THARIqAT DI INDONESIA Oleh : Drs. Soekarno PENDAHULUAN Kodrat alam rnanusia merniliki kecenderungan mencari dan mengenal, mendekatkan dan melindungkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan berbagai cara dan bentuknya. Kecen. derungan-kecenderungan tersebut tidak tumbuh dengan serempak, tetapi melalui proses yang cukup lama. Kemudian menumbuhkan dan membangkitkan perasaan cinta dan rindu yang menggClora. Cinta dan rindu yang mempunyai makna lain dengan cinta dan rindunya kepada sesama manusia. Dalam pada itu Tuhanpun mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk memperkenalkan DIRINYA kepada hamba-hamba-Nya, dengan disertai pernyataan Firman : "Allah akan mendatangkan suatu bangsa yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nyu". 5 z 54. "Jika kalian cinta kepada Allab, maka ikutilah aku dan Allah akan mencintai kalian", 3 : 31. "Hamba-ku senantiasa mendckatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta padanya. Orang yang Ku-cintai menjadi tclinga, mata dan tangan-Ku. (Hadit. n tctapi rupanya rnanusia, suka berlebih-lebihan dan serba tidak puas dengan apa yang telah ada. Sehingga dalam usahanya melampiaskan' cinta dan rindunya kepada Tuhanpun, kadangkadang mencari jalan Iain yang menurut anggapan dan perasaannya akan rnembawa kepada kesempurnaan dan kepuasan jiwanya, mereka sering menempuh jalan yang berbahaya yang membawa kepada kescsatan menyimpang dari peiunjuk yang dikchendaki Tuhan sendiri. Demikianlah ummat Islam dari kurun ke-kurun, selain ada yang berusaha mengembangkan Syari'at Islam yang sejalandengan al-Qur'an dan Sunnah Rasul, ada pula yang berusaha memperturutkan kehendak hatinya mencari jalan sendiri dengan maksud untuk mencapai kesucian rohaninya yang akan membawannya kepada usaha mendekatkan diri . kepada Allah. Adapun cara yang mereka tempuh ada yang berpegang teguh pada alQurnan dan Sunnah, hidup zuhud . ada pula yang sengaja menjauhkan diri dari keramaian, hidup menyendiri dan ada pula yang melakukan thariqat tasawuf. Karena itu masalah thariqat dan tasawuf merupakan masalah yang hidup dalam kalangan ummat Islam, hal mana menyangkut soal kerohanian, keyahinan, pandangan dan cita-cita hidup, emosi dan sentimen lebih menonjol dari rasionya. Dalam bidang filsafat, sering menonjolkan rasio akan tetapi emosi dan sentimennya akan terasa muncul tatkala menghadapi . Dr. Harun Nasution. Fikdat dan Misticisnzedalam Islam. Cetakan Pertama,Bulan Bintang,Jakarta lg73( 6 . Sikap para ahli thariqat demikian itu bila Firman Allah. dihadapkan pada "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian", 5: 3. "Telah kutinggalkan bagimu dua hal, kalian tidak akan sesat selama bcrpegang kepadanya, al-Quroan dan Sunnah RasulNyu". Akan menimbulkan pertanyaan, apakah thariqat itu tidak merupakan suatu amalan yang diada-adakan, sebagai hasil dari pada pengolahan pengalaman batin seseorang? Apakah cara demikian itu bukan suatu sikap yang mendahului kehcndak Allah ? Atau sikap tidak puas atau tidak percaya Lepada Allah dcngan agama-Nya itu hingga dirasakan perlu mengadakan tambahan dan cara dalam beribadat kepada*Nya ? Afifi mengatakan: semenjak mula - mula, adalah pcmbcrontak spirituil terhadap keserbanekaan bentuk-bentuk dan sistim-sistimr baik yang bersifat sosial maupun bersifat agama. Setclah mengalami masa yang lama dalam perjuangan yang payah, akhirnya rikap mistik itu berdirilah dalam dua cara yang sangat berbeda : sebagai filsafat agama dan sebagai agama Islam yang Selama masa-masa kejayaannya,jumlah orang-orang sufi diseluruh kemaharajaan Islam jutaan banyaknya, dan dibeberapa