal yang kadang bertentangan, dan kurangnya dialog lintas budaya. Untuk itu, strategi penerapan moderasi beragama mencakup penguatan peran pendidikan, peningkatan kapasitas dialog lintas agama, serta pelibatan aktif masyarakat dalam program toleransi berbasis komunitas. Penelitian ini memberikan manfaat akademis dengan memperkaya kajian moderasi beragama dalam konteks lokal, khususnya di kawasan wisata. Article history: Received Maret 02, 2025 Revised March 20 2025 Accepted March 30, 2023 Available online Juni 25, 2025 PENDAHULUAN Pancasila sebagai dasar negara Indonesia menegaskan pentingnya nilai toleransi dan persatuan di tengah keberagaman agama dan budaya. Sila pertama. AuKetuhanan Yang Maha Esa,Ay dan sila ketiga. AuPersatuan Indonesia,Ay menjadi landasan kuat dalam penerapan moderasi beragama sebagai upaya menjaga harmoni sosial. Prinsip ini didukung oleh Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: kepercayaannya itu. " Pasal ini menegaskan perlunya pendekatan moderasi untuk menjamin kebebasan beragama sekaligus menjaga ketertiban dan kerukunan sosial di masyarakat majemuk seperti Pantai Anyer. Dalam konteks pariwisata. Pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menekankan bahwa pengembangan pariwisata harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat, dan budaya yang hidup di masyarakat. Hal ini sangat relevan dengan upaya mendorong moderasi beragama di kawasan wisata Pantai Anyer yang memiliki masyarakat lokal beragam serta menjadi tempat interaksi lintas budaya dan agama. Moderasi beragama, sebagaimana didefinisikan dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 29 Tahun 2019, adalah upaya memperkuat nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan keberagaman di tengah Pendekatan ini memberikan kerangka kerja untuk pelaksanaan program-program sosial-religius yang mampu mencegah konflik sosial dan memperkuat harmoni. Moderasi beragama juga memiliki pijakan teoritis yang Azra . menjelaskan bahwa moderasi beragama mengedepankan keseimbangan . , toleransi . , dan penolakan terhadap keke Moderasi beragama adalah konsep yang menekankan pentingnya sikap tengah . dalam menjalankan kehidupan beragama. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan antara keberagaman dan persatuan melalui elemen-elemen utama, yaitu toleransi, penerimaan terhadap perbedaan, dan anti kekerasan (Azra, 2. Moderasi beragama bukan hanya sekadar pendekatan normatif, tetapi juga menjadi pijakan praktis dalam membangun masyarakat yang harmonis di tengah Dalam konteks masyarakat yang majemuk seperti di Pantai Anyer, penerapan moderasi beragama bertujuan untuk menciptakan ruang sosial yang saling menghormati di antara berbagai kelompok agama, budaya, dan tradisi. Sikap sosial-religius merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencakup perilaku individu dalam mempraktikkan nilai-nilai agama yang berdampak positif pada kehidupan sosial, seperti toleransi, solidaritas, dan empati terhadap sesama (Rawls, 1. Dalam masyarakat majemuk, toleransi beragama memegang peran sentral dalam menjaga harmoni sosial. Toleransi menjadi dasar bagi interaksi lintas agama dan budaya, memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa konflik meskipun memiliki perbedaan pandangan dan Dalam Al-Quran pun banyak yang menjelaskan tentang konsep sikap toleransi, nilai-nilai toleransi dalam Al-Quran terbagi dua, pertama toleransi sesama muslim, hal tersebut merupakan suatu keniscayaan dan kewajiban wujud persaudaraan yang terikat oleh aqidah yang sama, kedua, tolernasi kepada non muslim juga diperintahkan, karena islam mengajarkan perdamaian baik sesame muslim dan non muslim. Konsep kerjasama dan toleransi hanya dalam kepentingan duniawi saja, tidak menyangkut kepentingan agama, seperti aqidah. REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: Sebagaimana dijelaskan dalam Al-QurAoan : acEEA ca AOU OCa E Ea AaO ua acI eEI aE eI aIe A Aac uaacI E eCI aE eI I eI E s OaIeO O EeI aE eI aa A a AaO Oac N EIA a ca Ae C aEI ua acIA UAacEE E UOI aOA Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat: . Toleransi sesama muslim merupakan kewajiban wujud persaudaraan yang terikat oleh tali aqidah yang sama, sebagaimana di jelaskan dalam Al-Quryn Surat Al-Hujurat ayat 10. a AuaacI EeIaIIaO I uaOU AA AacEE E Eac aE eI a e aaOIA ca A OOe aE eI Oac aCOA ea AAE aO e A e AeA AeO A Artinya :Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah . erbaikilah hubunga. antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat: . Toleransi kepada sesama muslim dengan mendahulukan saudaranya atas dirinya sendiri. AA aaO aN uI a aU aI acIe aOaO OOa eaaO IA a AeEO a aIIa aII Ca u aE aN uI Oaa acOIa aI uI Na a a auEa uO aN uI aOaE Oa aaOIa AaOA a AaOEacaOIa aa acO aO EA a Aac aO uA aa AOC a ac I eA a aNA AAU o OII Oa A AE eO I aA aN eI OE eO E I a eI A AA A e AE aN aI Ee aI eAEa aO IA aOEa A Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansho. mereka (Muhajiri. , mereka (Ansho. 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajiri. Dan mereka (Ansho. tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajiri. dan mereka mengutamakan . rang-orang Muhajiri. , atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. ( QS. Al-Hasyr :. Di Pantai Anyer, konteks sosial-religius masyarakat dipengaruhi oleh keunikan budaya, agama, dan tradisi lokal. Sebagai kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang, interaksi lintas budaya dan agama menjadi hal yang tak terelakkan. Wisatawan membawa nilai-nilai dan tradisi mereka sendiri, yang sering kali berinteraksi dengan tradisi masyarakat lokal. Kondisi ini menciptakan peluang besar untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, tetapi REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: juga menghadirkan tantangan jika tidak dikelola dengan prinsip moderasi (Widyastuti, 2. Selain itu, pariwisata dapat memperkaya keragaman interaksi sosial, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan gesekan budaya jika terjadi Kerangka teori yang mendasari penerapan moderasi beragama di Pantai Anyer mencakup beberapa perspektif penting. Teori Interaksi Sosial oleh Mead . menekankan bahwa interaksi adalah kunci dalam membangun relasi sosial yang harmonis. Dialog dan saling pengertian menjadi dasar utama dalam mengelola keberagaman. Sementara itu, teori Toleransi Sosial dari Rawls . menekankan pentingnya menciptakan masyarakat yang adil dan toleran di mana setiap individu memiliki kebebasan menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi. Perspektif Islam Wasathiyah, yang menekankan prinsip keseimbangan, penerimaan terhadap keberagaman, dan anti kekerasan, relevan sebagai pijakan dalam menjaga harmoni sosial di kawasan seperti Pantai Anyer. Dengan menggabungkan elemen-elemen teoritis ini, pendekatan moderasi beragama dapat diterapkan secara efektif untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah Moderasi beragama adalah konsep yang menekankan pentingnya sikap tengah . dalam menjalankan kehidupan beragama. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan antara keberagaman dan persatuan melalui elemen-elemen utama, yaitu toleransi, penerimaan terhadap perbedaan, dan anti kekerasan (Azra, 2. Moderasi beragama bukan hanya sekadar pendekatan normatif, tetapi juga menjadi pijakan praktis dalam membangun masyarakat yang harmonis di tengah Dalam konteks masyarakat yang majemuk seperti di Pantai Anyer, penerapan moderasi beragama bertujuan untuk menciptakan ruang sosial yang saling menghormati di antara berbagai kelompok agama, budaya, dan tradisi. Sikap sosial-religius merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencakup perilaku individu dalam mempraktikkan nilai-nilai agama yang berdampak positif pada kehidupan sosial, seperti toleransi, solidaritas, dan empati terhadap sesama (Rawls, 1. Dalam masyarakat majemuk, toleransi beragama memegang peran sentral dalam menjaga harmoni sosial. Toleransi menjadi dasar bagi interaksi lintas agama dan budaya, memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa konflik meskipun memiliki perbedaan pandangan dan Di Pantai Anyer, konteks sosial-religius masyarakat dipengaruhi oleh keunikan budaya, agama, dan