Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Kepemimpinan dan Manajemen Kesiswaan dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa SD Amaliah BogorAy Gugun Gunadi1 & Nur Amalia2 1,2 SD Amaliah Bogor Telp: 085718029996 E-mail: sdamaliahbgor@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-10-22 Revised : 2025-10-30 Accepted : 2025-11-01 KEYWORDS Leadership. Student Management. Discipline. Elementary School. Educational Management. School Achievement. Amaliah Elementary School Bogor KATA KUNCI Manajemen Kesiswaan. Kedisiplinan. Sekolah Dasar. Manajemen Pendidikan. Sekolah Berprestasi. SD Amaliah Bogor ABSTRAC Effective school leadership and student management play a crucial role in shaping student discipline and overall school performance. This study aims to analyze the leadership and student management practices implemented at Amaliah Elementary School. Bogor, in improving student discipline. The research employs a descriptive-analytical method to collect, describe, process, analyze, and interpret data in order to provide a systematic overview of the schoolAos management practices. The findings indicate that leadership and effective student management are key factors in building a disciplined and achievement-oriented school culture. The principalAos role as a leader involves not only administrative supervision but also motivational and participatory efforts to empower teachers and students. Furthermore, the collaboration among educational staff, students, parents, and the community significantly contributes to maintaining consistent discipline and fostering a conducive learning The study concludes that creating a high-achieving and disciplined school requires shared responsibility, continuous commitment, and professional dedication from all school stakeholders. ABSTRAK Kepemimpinan sekolah yang efektif dan manajemen kesiswaan yang baik memegang peran penting dalam membentuk kedisiplinan siswa serta meningkatkan kinerja sekolah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik kepemimpinan dan manajemen kesiswaan yang diterapkan di SD Amaliah Bogor dalam upaya meningkatkan kedisiplinan siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analitik, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, mengolah, menganalisis, dan menafsirkan data guna memperoleh gambaran yang sistematis mengenai praktik manajemen sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dan manajemen kesiswaan yang efektif merupakan faktor kunci dalam membangun budaya sekolah yang disiplin dan berorientasi pada prestasi. Peran kepala sekolah sebagai pemimpin tidak hanya terbatas pada pengawasan administratif, tetapi juga mencakup upaya motivasional dan partisipatif untuk memberdayakan guru dan siswa. Selain itu, kolaborasi antara tenaga pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat berkontribusi secara signifikan dalam menjaga konsistensi kedisiplinan serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mewujudkan sekolah yang berprestasi dan disiplin memerlukan tanggung jawab bersama, komitmen berkelanjutan, serta dedikasi profesional dari seluruh warga sekolah. 2 | JPI. Vol. No. November 2025 Pendahuluan Pendidikan merupakan pilar utama dalam proses pembangunan suatu bangsa. Melalui sistem pendidikan yang bermutu, manusia dapat berkembang menjadi individu yang berpengetahuan luas, berkarakter kuat, serta memiliki integritas moral yang tinggi. Sekolah dasar, sebagai jenjang pendidikan formal pertama yang dialami oleh anak, memiliki peranan strategis dalam menanamkan nilainilai dasar kehidupan seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan etika sosial. Kedisiplinan, dalam konteks ini, menjadi fondasi utama pembentukan karakter, karena melalui sikap disiplin peserta didik belajar untuk mengendalikan diri, menghargai waktu, serta mematuhi aturan yang berlaku di lingkungan sekolah dan masyarakat luas. Dalam tataran pendidikan dasar, kepemimpinan kepala sekolah dan sistem manajemen kesiswaan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter disiplin siswa. Kepala sekolah sebagai pemimpin institusi pendidikan tidak hanya bertugas mengelola aspek administratif dan operasional, tetapi juga berfungsi sebagai figur sentral yang memberi keteladanan moral dan menginspirasi seluruh warga sekolah untuk mewujudkan tujuan Kepemimpinan yang efektif akan melahirkan iklim sekolah yang kondusif, harmonis, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik secara menyeluruh. Selain aspek kepemimpinan, manajemen kesiswaan juga memegang peran penting dalam mendukung terciptanya kedisiplinan di lingkungan Manajemen kesiswaan mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengawasan terhadap aktivitas siswa, baik akademik maupun nonakademik. Pengelolaan yang terarah akan membantu sekolah membentuk pola pembinaan yang mendorong peserta didik menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Melalui sistem manajemen yang efektif, sekolah dapat menciptakan atmosfer belajar yang mendukung internalisasi nilainilai kedisiplinan, seperti kepatuhan terhadap tata tertib, ketepatan waktu, serta perilaku santun dalam SD Amaliah Bogor sebagai lembaga pendidikan dasar yang berkomitmen terhadap pembentukan karakter peserta didik telah mengintegrasikan nilainilai moral dan kedisiplinan ke dalam program akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler. Namun demikian, tantangan dalam pembinaan kedisiplinan masih ditemukan di lapangan. Fenomena seperti keterlambatan siswa, ketidakpatuhan terhadap peraturan sekolah, serta perilaku yang belum sepenuhnya mencerminkan disiplin menunjukkan bahwa proses pembinaan masih perlu diperkuat melalui strategi kepemimpinan dan manajemen kesiswaan yang lebih efektif dan adaptif. Peran kepala sekolah di SD Amaliah Bogor sangat strategis dalam menumbuhkan budaya Kepala sekolah diharapkan menjadi teladan utama dalam hal kedisiplinan serta mampu menjalin komunikasi yang baik dengan guru, siswa, dan orang Melalui kepemimpinan yang partisipatif dan humanis, kepala sekolah dapat menggerakkan seluruh elemen sekolah untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya disiplin sebagai bagian dari proses belajar. Kepemimpinan yang inspiratif, komunikatif, dan berorientasi pada pembinaan karakter akan mendorong guru untuk berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai disiplin melalui keteladanan, pembiasaan positif, dan penguatan karakter di setiap proses pembelajaran. Sementara itu, manajemen kesiswaan berfungsi sebagai sistem pengendali yang memastikan setiap kegiatan siswa berorientasi pada pembentukan perilaku disiplin. Aspek ini mencakup penyusunan peraturan dan tata tertib, pembinaan perilaku, penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang proporsional, serta pelibatan orang tua dalam Melalui manajemen yang terencana dan berkelanjutan, kedisiplinan tidak hanya diterapkan sebagai bentuk aturan formal, tetapi juga sebagai budaya yang hidup di lingkungan sekolah. Di era modern saat ini, tantangan pembentukan karakter disiplin semakin kompleks. Kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup, serta keterbukaan informasi membawa pengaruh besar terhadap perilaku peserta didik. Kondisi tersebut menuntut kepemimpinan kepala sekolah dan sistem manajemen kesiswaan untuk lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, melalui penerapan strategi yang inovatif dan edukatif. Misalnya, dengan mengembangkan program reward and punishment yang mendidik, menumbuhkan pembiasaan positif, serta membangun kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan budaya disiplin yang Penelitian mengenai kepemimpinan dan manajemen kesiswaan dalam meningkatkan kedisiplinan siswa menjadi penting karena dapat memberikan gambaran empiris tentang bagaimana kedua aspek tersebut diimplementasikan di sekolah dasar, khususnya di SD Amaliah Bogor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kepemimpinan dan sistem manajemen yang sudah Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 3 berjalan, serta memberikan rekomendasi praktis dalam pembinaan karakter disiplin peserta didik. Selain memiliki nilai praktis, penelitian ini juga relevan secara teoritis. Dari sisi teori, hasil penelitian dapat memperkaya khazanah keilmuan di bidang kesiswaan, terutama terkait pembentukan karakter disiplin di tingkat sekolah dasar. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dalam mengembangkan strategi pembinaan kedisiplinan yang efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan konteks sekolah masing-masing. Dengan demikian, upaya meningkatkan kedisiplinan siswa di SD Amaliah Bogor tidak dapat dilepaskan dari sinergi antara kepemimpinan kepala sekolah dan sistem manajemen kesiswaan. Keduanya harus berjalan selaras dan saling memperkuat untuk menciptakan lingkungan belajar yang tertib, nyaman, serta kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional. Melalui kepemimpinan yang visioner dan manajemen yang profesional, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, disiplin, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. Di era modern saat ini, tantangan pembentukan karakter disiplin semakin kompleks. Kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup, serta keterbukaan informasi