JURNAL BANUA OGE TADULAKO Vol. : 47-55. Mei 2025 ISSN: 2828-2353 Efektivitas Konseling Kelompok Teknik Self-Talk untuk Meningkatkan Regulasi Emosi Peserta Didik SMP Negeri 3 Palu (The Effectiveness of Group Counseling Using Self-Talk Techniques to Improve Emotional Regulation of Students at SMP Negeri 3 Pal. Hasanah. Syahran2. Sastrawati3 Program Studi Pendidikan Profesi Guru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Tadulako. Indonesia 123 e-mail: *dinahasanah000@gmail. orresponding autho. Abstract This study examines the effectiveness of self-talk group counseling to enhance emotional regulation among students at SMP Negeri 3 Palu. Employing Action Research based on the Kemmis and McTaggart model, the study involved two cycles with eight class IX K students selected through purposive sampling. Participants included five students with low emotional regulation and three with good regulation. Data was collected using a validated and reliable emotional regulation questionnaire. The Wilcoxon Test analysis revealed significant improvements in emotional regulation. Scores increased from an average of 23. 75%) before intervention to 27. 75%) after the first cycle, and to 31. 75%) after the second cycle. The Asymp. Sig . -taile. value of 0. 011 (< 0. confirmed the effectiveness of the intervention. These findings demonstrate that self-talk group counseling significantly enhances studentsAo emotional regulation, supporting its application in school settings. Keywords: group counseling, self-talk techniques, emotion regulation, action research Emosi yang tidak terkontrol sering kali muncul secara PENDAHULUAN Peserta didik yang memulai pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah memasuki masa remaja merugikan diri sendiri . Pada tahap ini, peserta didik perlu yang merupakan periode transisi dari anak-anak menuju belajar mengelola stres dan mengendalikan emosi negatif Pada masa ini perubahan emosi yang terjadi selama agar tidak terlalu intens, berlarut-larut, atau konstan masa remaja memiliki dampak besar bagi kehidupan peserta dikarenakan peserta didik dihadapkan pada tantangan . Lingkungan sekolah sebagai tempat peserta didik akademis dan kebutuhan untuk menjalin hubungan sosial, menghabiskan banyak waktunya memunculkan berbagai baik dengan teman sebaya maupun hubungan romantic . macam emosi. Emosi positif seperti senang mendapatkan Regulasi emosi dibutuhkan untuk membantu mengontrol pemahaman dan pengalaman baru, bangga setelah berhasil emosi yang timbul pada peserta didik. McRae & Gross . dalam ujian, serta senang bermain bersama teman dapat menyatakan regulasi emosi merupakan proses individu dalam mendukung perkembangan positif pada peserta didik, seperti, mengendalikan emosi dalam dirinya secara keseluruhan, persahabatan, mendorong sikap tolong-menolong, serta merasakannya, dan bagaimana mengekspresikan emosi memperkuat kemampuan pengaturan diri dan memupuk tersebut dengan tepat. Menurut Novita . Regulasi emosi memotivasi pribadi . Di sisi lain, lingkungan sekolah juga merupakan usaha dalam mengatur/mengelola emosi, dengan dapat memicu emosi negatif bagi peserta didik seperti kata lain bagaimana seseorang mengungkapkan emosinya frustasi saat mengerjakan tugas, cemas menjelang ujian, yang akan mempengaruhi perilaku individu dalam mencapai perasaan sedih dan marah saat bertengkar dengan teman, atau Hal ini sejalan dengan Roemer dalam Widyawati putus karena cinta . Perubahan emosi ini menjadikan masa & Naqiyah . yang mengemukakan bahwa regulasi emosi adalah usaha individu untuk menerima emosi yang dihadapi, keterampilan dalam mengendalikan emosi secara sehat. implusif, serta kemampuan untuk mengelola emosi sesuai http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al dengan situasi. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan dengan lingkungannya dengan baik, mampu beradaptasi bahwa regulasi emosi memungkinkan perserta didik untuk dalam kelompok, mengembangkan keterampilan sosial dan berempati pada orang lain . Regulasi emosi mampu mengekspresikannya dengan tepat sesuai dengan situasi yang meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah dengan turut aktif memperhatikan Regulasi emosi mencangkup lima aspek utama yang dan berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran, serta tekun berperan dalam pembentukan perilaku yang tampak . dan terus melakukan refleksi diri sendiri . sehingga Kelima aspek tersebut adalah: peserta didik dapat menujukkan kinerja akademik yang lebih Situation Selection (Pemilihan Situas. , merujuk pada Ini menujukkan bahwa regulasi emosi sangat penting usaha individu untuk memilih situasi yang mendukung untuk dikuasi karena dapat mendukung perkembangan emosi positif atau menghindari situasi yang mungkin pribadi, keberhasilan akademik, dan hubungan sosial peserta menimbulkan emosi negatif. Namun pada kenyataannya, belum semua peserta didik Situation Modification (Modifikasi situas. , merupakan mampu untuk meregulasi emosi yang dimilikinya. upaya yang dilakukan untuk mengubah dampak emosi Perilaku regulasi emosi rendah ini terlihat pada siswa yang ditimbulkan dari situasi tertentu. SMP Negeri 3 Palu saat melakukan observasi yang Attentional Deployment (Pengarahan Perhatia. , adalah menunjukkan beberapa peserta didik cenderung mudah cara individu untuk mengalihkan atau memusatkan meledak dan bertengkar hanya karena hal sepele seperti perhatian pada situasi tertentu dari keadaan yang memanggil dengan nama orang tua atau dari cara menatap, mempengaruhi emosi yang dirasakan. peserta didik juga mudah menghina dan berteriak dengan Cognitive Change (Perubahan Kogniti. , memaknai bahasa yang kurang pantas kepada temannya ketika sedang kembali situasi untuk mengurangi dampak emosional terbawa emosi yang ditunjukkan dengan peserta didik yang ditimbulkan. mengatai temannya dengan panggilan binatang atau bahasa Respons Modulation (Modulasi Respon. , merupakan kasar sepert AnjingAy. AuBangsatAy. AuAsuAy. Selain itu peserta usaha individu untuk mengendalikan respon emosi yang didik pesimis dan takut ketika menjawab soal di depan kelas, dan saat mengalami AobadmoodAo peserta didik terlihat malas Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat mengikuti pembelajaran di dalam kelas dan hanya tidur atau regulasi emosi peserta didik di antaranya: . Pola asuh bermain ponsel. Hasil observasi ini didukung dengan orang tua, orang tua yang mudah emosi cenderung wawancara yang dilakukan bersama dengan beberapa peserta didik dan guru mata pelajaran di SMP Negeri 3 Palu, yang emosinya, . Usia, orang dengan usia yang matang mampu menyatakan bahwa memang terdapat beberapa siswa yang bereaksi lebih baik terhadap emosi negatif, . Lingkungan, sering berkelahi karena permasalahan sepele atau mudah lingkungan yang aman dan mendukung peserta didik marah dan sulit mengendalikan emosinya hingga menjadi mempengaruhi respon emosi yang muncul, . Pengaruh menyatakan bahwa mereka bereaksi seperti itu karena didik meregulasi emosi yang lebih sesuai dengan situasi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan Peserta didik yang mampu meregulasi emosinya dapat tanggapan dari guru BK yang menjelaskan bahwa terdapat diketahui dari kemampuannya mengontrol diri untuk beberapa peserta didik yang tidak dapat mengendalikan mencapai tujuan, mampu menjalin hubungan interpersonal emosinya dan bersikap kasar kepada temannya yang lain dan mendengarkan pendapat orang lain dapat membantu peserta http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al sensitif terhadap perilaku temannya. Perilaku tersebut yang digunakan untuk menyangkal keyakinan irasional dan memperlihatkan bahwa peserta didik perlu memiliki regulasi membantu dalam membangun pikiran yang lebih sehat atau emosi yang lebih baik karena dapat membawa dampak buruk lebih baik, yang akan mendorong pada self talk yang lebih bagi mereka. Beberapa dampak yang ditimbulkan