tradisi lokal. Sebagai kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang, interaksi lintas budaya dan agama menjadi hal yang tak terelakkan. Wisatawan membawa nilai-nilai dan tradisi mereka sendiri, yang sering kali berinteraksi dengan tradisi masyarakat lokal. Kondisi ini menciptakan peluang besar untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, tetapi juga menghadirkan tantangan jika tidak dikelola dengan prinsip moderasi (Widyastuti, 2. Selain itu, pariwisata dapat memperkaya keragaman interaksi sosial, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan gesekan budaya jika terjadi REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: Kerangka teori yang mendasari penerapan moderasi beragama di Pantai Anyer mencakup beberapa perspektif penting. Teori Interaksi Sosial oleh Mead . menekankan bahwa interaksi adalah kunci dalam membangun relasi sosial yang Dialog dan saling pengertian menjadi dasar utama dalam mengelola Sementara itu, teori Toleransi Sosial dari Rawls . menekankan pentingnya menciptakan masyarakat yang adil dan toleran di mana setiap individu memiliki kebebasan menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi. Perspektif Islam Wasathiyah, yang menekankan prinsip keseimbangan, penerimaan terhadap keberagaman, dan anti kekerasan, relevan sebagai pijakan dalam menjaga harmoni sosial di kawasan seperti Pantai Anyer. Dengan menggabungkan elemen-elemen teoritis ini, pendekatan moderasi beragama dapat diterapkan secara efektif untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. Pendekatan ini menjadi landasan penting dalam membangun harmoni di tengah masyarakat majemuk, khususnya di kawasan wisata yang rentan konflik akibat interaksi lintas agama dan budaya. George Herbert Mead dalam teori interaksi sosialnya juga menekankan pentingnya keterbukaan, dialog, dan pemahaman untuk membangun relasi sosial yang harmonis. Sementara itu. Rawls . dalam teori toleransi sosialnya menekankan bahwa masyarakat yang adil dan toleran harus menjadikan keberagaman sebagai aset dan dasar pengambilan keputusan publik. Keberagaman agama dan budaya, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan sosial untuk memperkaya nilai-nilai kemanusiaan. Widyastuti . menyebutkan bahwa keberagaman di kawasan wisata seperti Pantai Anyer bukan hanya menjadi daya tarik tetapi juga menghadirkan tantangan dalam menjaga harmoni sosial. Dengan pendekatan moderasi beragama yang melibatkan semua pihak, termasuk tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah, potensi konflik dapat diminimalkan dan keharmonisan sosial dapat terwujud. Pantai Marbella Anyer, yang terletak di Kabupaten Serang. Provinsi Banten, merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis pariwisata, kawasan ini juga menjadi tempat interaksi sosial yang dinamis dan Hal ini terjadi karena keberagaman latar belakang budaya, agama, dan tradisi antara masyarakat lokal dan wisatawan. Secara sosial, masyarakat Pantai Anyer terdiri dari komunitas beragama yang beragam, di mana mayoritas beragama Islam, namun terdapat pula penganut agama Kristen. Hindu, dan Buddha. Keberagaman ini menciptakan potensi positif untuk saling belajar dan memperkuat solidaritas, tetapi juga memiliki risiko menimbulkan gesekan sosial jika tidak dikelola dengan baik. Sebagaimana dijelaskan oleh Widyastuti . , kawasan wisata seperti Pantai Anyer sering menghadapi tantangan dalam menjaga keharmonisan sosial akibat tingginya interaksi lintas agama dan budaya. Sebagai kawasan wisata yang menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat. Pantai Anyer tidak terhindar dari potensi konflik sosial. Wisatawan yang datang dengan membawa budaya, tradisi, dan nilai-nilai keagamaan masingmasing kadang berbenturan dengan kebiasaan masyarakat lokal. Dalam beberapa REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: kasus, perbedaan cara pandang terhadap nilai-nilai agama dan budaya menyebabkan gesekan sosial. Penelitian Haryanto . mengungkapkan bahwa kawasan wisata sering kali menjadi lokasi yang rawan konflik sosial ketika perbedaan agama dan budaya tidak