membawa pengaruh besar terhadap perilaku peserta didik. Kondisi tersebut menuntut kepemimpinan kepala sekolah dan sistem manajemen kesiswaan untuk lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, melalui penerapan strategi yang inovatif dan edukatif. Misalnya, dengan mengembangkan program reward and punishment yang mendidik, menumbuhkan pembiasaan positif, serta membangun kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan budaya disiplin yang Tinjauan Literatur Menurut Schein . , manajemen merupakan suatu profesi yang menuntut setiap individu di dalamnya untuk bekerja secara profesional. menjelaskan bahwa manajemen sebagai profesi memiliki beberapa karakteristik penting. Pertama, para profesional dalam bidang manajemen harus mampu membuat keputusan berdasarkan prinsipprinsip umum yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis. Kedua, status sebagai seorang profesional tidak diperoleh secara otomatis, tetapi melalui proses pembelajaran, pengalaman, dan pencapaian standar kompetensi tertentu yang diakui oleh organisasi maupun masyarakat profesional. Ketiga, setiap profesional di bidang manajemen diharuskan untuk berpegang teguh pada kode etik yang kuat, yang menjadi pedoman dalam menjalankan tanggung jawabnya agar tidak menyimpang dari nilai-nilai moral dan keadilan. Terry . memberikan definisi yang melengkapi pandangan Schein dengan menyatakan bahwa manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan kegiatan membimbing dan mengarahkan sekelompok orang menuju pencapaian tujuan-tujuan organisasi yang nyata. Dalam proses tersebut, manajer dituntut untuk memahami apa yang . , . , melakukannya . , serta bagaimana mengukur hasil dari usaha yang telah dijalankan . Empat fungsi dasar tersebut kemudian dikenal sebagai fungsi-fungsi manajemen klasik, yang menjadi kerangka kerja bagi seluruh aktivitas Konsep Kepemimpinan dalam Pendidikan Schein . , kepemimpinan merupakan suatu profesi yang menuntut profesionalisme tinggi dalam mengambil keputusan berdasarkan prinsip dan nilai moral yang jelas. Dalam konteks sekolah, kepemimpinan yang profesional berarti kepala sekolah dan guru harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, bukan sekadar pada pencapaian akademik. Kepemimpinan yang efektif harus memiliki tiga komponen utama: kemampuan berpikir strategis, kemampuan mengelola sumber daya manusia, dan integritas moral dalam setiap Terry . , kepemimpinan dalam manajemen adalah suatu proses yang melibatkan pengarahan dan bimbingan terhadap sekelompok orang menuju tujuan tertentu. Dalam dunia pendidikan, proses ini tampak dalam kegiatan kepala sekolah ketika mengarahkan guru dan siswa agar melaksanakan tata tertib serta nilai-nilai kedisiplinan dengan kesadaran, bukan karena paksaan. Pemimpin yang efektif adalah mereka yang memahami bagaimana menggerakkan hati dan pikiran anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama dengan sukarela. Mary Parker Follet, yang dikutip oleh Wijayanti . , menyebut kepemimpinan sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Dalam konteks sekolah, hal ini bermakna bahwa kepala sekolah tidak bekerja sendiri, tetapi mengoptimalkan kolaborasi antara guru, staf, dan orang tua siswa. Kepemimpinan yang demokratis di SD Amaliah Bogor tampak dalam kemampuan kepala sekolah Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 4 | JPI. Vol. No. November 2025 mengajak seluruh pihak terlibat dalam penyusunan berpakaian, serta pembentukan budaya antre dan tepat waktu. Manajemen Kesiswaan sebagai Instrumen Pembentukan Disiplin Manajemen kesiswaan adalah bagian integral dari manajemen pendidikan yang berfokus pada pengelolaan peserta didik sejak mereka masuk hingga lulus dari sekolah. Menurut Stoner dalam Wijayanti . , manajemen mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam konteks SD Amaliah Bogor, fungsi-fungsi manajemen ini diterapkan secara sistematis dalam mengatur seluruh aspek kegiatan siswa agar mendukung terciptanya perilaku disiplin. Perencanaan (Plannin. Perencanaan manajemen kesiswaan di SD Amaliah Bogor dimulai dari penyusunan tata tertib sekolah yang jelas, realistis, dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Kepala sekolah bersama guru menyusun program pembiasaan seperti Gerakan Disiplin Pagi, program literasi sebelum belajar, serta pengawasan waktu datang dan pulang sekolah. Setiap kegiatan dirancang untuk menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya disiplin waktu dan tanggung jawab pribadi. Pengorganisasian (Organizin. Dalam tahap ini, kepala sekolah membentuk struktur organisasi kesiswaan yang melibatkan guru pembimbing, wali