Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 PENGARUH PEMBERIAN ASAM GIBERELAT (GA. TERHADAP KANDUNGAN ASAM ASKORBAT BUAH (Psidium guajava L. AuKristalA. Fajar Sumi Lestari1,2*. Ricson Pemimpin Hutagaol 1. Srikandi3 Departemen Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Nusa Bangsa. Jl. Sholeh Iskandar Km. 4 Tanah Sereal. Bogor, 16166. Indonesia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN. Jl. Raya Jakarta Bogor Km. Cibinong, 16911. Indonesia. Departemen Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Nusa Bangsa. Jl. Sholeh Iskandar Km. 4 Tanah Sereal. Bogor, 16166. Indonesia e-mail: cumz. cute86@gmail. ABSTRAK Jambu kristal merupakan salah satu buah favorit di Indonesia karena daging buahnya yang renyah dan buah yang minim biji. Jambu kristal memiliki kandungan senyawa antioksidan potensial seperti senyawa fenolik dan flavonoid, asam askorbat, karotenoid, dan likopen. Hal ini membuat jambu kristal berpotensi besar untuk dikembangkan dan dibudidayakan dalam rangka pemenuhan gizi masyarakat. Pemberian hormon asam giberelat (GA. dilakukan untuk meningkatkan kandungan buah, merangsang pembentukkan dan perkembangan buah serta meningkatkan biosintesis metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam askorbat pada buah jambu kristal dengan pemberian hormon asam giberelat. Rancangan percobaan menggunakan enam level perlakuan RAL 6 level konsentrasi yaitu konsentrasi GA3 0 mg/L (G. , 60 mg/L (G. , 120 mg/L (G. , 180 mg/L (G. , 240 mg/L (G. , dan 300 mg/L (G. Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 18 unit eksperimen . Parameter yang diteliti adalah kadar asam askorbat pada kulit buah, daging buah, dan buah utuh tanpa biji dari buah jambu kristal menggunakan metode 2,6,-diklorofenolindofenol (DCIP) dan spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar asam askorbat pada bagian kulit buah meningkat dengan pemberian GA3 dibandingkan dengan kontrol (G. , tetapi kadar asam askorbat pada bagian daging buah dan buah utuh tanpa biji menurun. Bagian buah utuh tanpa biji menunjukkan nilai kadar asam askorbat tertinggi diikuti oleh bagian daging buah dan Asam askorbat tertinggi pada bagian kulit buah dihasilkan pada perlakuan G3 . mg/L). Kata kunci: Jambu Kristal. Asam Giberelat. GA3. Asam Askorbat. DCIP. Spetrofotometri PENDAHULUAN Jambu krsistal (Psidium guajava L. AuKristalA. merupakan salah satu jenis buahbuahan yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan dalam rangka pemenuhan gizi masyarakat, karena mengandung mineral, kalsium, pektin dan vitamin C 5 . kali lebih tinggi dari jeruk (Lal & Das, 2. Dari berbagai penelitian diketahui bahwa Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 buah jambu kristal memiliki kadar vitamin C, serat, protein, gula, mineral yang tinggi, kadar vitamin A dan B yang baik . e Souza Silva et al. , 2. dan juga merupakan sumber karotenoid, fenolik, asam ellagic, dan flavonoid (Lima et al. , 2. Jambu kristal juga mengandung antioksidan tinggi yang berfungsi untuk membantu melindungi tubuh dari radikal bebas dan stress oksidatif (Mayadewi & Sukewijaya. Kultivar jambu kristal yang disukai masyarakat adalah buah dengan ukuran besar, rasa manis, tekstur renyah, jumlah biji sedikit, dan memiliki nutrisi tinggi. Kenyataannya, dari beberapa jambu kristal yang dijumpai dilapangan, sebagian besar memiliki ukuran cenderung kecil, berbiji banyak dan rasa yang sedikit asam, sehingga diperlukan upaya unuk meningkatkan produktivitas buah jambu kristal agar didapatkan kultivar yang disukai oleh masyarakat dan memiliki kandungan nutrisi tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) seperti asam giberelat (GA. Zat pengatur tumbuh (ZPT) diketahui dapat memengaruhi sintesis protein dan aktivitas enzim, sehingga dapat memacu kerja enzim dalam metabolisme tanaman dan meningkatkan reaksi-reaksi biokimia (Mayadewi & Sukewijaya, 2. ZPT dapat mengaktifkan respon biokimia, fisiologis, dan morfologis. Asam giberelat (GA. merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang sering digunakan pada tanaman buahbuahan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil baik kuantitas maupun kualitas. Pemberian GA3 diketahui dapat meningkatkan kandungan fisik dan kimia dari buah seperti kandungan total suspended solid (TSS) dan asam askorbat, mengurangi keasaman dan jumlah biji pada buah-buahan, serta dapat meningkatkan metabolit sekunder dalam biosintesis flavonoid secara signifikan (Lanuchila . Wafa et al. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pemberian hormon GA3 sebanyak 50 mg/L pada buah jambu kultivar Allahabad safeda menghasilkan vitamin C lebih tinggi . ,30 mg/100. dibandingkan dengan kontrol . ,27 mg/100. (Lal & Das, 2. Pemberian GA3 sebanyak 200 mg/L dan 300 mg/L diketahui meningkatkan kandungan vitamin C, namun menurunkan nilai total fenol pada buah jambu kultivar Mukundapuri (Mahmood et al. , 2. Aplikasi hormon asam giberelat (GA. telah dilakukan pada banyak buah-buahan seperti jeruk, ciplukan, jambu biji, dengan peningkatan hasil dan kualitas kandungan fisik dan kimia yang memuaskan (Shah et al. , . Lal & Das . Kaur et al. ), tetapi belum ditemukan pada buah jambu kristal. Bedasarkan hal ini maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai hasil dan kandungan kimia buah jambu kristal melalui aplikasi asam giberelat (GA. Diharapkan dengan aplikasi GA3 ini dapat dihasilkan buah jambu kristal yang lebih berkualitas dengan kandungan asam askorbat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam askorbat buah jambu kristal dengan pemberian asam giberelat (GA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas kimia buah jambu kristal, sekaligus sebagai bahan pembanding bagi penelitian selanjutnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Nusa Bangsa. Kemang. Kabupaten Bogor dari bulan Januari sampai Juli 2022. Sampel yang diambil di lapangan kemudian di analisis di Laboratorium Pengujian Pusat Riset Limnologi BRIN. Cibinong. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jambu kristal (Psidium guajava AuKristalA. , tablet GA3 20 % Super Gib tablet, 2,2-diklorofenolinofenol (DCIP) (MERCK), asam askorbat (SUPELCO), asam metafosfat (MERCK). Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hand sprayer, gunting dahan, cooler box, peralatan gelas laboratorium, pisau, chopper Mitochiba CH-200, vortex, magnetic stirrer, centrifuge Iuchi CN-10, spektrofotometer UV-VIS 1800 Shimadzu, neraca analitik. Tahapan Penelitian Tanaman jambu kristal yang akan digunakan terlebih dahulu dipilih dan diberi label sebagai pembeda pada setiap tanaman. Sebagai bahan penelitian dipilih 18 tanaman yang mewakili 6 . perlakuan dengan 3 . Penyemprotan hormon GA3 dilakukan dengan 6 . konsentrasi yaitu G0 = 0 mg/L. G1 = 60 mg/L. G2 = 120 mg/L. G3 = 180 mg/L. G4 = 240 mg/L, dan G5 = 300 mg/L. Penyemprotan dilakukan menggunakan hand sprayer ke seluruh tanaman jambu kristal, dilakukan dalam selang waktu yang sama, antara jam 15. 00 WIB. Penyemprotan diulangi setiap 2 minggu sekali selama 1 bulan setelah penyemprotan pertama. Pengambilan sampel buah jambu kristal dilakukan secara sampling purposif dari setiap perlakuan dan buah jambu telah memenuhi kriteria panen setelah penyemprotan ketiga, yaitu tangkai buah tampak kekuningan, dengan bagian luar buah berwarna hijau muda keputih-putihan serta permukaan buah yang halus. Buah jambu segar dikumpulkan, dipisahkan berdasarkan perlakuan dan dipindahkan dengan cooler box di hari yang sama dengan waktu panen, kemudian sampel di bawa ke laboratorium Limnologi BRIN. Cibinong. Estimasi waktu selama perjalanan kurang lebih 1 . Metode Analisis Ekstraksi Sampel (Musa et al. , 2. Buah jambu kristal dipisahkan biji dan kulitnya menggunakan alat pengupas buah untuk mendapatkan bagian kulit, daging buah, serta buah utuh tanpa biji. Buah jambu kristal dihancurkan dengan chopper untuk menghasilkan bubur yang seragam. Sebanyak 0,5 gram sampel dari masing-masing bagian buah diekstrak dengan 50 mL asam metafosfat dingin 1% . selama 1 jam. Ekstrak di centrifuge pada 3000 rpm dengan suhu kamar selama 15 menit. Larutan ekstrak dipisahkan dan dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut. Penetapan Kadar Asam Askorbat Metode yang digunakan untuk menentukan kadar asam askorbat yaitu metode 2,6,-diklorofenolindofenol (DCIP) dengan analisis spektrofotometri. Kurva standar asam askorbat dengan konsentrasi yang telah diketahui disiapkan dalam asam metafosfat dingin 1% . untuk menghasilkan kurva kalibrasi. Ekstrak sampel jambu kristal dari setiap bagian buah jambu kristal diambil sebanyak 1 mL, dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 0,05 mM DCIP sebanyak 9 mL. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 kemudian di vortex selama 15 detik. Larutan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 515 nm. Total asam askorbat ekstrak sampel dinyatakan dalam mg asam askorbat/g sampel segar . g/g FW) dengan rumus: Keterangan: C = kadar asam askorbat dari kurva standar . g/L) V = volume sampel (L) m = bobot sampel . Analisis Data Analisis data statistik dilakukan dengan SPSS 26 for Windows. Analisis masingmasing sampel dilakukan secara trireplikasi. Semua hasil yang dinyatakan adalah rerata A standar deviasi. Signifikansi statistik diamati menggunakan metode ANOVA satu arah . <0,. Jika terdapat beda nyata maka dilakukan uji lanjut Tukey dengan taraf kepercayaan 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum menggunakan sebuah metode, maka metode tersebut harus di verifikasi terlebih dahulu. Proses verifikasi metode dalam penelitian ini telah dilakukan dengan menggunakan asam askorbat sebagai standar. Hasil yang diperoleh untuk kurva kalibrasi asam askorbat ditunjukkan pada Gambar 1% absorbansi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi asam askorbat. Plot konsentrasi asam askorbat terhadap % absorbansinya menghasilkan nilai RA = 0,9984 dan memberikan persamaan linier yaitu: y = 0,8859x Ae 0,903 dimana 0,8859 dan 0,903 mewakili nilai kemiringan . dan intersepnya. Nilai R2 yang mendekati 1 menunjukkan bahwa kadar asam askorbat berkorelasi linier positif hampir sempurna dengan respon instrumen. Nilai slope yang besar (>. dan intersep yang mendekati nol, menunjukkan bahwa metode pengujian yang digunakan memberikan sensitivitas lebih tinggi terhadap perubahan kadar yang ada dan interferensi atau kontaminasi dari sumber-sumber bias sangat kecil (Damayanti & Kurniawati. Data yang didapatkan pada penelitian ini berada dalam kisaran yang sebanding dengan yang dilaporkan oleh penelitian sebelumnya tentang metode penetapan asam askorbat (Odibo et al. , . Abhishek et al. , . ), yang mengindikasikan validitas, reprodusibilitas dan nilai keberterimaan dari metode spektrofometri yang digunakan telah sesuai dan valid untuk digunakan dalam penelitian ini. Kandungan asam askorbat buah jambu kristal (Psidium guajava L. AuKristalA. diukur saat buah memasuki waktu panen. Buah dipanen pada tahap kematangan panen saat kulit buah berwarna hijau muda keputih-putihan dan permukaannya halus. Buah jambu kristal yang digunakan pada penelitian ini memiliki bobot buah sekitar 200-340 Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 Gambar 1. Kurva Kalibrasi Asam Askorbat Gambar 2. Kadar Asam Askorbat Buah Jambu Kristal (Psidium guajava L. AuKristalA. Dengan Pemberian Asam Giberelat (GA. Gambar 2 menunjukkan kadar asam askorbat buah jambu kristal (Psidium guajava L. AuKristalA. yang diberi perlakuan asam giberelat (GA. Secara umum, kadar asam askorbat pada bagian kulit buah meningkat dengan pemberian GA3 dibandingkan dengan kontrol (G. , tetapi kadar asam askorbat pada bagian daging buah dan buah utuh tanpa biji menurun. Diantara setiap bagian buah, bagian buah utuh tanpa biji menunjukkan nilai kadar asam askorbat tertinggi diikuti oleh bagian daging buah dan Asam askorbat tertinggi pada bagian kulit buah dihasilkan pada perlakuan G3 . mg/L). Menurut Singh et al. , peningkatan kadar asam askorbat pada bagian kulit buah karena pemberian GA3 dapat disebabkan karena adanya proses sintesis secara terus menerus dari glukosa-6-fosfat selama masa pertumbuhan dan perkembangan buah yang dianggap sebagai prekursor vitamin C. Tabel 1. Kandungan Asam Askorbat Pada Buah Jambu Kristal Dengan Pemberian Asam Giberelat (GA. Kadar Asam Askorbat . g/g FW) G0 . mg/L) G1 . mg/L) G2 . mg/L) G3 . mg/L) G4 . mg/L) G5 . mg/L) Kulit buah 16 A 2. 