Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 EDUKASI MASYARAKAT TENTANG LAYANAN KESEHATAN TERAPI WICARA DI KOTA PADANG Ilham Akerda Edyyul1*. Yuli Afmi Ropita Sari2. Wia Septia3. Okta Bima Hasanah4. Sri Rahmi Gustina5. Yulia Irwandah6. Sri Wahyuni Audia Putri7 1,2,3,4,5,6,7 Program Studi Diploma i Terapi Wicara STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang Email korespondensi: ilhamakerda2018@gmail. Article History: Received: 24 Desember 2023 Revised : 26 Desember 2023 Accepted: 29 Desember 2023 Kata Kunci: Terapi Wicara. Layanan Kesehatan. Edukasi Keywords: Speech Therapy. Health Services. Education Abstrak: Latar Belakang: Lalayanan kesehatan merupakan suatu upaya yang diselenggarakan sendiri atau organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan ataupun masyarakat. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi penting dari layanan terapi wicara. Oleh sebab itu diperlukan penyuluhan yang mengedukasi masyarakat Kota Padang yang ada dikawasan Car Free Day (CFD) terkait layanan terapi wicara secara tepat dan bijak. Metode: Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan Participatory Action Research yang terdiri atas planning, action, dan evaluation yang menjadi alternatif penyelesaian masalah di lingkungan masyarakat. Hasil: Pelaksanaan kegiatan ini mendapat respon yang baik dari masyarakat sangat berantusias dalam menerima informasi tentang layanan terapi wicara. Penilaian masyarakat tentang kesesuaian program mendapatkan skor rata-rata hasil 85,33 dengan klasifikasi sangat baik. Tim pengabdian melaksanakan pretest dan posttest nilai rata-rata sebanyak 24 poin. Abstract: Background: Health services are an effort carried out by oneself or an organization to maintain and improve health, prevent and cure disease and restore the health of individuals, families and/or However, there are still many people who do not know the important function of speech therapy services. Therefore, outreach is needed that educates the people of Padang City in the Car Free Day (CFD) area regarding appropriate and wise speech therapy services. Method: The method for implementing community service uses a Participatory Action Research approach which consists of planning, action and evaluation which is an alternative solution to problems in the community environment. Results: The implementation of this activity received a good response from the public who were very enthusiastic in receiving information about speech therapy services. The community's assessment of the suitability of the program received an average score of 85. 33 with a very good classification. The service team carried out a pretest and posttest with an average score of 24 ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 Pendahuluan Terapi wicara merupakan salah satu bentuk layanan kesehatan yang belum banyak dikenal oleh masyarakat. Terapi ini biasanya direkomendasikan oleh ahli kesehatan untuk orang-orang yang mengalami masalah wicara, bahasa, hingga kemampuan menelan. Terapi wicara diselenggarakan oleh tenaga profesional dan pusat layanan kesehatan yang secara sah diatur oleh negara. Berdasarkan pasal 1 PMK Nomor 81 Tahun 2014, terapi wicara adalah bentuk pelayanan kesehatan profesional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi, dalam bidang bahasa, wicara, suara, irama/kelancaran, komunikasi, dan Terapi wicara ditunjukkan bagi individu, keluarga, maupun kelompok yang mengalami gangguan atau kelainan anatomis, fisiologis, psikologis, maupun sosiologis yang memengaruhi kesehatannya, termasuk membantu pasien memproduksi bunyi dan suara, memahami bahasa, memiliki kelancaran dan kejelasan berbicara, hingga ekspresi. Terapis wicara biasanya menerapkan teknik-teknik khusus dalam memberikan Tentunya penerapan teknik tersebut bisa divariasikan secara signifikan sesuai dengan jenis gangguan bicara yang dimiliki pasien. Kebutuhan layanan terapi wicara semakin meningkat seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan mampu menyelamatkan pasien dengan berbagai gangguan penyakit tidak menular yang mengakibatkan berbagai gangguan organ. Keberhasilan tersebut memerlukan penanganan lanjutan untuk pemulihkan kemampuan komunikasi, bicara, dan menelan. Keberadaan terapis wicara sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peentingnya menyadari adanya gangguan bahasa, bicara, literasi, suara, resonansai, kognitif, irama kelancaran, makan dan menelan, rehabilitasi auditori, dan komunikasi multimodal yang memerlukan penanganan tepat. Tanggung jawab untuk menjaga kualitas hidup masyarakat di bidang terapi wicara agar mampu hidup mandiri dan produktif secara sosial maupun ekonomis, menuntut terapis wicara yang kompeten dan terstandar mencakup pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pelayanan terapi Cakupan layanan terapi wicara meliputi upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif dengan dasar pengetahuan dan keterampilan yang khusus dikembangankan untuk memberikan dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja terukur dan mendorong kemandirian profesi. Kesinambungan pelayanan merupakan salah satu pilar penting untuk mendapatkan pelayanan berkualitas mengatasi berbagai kebutuhan pelayanan terapi wicara. Sesuai dengan kopetensi terurkur, kode etik profesi, dan berbagai acuan baik dari pihak pemerintah. Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2018, prevalensi beberapa penyakit yang tidak menular yang berpotensi mengalami gangguan di bidang terapi wicara, menunjukkan peningkatan dari tahun 2013 yaitu. kanker dari 1,4 % menjadi 1,8%, stroke usia di atas 15 tahun dari 7% menjadi 10,9%, adapun penyandang disabilitas anak usia 5-17tahun 3,3%, dewasa rentang usia 18-59 tahun 22%, dan dengan lansia usia di atas 60 tahun adalah 1,6%. Profil Anak Indonesia 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 terdapat 1,11% anak usia 2-17 tahun mengalami disabilitas, dan 0,48% diantaranya mengalami gangguan komunikasi. Berdasarkan data diatas dan hasil wawancara awal tim pengabdian di kawasan Car Free Day (CFD) Kota padang kepada 10 orang ada menyatakan tidak tahu tentang keberadaan layanan terapi wicara bagi anak atau pun orang dewasa, dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang ada di masyarakat yaitu masih rendahnya pengetahuan masyarakat tetang layanan terapi wicara. Berdasarkan permasalahan tersebut, tim pengabdian membuat solusi tentang strategi promosi layanan terapi wicara agar dapat dipahami dan ketahui oleh masyarakat. Salah satu strategi yang diterapkan adalah edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak. Berdasar data dari Dinas Pendidikan Kota Padang terdapat sebanyak 25 siswa di TK/PAUD, 1. 020 siswa SD terdiri 230 orang siswa SMP dengan jumlah total 1. 275 yang mengalami masalah perkembangan. Bardasarkan data dan pernyataan di atas diperlukan suatu penyuluhan yang mengedukasi masyarakat terkait layanan terapi wicara secara tepat dan bijak untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pengabdian masyarakat ini penulis ingin memberikan informasi yang benar, obyektif mengenai layanan terapi wicara untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan diharapkan warga Kota Padang dapat mengerti danmemahami tentang layanan terapi wicara. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Participatory Action Research (PAR). Participatory Action Research merupakan metode relevan terkait pemberdayaan masyarakat dengan penerapan tiga langkah, diantaranya adalah planning, action, dan evaluation yang secara komprehensif bertujuan untuk memberikan pemahaman dan alternatif penyelesaian masalah di lingkungan masyarakat (Muhtarom, 2. (Rahman. Sembodo. Kurnianingsih. Razak. , & Amin. Al, 2. Pengumpulan data pengabdian dilakukan dengan teknik sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat secara langsung. Teknik ini relevan dengan pendekatan penyelesaian masalah dan peran serta . terapis wicara dalam memberdayakan masyarakat dalam memahami gangguan bahasa, bicara, literasi, suara, resonansai, kognitif, irama kelancaran, makan dan menelan, rehabilitasi auditori, dan komunikasi. Metode kegiatan pengabdian masyarakat diimplementasikan dalam beberapa tahapan, antara lain: . Tahap perencanaan . , terdiri atas: identifikasi masalah, dan analisis masalah. serta penyusunan program kegiatan. Tahap pelaksanaan . dimana tim pengabdian melakukan sosialisasi kegiatan pengabdian di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang. Tahap evaluasi . , evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilihat dari indikator kegiatan, diantaranya: kesesuaian program, kesesuaian materi dengan kegiatan pengabdian, antusiasme masyarakat (Utomo, 2. Kriteria keberhasilan kegiatan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat ini menggunakan kriteria dengan klasifikasi sebagai berikut: . 0-30%: kurang baik. 3159%: cukup baik. 60-79%: baik. 80-100%: sangat baik. Garis besar alur metode ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Alur Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Hasil Sosialisasi program ini dimanifestasikan sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Dosen Prodi D i Terapi Wicara STIKes Mercubaktijaya Padang sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi dan mendukung indikator kinerja utama Dosen berkegiatan di luar kampus. Lokasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Desember 2023 dengan rentangan waktu Pukul 08. 00 secara onsite. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat yang berada di kawasan Car Free Day (CFD) Kota padang, baik usia kanak-kanak, remaja, dewasa dan orangtua dengan sampel secara acak atau random. Jumlah masyarakat yang dilakukan sosialisasi sebanyak 90 orang. Topik kegiatan pengabdian masyarakat adalah sosialisasi layanan kesehatan terapi wicara. Tim pengabdian terdiri atas 7 anggota, terdiri dari 3 orang dosen, 2 orang tenaga pendidik dan dibantu 2 mahasiswa. Perencanaan Tim pengabdian melakukan identifikasi terhadap problem yang dihadapi masyarakat, khususnya masalah layanan kesehatan terapi wicawa. Permasalahan yang diketemukan ini berdasar hasil wawancara tim pengabdian dengan masyarakat yang berada di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang. Salah seorang yang berada di kawasan Car Free Day (CFD) Kota padang menceritakan bahwa dia tidak mengetahui bahwa adanya tenaga kesehatan yang mengani kasus gangguan bahasa, bicara, literasi, suara, resonansai, kognitif, irama kelancaran, makan dan menelan, rehabilitasi auditori, dan komunikasi. Tim pengabdian melakukan analisis masalah dengan melakukan diskusi dengan Tim menginginkan agar masyarakat dapat berperan aktif untuk terlibat dalam edukasi dan penyebaran luasan informasi tentang layanan kesehatan terapi wicara, sehingga dapat membantu terapis wicara dalam memberikan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan Tim pengabdian menyusun program kegiatan sesuai dengan hasil analisis masalah dengan konsep strategi yang diterapkan adalah edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak sosialisasi kegiatan pengabdian di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang untuk meningkakan pengetahuan masyarakat tentang layanan kesehatan terapi wicara. Leaflet Milestone dan red flags perkembangan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 bahasa bicara pada anak dapat dilihat dari gambar 2. Gambar 2. Milestone dan Red Flags Perkembangan Bahasa Bicara Anak Pelaksanaan/Aksi Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan sosialisasi dengan cara memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang layanan kesehatan terapi wicawa kepada masyarakat sebanyak 90 orang. Terapi Wicara menangani kasus antara lain: gangguan bahasa, bicara, literasi, suara, resonansai, kognitif, irama kelancaran, makan dan menelan, rehabilitasi auditori, dan komunikasi. Pelaksanaan/aksi dapat dilihat di link berikut https://youtu. be/tY7vAKm_PUU. Evaluasi Evaluasi kegiatan pengabdian diberikan kepada peserta dalam bentuk kuesioner setelah selesainya kegiatan penjelasan materi. Hasil evaluasi dapat dilihat pada tabel Tabel 1. Hasil evaluasi kegiatan pengabdian Indikator 1 Kesesuaian program 2 Kesesuaian materi dengan kegiatan 3 Antusias peserta Rata-rata Prosentase (%) 85,33 Klasifikasi Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan yang terangkum pada tabel 1 menunjukkan hasil sangat baik. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan program pengabdian masyarakat ini sudah sesuai, dan tersistem serta yang paling mendasar adalah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 Hasil pemahaman tindak lanjut strategi yang diterapkan adalah edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak. Tim pengabdian melaksanakan pretest dan Berikut hasil pemahaman dan respon peserta yang terangkum pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Pemahaman Tentang Milestone dan Red Flags Perkembangan Bahasa Bicara Anak Indikator Pretest Ket Motivasi internal Meningkat Aktivitas/ Pekerjaan Meningkat Umpan balik positif Meningkat Pemahaman Meningkat Berdasarkan hasil pemahaman tindak lanjut masyarakat menunjukkan tingkat pemahaman masyarakat dalam memahami penjelasan tentang edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak. Diskusi Tim pengabdian melakukan identifikasi terhadap problem yang dihadapi masyarakat, khususnya masalah layanan kesehatan terapi wicawa. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu komponen dalam sistem kesehatan nasional yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dalam Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang kesehatan, dijelaskan bahwa definisi dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. UU 36/2009 juga memberikan gambaran bahwa pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dan mencegah terjadinya permasalahan kesehatan masyarakat atau penyakit. Sedangkan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif berorientasi pada penyembuhan dan pengobatan suatu penyakit serta mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat. Akses menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam Jaringan merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu access yang mempunyai arti jalan masuk. Sehingga secara umum akses pelayanan kesehatan dapat diartikan sebagai suatu bentuk pelayanan kesehatan dengan berbagai macam jenis pelayanannya yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Secara umum akses dapat dibagi menjadi beberapa aspek, antara lain: akses geografis, ekonomi dan sosial. Akses geografis dapat dideskripsikan sebagai kemudahan menjangkau pelayanan kesehatan yang diukur dengan jarak, lama perjalanan, jenis transportasi, infrastruktur jalan. Akses ekonomi lebih menekankan kepada kemampuan masyarakat untuk mengalokasikan kemampuan finansialnya dalam menjangkau pelayanan kesehatan. Sedang akses sosial lebih pada masalah komunikasi, budaya, keramahan, dan kepuasan pelayanan (Laksono, 2. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 81 Tahun 2014 pasal 1, terapi wicara adalah salah satu jenis pelayanan kesehatan yang tenaga ahli profesional lakukan berlandaskan ilmu pengetahuan, teknologi dalam bidang bahasa, wicara, suara, irama atau kefasihan, komunikasi, dan menelan. Prosedur pengobatan ini untuk mengatasi masalah tumbuh kembang yang berkaitan dengan mulut, seperti telat bicara . peech dela. atau gangguan bicara efek dari sakit atau cedera. Salah seorang yang berada di kawasan Car Free Day (CFD) Kota padang menceritakan bahwa dia tidak mengetahui bahwa adanya akses layanan tenaga kesehatan terapi wicara. Akses pelayanan kesehatan seringkali dilihat hanya dari perspektif pemberi pelayanan saja, sementara akses dari sisi masyarakat sebagai pengguna kurang Penelitian tentang akses pelayanan kesehatan dari perspektif pengguna dirasakan masih sangat kurang. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dari sisi akses memerlukan perspektif yang lengkap dari dua sisi yang berbeda ini (Higgs. Bayne. & Murphy. , 2. (Leach. Wiese. Agnew. , & Thakkar. M, 2. Kondisi geografis Indonesia yang mempunyai banyak wilayah dengan karakteristik beragam, menghadapi tantangan tersendiri dalam menyelenggarakan pelayanan Tidak dapat dipungkiri, beberapa permasalahan kesehatan masyarakat yang tidak kunjung selesai, salah satunya adalah permasalahan akses (Mubasyiroh. Nurhotimah. , & Laksono. , 2. Contoh dari fenomena ini adalah pada layanan terapi wicara. Beberapa hal terkait aspek sosio-kultural terbukti berkontribusi pada akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, untuk itu diperlukan pembekalan khusus kompetensi kultural bagi petugas kesehatan untuk mengurangi hambatan yang disebabkan hal tersebut (Betancourt. Green. Emilio Carrillo. , & Park. , 2. (Chae. Lee. Asami. , & Kim. , 2. Memahami akses pelayanan kesehatan dari perspektif masyarakat sebagai konsumen dapat memberikan masukan yang berharga dalam sebuah proses perencanaan. Data mengenai masalah akses pelayanan kesehatan dapat digunakan pengambil kebijakan untuk mengidentifikasi dan mendukung prioritas dalam hal pendanaan untuk perbaikan (Higgs. Bayne. , & Murphy. , 2. Keterlibatan publik dalam penatalayanan sistem juga akan sangat penting untuk mencapai sistem berkualitas tinggi yang didasarkan pada bukti dan nilai-nilai ekuitas (Martin, 2. Tim pengabdian menyusun program kegiatan sesuai dengan hasil analisis masalah dengan konsep strategi yang diterapkan adalah edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak sosialisasi kegiatan pengabdian di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang untuk meningkakan pengetahuan masyarakat tentang layanan kesehatan terapi wicara. Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran, agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai media edukasi juga harus memuat materi yang dapat menggiring pembaca untuk menguasai satu atau lebih materi atau isi (Murni, 2. Menurut penelitian (Laksono, 2. Pemberian leaflet dapat memberikan perubahan pengetahuan masyarakat tentang obat tradisional yang dapat dilihat dari skor pengetahuan responden kelompok kontrol dan perlakuan yang ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 memiliki perbedaan yang bermakna. Dalam leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak menurut tim pengabdi penting untuk orangtua atau masyarakat mengetahui tentang fase atau tahapan perkembangan anak karena orangtua secara penuh bertanggung jawab akan tumbuh kembang anaknya. Menurut (IA Edyyul. YAR Sari. A Imanniyah, 2. intervensi pada anak adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menemukenali sedini mungkin gangguan/masalah pada anak. Sehingga masalah atau gangguan tersebut bisa dicarikan solusinya dan di atasi dari dini. Menurut penelitian (Arya Ramadia. Wiwik Sundari. Ika Permanasari. Jek Amidos Pardede, 2. menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua dengan anak usia 1-3 Tahun memiliki pengetahuan yang baik tentang tumbuh kembang Anak usia 1-3 tahun. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan (Khairayeni, 2. , didapatkan sebagian besar . ,9%) ibu balita memiliki pengetahuan yang baik. Tingkat pengetahuan juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah tingkat pendidikan, sesuai dengan teori yang dikemukakan (Notoatmodjo, 2. , pendidikan tidak lepas proses belajar dan pengajaran, pendidikan diperlukan untuk memperoleh keterampilan yang dibutuhkan manusia dalam hidup Maka semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin mudah memahami suatu informasi sehingga tingkat pengetahuannya semakin baik. Sosialisasi dengan cara memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang layanan kesehatan terapi wicawa, menurut hasil penelitian (Lima Cavaletti. Caldas, , & de Lima. C, 2. menemukan fakta bahwa pengetahuan masyarakat terhadap sistem administrasi dan sistem pelayanan pada sebuah fasilitas pelayanan kesehatan turut berkontribusi terhadap pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Sementara itu (Kien. Van Minh. Giang. Ng,N. Nguyen. Tuan. , & Eriksson. , 2. juga ditemukan bahwa ketidaktahuan petugas kesehatan tentang sistem administrasi dan sistem pelayanan kesehatan berdampak pada lemahnya pelayanan yang diberikan. Proses penyampaian informasi oleh petugas di fasilitas pelayanan kesehatan dikonfirmasi juga turut berkontribusi terhadap kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan (Dougan. Montori. , & Carlson. , 2. Hasil penelitian (Lungu. Obse. Darker. , & Biesma. R, 2. menyatakan bahwa masyarakat bersedia membayar 1,8 dan 2,4 kali lebih banyak untuk salah satu faktornya adalah sikap positif dari petugas kesehatan. Analisis Evaluasi Context . Evaluasi menjelaskan tentang konteks lingkungan yang relevan, menggambarkan kondisi yang ada dan yang diinginkan dalam lingkungan, dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi dan peluang yang belum dimanfaatkan. Dalam pengabdian ini Context yang dimaksud adalah sasaran dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat meliputi rumusan masalah dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, asset dan peluang dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hasil evaluasi kegiatan yang terangkum pada tabel 1 menunjukkan hasil sangat Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan program pengabdian masyarakat ini sudah sesuai, dan tersistem serta yang paling mendasar adalah sudah sesuai dengan kebutuhan Dari hasil penilaian masyarakat tentang kesesuaian program mendapatkan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) doi: https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2023, pp. 072 - 082 skor sebesar 78% dengan klasifikasi baik, untuk kesesuaian materi dengan kegiatan mendapat skor 92% dengan klasifikasi sangat baik, sedangkan untuk antusias peserta mendapat skor 86% dengan klasifikasi sangat baik dengan jumlah rata-rata hasil 85,33 dengan klasifikasi sangat baik. Hasil pemahaman tindak lanjut strategi yang diterapkan adalah edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak. Tim pengabdian melaksanakan pretest dan posttest dengan hasil motivasi internal terjadi peningkatan 17 poin, aktivitas/ pekerjaan dengan peningkatan 23 poin, umpan balik positif dengan peningkatan 30 poin, sedangkan pada aspek pemahaman sederhana meningkat sebanyak 26 poin dengan nilai rata-rata sebanyak 24 poin. Hasil-hasil pengabdian ini mengonfirmasi bahwa akses dan kualitas pelayanan kesehatan merupakan hubungan timbal balik. Tidak hanya dari perspektif penyedia layanan, tetapi juga dipengaruhi oleh perspektif pengguna atau masyarakat. Bagi masyarakat, sebagian menerima akses ke fasilitas pelayanan kesehatan rendah, obatobatan tidak tersedia atau bahkan tidak terjangkau. Namun, dalam semua permasalahan ini, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut jika ada kemauan politik (McKee, 2. , untuk itu pengabdi menyarankan ada kerlibatan pemerintah dalam melakukan edukasi kepada masyarakat terkait layanan kesehatan terapi wicara. Kesimpulan dan Saran Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dikemas dalam bentuk edukasi secara langsung dan membagikan leaflet yang berisi tentang Milestone dan red flags perkembangan bahasa bicara pada anak berjalan dengan sistematis, penuh antusias, dan lancar terkendali. Komunikasi yang positif dan dinamika interaksi yang baik antara Tim pengabdi dan masyarakat menunjukkan adanya wawasan pengetahuan baru, tidak hanya dimiliki oleh masyarakat, namun menjadi pengalaman bermakna bagi Tim terhadap dinamika edukasi layanan kesehatan terapi wicara di masyarakat. Disarankan perlu adanya kegiatan yang berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang layanan kesehatan terapi wicara dan perlunya keterlibatan pemerintah dalam melakukan edukasi. Ucapan Terima Kasih