HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 1-14 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 26 September 2025. Revised, 20 Oktober 2025. Accepted, 22 Desember 2025. Published, 30 Desember 2025 MEMBUMIKAN PELAYANAN MIKHA DALAM KEHIDUPAN MENGGEREJA: STUDI HISTORIKAL DAN TEKSTUAL DALAM MIKHA 3:1Ae12 Yokibet Henny Kawangung 1. Joel Brilian Amadeus 2. Anon Dwi Saputro 3 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta joeatox@gmail. Abstract: This article examines Micah 3:1Ae12 as an exegetical-theological foundation for the churchAos efforts to ground its ministry among marginalized communities. Micah 3 exposes the abuse of power by IsraelAos leaders who oppressed the poor and violated the principles of GodAos justice. Through an exegetical approach, this study interprets MicahAos prophetic message within its historical context and then extracts its theological relevance for the life of the contemporary church. The findings indicate that MicahAos critique of social injustice is not merely a moral exhortation but a prophetic call to redirect the life of GodAos people toward His will, which sides with the weak and the oppressed. In the ecclesial context, the text underscores that authentic ministry cannot be separated from the praxis of social justice that upholds human dignity. Thus. Micah 3:1Ae12 provides a prophetic paradigm that guides the church to be concretely present within social realities and to implement a transformative ministry for marginalized groups. Keywords: Micah, marginalized, injustice, being the church Abstrak: Artikel ini mengkaji Mikha 3:1Ae12 sebagai fondasi eksegetis-teologis bagi upaya gereja dalam membumikan pelayanan kepada kaum termarginalkan. Mikha 3 menyingkap penyalahgunaan kuasa oleh para pemimpin Israel yang menindas rakyat kecil dan melanggar prinsip keadilan Allah. Melalui pendekatan eksegetis, penelitian ini menafsirkan pesan profetik Mikha dalam konteks historisnya, kemudian mengekstraksi relevansi teologisnya bagi kehidupan bergereja masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa kritik Mikha terhadap praktik ketidakadilan sosial bukan hanya seruan moral, melainkan sebuah panggilan profetik untuk mengarahkan kembali kehidupan umat kepada kehendak Allah yang berpihak pada kaum lemah dan tertindas. Dalam konteks menggereja, teks ini menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak dapat dilepaskan dari praksis keadilan sosial yang membela martabat Dengan demikian. Mikha 3:1Ae12 menyuguhkan paradigma profetik yang menuntun gereja untuk hadir secara konkret di tengah realitas sosial dan mengimplementasikan pelayanan yang transformatif bagi kaum Kata Kunci: Mikha. Kaum marginal. Ketidakadilan. Menggereja Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Pelayanan kepada kaum termarginalkan merupakan panggilan universal bagi seluruh umat manusia yang berlandaskan pada martabat kemanusiaan dan keadilan sosial. Istilah marginal dalam kajian sosial merujuk pada kondisi individu atau kelompok yang tersisih dari akses penuh terhadap sumber daya, pengakuan, dan partisipasi dalam kehidupan bersama. Artikel ini secara khusus menekankan pada marginalisasi religius, yakni peminggiran yang terjadi akibat mekanisme keagamaan baik melalui stigma teologis, praktik ekskomunikasi, maupun penyingkiran sosial yang dilegitimasi oleh otoritas religius. Dalam berbagai konteks kehidupan sosial, keberadaan kelompok yang terpinggirkan kerap menjadi indikator adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan struktural. Situasi ini tidak hanya menyingkapkan kelemahan dalam sistem sosial, tetapi juga menegaskan kebutuhan mendesak akan pelayanan yang bersifat inklusif, adil, dan transformatif. Bagi gereja, perhatian kepada kelompok rentan dan terpinggirkan memiliki dimensi teologis yang mendalam. Kehadiran gereja tidak hanya ditentukan oleh aktivitas liturgis, melainkan juga oleh kesediaannya menjadi tubuh Kristus yang menghadirkan solidaritas bagi mereka yang dilupakan. Dalam konteks ini, kelompok termarginalkan dipahami sebagai kaum miskin