Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202526110 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Penerapan model snowball throwing untuk meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia di sekolah dasar Lilis Guswantina*). Laili Rahmi Universitas Islam Riau. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dalam meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus yang masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 20 siswa dengan waktu pelaksanaan selama dua minggu pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, angket minat belajar dengan skala Guttman, serta wawancara semi-terstruktur. Hasil menunjukkan adanya peningkatan proporsi siswa yang mencapai kriteria ketuntasan klasikal minat belajar, yaitu dari 40% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. Kriteria ketuntasan klasikal yang digunakan adalah 85% siswa mencapai skor minimal kategori AutinggiAy sesuai Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Penilaian. Dengan demikian, penerapan model Snowball Throwing pada konteks penelitian ini berkorelasi dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai kategori minat belajar tinggi. Temuan ini bersifat deskriptif pada skala kelas dan tidak dimaksudkan untuk generalisasi. Received Jun 21th, 2025 Revised Jul 24th, 2025 Accepted Aug 25th, 2025 Keywords: Snowball throwing Minat belajar Bahasa Indonesia Sekolah dasar Penelitian tindakan kelas A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Lilis Guswantina. Universitas Islam Riau Email: lilisguswantina@student. Pendahuluan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada hakikatnya berorientasi pada pengembangan keterampilan berbahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah linguistik dan fungsi sosial bahasa tersebut. Tujuan utama dari pengajaran Bahasa Indonesia ialah guna menumbuhkan kompetensi berkomunikasi yang efektif dan efisien, baik secara verbal maupun non-verbal, dengan memperhatikan norma-norma etis yang berlaku. Sebagaimana dijelaskan oleh Sahara et al. , pembelajaran Bahasa Indonesia dirancang agar peserta didik tidak hanya mampu berbahasa secara fungsional, melainkan juga mempunyai apresiasi terhadap bahasa sebagai simbol identitas nasional dan instrumen pengembangan intelektual, emosional, dan sosial. Sebagai mata pelajaran yang berperan dalam pengembangan keterampilan berpikir dan berkomunikasi, pembelajaran Bahasa Indonesia harus dirancang agar mampu meningkatkan pemahaman serta penggunaan bahasa secara efektif (Hafid et al. , 2. Namun demikian, didalam praktik pembelajaran sehari-hari, masih banyak dijumpai kecenderungan penggunaan metode konvensional oleh pendidik, yang ditandai dengan dominasi ceramah, tanya jawab terbatas, serta penugasan monoton. Model pembelajaran seperti ini tidak memberikan ruang partisipasi aktif bagi peserta didik, yang pada akhirnya mengondisikan siswa didalam posisi pasif dan kurang terlibat secara kognitif maupun afektif didalam proses pembelajaran. Situasi tersebut berdampak pada rendahnya motivasi dan minat belajar, khususnya didalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Guswantina. , & Rahmi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Minat belajar siswa memegang peranan penting untuk memajukann pendidikan di Indonesia karena dari motivasi belajar siswa yang besar maka siswa akan terdorong untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan kreativitas dan tentunya untuk mencapai hasil yang maksimal (Herlina et al. , 2. Merujuk Sardiman, minat yang tinggi terhadap belajar akan memperkuat intensi guna memahami materi, menaikkan retensi informasi, dan menumbuhkan kemandirian didalam belajar. Minat ini biasanya terbentuk melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, kebermaknaan materi bagi kebutuhan personal, serta dukungan sosial dari lingkungan belajar. Didalam kerangka pembelajaran kontemporer yang menekankan paradigma studentcentered learning, peran peserta didik bukan lagi sebagai objek penerima pengetahuan semata, melainkan sebagai subjek yang aktif membangun makna melalui keterlibatan langsung didalam proses pembelajaran. Minat belajar merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Merujuk data empirik yang diperoleh melalui wawancara dengan Wali Kelas VI diSDN 88 Pekanbaru, ditemukan bahwa derajat minat belajar siswa didalam mata pelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan fluktuasi, dengan kecenderungan antusiasme yang bersifat situasional. Guru mengemukakan bahwa metode ceramah masih mendominasi proses pembelajaran, namun metode ini dinilai kurang optimal karena tidak mampu mempertahankan perhatian dan pemahaman siswa didalam durasi waktu yang panjang. Selain itu, belum pernah diaplikasikannya model Snowball Throwing didalam konteks kelas tersebut disinyalir menjadi satu dari faktor rendahnya interaksi dan keterlibatan kognitif siswa. Padahal, guru berasumsi bahwa model tersebut berpotensi besar didalam mengaktivasi keingintahuan siswa, terlebih apabila dipadukan dengan media pembelajaran yang bersifat visual dan interaktif. Hambatan yang muncul didalam sesi tanya jawab, seperti keterbatasan perbendaharaan kata dan kesulitan memahami istilah idiomatic misalnya peribahasa mengindikasikan perlunya transformasi metode pengajaran yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Permasalahan serupa juga dikemukakan oleh Mashuri et al. banyak siswa yang pasif dalam proses pembelajaran, masih banyak siswa yang mengobrol dengan temannya dan bergurau ketika guru menerangkan materi. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran yang kurang menyenangkan serta kurangnya kreativitas guru dalam mengelola proses pembelajaran dan penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat. Akibatnya proses pembelajaran menjadi membosankan sehingga menyebabkan menurunya minat siswa dalam belajar. Salah satu model yang relevan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah penerapan ,pdel Snowball Throwing, yakni bentuk pembelajaran kooperatif yang menekankan keterlibatan siswa dalam menyusun dan bertukar pertanyaan dengan teman sekelas (Agustin & Gumala, 2. Sejalan dengan pernyataan (Yuliani et , 2. yang mengungkapkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing diharapkan akan menjadi salah satu solusi untuk dapat menarik perhatian peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan dapat mengurangi kejenuhan dalam kelas. Mekanisme ini memungkinkan siswa untuk terlibat langsung, mengembangkan kepercayaan diri, serta membangun pemahaman melalui interaksi. Dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing dapat melatih kesiapan siswa untuk menanggapi dan menyelesaikan masalah (Suciati & Hanik, 2. Dibandingkan model lain seperti PBL atau Discovery Learning yang lebih menekankan pemecahan masalah kompleks. Snowball Throwing lebih sederhana dan sesuai dengan kondisi kelas dasar karena fokus pada interaksi bertanyaAejawab yang mendorong minat belajar. Tujuan model pembelajaran Snowball Throwing menurut Asrori . alam Siagian et al. , 2. adalah melatih siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain, melatih kreatifitas dan imajinasi siswa dalam membuat pertanyaan, serta memacu murid untuk bekerjasama, saling membantu, serta aktif dalam Oleh karena itu, urgensi inovasi didalam pendekatan pembelajaran semakin tidak terbantahkan, khususnya melalui integrasi model Snowball Throwing yang tidak hanya merekonstruksi proses belajar-mengajar, tetapi juga menyemai semangat belajar yang lebih eksploratif dan kolaboratif. Beberapa penelitian terdahulu seperti penelitian yang dilakukan (Addaba et al. , 2024. Rusyda et al. , 2. menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat pemahaman konsep, serta melatih keterampilan berpikir kritis. Selain itu, menurut Damayanti & Putri . penggunaan pendekatan strategi pembelajaran Snowball Throwing dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa ini dirasakan cukup efektif karena siswa akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya untuk menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebagian besar penelitian tersebut belum menyoroti penerapannya pada konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Dengan demikian, masih terdapat ruang kajian untuk menguji relevansi model ini terhadap peningkatan minat belajar pada mata pelajaran tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dalam meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Penerapan model snowball throwingA Fokus penelitian diarahkan pada perubahan tingkat minat belajar yang diukur