www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal DEDIKASI MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 LAMPASEH MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Yunidar SD Negeri 1 Lampaseh Jl. Piyeung, Desa Mon Ara, Kec. Montasik, Aceh Besar: Yunidar.sd1@gmail.com Abstract: Teachers have a very important role in growing the students' interest in achieving the certain subject areas including mathematics. For a teacher, it needs to find alternative strategies in growing the students' interest to learn happily (without feeling forced), so it can cause self-confidence to the students, which in turn they can develop the ability that has been there without them knowing it. In contextual learning the teacher does not require students to memorize facts but the teacher should encourage the students to construct their own knowledge. Through the contextual learning model the students are expected to learn through 'experience' rather than 'memorize'. In learning, the teachers need to understand the initial conceptions what the students have and relate to the concepts to be studied. This study aims to know the increasing of the Students’ Learning Outcomes of Class VI Elementary School 1 Lampaseh through the Application of Contextual Learning on Counting Integers Operation Model Year 2013/2014. The type of the research is a Classroom Action Research which includes planning, action, observation, reflection or evaluation. The approach used in this study is student oriented with the quantitative data obtained from the test of learning outcomes and qualitative data obtained through the observation sheet and questionnaire which was given to the students to know the students' responses. This research is descriptive research, which is to know the increasing of the students’ ability in determining material of counting integer operation model by using observation sheet, test sheet, and interview. The results of this study indicate that through the use of contextual learning model can improve the students’ learning outcomes in Mathematics on the subject of counting integers operation. This is shown from the average grade point in the first cycle is 61.875, while the students’ achievement is 54.83% and the second cycle is 87.1, and the students’ achievement is 87.5%. Besides, it is also seen from the number of the students who get grades under the KKM. In cycle I there are 11 students and in cycle II, it reduced to 5 students. Keywords : Contextual Learning Model, Operation Counting Integers Abstrak: Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam hal menumbuhkembangkan minat siswa untuk meraih prestasi dalam bidang pelajaran tertentu termasuk matematika. Untuk itu seorang guru perlu mencari strategi alternatif dalam menumbuhkan minat siswa agar mau belajar dengan gembira (tanpa merasa dipaksa), sehingga dapat menimbulkan percaya diri pada siswa, yang pada akhirnya mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah ada tanpa mereka sadari. Pada pembelajaran kontekstual guru tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru hendaknya mendorong siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui model pembelajaran kontekstual siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghapal’. Dalam pembelajaran, guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Lampaseh melalui Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual pada Materi Operasi Hitung Bilangan Bulat Tahun Pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah berorientasi pada siswa dengan data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi serta angket yang diberikan kepada siswa untuk mengetahui tanggapan siswa. Volume 1, No. 2, Juli 2017 232 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu untuk mengetahui meningkatnya kemampuan siswa dalam menentukan materi operasi hitung bilangan bulat dengan menggunakan lembar observasi, lembaran tes, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penggunaan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Lampaseh Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal ini tampak dari nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 61,875, adapun siswa yang tuntas belajar sebesar 54,83% dan siklus II sebesar 87,1, dan siswa yang tuntas belajar sebesar 87,5%. Selain itu juga dilihat dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM di mana pada siklus I terdapat 11 siswa dan pada siklus II berkurang menjadi 5 siswa. Kata Kunci : Model Pembelajaran Kontekstual, Operasi Hitung Bilangan Bulat Guru memiliki peranan yang sangat penting mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka dalam hal menumbuhkembangkan minat siswa sendiri. Melalui model pembelajaran kontekstual untuk meraih prestasi dalam bidang pelajaran siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ tertentu termasuk matematika. Untuk