e-ISSN: 3025-7905 p-ISSN: 3026-166X FUTURE ACADEMIA The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Volume 2. No 2. Juni 2024 pp. DOI https://doi. org/10. 61579/future. Preservasi Kebaya Tradisional di Era Modernisasi (Studi Kasus Salon Pengantin Yudistira Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jembe. Gesti Setyo Hadi1. Ayu Firza Noviyanti2. Alvina Setiyawati3 Universitas Jember. Jember,Indonesia *Corresponding author E-mail addresses: gestiapk1@gmail. ABSTRAK ARTICLE INFO Article history: Received May 26, 2024 Revised May 27, 2024 Accepted June 01, 2024 Available online June 01, 2024 Kata Kunci: Budaya Pakaian Adat. Kebaya Tradisional, dan Salon Pengantin Keywords: Traditional Clothing Culture. Traditional Kebaya, and Bridal Salon This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2023 by Author. Published by Yayasan Sagita Akademia Maju. Era modernisasi menjadi era perubahan dan perkembangan dalam segala aspek, salah satunya dalam aspek budaya. Budaya pakaian adat kebaya terutama kebaya tradisional telah mengalami perkembangan, baik dalam penggunaan maupun bentuk asli nya. Macam-macam bentuk kebaya tradisional mencerminkan daerahnya, selain itu, kebaya tradisional juga memiliki makna yang dalam. Perubahan terhadap kebaya dengan adanya moderenisasi, mengakibatkan berkurangnya makna yang terkandung dalam kebaya, juga kesakralan yang mulai Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak modernisasi bagi pemaknaan kebaya tradisional terhadap para Pemilik Salon Yudistira menjadi subjek dalam penelitian karena merupakan salah satu salon yang menyadari dampak modernisasi bagi kebaya dan berusaha melestarikan kebaya tradisional melalui promosinya secara langsung kepada Atas usahanya, pemilik Salon Yudistira ini mendapatkan penghargaan atas pelestarian budaya daerah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. ABSTRACT The era of modernization is an era of change and development in all aspects, one of which is in the cultural The culture of traditional kebaya clothing, especially traditional kebaya, has undergone development, both in its use and original form. The various forms of traditional kebaya reflect the region, besides that, traditional kebaya also has a deep meaning. Changes to the kebaya with the existence of modernization, resulting in a reduction in the meaning contained in the kebaya, as well as the sacredness that began to disappear. This research aims to analyze the impact of modernization on the meaning of traditional kebaya on teenagers. The owner of Salon Yudistira became the subject of the research because she is one of the salons that realizes the impact of modernization on kebaya and tries to preserve the traditional kebaya through direct promotion to her For his efforts, the owner of Salon Yudistira received an award for preserving regional culture. This research uses qualitative methods with data collection techniques in the form of observation and interviews. PENDAHULUAN Perkembangan budaya pada masa kini mengalami perkembangan secara signifikan, yang melatarbelakangi muncul dan berkembangnya budaya-budaya baru di masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan dan perkembangan zaman. Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. yang saat ini disebut dengan era modernisasi. Keragaman budaya di negeri ini memiliki banyak jenis, salah satunya adalah budaya dalam berpakaian. Pakaian adat menjadi salah satu budaya yang mengalami perubahan atas perkembangan zaman. Trismaya . mengutip Desmond Morris dalam Barnard . , pakaian dapat menjadi identitas nasional dan kutura dari orang yang memakai, karena pakaian menggambarkan afiiasi budaya seseorang atau pemakainya yang disebut dengan cultural display . ajangan buday. Pakaian yang dikenakan mencerminkan sosok dari