struktural yakni mereka yang kehilangan akses terhadap keadilan, perlindungan hukum, dan kesejahteraan dasar akibat penyalahgunaan kekuasaan politik, ekonomi, dan religius. Realitas inilah yang menjadi latar utama kritik profetik Mikha 3:1Ae12. Dengan demikian, pelayanan bagi Pelayanan kepada kaum termarginalkan merupakan panggilan universal bagi seluruh umat manusia yang berlandaskan pada martabat kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam berbagai konteks kehidupan sosial, keberadaan kelompok yang terpinggirkan kerap menjadi indikator adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan struktural. Situasi ini tidak hanya menyingkapkan kelemahan dalam sistem sosial, tetapi juga menegaskan kebutuhan mendesak akan pelayanan yang bersifat inklusif, adil, dan transformatif. Ketimpangan sosial dan penindasan struktural terhadap kaum miskin masih menjadi realitas yang bertahan dalam sistem sosial modern. Berbagai mekanisme ekonomi, politik, dan religius kerap bekerja secara tidak adil, sehingga kelompok rentan terus berada dalam posisi Dalam konteks ini, gereja dihadapkan pada persoalan teologis yang serius yakni mandat profetik untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan solidaritas bagi kaum tertindas belum sepenuhnya dihidupi secara konsisten. Pelayanan gereja sering tereduksi pada aktivitas ritual dan karitatif, sementara dimensi profetis yang bersifat kritis dan transformatif terhadap struktur ketidakadilan justru melemah. Jan Hendriks menegaskan bahwa jemaat yang vital dan menarik adalah jemaat yang tidak terkurung dalam aktivitas internal, tetapi terbuka pada konteks Dalam kerangka Aulima faktorAy pembangunan jemaat, ia menyatakan bahwa vitalitas gereja terlihat dalam kemampuannya menghadirkan kesaksian dan pelayanan yang relevan bagi dunia sekitarnya. 1 Artinya, sebuah jemaat yang hidup bukan hanya terukur dari intensitas ibadah, melainkan dari kesediaannya memberi perhatian pada kebutuhan nyata masyarakat, termasuk kaum termarginalkan. Ketegangan antara panggilan teologis gereja dan realitas sosial inilah yang membentuk problem utama penelitian ini. Kitab Mikha, khususnya Mikha 3:1Ae12, menghadirkan kritik profetik yang tajam terhadap penyalahgunaan kekuasaan politik dan religius yang mengorbankan keadilan sosial. Nabi Mikha mengekspos kepemimpinan yang memanipulasi hukum, mengeksploitasi kaum lemah, dan menggunakan agama sebagai legitimasi penindasan. Dalam teks ini, runtuhnya keadilan bukan sekadar kegagalan moral individual, melainkan konsekuensi struktural dari kekuasaan yang Hendriks. Jemaat Vital Dan Menarik: Membangun Jemaat Dengan Menggunakan Metode Lima Faktor. Seri Pembangunan Jemaat (Penerbit Kanisius, 2. , https://books. id/books?id=1I7xzQEACAAJ. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 terlepas dari kehendak Allah. Oleh karena itu. Mikha kerap dipahami sebagai suara oposisi profetik yang berpihak pada kaum miskin dan tertindas, sekaligus menegaskan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari praksis keadilan sosial. Boloje dan Groenewald menekankan bahwa teologi Mikha berakar pada visi keadilan sosial yang menolak segala bentuk eksploitasi dan ketidakadilan. Kritik nabi diarahkan kepada para pemimpin politik maupun religius yang gagal menegakkan keadilan, sementara perlindungan terhadap kaum lemah ditempatkan sebagai inti dari kesetiaan kepada Allah. 2 Pandangan dari Boloje dan Gronewald tersebut menekankan pada aspek kritik historis, yaitu latar belakang logis yang mendasari lahirnya retorika Mikha. Data sejarah menunjukkan, pergolakan politik di Israel pada era itu menjadikan bangsa ini tidak memiliki stabilitas politik. Meskipun analisis ini penting untuk memahami konteks nubuat Mikha, pendekatan tersebut belum secara dalam menggali teologis Mikha 3:1Ae12 sebagai landasan normatif bagi praksis pelayanan gereja. Klaasen melanjutkan diskursus tersebut dengan menekankan aspek agency dari kaum 3 Melalui konsep diakonia. Klaasen memperlihatkan bagaimana teks-teks kenabian, termasuk Mikha, dapat menjadi dasar teologis bagi gereja untuk menempatkan identitasnya dalam pemberdayaan kaum miskin dan tertindas. Perspektif ini memperkaya pemahaman bahwa pelayanan kepada kelompok marjinal tidak sekadar bersifat karitatif, melainkan merupakan bagian integral dari panggilan gereja. Selanjutnya. Hibbard menghadirkan perspektif komparatif antara Mikha dan Yesaya dalam menanggapi oposisi profetis. 