dari kurangnya regulasi emosi seperti hambatan pada pencapaian Self talk merupakan teknik dalam pendekatan Rational akademik, misalnya cenderung melakukan prokrastinasi Emotive Behavior Therapy (REBT) yang berfokus pada akademik . Dampak lainnya termasuk hambatan sosial pengidentifikasian dan pengubahan keyakinan irasional yang seperti rasa malu atau enggan bersosialisasi dengan teman dan guru di sekolah . , serta membuat peserta didik lebih mengembangkan pola pikir dan tindakan yang lebih rasional rentan untuk mengalami kecemasan, amarah hingga depresi dan positif . Tujuan utama pemberian REBT dengan . Oleh karena itu diperlukan intervensi yang tepat untuk membantu siswa meningkatkan regulasi emosi peserta didik. adalah agar Salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan tindakan, dan pemikiran negatif serta menilai kembali situasi regulasi emosi peserta didik adalah melalui layanan yang terjadi apakah seburuk pemikirannya atau tidak Bimbingan dan konseling sehingga dapat berfungsi secara lebih baik di masa memiliki beberapa jenis intervensi yang dapat digunakan Penggunaan teknik self talk diharapkan mampu untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut salah membantu peserta didik untuk mengembangkan self talk satunya adalah konseling kelompok. Dalam pelaksanaanya positif yang dapat membantu meregulasi emosi dengan tepat. Penggunaan teknik ini didukung oleh penelitian sebelumnya memecahkan permasalahan yang dialami oleh peserta melalui kegiatan kelompok yang terdiri 4-12 orang dengan mengembangkan regulasi emosi remaja . dan beberapa penelitian sebelumnya yang menguji efektivitas layanan perkembangan yang optimal . Konseling kelompok konseling kelompok pendekatan REBT untuk meningkatkan memungkinkan peserta didik untuk belajar dan berbagi regulasi emosi remaja meski tidak spesifik menggunakan pengalaman serta solusi terhadap permasalahan dari berbagai teknik self talk . , . , . Hasil dari penelitian tersebut Dalam pelaksanaan layanan konseling kelompok adalah teknik self talk dan layanan konseling kelompok dan salah satu teknik yang tepat digunakan untuk mengatasi pendekatan REBT terbukti efektif dalam meningkatkan permasalahan regulasi emosi adalah teknik Self-Talk. Gerald kemampuan regulasi emosi peserta didik. Corey . menyampaikan bahwa self talk merupakan salah teknik yang dapat Uraian di atas menjadi dasar dilakukannya penelitian digunakan untuk mengatasi yang berfokus pada pemberian layanan konseling kelompok permasalahan mengenai regulasi emosi. Teknik self talk dengan teknik self talk untuk meningkatkan regulasi emosi adalah dialog positif yang dilakukan individu dengan dirinya siswa SMPN 3 Kota Palu. sendiri dengan terus mengulang setiap ungkapan yang diyakini bermanfaat dan bersifat positif untuk mendukung METODE pelaksanaan perilaku tertentu atau menghentikan perilaku Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Bimbingan yang tidak diinginkan. Dialog yang dilakukan didasari pada dan Konseling (PTBK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 keyakinan individu tentang kondisi diri mereka sendiri. siklus, yang tiap siklusnya digambarkan sebagai berikut. Selaras dengan pendapat di atas Erford . menyatakan bahwa teknik self talk merupakan salah satu teknik konseling http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al Tabel 1 . Hasil Skor Pra-Tindakan Gambar 1. Siklus PTK menurut Kemmis dan Mc. Taggart Penelitian Tindakan Bimbingan Nama PRE-TINDAKAN Skor Kategori Baik Baik Rendah Rendah Rendah AID Rendah Rendah FNA Baik Rata-Rata 58,75 Cukup Konseling Data pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa 5 dari 8 merupakan upaya untuk mempelajari masalah, mencari orang peserta didik memiliki tingkat regulasi emosi dengan solusi, dan melakukan perbaikan atas suatu program atau kategori rendah dengan hasil skor ND 18. NZ 19. TR 19, kelas yang khusus . Penelitian ini dilaksanakan di SMP AID 18, serta GT 19 dan 3 diantaranya