pemakainya, memberikan penjelasan secara tidak langsung terhadap jati diri pemakai. Oleh karenanya, pakaian adat menjadi salah satu budaya yang muncul dari suatu wilayah atau daerah untuk menjadi identitas dari setiap daerah asalnya. Selain itu, pakaian yang hadir sebagai identitas daerahnya tidak diciptakan tanpa makna yang jelas. Pakaian-pakaian adat memiliki makna yang dalam baik dari bentuk maupun untuk memberikan makna terhadap pemakainya. Pakaian adat merupakan pakaian tradisional yang harus terus dilestarikan, hanya saja munculnya perkembangan zaman atau modernisasi meyebabkan ketertinggalan dari adanya pakaian tradisional. Rohmah dan Legowo dalam karyanya menjeaskan, adanya modernisasi dalam berpakaian diartikan sebagai perubahan dari cara atau tradisi berpakaian yang tradisiona menjadi lebih modern untuk mengikuti perkembangan zaman. Pengaruh buday abarat yang masuk ke Indonesia melalui teknologi yang semakin maju, menjadikan budaya barat kini menjadi bagian dari gaya atau budaya berpakaian remaja. Pada masa ini, budaya barat telah merubah tatanan tradisi yang telah terbentuk dari zaman dulu, perubahan ini terjadi pada penggunaan, bentuk, dan makna dari budaya pakaian Bahkan, penggunaan pakaian adat telah terganti dengan pakaian yang dibawa oleh budaya barat terutama bagi para remaja. Kebaya merupakan salah satu pakaian adat yang memiliki nilai dan makna mendalam sebagai identitas daerah dan pemakainya. Kebaya juga menjadi salah satu pakaian yang mengalami perubahan di era modernisasi ini. Banyaknya perubahan dalam budaya, menjadikan para pelaku budaya atau seniman untuk terus mencoba mengikuti perkembangan zaman agar budaya yang telah dipertahankan tidak mengalami keterbelakangan. Hal ini juga disebabkan oleh masuknya budaya lain yang lebih mendominasi perkembangan di era modern, sehingga memunculkan kreativitas bagi para seniman, salah satunya seorang desainer dalam mempertahankan kebaya dan menjadikan pakaian tradisional tersebut dapat bersaing di era modernisasi. Banyak desainer berlomba-lomba memodifikasi kebaya. Ha ini disebabkan oleh perkembangan kebaya yang semakin pesat, membuatnya cocok untuk digunakan dalam berbagai kesemptan, serta inovasinya yang terus Dengan adanya modifikasi pada bentuk kebaya baik secara sederhana maupun perubahan besar, memunculkan dampak negatif dan positif secara bersamaan. Menggabungkan budaya asing terhadap kebaya secara besar dan merombak bentuk kebaya, akan mengurangi makna dari pakaian adat itu sendiri, karena setiap bentuk dari kebaya memiliki makna tersendiri. Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. Begitu pula dengan profesi-profesi lain yang berkaitan dengan penggunaan kebaya, seperti pemilik salon pengantin yang juga menyediakan baju pengantin adat atau kebaya. Bagi orang-orang dengan profesi ini yang mengerti dengan makna setiap pakaian adat pernikahan akan memberikan segala cara yang mereka bisa untuk terus melestarikan kebaya di era modernisasi ini. salah satunya pemilik salon yang bernama Ibu Yudistira sebagai pemilik Salon Yudistira ini, yang terus berusaha melestarikan kebaya dan pakaian pengantin adat dengan caranya sendiri. Penelitian Terdahulu Adanya penelitian terdahulu sangat penting bagi suatu karya ilmiah, mencantumkan penelitian terdahulu yang relevan dengan kebutuhan riset bertujuan untuk memberikan dan memperkuat data. Selain itu, fungsi lainnya dalam kepenulisan ilmiah yaitu untuk analisis dan memuncukan data baru sebagai data perubahan maupun data tambahan. Terdapat dua peneliatian terdahulu yang penulis jadikan sebagai referensi dalam karya ilmiahnya yaitu, penelitian dengan judul AyStrategi Komunikasi Pada Komunitas Perempuan AuSelaksabayaAy Kabupaten Blitar dalam Memperkenalkan Kebaya di Aplikasi TiktokAy oleh Andiwi Meifilina . dan penelitian yang diakukan oleh Romindo M Pasaribu dkk . , dengan judul AuPemanfaatan Fanpage Facebook: Penjahit Kebaya dan Salon di Desa Siopat Sosor Kabupaten SamosirAy. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andiwi Meifilina . , penelitian ini membahas mengenai strategi yang dilakukan oleh suatu komunitas yang ada di Kabupaten Blitar bernama Salaksabaya. Komunitas Salaksabaya mempromosikan busana kebaya melalui sosia media, seperti Tik-tok. Instagram. Facebook dan Youtube. Promosi yang dilakukan berupa konten-konten yang dibuat untuk menarik perhatian masyarakat terhadap pakaian tradisional kebaya. Tujuan dari adanya promosi yang dilakukan oleh Salaksabaya adalah untuk memperkenalkan pakaian adat kepada kepada masyarakat. Selain itu, dalam karya ilmiah ini juga menjelaskan langkah-langkah untuk mencapai strategi dalam upaya promosi. Langkah-langkah yang tepat dalam upaya memperkenalkan kebaya sebagai pakaian adat wanita Indonesia yang harus terus dilestarikan. Karya ilmiah kedua yang penulis jadikan sebagai penelitian terdahulu oleh Romindo M Pasaribu dkk . , membahas mengenai strategi yang dapat diakukan oeh para penjahit kebaya dan pengusaha salon kecantikan untuk mempromosikan usahanya melalui media sosial berupa Facebook. Media sosial yang disarankan berupa Facebook Fanpage atau akun Facebook yang dikhususkan untuk halaman Sama halnya dengan penelitian dari Andiwi Meifilina, penelitian ini juga memberikan langkah-langkah dalam memulai promosi. Atas dasar naiknya pamor kebaya yang terjadi di beberapa tahun belakang ini khususnya di Kabupaten Samosir, maka usaha promosi ini dilakukan oleh penjahit dan salon kecantikan di Desa Siopat untuk menarik minat pelanggan. Berdasarkan dua penelitian yang dilakukan oleh Andiwi Meifilina . dan Romindo M Pasaribu dkk . , dapat disimpulkan bahwa kebaya merupakan Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. pakaian adat wanita Indonesia yang harus dilestarikan di tengah maraknya budaya asing yang masuk ke dan menguasai pangsa pasar saah satunya dalam cara Oleh karenanya, adanya komunitas-komunitas yang hadir untuk terus berusaha memperkenakan budaya negeri. Begitu pula dengan orang-orang yang memiliki usaha seperti penjahit kebaya dan salon. Mereka sebagai pelaku pelestari budaya adat pakaian kebaya terus mencoba untuk memperkenakan dan mempromosikan kebaya kepada masyarakat agar dapat terus bersaing di era perkembangan zaman ini. Mereka meakukan cara yang sama yaitu sama-sama menggunakan media sosial sebagai wadah untuk promosi. Perbedaan karya ilmiah ini dengan kedua karya ilmiah tersebut yaitu disaat keduanya menggunakan media sosial sebagai cara untuk mempromosikan kebaya, tetapi untuk penelitian ini peneliti menemukan ha yang berbeda pada cara promosi. Pelaku dalam penelitian ini merupakan pemilik salon pengantin yang bernama Salon Yudistira. Untuk mempromosikan kebaya, pemilik memiiki strategi untuk berbicara secara langsung kepada pelanggannya, cara ini dilakukan dengan memberikan pengertian dan makna kebaya secara mendalam kepada pelanggan. Sehingga, calon pengantin akan tetap memasukkan kebaya kedalam daftar pakaian yang akan dikenakan pada acara pernikahannya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi Studi fenomenologis menjabarkan mengenai konsep universal dari beberapa individu terkait beberapa pengalamaan hidup mereka yang berkenaan dengan suatu konsep ataupun fenomena yang terjadi (Creswell,2. Fokus utama dalam studi fenomenologis merupakan pemahaman yang mendalam serta konseptualisasi prihal pengalama hidup individu maupun kelompok mengenai suatu gagasan atau fenomena tertentu. Creswell menegaskan bahwa tujuan utama dalam studi fenomenologis merupakan untuk penjabaran secara universal yang didapatkan dari pengalaman hidup sejumlah orang terkait fenomena dan konsep Dalam studi ini, peneliti