kelas, dan tim kedisiplinan. Pembagian tugas yang jelas memungkinkan setiap pihak berperan aktif dalam pembinaan karakter Misalnya, guru pembimbing bertanggung jawab atas kedisiplinan di kelas, sementara tim kesiswaan memantau pelaksanaan kegiatan di luar kelas, seperti upacara dan kegiatan ekstrakurikuler. Pelaksanaan (Actuatin. Pelaksanaan program kesiswaan di SD Amaliah Bogor tidak hanya dilakukan melalui penegakan aturan, tetapi juga melalui kegiatan edukatif yang membangun kesadaran disiplin dari dalam diri siswa. Contohnya adalah pemberian penghargaan bagi siswa yang konsisten hadir tepat waktu atau menunjukkan sikap sopan santun. Pendekatan positif ini terbukti lebih efektif daripada pendekatan hukuman, karena mendorong siswa untuk berperilaku disiplin secara sukarela. Pengawasan (Controllin. Pengawasan dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem absensi, pengamatan langsung, dan laporan dari guru. Kepala sekolah memantau efektivitas program kesiswaan dengan mengevaluasi sejauh mana kegiatan yang direncanakan berjalan sesuai tujuan. Apabila ditemukan kendala, seperti keterlambatan siswa atau pelanggaran tata tertib, maka dilakukan pendekatan pembinaan individual yang bersifat edukatif dan bukan represif. Sinergi Kepemimpinan dan Manajemen Kesiswaan Kedisiplinan siswa tidak dapat ditingkatkan hanya melalui penerapan aturan yang ketat, melainkan melalui sinergi antara kepemimpinan yang efektif dan manajemen kesiswaan yang terarah. Kepala sekolah SD Amaliah Bogor berperan sebagai role model yang mencontohkan perilaku disiplin, seperti datang tepat waktu, berpakaian rapi, dan menghargai waktu belajar. Keteladanan ini menciptakan budaya organisasi yang menular kepada guru dan siswa. Selain itu, kepemimpinan yang partisipatif mendorong guru untuk terlibat aktif dalam perumusan kebijakan kedisiplinan. Setiap keputusan yang diambil melalui musyawarah cenderung lebih mudah diterima dan dijalankan oleh seluruh warga Sinergi antara pemimpin dan anggota organisasi inilah yang menjadi kunci terciptanya kedisiplinan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini Sekolah Dasar Amaliah Bogor, manajemen kesiswaan juga diarahkan untuk membangun sistem penghargaan . eward syste. dan konsekuensi . onsequence syste. yang Misalnya, siswa yang menunjukkan disiplin tinggi diberi pengakuan di depan temantemannya, sementara siswa yang melanggar tata tertib diberi pembinaan dengan pendekatan empatik. Pendekatan ini tidak hanya menanamkan rasa tanggung jawab, tetapi juga memperkuat nilai moral dan sosial dalam diri siswa. Manajemen dan kepemimpinan bukan hanya sekadar proses administratif, melainkan juga sarana pembinaan karakter yang berorientasi pada pembentukan manusia yang bertanggung jawab, jujur, dan berakhlak mulia. Dengan sinergi yang kuat antara kedua aspek tersebut. SD Amaliah Bogor dapat menjadi contoh sekolah dasar yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter disiplin yang menjadi bekal penting bagi siswa dalam kehidupan sosial di masa Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif analitik bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan mendalam fenomena Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 5 kepemimpinan serta manajemen kesiswaan yang diterapkan di Sekolah Dasar Amaliah Bogor, sekaligus menganalisis pengaruh penerapan tersebut terhadap peningkatan kedisiplinan siswa. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman makna di balik tindakan, kebijakan, dan perilaku subjek penelitian dalam konteks yang alami . atural settin. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menelusuri secara mendalam bagaimana kepala sekolah, guru, dan pihak sekolah lainnya melaksanakan kepemimpinan serta manajemen kesiswaan dalam upaya membentuk perilaku disiplin siswa. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Amaliah Bogor, yang terletak di Kota Bogor. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena sekolah tersebut dikenal memiliki sistem manajemen kesiswaan yang tertata dengan baik serta program pembinaan disiplin yang Kegiatan penelitian berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari Maret hingga Juni Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian terdiri atas individu-individu yang memiliki informasi relevan mengenai pelaksanaan kepemimpinan dan manajemen kesiswaan di SD Amaliah Bogor, meliputi: Kepala sekolah Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan Guru kelas dan guru Bimbingan Konseling (BK) Beberapa siswa terpilih Orang tua siswa . ebagai data pendukun. Adapun objek penelitian berfokus pada tiga aspek utama, yaitu: A Kepemimpinan