negara pengaruhnya demikian besarnya, sehingga pemimpin-pemimpin thariqat itu praktis menjadi penguasa negeri, dengan mempunyai kekuaraan tertinggi dalam memutus segala masalah, baik yang bersifat agama maupun yang bersifat duniawi. Pengaruh yang scperti itu bahkan masih terdapat sekarang di beberapa negara Islam". Apakah sifat demikian ini berlaku pula bagi thariqat-tbariqat yang ada di Indonesia? Ini perlu penelitian yang cukup seksama. Semula Islam yang datang ke Indonesia sudah bercorak mistik/tarekat, yang menguntungkan dalam usaha penyebaran agama Islam, karena bertepatan dengan keadaan dan kepercayaan bangsa Indonesia sendiri yang pada saat itu memeluk agama yang sejalan dengan pola pikiran yang dibawa tasawuf dan tarekat. Akan tetapi rupanya tarekat itu kemudian hari tidak dapat rnempertahankan identitas ke-Islamannya, bahkan hanyut terseret dibawa arus kcpercayaan bangsa Indonesia yang telah berugat berakar dan telah tertanam dalam adat istiadat serta telah membudaya dalam maryarakatnya. $ehingga pada saat-saat ini terasa adanya ketegangan dalam sikap kerohanian sebagai akibat dari pergumulan antara kepercayaanasli dan agama yang baru dianggap aring. Afifi, "Penafsiran Islam secara Rasionil dan Mistik", fshm. Jalan Mutlalr. Jilid I. Penyelenggara Penerbitan Keneth W. Morgan. Pembangunan Jakarta 1963. PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA. Sebelum Islam datang ke Indonesia, kebudayaan kepulauan itu telah berabad-abad lamanya dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Budha. SekarangIndonesia merupakan salah satu dari negara-negarayang memiliki penduduk Islam Muslimin yang terbesar didunia, lebih dari tujuh puluh juta Muslimin. Tasawuf merupakan salah ratu saluran Islamisasi yang penting di Indonesia. Kedatangan ahli-ahli tasawuf ke Indoncsia di pbrkirakan terutama rejak abad ke-13 yaitu masa perkembangan dan perscbaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India. Meskipun demikian di Indonesia perkembangan ahli-ahli tasawuf dengan ajarannya tampak dengan nyata sekitar abad ke-16 dan 17, tcrutama di Surnatera dan Jawa. Pada abad-abad itu di Aceh hiduplah beberapa ahli tasawuf seperti Hamzah Fansuri. Syamsuddin as-Sumatrani. Ar-Raniri. Abdurrauf dari Singkel. Di Jawa pada abad ke-16 di kenal Wali Sanga yang j,rgu diantaranya mengajarkan tasawuf sepcrti Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang. Sunan Bonang,Sunan Panggung dan lain-lainnya. Paham Sufi atau mistik, terutama kesufian serba tuhan telah turnbuh dengan subur dalam kehidupankerohanian orang Indonesia scjak awal-mulanya, karena alam pikiran Indonesia dan pcngaruh zaman Hindu dan Budha yang berabad-abad. Tambahan pula Islam dimasukkan ke ludoneEiaoleh orang India. Ajaran- ajaran Sufi yang sama dengan iktikad Sufi yang dibicarakan diatas itu pernah diajarkan di Sumatera Utara dalam abad kesepuluh dan belahan pertama abad kesebclas. bad kecnambelasdan tujuh bclas \{. ) oleh Hamzah Fansuri dan Syamluddin Al-sumatrani . afat 1630 M. ), pengikut Sufi aliran serba tuhan yang terkenal Ibn Arabi. Hamzah, yang jadi anggota tarikat Qadariah meskipun ia dengan tegas menganggapdirinya seorang pengikut lbn Arabi, telah banyak mengembaradi Jawa dan Sumatera sambil memberikan penjelasanmengenai pandangan mirtiknya dengan mempergunakan sajak yang simbolik dan bersifat rahasia. Syamsuddinmenikmati perlindungan dan sokonganraja Aceh yang terbcsar sepanjang Segera sesudah z^man Syamsuddinitu seorang ulama dari Gujarat. India, bernama Nuruddin al-Raniri dapat membujuk raja . Hoesein Djajadiningrat, "fslam di Indonesia". Islam Jalan Mutlak. Jilid II. Penyelenggara Penerbitan Kenneth W. Morgan. PT. Pembangunan. Jakarta 1963, 119. Sartono Kartodirdjo, dkk. Sejaralr Nasional Indorusia. Jilid i. Edisi ke 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka Jakarta 1977, 136, . Sartono Kartodirdjo, dkk. , op. , 137: lihat. Harry J- Benda, "Kontinuitas dan Perobahan dalam lslam di Indonesia". Istam di Indonesia. SepintasLalu TentangBeberapa. legl,Bditor Taufik Abduliah. Tintamas Indonesia Jqkarta 1974,41 dan Dr. Harun Hediwijono. KebatinanIslam obad XVI. BPK. Gunung Mulia Jakarta, 14. yang berikutnya untuh rnenggugat dan menuntut guru-guru mistik yang menyirnpang itu. Lain dari pada itu kaum Sufi itu ada puia ahli tasawuf lainnya yang besar pengaruhnya di Indonesia . beberapa diantaranya pernah menuntut ilmu di Arabia. Ajaran tasawwuf herhubungan erat dengan tarikat, yaitu jalarr yang ditempuh oleh kaum Sufi dalam mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Di Indonesia tarikat-tarikat yang mcmpunyai pcngaruh yalah tarikat Qadariah. Naqsyibandiah. Sammaniah. Qusyaisyiah. Syattariah. Syaziliah. Khahvatiah dan Tijaniah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, tarikat Qadariah tidak mendapat pengaruh yang banyik, akan tetapi pendiri tarikat itu sendiri tentunya telah mendapat kehormatan yang sangat tinggi sebab ternyata dari kalimat-kalirnat pembukaan naskah-naskah pengakuan pemangku-pemangku jabatan turun-temurun yang terpenting dan gelar-gelar kebangsawanan jika dipohonkan berkat-berkat Ailah. Rasulullah saw. dan para wali, maka disebutkan dengan sengaja nama Qadir Jailani yang mendirikan tarikat Qadariah itu. Hamzah Fansuri dan pembesar-pembesar Aceh mendapat pengaruh tarikat Qpdariah. Di Banren Sultan Abdulkadir mungkin rtendapat pengaruh pula. Tarikat Rifa'i terkenal dcngan amalannya yang bcrupa penyiksaan diri berhubung dcngan kcgiatan yang mereka lakukan. Dalam bahasa Indonesia mereka dapat julukan tukang "dabus", sebab anggauta-anggauta tarikat tersebut setelah sampai pada puncak kegairahannya dengan jalan zikir dan membuat berbagai gerakan badan dibawah pimpinan syaikhnya atau gurunya, mencoba menikam dirinya di duda atau di bahunya dcngan debus, sebilah belati besi. Tarikat Sammaniah dapat dibedakan dari aliran lainnya karena dikirnya diserukan dengan suara nyaring oleh para peserta dalam pertemuan mereka. Riwayat hidup pcndiri tarikat Sammaniah, yalah Syaikh Muhammad Samman, sangat terkenal di Jakarta. Tariket Syattariah yang dianggap sebagai tarikat yang paling mulamula sekali masuk pulau Jawa percaya akan ajaran kejawen mengenai tujuh tingkat keadaan Allah, yakni ilmu mengenai hakikat. Diantara ahli-ahli tasawwuf yang mengenalkan tarikat Syrttariah di Indonesia ialah Abd al-Ruuf dari Singkel dan Shaikh Yusup dari Banten. Kedua nama ini sering digebut-sebut oleh Ibrahim al-Kurani, murid Ahmad Qushashi, pendiri tarikat Syattariah itu. Sheikh Yusuf seorang keramat berasal dari SulawesiSelatan pernah menjadi penasehat agama Sultan Agung Tirtayasa di Banten. Hoesein Djajadiningtat, op. , 135. Ibid. ,lihat pula Sartono Kartodirdjo, op. , 145. Ibid. , lihat pula lbid. Lihat, lartono Kartodirdjo dkk, ibid, 146 . dan R. Hocsein Djajadiningrat, ibid, 136. 