berusaha untuk memahami makna atau simbolsimbol tertentu yang timbul akibat pengalaman sejumlah individu tanpa memberikan interpretasi teoritis terlebih dahulu. Dalam pendekatan kualitatif peneliti akan dihadapkan dengan banyak opsi subjek penelitian. Namun guna mempermudah menentukan subjek penelitian, peneliti menggunakan teknik Sampling purposeseful. Dengan menggunakan teknik ini peneliti akan menetapkan kualifikasi informan guna menyeleksi subjek penelitan. Subjek penelitian yang dipilih merupakan seseorang yang paham dan memiliki pengalaman dalam busana kebaya. Dengan demikian subjek penelitian yang dipilih merupakan seseorang yang memiliki pekerjaan yang lekat kaitannya dengan kebaya. Peneliti berusaha untuk menggalai dan memahami bagaimana pemaknaan kebaya sebagai busana tradisional Indonesia yang kini mulai mengalami perubahan mengikuti era modernisasi. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kepatihan. Kecamatan Kaliwates. Kabupaten Jember yakni lebih tepatnya di Salon Yudistira. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan, diantaranya adalah observasi, interview serta dokumentasi. Tahapan awal yang dilakukan oleh Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. peneliti adalah melakukan observasi dengan mengamati secara langsung perilaku, aktivitas serta interaksi yang dialami oleh subjek. Kemudian yang kedua adalah tahapan interview atau wawancara. Melalui tahapan ini peneliti memahami bagaimana pandangan, pengalaman, serta pemahaman subjek penelitian mengenai Kebaya yang saat ini mulai mengalami perubahan mengikuti era modernisasi. Interview dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pemaknaan kebaya serta pendapat subjek mengenai kebaya modern. Interview atau wawancara mendalam dilakukan guan memperoleh data yang Dan yang terakhir merupakan teknik pengumpulan data melalui Hasil pengumpulan data melalui Teknik ini dapat berupa catatan teks, foto serta rekaman suara pada saat interview berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada zaman modern ini, teknologi dan pengetahuan menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas. Hal ini karena dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan manusia tidak terlepas dari teknologi. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, masih ada individu yang mempertahankan budaya tradisional mereka. Salah satu contohnya adalah penggunaan kebaya tradisional. Kebaya adalah pakaian tradisional yang biasanya dikenakan oleh wanita di Indonesia. Meskipun kini banyak pilihan busana modern, kebaya tetap digunakan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, upacara adat, dan perayaan nasional. Kebaya menjadi identitas kebudayaan perempuan Jawa yang sampai saat ini masih digunakan. (Rosa, 2. argues that culture is not an entity that can be organized and represented in a monolithic form. Pendapat tersebut menyatakan bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang bisa diatur dan diwakili dalam bentuk yang seragam atau Artinya, kebudayaan sangat beragam dan kompleks, tidak bisa disederhanakan menjadi satu bentuk saja. Setiap kelompok atau individu memiliki cara unik mereka sendiri dalam mengekspresikan dan menjalani kebudayaan Seperti halnya dalam penggunaan kebaya tradisional setiap individu bebas mengekspresikan kebudayaan mereka. Namun, di era modern ini masih ada kelompok masyarakat atau individu yang mempertahankan penggunaan kebaya tradisonal sebagai identitas kebudayaan mereka. Perempuan dan Kebaya Perempuan dan laki-laki bekerjasama dan berbagi peran serta fungsi sosial berlandaskan ajaran dan nilai-nilai adat (Prasetyo, 2. Perempuan dan laki-laki bekerja sama dan membagi tugas serta tanggung jawab sosial berdasarkan ajaran dan nilai-nilai tradisional. Artinya, laki-laki dan perempuan saling membantu dan