Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Effectiveness Evaluation of Artificial Insemination Training in Improving Inseminator Performance and Income. Beef Cattle Productivity and Farmer Income Euis Nia Setiawati* Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara Bogor *Korespondensi penulis. E-mail: e. niasetiawati@gmail. Diterima: Nopember 2016 Disetujui terbit: April 2017 ABSTRACT This study aimed to describe and analyze the implementation of Artificial Insemination (AI) Training to Improved InseminatorsAo performance, cow productivity and income of farmers and This evaluation was done on the alumni of Artificial Insemination Training in 2014, with a sample of 72 persons, using descriptive research method with qualitative approach. Measuring instruments used was questionnaire containing a list of questions related to the study variables. Results of the analysis showed that the effectiveness of the implementation of AItraining contents was 72% of respondents applied the training contents very complete, 83. 3% applied a complete and 94 % sufficiently complete. InseminatorsAo performance result using reproductive efficiency parameters as follows S/C 2:05. CR 46. 14%, calving inteval 15. 7 months and an increase in the population of cows 19% for two years. RespondentsAo average revenue increased of Rp 3. million/month, with a feasibility analysis of R/C ratio of 2. B/C ratio of 0. 56 and ROI 8. 87 /month as well as increased farmersAo average incomes of Rp 3. 000 to Rp 4. 000 in the period of two Keywords : Artificial insemination, inseminatorAos performance, productivity, revenue ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyelenggaraan Diklat Inseminasi Buatan (IB) terhadap peningkatan kinerja inseminator dan keberhasilan Diklat IB terhadap peningkatan pendapatan dan produktivitas sapi. Subyek penelitian ini adalah alumni Diklat IB yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Hewan Cinagara Bogor pada tahun 2013 dan 2014. Sampel / Responden dilakukan secara acak . andom saplin. dan diambil sebanyak 67 orang atau 40 persen dari total alumni sebanyak 150 orang. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Alat ukur yang digunakan kuesioner selanjutnya data dianalisa dengan model interaktif Hasil penelitian menunjukkan Efektivitas Penerapan Materi Diklat IB di wilayah kerja responden adalah 9,72 persen menerapkan Sangat Lengkap, 83,3% menerapkan Lengkap dan 6,94% Cukup Lengkap. Kinerja responden dalam efisiensi reproduksi adalah S/C 2,05. CR 46,14% dan calving inteval 15,7 Hasil Pelayanan IB Responden, dapat meningkatkan populasi sapi dewasa betina di wilayah kerjanya yaitu rata-rata sebanyak 19% selama dua tahun. Kegiatan Diklat IB dapat meningkatkan pendapatan responden rata-rata sebesar Rp 3. 000 / bulan dengan kelayakan usaha adalah R/C ratio 2,3 B/C ratio 0,56 dan ROI 8,87% / bulan dan meningkatkan pendapatan peternak rata-rata sebesar Rp 3 500. 000 sampai Rp 4. 000 dalam kurun waktu dua tahun. Kata kunci : Inseminasi Buatan, kinerja inseminator, produktivitas, pendapatan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 PENDAHULUAN Arah pembangunan pertanian pada tahun 2005-2025 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2005 antara lain: . peningkatan efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah sektor pertanian . alam arti lua. agar mampu bersaing di pasar lokal dan internasional, serta memperkuat basis produksi secara nasional. peningkatan efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah pertanian . alam arti lua. untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam mengembangkan agribisnis yang dinamis dan efisien, yang melibatkan partisipasi aktif petani dan stakeholder Program percepatan swasembada merupakan implementasi kegiatan yang (SDM) Salah satu kegiatan yang kualitas SDM di bidang peternakan khususnya teknologi reproduksi ternak adalah kegiatan pelatihan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak bagi petugas calon inseminator. Inseminasi buatan (IB) dipandang sebagai suatu teknologi reproduksi tepat guna dan dapat diandalkan sebagai alat untuk pembangunan peternakan. Program