itu seorang bukan ‘menghapal’. Dalam pembelajaran, guru guru perlu mencari strategi alternatif dalam perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki menumbuhkan minat siswa agar mau belajar siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dengan gembira (tanpa merasa dipaksa), sehingga dipelajari. dapat menimbulkan percaya diri pada siswa, yang pada akhirnya mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah ada tanpa mereka sadari. KAJIAN PUSTAKA Konsep Belajar dan Model Pembelajaran Tampaknya menggali kemampuan siswa dengan Teori belajar menurut teori konstruktivisme, cara menumbuhkembangkan kemampuan yang yang merupakan salah satu filsafat pengetahuan, telah ada belum pernah dilakukan oleh guru SD menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah Negeri 1 Lampaseh, sehingga pendidikan itu konstruksi (bentukan) kita sendiri. Menurut terkesan memaksa dan menjemukan. pandangan teori kontrukstivisme, belajar Dalam proses pembelajaran, guru memulai merupakan proses aktif dari subyek belajar untuk dengan menjelaskan memberi contoh latihan soal. merekonstruksi makna sesuatu, entah itu teks, Jadi siswa secara langsung diberikan rumusrumus kegiatan dialog, pengalaman fisik dan lain-lain, matematika tanpa diberi kesempatan untuk sehingga menemukan sendiri. Berbeda halnya dengan mengasimilasikan pembelajaran yang berorientasi pada kurikulum pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan berbasis kompetensi, pembelajaran hendaknya pengertian yang sudah dimiliki, dengan demikian diawali dari dunia nyata dan rumus diharapkan pengertiannya menjadi berkembang. Sehubungan ditemukan oleh siswa sendiri. dengan itu ada beberapa ciri atau prinsip dalam Pada pembelajaran kontekstual guru tidak belajar merupakan dan proses menghubungkan belajar (Suparno, 1997:40), yaitu: mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru 233 hendaknya mendorong siswa untuk Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi 1. Belajar berarti mencari makna. Makna 2. 3. 4. 5. “strategi pembelajaran adalah suatu siasat diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan lihat, dengar, rasakan, dan alami. mengubah satu keadaan pembelajaran kini menjadi Kontruksi makna adalah proses yang terus keadaan pembelajaran yang diharapkan”. Untuk menerus. mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut fakta, Soedjadi tetapi merupakan pengembangan menyebutkan bahwa dalam satu pemikiran dengan membuat pengertian yang pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode baru. dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman satu teknik. Sehingga istilah model pembelajaran subyek belajar dengan dunia fisik dan berbeda dengan strategi pembelajaran, metode lingkungannya. pembelajaran dan prinsip pembelajaran. Hasil belajar tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek belajar, tujuan, motivasi Hakikat Belajar Matematika Ada mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari. Jadi menurut teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang aktif di mana siswa a. sering disebut (Karso, 1980:28) b. Matematika adalah pengetahuan mengenai kuantitif dalam ruang, salah satu cabang dan sekian banyak ilmu yang sistematis, teratur Istilah model pembelajaran amat dekat dengan dan eksak (Karso, 1980:29) pengertian strategi pembelajaran. Menurut Kamus untuk melaksanakan kebijakan tertentu dalam matematika keseragaman untuk membuat generalisasi sedangkan arti lainnya adalah pola atau contoh. dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa yang Matematika adalah ilmu tentang pola, karena dalam Model menurut kamus Poerwadarminta beberapa pengertian dari strategi yaitu: (1) ilmu matematika tentang matematika antara lain: sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari. Besar Bahasa Indonesia (Alwi, 2002:92) ada ahli merumuskan beberapa definisi atau pengertian membangun sendiri pengetahuannya dan mencari (1985:25) adalah “sesuatu yang patut ditiru”, beberapa c. Matematika adalah telaahan tentang pola hubungan suatu jalan atau pola berfikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat, Reys (dalam Karso, 1980:29). perang dan damai, (2) rencana yang cermat Pendekatan Kontekstual mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran Pelaksanaan pendekatan kontekstual khusus, sedangkan metode adalah cara teratur yang dilakukan digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan mengedepankan Research Lesson. Kegiatan inti agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. dalam metode ini Soedjadi (1999:101) menyatakan bahwa Volume 1, No. 2, Juli 2017 dengan dengan siswa system kolaborasi yang adalah guru-guru bersama berkolaborasi melaksanakan 234 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi sejumlah pembelajaran guna mengkaji praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Melalui data penelitian ini adalah: a) Tes kegiatan ini, antar guru terjalin kebersamaan, baik Hasil tes digunakan untuk mengetahui antar guru mata pelajaran yang sejenis maupun ketuntasan belajar dan hasil belajar siswa materi antar guru mata pelajaran yang lain, termasuk antar yang telah dipelajari. Waktu tes tersebut adalah guru yang berbeda sekolah (Taniredja, 2011:35). sebelum di lakukan penelitian dan setelah selesai Sistem pelaksanaan pendekatan kontekstual setiap siklus. dilakukan dengan metode siklus, dimana setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, b) Observasi observasi, dan refleksi. Perencanaan merupakan segala bentuk persiapan diperlukan, mengamati keaktifan siswa dengan dan mengamati sedangkan observasi meruapaknpengamatan yang keakuratan guru dalam mengajar dalam indikator dilakukan yang telah ditetapkan. selama yang Lembar observasi ini digunakan untuk pelaksanaan proses pembelajaran. Hasil observasi akan digunakan c) Angket untuk membuat refleksi, yaitu bentuk koreksi yang dilakukan terhadap hal-hal Angket diberikan kepada siswa setelah yang tidak dilakukan tes prestasi terakhir, angket ini diberikan menguntungkan selama pelaksanaan proses untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran. Refleksi merupakan bentuk pembelajaran kontekstual pada materi operasi perumusan strategi penyelesaian masalah yang hitung bilangan bulat. muncul dalam pelaksanaan, untuk kemudian diimplementasikan dalam siklus berikutnya Teknik Analisis Data Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, (Mudjiono, 2006:61). yaitu METODE PENELITIAN Tempat penelitian yang peneliti lakukan untuk mengetahui meningkatnya kemampuan siswa dalam menentukan materi operasi hitung bilangan bulat dengan adalah di Sekolah Dasar Negeri 1 Lampaseh. menggunakan lembar observasi, lembaran tes, dan Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap di wawancara. bulan Februari 2014 s/d Mei 2014 tahun pelajaran Untuk mengetahui apakah terjadinya 2013/2014. Subjek yang akan di ambil dalam peningkatan siswa terhadap pemahaman dalam penelitian ini adalah para siswa kelas VI SD menentukan materi operasi hitung bilangan bulat Negeri 1 Lampaseh yang berjumlah 24 siswa yang dengan menggunakan pembelajaran kontekstual terdiri dari laki-laki sebanyak 11 siswa dan dapat menggunakan rumus: perempuan sebanyak 13 siswa. Teknik Pengumpulan Data X  fX n Cara yang digunakan dalam pengumpulan 235 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi dimana X X f  = Nilai Rata-rata (mean) = Nilai prestasi = Frekuensi = Jumlah yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 14 siswa dari 24 siswa atau sebesar 58,4%. dari pihak sekolah ketuntasan siswa diharapkan mencapai lebih dari 75%. [Suryabrata, (2008:18)] Data yang terkumpul ditabulasi, dan agar pembaca lebih memudahkan memahami data yang telah diolah, maka data tersebut dimasukkan dalam tabel. Dalam penelitian ini, indikator keberhasilan yang digunakan adalah nilai KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu ketuntasan individual sebesar 67 serta ketuntasan secara klasikal sebesar Hasil Belajar Siklus I Dari hasil penelitian pada siklus I, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa masih ada 11 siswa atau sebesar 45,87 % yang belum mencapai KKM. Dengan demikian dapat disimpulkankan bahwa penelitian pada sikus I belum menunjukkan keberhasilan suatu proses pembelajaran sehingga peneliti merencanakan lagi 88. untuk siklus berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Belajar Pra Siklus Rendahnya hasil belajar siswa yang ditunjukkan sebelum tindakan dari tes tentang operasi hitung bilangan bulat yaitu dari 24 siswa hanya 9 siswa yang mendapatkan nilai di atas batas kriteria ketuntasan belajar (KKM) Sedangkan yang lainnya di bawah KKM bahkan ada beberapa siswa yang mendapat nilai 0. Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Sebelum Tindakan Keterangan Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-Rata Nilai Siswa Belajar Tuntas Sebelum Tindakan 0 80 54.17 41.6% Tabel 2. Perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan tindakan siklus I Keteranga n Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata nilai Siswa belajar tuntas Sebelum Tindakan 0 Tes Siklus I 38 80 85 54.17 61.88 41.6% 54.2% Hasil Belajar Siklus II Prosentase siswa yang mendapat nilai lebih dari 65 adalah 87,5% dan prosentase siswa yang mendapat nilai kurang dari 65 adalah12,5 %, hal ini sudah sesuai harapan dengan indikator Analisis hasil evaluasi dari Sebelum Tindakan keberhasilan yaitu prosentase yang mendapat nilai siswa diperoleh rata-rata nilai dari seluruh siswa lebih dari 65 minimal 80%. Dari hasil tersebut yang mengikuti tes (24 siswa) adalah siswa yang dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep mendapat nilai lebih dari 6,5 sebanyak 10 siswa siswa meningkat dan penelitian dihentikan sampai dari 