menjalankan peran masing-masing sesuai dengan adat dan kebiasaan yang sudah ada dalam budaya mereka. Laki-laki Jawa dalam berbagai acara seperti upacara adat identik menggunakan jawi jangkep ataupun batik sebaliknya perempuan jawa identik dengan penggunaan kebaya. Perempuan dan kebaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kebudayaan Jawa. Kebaya menjadi ciri khas dalam berpakaian, khususnya bagi perempuan di Jawa. Di masa lalu, kebaya merupakan pakaian yang wajib digunakan Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. oleh perempuan Jawa. Tidak hanya dikenakan pada acara-acara penting seperti upacara adat, kebaya juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan Jawa mengenakan kebaya sebagai bagian dari rutinitas harian mereka, menunjukkan betapa pentingnya pakaian tradisional ini dalam budaya masyarakat jawa. Kebaya bukan hanya sekadar pakaian, tetapi juga simbol identitas dan warisan budaya masyarakat jawa. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Informan Ibu Yudistira berpendapat: AyKalau arti kebaya itu busana yang sudah ditetapkan oleh Jawa Tengah. Artinya busana Jawa untuk seorang wanita yang sudah dibakukan. Jadi, arti kebaya itu sendiri adalah busana yang menutup aurat untuk wanitaAy (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei 2. Kebaya memiliki arti sebagai busana yang menutup aurat untuk wanita. Jika dahulu kebaya identik dengan berlengan pendek dan menampilkan lekukan tubuh. Namun, pada era reformasi, bentuk dan fungsi kebaya mengalami perubahan (Trismaya, 2. Pengaruh globalisasi membawa berbagai perubahan pada model Model kebaya menjadi semakin beragam dan mulai meninggalkan aturan tradisional atau pakemnya sendiri, terutama di kalangan generasi muda. Kini, banyak anak muda yang mengadaptasi kebaya dengan gaya yang lebih modern dan sesuai dengan tren masa kini. Selain itu, kebangkitan paham-paham Islam juga mempengaruhi perubahan kebaya. Kebaya modern cenderung lebih tertutup dan tidak menunjukkan belahan dada. Model ini lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam yang dianut oleh banyak orang saat ini. Perubahan ini menunjukkan bagaimana kebaya, sebagai bagian dari budaya, dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan pengaruh dari luar. Meskipun mengalami perubahan, kebaya tetap menjadi simbol identitas dan warisan budaya yang penting bagi masyarakat Jawa. AuKalau untuk menutup aurat kan semua, tapi mereka (Kebay. memiliki aturan pakemnya sendiri. Kalau Bali itu harus ada ininya (Menunjuk ikat pinggan. Ay (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei 2. Selain perubahan bentuk kebaya yang kini lebih menutup aurat, ada perbedaan signifikan dalam penggunaannya pada masyarakat Bali, di mana sebagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu. Di Jawa, kebaya yang lebih tertutup muncul sebagai respons terhadap pengaruh globalisasi dan kebangkitan paham-paham Islam. Sementara itu, di Bali, kebaya tetap menjadi bagian penting dari pakaian tradisional yang digunakan dalam upacara keagamaan dan acara adat. AuDari segi artistiknya atau dari segi keindahan, jadi kalau orang Bali itu keindahannya adalah memperlihatkan lekukan tubuh. Karena dia (Orang Bal. tidak melarang untuk menonjolkan lekukan tubuh, jadi ada bagian-bagian yang bisa ditonjolkanAy (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei 2. Kebaya Bali memiliki ciri khasnya sendiri, sering kali dilengkapi dengan kain selendang yang melilit tubuh dan ikat pinggang. Meskipun bentuknya mungkin Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. berbeda dengan kebaya di Jawa, kebaya Bali tetap mempertahankan esensi tradisional dan digunakan sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama Hindu. Selain itu, di Jawa khususnya daerah Solo dan Yogya memiliki perbedaan dengan