melalui angket, observasi, dan wawancara dalam kerangka Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dan peneliti dalam empat tahap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Kerangka utama penelitian menempatkan data kuantitatif sebagai indikator perubahan minat belajar, sementara data kualitatif berfungsi memperkuat interpretasi melalui catatan observasi dan wawancara. Indikator yang telah ditetapkan sejak awal dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan antarsiklus. Tindakan dinyatakan berhasil dan dapat dilanjutkan apabila minimal 80% siswa menunjukkan kategori minat belajar AutinggiAy, sesuai dengan ambang batas ketuntasan klasikal pada kebijakan pendidikan dasar. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, dan wawancara. Instrumen angket menggunakan skala Guttman dengan butir dikotomis . a/tida. yang memetakan empat indikator minat belajar, yaitu respons positif siswa, ketertarikan belajar, keterampilan dalam pembelajaran, dan rasa percaya diri. Kisi-kisi instrumen berisi pemetaan indikator ke butir pernyataan, dengan aturan penskoran 1 untuk jawaban positif dan 0 untuk jawaban negatif. Skor total kemudian dikonversi ke kategori rendah, sedang, dan tinggi melalui interval yang ditetapkan berdasarkan distribusi skor. Observasi dilakukan dengan lembar penilaian terstruktur untuk memantau keterlibatan siswa, sedangkan wawancara semiterstruktur diarahkan pada pengalaman, kesulitan, dan motivasi belajar siswa. Untuk menjaga keabsahan temuan, dilakukan triangulasi metode dengan menggabungkan hasil angket, observasi, dan wawancara. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menghitung persentase capaian, ukuran efek perubahan praAepasca per siklus, serta interval kepercayaan untuk memperkirakan ketidakpastian hasil. Analisis kualitatif dilakukan dengan teknik pengodean tematik dari transkrip wawancara untuk mengungkap pola respon siswa terhadap penerapan model Snowball Throwing. Melalui prosedur ini, alur keputusan antarsiklus dapat ditelusuri dengan jelas: apabila hasil angket dan observasi menunjukkan capaian di bawah ambang minimal atau tema kualitatif mengindikasikan hambatan, maka tindakan dirombak. sebaliknya jika bukti menunjukkan perbaikan bermakna, tindakan dilanjutkan dengan penyesuaian terbatas. Seluruh proses dilaksanakan pada siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru yang berjumlah 20 orang siswa selama dua minggu penelitian. Hasil dan Pembahasan Deskripsi Data Siklus I Pada kegiatan siklus I meliputi beberapa tahapan, yakni dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan Perencanaan Pada tahap perencanaan tindakan, sejumlah langkah sistematis dirancang guna menunjang kelancaran pengaplikasian penelitian tindakan kelas: . Merancang modul pembelajaran yang terintegrasi dengan silabus yang berlaku, dengan mengedepankan perumusan capaian awal yang diselaraskan secara eksplisit dengan langkah-langkah tindakan yang akan diaplikasikan. Menyusun seperangkat instrumen observasi, yang mencakup lembar observasi guna memantau aktivitas guru dan peserta didik, panduan penskoran, serta format observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran berbasis model Snowball Throwing. Melakukan koordinasi awal dengan rekan sejawat guna memperoleh kesediaannya bertindak sebagai pengamat independen selama pengaplikasian penelitian. Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan model Snowball Throwing dilakukan melalui tiga tahapan utama. Pada tahap pendahuluan, guru menyapa siswa, memimpin doa bersama, melakukan absensi, dan mengaitkan materi baru dengan pembelajaran sebelumnya melalui apersepsi. Guru juga menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan. Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi, lalu membagi siswa ke dalam kelompok heterogen. Masingmasing kelompok menunjuk ketua yang menerima penjelasan langsung dari guru, kemudian menyampaikannya kembali kepada anggota kelompok. Selanjutnya, siswa membuat pertanyaan berdasarkan materi, menggulungnya menjadi bola salju, lalu saling melemparkannya. Siswa yang menerima bola membaca dan menjawab pertanyaan secara bergantian, menciptakan diskusi yang aktif dan menyenangkan. Pada tahap penutup, guru dan siswa melakukan refleksi bersama, menyimpulkan materi, memberikan tugas sebagai tindak lanjut, dan menutup pembelajaran dengan salam sebagai bentuk penghormatan dan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Guswantina. , & Rahmi. Vol. No. 1, 2025, pp. Observasi Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan secara langsung oleh peneliti menggunakan instrumen lembar observasi yang dirancang berdasarkan indikator minat belajar siswa. Observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan model Snowball Throwing di kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Adapun hasil analisis pada siklus I menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah menunjukkan indikator minat belajar yang positif. Siswa tampak siap mengikuti pembelajaran sejak awal, terlihat dari kesiapan mereka di dalam kelas sebelum guru datang, dengan perlengkapan belajar yang telah disiapkan. Mereka berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatan Snowball Throwing, seperti saat berdiskusi kelompok maupun saat saling melempar dan menjawab pertanyaan menggunakan bola salju. Semangat dan antusiasme siswa juga terlihat jelas dari ekspresi ceria dan keterlibatan mereka dalam menjawab pertanyaan, bahkan banyak yang secara sukarela mengangkat Selain itu, siswa tetap fokus mengikuti pembelajaran tanpa melakukan aktivitas lain di luar konteks Suasana belajar yang dinamis dan interaktif mendorong siswa untuk menikmati proses belajar, terbukti dari respon positif dan suasana kelas yang hidup. Dalam hal keterampilan kognitif, siswa mampu merumuskan pertanyaan yang sesuai dengan materi, memahami konsep melalui diskusi kelompok, serta menjawab pertanyaan bola salju dengan tepat dan penuh percaya diri. Di akhir pembelajaran, sebagian besar siswa juga mampu menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari secara mandiri, menunjukkan keterlibatan aktif dan pemahaman yang baik terhadap isi pelajaran. Dengan demikian, hasil observasi pada siklus I mengindikasikan bahwa model Snowball Throwing mampu membangkitkan minat belajar siswa, meskipun masih diperlukan peningkatan lebih lanjut agar hasil belajar siswa dapat mencapai ketuntasan secara menyeluruh pada siklus berikutnya. Refleksi Pada saat proses pembelajaran siklus I telah selesai, peneliti memberikan angket dengan 20 pernyataan yang diambil dari 20 siswa untuk mengukur minat belajar siswa mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Adapun hasil analisis pada siklus I sebagai berikut: Tabel 1 Nama Siswa Abrar Ghani Abdillah Akmal Bisma Saputra Atalla Mareto Algazali Aqila Sidqia Danish Rafael Erick Pratama Siagian Fadillah Nurriza Fauzan Adli Naufal Hazmi Gilang Ramadan Innaya Aulia Guska Kenji Budianto Khairunnisa Azalia Muhammad Iqbal Abdul Latief Siagian Queenza Amora Berlian Rahma Dina Assyfa. Ratu Hilwa K. Sovia Vicka Azahra Vazura Anggara Fitriani (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Skor Keterangan Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa dari 20 siswa terdapat 8 orang atau 40% yang mencapai kategori tuntas, sedangkan 12 orang atau 60% belum tuntas karena memperoleh skor di bawah standar. Skor siswa berada pada rentang 30 hingga 90, dengan rata-rata 67,5 dan median 75. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar secara klasikal masih jauh di bawah kriteria minimal 85% yang ditetapkan sebagai Hasil wawancara dan observasi memperkuat temuan kuantitatif tersebut. Siswa pada umumnya menunjukkan antusiasme, merasa senang, dan percaya diri ketika mengikuti kegiatan Snowball Throwing, terutama saat menyusun dan menjawab pertanyaan yang dilemparkan melalui bola salju. Aktivitas ini Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Penerapan model snowball throwingA mendorong interaksi antarsiswa dan melibatkan sebagian besar peserta didik dalam pembelajaran. Namun demikian, keterlibatan tersebut belum merata karena masih ada siswa yang cenderung pasif, hanya aktif ketika ditunjuk, atau merasa kesulitan memahami instruksi kegiatan. Refleksi terhadap pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa penerapan model Snowball Throwing telah memberikan pengaruh positif pada minat belajar siswa, tetapi belum mencapai hasil yang optimal. Beberapa kendala yang teridentifikasi antara lain instruksi kegiatan yang kurang jelas, pengelolaan kelas yang masih belum merata sehingga menimbulkan dominasi siswa tertentu, serta kurangnya pendampingan individual bagi siswa yang belum percaya diri. Selain itu, perubahan skor yang terjadi juga kemungkinan dipengaruhi oleh faktor luar kelas seperti adaptasi siswa terhadap suasana pembelajaran atau dukungan guru, sehingga hasil ini perlu dibaca secara hati-hati. Berdasarkan kelemahan tersebut, pada siklus II diperlukan perbaikan strategi. Langkah perbaikan yang direncanakan meliputi pemberian instruksi yang lebih terstruktur disertai contoh praktik, pendampingan lebih intensif khususnya bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan, serta penciptaan suasana kelas yang kondusif dengan pemerataan kesempatan berpartisipasi. Dengan perbaikan tersebut diharapkan minat belajar siswa dapat meningkat lebih merata dan persentase ketuntasan klasikal dapat mendekati standar minimal yang ditetapkan. Deskripsi Data Siklus II Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada siklus II dimaksudkan sebagai perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan Snowball Throwing pada siklus I. Prosedur pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sama dengan siklus I yaitu diawali dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Perencanaan Pada tahap perencanaan di siklus II ini yakni adanya upaya membenahi kelemahan yang terdapat pada siklus Sesuai pada refleksi dari pengamatan, sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu menyiapkan beberapa instrumen yakni modul ajar, angket minat belajar siswa, lembar observasi. Pelaksanaan Adapun beberapa tahapan pembelajaran yang dilakukan pada siklus II masih sama seperti pembelajaran Pada siklus I, yaitu dimulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada tahap pendahuluan, pendidik memulai kegiatan dengan menyapa siswa dan mengajak mereka memanjatkan doa bersama sebagai pembuka pembelajaran yang khidmat. Selanjutnya, guru melakukan pendataan kehadiran siswa melalui absensi guna memastikan seluruh peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan dengan apersepsi, di mana guru mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan pembelajaran sebelumnya. Setelah itu, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran agar siswa memahami arah kegiatan yang akan dilakukan, dan menjelaskan secara ringkas namun jelas tahapan-tahapan pembelajaran yang akan dilalui dengan pendekatan kooperatif Snowball Throwing. Pada tahap kegiatan inti, guru menyajikan materi ajar sesuai dengan topik yang telah direncanakan. Peserta didik kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat heterogen, berdasarkan kriteria tertentu untuk mendorong keberagaman pemikiran. Setelah duduk dalam kelompok, masing-masing kelompok menunjuk seorang ketua untuk memimpin diskusi internal. Para ketua kelompok dipanggil oleh guru untuk menerima penjelasan garis besar materi yang akan dibahas. Mereka kemudian kembali ke kelompok masingmasing dan menyampaikan kembali isi materi kepada anggotanya. Setelah itu, guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok. Lembar kerja ini berisi perintah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah dibahas, yang kemudian digulung menjadi bola kertas . dan dilemparkan antarsiswa selama kurang lebih lima menit. Siswa yang menerima bola kertas tersebut akan membaca dan menjawab pertanyaan secara bergantian, menciptakan suasana diskusi yang aktif dan menyenangkan. Tahap penutup diawali dengan refleksi bersama antara guru dan siswa terhadap materi yang telah dipelajari, sekaligus mengevaluasi pemahaman dan proses pembelajaran yang telah dilalui. Guru dan siswa kemudian menyimpulkan pokok-pokok materi sebagai bentuk penguatan konsep. Sebagai tindak lanjut, guru memberikan arahan berupa penugasan atau anjuran guna mempersiapkan materi pada pertemuan berikutnya. Kegiatan pembelajaran ditutup dengan salam penutup sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan di akhir sesi Observasi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siklus II, diperoleh gambaran bahwa aktivitas seluruh siswa dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus Siswa menunjukkan kesiapan yang lebih baik, terlihat dari kedatangan mereka yang tepat waktu dan persiapan perlengkapan belajar sebelum pembelajaran dimulai. Keterlibatan siswa dalam