Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Peningkatan Potensi Desa Melalui Pembuatan Desain Embung Taman Kutukan di Desa Rejosari. Kabupaten Malang. Jawa Timur Yana Respati Dewi*1. Ita Prihatining Wilujeng2 1,2Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Indonesia *e-mail: yana. fe@um. id1, ita. fe@um. Abstrak Desa Rejosari merupakan salah satu desa di Kabupaten Bantur yang memiliki berbagai tempat wisata, salah satunya Taman Kutukan. Daya tarik wisata harus memiliki nilai atau point of interest yang berbeda untuk mendapatkan perhatian dan kesadaran yang mungkin akan dipertimbangkan sebagai potensi Untuk memaksimalkan potensi yang ada di Taman Kutukan, perlu dilakukan pengembangan dan peningkatan infrastruktur untuk mendukung kegiatan tersebut. Pelaksanaan pengabdian yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang ini bertujuan untuk membantu meningkatkan daya tarik Taman Kutukan dengan merancang desain taman. Selain itu, desain ini merupakan rencana jangka panjang untuk perbaikan berkelanjutan. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga membantu Pemkot dalam merencanakan strategi yang menjadi prioritas Pemkot dalam pembangunan taman. Kegiatan diawali dengan tahapan observasi dan pendataan kemudian dilanjutkan dengan perancangan menggunakan software Professional Autocad sehingga didapatkan rancangan akhir, perancangan tugas akhir ini juga merupakan rancangan kerja untuk Taman Kutukan sehingga nantinya akan menjadi panduan teknis tentang bagaimana atraksi ini berjalan. Hasil dari desain Embung telah diserahkan kepada pihak desa, gambaran umum dari desain sudah menyesuaikan kondisi taman mulai dari aspek geografi seperti kontur tanah hingga aspek psikografi masyarakat Desa Rejosari. Kata kunci: Desa Rejosari. Desain Landscape. Taman Kutukan Abstract Rejosari Village is one of the villages in Bantur District which has various tourist attractions, one of those is Taman Kutukan. The tourist attraction must have a value or different point of interest to get an attention and awareness that maybe would consider as a potential tourism. To maximum that potential in Taman Kutukan, it is necessary to develop and improve the infrastructure to support that activity. The implementation of the service carried out by a team from Faculty of Economics at the Universitas Negeri Malang aims to help increase the attractiveness of Taman Kutukan by designing a garden design. In addition, this design is a long-term plan for continuous improvement. Not only that, this activitiy also helps Municipality Administrator in planning strategies which prioties for the Municipality Administrator in park development. The activity begins with the stages of observation and data collection then continues with designing using software Professional Autocad so that the final design is obtained, this final design is also a working deign for Taman Kutukan so that later it will guide a technical about how this attraction runs. Keywords: Landscape Design. Rejosari Village. Taman Kutukan PENDAHULUAN Tren pariwisata saat ini mengalami kenaikan perubahan dari wisata massal kearah wisata Wisata ini lebih kepada jenis kegiatan wisata alam atau budaya local untuk memperkenalkan desa, meningkatkan wawasan dan berpetualangan yang merupakan bagian dari Wisata saat ini lebih menawarkan pengalaman langsung dibandingkan dengan model wisata visual. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar wilayah pariwisata mulai dari aspek pengelolaan sumber daya manusia hingga aspek pengelolaan sumber daya alam, seperti halnya pembangunan wisata local juga akan berpengaruh pada keselarasan dan keseimbangan ekosistem lingkungan serta mampu meningkatkan kualitas lingkungan (Adinata, 2. Kementrian Pariwisata . menjelaskan Desa wisata adalah wilayah administrative desa yang memiliki potensi dan keunikan daya Tarik wisata yang khas yaitu merasakan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. pengalaman keunikan kehidupan dan tradisi masyarakat di pedesaan dengan segala potensinya. Desa wisata dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Memiliki potensi wisata baik alam, budaya maupun buatan seperti desa tembikar. Memiliki kelompok atau komunitas masyarakat yang aktif dan memiliki visi misi serta tujuan yang jelas. Aktifitas pengembangan desa dilakukan oleh masyarakat desa dan dikelola oleh masyarakat Memiliki kelembangaan pengelolaan. Memiliki peluang dan dukungan fasilitas serta sarana prasarana dasar yang memadai untuk kegiatan pengembangan wisata. Memiliki peluang berkembang dalam jangka watu tertentu. Hadiwijoyo, . juga menyatakan bahwa Kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan, baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang yang khas, atau egiatan ekonomi yang unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komponen kepariwisataan seperti atraksi, kuliner atau lainnya. Selain untuk mengembangkan potensi wilayah desa, tujuan pembangunan area wisata adalah untuk menekan angka urbanisasi, akan tetapi hal ini memerlukan perencanaan yang matang. Konsep wisata ini dianggap mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan desa wisata memiliki tolak ukur bukan hanya pada keberhasilan wilayah wisata tersebut tetapi perubahan perilaku, pola piker dan juga motivasi masyarakat desa (Putri et al. , 2. Kehidupan penduduk desa memberikan alasan yang kuat untuk pengembangan wisata yang selama ini digencarkan oleh pemerintah daerah. Jika pengelolaan ini berjalan secara efektif dapat membantu mempertahankan struktur sosial dan kebudayaan tradisional suatu masyarakat. Pengembangan wilayah desa wisata memiliki positif di berbagai aspek yakni manfaat sosial, lingkungan, ekonomi dan budaya (Suwantoro, 2. Rodrigues & Bawole, . menyatakan bahwa pengelolaan desa wisata perlu dipertimbangkan secara seksama beberapa aspek yang mendukung keberhasilan pengelolaan seperti . Aspek sumber daya manusoa dimana harus memiliki pengalaman yang luas dalam mengelola pekerjaannya dan pengetahuan yang luas dalam bidang pariwisata . Aspek keuangan yang dikelola secara mandiri untuk mengembangkan usaha dibidang desa wisata. Aspek sarana prasarana termasuk pada akses ke area pariwisata pengembangan infratruktur yang masih kurang akan mengikis minat pengunjung ke are wisata, terlebih fasilitas umum krusial seperti toilet umum, warung makan atau bahkan tempat parkir menjadi pertimbangan utama pengunjung dalam memilih wisata. Aspek karakteristik tradisi, dimana mayoritas masyarakay masih mempertahankan budaya seperti contohnya petani di wilayah local yang masih melestarikanm cara Bertani yang tradisional dan konvensional untuk memperkenalkan kehidupan asli masyarakat desa. Hal ini sudah sukses diterapkan di Desa Sade Bali. Dusun Kutukan merupakan salah satu dusun di Desa Rejosari Kabupaten Malang yang memiliki objek wisata Taman Kutukan. Taman Kutukan sendiri memili objek wisata yang sendiri sudah mulai dikelola mulai bulan Oktober Tahun 2020 oleh Kelompok Sadar Wisata di Dusun Kutukan. Desa Rejosari. Taman Kutukan merupakan objek wisata alam yang memiliki pemandangan yang indah. Taman Kutukan sendiri sudah memiliki potensi wisata yang bagus, jika potensi ini dapat dikelola dengan baik tentunya dapat menjadikan Taman Kutukan sebagai salah satu objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Dalam pembangunan desa, banyak sumber daya yang harus diperhitungkan, sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum, suatu desa berhak pula untuk mengelola system perekonomian dalam keberlangsungan desa demi mewujudkan kesejahteraannya. Desa mandiri adalah desa yang mampu memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk dapat meningkatkan kesejahteraan warganya (Rafael et al. , 2. Tim pengabdian Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tahun 2021 berinisiatif untuk membuat rancangan desain Taman Kutukan yang bekerjasama dengan desain landscape dalam pengerjaannya. Desain rancangan yang dibuat tentunya tidak hanya berfokus untuk P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. memperindah layout taman tetapi juga untuk menentukan bagaimana cara memilih material yang cocok dan proses desain yang dilakukan tentunya dengan menerapkan ilmu dalam pengelolaan infrastruktur yang didapatkan oleh tim selama melakukan tri dharma pendidikan Bersama dengan pihak desa dan juga arsitek landscape. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim ini berfokus pada pengembangan wisata wilayah Desa Rejosari dengan Langkah awal yakni pembuatan desain embung desa yang diharapkan bisa menjadi ruang terbuka hijau atau ruang komunal yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. di desa Rejosari pun sudah memiliki Kelompok Sadar WIsata atau Podarwis yang sudah berjalan sebagai pihak pengelola wisata. Kelompok tersebut menjadi sasaran utama dalam kegiatan pengabdian ini. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun dan mengambangkan Taman Kutukan sebagai objek wisata agar pengelolaan Taman Kutukan dapat dimaksimakan dengan merancang desain Taman Kutukan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dilakukan secara bertahap, diantaranya tahap oersiapan, pengumpulan data, perancangan desai dan finalisasi. Tahap persiapan Tahap ini memiliki beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut: Observasi Observasi dilakukan dengan mendatangi wilayah awal atau survey terlebih dahulu untuk menumpulkan informasi berkaitan dengan objek wisata serta masysrakat sekitar Desa Rejosari. Selain pada aspek taman Kutukan yang merupakan sasaran utama, observasi ini juga mengumpulkan data mengenai budaya masyarakat sekitar serta potensi sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang akan disekitar. Identifikasi masalahIdentifikasi masalah ini dilakukan setelah melakukan survey dan menemukan beberapa peluang hambatan yang mungkin terjadi terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian ini atau justru hambatan serta tantangan yang mungkin akan dihadapi oleh masyarakat desa dengan adanya pengembangan wilayah wisata Desa Rejosari serta pengelolaan wisata. Tujuan Perancangan Berdasarkan pada identifikasi masalah, maka dapat ditentukan tujuan utama yang ingin dicapai dari kegiatan mendesain Taman Kutukan ini. Diharapkan desain ini mampu memberikan rancangan secara strategis, teratur dan fungsional dengan tetap menjaga kelestarian alam serta potensi alam yang ada di sekitar desa. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan ini akan dilakukan dengan 3 kali kunjungan ke Desa Rejosari yang masing-masing merupakan survey awal, observasi yang bekerjasama dengan pihak professional yakni desain landscape dan kunjungan ketiga yakni dalam rangka melakukan evaluasi hasil Proses desain menggunakan aplikasi AutoCad dengan analisis citra satelit. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap Persiapan Pada tahap persiapan, timppengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang ini melakukan survey melkukan observasi melalui kegiatan diskusi dengan Perangkat Desa yaitu Kepala Desa Rejosari Bapak Saiful. Sekretaris Desa Bapak Yuyus serta Design Landscaper Bapak Alvian. Pihak ketiga ini merupakan pihak yang akan merancang desain Taman Kutukan yang dinamakan Monstera Arch. Monstera Arch sendiri mrupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa desin professional. Kerjasama dengan pihak ketiga ini diperlukan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. sehubungan dengan desain yang diharapkan ini bersifat kontinu. Mempertimbangkan kebijakan pemerintahan tentang pembangunan infrastruktur di wilayah selatan pulau jawa dimana secara geografis akan mempengaruhi Kawasan di daerah Desa Bantur maka desain ini harus dipetakan oleh profesional. Gambar 1. Survey awal kegiatan . Kunjungan Tindak Lanjut Pembangunan berkenlanjutan pada dasrnya menyangkut tiga dimensi penting yaitu ekonomi, sosial serta budaya dan lingkungan. (Budiharsono, 2. mengemukakan dimensi ekonomi