IB telah sejak lama dilaksanakan di Indonesia. Perbaikan-perbaikan dalam upaya penyediaan pelayanan ini terus dilakukan dan pada saat ini dilaksanakan upaya pemantapan pelaksanaan IB melalui . penataan sistem, . perbaikan infrastruktur dan . meningkatkan SDM. Keberhasilan pelaksanaan program IB sangat tergantung dari SDM sebagai subyek pelaku pembangunan peternakan. Dalam pengembangan peternakan sapi potong. SDM yang merupakan ujung tombak pelaksanaan program adalah peternak pemilik sapi potong akseptor IB dan petugas teknis lapangan pelaksana IB/ Keterkaitan IB dengan program percepatan swasembada daging Badan Pengembangan SDM Pertanian untuk mengembangkan SDM yang profesional dalam rangka mendukung keberhasilan program tersebut. Sesuai dengan tantangan tersebut, maka diperlukan SDM aparatur yang memiliki kompetensi dalam melaksanakan penerapan teknologi IB melalui penyelenggaraan pelatihan IB bagi Calon Inseminator yang terstandar. Untuk itu, diperlukan pelatihan teknis IB bagi calon inseminator lewat penyelenggaraan pelatihan IB bagi Calon Inseminator yang juga terstandar. Pelaksanaan pelatihan teknis IB diharapkan dapat menjadi wadah para calon inseminator untuk mendapatkan ilmu teknologi reproduksi IB Sapi yang benar sehingga tersedia inseminator sapi yang terampil dan handal yang pada akhirnya akan meningkatkan populasi ternak sapi yang mendukung program percepatan swasembada daging. Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan Pelatihan IB bagi Calon Inseminator ialah . Meningkatkan kompetensi . engetahuan, keterampilan, melaksanakan tugas di wilayah kerjanya. Menyediakan inseminator yang mampu melaksanakan tugasnya secara efektif, efisien, dan berhasil dalam memperkecil service per conception (S/C) dan memperpendek calving interval. Mengembangkan kegiatan IB yang dapat berfungsi sebagai suplier sarana IB di wilayah kerjanya. Masalah dalam penelitian ini adalah: Seberapa besar efektivitas pendidikan pelatihan (Dikla. IB meningkatkan kinerja Inseminator? Seberapa Diklat produktivitas sapi? Berdasakan perumusan masalah di atas, maka penelitian bertujuan untuk: Menganalisis efektivitas penyelenggaraan Diklat IB terhadap peningkatan EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Menganalisis keberhasilan Diklat IB terhadap peningkatan pendapatan dan produktivitas sapi. Manfaat Penelitian adalah . sebagai bahan acuan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara Bogor dalam menyusun kebijakan program, khususnya mendukung program pengembangan sapi potong melalui IB. diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi bagi pihak yang terkait dalam menunjang pengembangan penyelenggaraan Diklat IB bagi Calon Insiminator. bagi pembaca dapat memotivasi dan dijadikan informasi untuk mengkaji lebih lanjut mengenai kinerja inseminator di lapangan. METODE PENELITIAN Penetapan lokasi kajian dilakukan secara sengaja . urposive samplin. , pada lokasi alumni peserta Diklat IB yaitu di delapan Provinsi (Jawa Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Banten. Lampung. Riau. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Bangka Belitun. Penelitian berlangsung selama 12 bulan terhitung 01 Agustus 2015 sampai 01 Agustus 2016. Subyek penelitian adalah alumni Diklat Calon Inseminator diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Hewan Cinagara Bogor pada tahun 2014. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara acak . andom samplin. sebanyak 72 orang atau 80 persen dari total alumni tahun 2014 yang berjumlah 90 orang. Penelitian bertipe deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan tanpa membuat perbandingan / menghubungkan dengan variabel yang lainnya. Penelitian ini bermaksud menggambarkan dan menganalisis pelaksanaan Diklat IB bagi Calon Inseminator dalam Peningkatan kinerja inseminator, produktivitas sapi serta pendapatan inseminator dan peternak pengguna IB. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu . Pelaksanaan Diklat IB, . Kinerja dan pendapatan alumni diklat IB. Euis Nia Setiawati Produktivitas sapi dan peternak pengguna IB. Instrumentasi atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan variabel Instrumen disusun dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai Menentukan variabel yang terpilih dan tercermin pada judul. Variabel tersebut dijabarkan dalam sub variabel yang diperoleh dari teori dan sehingga terjadi proses pemikiran ilmiah untuk mendapatkan informasi yang spesifik dari berbagai informasi. Menjabarkan sub-variabel bentuk indikator-indikator. Menjabarkan parameter agar komponen dapat ditentukan skala pengukuran dari sebuah pertanyaan. Seluruh butir pertanyaan dalam instrumen berupa kuesioner. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer yang diperoleh dari sampel/ responden dengan berpedoman pada kuesioner yang sudah disiapkan terlebih Inseminasi Buatan. Data diperoleh dari Unit Layanan Inseminasi Buatan (ULIB) dan UPT Dinas Peternakan dan peternak sebagai pengguna IB. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yang bertujuan untuk menggali atau membangun suatu proposisi atau menjelaskan makna dibalik realita, dimana peneliti berpijak pada realita atau peristiwa yang terjadi dilapangan (Bungin 2. Adapun teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian adalah analisa model interaktif . nteractive model of analisy. yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman . Analisis model ini terbagi menjadi tiga komponen, yaitu pengumpulan data, penyajian data dan reduksi data seperti digambarkan pada Gambar 1. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Reduksi Data Penyajian Data Pengumpulan Data Kesimpulan-kesimpulan penarikan/Verifikasi Gambar 1. Prosedur analisis dengan model interaktif Pada pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan suatu siklus yang interaktif dengan menunjukkan adanya kemauan yang sungguh-sungguh, komprehensif, kesimpulan yang induktif. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Diklat Iseminasi Buatan di BBPKH Ae Cinagara Bogor Berdasarkan Surat Keputusan Permentan Nomor 22/Permentan/ OT. 140/2/2007 Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara mempunyai Tugas Pokok dan Fungsi meningkatkan SDM di bidang peternakan dan kesehatan Program percepatan Swasembada merupakan implementasi kegiatan yang perlu didukung dengan kualitas SDM yang Salah satu kegiatan yang kualitas SDM di bidang peternakan khususnya teknologi reproduksi ternak adalah kegiatan pelatihan IB pada ternak bagi petugas calon inseminator. Pelaksanaan diklat IB diharapkan dapat menjadi wadah para calon inseminator untuk mendapatkan ilmu teknologi reproduksi IB Sapi yang benar sehingga tersedia inseminator sapi yang terampil dan handal yang pada akhirnya akan meningkatkan populasi ternak sapi guna mendukung program percepatan swasembada daging. Kegiatan Diklat IB di BBPKH Cinagara dilaksanakan selama 21 hari . fektif 19 har. , denganmateri terdiri dari teori selama 4 hari . %) dan praktik15 hari . %). Secara garis besar materi pelatihan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu . Kelompok dasar, . Kelompok inti dan . Kelompok penunjang. Mata ajaran teori diberikan dengan metode tatap muka, ceramah, brain storming, tanya jawab dan diskusi, sedangkan praktik dilakukan dengan metode praktik pembuktian teori, laboratorium, di Farm BBPKH / di kandang ternak sapi, kemudian dilanjutkan praktek lapangan/magang/praktek kerja lapang langsung melayani masyarakat peternak dan ternaknya. Selama kegiatan Diklat IB dilakukan evaluasi terhadap para peserta yang terdiri atas evaluasi awal . re test, teori, sebelum training dimula. , evaluasi akhir teori . ost test, setelah perkuliahan selesa. , evaluasi tengah . eori dan Prakte. di BBPKH Cinagara dan evaluasi akhir praktek . i lapangan, di peternak tempat mereka praktek lapan. Dari 72 responden alumni peserta Diklat IB yang diwawancarai, umumnya berumur 20 - 40 tahun, tingkat pendidikan SLTA berpengalaman melaksanakan inseminasi IB antara 1 - 2 tahun dengan jumlah akseptor antara 250 sampai 500 ekor. Frekuensi buatan antara 2 sampai 5 ekor per hari atau rata-rata perbulan 45 sampai 93 Data berdasarkan lokasi penelitian disajikan pada Tabel 1. EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Euis Nia Setiawati Tabel 1. Data distribusi responden