kepala sekolah A Manajemen kesiswaan A Kedisiplinan siswa Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang komprehensif, penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: A Observasi: Dilakukan secara langsung di lingkungan sekolah guna mengamati aktivitas yang berkaitan dengan penerapan tata tertib, perilaku disiplin siswa, serta gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mengarahkan warga A Wawancara: Diterapkan secara semi-terstruktur kepada kepala sekolah, guru, dan siswa untuk kepemimpinan, pelaksanaan program kesiswaan, dan upaya pembinaan kedisiplinan siswa. A Dokumentasi: Dilakukan dengan menelaah dokumen sekolah seperti tata tertib, program kesiswaan, laporan kegiatan, data kehadiran, dan catatan pelanggaran disiplin siswa. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahap utama: A Reduksi Data: Menyaring dan memfokuskan data hasil observasi, wawancara, serta dokumentasi agar sesuai dengan fokus penelitian. A Penyajian Data (Data Displa. : Menampilkan data yang telah direduksi dalam bentuk narasi, tabel, atau bagan untuk memudahkan peneliti melihat keterkaitan antarvariabel. A Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi: Membuat diverifikasi melalui teknik triangulasi untuk memastikan validitas dan keandalan hasil Uji Keabsahan Data Keabsahan data diperoleh melalui beberapa teknik, antara lain: A Triangulasi sumber: Membandingkan data dari kepala sekolah, guru, dan siswa. A Triangulasi teknik: Menggabungkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. A Member check: Mengonfirmasi hasil wawancara dengan informan untuk memastikan kesesuaian dengan maksud mereka yang sebenarnya. Langkah-Langkah Penelitian A Menyusun rancangan penelitian serta instrumen pengumpulan data. A Mengajukan izin penelitian ke Sekolah Dasar Amaliyah Bogor A Melaksanakan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. A Melakukan analisis data secara deskriptif dan A Menyusun laporan akhir hasil penelitian. Hasil Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Sekolah di SD Amaliah Bogor Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi efektivitas manajemen sekolah dalam upaya mewujudkan SD Amaliah Bogor sebagai sekolah Uraian berikut menjelaskan faktorfaktor tersebut. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 6 | JPI. Vol. No. November 2025 Fasilitas Pendidikan Fasilitas pendidikan mencakup sarana dan pembelajaran serta kegiatan pendukungnya. Keberadaan fasilitas merupakan elemen penting dalam penyelenggaraan pendidikan karena tanpa dukungan fasilitas yang memadai, kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung secara optimal. Secara umum, fasilitas pendidikan meliputi lahan, ruang belajar, perabotan, peralatan, bahan praktik, bahan ajar, serta sarana olahraga. Ketenagaan Dari sisi jumlah, tenaga pendidik di SD Amaliah Bogor telah mencukupi. Namun, dari segi kualifikasi akademik, masih terdapat beberapa guru yang mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ketidaksesuaian ini bukan semata tanggung jawab sekolah, melainkan juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, seperti: A Perubahan kurikulum yang menghapus beberapa mata pelajaran. A Kebijakan perpindahan guru antarjenjang atau antarinstansi yang menyebabkan guru mengajar di luar bidang keahliannya. A Ketidaksesuaian tersebut berdampak pada kurang optimalnya penyampaian materi karena guru tidak memiliki dasar pengetahuan yang cukup pada bidang pelajaran yang diajarkan. Siswa Ciri khas siswa di sekolah berprestasi ialah memiliki kecerdasan dan kemampuan yang baik serta berprestasi dalam berbagai bidang. Namun, di SD Amaliah Bogor masih ditemukan beberapa kendala, antara lain: A Penguasaan pengetahuan: kemampuan siswa dalam mencari, memahami, dan menafsirkan informasi belum optimal, terutama dalam menjawab pertanyaan yang bersifat analitis. A Keterampilan: masih ada siswa yang kurang disiplin, datang terlambat, tidak teliti dalam menjawab soal, dan kurang tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. A Daya nalar dan kreativitas: siswa kurang mampu menciptakan ide baru serta memiliki inovasi dalam memecahkan masalah. Untuk mengatasi hal tersebut, langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain: A Melakukan seleksi siswa dengan kriteria yang A Menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan belajar siswa. A Melibatkan tenaga pendidik yang kompeten. A Menyediakan fasilitas belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa. A Mengelola dana secara efektif untuk mendukung peningkatan kualitas sekolah. A Mengoptimalkan manajemen dan strategi A Meningkatkan