Original Research Paper Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun dan Ranting Castanopsis argentea (Blum. DC. terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Antibacterial Activity of Leaf and Twig Extracts of Castanopsis argentea (Blum. DC. Against Escherichia coli and Staphylococcus Alifa Amalia1, *. Muhammad Imam Surya2 . Intani Quarta Lailaty2. Frisca Damayanti2. Tri Rini Nuringtyas3 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Jl. Teknika Selatan. Sekip Utara. Bulaksumur Yogyakarta, 55281 Indonesia. Kebun Raya Cibodas. Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya. Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jawa Barat, 4325. Indonesia. Pusat Penelitian Bioteknologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, 55281. Indonesia. *Corresponding Author: tririni@ugm. Abstrak: Castanopsis argentea merupakan salah satu sumber potensial antibiotik alami yang belum banyak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa aktivitas antibakteri dan mempelajari kandungan senyawa metabolit sekunder dari ekstrak daun dan ranting Castanopsis argentea terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan metode paper disk untuk melihat aktivitas antibakteri. Aktivitas antibakteri ditunjukkan oleh terbentuknya zona bening di sekitar kertas cakram. Sampel dibuat menjadi 3 perlakuan yaitu konsentrasi 20 mg/ml. 40 mg/ml. dan 80 mg/ml. Pelarut yang digunakan dipilih berdasarkan tingkat kepolaran yaitu etil asetat, etanol 70%, dan akuades. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak paling potensial menghambat pertumbuhan bakteri adalah ekstrak ranting etil asetat konsentrasi 80 mg/ml dengan rata-rata diameter 6 mm untuk bakteri Eschericia coli dan 8. 67 mm untuk bakteri Staphylococcus aureus. Kandungan senyawa yang teridentifikasi pada ekstrak ranting etil asetat adalah terpenoid, fenolik, dan flavonoid. Hasil profilling dengan sepktrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa serapan maksimum senyawa terpenoid, flavonoid, dan fenolik terdapat pada rentang panjang gelombang 300-600 nm. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun dan ranting Castanopsis argentea mengakibatkan spesies tersebut berpotensi sebagai antibakteri alami. Kata kunci: Antibakteri. Castanopsis argentea. Metabolit Sekunder Abstract: Castanopsis argentea is a potential souce of natural antibiotics that has not been studied much. The purpose of this study was to analyze the antibacterial activity and study the content of secondary metabolites from leaves and twigs extract of Castanopsis argentea against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. This study used the paper disk method to see antibacterial activity. Antibacterial activiy was indicated by the formation of a clear zone around the dic paper. Samples were made into three treatments, namely the concentration of 20 mg/ml. 40 mg/ml. and 80 mg/ml. the solvent used was selected based on the level of polarity namely ethyl acetate, 70% ethanol, and aquades. The results of the antibacterial activity test showed that the extract with the most potential to inhibit bacterial growth was ethyl acetate twig extract at a concentration of 80 mg/ml with an average diameter of 6mm for Escherichia coli bacteria and 8. 67 mm for Staphylococcus aureus The compounds identified in the ethyl acetate twig extract are terpenoids, phenolics, and flavonoids. The results of profiling using UV-Vis spectrophotometry showed that the maximum absorption of terpenoids, flavonoids, and phenolics compounds was found in the wavelength range of 300-600 nm. The secondary metabolite compounds contained in the leaf and twig extracts of Castanopsi argentea make this species a potential natural antibacterial. A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Keywords: Antibacterial. Castanopsis argentea. Secondary Metabolites Dikumpulkan: 7 Desember 2024 Direvisi: 6 Februari 2025 Diterima: 15 April 2025 Dipublikasi: 30 April 2025 Pendahuluan argentea yang dapat menjadi Antibakteri terhadap bakteri E. coli dan S. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhaktivitas antibakteri ekstrak daun dan ranting C. argentea terhadap E. coli dan S. Indonesia adalah negara yang memiliki ekosistem tinggi karena terdapat keragaman iklim, jenis tanah, dan faktor lingkungan lainnya. Hal tersebut mengakibatkan Indonesia memiliki keanekaragaman spesies yang sangat tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih dan Halimah . , dilaporkan bahwa tanaman yang berpotensi sebagai obat herbal memiliki kandungan senyawa yang berperan sebagai antibakteri. Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri adalah Castanopsis argentea. Castanopsis adalah salah satu tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat sebagai imunomodulator. Menurut penelitan Alkhandari et al. , sebagai agen imunomodulator, ekstrak daun C. costata berpotensi sebagai antidiabetes, antimalaria, analgetik, anti-inflamasi, antijamur, antioksidan, dan antibakteri. Potensi tersebut berasal dari senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, flavonoid, glycoside, antraquinon, tannin, dan triterpenoid. Lebih lanjut, penelitian oleh Gao et al. menyebutkan bahwa ekstrak metanol dari daun, batang, dan kulit akar C. lamontii menunjukkan aktivitas antibakteri berspektrum luas yang dapat melawan bakteri Gram positif dan Gram negatif. argentea masih termasuk ke dalam genus Castanopsis yang sama dengan spesies C. lamontii sehingga memiliki kecenderungan berpotensi sebagai antibakteri pula. Penelitian mengenai potensi tanaman sebagai antibakteri telah banyak dilaporkan. Disisi lain, resistensi antibakteri terhadap antibiotik masih muncul dan belum ada penurunan secara signifikan. Eksplorasi potensi aktivitas antibakteri daun dan ranting C. argantea belum banyak dilakukan terutama di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa Aktivitas Antibakteri tertinggi terhadap bakteri E. coli dan S. ureus dan mempelajari kandungan golongan senyawa metabolit sekunder dari ekstrak daun dan ranting Bahan dan Metode Bahan Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia daun dan ranting argentea yang diperoleh dari Kebun Raya Cibodas Jawa Barat. Bahan yang digunakan untuk ekstraksi adalah pelarut etil asetat (Merc. , etanol 70% (Merc. , akuades, kertas saring, alumunium foil, dan plastic seal. Bahan yang digunakan untuk preparasi dan suspensi bakteri adalah media Mueller Hinton Agar (MHA). Mueller Hinton Broth (MHB), akuades, kapas steril, kasa steril, plastic seal, alumunium foil, subkultur bakteri E. coli FNCC 0091 dan subkultur bakteri S. aureus FNCC 0047. Bahan yang digunakan untuk uji aktivitas Antibakteri adalah subkultur bakteri E. FNCC 0091 dan S. aureus FNCC 0047 yang sudah diukur dengan spektrofotometer OD600 nm dan telah memenuhi absorbansi 0,1-0,5, kertas cakram antibiotik Blank Disc Oxoid, sampel daun dan ranting C. argentea dengan konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, 80 mg/ml, kontrol positif antibiotik kloramfenikol 1 mg/ml, kontrol negatif DMSO 10%, alkohol, spiritus, cotton bud, pemantik api. Bahan yang digunakan untuk KLT adalah sampel ekstrak etil asetat ranting C. 000 ppm, plat silika gel GF254, kertas saring, alumunium foil, n-hexan (Merc. , etil asetat (Merc. , vanillin sulfat. FeCl3, dragendorff, sitroborat, thymol blue, folin-ciocalteu, caffein, quercetine, dan kardus. Bahan yang digunakan untuk spektrofotometri UV-Vis adalah larutan stok ekstrak daun dan ranting C. mg/ml, pelarut etil asetat (Merc. , etanol 70% (Merc. , dan akuades. A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Alat Alat untuk ekstraksi antara lain Erlenmeyer 250 ml, gelas ukur 250 ml, dan lemari maserasi. Alat untuk preparasi dan suspensi