berdasarkan lokasi penelitian Kabupaten Jumlah Responden Provinsi Jawa Barat Jawa Tengah 8,33 Jawa Timur 11,11 Banten Riau 8,33 Sumatra Utara 8,33 Sumatera Selatan Lampung Jumlah Tabel 2. Keadaan Responden Berdasarkan Umur Tabel 3 . Keadaan Responden Berdasarkan Pendidikan Umur (Tahu. Katagori Jumlah . Persentase (%) Pendidikan 20 - 27 Muda 27 - 34 Sedang Presentase (%) 35 - 40 Dewasa keberhasilan pelaksanaan Diklat sangat dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik meliputi kesesuaian program dengan pelaksanaan, fasilitas pelaksanaan. SDM . anitia pelaksanaan, pelayanan pelaksanaan, komunikasi antara panitia, fasilitator dan Faktor intrinsik adalah kesesuaian antara harapan atau keinginan dan kenyataan kebutuhan di lapangan. Katagori Jumlah . Persentase (%) SLTA Sedang 55,56 (Diploma. Cukup Tinggi Sarjana (S. Tinggi Untuk pengetahuan dan wawasan mengenai reproduksi dan penerapan teknik IB oleh Responden diperoleh hasil nilai pre test rata-rata sebesar 31,97 dan rataan nilai post test adalah 85,26, berarti ada peningkatan pengetahuan dan wawasan sebesar 53,29 atau sebesar 166%. Data nilai pre test dan post test disajikan pada Tabel 4 berikut. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Tabel 4. Nilai Pre Test dan Post Test Katagori Nilai Jumlah Pre Test Jumlah Post Test 20 - 30 31,95 31 - 40 37,50 41 - 50 30,55 71 - 80 6,95 81 - 9 76,39 91 - 100 9,72 Persentase (%) Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa sebaran nilai hasil pre test responden dengan nilai 20-30 ( nilai Terenda. sebesar 31,95%, nilai Sedang . sebesar 37,50% dan nilai Tertinggi . sebesar 30,55%. minimal pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai responden yaitu nilai Ini menunjukkan bahwa responden sebelum melakukan Diklat IB masih relatif di bawah standar, sedangkan pada hasil post test diperoleh nilai Cukup . sebanyak 6,95%, nilai Baik . sebanyak 76,39% dan nilai Sangat Baik . sebanyak 9,72%. Hal ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti Diklat IB, pengetahuan, sikap dan keterampilan responden dengan sebaran nilai yang merata dan memadai diatas standar Efektivitas hasil Diklat IB dapat dinilai keterampilan dan sikap yang diperoleh selama Diklat yang diterapkan responden pada kondisi nyata di lapangan dalam pengembangan peternakan di wilayah kerjanya, sehingga pelatihan berdaya guna dan bermanfaat bagi peternak pengguna IB. Evaluasi Efektivitas Diklat Inseminasi Buatan Data penerapan materi Diklat dalam tugas responden sebagai inseminator disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Penerapan Materi Diklat IB di Lokasi Peternakan Sapi No Pernyataan Menjelaskan bangsabangsa dan sistem perkawinan pada sapi Menjelaskan anatomi dan fisiologi reproduksi sapi Melakukan deteksi Menjelaskan produksi dan penanganan semen beku Kategori Jawaban Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Ukuran/ Parameter >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% Jumlah . Persentase (%) 4,16 86,11 9,72 6,94 81,94 11,11 15,27 9,72 2,77 87,50 9,72 EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK No Pernyataan Melakukan pencatatan kegiatan inseminasi buatan Melakukan teknik dan inseminasi buatan Kategori Jawaban Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Menerapkan sangat lengkap Menerapkan lengkap Menerapkan cukup lengkap Menerapkan kurang lengkap Tidak menerapkan Berdasarkan hasil yang disajikan pada Tabel 5 tampak bahwa seluruh materi yang diterima pada saat Diklat IB dan kemudian secara nyata diterapkan di wilayah kerjanya adalah rata-rata 9,72% responden menerapkan Sangat Lengkap, 83,3 % menerapkan Lengkap, dan 6,94% menerapkan Cukup Lengkap. Keadaan ini 83,3% menerapkan seluruh materi yang dipelajari selama Diklat IB. Dengan demikian Diklat IB yang diselenggarakan di BBPKH Cinagara Bogor Efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap responden sebagai inseminator yang kompeten dan profesional. Roger Lauer mengatakan bahwa suatu inovasi akan diterima pengguna apabila mempunyai keuntungan relatif, kecocokan dengan nilai-nilai/norma dan kebutuhan, murah dan mudah untuk dilaksanakan . idak rumi. , dapat dicoba sesuai kondisi dan dapat dikomunikasikan Menurut Strauss dan Leonard dikatagorikan atas tiga bentuk kepuasan yaitu: . puas memperoleh imbalan dari pekerjaan yang dilakukan. puas karena senang pada lingkungan tempat bekerja. puas karena pekerjaan tersebut Ketiga bentuk kepuasan ini erat kaitannya dengan motivasi seseorang terhadap pekerjaannya. Euis Nia Setiawati Ukuran/ Parameter >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% >80-100% >60-80% >40-60% >20-40% < 20% Jumlah . Persentase (%) 4,17 88,89 6,94 20,83 Efektivitas Diklat Inseminasi Buatan Peningkatan Kinerja Inseminator Berdasarkan pada hasil evaluasi informasi bahwa kegiatan Diklat IB menunjang tersedianya SDM petugas pelaksana lapangan di bidang reproduksi ternak sapi potong dengan keahlian sebagai inseminator untuk dapat mengcover akseptor IB di wilayah responden atau wilayah pembinaan program IB, . onception rat. pada populasi ternak sapi dan menurunnya jumlah service per conception (S/C) serta memperpendek waktu calving interval (CI), serta secara tidak langsung meningkatnya kelahiran . alving rat. Disamping itu juga merubah sistem peternakan dari tradisional menjadi intensif, maju dan mau bekerja Penilaian Efektivitas Program Diklat IB, dapat dilihat dari parameter efisiensi reproduksi, yaitu berdasar pada berapa persen tingkat kebuntingan yang dicapai dengan inseminasi pertama . onception rat. , berapa rata-rata hewan dikawinkan sampai menjadi bunting . ervice per conceptio. , dan berapa lama jarak dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya . alving Data Efisiensi Reproduksi inseminator responden disajikan pada Tabel 6. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Tabel 6. Kinerja Inseminator/Responden Parameter Profil Reproduksi Conception rate. CR (%) Service per conception. S/C Calving interval. CI . Kinerja Reproduksi Hasil IB Responden Saat Penelitian Kinerja Reproduksi Rata Aerata kondisi nyata saat penelitian Kinerja Reproduksi Rata Ae rata yang 46,14% 1,5-2,5 15,71 bulan 17-18 bulan 12-13 bulan Berdasarkan hasil evaluasi Tabel 6 tampak bahwa parameter efisiensi reproduksi sebagai hasil pelaksanaan inseminasi buatan oleh responden yaitu nilai S/C sebesar 2. CR 46,14 % dan calving inteval 15,7. Hal ini gambaran bahwa hasil pelaksanaan IB oleh Responden lebih baik atau berada diatas nilai rata-rata efisiensi reproduksi sapi pada kondisi nyata saat penelitian sesuai kondisi di Indonesiayaitu nilai S/C > 3. CR < 30 % dan calving inteval 24 Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan Diklat IB yang dilaksanakan oleh Responden memberikan kontribusi dalam peningkatan efisiensi reproduksi sapi di wilayah pengembangan peternakan sesuai lokasi alumni peserta Diklat/responden. Namun jika dibandingkan dengan target dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan . , hasil pelaksanaan IB oleh Responden relatif masih di bawah parameter kinerja reproduksi yang diharapkan sesuai kondisi Indonesia yaitu nilai S/C = 2. CR 50% dan calving inteval 12 bulan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh masih relatif pendeknya pengalaman responden dalam melaksanakan inseminasi buatan (IB) di lapangan . - 2 Tahu. Disamping itu adanya faktor lingkungan, yaitu tata laksana pemeliharaan oleh peternak yang masih semi intensif di beberapa lokasi pengembangan IB. Dalam hal ini keberhasilan IB sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan perilaku peternak dalam memelihara ternaknya, karena peternak adalah orang yang berinteraksi langsung dengan ternak, merawat, memberi makan, melaporkannya pada petugas inseminator. Putu et al. menyatakan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan difusi teknologi IB sangat kompleks, mulai pelayanan, kelemahan SDM petugas maupun peternak serta terbatasnya Toelihere . menyatakan bahwa nilai CR sebesar 50 persen untuk kondisi Indonesia sudah termasuk normal, dan jika di bawah 50 persen berarti menunjukkan wilayah tersebut memiliki ternak yang kurang subur. Sejalan dengan hal tersebut Vanderplassche dalam Hardjosubroto Astuti menyatakan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi produktivitas ternak adalah faktor lingkungan khususnya