mutu proses pembelajaran agar dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan. Kepala sekolah memiliki peran sentral dalam memberdayakan seluruh unsur sekolah dan Ia harus mampu menjalankan fungsinya sebagai Edukator. Manajer. Administrator, dan Supervisor (EMAS) serta sebagai Leader. Innovator, dan Motivator (EMASLIM). Dengan peran tersebut, kepala sekolah menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang efektif dan berprestasi. Perencanaan dan Evaluasi Dalam paradigma manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah memiliki kewenangan merancang perencanaan sesuai kebutuhan sekolah . choolbased pla. Perencanaan ini didasarkan pada hasil analisis kebutuhan dan disertai evaluasi internal secara jujur, adil, dan transparan untuk menilai keberhasilan program yang dijalankan. Kurikulum Kurikulum nasional disusun oleh pemerintah pusat, namun sekolah memiliki kewenangan untuk mengembangkan silabus sesuai karakteristik siswa dan kebutuhan masyarakat. Kepala sekolah perlu memahami tiga landasan utama kurikulum, yaitu: ilmu pengetahuan, kebutuhan siswa, dan relevansi dengan masyarakat. Selain itu, kepala sekolah perlu mendorong guru untuk memahami dan mengimplementasikan kurikulum dengan baik melalui seminar, lokakarya, atau pelatihan bersama narasumber ahli. Pembelajaran Sekolah berprestasi ditandai oleh proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Kepala sekolah berperan dalam memastikan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang digunakan bersifat aktif, kreatif, dan kontekstual, serta melibatkan lingkungan dan masyarakat sebagai sumber belajar. Ketenagaan Kepala sekolah perlu melakukan perencanaan pengembangan tenaga kependidikan agar tidak Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 7 terjadi ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru. Selain itu, pengembangan profesionalisme guru harus didorong melalui kesempatan studi lanjut . isalnya dari D1 hingga S. serta partisipasi dalam seminar pendidikan. Tenaga kependidikan non-guru, seperti staf tata usaha, juga perlu ditingkatkan kompetensinya dalam hal teknologi informasi, sistem manajemen, dan administrasi sekolah. Fasilitas Pendidikan Dalam konteks manajemen modern, sekolah berwenang mengelola fasilitas pendidikan, termasuk pengadaan, pemeliharaan, dan pengembangannya. Kepala sekolah harus memastikan fasilitas yang disediakan benar-benar menunjang kegiatan pembelajaran yang efektif. Namun, keberadaan fasilitas saja tidak menjamin keberhasilan. perlu ada pemanfaatan yang tepat agar siswa memperoleh pengalaman belajar nyata, bukan sekadar teoritis. Keuangan Pengelolaan keuangan harus berada di bawah koordinasi kepala sekolah agar alokasi dana lebih jelas dan efisien. Kepala sekolah diharapkan dapat mengelola sumber pembiayaan secara prioritas dan strategis untuk mendukung sarana belajar, meningkatkan citra sekolah, serta memastikan efektivitas penggunaan dana. Peserta Didik Kepala sekolah perlu memperhatikan seluruh aspek yang berkaitan dengan peserta didik, mulai dari penerimaan hingga pembinaan dan penempatan Dalam hal motivasi belajar, kepala sekolah dapat memberikan stimulus seperti: A Beasiswa bagi siswa berprestasi. A Kunjungan edukatif ke lembaga pendidikan. A Kegiatan praktik lapangan di lingkungan sekitar Hubungan Sekolah dan Masyarakat Sekolah dan masyarakat merupakan dua komponen yang saling terkait. Dalam sistem pendidikan yang demokratis, kerja sama keduanya penting untuk menumbuhkan rasa kepemilikan, dukungan moral, dan bantuan finansial. Kepala sekolah perlu menjalin komunikasi dan kerja sama yang intensif dengan masyarakat untuk mendukung program sekolah. Iklim Sekolah Kepala sekolah harus menciptakan iklim sekolah yang kondusif, baik secara fisik maupun nonfisik, agar proses pembelajaran berjalan efektif dan Iklim yang baik mencakup lingkungan yang aman, nyaman, tertib, sehat, serta menumbuhkan semangat belajar dan harapan positif bagi seluruh warga sekolah. Hasil Penelitian (Faktor yang Memengaruhi dan Temuan Manajeria. Faktor yang Memengaruhi Kedisiplinan Siswa Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan beberapa faktor utama yang memengaruhi tingkat kedisiplinan siswa di SD Amaliah Bogor, yaitu: Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah berperan sentral dalam menciptakan budaya disiplin melalui keteladanan, komunikasi efektif, dan kebijakan yang konsisten. Gaya kepemimpinan yang diterapkan bersifat transformasional, di mana kepala sekolah tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga membangun motivasi intrinsik siswa dan guru untuk berperilaku disiplin. Kepala sekolah