berkaitan dengan upaya pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemisikan serta merubah pola produksi dan konsumsi ke arah yang lebih seimbang. Dimensi sosial bersangkuran denfan pemecahan masalah kependudukan, perbaikan pelayanan masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan. Sedangkan dimensi lingkungan terkait dengan pengurangan dan pencegahan pengelolaan sumber daya alam dan konservasi. Pertimbangan selanjutnya yakni kebudayaan desa sendiri yang akan berpengaruh pada keaslian desa wisata. Corak kehidupan desa ditandai oleh kehidupan yang cenderung homogen dan perekonomiannya mayoritas masih pada sector pertanian. Masyarakat Desa Rejosari sendiri Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, selebihnya merupakan mencoba peruntungan untuk menjadi TKI. Pola Desa Rejosari sendiri lebih mengarah pada desa radial yang pemukiman pendudukanya berkelompok pada persimpangan jalan dimana jenis dan pola desa mempunya corak sosial budaya yang mandiri. Kegiatan sehari-hari pemerintah desa umumnya diselenggarakan di bale desa dan kegiatan dari komunitas lainnya seperti podarwis masih bertempat pada salah satu anggota komunitas saja sehingga aktiofitas dan keefektiftasan komunitas ini belum menyeluruh dan merata. Masalah yang ditemukan di lapangan ditemukan yakni . Infrastruktur yang kurang memadai, . antusiasme masyarakat desa terhadap pembangunan embung, . Sumber Daya Manusia di Desa Rejosari yang masih kurang. Dari permasalahan infrastruktur saat ini pembangunan dan perbaikan jalan dan akses di jalur utama desa terus dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Malang, hal ini tentunya karena jalur utama desa juga merupakan satu-satunya akses ke daerah wisata pantai selatan kota Malang. Akan tetapi dikarenakan Taman Kutukan ini tidak berlokasi di jalan utama akan tetapi di sebelh barat desa akses di daerah tersebut masih dianggap tidak layak. Lebar jalan hanya sekitar 1,5 meter saja. Hal ini tentunya bukan kriteria yang tepat untuk dijadikan sebagai akses utama ke Taman Kutukan. Gambar 2. Kondisi Awal Taman Kutukan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Masalah yang ditemukan selanjutnya adalah antusiasme masyarakat desa terhadap pembangunan embung yang dirasa masih sangat kurang. Masih banyak masyarakat desa yang minim akan kesadaran pentingnya pembangun ini. Komunitas Pokdarwis yang sudah ada selama 3 tahun ini saja masih banyak masyarakat yang enggan untuk menjadi pengurus atau sekedar terlibat dalam keanggotaan kelompok. Berdasarkan dari hasil pengamatan tim pelaksana kelompok pemuda Desa Kutukan yang diharapkan sebagai penggerak perubahan juga enggan membantu untuk menumbuhkan potensi wisata karena dianggap bukan tanggung jawab dan kewajiban mereka. Banyak dari pemuda desa yang menjalankan pendidikan hingga jenjang perkuliahan akan tetapi enggan untuk kembali dan terlibat dalam pengembangan daerah. Kebanyakan dari mereka menutup diri dari kegiatan yang terkait dengan desa. Selanjutnya sumber daya manusia di Desa Rejosari yang masih rendah. Mayoritas tingkat pendidikan di Desa Rejosari masih tergolong rendah. Beberapa dari mereka justru tidak minat untuk mengenyam bangku pendidikan. Hal ini yang melatarbelakangi mereka untuk mencari rejeki sebagai TKI, banyak dari mereka yang memilih untuk menjadi petani dan buruh di luar Hal ini sudah dianggap wajar dan paling pas untuk mereka, tak sedikit pula dari mereka yang sudah terbiasa dengan pola piker dalam keluarga yang seperti itu. Bahkan ada kasus dimana kebanyakan anak muda memilih untuk melanjutkan mengolah lahan orang tua atau sekedar menjadi TKI sebagaimana orang tua mereka sebelumnya. Penyelenggaraan Pola pikir ini menjadi boomerang bagi desa sendiri. Hingga saat ini tidak ada hasil potensi dari wirausahaa atau UMKM desa yang berkembang. Salah satu pemilik UMKM yang disana Batik Tulis tanpa Tinta. Bapak Arik sendiri menyatakan kewalahan dengan pola pikir masyarakat sekitar dan natusiasme mereka. Bapak Arik sendiri telah melakukan banyak cara untuk merangkul masyarakat desa, bahkanmemberikan pelatihan UMKM gratis tapi hingga saat ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Salah satu indicator keberhasilan desa wisata adalah pemerataan kesempatan penduduk local untuk berwirausaha (Rahmawati, 2. 