memiliki regulasi Negeri 3 Palu. Penelitian dilaksanakan selama 3 minggu dengan kategori baik dengan hasil skor AD 31. RM 31, dan pada bulan agustus 2024 semester ganjil tahun ajaran 2024- FNA 33. Hasil rata-rata skor berada pada angka 23,5 kategori Subjek penelitian adalah 8 peserta didik kelas IX K cukup dan tingkat persentase sebesar 58,75%. Dalam SMP Negeri 3 Palu yang ditentukan dengan menggunakan penelitian ini, pemberian layanan konseling kelompok teknik teknik purposive sampling dengan pembagian 5 orang siswa self talk berpusat untuk merubah pemikiran irasional yang yang memiliki regulasi emosi rendah dan 3 orang siswa yang dimiliki oleh peserta didik mengenai emosi yang dimilikinya memiliki regulasi emosi baik, agar dalam pelaksanaan dan bagaimana mengelola dan menunjukan respon emosi terbentuk dinamika kelompok. Pengumpulan data dilakukan yang lebih rasional dan sehat. Setelah konseling kelompok dengan menyebarkan angket regulasi emosi. Angket yang siklus 1 dilaksanakan sebanyak 2 sesi pertemuan lalu diberikan telah dinyatakan valid melalui Uji Validitas dengan dilakukan evaluasi diperoleh hasil yang ditampilkan pada keseluruhan instrument dinyatakan valid, dan Uji Reliabilitas table sebagai berikut. dengan hasil cronchbachAos alpha sebesar 0. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan Tabel 2. Hasil Skor Pra-Tindakan dan Siklus 1 Uji Wilcoxon untuk melihat apakah ada peningkatan PRA-TINDAKAN SIKLUS 1 Nama signifikan setelah pemberian layanan kepada peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Skor Kategori Skor Kategori Baik Baik Baik Baik Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah Rendah Cukup dilaksanakan dapat diketahui bahwa beberapa peserta didik Rendah Cukup di kelas IX K memiliki regulasi emosi yang rendah. Untuk Rendah Cukup AID Rendah Cukup mencari tahu secara lebih mendalam mengenai tingkat regulasi emosi peserta didik, maka peneliti membagikan angket regulasi emosi untuk mendapatkan data awal tingkat regulasi emosi yang dimiliki kepada 8 peserta didik dengan hasil sebagai berikut: http://jurnal. id/index. php/jbot Rendah Cukup FNA Baik Baik Oc Cukup Baik JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al Tabel hasil skor mempelihatkan peningkatan regulasi AuCukupAy AuBaikAy. Meskipun emosi peserta didik setelah diberikan tindakan konseling penaikan namun target yang ingin dicapai oleh peneliti 5 orang peserta didik yang memiliki tingkat belum sepenuhnya terpenuhi karena masih terdapat beberapa regulasi emosi kategori rendah meningkat menjadi kategori kekurangan dalam pelaksanaan konseling kelompok seperti cukup dan 3 lainnya yang telah berada di kategori baik beberapa peserta didik belum merasa nyaman untuk berbagi mengalami peningkatan skor. NZ. TR, dan GT mengalami mengenai perasaan mereka lebih lanjut dan peserta didik peningkatan yang signifikan dengan mendapatkan skor 19 masih kurang mampu merasionalkan self talk negatif yang pada Pra-tindakan, masing-masing mengalami kenaikan Kekurangan dijadikan pertimbangan untuk menjadi 24, 26, dan 28 pada siklus 1. Disisi lain ND dan AID perbaikan pemberian layanan pada siklus 2. Tabel 3. Hasil Skor Siklus 1 dan Siklus 2 peningkatan dari skor 18 menjadi 20 dan 22. Hal ini juga SIKLUS 1 terjadi pada yang awalnya memiliki skor regulasi emosi baik. Nama AD dan RAM mengalami kenaikan 2 skor dari yang awalnya SIKLUS 2 Skor Kategori Skor Kategori Baik Baik skor sebesar 31 menjadi skor sebesar 33, dan FNA yang Baik Baik memiliki skor regulasi emosi tertinggi . naik menjadi 34. Cukup Cukup Rata-rata tingkat regulasi emosi meningkat menjadi 27,5 dari Cukup Baik Cukup Baik AID Cukup Cukup Cukup Baik menjadi 68,75% dengan kategori baik. Perbandingan skor FNA Baik Baik Pra-Tindakan dan Setelah Siklus 1 dilihat dari gambar 2 Oc Baik Baik yang sebelumnya 23,5. Selain itu persentase regulasi emosi juga mengalami peningkatan sebanyak 10% dari 58,75% sebagai berikut. Tabel 3 di atas menunjukkan hasil skor siklus 1 dan Pretest Berdasarkan hasil skor setelah pemberian tindakan Siklus 1 siklus 2, ditemukan bahwa regulasi emosi peserta didik meningkat secara keseluruhan. Rata-rata regulasi emosi peserta didik meningkat menjadi 31,5, naik 4 skor dari siklus sebelumnya dan 8 skor dari pra-tindakan. Persentasi regulasi emosi juga naik menjadi 78,75% dengan kategori AubaikAy. Hal ini dapat terlihat dari tiga peserta didik yang sebelumnya berada pada kategori cukup pada siklus sebelumnya naik menjadi kategori baik, sementara tiga peserta didik yang AID telah memiliki regulasi emosi yang baik menunjukkan FNA peningkatan skor yang lebih lanjut. Dua peserta didik lainnya Gambar 2. Grafik perbandingan skor pra-tindakan meskipun tetap berada di kategori cukup namun memiliki peningkatan skor yang sangat baik. Perbandingan di atas memperlihatkan bahwa setelah diberikan intervensi layanan konseling kelompok dengan Melihat peningkatan skor setelah pelaksanaan siklus 1 teknik self talk tingkat regulasi emosi peserta didik Selanjutnya peneliti membandingkan perbedaan mengalami peningkatan pada siklus 1. Secara keseluruhan, tingkat regulasi emosi peserta didik dari sebelum pemberian rata-rata skor regulasi emosi peserta didik meningkat dari http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al kelompok siklus 1 dan 2. Dibawah ini dilampirkan grafik Ranks hasil test peserta didik pra-tindakan, setelah pelaksanaan Siklus 2 Pretest siklus 1, dan setelah pelaksanaan siklus 2 konseling kelompok teknik self talk dengan topic regulasi emosi. Pretest Siklus 1 Siklus 2 Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Siklus 2 < Pretest Siklus 2 > Pretest Siklus 2 = Pretest AID Sum of Ranks 0,00 0,00 4,50 36,00 Test Statistics SIKLUS2 SIKLUS1 Mean Rank Asymp. ,011 Sig. Wilcoxon Signed FNA Based on negative Gambar 3. Grafik perbandingan skor pra-tindakan, siklus 1, dan siklus 2 Gambar 4. Hasil Uji Wilcoxon Hasil SPSS Uji Wilcoxon memperlihatkan bahwa 8 dari 8 Grafik yang ditampilkan memperlihatkan perbandingan peserta didik mengalami peningkatan seusai diberi tindakan peningkatan regulasi emosi peserta didik pada setiap siklus dengan rata-rata peningkatan skor 4,50 dan jumlah ranking dengan peningkatan yang signifikan terjadi pada siklus 2. positif sebesar 36,00. Selain itu pada hasil test statistic data Hampir seluruh peserta didik mengalami peningkatan skor Asymp. Sig . -taile. menunjukan nilai 0,011. Karena nilai yang cukup besar. ND mengalami kenaikan sebanyak 6 skor 0,011 < 0,05 maka dapat disimpulkan penggunaan konseling dari hasil skor 20 pada siklus 1 menjadi nilai skor 26 pada NZ juga meningkat dari skor 24 menjadi 30, meningkatkan kemampuan regulasi emosi peserta didik. sementara TR dari siklus 1 memiliki skor sebanyak 26 AID Data hasil penelitian yang telah dijabarkan diatas yang awalnya memperoleh skor 22 memperlihatkan adanya peningkatan signifikan pada skor meningkat sebanyak 6 skor menjadi skor 28. GT meningkat dan rata-rata kemampuan regulasi emosi peserta didik setelah dari memiliki skor sebanyak 28 menjadi 31. AD dan RAM diberikan intervensi berupa layanan konseling kelompok sama-sama mengalami peningkatan dari skor siklus 1 sebesar teknik self talk pada peserta didik selama 2 siklus. Setelah 33 menjadi 35 di siklus 2 dan FN mencapai skor 37 pada pelaksanaan siklus 1 terdapat beberapa perubahan yang siklus 2 naik dari skor 34 pada siklus 1. Secara keseluruhan ditunjukan oleh peserta didik melalui pengamatan lebih grafik ini menunjukkan keberhasilan layanan konseling lanjut berupa, peserta didik mampu meredam emosinya dalam meningkatkan regulasi emosi peserta didik pada kedua dengan lebih baik dan berusaha lebih sabar untuk siklus layanan. Peneliti menggunakan Uji Wilcoxon untuk mengetahui langsung meledak seperti sebelumnya meskipun beberapa efektifitas pemberian layanan konseling kelompok dengan peserta didik masih kesulitan menerapkannya secara terus teknik self talk sebelum