dikelola secara bijak. Situasi ini diperparah oleh minimnya pemahaman masyarakat lokal mengenai pentingnya toleransi dan moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tradisi lokal yang kuat, seperti upacara adat, terkadang bertentangan dengan keyakinan kelompok agama tertentu sehingga memerlukan dialog aktif untuk menjembatani perbedaan tersebut. Dalam konteks ini, penerapan moderasi beragama menjadi pendekatan yang relevan dan Moderasi beragama, yang sering disebut sebagai prinsip wasathiyah dalam Islam, menekankan sikap toleran, penerimaan terhadap keberagaman, dan penolakan terhadap ekstremisme. Azra . menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat majemuk. Di kawasan Pantai Anyer, moderasi beragama dapat diterapkan melalui berbagai langkah strategis, seperti dialog lintas agama, edukasi sosial-religius, serta kegiatan berbasis komunitas yang melibatkan berbagai kelompok agama. Tujuan utama dari penerapan ini adalah menciptakan kesadaran kolektif bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan aset yang harus dirawat untuk memperkuat kohesi sosial. Dengan pendekatan yang inklusif, masyarakat lokal dan wisatawan di Pantai Anyer dapat mencegah potensi konflik dan menghadapi tantangan globalisasi serta modernisasi secara harmonis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan dan analisis deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam dinamika sosial-religius di Pantai Anyer. Kabupaten Serang. Banten. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu mengeksplorasi secara holistik fenomena sosial yang kompleks, termasuk interaksi lintas agama dan budaya dalam masyarakat lokal maupun dengan wisatawan. Lokasi penelitian difokuskan di Pantai Anyer sebagai salah satu destinasi wisata utama yang memiliki keragaman budaya, agama, dan Subjek penelitian mencakup masyarakat lokal, tokoh agama, wisatawan, dan pemerintah daerah, yang semuanya memiliki peran penting dalam membangun harmoni sosial melalui penerapan moderasi beragama. Data penelitian dikumpulkan melalui tiga teknik utama. Pertama, observasi langsung terhadap interaksi sosial masyarakat di lingkungan wisata untuk memahami pola hubungan lintas budaya dan agama. Kedua, wawancara mendalam dilakukan dengan tokoh agama, masyarakat lokal, dan pengelola wisata untuk mendapatkan perspektif mereka mengenai toleransi dan penerapan moderasi Ketiga, dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder terkait kebijakan pemerintah yang mendukung moderasi beragama, termasuk program-program lintas agama yang sudah dilaksanakan di wilayah tersebut. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola utama dan tema-tema yang relevan dengan penerapan REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: moderasi beragama. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk menemukan hubungan antara faktor-faktor sosial, budaya, dan agama yang memengaruhi harmoni sosial di Pantai Anyer. Dengan analisis ini, penelitian dapat memberikan gambaran mendalam mengenai tantangan dan peluang penerapan moderasi beragama serta merumuskan strategi yang relevan untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan toleran. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi toleransi dan sikap sosial-religius masyarakat Pantai Anyer mencerminkan tingkat pemahaman yang beragam mengenai moderasi beragama. Sebagian masyarakat menunjukkan kesadaran yang baik terhadap pentingnya sikap moderat dalam menjalankan kehidupan beragama, namun masih banyak yang belum memahami konsep ini secara menyeluruh. Pola interaksi sosial di Pantai Anyer, yang melibatkan masyarakat lokal dan wisatawan dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda, umumnya berlangsung harmonis. Hal ini terjadi karena adanya keterlibatan bersama dalam aktivitas ekonomi dan sosial. Kendati demikian, gesekan sosial tetap dapat muncul, terutama jika perbedaan pandangan dan keyakinan tidak dikelola secara bijak. Untuk itu, pendekatan moderasi beragama menjadi sangat penting untuk memastikan terwujudnya harmoni sosial di kawasan wisata ini (Widyastuti, 2. Penerapan moderasi beragama di Pantai Anyer dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung mencakup keberadaan tokoh agama yang moderat, yang memainkan peran penting sebagai mediator dalam membangun dialog antaragama. Kesadaran akan nilai kebangsaan yang menekankan persatuan di tengah keberagaman juga menjadi landasan kuat untuk menerapkan prinsip moderasi. Selain itu, pemerintah daerah memiliki kontribusi penting dalam mempromosikan program berbasis toleransi yang melibatkan berbagai pihak. Namun, terdapat pula sejumlah hambatan yang perlu diatasi. Fanatisme agama yang masih ada di beberapa komunitas menjadi tantangan utama, disertai minimnya program lintas agama yang mampu melibatkan masyarakat secara aktif. Pengaruh tradisi lokal yang kadang bertentangan dengan prinsip moderasi juga menjadi hambatan signifikan dalam mewujudkan harmoni sosial (Azra, 2. Pariwisata di Pantai Anyer memberikan dampak yang signifikan terhadap moderasi beragama, baik secara positif maupun negatif. Interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal sering kali menjadi media pembelajaran yang positif dalam memahami keberagaman. Wisatawan membawa nilai-nilai baru yang dapat memperluas wawasan masyarakat lokal, sementara masyarakat lokal menyajikan kekayaan budaya dan tradisi yang autentik kepada para wisatawan. Namun, pariwisata juga memiliki potensi menciptakan gesekan budaya dan keyakinan, terutama jika perbedaan nilai tidak disertai sikap saling menghormati. Oleh karena itu, penerapan moderasi beragama sangat diperlukan untuk mengelola interaksi ini REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: secara konstruktif, sehingga konflik dapat dicegah dan harmoni sosial dapat terjaga (Haryanto, 2. Untuk memperkuat moderasi beragama di Pantai Anyer, diperlukan strategi yang menyeluruh dan efektif. Salah satu langkah utama adalah menyelenggarakan edukasi lintas agama melalui kegiatan masyarakat, seperti dialog antaragama, pelatihan budaya, dan seminar tentang pentingnya moderasi beragama. Selain itu, tokoh agama dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menyosialisasikan nilai-nilai moderasi kepada masyarakat. Strategi lain yang tidak kalah penting adalah pemberdayaan masyarakat lokal melalui kegiatan berbasis komunitas yang bertujuan menciptakan suasana sosial yang toleran dan inklusif. Dengan pendekatan yang holistik ini, moderasi beragama diharapkan dapat menjadi landasan bagi masyarakat Pantai Anyer untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai, serta menjadikan keberagaman sebagai aset sosial yang berharga (Rawls, 1. Moderasi beragama adalah konsep yang menekankan pentingnya sikap tengah . dalam menjalankan kehidupan beragama. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan antara keberagaman dan persatuan melalui elemen-elemen utama, yaitu toleransi, penerimaan terhadap perbedaan, dan anti kekerasan (Azra, 2. Moderasi beragama bukan hanya sekadar pendekatan normatif, tetapi juga menjadi pijakan praktis dalam membangun masyarakat yang harmonis di tengah Dalam konteks masyarakat yang majemuk seperti di Pantai Anyer, penerapan moderasi beragama bertujuan untuk menciptakan ruang sosial yang saling menghormati di antara berbagai kelompok agama, budaya, dan tradisi. Sikap sosial-religius merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencakup perilaku individu dalam mempraktikkan nilai-nilai agama yang berdampak positif pada kehidupan sosial, seperti toleransi, solidaritas, dan empati terhadap sesama (Rawls, 1. Dalam masyarakat majemuk, toleransi beragama memegang peran sentral dalam menjaga harmoni sosial. Toleransi menjadi dasar bagi interaksi lintas agama dan budaya, memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa konflik meskipun memiliki perbedaan pandangan dan Di Pantai Anyer, konteks sosial-religius masyarakat dipengaruhi oleh keunikan budaya, agama, dan tradisi lokal. Sebagai kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang, interaksi lintas budaya dan agama menjadi hal yang tak terelakkan. Wisatawan membawa nilai-nilai dan tradisi mereka sendiri, yang sering kali berinteraksi dengan tradisi masyarakat lokal. Kondisi ini menciptakan peluang besar untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, tetapi juga menghadirkan tantangan jika tidak dikelola dengan prinsip moderasi (Widyastuti, 2. Selain itu, pariwisata dapat memperkaya keragaman interaksi sosial, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan gesekan budaya jika terjadi Kerangka teori yang mendasari penerapan moderasi beragama di Pantai Anyer mencakup beberapa perspektif penting. Teori Interaksi Sosial oleh Mead . REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: menekankan bahwa interaksi adalah kunci dalam membangun relasi sosial yang Dialog dan saling pengertian menjadi dasar utama dalam mengelola Sementara itu, teori Toleransi Sosial dari Rawls . menekankan pentingnya menciptakan masyarakat yang adil dan toleran di mana setiap individu memiliki kebebasan menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi. Perspektif Islam Wasathiyah, yang menekankan prinsip keseimbangan, penerimaan terhadap keberagaman, dan anti kekerasan, relevan sebagai pijakan dalam menjaga harmoni sosial di kawasan seperti Pantai Anyer. Dengan menggabungkan elemen-elemen teoritis ini, pendekatan moderasi beragama dapat diterapkan secara efektif untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. SIMPULAN DAN SARAN Moderasi beragama merupakan elemen kunci dalam upaya meningkatkan sikap sosial-religius dan toleransi masyarakat di Pantai Anyer. Kabupaten Serang. Sebagai kawasan yang kaya akan keberagaman budaya, agama, dan tradisi, moderasi beragama tidak hanya relevan tetapi juga mendesak untuk diterapkan guna mencegah potensi konflik dan memperkuat harmoni sosial. Penerapan moderasi beragama memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai dengan mengedepankan sikap toleran, saling menghormati, dan menolak Keberhasilan upaya ini memerlukan kolaborasi yang erat antara berbagai aktor, yaitu pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat lokal, untuk menciptakan suasana sosial yang inklusif dan toleran (Azra, 2. REKOMENDASI Rekomendasi pertama adalah peran pemerintah dalam menyelenggarakan program dialog lintas agama secara berkala. Program ini dapat menjadi wadah untuk membangun pemahaman bersama antara kelompok-kelompok agama dan budaya yang berbeda, sekaligus menciptakan ruang diskusi yang konstruktif untuk menyelesaikan potensi gesekan. Melalui pendekatan ini, pemerintah dapat menjadi fasilitator utama dalam mempromosikan nilai-nilai kebangsaan yang menekankan persatuan di tengah keberagaman. Kedua, tokoh agama memiliki peran penting dalam mempromosikan moderasi Konsep rahmatan lil 'alamin, yang menekankan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, harus menjadi pijakan utama dalam membangun harmoni sosial. Tokoh agama dapat menjadi penghubung yang efektif dalam menciptakan dialog antaragama, menyebarkan nilai-nilai toleransi, dan memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari (Azra, 2. Ketiga, lembaga pendidikan perlu mengambil peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama melalui kurikulum. Dengan memasukkan materi tentang moderasi beragama ke dalam pelajaran formal. REFORM : Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Budaya Volume 08. Number 02, 2025 pp. P-ISSN: 2580-0310 | E-ISSN: 2807-3355 Open Access: lembaga pendidikan dapat membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya sikap toleran dan menghargai perbedaan. Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai moderasi beragama akan menciptakan fondasi yang kuat bagi terbentuknya masyarakat yang inklusif dan damai di masa depan (Rawls, 1. Dengan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan lembaga pendidikan, moderasi beragama dapat diterapkan secara efektif di Pantai Anyer. Kolaborasi ini tidak hanya akan meningkatkan sikap sosial-religius dan toleransi masyarakat, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman. Hal ini menjadikan moderasi beragama sebagai fondasi yang kokoh dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan berkeadilan. DAFTAR PUSTAKA