2 Tahap Pelaksanaan Perancangan desain sendiri dilakukan beberapa tahapan mulai dari memnentukan konsep rancangan, pengembangan desain dan pembuatan desain kemudian tahap finalisasi. Dalam menetukan konsep rancangan ini menjelaskan ide-ide kreatif yang ditentukan oleh perancang atau dalam kegiatan ini adalah pihak Monstera Arch. Langkah ini memberikan sentuhan estetis ke dalam proses perencanaan dan memberikan alternatif ide yang akan dijadikan tolak ukur perancangan. Tahap ini tentunya juga melibatkan perangkat desa dan pokdarwis untuk memberikan ide, saran, masukan dan pandangan akan pembuatan Taman Kutukan ini. Tahap kedua yakni pengembangan desain disini pihak Monstera Arch Bersama dengan tim mengumpulkan data, menganalisis wilayah dan melakukan cross section antara kondisi lapangan dengan desain awal. Tidak hanya mengukur luas area akan tetapi pemetaan fasilitas diperlukan dengan pertimbangan kemiringan tanah, letak pohon serta irigasi di area Taman Kutukan. Hal ini untuk menentukan are amana saja yang akan dijadikan sebagai area parkir, fasilitas umum seperti toilet dan mushola, taman bermain anak, area adventure dan fasilitas yang bisa dikembangkan di sekitar kolam pemancingan. Apabila memungkinkan pihak desa menginginkan area yang mampu memfasilitasi UMKM masyarakat desa, sehingga para pengunjung bisa menikmati kuliner asli atau hasil karya dari UMKM desa. Gambar 3. Gambar Analisis Tapak P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. 2 November 2021. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Hasil desain telah diserahkan kepada pihak perangkat desa. Desain yang dibuat sudah sesuai dengan aspek geografi seperti kontur tanah dan juga sifat ekosistem disana tetapi hingga aspek psikografi masyarakat desa seperti pembuatan beberapa titik yang menyesuaikan dengan permintaan desa serta kebiasaan atau habit masyarakat sekitar. Ragam titik desain juga sudah memenuhi kebutuhan masyarakat desa untuk memiliki ruang komunal yang bisa mereka manfaatkan dalam kegiatan sosial. Gambar 4. Hasil Desain Embung Taman Kutukan KESIMPULAN Salah satu cara untuk bisa mengembangkan wilayah desa adalah dengan pembangunan Desa Wisata dikarenakan periwisata merupakan penggerk sector ekonomi yang dapat menjadi solusi bagi pemerintah. Wisata tidak hanya pada kelompok Hasil desain Taman Kutukan ini merupakan kolaborasi antara Tim Pengabdian Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan pihak Desa Rejosari dan juga Monstera Arch yang memiliki tujuan utama membantu memaksimalkan pembangunan dan pengembangan Taman Kutukan sebagai area wisata Desa serta memaksimalkan pengelolaan potensi desa. Metode kegiatan ini dilakukan dengan dua tahap yakni persiapan dan pelaksaan, dimana pelaksanaan sendiri memiliki 3 tahapan mulai dari memnentukan konsep rancangan, pengembangan desain dan pembuatan desain. Hasil dari desain embung ini telah diserahkan kepada perangkat desa, pihak mitra sendiri merasa puas dan terbantu dengan adanya desain Embung ini, tidak hanya mempermudah mereka dalam merencanakan pembangunan kedepannya akan tetapi Desain ini akan digunakan untuk dasar pembuatan proposal pengajuan modal oleh pihak desa kepada Pemerintah Kabupaten Malang. Tim pelaksana menyarakan untuk peninjauan kembali desain Taman kutukan ini agar pihak desa bisa mendapatkan dukungan finanasial dari pemerintah daerah setempat sehingga desain ini bisa benar-benar terealisasikan. Taman Kutukan ini diharapkan tidak hanya sebagai area wisata pengunjung tetapui juga memiliki dampak yang positif terhadap peningkatan potensi sumber daya manusia di Desa Rejosari. desain ini juga diharapkan menunjang aktifitas perekonoimian masyarakat desa. DAFTAR PUSTAKA