pemberian tindakan dan setelah 2 Selanjutnya setelah dilaksanakan layanan siklus 2, siklus tindakan, dengan rincian hasil uji sebagai berikut. peserta didik mulai memahami secara lebih baik alasan reaksi emosional yang timbul dan bagaimana harus memproses emosi tersebut yang terlihat dari peserta didik http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al lebih sabar dan menanggapi secara positif emosi yang ditujukan kepadanya dan yang dirasakannya. Peningkatan ini Keyakinan akhirnya menjadi dasar bagi munculnya self talk positif yang berkelanjutan dalam diri remaja. terjadi karena selama dan setelah proses pelaksanaan layanan Dalam proses konseling, setelah peserta didik mampu konseling, peserta didik mampu lebih aktif untuk terbuka memahami perbedaan pemikiran irasional dan rasional dan menceritakan permasalahan yang tengah di hadapinya dan mampu mengidentifikasi self talk negatif yang dimiliki, mampu merasionalisasikan dengan lebih baik pemikiran peneliti sebagai pemimpin kelompok mengajak peserta didik irasional yang dipikirkannya selama ini sehingga dapat untuk menantang self talk negatif tersebut dengan dorongan menyalurkan emosi yang lebih sesuai dengan situasi. anggota kelompok. Salah satunya dengan mengatakan Perubahan tersebut tampak dari perilaku peserta didik yang AuTeman saya tidak menatap merendahkan, kami berteman secara aktif mengidentifikasi pemikiran irasional dan rasional dengan baikAy. Auorang tua saya akan memahami jika saya yang dimilikinya dengan bantuan anggota kelompok lain dan mengatakannya dengan lebih baik dan memahami mereka mampu menciptakan self talk positif untuk menantang self terlebih dahuluAy. AuSaya cantik dan saya percaya diriAy. Ketika talk negatif yang selama ini muncul. pemikiran-pemikiran ini diulangi secara konsisten dan Menurut Musyarofah. Komarudin. Saputra, & Novian diterapkan dalam tindakan nyata oleh peserta didik secara . self talk negatif adalah proses berpikir dan berbicara bertahap pemikiran ini berubah menjadi keyakinan. Hal ini dengan diri sendiri yang cenderung mengkritisi diri, mencela mengubah sifat dan karakter peserta didik yang mudah diri, kontraproduktif, dan dapat menimbulkan kecemasan. tersulut emosi menjadi lebih berpikiran positif, sehingga Self talk negatif menyebabkan peserta didik berpikiran peserta didik tidak mudah terpancing untuk bertengkar irasional, sehingga tidak mampu merespons emosi dengan sehingga dapat meningkatkan hubungan sosial peserta didik. Perubahan ini tercermin dalam peningkatan regulasi emosi Selama berlangsung peserta didik kerap menyatakan bahwa mereka setelah konseling kelompok dilaksanakan. merasa Auteman menatap dengan merendahkanAy. AuOrang tua Temuan ini sejalan dengan teori Rational Emotive saya egoisAy. AuSaya memang lebih jelek dari teman lainAy yang Behavior Therapy (REBT) yang menyatakan bahwa emosi negatif sering kali disebabkan oleh keyakinan-keyakinan mengeluarkan emosi marah atau sedih secara berlebihan. Dengan dapat mengidentifikasi dan merubah Untuk pemikiran irasional tersebut menggunakan teknik self talk, memikirkan ulang dan mendefinisikan kembali situasi yang peserta didik dapat mengubah reaksi emosi mereka menjadi terjadi untuk mengurangi dampak emosional yang dialami lebih positif sehingga berdampak pada regulasi emosi yang sehingga reaksi yang ditimbulkan tidak berlebihan . lebih baik. Teknik self talk yang diterapkan dalam proses Sugara dalam Widyanti dan Naqiyah . menguraikan konseling kelompok membantu peserta didik mendapatkan siklus yang terjadi ketika mempelajari metode self talk: bantuan dari teman-temannya yang memungkinkan mereka Self talk positif mempengaruhi tindakan yang diambil untuk saling berbagi pengalaman dan memberikan saran, oleh individu sehingga peserta didik lebih termotivasi untuk bereksperimen Tindakan yang dilakukan secara berulang akan menemukan self talk positif yang tepat untuk mengatasi membentuk kebiasaan dalam diri remaja. permasalahan