manajemen Efektivitas Diklat IB dalam Peningkatan Produktivitas Sapi Produktivitas induk betina sebagai hasil dalam pelayanan IB adalah kemampuannya melahirkan anak sapi dapat bertahan hidup yang merupakan hasil nyata dari penggunaan teknologi IB. Data populasi disajikan pada Tabel 7 berikut ini. EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Euis Nia Setiawati Tabel 7. Populasi Sapi Betina Dewasa Dan Jumlah Akseptor IB Di ULIB Responden Rata Ae rata Keadaan Populasi Tahun 2014 (Eko. Rata Ae Rata Keadaan Populasi Tahun 2016 (Eko. Betina Dewasa Akseptor Potensial Akseptor Aktif Betina Dewasa Akseptor Potensial Akseptor Aktif Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau /Pelelawan Sumatera Utara Sumatera Selatan Banten Lampung Rata Ae rata Populasi ULIB Responden Dari Provinsi Rata Ae rata Populasi Berdasarkan hasil evaluasi pada Tabel 7, jika dibandingkan antara populasi sapi sebelum mengikuti Diklat IB dengan IB, maka terlihat adanya peningkatan populasi betina dewasa dari rata-rata 462 ekor menjadi 550 ekor. Dalam hal ini, selama kurun waktu dua tahun terdapat peningkatan rata-rata populasi betina dewasa sebesar 19%. Akseptor potensial sebesar 10% dan akseptor aktif sebesar 14%. Dengan demikian Diklat IB menunjang peningkatan populasi sapi betina dewasa pada wilayah kerja Responden. Usri . menyatakan bahwa produktivitas ternak terkait erat dengan mutu genetik yang dimiliki ternak dan pengaruh faktor lingkungan. Oleh karena itu produktivitas ternak bergantung pada kedua faktor tersebut yang merupakan faktor pembatas. Produktivitas rendah dari ternak lokal kemungkinan disebabkan peranan yang sangat besar dari faktor genetik sebagai pembatas, walaupun pengaruh faktor lingkungan juga Berdasarkan kondisi tersebut, perubahan komposisi genetik dapat memberikan sumbangan yang penting terhadap usaha peningkatan produktivitas ternak, sedangkan perbaikan lingkungan berperan dalam memberikan suasana yang mendukung penampilan potensi Faktor yang cukup penting guna keberhasilan program IB dalam kaitannya dengan peningkatan produktivitas ternak adalah penggunaan pejantan. Etgen dan Reaves . menyatakan bahwa sangat besar keuntungan yang diperoleh dari IB Usri . menyatakan bahwa secara umum jantan lebih dominan dibandingkan betina dalam kontribusi genetik pada keturunan-keturunannya. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Efektifitas Diklat IB dalam Peningkatan Pendapatan Pendapatan Inseminator Keberadaan responden sebagai inseminator di lokasi sentra peternakan, populasi sapi. Oleh karena itu tingkat Inseminator dalam pelayanan IB pada sapi akseptor sangat dituntut keberadaannya. Inseminator yang memiliki tingkat keterampilan yang mumpuni dan handal tentu sangat dibutuhkan oleh para peternak sapi, sehingga jumlah permintaan pelayanan IB akan meningkat. Berdasarkan terhadap para responden diperoleh data bahwa pelayanan IB yang dilaksanakan, adalah melalui tiga cara, yaitu . pelayanan secara aktif, artinya responden . engguna jasa inseminasi buata. pelayanan secara pasif, dimana para responden menunggu laporan/permintaan pelayanan IB di pos IB dan kemudian datang memberi pelayanan. pelayanan semi-aktif, yang merupakan perpaduan dari keduanya. Terkait dengan pelayanan inseminator merupakan petugas yang berwirausaha di bidang pelayanan jasa inseminasi buatan terhadap para pemilik ternak yang memiliki akseptor. Menurut Simson yang disitasi oleh Media . menyatakan bahwa secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai selisih antara penerimaan usaha dengan biaya yang digunakan untuk melakukan usaha tersebut. Dijelaskan pula bahwa besarnya pendapatan bergantung pada skala usaha yang dilakukan. Untuk menghitung keuntungan/pendapatan dari transaksi pelayanan jasa inseminasi menggunakan rumus analisa ekonomi yang lazim digunakan pada kegiatan usaha lainnya, seperti R/C ratio. B/C ratio. Payback period. Laba atas Investasi (ROI). Return/Cost Ratio (R/C menurut Riyanto . adalah total penerimaan dibagi total biaya. Semakin besar nilai dari Return Cost Ratio maka semakin besar pula keuntungan yang Jika rasio antara penerimaan dengan total biaya produksi lebih dari satu keuntungan dan jika rasio kurang dari satu maka kegiatan usaha tersebut dikatakan merugi atau tidak memperoleh keuntungan (Siregar 1. Nilai R/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukkan perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = C). Dalam batasan besaran nilai R/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan penerimaan lebih besar dibandingkan Ada perbandingan antara Penerimaan (R) dengan Biaya (C), yaitu : R/C = 1. R/C >1 dan R/C < 1. Pendapatan Responden disajikan pada Tabel 8. Berdasarkan pada Tabel 8, dapat dihitung R/C ratio, yaitu Harga pelayan IB/dosis Rp 94. 