kebaya bali karena mayoritas penduduknya beragama islam. AuKalau Solo atau Yogya itu masih ada bagian yang tidak boleh ditonjolkan, karena sebagai penutup aurat dan karena sudah ada jarik. Jadi, tidak perlu menonjolkan bagian-bagian yang menarik seperti bokong dan seterusnya. Kalau Bali kan menonjolkan lekuk tubuh seperti, payudaranya, bokongnya, karena dia kan gerakan tarinya seperti Pendet kan kaya gituAy (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei 2. Perbedaan ini merupakan sibol budaya dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Melalui perbedaan ini menjadi bukti bahwa budaya tidak hanya berbentuk tunggal atau seragam. Setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing yang dapat ditonjolkan. Perbedaan ini juga menunjukkan bagaimana kebaya dapat beradaptasi dan bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat setempat. Di Bali, kebaya tetap menjadi simbol penting dalam ritual dan upacara, mencerminkan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia. Dampak Modernisasi Terhadap Budaya Kebaya Tradisional Modernisasi memiliki dampak yang negatif bagi kesenian, dimana masyarakat modern semakin kompleks kebutuhannya (Sari, 2. Dalam masyarakat yang semakin modern ini, menyebabkan ada banyak tuntutan dan kebutuhan baru yang membuat orang cenderung kurang memperhatikan atau menghargai kesenian tradisional. Akibatnya, kesenian bisa jadi kurang mendapatkan perhatian atau dukungan yang memadai. Seperti halnya dalam penggunaan kebaya tradisional, pada masa sekarang banyak anak muda mulai beralih menggunakan kebaya modern untuk menunjang fashion mereka. Kebaya modern memiliki desain yang lebih bervariasi dan mengikuti tren terkini, sehingga lebih menarik bagi generasi muda. AuModel sekarang itu sekarang bervariasi, ada yang kebaya modern, karena banyak yang muslim sekarang. Termasuk sepeti baju Encim untuk menutup lehernya, itu juga termasuk kebayaAy (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei Adanya modernisasi membuat kebaya memiliki bermacam-macam variasi. Kebaya pada masa kini muncul dengan berbentuk gaya dan desain yang berbeda. Ada kebaya dengan potongan yang lebih modern dan sederhana, serta yang tetap mempertahankan unsur tradisional namun dengan sentuhan yang lebih Hal tersebut memungkinkan masyarakat untuk memilih kebaya yang sesuai dengan selera dan gaya pribadi masing-masing individu. Dengan adanya variasi ini, kebaya tetap relevan dan dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun kasual, sesuai dengan perkembangan zaman. Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. Sejalan dengan pendapat Jameson yaitu, meyakini bahwa teknologi di era posmodern membuat konteks sebuah karya menjadi tidak natural lagi sebagaimana awal mula sebuah karya dibuat (Jameson, 2. Jameson percaya bahwa dalam era posmodernisme, penggunaan teknologi membuat konteks sebuah karya tidak lagi terasa alami seperti pada awalnya. Ini berarti bahwa pengaruh teknologi, seperti internet dan media digital, telah mengubah cara pikir masyarakat memahami dan menilai karya seni. Sebuah karya tidak hanya dilihat sebagai hasil kreativitas murni, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti media, pasar, dan budaya konsumsi massa. Hal ini menciptakan pengalaman yang berbeda dalam memahami dan menafsirkan karya seni, yang tidak lagi terasa sama alaminya seperti pada masa . Upaya Mempertahankan Pakaian Adat Kebaya Tradisional Oleh Pemilik Salon Pengantin Yudistira AuWalaupun muslim tapi kalau bisa busananya itu tetap menggunakan tradisional. Jadi, kebaya pengantin Jawa bisa disesuaikan. Sekarang kan banyak pengantin muslim menggunakan model abaya. Itu sebetulnya bukan mengacu pada budaya Indonesia, malah mengacu pada budaya arab. Sebetulnya kalau saya sarankan menggunakan kebaya tradisional. Saya