'Iarikat Naqsyibandiah yang masuk ke dacrah Minangkabau dari Mekkah menaikkan derajat ortodoks. Dalam beberapa tahun matanglah untuk pertentangan antara kolompok Naqsyibandiah dengan Syattariah, rnengenai hai-hal upacara bahasa Arab, penempatan qiblat, tentang permulaan dan akhir Ramadlan. Menarik perhatian kita bahwa dalam tradisi dikatakan Shaikh Abdul Muhyi dari Saparua. Pamijahan di dlerah Tasikmalaya juga melakukan dikir Syattariah. Abdul Muhyi ini di daerah Priangan terkenal sebagai pelopor yang menyebarkan dan mendalamkan ajaran Islam. Menurut Harry J. Benda, "Sekalipun lebih dari 90o/o penduduk Indonesia menurut statistik penganut Islam, pengaruh Islam berlain-lainan sekali. Boleh dikatakan bahwa agama Islam ortodoks masih memiliki sifat asingnya dibagian-bagian tertentu wilayah Indonesia. Proses perubahan kebudayaan tak akan bica terjadi jika tak ada titik'titik hubungan tertentu. Seandainya Islam berasal langsung dari Timur Tengah . ebagaimanapernah dikira oleh ahliahli scjarah terdahul. dengan menerapkan kepercayaan monotheis serta menyapu segala sesuatu yang ada sebelumnya, mungkin sekali ia tak akan menemukan tempat untuk memasuki pulau-pulau Indonesia berabad-abad tebelum peng Islaman besar-besaran dimulai. Kaum Muslimin asing telah lama hidup di bandar-bandar dan kerajaan-kerajaan Islam pertama terdapat di Sumatra lJtara, sudah semenjak abad ke-13, kalau tak lebih dahulu dari pada itu. Akan tetapi baru pada abad ke-15 dan ke 16 agama Islam menjadi kekuatan bebudayaan dan agama utama di kepulauan Nusantara. Mungkin sekali perubahan agak mendadak ini disebabkan meluasnya ajaran sufi yang bertindak sebagai pendorong gerak maju kepercayaan ini di benua Asia, sampai Tiongkok. Tambahan lagi, mistik Islam ini dipancarkan ke Indonesia bukan oleh bangra Arab, melainkan oleh bangsa India yang beragama Islam. Melalui pemantulan dua kali ini agama Islam rupanya mendapatkan berbagai titik pertemuan dengan Indonesia, khususuya dengan pulau Jawa yang dipengaruhi oleh India. Selanjutnya Benda mengatakan. "Akan tetapi pada titik ini ketidak seimbangan antara pulau-pulau kembali memainkan peranan urama di bagian-bagian Indonesia dimana pengaruh trndia tidak . tau tidak lag. berar -yaitu boleh dikatakan seluruh wilayah diluar Mataram yang sebenarnya- agama Islam merasuk secara agak mendalam, dan agak cepat. Di Mataram sendiri agama Islam keaclaannya jauh lebih ruwet dan hingga sekarang sebagian dari padanya belum terang. Johnr mengatakan . "Kenyataan bahwa Indoncsia pada waktu itu terdapat tarikat-tarikat, telah sering dikemukakan. Se,panjang pengetahuan saya sendiri pernah mereka yang sepenting yang digambarkan tadi bclum pernah dikcmukakan. Bagaimana pun interpretasi mereka tentang Islam, jelas sesuai dengan latar l 0 ) Sartono Kartodirdjo, op, cit, 146'_147. l t ) Harry J. Benda, op. , 4041. belakang orang-orang Indonesia, dan tidaklah terlalu jauh untuk kita mengatakan bahwa masuknya Indonesia kedalam Irlam sebagian besar adalah pekerjaan tarikat-tarikat tersebut. Meskipun pada saat ini mereka ini seringkali dikcsampingkan begitu saja. Pendekatan filosofis dan teologis kaum tarikat yang pertama datang ke Indonesia dengan pola pikiran kepercayaan bangsa Indonesia sendiri yang telah berurat berakar, disatu fihak memudahkan penyebaran agama Islam, karena dipandang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya, tapi dilain fihak menimbulkan kekeruhan ajaran Islam sendiri. Pada masa-masa berikutnya, tasawwuf dan tarikat-tarikatnya masih dilakukan pula oleh bangsa Indonesia, meskipun tidak begitu berkembang seperti pada abad ke-16 dan 17. Perjuangan antara golongan ortodoks dengan heterodoks masih dapat kita artikan seperti digambarkan dalam Serat Centini. KONSBPSI TEOLOGI DALAM TARIKAT. Gibb mengatakan : "Kita melihat bahwa penyebaran Islam di daerah-daerah baru direbelah Timur dan Selatan, di Asia dan Afrika, sebagian besar adalah hasil pckerjaan kaum Sufi dan bahwa persaudaraart kaum Sufi dalam banyak