375 dibagi biaya produksi Rp 41. 000 adalah 2,30. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pelayanan jasa inseminasi buatan mendapat nilai R/C lebih besar dari 1,0 (Untun. Dengan demikian kegiatan diklat IB dapat meningkatkan pendapatan responden. Riyanto . menyatakan bahwa, semakin besar nilai dari Return Cost Ratio maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Jika rasio antara penerimaan dengan total biaya produksi lebih dari satu maka usaha tersebut memperoleh keuntungan dan jika rasio kurang dari satu maka kegiatan usaha tersebut dikatakan merugi atau tidak memperoleh keuntungan (Siregar 1. Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar dibandingkan dengan biaya usaha. EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Euis Nia Setiawati Tabel 8. Pendapatan Responden Rata- rata Pelayanan IB per bulan . Harga Jual/dosis IB (R. Biaya/dosis (R. Pendapatan bersih dari Hasil IB (Rp/Bula. No. Provinsi Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Sumatera Utara Sumatera Selatan Banten Lampung Rata-rata Berdasarkan pada Tabel 8, maka dapat pula dihitung B/C ratio adalah laba Rp 53. 375 dibagi Rp 94. sehingga diperoleh nilai 0,56. para Responden menghasilkan nilai 0,56, yang berarti lebih besar dari 0,3. Ini berarti usaha pelayanan jasa inseminasi buatan dapat memberi keuntungan. Siregar . menyatakan bahwa B/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukkan perbandingan antara Laba Bersih (Benefit = B) dengan Total Biaya (Cost = C). Dalam batasan besaran nilai B/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak, maka analisis kelayakan dari B/C ratio adalah : B/C > 0,3 = Layak / Untung B/C = 0,3 = BEP B/C < 0,3 = Tidak Layak / Rugi Berdasarkan perhitungan B/C ratio dapat diketahui bahwa Pelayanan jasa IB oleh Untuk menjadi seorang inseminator tentu membutuhkan modal yaitu biaya Diklat, biaya mengurus SIMI (Surat Ijin Melakukan Inseminas. dan biaya membeli IB. Dengan pelayananan jasa IB perlu dihitung laba atas investasi (ROI) yaitu perbandingan antara laba bersih dengan uang yang Biaya Investasi seluruh biaya yang digunakan untuk investasi harta tetap dari suatu usaha Biaya investasi pelayanan Jasa IB disajikan pada Tabel 9 . Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Tabel 9. Rata-Rata Biaya Tetap/Investasi Menjadi Petugas IB (Inseminato. Jenis Biaya Tetap Kursus/Pelatihan IB Biaya Perlengkapan IB . hermos/ kontainer. AI gun, pinset, gunting, sepatu , pakaian kerja dll. Nama Alat Kontainer Thermos Gun IB Pinset Gunting Sepatu Boot Pakaian kerja Kendaraan Biaya mengurus SIMI Besarnya(R. Masa Pakai Masa pakai dari Rata-rata biaya investasi selama 10 tahun atau 120 Jadi besarnya biaya penyusutan adalah Rp 325. 830/bulan JUMLAH Berdasarkan data pada Tabel 9 dapat dihitung nilai Laba atas Investasi (Return on Investment = ROI), yaitu perbandingan antara laba bersih dengan uang yang diinvestasikan. Biaya investasi untuk kegiatan IB sebesar Rp 39. sedangkan laba bersih perbulan adalah Rp 3. Dengan demikian Nilai ROI dari kegiatan pelayanan jasa IB oleh Responden adalah sebesar 8,87% dalam setiap bulannya. Pendapatan Peternak Aplikasi teknologi IB merupakan salah satu teknologi unggulan untuk meningkatkan mutu genetik . roduktivitas ternak dan populasi terna. Berdasarkan hasil wawancara terhadap peternak pengguna IB yang dilaksanakan oleh Responden, diperoleh informasi bahwa anak sapi hasil IB lebih besar bobot badannya dibandingkan anak hasil kawin Faktor yang cukup penting untuk keberhasilan program IB dalam kaitannya dengan