bakteri antara lain erlenmeyer 250 ml dan 100 ml, gelas ukur 250 ml, microwave, tabung reaksi, cawan petri, yellow tip, blue tip, dan microtube. Alat untuk uji aktivtas Antibakteri antara lain Laminar Air Flow (LAF), inkubator, mikropipet P20, dan yellow tip. Alat untuk uji KLT antara lain lemari asam, oven. Erlenmeyer 25 ml, gelas chamber, pipet ukur, propipet. UV transilluminator, hair dryer, mikropipet, blue tip, dan white tip. Alat untuk uji spektrofotometer antara lain kuvet kuarsa, gelas beaker, mikropipet P1000, dan blue tip. Ekstraksi Daun dan Batang C. Sebanyak 25 g simplisia ditambahkan 250 ml pelarut etil asetat, etanol 70%, dan Sampel akuades dilakukan dekoksi. Selanjutnya dilakukan pengadukan simplisia dan pelarut yang telah tercampur di dalam Erlenmeyer selama satu menit. Erlenmeyer kemudian dimasukkan ke dalam lemari maserasi selama 3-4 hari. Ekstrak kemudian disaring menggunakan kertas saring. Larutan hasil filtrasi diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga didapatkan filtrat kental. Pofil Seyawa Organik Ekstrak daun dan ranting etil asestat, etanol 70%, dan akuades C. UV/Vis. Larutan blanko yang digunakan disesuaikan dengan masing-masing pelarut Sampel yang telah divortex selanjutnya dimasukkan ke dalam kuvet kuarsa kurang lebih 2 ml dan dibaca absorbansinya menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Konsentrasi yang kromatogram sesuai pada sampel adalah 500 Preparasi dan Suspensi Bakteri Sebanyak 9,5 gram MHA dilarutkan ke dalam 250 ml akuades. Media MHA selanjutnya dimasukkan ke dalam microwave dan dipanaskan hingga larutan MHA terlihat jernih. Media disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121oC, 5 atm, dan selama 15 menit. Media MHA dituang ke dalam tabung reaksi untuk agar miring dan kedalam petri. Sebanyak 2,1 gram MHB ditimbang dan dilarutkan ke dalam 100 ml akuades lalu dimicrowave hingga jernih. Larutan MHB dituang ke dalam 10 tabung reaksi sebanyak 9 Tabung reaksi yang berisi media MHB kemudian diautoklaf. Uji Antibakteri Daun dan Ranting C. Terhadap E. coli dan S. Bakteri E. coli dan S. aureus yang sudah dikultivasi dalam kultur cair MHB selama 24 jam spektrofotometer UV-Vis hingga absorbasni 0. pada panjang gelombang 600 nm, akan menghasilkan jumlah sel 1. 5 y 108 cfu/ml . McFarlan. (Mahmudah et al. , 2. Kultur cair bakteri dispread ke dalam media MHA dengan cotton bud steril. Sampel konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, dan 80 mg/ml, kontrol positif kloramfenikol 1 mg/1ml, dan kontrol negatif DMSO 10% masing-masing diteteskan ke dalam kertas cakram sebanyak 20 AAl lalu dimasukkan ke permukaan media MHA. Aktivitas Antibakteri ditentukan setelah 24 jam dengan ditandai adanya zona hambatan. Perhitungan diameter zona bening dilakukan berdasarkan metode Mahmudah et al. , . Diameter zona bening dihitung dari 2 sisi yaitu sisi vertikal dan sisi horizontal. Identifikasi Golongan Senyawa Aktif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak sampel yang berpotensi sebagai antibakteri, diambil sebanyak 20 mg dan dilarutkan dengan 0,2 ml pelarut yang digunakan saat ekstraksi. Plat KLT diberi batas atas 0,5 cm dan batas bawah 1,5 cm lalu diaktivasi dengan oven pada suhu 80oC selama 15 menit. Eluen atau fase gerak yang digunakan adalah nheksan:etil asetat 7:3. Ekstrak sampel dan larutan standar ditotolkan pada batas bawah plat silica gel dan dielusi ke dalam gelas chamber. Identifikasi golongan metabolit sekunder pada ekstrak sampel dapat diketahui setelah dilakukan penyemprotan dengan pereaksi semprot spesifik. GC-MS A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Ekstrak etil asetat ranting C. dianalisis menggunakan Kromatografi GasSpektrofotometri Massa di Laboratorium Kimia Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Gadjah Mada. Hasil dan Pembahasan Hasil Ekstraksi Daun dan Ranting Castanopsis . Table 