hal toleran tcrhadap kebiasaan-kebiasaan dan adat tradisionil dari jalan pikiran yang bertentangan dengan praktek-praktek yang kerar c. ri pada ummat Islam sebagai satu kesatuan. Sikap toleransi kaum Sufl terhadap jalan pikiran, kebiasaan, adat istiadat dan tradisi yang terdapat di daerah-daerah baru menimbulkan kekaburan ajaran-ajaran Sunni yang hampir membawa kehancuran ajaran Islam sendiri bila tidak segera tiba aliran-aliran pembaharu. Disamping itu menimbulkan dilema yang hingga kini masih belum terselesaikan,terutama dengan munculnya aliran-aliran kebatinan dan kepercayaan yang lcbih jauh berakibat pertentangan politik. Contohnya dapat dikemukakan, kaum mistik Jawa memulai renungannya dari keyakinan bahan manusia hanrs berusaha rnencapai kesempurnaafinya agar dapat menjadi satu dengan Tuhan hingga tiada lagi perbcdaan antara hamba dan Tuhan Keduanya sekarang dipersatukan menjadi se-keadaan. Didalam ajaran yang eksoteris keduanya . amba dan Tuha. seolaholah masih mewujudkan dua tokoh, yang saling mengenal. Sekarang karena lafal itu, perbcdaan antara aku dan engkau hapus. Hamba menjadi sadar bahwa ia adalah satu dengan Tuhannya. Johns, "Tentang Kaum Mistik Islam dan Penulisan Sejarah. Islam di. Indonesia,Editor Taufik Akdullah. Tintamas. Indonesia. Jakatta, 123. Sartono Kartodirdjo, dkk. , op. cit, 147, . H,A,R. Gibb Modern TrendsIslam. Third Irppression. The University of Chicago Press USA, 195 , 25. Lihat. Dr. Harun Hadiwijono. KcbatinanJawa dalam abad 19. BPK. Gunung Mulia. Jakarta, 23. Gagasan mistik yang menyimpang terus, hidup dalam berbagai lingkungan di Indonesia, meskipun ada pengaruh beberapa tarikat Sufi ortodoks dan meskipun terdapat pula pengaruh pengarang-pengarang Sufi ortodoks, seperti al-Ghazali, yang memperkenalkan suatu sintesis dari ajaran-ajaran pokok. Syari'ah dan paham Sufi. Pengaruh Sufi yang menyerap itu di Indonesia nyata dari banyaknya penggunaan nama-nama pendiri tarikat dan nama ahli Hamzah al-Fansuri memulai ajarannya dengan mengemukakan yang sama dengan Allah yang diajarkan oleh para ulaAllah ma Islam. Akan tetapi hakekatnya ajaran Hamzah itu telah me. nyimpang dari ajaran Ulama ortodoks. Bagi Hamzah. Allah sebenarnya adalah Zat yang Mutlak secara falsafah, yang adanya men dahului segala yang ada, serta yang menyebahkan adanya segala sesuatu, atau sebab pertama dari segala sesuatu. Tuhan Allah lebih di pandang dari segi falsafah dari patla religius. Zat yang Mutlak ini tak bisa dikatakan bagaimana keadaannya. Hakekatnya tak bisa Dan jika ada keterangan tentaag Zat ini, maka keterangan itu tidak mengenai Zat itu sendiri, atau keterangan itu adalah keterangan yang fsecara negatif. Zat tak bisa di ibaratkan, tak bisa diuraikan dengan ibarat, sebab tak ada ibarat yang bisa di pakai untuk mengurangi keadaan Allah. Pada Allah tak ada atas bawah, dahulu atau kemudian, kanan atau kiri, jauh atau dekat dsb. Meskipun demikian Hamzah memberikan juga ibarat bahwa zat Yang Mutlak itu sebagai laut. Pentamsilan Yang Mutlak dengan laut ini bukan fikiran Hamzah akan tetapi pentamsilan tradisionil dari ajaran Ibn Arabi. Bagi dirinya Zat yang Mutlak itu adalah laut batiniah, laut yang dalam, laut yang mulia. Apa yang dikemukakan llarnzah ini semuanya tidak sama dengan Allah yang digambarkan dalam al-Qur'an. Berbeda dengan muridnya, yakni Syamsuddin, ia menggunakan istilah-istilah umum untuk menggam barkan tingkat-tingkat emanasi Yang Mutlak itu yaitu Ahadiyah yang dinyatakan sebagai tingkat yang tanpa perbedaan "la ta'ayyur"r tingkat ini merupakan peningkatan yang abstrak. Kemudian "wahda" yaitu tingkat