peningkatan produktivitas ternak adalah penggunaan berbagai bangsa Sumaryadi, et al. menyatakan bahwa daya reproduksi ternak sangat ditentukan oleh keberhasilan induk untuk menghasilkan anak yang sehat dan kuat pada saat penyapihan. Sedangkan bobot anak yang disapih ditentukan oleh bobot lahir anak, daya tahan anak selama prasapih dan produksi susu induk selama Data bobot lahir hasil IB oleh responden disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Data Bobot Pedet Hasil IB Responden dengan Bobot Lahir Kawin Alam Rata-rata bobot lahir pedet Sapi Madura Rata-rata bobot lahir pedet Sapi PO Rata Ae rata bobot lahir pedet Sapi Bali Kawin Alam Hasil IB dengan pejantan 24 - 30 26 - 32 25 - 31 Limosin / Simental 26,20 - 30 ,40 28,10 - 41. 26 - 32 Perkawinan Bobot lahir sapi potong hasil IB di responden adalah: untuk sapi Madura rataan antara 26,20-41,30 kg, sapi PO 28,10-41. 80 kg dan sapi Bali 2632 kg. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Usri . bahwa bobot lahir sapi potong persilangan hasil IB di Jawa Barat rata-rata antara 26,20 kg hingga 42 kg, sedangkan bobot lahir pedet sapi potong hasil kawin alam bervariasi antara 24-32 kg. Secara umum setiap jenis ternak mempunyai standar ukuran bobot badan EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAM PENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR Euis Nia Setiawati SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK berbeda-beda kemampuan genetik yang dimiliki oleh setiap bangsa ternak tersebut. dan Limba. Dalam hal ini ada selisih harga jual untuk pedet hasil IB dengan pedet kawin alam rata-rata sebesar Rp 500. sampai Rp 1. 000 sedangkan harga jual untuk sapi dara sebesar Rp 3. sampai Rp 4. Dengan demikian secara tidak langsung pemanfaatan perkawinan sapi menggunakan teknologi IB oleh responden dapat meningkatkan pendapatan peternak. Data harga jual sapi silangan hasil IB oleh responden disajikan pada Tabel Berdasarkan Tabel 11, ada perbedaan harga jual dari anak sapi lokal asli Indonesia yaitu Sapi Madura, sapi PO dan sapi Bali dengan sapi hasil IB oleh Responden. Sapi hasil IB merupakan persilangan antara sapi lokal dengan sapi impor yang diberi nama Madrasin. Limpo Tabel 11. Harga Jual Sapi Silangan Hasil IB Keterangan Harga Sapi Bakalan (Umur 3-4 bl. Harga Sapi umur potong 1 Sapi Madura Asli (R. Sapi Madrasin . ersilangan hasil IB) (R. 3-3,5 juta 4-5 juta 5 Ae 4 juta 5 Ae 5. 5 juta 3,0-3,5 juta 4,5 Ae 5 juta 5,5-7 juta 9-11 juta 7 Ae 7,5 juta 5 Ae 11 juta 6,0-7,5 juta 9,5-11. 5 juta Sapi PO Asli SIMPULAN DAN SARAN Efektivitas Penerapan Materi Diklat IB di wilayah kerja responden adalah 9,72 persen menerapkan Sangat Lengkap, 83,3% menerapkan Lengkap dan 6,94% Cukup Lengkap. Kinerja responden dalam efisiensi reproduksi adalah S/C 2,05. CR 46,14% dan calving inteval 15,7 bulan Hal ini berarti hasil pelaksanaan IB oleh Responden lebih baik atau berada di atas nilai rata-rata efisiensi reproduksi sapi pada kondisi nyata saat penelitian sesuai kondisi di Indonesia yaitu nilai S/C > 3,0 CR <30% dan calving inteval 24 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan Diklat IB yang dilaksanakan oleh responden memberikan kontribusi dalam peningkatan efisiensi reproduksi sapi di wilayah pengembangan peternakan sesuai lokasi alumni peserta Diklat IB. Sapi Bali Asli (R. (R. Sapi Limpo . ersilangan hasil IB) (R. Sapi Limba . ersilangan hasil IB) (R. Namun jika dibandingkan dengan target dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan . , hasil pelaksanaan IB oleh Responden relatif reproduksi yang diharapkan sesuai kondisi Indonesia yaitu nilai S/C = 2. CR 50% dan calving inteval 12 bulan Hasil Pelayanan IB Responden, dapat meningkatkan populasi sapi dewasa betina di wilayah kerjanya yaitu rata-rata sebanyak 19% selama dua tahun. Kegiatan Diklat IB dapat meningkatkan pendapatan responden rata-rata sebesar Rp 3. 000/bulan dengan kelayakan usaha adalah R/C ratio 2,3. B/C ratio 0,56 dan ROI 8,87% / bulan. Pelayanan IB dapat meningkatkan pendapatan peternak rata-rata sebesar Rp 3. 000 sampai Rp 4. 000 dalam kurun waktu dua tahun. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 DAFTAR PUSTAKA