24 siswa yang ada atau sebesar 41,6%. Siswa siklus II karena telah mencapai target KKM Volume 1, No. 2, Juli 2017 236 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi sebesar 85%. keberhasilan dikatakan berhasil apabila ketuntasan Tabel 3. Perbandingan Hasil Tes sebelum Dilaksanakan Tindakan, Tes Akhir Siklus I dan Siklus II Keteranga Tes Tes Tes n Sebelum Siklus I Siklus Tindakan II Nilai 0 38 62.5 Terendah Nilai 80 85 100 Tertinggi Rata-Rata 54.17 61.88 87.1 Nilai Siswa 41.6% 54.83 87.5 Belajar Tuntas % % Berdasarkan hasil rata-rata nilai siklus I materi dengan pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat diperoleh ada 11 (sebelas) peserta individu mencapai 80% pada siklus II sudah mencapai 87,5%, selain itu prosentase rata-rata aktifitas siswa meningkat menjadi 79,68% adapun prosentase meningkat menjadi 3,7. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan, bahwa : 1. Melalui penggunaan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD dilakukan pengamatan terhadap Lembar Kerja Negeri Peserta didik atau LKS diperoleh bahwa 11 peserta belajar sebesar 87,5%. Selain itu juga dilihat aktifitas siswa pada pembelajaran sebesar 53,70% dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai di serta rata-rata aktivitas guru dalam pembelajaran bawah KKM di mana pada siklus I terdapat sebesar 2,9. Dari hasil penelitian pada siklus I 11 siswa dan pada siklus II berkurang disimpulkan bahwa perlu adanya perbaikan pada nilai yang diperoleh dalam ulangan harian siklus II adalah 80,1 ,sedangkan nilai ketuntasan dalam belajar 237 mencapai 87,5% dengan indikator Pelajaran siklus II sebesar 87,1, dan siswa yang tuntas pada siklus I hanya sebesar 59,9% dan rata-rata didik yang mendapat nilai rata- rata 100. Rata-rata Tahun siswa yang tuntas belajar sebesar 54,83% dan bilangan bulat. Selain itu rata-rata keaktifan siswa didik mendapat nilai ≥65 serta ada 2 (dua) peserta Lampaseh kelas pada siklus I sebesar 61,875, adapun karena kesulitan dalam melakukan operasi hitung dari 65, sedangkan 21 (dua puluh satu) peserta 1 2013/2014. Hal ini tampak dari nilai rata-rata didik yang nilainya rendah ternyata disebabkan (tiga) peserta didik yang memperoleh nilai kurang pembelajaran menjadi 81,47% serta rata-rata aktivitas guru ketuntasan belajar baru mencapai 54,83%. Setelah Dalam pelaksanaan siklus II masih ada 3 aktifitas kontekstual dalam pembelajaran juga meningkat didik yang nilainya rendah < 65 ini berarti siklus II. rata-rata menjadi 5 siswa. 2. Sedangkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, kekompakan dalam berkelompok dan keberanian siswa bertanya dapat ditumbuh kembangkan. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan aktivitas siswa pada siklus I sebesar 59,9% atau kategori aktif dan siklus II sebesar 79,68% atau kategori sangat aktif. Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saran Berdasarkan penelitian tersebut,maka disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nur, Muhammad. (2000). Strategi-strategi Negeri 1 Lampaseh sebaiknya menggunakan Belajar. Surabaya: University Press. pembelajaran pembelajaran kontekstual dalam matematika untuk meningkatkan hasil belajar. Nursid Sumaatmadja. (2001). Metode Pembelajaran Geografi. Jakarta: Bumi Aksara.. 2. Hendaknya guru dalam mengadakan penilaian, Poerwadarminta, W.J.S., (1985). Kamus Umum dilakukan secara menerus baik secara Bahasa individu maupun kelompok yang dilakukan Pustaka. dalam pemberian tugas rumah, tugas individu 4. Dimyati. Guru Matematika yang mengajar di SD model 3. Mudjiono, Indonesia, Jakarta: Balai Sardiman. (2003). Interaksi dan Motivasi maupun ulangan harian/hasil tes. Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Agar ada interaksi antara siswa dengan siswa, Grafindo Persada. siswa dengan guru, sehingga ada baiknya jika Soedjadi. (1999). Kiat Pendidikan Matematika guru mau menggunakan model pembelajaran di Indonesia Konstatasi Keadaan Masa kontekstual dalam pembelajaran. Kini Menuju Harapan Masa Depan. Untuk menerapkan model pembelajaran Jakarta: Depdikbud kontekstual dalam pembelajaran hendaknya Suparno, Paul. (1997). Filsafat Kontruktivisme guru memberikan bimbingan terlebih dahulu dalam kepada para siswa agar siswa dapat Kanisius. meningkatkan hasil belajarnya. Suryabrata, Pendidikani. Sumadi. (2008). Yogyakarta: Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers. Taniredja, Tukiran, dkk. (2011). Model-Model DAFTAR PUSTAKA Pembelajaran Alwi, Hasan dkk. (2002). Kamus Besar Inovatif. Bandung: Alfabeta. Bahasa Indonesia Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Bruce, Joyce. (1992). Models of Teaching. Massachussetts; Allyn and Bacon. Karso, dkk. (1980). Modul Pendidikan Matematika. Jakarta: Depdiknas. Kasihani, Kasbollah E.S. (1999). Penelitian Tindakan Kelas Jenderal Pendidikan Volume 1, No. 2, Juli 2017 (PTK). Direktorat Tinggi Proyek 238