1. Hasil ekstrak daun dan ranting C. Pelarut Dau Ran Berat . Rende Simp Extr Etil Asetat Etanol Akuades 2,31 9,24 3,79 15,16 3,67 14,68 Etil Asetat Etanol 4,76 19,04 Akuades 3,63 14,52 Pada sampel ranting yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%, rendemen tertinggi adalah 19,04%. Begitu juga dengan pelarut kuades menghasilkan rendemen 14,52% (Tabel . Perbedaan jumlah hasil disebabkan oleh berbagai kandungan metabolit sekunder. Dari hasil ketiga sampel tersebut, ditemukan bahwa ekstrak etanol 70% menghasilkan rendemen tertinggi. Ini menunjukkan bahwa sampel daun dan ranting Castanopsis argentea mengandung lebih banyak senyawa polar. Profil Senyawa Organik Daun dan Ranting Castanopsis argentea . Gambar 1. Visualisasi score plot ekstrak etil asetat . , etanol 70% . , dan aquades . untuk Gambar . dan Loading plot untuk Gambar. Senyawa yang larut dalam pelarut etil asetat dan senyawa yang larut dalam pelarut akuades berada di kuadran yang hampir sama yaitu kuadran II dan IV (Gambar 1 . Ekstrak akuades berada pada kuadran II, i, dan IV sementara ekstrak etanol berada di kuadran i saja (Gambar 1 . Panjang gelombang yang berpengaruh terhadap pembentukan diagram etil adalah 260, 265, 280, 285, 560, 665 (Gambar 1. Pada panjang gelombang tersebut, tidak ada senyawa yang terdekteksi pada ekstrak etil, sementara senyawa dalam ekstrak etanol dan senyawa dalam akuades terdeteksi. Disisi lain pada panjang gelombang 375, 380, dan 385 terdeteksi senyawa pada ekstrak etil asetat dan sangat sedikit terdekteksi kandungan senyawa pada ekstrak etanol serta ekstrak akuades (Gambar 1 . A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Tabel 2. Absorbansi maksimum dari panjang gelombang yang diserap dari senyawa ekstrak Ekstrak Etil Asetat Absorbansi Panjang Gelombang . 370 - 665 Etanol Akuades Metabolit Sekunder Tannins. Chlorophyll, carotene, proteins Chlorophyll, protein, carotene Tabel 2, menyatakan bahwa pada panjang gelombang 400-600 nm merupakan panjang gelombang yang mewakili metabolit sekunder asam klorogenat . , asam ferulic . , asam sinaptik . , tanin . , karotenoid . , flavonoid atau favin . , klorofil . -730 n. dan antosianin . (Jeveevitha et al, 2. Analisis Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun dan Ranting C. argentea terhadap Bakteri E. coli dan S. Gambar 15. Aktivitas antibakteri daun dan ranting C. argentea terhadap S. Perbedaan signifikan berdasarkan Uji Duncan pada p<0. Ekstrak etil asetat C. konsentrasi 80 mg/ml terhadap E. menghasilkan diameter 4 mm untuk daun dan 6 mm untuk ranting. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat ranting C. argentea konsentrasi 80 mg/ml tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 20 mg/ml dan 40 mg/ml (Gambar . Ekstrak etil asetat C. argentea konsentrasi 80 mg/ml terhadap bakteri aureus, menghasilkan diameter 6. 3 mm untuk daun dan 8. 67 mm untuk ranting. Hasil statistik aureus menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat ranting C. argentea 80 mg/ml berbeda signifikan dengan konsentrasi 20 mg/ml dan 40 mg/ml (Gambar . Identifikasi Golongan Senyawa Aktif Ekstrak Etil Asetat Ranting Castanopsis argentea Gambar 2. Aktivitas antibakteri daun dan ranting argentea terhadap bakteri E. Perbedaan berdasarkan Uji Duncan pada p<0. A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Metabolit Sekunder Ekstrak Ranting Etil Asetat Rf . Terpenoids Phenolis Flavonoids Alkaloids Senyawa yang memiliki Rf lebih besar memiliki kepolaran lebih rendah. Hal ini disebabkan karena fase diam bersifat polar. Oleh karena itu, senyawa yang lebih polar akan tertahan pada fasa diam dan menghasilkan nilai Rf yang rendah (Forestryana Arnida, 2. GC-MS Tabel 4. Metabolit sekunder dan aktivitas biologis ekstrak etil asetat ranting C. Gambar 6. Deteksi kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak etil asetat ranting C. a: Terpenoid. b: Fenolik. c: Flavonoid. d: Alkaloid dalam cahaya tampak. UV 254 nm, dan 366 nm. Hasil TLC menunjukkan bahwa sampel positif mengandung terpenoid, fenolik, dan Uji terpenoid ditunjukkan dengan adanya noda ungu pada pelat TLC setelah disemprot dengan vanilin sulfat. Uji fenolik dengan adanya bintik-bintik biru-hitam pada pelat TLC setelah disemprot dengan FeCl3. Uji flavonoid ditunjukkan dengan adanya warna kuning kehijauan hingga oranye kemerahan pada plat TLC setelah disemprotkan menggunakan Kandungan senyawa alkaloid tidak terdeteksi pada plat KLT setelah disemprot (Gambar . Tabel 3. Hasil pengujian kandungan metabolit sekunder ekstrak etil asetat ranting C. Time Senyawa Hexadeca Area (%) Kelom Alkane Hentriaco Alkane Eicosane Alkane Hexadeca noid acid. Fatty Aktivitas Biologi Antibacte Antiinflamator Antibacte Antibacte rial and Hasil GC-MS menunjukan bahwa ekstrak etil asetat ranting C. mengandung empat jenis metabolit sekunder yang terdiri dari alkana dan ester asam lemak (Tabel . Kelimpahan senyawa ditunjukkan oleh % luas yang menunjukan hasil bahwa Hexadecanoid acid, methyl ester merupakan senyawa paling tinggi dengan kelimpahan 26% diikuti oleh eicosane dengan % A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Hexadecanoid acid, methyl ester tergolong kedalam ester asam lemak dan eicosane tergolong kedalam alkana. Empat jenis metabolit sekunder pada ekstrak etil asetat ranting C. argentea memiliki Aktivitas Antibakteri (Table . Pembahasan Ekstraksi Daun Dan Ranting Castanopsis Pada penelitian ini, dipilih tiga jenis pelarut berbeda yang sesuai dengan jenis Adapun pelarut yang digunakan antara lain etil asetat, etanol 70%, dan akuades. Senyawa yang terkekstrak pada proses maserasi adalah senyawa yang memiliki polaritas yang sesuai dengan pelarut yang digunakan (Kiswandono, 2. Proses pemisahan senyawa dalam simplisia suatu pelarut pada prinsipnya didasari hukum like dissolve like yaitu senyawa polar akan larut dalam senyawa polar dan senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar (Mariana et al. Hasil menunjukkan bahwa daun dan ranting C. argentea lebih banyak mengandung senyawa polar karena rendemen tertinggi didapatkan dari pelarut etanol 70% dan disusul pelarut akuades, sementara etil asetat memberikan rendemen terendah. Perbedaan jumlah rendemen dari kedua sampel disebabkan karena kandungan metabolit sekunder pada tumbuhan yang bervariasi. Pelarut etanol lebih umum digunakan sebagai pelarut ekstrak berbagai senyawa serta polaritas pelarut etanol lebih rendah dibandingkan polaritas pelarut Etanol juga merupakan pelarut yang baik untuk senyawa yang relatif kurang polar. Sementara pelarut akuades bersifat polar sehingga tidak dapat melarutkan senyawasenyawa bersifat kurang polar dengan baik (Fardhyanti dan Riski, 2. Pelarut etil asetat merupakan pelarut semi polar yang memiliki tingkat kepolaran 4,4 sementara pelarut etanol merupakan pelarut polar dengan tingkat kepolaran 5,2 (Anova dan yeni, 2. Adanya gugus etoksi yang terdapat pada struktur kimia etil asetat menyebabkan etil asetat dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa yang terdapat pada sampel. Ikatan hidrogen yang terbentuk pada pelarut etil asetat lebih lemah dibandingkan ikatan hidrogen pada pelarut etanol. Akibatnya, rendemen etil asetat lebih sedikit dibandingkan rendemen etanol (Tursiman et al. , 2. Profil Senyawa Organik Daun dan Ranting Castanopsis argentea Metode yang sering digunakan untuk mengolah data multivariat yaitu Principal Component Analysis atau PCA. Senyawasenyawa didalam C. argentea mengelompok berdasarkan jenis ekstraknya yaitu etil asetat, etanol 70%, dan akuades. Score plot dibentuk oleh PC-1 dan PC-2. Sampel yang memiliki score dekat di sepanjang PC yang sama memiliki karakter yang sama atau serupa (Munawar dan Hasanuddin, 2. Grafik score plot bertujuan menunjukkan hubungan antar sampel yang diuji pada komponen PC1 dan PC2 (Azizi et al. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Manik et al. , menyebutkan bahwa sampel-sampel yang berdekatan memiliki karakteristik relatif mirip. Sementara sampel Senyawa dalam pelarut etil asetat dan senyawa dalam akuades terlihat memiliki karakteristik yang relatif dekat. Lain halnya dengan senyawa yang larut dalam pelarut etanol, berdiri sendiri pada kuadran i yang mengindikasikan bahwa senyawa yang larut dalam pelarut etanol memiliki karakteristik berbeda dari kedua ekstrak lainnya walaupun memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dengan senyawa yang larut dalam akuades. Kontribusi variabel dalam loading plot didasarkan atas jarak yang digunakan. Semakin jauh jarak variabel dari titik awal, maka semakin besar kontribusi variabel terhadap proses PCA (Arina et al. , 2. Terdapat dua aksis yaitu Loadings 1 yang menunjukan PC-1 dan Loadings 2 yang meunjukkan PC-2. Dari loading plot, dapat diketahui rentang panjang gelombang yang menjadi ciri dari masing-masing sampel. Analisis Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun dan Ranting Castanopsis argentea Terhadap A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. Bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak daun dan ranting C. argentea pada penelitian ini menggunakan metode paper disk. Metode ini memiliki kelebihan lebih cepat dalam melakukan pengujiannya, mudah, dan sederhana. Metode difusi paper disk memiliki prinsip kerja zat uji . kstrak daun dan ranting C. berbagai konsentrasi diteteskan pada kertas cakram sehingga dapat berdifusi pada permukaan media padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji (Widyawati, 2. Ranting memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dibanding daun, dapat diduga karena akumulasi produksi metabolit sekunder di ranting lebih tinggi dibandingkan daun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Handayani et al. , melaporkan bahwa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, terpenoid berpotensi sebagai antibakteri. Dari hasil penelitian menunjukan jika ekstrak ranting etil asetat dengan konsentrasi 80 mg/ml memiliki aktivitas antibakteri lebih dominan pada bakteri Gram positif S. aureus dibanding bakteri Gram negatif E. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati et al. bahwa zona hambat Aktivitas Antibakteri Gram positif S. aureus lebih besar dibandingkan dengan Gram negative (E. Hal tersebut dapat disebabkan karena bakteri gram negatif memiliki dinding sel yang lebih kompleks sehingga memiliki resistensi lebih baik terhadap senyawa Antibakteri. Hampir 95% dinding sel bakteri Gram positif tersusun atas peptidoglikan. Sementara itu, dinding sel bakteri Gram negatif tersusun atas lipidprotein, lipopolisakarida, dan mengadung sedikit peptidoglikan sebesar 5-10% saja. Lapisan lipopolisakarida pada bakteri Gram negatif memperkuat kekuatan atau rigiditas dinding selnya melalui ikatan kationik Akibatnya, bakteri Gram negatif menjadi lebih kokoh dan sulit ditembus oleh senyawa Antibakteri. Sedangkan struktur dinding sel bakteri Gram positif lebih sederhana sehingga memudahkan senyawa Antibakteri masuk ke dalam sel (Septiani et al. , 2. Identifikasi Golongan Senyawa Aktif Ekstrak Etil Asetat Ranting Castanopsis Ekstrak yang paling berpotensi sebagai antibakteri selanjutnya diidentifikasi golongan senyawa aktifnya menggunakan Kroamtografi Lapis Tipis. Senyawa metabolit sekunder yang akan dianalisis dari ekstrak etil asetat ranting C. argentea adalah terpenoid, fenolik, flavonoid, dan alkaloid. Golongan senyawa terpenoid memiliki potensi sebagai antimikroba yaitu sebagai antijamur, antibakteri, dan antivirus. Mekanisme kerja senyawa terpenoid sebagai antibakteri adalah merusak dinding sel bakteri dengan menganggu komponen peptidoglikan sel bakteri sehingga lapisan dinding sel lisis, dinding sel rusak, isi sel keluar, dan bakteri mengalami kematian (Ibrahim dan Kuncoro, 2. Senyawa fenol menyebabakan koagulasi protein, mengubah permeabilitas membran bakteri sehingga sel membran mengalami lisis (Nurhasanah dan Gultom, 2. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hidayah et al. , gugus hidroksil senyawa fenol (OH) memiliki pengaruh terhadap aktivitas antibakteri. Semakin tinggi senyawa fenol yang teroksidasi, maka penghambatan pertumbuhan organisme semakin kuat. Mekanisme toksisitas fenol terhadap mikroorganisme melalui penghambatan enzim oleh senyawa yang teroksidasi. Flavonoid pada tumbuhan diketahui memiliki sifat antibakteri. flavonoid dapat menghambat motilitas bakteri dengan cara melepaskan energi tranduksi terhadap membran Struktur flavonoid yang mengandung gugus hidroksil dapat mengakibatkan perubahan komponen organik transpor nutrisi sehingga menimbulkan efek toksik terhadap bakteri. Deteksi golongan senyawa alkaloid menggunakan senyawa pembanding caffein dan pereaksi semprot dragendorff. Hasil KLT menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat ranting C. argentea tidak mengandung alkaloid karena tidak muncul bercak noda berwarna kuning hingga kuning keabuan pada plat KLT setelah Alkaloid ditemukan diberbagai bagian tanaman seperti bunga, biji, daun, ranting, akar, dan kulit batang. Namun, alkaloid memiliki kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa rumit dari jaringan tumbuhan (Ningrum et al. , 2. A 2025 Amalia . This article is open access Amalia, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 9-19 DOI: 10. 22146/bib. GC-MS GC-MS memiliki sensitivitas tinggi sehingga dapat memisahkan senyawa yang saling Selain itu. GC-MS dapat menganalisa berbagai senyawa dalam kadar atau konsentrasi rendah (Candradiningrat, 2. Komponen senyawa yang terdeteksi pada ekstrak etil asetat ranting C. argentea antara lain hexadecane, hentriacontane, dan eicosane yang termasuk dalam kelompok alkana, serta hexadecanoid acid, methyl estery yang termasuk dalam kelompok asam lemak ester. Senyawa hexadecane memiliki Aktivitas biologis sebagai Antibakteri dan antioksidan (Yogeswari et al. , 2. Hentriacontane Aktivitas antinflamatory, antitumor, dan Aktivitas antimirkroba (Khajuria et al. , 2. Sementara itu, eicosane dan hexadecanoid acid, methyl ester memiliki Aktivitas biologis sebagai antifungal dan Antibakteri (Zona et al. , 2021. Karunia dan Sumarni, 2. Kesimpulan Kesimpulan pada penelitian ini adalah aktivitas antibakteri tertinggi, didapatkan dari ekstrak ranting etil asetat kosentrasi 80 mg/ml untuk bakteri E. coli dan S. Kandungan senyawa metabolit sekunder dari ekstrak ranting etil asetat diantaranya terpenoid, fenolik, dan Berdasarkan profiling metabolit sekunder daun dan ranting C. argantea serapan maksimum senyawa flavonoid adalah 400-600 Senyawa fenolik pada panjang gelombang 450-500 nm, dan senyawa terpenoid pada panjang gelombang 500-530 nm. Castanopsis costata (Blum. DC. Avicenna Journal Phytomed, 9. url:https://w. gov/pm c/articles/PMC6727430/ Anova. dan Yeni. Rasio pelarut etnaol dan etil asetat pada proses ekstraksi terhadap karakteristik katekin dari gambir. Jurnal Litbang Indutri, 10. : 121-127. Doi: org/10. 24960/jli. Arina. Shiyan. dan Suprayetno. Analisis kemometrik ektrak akar tunjuk langit (Helminthostachys zeylanica (L)) melalui analisis fourier transformed infrared dari berbagai daerah Sumatra Selatan. Jurnal Aisyiyah Medika, 7. : 243-258. https://jurnal. stikes-aisyiyahpalembang. id/index. php/JAM/arti cle/view/806 Azizi. Sari. Sari. , dan Agusti, . Metode Analisis Next Generation Sequencing (NGS). Nas Media Pustaka. Makassar. ISBN: 6233511747,p. Candradiningrat. Santika. , dan Prayascita. Review Kemampuan GC-MS Dalam Identifikasi Flunitrazepam Terkait Dengan Aspek Forensik dan Klinik. Jurnal Kimia, 15 . : 12-19. Doi: org/10. 24843/JCHEM. Referensi