setiap tahapan kegiatan model Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Guswantina. , & Rahmi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Snowball Throwing pun meningkat, ditunjukkan dengan keaktifan dalam diskusi kelompok serta antusiasme dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan. Siswa juga tampak semangat dan percaya diri ketika menerima serta menjawab pertanyaan dari bola salju. Mereka tetap fokus selama proses pembelajaran berlangsung dan tidak melakukan aktivitas lain di luar Seluruh siswa memberikan perhatian penuh saat guru menjelaskan materi maupun saat sesi tanya jawab, mencerminkan sikap antusias yang lebih tinggi dibandingkan siklus sebelumnya. Selain itu, siswa terlihat lebih menikmati suasana belajar yang dinamis dan interaktif, karena kegiatan Snowball Throwing memberikan ruang bagi mereka untuk bergerak, berinteraksi, dan bekerja sama. Dalam hal keterampilan, siswa dapat menyusun pertanyaan yang relevan dan sesuai materi, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Proses diskusi dalam kelompok juga membantu mereka memahami materi dengan lebih Mereka mampu menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh teman dengan baik dan dapat menyimpulkan inti materi secara mandiri serta menyampaikannya secara lisan kepada kelompok. Secara keseluruhan, observasi pada siklus II menunjukkan bahwa penerapan model Snowball Throwing berhasil meningkatkan minat dan aktivitas belajar siswa secara menyeluruh di kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Refleksi Peneliti pada siklus II juga memberikan angket dengan 20 pernyataan yang diambil dari 20 siswa untuk mengukur minat belajar siswa. Tabel berikut menunjukkan ketuntasan belajar siswa pada siklus II saat menggunakan model Snowball Throwing mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VI SDN 88 Pekanbaru: Tabel 2 Nama Siswa Abrar Ghani Abdillah Akmal Bisma Saputra Atalla Mareto Algazali Aqila Sidqia Danish Rafael Erick Pratama Siagian Fadillah Nurriza Fauzan Adli Naufal Hazmi Gilang Ramadan Innaya Aulia Guska Kenji Budianto Khairunnisa Azalia Muhammad Iqbal Abdul Latief Siagian Queenza Amora Berlian Rahma Dina Assyfa. Ratu Hilwa K. Sovia Vicka Azahra Vazura Anggara Fitriani (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Skor Keterangan Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Berdasarkan pengolahan data angket minat belajar pada siklus II, terlihat bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui model Snowball Throwing mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Siswa tampak lebih antusias, aktif dalam diskusi kelompok, serta percaya diri ketika menjawab pertanyaan dari bola salju. Hasil angket menunjukkan bahwa dari 20 siswa, sebanyak 18 orang atau 90% mencapai ketuntasan, sementara hanya 2 orang atau 10% yang belum tuntas. Dengan demikian, tingkat ketuntasan klasikal pada siklus II telah melampaui batas minimal yang ditetapkan, yaitu 85%. Hal ini menandakan bahwa minat belajar siswa meningkat secara nyata dan target ketuntasan klasikal berhasil tercapai. Hasil wawancara mendukung temuan kuantitatif tersebut. Siswa menyampaikan bahwa mereka mempersiapkan diri lebih baik sebelum pembelajaran dimulai dan merasa lebih siap mengikuti kegiatan. Selama proses berlangsung, mereka mengaku aktif terlibat dan menikmati setiap tahapan Snowball Throwing. Antusiasme tampak jelas ketika siswa menerima dan menjawab pertanyaan, serta mereka tidak melakukan aktivitas di luar pembelajaran. Model ini dinilai menarik karena menggabungkan unsur belajar sambil bermain sehingga membuat suasana kelas lebih menyenangkan, fokus, dan interaktif. Selain itu, siswa juga menuturkan bahwa kegiatan penyusunan pertanyaan bersama kelompok membantu mereka memahami materi Bahasa Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Penerapan model snowball throwingA Indonesia dengan lebih mudah. Rasa percaya diri meningkat, khususnya saat menjawab pertanyaan di hadapan teman-teman. Bahkan, di akhir kegiatan sebagian besar siswa mampu menyimpulkan materi secara mandiri karena merasa memahami isi pembelajaran dengan baik. Secara keseluruhan, wawancara pada siklus II menunjukkan bahwa penerapan model Snowball Throwing berhasil menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan merata, sekaligus efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa secara signifikan. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Pembelajaran difokuskan pada peningkatan minat belajar siswa dengan menekankan partisipasi aktif dan interaksi kelompok. Peran guru sangat krusial dalam mengarahkan jalannya kegiatan dan memastikan setiap tahapan model dilaksanakan secara efektif. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model Snowball Throwing dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Data diperoleh melalui observasi pembelajaran, angket minat belajar, serta wawancara selama pelaksanaan pembelajaran dalam dua siklus. Berikut ini data perbandingan pada siklus I dan siklus II sebagaimana dalam tabel berikut: Tabel 3 Jenis Siklus Siklus I Siklus II (Sumber : Data Olahan Peneliti : 2. Persentase Minat Belajar (%) Keterangan Belum Maksimal Maksimal Berdasarkan data angket minat belajar siswa, terlihat adanya peningkatan yang signifikan antara siklus I dan siklus II setelah penerapan model pembelajaran Snowball Throwing. Pada siklus I, hanya 40% dari 20 siswa yang menunjukkan minat belajar dalam kategori tuntas, sementara 60% siswa lainnya belum mencapai ketuntasan, yang menunjukkan bahwa minat belajar siswa masih belum maksimal. Namun, pada siklus II, persentase siswa yang mencapai ketuntasan meningkat tajam menjadi 90%, atau sebanyak 18 siswa dari total 20 siswa yang menunjukkan minat belajar dalam kategori tuntas. Data ini menunjukkan bahwa penerapan model Snowball Throwing secara efektif mampu meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI di SDN 88 Pekanbaru. Dengan demikian, pembelajaran pada siklus II dapat dikatakan telah mencapai hasil yang maksimal dan menunjukkan keberhasilan model kooperatif yang Penerapan model Snowball Throwing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti efektif meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase ketuntasan siswa dari 40% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. Model ini menekankan pada keterlibatan aktif siswa melalui kegiatan kelompok dan interaksi yang menyenangkan. Hal serupa dikemukakan oleh Tabroni & Guswita . , bahwa model Snowball Throwing mampu meningkatkan pemahaman siswa melalui partisipasi aktif dalam kelompok. Melalui kegiatan menyusun dan menjawab pertanyaan yang dilempar seperti bola salju, siswa menjadi lebih antusias dan percaya diri. Diskusi kelompok dan keterlibatan langsung dalam pembelajaran menjadikan siswa lebih fokus dan berani menyampaikan pendapat. Menurut Rahmadhani & Mahendra . bahwa metode ini terbukti meningkatkan keaktifan belajar siswa secara signifikan. Unsur permainan yang dikombinasikan dengan pembelajaran membuat siswa merasa senang dan tidak mudah bosan. Menurut Kartini et al. pendekatan ini memunculkan suasana belajar yang tidak monoton, sehingga meningkatkan fokus siswa. Kegiatan menyusun soal dan menjawab pertanyaan dari bola salju tidak hanya meningkatkan minat, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sejalan dengan pernyataan Lasmi & Muskania . bahwa metode yang menggabungkan kognitif dan sosial ini sangat tepat untuk meningkatkan minat baca dan belajar siswa. Selain itu menurut Masda & Nuryani . bahwa keberhasilan metode ini dipengaruhi oleh penggunaan instrumen evaluasi yang holistik, seperti observasi, angket, dan wawancara. Hasil angket minat belajar siswa pada siklus II memperkuat efektivitas model Snowball Throwing, di mana 18 dari 20 siswa menunjukkan minat yang meningkat. Serupa dengan penjelasan tersebut. Aminah et al. , . mengungkapkan bahwa metode ini efektif jika didukung media dan pendampingan guru yang konsisten. Salamah et al. juga menemukan bahwa model ini mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi keagamaan karena adanya pembelajaran aktif dan kolaboratif yang memudahkan siswa dalam menyerap informasi secara Metode Snowball Throwing sangat efektif melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat karena setiap siswa memiliki peran aktif, baik sebagai penyusun maupun penjawab pertanyaan. Keterlibatan ini membuat siswa merasa dihargai dan mendorong kepercayaan diri mereka di dalam kelas. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Guswantina. , & Rahmi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar karena menggabungkan elemen kompetisi sehat dan kolaborasi (Yenita, 2. Selain itu. Siahaan et al. mengungkapkan bahwa penerapannya dalam pembelajaran kimia berdampak positif pada minat dan prestasi belajar siswa, sebab formatnya yang interaktif mampu mengatasi kejenuhan dalam materi yang dianggap sulit. Dalam kajian literatur Pranata . menegaskan bahwa metode ini konsisten memberikan pengaruh positif terhadap hasil dan minat belajar karena memberikan ruang bagi semua siswa untuk terlibat. Keaktifan yang merata ini menciptakan suasana kelas yang inklusif, di mana setiap siswa terdorong untuk berpartisipasi. Model pembelajaran ini juga sangat sesuai untuk dilaksanakan bagi siswa yang memiliki pemahaman rendah serta daya pikir yang kurang (Masria, 2. Dengan demikian. Snowball Throwing tidak hanya menjadi strategi untuk meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk membangun rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, dan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan siswa dalam pembelajaran Secara keseluruhan, model pembelajaran Snowball Throwing terbukti efektif dan layak diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Selain meningkatkan minat, model ini juga mendorong interaksi sosial, keberanian berpendapat, dan kerja sama tim. Menurut Pangaribuan & Nababan . menekankan bahwa pembelajaran yang bersifat kolaboratif seperti ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga karakter siswa. Dengan demikian, pendekatan ini menjadi alternatif yang potensial untuk diintegrasikan ke dalam strategi pembelajaran aktif di berbagai jenjang pendidikan dasar. Model pembelajaran snowball throwing memiliki beberapa kelebihan, menurut Setiyawan . diantaranya: a. Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berfikir karena diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan kepada siswa lain. Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temanya seperti apa. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam praktik. Pembelajaran menjadi lebih efektif. Aspek kognitif, efektif, dan psikomotor dapat tercapai. Selain itu, menurut Dewi et al. adapun kelebihan dari model Snowball Throwing adalah menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran. Aktivitas belajar menjadi joyfull atau penuh dengan kegembiraan karena siswa seperti bermain lempar bola salju, kemampuan berpikir kritis siswa dilatih melalui instruksi membuat dan menjawab pertanyaan, mempersiapkan siswa dengan segala situasi karena siswa tidak dapat menerka pertanyaan yang dibuat temannya, melatih kepercayaan diri siswa dalam mengemukakan pendapatnya di depan umum, pembelajaran menjadi efektif dan komunikatif sehingga tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dapat tercapai. Implikasi penelitian ini adalah penerapan model Snowball Throwing dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran aktif yang efektif bagi guru sekolah dasar dalam meningkatkan minat belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis partisipasi aktif dan kolaboratif mampu menumbuhkan motivasi, rasa percaya diri, serta keterampilan berpikir kritis siswa. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Snowball Throwing mampu meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SDN 88 Pekanbaru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Peningkatan tersebut ditunjukkan melalui perbandingan hasil pada setiap siklus. Pada siklus I, hanya 40% siswa yang mencapai ketuntasan minat belajar, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 90%, melampaui batas ketuntasan klasikal sebesar 85%. Data dari observasi, angket, dan wawancara menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih antusias, aktif, serta terlibat dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model Dengan demikian, peningkatan minat belajar siswa pada siklus II menunjukkan keberhasilan tindakan yang dilakukan dalam konteks penelitian ini. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi guru untuk menjadikan model Snowball Throwing sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran aktif di sekolah dasar, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, penerapan model ini perlu disesuaikan dengan karakteristik kelas, kesiapan siswa, serta kondisi sekolah agar hasilnya lebih optimal. Referensi