pembedaan awal "ta'ayyun awwal", dan tingkat kesatuan . kemudian "rvahidiyya" atau tingkat pembedaan kedua "tatayyun tsani" dimana kes*tuan dalam keserbaan . kemudian " 'alam arwah", yaitu tingkat semua arwa "'alam mitsal" yaitu tingkat semua bentuk atau dunia Eemu atau "ajsam' yakni tingkat semua badan atau dunia kausal, dan akhirnya " 'alam insano, yaitu tingkat manusia atau dunia manusia sempurna atau alarn al-insan al-kamil". Konsep tentang Allah ini lebih resuai dcngan pengertian falsafah tentang Zat'yang Esa secara mutlak, yang tak dapat dikatakan bagaimana, tak memiliki hubungan dengan apapun, tak terbagi-bagi, sebab pertama dari segala yang ada, . R,A. Hoesein Djajadiningrat, op, cit, 136, sumber dari mana segala yang ada mengalir, suatu realitas yarrg Gagaran sedemikian ini menunjukkan Tuhan yang tidak berkehendak dan mengaburkan pengertian Allah itu sendiri. Manusia dipandang sebagai pengejawantahan terakhir dari pada yang Mutlak dan mengakhiri segala pengejawantahan . rehingga manusia dipandang pengejawantahanyang terlengkap. Zat it:u turun dari ketinggian-Nya dengan mengendarai bentukbentuk penjelmaan, atau Zat yar,g Mutlah itu mengindividualisir DIRINYA dalam bentuk yang beraneka ragam. Seluruh proses penjelmaan atau pengaliran keluar dari Zat yang Mutlak itu serta pengalirannya kembali . digambarkan dengan perumpamaan Karena kelcngahannya manusia terikat oleh dunia fana ini maka tak dapat melihat segala yang ada ini dalam keadaan yang . mengira jasmani dan rokhani adalah beraneka ragam, pada hal sebenarn. tidik demik. Segi. mpak beraneka ragam ini sebenarnya tabir yang menutupi keid. n Allah yang Pengenalan dirinya kepada manusia akan menghapurkan tutup tersebut, hingga menyadari dan melihat bahwa dunia ini adalah hina. Manusia sempurna harus bisa fana atau hapus dari scgala keduniawian, dalam arti bahwa junanga harus dapat sampai kepada fana al-fana, yaitu hapus dari segala bukan Yang Mutlak, dimana juga hapus yang menyembah dan yang discmbah. I B) Ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani mendapat tantangan dari Nuruddin al-Raniri yang datang di Aceh tat kala masih muda, tapi karena tidak mendapat perhatian dari SuItan Iskandar Muda ia kembali ke Gujarat. Tapi setelah Sultan tersebut diganti oleh Sultan Iskandar Tsani. Nuruddin al-Raniri kembali kc Aceh tahun 1637 sampai tahun 1644 dimana ia banyak menulis buku-bukunya. Ia adalah seorang ahli sejarah, diramping seorang mistikus. Dan tulisan sejarahnya bisa dipakai sebagai pelukisan tentang sikap dari seorang mistik Islam Indonesia terhadap Dua diantara buku-bukunya memiliki nilai sejarah, yakni Nubdha fi da'waz-zil ma'a sahibihi, suatu tulisan didalam bahasa Arab yang dikumpulkan pada saat ia sedang terlibat dalam perselisihan dengan pengikut-pcngikut dari Syamsuddindihadapan Sultan Irkandar II, dan Tibyan fi ma'rifat al-Adyan suatu sejarah tentang agama-agama dunia hingga pada saat tulisan itu ditulb. Bagian terpenting berisi suatu polemik terhadap orang yang sesamanya yang dianggap beraliran pantheirme. Hamzah Fansuri dan Syam. Lihat Sartono Kartodirdjo, dkk, op. , 137-138, dan Dr Ifarun Hadiwijono. KebatinanIslam Abad XVl, op. cit,24-27, l. Lihat. Dr. Ilarun Hadiwijono, op, citr 28-29, dan Sartono I. todirdjo, dkk, op, cit, l3B-139, . Lihat. Sartono Kartodirdjo, dkk, op, cit, 140, dan A. Johns. op cit, 130- l3l. Dari Jawa ada dua buah naskah yang mcnggambarkan alam fikiran umat Islam dalam abad ke-16, naskah tersebut berasal dari karangan Sunan Bonang, karenanya dalam dunia ilmu dikenal sCbagai buku Bonang. Penulisnya tNak disebutkan. Menurut