91 A 2. 77 A 2. 74 A 2. 90 A 1. 41 A 2. Daging buah Buah utuh tanpa biji 03 A 0. 07 A 0. 45 A 2. 64 A 1. 48 A 2. 19 A 1. 16 A 0. 48 A 0. 17 A 2. 94 A 1. 74 A 2. 90 A 0. Nilai merupakan rerata A SD. Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata . <0,. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 Berdasarkan hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan pemberian hormon giberelin dalam berbagai konsentrasi (G0 = 0 mg/L. G1 = 60 mg/L. G2 = 120 mg/L. G3 = 180 mg/L. G4 = 240 mg/L, dan G5 = 300 mg/L) berpengaruh signifikan terhadap kandungan asam askorbat pada bagian kulit, daging buah dan buah utuh tanpa biji dari buah jambu kristal. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikansi hasil uji dari semua bagian buah memiliki nilai signifikansi . =0,. yang lebih kecil dari taraf signifikasi (<0,. Analisis data kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey (Tabel . Pemberian hormon giberelin dengan perlakuan G3 . mg/L) memberikan hasil kandungan asam askorbat yang berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol (G. pada bagian kulit buah, tetapi kadar asam askorbat pada bagian daging buah dan buah utuh tanpa biji menurun dengan pemberian hormon giberelin. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Liu et al. menghasilkan bahwa kandungan asam askorbat pada buah jambu biji dengan kulit utuh lebih tinggi dibandingkan dengan buah yang dikupas kulitnya. Hasil yang didapat pada penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya untuk buah jambu biji (Yan et al. dan buah-buahan lain seperti pir (Reiland & Slavin, 2. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah jambu biji mengandung antioksidan dalam jumlah yang relatif tinggi seperti fenol dan asam askorbat (Liu et al. , 2. Sebaliknya, hasil yang didapat pada penelitian ini berbeda dengan hasil yang didapat pada penelitian Musa et al. pada buah jambu biji pink varietas Semenyih dan Sungkai yang menghasilkan kadar asam askorbat pada bagian kulit buah lebih tinggi di bandingkan dengan daging buah dan buah utuh. Kadar asam askorbat yang dihasilkan pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Mahmood et al. pada buah jambu kultivar Mukundapuri dengan pemberian asam giberelat sebanyak 200 dan 250 mg/L dan penelitian Singh et al. pada buah jambu kultivar Allahabad Safeda dengan pemberian asam giberelat sebanyak 50 dan 75 mg/L. Aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) secara eksogen seperti asam giberelat (GA. berperan efektif dalam mempertahankan kandungan asam askorbat dalam buah-buahan Meningkatnya kadar asam askorbat dapat dikarenakan adanya aktivitas katalitik dari asam giberelat pada biosintesis asam askorbat dari prekursornya yaitu glukosa-6-fosfat. Asam giberelat diketahui juga dapat menghambat perubahan asam askorbat menjadi asam dehidroaskorbat dan asam 2,3-dioksi-L_glukonat oleh enzim asam askorbat oksidase, sehingga buah-buahan dengan aplikasi ZPT mempunyai kandungan asam askorbat lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buahan tanpa pemberian ZPT (Mahmood et al. , 2016. Rokaya et al. , 2016. Shah et al. , 2. Kadar asam askorbat pada penelitian ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan asam askorbat pada buah manga dan pisang (Deekshika et al. , 2015. Odibo et al. , 2. , dan buah lemon dan delima (Vasanth Kumar et al. , 2. KESIMPULAN Kadar asam askorbat pada bagian kulit buah meningkat dengan pemberian GA3 dibandingkan dengan kontrol (G. , tetapi kadar asam askorbat pada bagian daging buah dan buah utuh tanpa biji menurun. Bagian buah utuh tanpa biji menunjukkan nilai kadar asam askorbat tertinggi diikuti oleh bagian daging buah dan kulit. Asam askorbat tertinggi pada bagian kulit buah dihasilkan pada perlakuan G3 . mg/L). Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 36-43 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kash kepada LPPM UNB dan Limnologi BRIN atas fasilitas yang diberikan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA