Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 14. No. Oktober 2023 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Addition Of Calcium Carbonate (CaCO. in to the Fresh Water Vaname Shrimp (Litopenaeus Vanname. Culture Media Andre Rachmat Scabra . Nunik Cokrowati . Rahmat Wahyudi Program Studi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Mataram *Penulis korespondensi: Email : andrescabra@unram. (Diterima Agustus 2022 /Disetujui Agustus 2. ABSTRACT Vaname shrimp is a biota that can live in a wide range of salinities, from fresh water to sea water. In freshwater aquaculture activities, the presence of minerals is a limiting factor that causes growth to not be optimal. Various studies, one of which is Scabra et al. , . , showed that vannamei shrimp reared in fresh water media with the addition of minerals in the form of phosphorus showed better growth. Another mineral that is also needed to increase the growth of shrimp is calcium. Therefore, this study aims to evaluate the effect of adding CaCO3 with different doses on the growth of vannamei shrimp reared in fresh water media. The treatment in this study was the rearing of shrimp in seawater media (P. , the rearing of shrimp in fresh water media added with calcium (CaCO. at different doses, namely 0 ppm (P. , 40 ppm (P. , 80 ppm (P. , and 120 ppm (P. The data obtained were analyzed statistically and descriptively. The results showed that the highest shrimp survival rate (SR) occurred at P1 of 78%. In maintenance with fresh water media, the highest SR value was obtained at P3 of 68%. The highest growth occurred in P1, which was 22. In fresh water media, the highest growth occurred at P3, which was 14. 74 g. The conclusion of this study is that vannamei shrimp reared in seawater media (P. produce better performance. fresh water media, the addition of calcium carbonate (CaCO. at a dose of 40 ppm (P. is known to increase growth and survival rates. Keywords : CaCO3. Vaname Shrimp, fresh water ABSTRAK Udang vaname merupakan biota yang mampu hidup pada salinitas yang luas, mulai dari air tawar hingga air laut. Pada kegiatan budidaya air tawar, keberadaan mineral menjadi faktor pembatas yang menyebabkan pertumbuhannya belum optimal. Berbagai penelitian, salah satunya adalah Scabra et al. , . , menunjukkan bahwa udang vannamei yang dipelihara pada media air tawar dengan penambahan mineral berupa fosfor menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik. Mineral lain yang juga dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan udang adlaah kalsium. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan CaCO3 dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan udang vannamei yang dipelihara pada media air tawar. Perlakuan pada penelitian adalah pemeliharaan udang pada media air laut (P. , pemeliharaan udang dengan media air tawar yang ditambahkan dengan kalsium (CaCO. dengan dosis yang berbeda yaitu 0 ppm (P. , 40 ppm (P. , 80 ppm (P. ,dan 120 ppm (P. Data yang diperoleh dianalisa secara statistic dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tingkat kelangsungan hidup (SR) udang tertinggi terjadi pada P1 sebesar 78%. Pada pemeliharaan dengan media air tawar, didapatkan nilai SR tertinggi pada P3 sebesar 68 %. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada P1, yaitu sebesar 22,72 g. Pada media air tawar, pertumbuhan tertinggi terjadi pada P3, yaitu sebesar 14,74 Kesimpulan penelitian ini adalah Udang vannamei yang dipelihara pada media air laut (P. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. menghasilkan performa yang lebih baik. Pada media air tawar, penambahan kalsium karbonat (CaCO. dengan dosis 40 ppm (P. diketahui dapat memberikan peningkatan nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Kata kunci: CaCO3, udang vaname, air tawar PENDAHULUAN Udang vaname merupakan komoditas udang yang banyak diminati di Indonesia. Udang vaname jenis ini juga merupakan produk unggulan dari sektor perikanan. Udang vaname ini sendiri memiliki banyak kelebihan yaitu relatif lebih tahan penyakit dari jenis udang lainnya, mudah dibudidayakan, produksi yang stabil sehingga banyak pembudidaya memilih udang ini untuk dibudidayakan (Kaligis, 2. Aktifitas Budidaya udang vaname masih belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari cukup rendah, pemanfaatan lahan di Indonesia sendiri sampai sejak tahun 2017 hingga tahun 2019 masih berada pada 20 % dari total keseluruhan lahan yang tersedia. Berdasarkan data dari KKP . , grafik produksi udang vaname dari tahun 2017-2019 mengalami kenaikan, tetapi pada tahun 2019 mengalami penurunan. Indonesia saat ini hanya mampu memenuhi 7 % dari kebutuhan udang dunia. Menurut data KKP . bahwa data produksi udang pada tahun 2018 094 ton. Target produksi udang vaname pada tahun 2020-2025 yaitu sebesar 922 Ae 1. 086 ton (KKP, 2. Untuk mendukung hal tersebut, maka diperlukan berbagai upaya dalam hal meningkatkan produksi udang vannamei, salah satunya adalah dengan memanfaatkan luasan lahan perairan darat melalui kegiatan budidaya udang vannamei Oleh karena itu dibutuhkan budidaya udang vaname pada menggunakan media air tawar. bersalinitas rendah untuk meningkatkan produksi Pada umumnya udang vaname dibudidayakan di daerah pesisir dengan sistem pertambakan. Sementara pada kawasan darat, menggunakan air tawar, pengembangan budidaya udang vannamei masih jarang dilakukan. Padahal, udang vannamei memiliki memiliki sifat eurihalin yang menyebabkannya mampu bertahan hidup pada kondisi salinitas yang luas. Menurut Febriani et al. , udang vaname mampu hidup pada pada kisaran salinitas 0,5 Ae 40 ppt. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa udang vaname dapat tumbuh dengan baik pada media air tawar yang ditambahkan dengan mineral Fosfor (Scabra. Ismail, et al. , 2. , kalsium oksida (Scabra et , 2. , dan magnesium (Scabra et al. , 2. Informasi tersebut mengindikasikan bahwa budidaya udang vannamei menggunakan media air tawar memiliki potensi pengembangan yang cukup baik sehingga dapat memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap peningkatan produksi udang vannamei nasional. Penambahan mineral merupakan kunci utama yang menunjang keberhasilan budidaya udang vannamei menggunakan media air tawar (Scabra. Junaidi, et al. , 2021. NurAoaisyah et al. , . menyatakan bahwa makhluk hidup secara umum membutuhkan mineral untuk pertumbuhannya. Salah satu mineral yang merupakan mineral makro, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan adalah Suptijah . menyatakan bahwa kalsium merupakan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuh udang karena berhubungan langsung dengan proses molting. Menurut Roshaliza dan Suwartiningsih . , kalsium digunakan dalam pembentukan eksoskleton baru setelah udang mengalami molting. Menurut NurAoaisyah et al. , . , mineral sangat dibutuhkan udang terutama kalsium karena berperan dalam mempercepat proses molting. Selain itu Menurut Erlando et al. , adanya kalsium yang cukup akan membuat proses moulting udang menjadi lebih cepat. Semakin cepat pengeraasan kulit maka akan menyebabkan udang terhindar dari kematian. Setelah moulting, nafsu makan udang akan meningkat untuk memenuhi kebutuhannya akan Apabila kebutuhan terhadap mineralnya terpenuhi, maka proses molting dapat berjalan dengan baik. Suplementasi kalsium pada kegiatan budidaya perikanan sudah banyak dilakukan dan menunjukkan hasil yang positif. Taqwa. Ade Dwi Sasanti, et al. , . , menambahkan kalsium untuk meningkatkan pertumbuhan Post Larva Udang Galah. Muliani . juga memberikan kalsium pada kegiatan pendederan benih ikan patin. Kadarini . menambahkan kalsium untuk meningkatkan pertumbuhan ikan balashark. Suplementasi kalsium dapat dilakukan melalui beberapa metode. Salah satunya adalah dengan menggunakan sumber kalsium yang berbeda. Setiap jenis sumber kalsium memberikan pengaruh yang berbeda teradap biota budidaya. Untuk dapat mengukur pengaruh tersebut secara ilmiah, maka penelitian ilmiah sangat diperlukan. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Sesuai dengan hasil penelitian Scabra et al. , . , yang memberikan kalsium oksida (CaO) pada kegiatan budidaya udang vannamei menggunakan media air tawar, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pemberian kalsium dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO. terhadap pertumbuhan udang vannamei yang juga dipelihara pada media air tawar. METODE Waktu dan Tempat Pemeliharaan udang vanname pada penelitian ini dilaksanakan selama 45 hari, bertempat di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ikan. Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram. Alat dan Bahan Peralatan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah timbangan yang berfungsi untuk menghitung dosis penambahan CaCO3 yang sesuai dengan perlakuan. Ember juga merupakan peralatan inti karena selalu digunakan untuk melarutkan kalsium sebelum dimasukkan ke dalam wadah pemeliharan udang. Bahan utama pada penelitain ini adalah kalsium karbonat (CaCO. dengan grade tekhnis. Selain itu, diperlukan juga daun Ketapang yang digunakan untuk membantu kelarutan kalsium (Scabra. Junaidi, et al. , 2021. Bahan utama yang merupakan objek penelitian adalah Post Larva (PL) udang vanname berusia 10 hari yang didatangkan dari Balai Pembenihan Induk Udang dan Kekerangan (BPIUK) Karang Asem. Bali. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Aspek yang diteliti adalah pengaruh penambahan kapur CaCO3 dengan dosis yang berbeda pada wadah pemeliharaan dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga diproleh 15 P1 : Air laut tanpa penambahan CaCO3 P2 : Air tawar tanpa penambahan CaCO3 P3 : Air tawar dengan penambahan 40 ppm CaCO3 P4 : Air tawar dengan penambahan 80 ppm CaCO3 P5 : Air tawar dengan penambahan 120 ppm CaCO3 Metode Kerja Persiapan Wadah dan media pemeliharaan Wadah pemeliharaan yang digunakan berupa 15 unit kontainer plastik berkapasitas 45 liter. Sebelum digunakan, wadah pemeliharaan dicuci dengan sabun dan kemudian dibersihkan pada air yang mengalir hingga sisa atau bekas sabunnya hilang. Selanjutnya wadah ditempatkan sesuai dengan posisi yang telah ditetapkan. Masing-masing wadah yang sudah siap kemudian diisi dengan media pemeliharaan yang sesuai dengan perlakuan masing-masing sebanyak 20 liter. Setiap unit percobaan dilengkapi dengan aerasi sebanyak satu buah untuk masing-masing kontainer sebagai suplai oksigen ke dalam air, kemudian diberi label sesuai dengan perlakuan. Pembuatan larutan dan pemberian kalsium CaCO3 Sebelum dimasukkan ke wadah pemeliharaan. CaCO3 dilarutkan pada 3 buah ember . berkapasitas 150 L dengan dosis yang sesuai dengan perlakuan masing-masing. Untuk meningkatkan kelarutan CaCO3, daun Ketapang ditambahkan pada masing-masing ember (Scabra. Junaidi, et al. , 2021. , kemudian diberikan aerasi yang cukup kuat selama 24 jam. Setelah 1 hari, endapan atau sisa kapur di bagian bawah ember merupakan bagian yang dibuang, sementara bagian air bagian atas embernya merupakan air yang digunakan untuk keperluan Aklimatisasi hewan uji Sebelum dilakukan penebaran pada wadah pemeliharaan, dilakukan proses aklimatisasi terlebih To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. dahulu pada larva udang vaname. Larva udang vaname yang baru tiba, dipelihara pada wadah pemeliharaan sementara berupa bak tandon yang berisi air laut. Aklimatisasi yang dilakukan berupa penurunan kadar salinitas hingga mencapai 0 ppt secara gradual (Scabra et al. , 2. Tujuan dari aklimatisasi ini adalah untuk membiasakan larva udang vaname hidup pada salinitas 0 ppt, serta mencegah udang stres akibat penurunan salinitas secara tiba-tiba yang akan mengakibatkan kematian. Darmono . dalam Hadi . menyatakan udang akan mengalami stress ketika dilakukan penurunan salinitas yang ekstream secara tiba-tiba. Proses penurunan salinitas ini akan berlangsung satu minggu. Penurunan kadar salinitas dilakukan dengan menambahkan air tawar. Untuk menentukan air tawar yang dibutuhkan menurunkan salinias sampai dengan 0 ppt dapat menggunakan rumus sebagai berikut (Rahayu, 2. ycIycu = . cI1ycuycO. cI2ycuycO. cO1 ycO. Keterangan: Sn = Salinitas yang diinginkan (A) S1 = Salinitas pada wadah (A) S2 = Salinitas air pengencer (A) V1= Volume air pada wadah . ) V2= Volume air pengencer . ) Pemeliharaan hewan uji Pemberian pakan pada udang dilakukan dengan frekuensi 5x dalam sehari setiap 4 jam sekali sebesar 6% dari bobot tubuh udang. Pakan yang diberikan berupa pelet Auirawan 681 VAy dengan kandungan protein sebesar 40%. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan setiap pagi sebelum pemberian pakan pertama. Setelah sipon, sejumlah air yang sesuai dengan perlakuan masing-masing ditambahkan hingga volume nya Kembali seperti semula, yaitu 20 liter. Pergantian air major . %) dilakukan setiap 10 hari sekali. Parameter Penelitian Laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS) Laju pertumbuhan spesifik dihitung menggunakan rumus Hidayat et al. , . ycIyaycI = yaycu. cOy. Oe yaycu. cOyc. ycu 100 yc Keterangan: SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%/har. = Berat rata -rata udang pada akhir penelitian . = Berat rata-rata udang pada awal penelitian . = waktu pemeliharaan . Laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS) ycycyc = ycyea. Oe ycyea. yeo yayaya% yei Keterangan: SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%/har. = Panjang rata-rata udang pada akhir penelitian . = Panjang rata-rata udang awal penelitian . = waktu pemeliharaan . Kelangsungan hidup To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Nilai kelangsungan hidup dihitung menggunakan rumus Huynh & Fotedar . ycIycI O ycAyc ycu 100 % ycAycu Keterangan : = Sintasan (%) = Jumlah udang pada awal penelitian . = Jumlah udang yang hidup pada akhir penelitian . Food convertion rasio (FCR) Feed Conversion Rasio (FCR) adalah perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan daging udang yang dihasilkan. FCR dihitung 3 kali selama penelitian. FCR dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Zonneveld et al. FCR = Keterangan : FCR Wt Oe Wo = Feed Conversion Ratio = Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan . = Biomassa akhir . = Biomassa awal . Kadar kalsium dalam air Penentuan kadar kalsium dalam air dapat diketahui dengan membuat larutan buffer yang mempertahankan pH yang lebih tinggi yaitu . dan menggunakan Heroxide (Ammoniak purporat. sebagai indikator. Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari pink ke warna ungu . Adapun prosedur penentuan kesadahan Ca, pertama pipet air sample 100 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer. Ditambahkan 4,0 ml NaOH 1N lalu diaduk. Selanjutnya ditambahkan 0,1-0,2 gram (A seujung pengadu. murexide, diaduk sambil segera dititrasi dengan Na-EDTA dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna dari merah . hingga ungu . rohid Akhir titrasi ditandai dengan penambbahan satu tetes titran yang tidak lagi mengubah intensitas warna ungu-biru. Penentuan kadar kalsium dalam air dilakukan 3 kaliUntuk penentuan CaCO3 dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut (Widigdo, 1. Ppm CaCO3= Kualitas air Kualitas air yang akan diukur selama penelitian adalah DO, suhu, pH, dan Amoniak. Pengukuran DO, suhu, dan pH dilalukan di semua percobaan penelitian dengan frekuensi pengukuran kualitas air dilakukan 3 kali selama penelitian yaitu awal, pertengahan dan akhir dan untuk pengukuran amoniak dilakukan di semua percobaan penelitian dengan frekuensi pengukuran 3 kali selama penelitian diawal, pertengahan dan diakhir. Tabel. 1 standard baku Kualitas Air Nama Satuan Alat ukur Optimal Suhu Termometer 28 Ae 33 (BSNI, 2. Oksigen Terlarut Salinitas Ammoniak pH meter DO meter 7,5 Ae 8,5 (BSNI, 2. > 4 (BSNI, 2. Refraktometer Ammoniak kit 30 Ae 33 (BSNI, 2. <0,1 (BSNI, 2. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang diuji selama pemeliharaan meliputi tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS), laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS), rasio konversi pakan. Koefisien Keragaman (KK), kadar kalsium media, dan Kualitas air. Tingkat kelangsungan hidup [VALUE]c [VALUE]bc [VALUE]ab [VALUE]a [VALUE]a Gambar 1. Grafik Tingkat Kelangsungan Hidup (P1= air laut. P2= air tawar. P3= air tawar CaCO3 40 ppm. P4= air tawar CaCO3 80 ppm. P5= air tawar CaCO3 120 pp. Berdasarkan Gambar 1. diketahui Bahwa P1 menghasilkan nilai tertinggi dan tidak berbeda nyata dengan P3, dengan nilai masing-masing 78% dan 68%. P5 menghasilkan nilai terendah dan tidak berbeda nyata dengan P2 dan P4, dengan nilai masing-masing 48%, 55%, dan 60%. Berdasarkan Gambar 1. tersebut, penambahan kalsium karbonat (CaCO. dapat dikatakan memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup udang vannamei. Tingkat kelangsungan hidup rendah diakibatkan karena udang vaname bersifat kanibalisme setelah molting. Pada fase udang berganti kulit yaitu fase molting , udang akan mengalami kondisi yang lemah sehingga memungkinkan udang akan memakan udang lainnya. Menurut Yunus et al. bahwa udang vaname tidak mengalami fase molting dengan baik, yaitu tidak segeranya terbentuk cangkang yang baru, sehingga memicu terjadinya kanibalisme. P5 memiliki nilai kelangsungan hidup terendah, diduga disebabkan oleh tinginya dosis kalsium yang diberikan menyebabkan udang akan mengalami kesulitan dalam menyimbangkan kondisi ion didalam Menurut Taqwa. Sasanti, et al. , . , kandungan kalsium yang terlalu tinggi akan membuat udang mengalami kesulitan dalam proses homeostatis ion kalsium dan akan menghambat transfer kalsium dari lingkungan ke tubuhhnya. Tingkat kelangsungan hidup udang dipengaruhi oleh kesimbangan ion yang ada dalam cairan tubuh dan lingkungannya. Keberadaan cairan tubuh tersebut perlu diseimbangkan melalui mekanisme osmoregulasi. Salinitas memiliki kaitan erat dengan osmoregulasi hewan air. Jika terjadi penurunan salinitas secara mendadak dengan nilai yang cukup besar, maka dapat mengakibatkan gagalnya proses osmoregulasi yang memicu naiknya kematian (Anggoro, 1. Kondisi udang stres dan salinitas yang rendah akan membuat beban osmotik udang meningkat sehingga menyebabkan kematian. Kondisi tersebut diduga terjadi pada P2. Dosis penambahan mineral CaCO3 yang rendah menyebabkan kebutuhan udang terhadap mineral tidak dapat terpenuhi, sehingga kerja osmosis nya menjadi berat, dan berdampak terhadap angka kematian. Perlakuan 3 (P. memiliki nilai SR yang lebih tinggi dibandingkan dengan P2. Hal ini diduga karena keberadaan mineral yang lebih tinggi menyebabkan tekanan osmototic pada media juga menjadi lebih tinggi. Hal tersebut berdampak terhadap menurunnya kerja osmoregulasi dari udang Hasil penelitian Kaligis et al. memperkuat hal tersebut, yaitu udang vaname yang dipelihara pada media bersalinitas 0 ppt dengan penambahan kalsium sebanyak 50 ppm mampu mempertahankan nilai SR nya dengan baik. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Laju Pertumbuhan bobot spesifik (LPBS) 7,00 [VALUE]c 6,00 [VALUE]b 5,00 4,00 [VALUE]b [VALUE]a [VALUE]a 3,00 2,00 1,00 0,00 Gambar 2. Grafik pertumbuhan berat spesifik (P1= air laut. P2= air tawar. P3= air tawar CaCO3 40 ppm. P4= air tawar CaCO3 80 ppm. P5= air tawar CaCO3 120 pp. Berdasarkan gambar 2. LPBS tertinggi terdapat pada P1 dengan hasil 6,13 %/hari sedangkan LPBS terendah terdapat pada P2 dan P5 dengan nilai 2,7%/hari dan 3,1 %/hari. Pertumbuhan udang pada air tawar yang ditambahkan kalsium CaCO3 lebih baik dibandingkan dengan tanpa penambahan kalsium. Hal ini diduga karena kalsium yang ditambahkan dapat meningkatkan kadar kalsium media sehingga kebutuhan kalsium udang vannamei dapat terpenuhi. Penelitian yang dilakukan oleh Scabra et al. , 2022. Scabra. Ismail, et al. , 2021. Scabra. Marzuki, & Alhijrah, 2023. Scabra. Marzuki, & Rizaldi, 2023. Scabra. Marzuki, & Yarni, 2. menunjukkan bahwa Pertumbuhan udang vannamei yang dipelihara pada media dengan penambahan jenis mineral tertentu dapat meningkatkan nilai pertumbuhan. Proses molting memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan. Mineral, terutama kalsium, sangat dibutuhkan pada proses molting tersebut. Dlaam kondisi kebutuhan mineral yang tercukupi, tubuh udang dapat lebih mudah menjalan fungsi fisiologis pergantian kulitnya. Menurut Davis et al. , mineral berperan dalam pertumbuhan udang, yaitu untuk metabolisme tubuh dalam mengatur permeabilitas membran sel dan mengatur masuknya nutrisi dalam tubuh. Keluar masuknya nutrisi tersebut menjadi sumber energi untuk melakukan molting. Ketersediaan kalsium juga berpengaruh terhadap aktifitas osmoregulasi. Apabila udang berada dalam keadaan yang jauh dari titik homeotasi, maka aktifitas osmoregulasi akan berjalan dengan intensitas yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan porsi energi yang dibutuhkan menjadi Titik homeostasis udang yang berkaitan dengan tekanan osmotic disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic antara lingkungan dengan tubuh. Penambahan mineral dapat menekan perbedaan pertumbuhan tersebut. Menurut Rachmawati et al. apabila energi udang vaname yang digunakan untuk osmoregulasi meningkat maka energi untuk pertumbuhan akan menurun, sehinga akan menyebabkan laju pertumbuhan juga menurun. Rasio konversi pakan 2,50 2,00 1,74 1,50 1,67 1,11 1,03 1,27 1,00 0,50 Gambar 3. Grafik rasio konversi pakan (P1= air laut. P2= air tawar. P3= air tawar CaCO3 40 P4= air tawar CaCO3 80 ppm. P5= air tawar CaCO3 120 pp. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Rasio konversi pakan adalah perbandingan jumlah total pakan dengan berat total udang yang dihasilkan selama pemeliharaan (Riani et al. , 2. Berdasarkkan Gambar 3. Nilai rasio konversi pakan paling tinggi terdapat pada P2 sebesar 1,74 sedangkan nilai terendah pada perlakuan 1 Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan kalsium CaCO3 tidak memberikan pengaruh nyata pada rasio konversi pakan (FCR) pada udang vaname. Pada grafik hasil penelitian menunjukan jumlah rasio konversi pakan tertinggi ada pada perlakuan dua P2 . emeliharaan air tawa. dengan nilai konversi pakan 1,74 , kemudian diikuti perlakuan P5 . ir tawar 120 ppm CaCO. dengan nilai rasio konversi pakan sebesar 1,67 pada perlakuan satu P4 . ir tawar 80 ppm CaCO. nilai konversi pakan sebesar 1,27 pada perlakuan P3 . ir tawar 40 ppm CaCO. nilai rasio konversi pakan sebesar 1,11 dan nilai rasio konversi pakan yang paling rendah terdapat pada perlakuan empat P1 . emeliharaan air lau. dengan nilai konversi pakan sebesar 1,03. Nilai konversi pakan menunjukan seberapa baik udang memanfaatkan nutrisi dari pakan. Semakin rendah nilai konversi pakan yang dihasilkan menunjukan efisiensi pemanfaatan pakan semakin Hal ini didukung oleh Sulawesty dkk . yang menyatakan bahwa rasio konversi pakan pakan menunjukan keefisienan dalam pemberian pakan. Nilai yang makin rendah menunjukan bahwa pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara baik oleh biota budidaya. Kadar kalsium Media 25,00 20,00 15,00 14,28 15,64 17,27 18,84 10,00 5,00 0,00 Gambar 4. Grafik kadar kalsium pada media pemeliharaan (P2= air tawar. P3= air tawar CaCO3 40 ppm. P4= air tawar CaCO3 80 ppm. P5= air tawar CaCO3 120 pp. Nilai rata-rata kadar kalsium disajikan pada Gambar 4. Kadar kalsium tertinggi selama 45 hari adalah pada perlakuan 5 sebesar 18,84 mg/L sedangkan paling rendah adalah pada perlakuan 2 sebesar 14,28 mg/L. Kalsium merupakan mineral yang dibutuhkan udang untuk tumbuh (NurAoaisyah et al. , 2. Berdasarkan Gambar 4. kadar kalsium pada media pemelihaan tertinggi terjadi pada perlakuan 5, yaitu 18,84 mg/L. Nilai terendah terdapat pada perlakuan 2 yaitu sebesar 14,28 mg/L. Hal ini diduga karena terlalu rendah dan terlalu tinggi kadar kalsium pertumbuhan akan terganggu. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Cheng et al. , 2. jika kalsium memiliki kadar yang kurang atau berlebihan akan menghambat pertumbuhan udang. Kadar kalsium memberikan pengaruh terhadap nilai pertumbuhan. Terlihat dari grafik pertumbuhan, bahwa tanpa pemberian kalsium pertumbuhan lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan yang diberikan kalsium. Menurut Arsono, et al. pada lobster air tawar yang diberikan kalsium karbonat (CaCO. memilik peran dalam proses molting untuk meningkatkan pertumbuhan, karena lobster air tawar meningkatkan pertumbuhan melalui proses molting dan Selain itu kalsium mampu mengefisienkan kerja osmotik udang, sesuai dengan penelitian penelitian Kaligis et al. bahwa udang vaname yang diturunkan salinitas sampai dengan 0 ppt yang diberikan kalsium sebanyak 50 ppm mampu mempertahankan nilai tingkat kelangsungan hidup. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Kualitas air Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air Parameter Nilai Optimum 7,5 Ae 8,5 (BSNI. Suhu Aya 28 Ae 33 (BSNI. DO . Amonia <0,1 (BSNI, (BSNI, Suhu yang didapatkan selama penelitian berlangsunb berkisar antara 27,3 Ae 29. 4 AC. Berdasarkan literatur diketahui bahwa suhu optimal udang vaname menurut BSNI . yaitu 28-33 AC oleh karena itu suhu selama penelitian masih bisa ditolerir oleh udang. Menurut Rakhfid et al. bahwa suhu dapat mempengaruhi oksigen, suhu tinggi akan menurunkan kadar oksigen, sedangkan suhu rendah akan meningkatkan oksigen. Selain itu suhu juga akan mempengaruhi laju metabolisme dari udang, hal ini akan berdampak pada laju pertumbuhan udang juga. Berdasarkan hasil pengukuran pH berkisar antara 6. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ph selama pemeliharaan berada dalam kisaran optimal. Menurut BSNI . , nilai optimum pH untuk pemeliharaan udang vaname berkisar antara 7. 5 Ae 8. Nilai pH yang optimal dalam penelitian ini diduga juga berkaitan dengan adanya penambahan Kkalsium akan mempengaruhi nilai pH. Hal ini Ssesuai dengan fungsi dari kalsium sebagai pengoptimalan pH dalam perairan serta tanah. Dalam persiapan kolam kapur biasanya berfungsi untuk mengoptimalkan atau sebagai buffer pH sebelum pengisian air. Menurut Nirmala et al. , . , bahwa dalam kapur dolomit (CaCO. merupakan buffer yang berperan dalam dan meminimalkan fluktuasi pH dalam perairan, hal ini bisa dilihat dari hasil pengukuran pada Tabel 4. Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas dalam perairan. Menurut Yunus et al. bahwa oksigen merupakan komponen utama dalam perairan untuk metabolisme perairan. Kebutuhan akan oksigen bergantung pada stadia dan aktifitas udang. Udang yang masih berukuran kecil akan membutuhkan oksigen lebih banyak, seiring pertumbuhan kebutuhan oksigen udang akan semakin Selama penelitian didapatkan hasil pengukuran berkisar antara 6. 67 mg/l dapat dikatakan baik untuk pertumbuhan. Salinitas merupakan parameter untuk menentukan kadar garam pada perairan. Selama penelitian kadar salinitas tidak berubah. Pada perlakuan 1 kadar salinitas sebesar 30 ppt sedangkan pada perlakuan lain sebesar 0 ppt. Walaupun kadar salinitas yang rendah tetapi masih bisa ditolerir karena udang berdifat euryhalin. Menurut Febriani et al. bahwa udang vaname bersifat euryhaline sehingga mampu hidup pada salinitas 0-45 ppt. Tetapi menurut Yunus et al. bahwa udang vaname dapat hidup optimal pada kisaran salinitas 15-30 ppt. Salinitas yang rendah akan mempengaruhi kandungan mineral salah satunya adalah kalsium. Menurut NurAoaisyah et al. bahwa semakin rendah salinitas kandungan mineralnya juga Hal ini mempengaruhi pertumbuhan udang vaname. Pada perlakuan 2 tanpa pemberian kalsium pertumbuhan udang lebih rendah jadi lambat. Hal ini terjadi karena pada perlakuan 2 kandungan kalsium masih rendah. Djika dibandingkan dengan perlakuan yang ditambahkan Amonia berasal sisa pakan yang tidak termakan dan feses udang yang mengendap pada dasar Amoniak diukur menggunakan hanna cheaker. Selama penelitian dilakukan 3 kali. Hasil pengukuran konsentrasi amonia selama peneltian berkisar antara 0. 01 Ae 0. 1 mg/l, dimana nilai ini masih hal ini cukup baik karena masih berada pada kisaran optimal yang ditetapkan untuk pemeliharaan udang vaname . kadar amoniak yang baik menurut BSNI . mg/l. To Cite this Paper: Scabra. Cokrowati. Wahyudi. Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO. pada Media Ir Tawar Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 14 . : 129-140. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Nilai ammonia yang optimum selama penelitian diakibatkan karena dilakukannya sipon setiap hari pada waktu pagi. Selain itu penambahan kalsium menyebabkan rendahnya nilai amoniak yang terdeksi saat pengukuran. Pada perlakuan yang tidak ditambahkan kalsium nilai amoniak yang terdeteksi sebesar 0,01-0,1 mg/l sedangkan yang ditambahkan kalsium berkisar antara 0,01-0,09 mg/l. Pada siklus nitrogen amonaik berubah menjadi nitrit dan nitrat. Pada perlakuan yang ditambahkan kalsium CaCO3 terindaksi bahwa proses nitrifikasi berlangsung baik diakibatkan pH yang optimal. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kadarini et al. , 2. bahwa penambahan kalsium CaCO3 dapat menyebabkan proses nitrifikasi lebih baik pada pH yang KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini adalah kalsium memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang vannamei yang dipelihara pada media air tawar. Perlakuan 1 merupakan perlakuan terbaik. Pada media air tawar. Perlakuan 3 adalah perlakuan terbaik yang menghasilkan pertumbuhan bobot udang sebesar 14,74 g dan tingkat kelangsungan sebesar 68%. Saran Saran yang dapat diberikan adalah perlu ditambahkan mineral yang lain agar pertumbuhan udang vaname semakin mendekati optimal. Mineral yang dapat diberikan adalah seperti magnesium, posfor, dan kalium. DAFTAR PUSTAKA