naskahnya, buku ini mengajarkan ajaran "Syaikh al'Bari". Dr. Hoesein Djajadiningrat menduga buku ini mengandung ajaran Sunan Bonang, salah seorang Wali. Tetapi Schrieke berpendapat bahwa hal itu tak mungkin, karena menurut tradisi Pangeran Bonang adalah anah Sunan Ngampel, yang bekerja di Tuban kira-kira di antara tahun 1475 dan 1500, dan bahwa sudah bisa dipastikan, bahwa ia bukanlah perintis penyebaran agama Islam di Tuban. Pada jaman. nya agama Islam sudah hampir tiga perempat abad menguasai Tuban. Menurut Schrieke, penulis buku yang diterbitkan itu agaknya adalah seorang imam dari Tuban. Naskah Isiam lainnya abad ke-16, ditulis dalam bahasaJawa, pengarangnya tidak dikenal, yang disimpan di Bibliotik Leiden. Naskah itu kemudian disebut Primbon. Menurut Kraemer, naskah ini agaknya berasal dari . Jawa Barat. Bentuk buku ini adalah suatu "primbon", yaitu suatu buku pegangan yang berisi catatan-catatan keagamaan, yang agaknya, ditulis oleh banyak orang . ungkin oleh banyak murid yang sedang mendengarkan ajaran gur. : Isinya tidak mewujudkan suatu uraian yang sistimatis, melainkan terputus-putus. Kraemer menyebutnya suatu "bunga rampai" tentang ajaran Islam mengenai ilmu fiqh, ilmu kalam, dan tasawwuf, yaitu tasawwuf dalam arti umum. Menurut R,A. Hoesein Djajadiningrat, primbon itu ialah suatu kumpulan serbaneka catatan mengenai agama, doadoa, jampi-jampi, ilmu firasat, tafir mimpi, ramalan dari pada tenda-tanda dan sebagainya. Naskah tersebut terutama berisikan catatan mengenai soal keagamean, kecuali satu halaman terakhir, rnenganai getaran-getaran urat dianggap sebagai alamat . Catatan mengenai soal-soal keagamaan itu terutama bersifat kesusilaan . misalnya raja ditelankan lafal niat sebelum ambil air wudu atau salat. Dalam penjclasannya mcngenai paham mistik, sifat ortod,okr mengenai bicl'ah - serta peringatan-peringatan terhadapnyamenimbulkan kesan akan ruatu narkah yang ditulis untuk menentang kesufian yang bersifat serba tuhan dalam masyarakat. Naskah itupun menyebutkan pula reorang Syaikh Ibrahim Maulana dan petuah-petuahnya. Beliau itu mungkin Malik Ibrahim yang waf. pada tahun 822 . dan yang nlakamnya kedapatan di Gresik. Agaknya sang guru mengiktrti kebatinan yang ortodoks, sekalipun mungkin juga bahwa bagian ilmu kebatinan yang terdapat disitu adalah tanggung jawab para penulisnya sendiri. Yang terang ialah, bahwa disini tiada serangan atau celaan terhadap ajaran bandingkan derlgan . Lihat. Dr. Harun Hadiwijono, op ci't, ll:22 Sartono Kartodirdjo, dkk, op cit, l 3. R,A. Husein Djajadiningrat op. ciL,122. Lihat. Dr. Harun Hadiwijono, op, cit,7 -B:- R. Hoegein Djajadiningrat op, cit. , i22, bandingkan Sartono Kartodirdjo, op, cit. , 143-14 , yang tidak ortodoks. Tujuan pokok buku ini agaknya adalah suatu pemberitaan tentang cara hidup etis-rcligius. Hanya kadang-kadang dibicarakan juga tujuan tertinggi dari kebatinan, yaitu kesatuai d_enganAllah, yang -juga dihubungkan dengan cara hidup etis. ialah penguraiannya tentang ketiga pingkat Ja-ng hidup keagamaan, yaitu ,syariah, tarikat dan haqiqa". ZZ)' Antara kedua keterangan diatas ini terlihat adanya pertentangan pendapat yang sukar dikompromikan, yang satu menyltakan naskah ditulis nntuk menentang kesufian, sedang yurg lainnya menyatakan tiada rerangan atau celaan terhadap ajarai yang tidak Dalam pada itu I. aemer diatas telah menvatakan bahwa naskah ini berasal dariJawaBarat, akan tetapi dalam keterangan selanjutnya mengatakan bahwa ini bukan hasif pengolahan pikiian . Kiranya keterangan-keterangan te rsebui perlu diteliti lagi, untuk mendapatkan kebena'an yang lebih objektif