secara rutin memberikan pembinaan, mengadakan rapat evaluasi mingguan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di antara warga sekolah. Dukungan Manajemen Kesiswaan yang Terstruktur Manajemen kesiswaan di Sekolah Dasar Amaliah Bogor berjalan dengan sistematis, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembinaan siswa. Program seperti AuSapa PagiAy. AuDisiplin Masuk KelasAy, dan AuPoin KarakterAy berperan penting dalam menumbuhkan kebiasaan Selain itu, sistem penghargaan . proporsional, mendorong siswa untuk menjaga kedisiplinan baik di dalam maupun di luar kelas. Peran Guru dan Bimbingan Konseling (BK) Guru kelas dan guru BK berperan sebagai pendamping langsung dalam membentuk perilaku Mereka tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga memberi pendekatan personal ketika siswa melanggar tata tertib. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif dan konseling, bukan semata-mata hukuman. Keterlibatan Orang Tua Kedisiplinan siswa juga sangat dipengaruhi oleh dukungan orang tua. Sekolah secara aktif melibatkan orang tua melalui komunikasi rutin, pertemuan wali murid, dan laporan perkembangan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 8 | JPI. Vol. No. November 2025 Kolaborasi ini memperkuat nilai-nilai disiplin yang diterapkan di sekolah dan di rumah. Lingkungan Sekolah yang Kondusif Suasana sekolah yang tertib, bersih, dan ramah turut membentuk kebiasaan positif siswa. Lingkungan fisik yang nyaman serta kultur sekolah yang menekankan nilai-nilai religius dan tanggung jawab menciptakan iklim belajar yang mendukung Temuan Manajerial Dari hasil analisis, terdapat beberapa temuan manajerial penting terkait efektivitas kepemimpinan dan manajemen kesiswaan, yaitu: Integrasi Nilai Karakter ke dalam Manajemen Sekolah Kepala sekolah dan tim manajemen kesiswaan tidak memisahkan antara aspek akademik dan pembentukan karakter. Program kedisiplinan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai religius, tanggung jawab, dan empati. Pola Komunikasi Partisipatif Keputusan manajerial dalam bidang kesiswaan diambil melalui musyawarah yang melibatkan guru dan staf. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki . ense of belongin. terhadap kebijakan disiplin yang diterapkan. Konsistensi dalam Pelaksanaan Aturan Konsistensi keberhasilan program kedisiplinan. Setiap pelanggaran, sekecil apa pun, ditindak sesuai menciptakan keadilan dan kepercayaan di lingkungan sekolah. Evaluasi Berkelanjutan Sekolah melakukan evaluasi bulanan terhadap pelaksanaan tata tertib dan perilaku siswa. Hasil evaluasi dijadikan dasar perbaikan kebijakan dan inovasi program pembinaan karakter. Kolaborasi Sekolah-Orang Tua-Masyarakat Temuan lain menunjukkan bahwa program kedisiplinan berjalan efektif karena adanya sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar. Pendekatan kolaboratif ini menjadi model manajemen partisipatif yang layak dikembangkan di sekolah lain. Implikasi Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan kedisiplinan siswa tidak hanya bergantung pada penerapan aturan, tetapi juga pada gaya kepemimpinan yang humanis, manajemen kesiswaan yang terencana, serta keterlibatan seluruh Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan model manajemen kesiswaan berbasis kepemimpinan transformasional di sekolah perencanaan sudah berjalan baik namun perlu peningkatan pada penggunaan data digital . isalnya e-rapor dan sistem manajemen sisw. untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dan mekanisme pengawasan sudah sesuai prosedur, tetapi pelaporan hasil evaluasi belum sepenuhnya terdokumentasi dengan baik. Perlu penerapan sistem monitoring digital untuk efektivitas pelaporan. Diskusi Manajemen memiliki peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah dasar, karena berfungsi untuk meningkatkan mutu pembelajaran, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan kondusif. Manajemen yang efektif memungkinkan seluruh aktivitas sekolah berjalan dengan terarahAibaik yang berkaitan dengan peserta didik, tenaga pendidik, maupun kegiatan administratifAisehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efisien dan sesuai dengan kebutuhan lingkungan sekolah. Menurut Supardi . , sekolah yang efektif adalah sekolah yang mampu memberdayakan seluruh komponen penting, baik internal maupun eksternal, dengan sistem pengelolaan yang baik, transparan, dan akuntabel untuk mencapai visi dan misi secara efektif dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah, termasuk dalam pembentukan kedisiplinan siswa, sangat bergantung pada kemampuan manajemen sekolah dalam menggerakkan semua unsur yang ada. Secara etimologis, manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola. Dalam konteks pendidikan, manajemen diartikan sebagai proses pendayagunaan seluruh sumber daya sekolah secara terintegrasi dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan Kepala sekolah berperan sebagai manajer yang memiliki kewenangan dalam mengarahkan, mengatur, serta mengambil keputusan strategis guna memastikan semua komponen bergerak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Rohiat . menegaskan bahwa manajer merupakan alat untuk mengelola sumber daya secara Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 9 efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi, dan hal ini harus benar-benar dipahami oleh kepala Oleh karena itu, kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan fungsi manajerial akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan manajemen kesiswaan di sekolah. Manajemen merupakan proses pengelolaan kegiatan pendidikan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya secara efisien agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara Dalam konteks SD Amaliah Bogor, penerapan manajemen kesiswaan menjadi salah satu bentuk implementasi dari manajemen sekolah yang berfokus pada pengaturan, pembinaan, serta pengawasan terhadap perilaku siswa agar terbentuk kedisiplinan yang kuat. Optimalisasi sumber daya melalui manajemen kesiswaan yang baik merupakan langkah strategis untuk memberdayakan sekolah secara menyeluruh. Sekolah yang memiliki sistem manajemen kesiswaan yang efektif tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik. Dengan dukungan kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, partisipatif, dan berorientasi pada pembinaan siswa. SD Amaliah Bogor dapat mewujudkan lingkungan belajar yang disiplin, tertib, dan berprestasi. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan masalah dalam karya tulis ini dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam mewujudkan sekolah yang Adapun beberapa upaya yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah untuk mewujudkan manajemen sekolah yang berprestasi melalui peranan kepemimpinannya pada umumnya adalah menyangkut masalah-masalah sebagai A Perencanaan dan Evaluasi A Kurikulum A Pembelajaran A Ketenagaan A Fasilitas Pendidikan A Keuangan A Peserta Didik A Hubungan Sekolah dengan Masyarakat A Iklim Sekolah Selain kesimpulan di atas, penulis juga dapat menarik kesimpulan bahwa: Untuk dapat mewujudkan sekolah yang berprestasi tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah tetapi juga merupakan tanggung jawab dari tenaga kependidikan, siswa, masyarakat dan pemerintah. Sekolah yang berprestasi tidak dapat diwujudkan dalam waktu yang singkat, tetapi harus melalui proses-proses yang mendukung. Responsibilitas dan profesionalitas tenaga mewujudkan sekolah yang berprestasi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa manajemen memiliki peran yang sangat menentukan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berprestasi. Kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola dan mengarahkan seluruh sumber daya sekolah agar berjalan secara efektif dan efisien. Untuk menciptakan manajemen sekolah yang unggul, kepala sekolah perlu menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan memperhatikan beberapa aspek penting, yaitu: A Perencanaan dan evaluasi program sekolah. A Pengelolaan kurikulum. A Peningkatan mutu pembelajaran. A Pemberdayaan tenaga kependidikan. A Penyediaan A Pengelolaan keuangan yang transparan dan A Pengembangan peserta didik. A Penguatan hubungan antara sekolah dan masyarakat, serta A Penciptaan iklim sekolah yang kondusif dan Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa: Keberhasilan dalam mewujudkan sekolah berprestasi bukan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama antara tenaga pendidik, peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Upaya mewujudkan sekolah berprestasi memerlukan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui tahapan yang terencana dan konsisten. Profesionalisme dan rasa tanggung jawab tenaga kependidikan menjadi faktor penting yang turut menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan sekolah yang berprestasi. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 10 | JPI. Vol. No. November 2025 Persembahan Penelitian ini didukung/didukung sebagian oleh Yayasan Islam Amaliah kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan wawasan dan keahlian yang sangat membantu penelitian ini, meskipun mereka mungkin tidak setuju dengan semua interpretasi/kesimpulan jurnal Referensi