juga mendapatkan lempengan emas (Penghargaa. karena saya melestarikan budaya. Setiap daerah itu memiliki pakaian tradisional yang harus dilestarikanAy (Ibu Yudistira. Pemilik Salon Pengantin Yudistira, 07 Mei 2. Upaya dalam mempertahankan kebaya tradisional yang dilakukan Informan adalah dengan cara menyarankan kepada calon pengantin untuk menggunakan kebaya tradisional yang mencerminkan pakaian kebudayaan masyarakat Jawa. Selain itu. Informan juga berpendapat bahwa perias seharusnya dapat merias pengantin sampai memakaikan kebaya sesuai dengan pakemnya . , informan mengkritik perias pada masa sekarang yang hanya bisa merias pengantin tanpa memakaikan kebaya pada calon pengantin. Anak muda pada masa sekarang umumnya memilih perias dari Instagram yang tidak masuk dengan adat budaya masyarakat Jawa. Informan juga mengkritik mengkritik kurangnya proses pengantin adat Jawa dalam pernikahan modern, dan menekankan pentingnya mempertahankan tradisi dalam memilih pakaian pengantin. SIMPULAN DAN SARAN Modernisasi dalam berpakaian diartikan sebagai perubahan dari cara tradisi berpakaian yang tradisional menjadi lebih modern untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia melalui teknologi yang semakin maju, menjadikan budaya barat kini menjadi bagian dari gaya atau budaya berpakaian remaja. Budaya barat telah merubah tatanan tradisi yang telah terbentuk dari zaman dulu, perubahan ini terjadi pada penggunaan, bentuk, dan makna dari budaya pakaian adat. Kebaya menjadi salah satu pakaian tradisional yang mengalami perubahan di era modernisasi. Banyaknya perubahan dalam budaya, menjadikan para pelaku budaya atau seniman untuk terus mencoba Future Academia. Vol. No. 2 Juni 2024, pp. mengikuti perkembangan zaman agar budaya yang telah dipertahankan tidak mengalami keterbelakangan. Hal ini disebabkan oleh masuknya budaya lain yang lebih mendominasi perkembangan di era modern, sehingga memunculkan kreativitas bagi para seniman, salah satunya seorang desainer dalam mempertahankan kebaya dan menjadikan pakaian tradisional tersebut dapat bersaing di era modernisasi. Dengan adanya modifikasi pada bentuk kebaya baik secara sederhana maupun perubahan besar, memunculkan dampak negatif dan positif secara Menggabungkan budaya asing terhadap kebaya secara besar dan merombak bentuk kebaya, akan mengurangi makna dari pakaian adat itu sendiri, karena setiap bentuk dari kebaya memiliki makna tersendiri. Perempuan dan kebaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kebudayaan Jawa. Kebaya menjadi ciri khas dalam berpakaian, khususnya bagi perempuan di Jawa. Di masa lalu, kebaya merupakan pakaian yang wajib digunakan oleh perempuan Jawa. Tidak hanya dikenakan pada acara-acara penting seperti upacara adat, kebaya juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kebaya bukan hanya sekadar pakaian, tetapi juga simbol identitas dan warisan budaya masyarakat jawa. Pengaruh globalisasi membawa berbagai perubahan pada model kebaya. Model kebaya menjadi semakin beragam dan mulai meninggalkan aturan tradisional. Disisi lain, kebangkitan paham-paham Islam mempengaruhi perubahan Kebaya modern cenderung lebih tertutup. Model ini lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam yang dianut oleh banyak orang saat ini. Perubahan ini menunjukkan bagaimana kebaya, sebagai bagian dari budaya, dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan pengaruh dari luar. Meskipun mengalami perubahan, kebaya tetap menjadi simbol budaya bagi masyarakat Jawa. Modernisasi menjadikan kebaya memiliki bermacam-macam variasi. Kebaya pada masa kini muncul dengan berbentuk gaya dan desain yang berbeda. Dengan demikian, adanya variasi ini, kebaya tetap relevan dan dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun kasual, sesuai dengan perkembangan zaman DAFTAR PUSTAKA