disampirrg itu guna -menghindari keraguan ilmiyah yang akin menin:bujkai kesesatan-kesesatan. PENUTUP. selama tarikat-tarikat itu tidak menimbulkan gangguan baik terhadap aqidah maupun terhadap kchidupan sosiil, aka' tetap mcrupakan suatu sistirn yang baik bagi pembinaan spiriruil bangsa terutama pada. saat-saatsekarangini, dimana pembangunun rpitituil ini- merupakan salah satu unsur pokok d-aram pembangunan secara kesoluruhan. Akan tetapi juga perlu menjadi pirhatian bahwa pada saat-saat munculnya tarikat itu telah tirjadi penyimpangan dan penyelewenganaqidah yang membawa kciusakin iman Harapan yang tadinya ingin mendekatkan diri repada Allah justru sebalihnyajadi menjauhkan diri dari pada-Nya. J'ga gejarah telah menunjukkan bahwa tarikat-tarikat itu clengansi"stit hubungan persaudaraannyadan hubungan anrara guru din murid, sering dijadikan sarana untuk mengadakan gerakan-gerakan sosiai ataupux politik dan pemberontakan. Disamping itu sering pula menimbulkan gejala-gejalarosial yang tidak menguntungkand. terjadinya kemunduran intelektualita-rebagai ut ibut dari sifatiya yang statis dan tradisionil tertutup serta bersikap nrima yang berjauh menyangkut sikap dan kreitivitas tiouI yang -akibat lebih kurang simpatik. Dapat dirasakan bahwa agama bergerak dari individu menuju masyarakat, karena itu penghayatan dan penerimaan pengertiin agama adalah satu-satunya kemungkinan pemikiran untuk -rrnuhami seluruh hidup sebagaikesatuanesensidan kekuatan dasar. Bila tujuan hidup adalah untuk mengabdi atau beribadat kepada Allah. Dr. Ilarun Hadiwij ono. Lihat. Ibid. maka hidup ini harus dipandang dari aspek-aspek hidup dan kehidupan secara keseluruhansebagai tanggung jawab moral. Dengan demikian seluruh tindak dan amal perbuatan kita bagaimanapun kecilnya tidak lain dari pada suatu pengabdian/ibadahyang dilakukan dengan sadar, yang merupakan bagian dari rencana univer. sil Tuhan. Kitapun hendaknya senantiasaingat bahwa Islam itu adalah program hidup yang ditetapkan Allah seruaidengan hukumhukum alam yang diciptakan-Nyu. Program hidup mana hanya akan bisa dicapai secara maksimal bila terdapat koordinasi yang sempurna dari pada seluruh aspek-aspek spirituil dan materiil kehidupan manusia. Islam memberikan jaminan batasan hubungan metafisik antara manusia dan pencipta-Nya, hubungan duniawi anlara individu dan rnasyarakat serta lingkungannya. Pengertian ke-Esaan Tuhan harus direfleksikan kedalam perhubungan hidup, kearah koordinasi dan penyeragaman berbagai aspek kehidupan itu sendiri. Karcna itu lbadah kepada Allah itu haruslah memberikan bentuk dan arti bagi hidup dan kehidupan manusia, disam. ping itu kesempurnaanindividu hanya dapat dipcroleh dalam perjuangan dan kehidr. rpandunia ini. lan menuju kesempurnaan rohani terbuka lebar, dengan jaminan yang telah diberikan Allah dalarn Firman-Nya : 5 : 54 dan 3 . 31 disertai penjelasan dari Rasulullah seperti tclah dikernukakan diatas. Karena itu agama Islam -tanpa mengurangi dan menambah-nambab- akan membina dan membentuk watak dan perangai seseorangdengan cara mCmpengaruhi dorongan-dorongan batinnya, sebagai akibat dari amalan dan penghayatannya dalam kekuatan kemauan yang meliputi kegiatan dan ketahanan uji. kejernihan pendapat dan pandangan dengan dasar disiplin dan logika. kehalusan perasaan dan hudi luhur. pembinaan dan pembentukan wibawa batin. pembinaan dan pembentukarrlama dan mendalamnyagetaran '\\ Bila ini telah dimiliki, maka Firman Allah . Ingatlah, hanva dengan mengikuti Allah-lah hati menjadi tenterarn. 13 : 28. Akan menjadi kenyataan daiam kehidupan. Demikianlah, scmoga bermanfaat.