yang tengah dihadapi dan memiliki rekan Kebiasaan ini akan berperan dalam membangun untuk konsisten dalam menjalankan self talk . Self talk karakter individu yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk kebiasaan Seiring waktu, karakter tersebut akan berkembang dalam diri peserta didik dan menciptakan sebuah karakter menjadi keyakinan yang mengakar dalam diri remaja yang bukan hanya mampu meregulasi emosi dengan baik, http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 47-55. Mei 2025 Hasanah, et al namun juga lebih tenang dalam menghadapi tantangan di Konseling, vol. 13, no. 3, p. Sep. 2023, doi: 24127/gdn. masa depan yang dapat menggangu produktivitas peserta . Choirunissa and A. Ediati. AuHubungan Antara Komunikasi Interpersonal Remaja-Orangtua Dengan Regulasi Emosi Pada Siswa Smk,Ay Jurnal EMPATI, 7, no. 3, pp. 236Ae243, 2018, doi: 14710/empati. Boekaerts and R. Pekrun. AuEmotions and Emotion Regulation in Academic Settings,Ay in Handbook of Educational Psychology: Third Edition, 3rd ed. , no. London: Routledge, 2015, ch. 76Ae90. doi: 10. 4324/9781315688244. Hilmy. Barida, and Niken Susilowati. AuUpaya Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Siswa Melalui Konseling Kelompok Dengan Teknik Coping di SMK Sakti Gemolong,Ay Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 4, no. 4, 2022. De Neve. Bronstein. Leroy. Truyts, and J. Everaert. AuEmotion Regulation in the Classroom: A Network Approach to Model Relations among Emotion Regulation Difficulties. Engagement to Learn, and Relationships with Peers and Teachers,Ay Journal of Youth and Adolescence, vol. 52, no. 2, 2023, doi: 10. 1007/s10964-022-01678-2. McRae and J. Gross. AuEmotion regulation,Ay Emotion, 1037/emo0000703. Novita. AuEFEKTIFITAS TEKNIK KONSELING MINDFULNESS DALAM MENINGKATKAN REGULASI EMOSI SISWA DI SMP NEGERI 6 PADANG PANJANG,Ay Psikodidaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling, 32663/psikodidaktika. Widyanti and N. Naqiyah. AuEfektivitas Konseling Kelompok Teknik Self Talk Untuk Meregulasi Emosi Remaja SMPN 46 Surabaya,Ay Teraputik: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 1Ae10, 26539/teraputik. Goleman. EMOTIONAL INTELLIGENCE: Why it can matter more than IQ, 25th Anniv. Bloomsbury Publisher, 2020. Flanagan and J. Symonds. AuSelf-talk in middle childhood: A mechanism for motivational resilience during learning,Ay Psychology in the Schools, 1002/pits. Berdasarkan pemaparan di atas, hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian layanan konseling kelompok dengan teknik self talk memberikan perubahan yang positif bagi peserta didik untuk menghilangkan pemikiran irasional yang mengganggu regulasi emosi mereka. Setiap tahap dalam proses konseling kelompok memberikan perubahan kemudian diharapkan dapat terus berkembang menjadi keyakinan yang terus mendukung regulasi emosi peserta didik dalam jangka waktu yang panjang. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat diambil kesimpulan berupa pemberian layanan konseling kelompok dengan teknik self talk efektif meningkatkan regulasi emosi peserta didik di SMP Negeri 3 Palu secara signifikan. Hal ini dapat dibuktikan dari sebelum pelaksanaan intervensi tingkat regulasi emosi peserta didik berada pada rata-rata 23,5 atau 58,75% pada kategori AucukupAy dengan 5 dari 8 peserta didik memiliki tingkat regulasi emosi yang rendah. Setelah pemberian layanan konseling kelompok siklus satu terdapat peningkatan tingkat regulasi emosi peserta didik menjadi kategori AubaikAy dengan kenaikan rata-rata regulasi emosi menjadi 27,5 atau sebesar 68,7% dan pada siklus dua kembali naik dengan nilai ratarata meningkat sebesear 31,5 dengan persentasi 78,75% dan berada pada kategori AubaikAy. Pengujian juga dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil data Asymp. Sig . bernilai 0,011 < 0,05 yang menunjukan adanya signifikansi setelah pemberian layanan untuk meningkatkan regulasi emosi peserta didik. REFERENSI