4 Ia menunjukkan bahwa kritik nabi terhadap kepemimpinan bukan sekadar penolakan personal, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menegakkan standar keadilan Allah. Mikha diposisikan sebagai suara oposisi yang konsisten terhadap struktur penindasan, sehingga mempertegas dimensi profetis pelayanan gereja bagi kaum termarginalkan. Sementara itu. Becking menyoroti strategi polemik dalam kitab Mikha, khususnya dalam membangun kontras antara pemimpin yang korup dan standar kenabian. 5 Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kitab Mikha tidak hanya mengandung pesan moral, tetapi juga menggunakan perangkat retoris untuk mendekonstruksi legitimasi kekuasaan yang menindas. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa pelayanan gereja yang berakar pada teks Mikha seharusnya tidak berhenti pada retorika spiritual, melainkan aktif menantang sistem sosial yang melanggengkan ketidakadilan. Literatur ini secara kolektif menegaskan bahwa pesan profetis Mikha tetap relevan untuk mengkritisi struktur ketidakadilan serta mengarahkan gereja pada praksis pelayanan yang bertransformasi. Marthen mengungkapkan bahwa Berdasarkan tradisi, gereja hadir di dunia dengan tiga tugas utama yaitu AuKoinonia. Marturia, dan DiakoniaAy . ersekutu, bersaksi, dan melayan. Ketiga tugas pokok ini kemudian dijabarkan lebih lanjut ke dalam berbagai tugas dan pelayanan gereja di dunia. Dari ketiga tugas pokok tersebut, tampaknya perhatian gereja terhadap tugas ketiga, yaitu pelayanan kepada mereka yang lemah dan miskin, masih belum mendapat perhatian yang 6 Demikian juga hal yang sama diungkapkan oleh Fibri, bahwa Tugas dan panggilan orang percaya sebagai gereja seharusnya adalah untuk menyuarakan ketidakadilan dan Blessing Onoriode Boloje. AuMicahyCTMs Theory of the Justice of Judgement (Micah 3:1-. ,Ay Journal for Semitics 26, no. , https://doi. org/10. 25159/1013-8471/2948. John Stephanus Klaasen. AuDiaconia and Identity: Agency of the Marginalised,Ay Religions 14, no. 745, https://doi. org/10. 3390/rel14060745. Todd Hibbard. AuTo Err Is Human. Unless YouAore a Prophet: Isaiah and Micah on Prophetic Opposition,Ay Zeitschrift Fyr Die Alttestamentliche Wissenschaft 130, no. : 26Ae39, https://doi. org/doi:10. 1515/zaw-20181003. Bob Becking. AuReligious Polemics in the Book of Micah,Ay in New Perspectives on Old Testament Prophecy and History, ed. Rannfrid I. Thelle et al. (BRILL, 2. , https://doi. org/10. 1163/9789004293274_008. Marthen Nainupu. Pelayanan Gereja Kepada Orang Miskin, 2003, 70Ae93. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 penindasan terhadap hak-hak orang miskin. Gereja ada untuk membela yang lemah, yang tidak berdaya, yang miskin, dan yang terpinggirkan. Jika gereja tidak memihak kepada yang lemah, maka kehadirannya menjadi tidak bermakna. 7 Jonathan juga demikian. Panggilan orang percaya sebagai gereja adalah untuk terlibat aktif dalam memerangi kemiskinan dan ketidakadilan. Namun, gereja seringkali kurang berperan secara praktis dalam upaya pembebasan dari penindasan ekonomi dan sosial. Bahkan, gereja cenderung mengabaikan masalah penindasan hak-hak yang dilakukan oleh kaum kaya terhadap kaum miskin. Disisi lain Robert D. Lupton menekankan betapa pentingnya kedua konsep kasih dan keadilan dalam merangkul panggilan Kristen untuk melayani kaum termajinalkan dimana Kasih menuntut orang percaya untuk menanggapi dengan belas kasihan dan perhatian yang mendalam terhadap penderitaan orang lain, sementara keadilan mendorong orang percaya untuk aktif dalam usaha merubah struktur sosial yang menjadi penyebab ketidakadilan dan kemiskinan. Lupton menegaskan bahwa melayani mereka yang miskin tidak sekadar tentang memberikan bantuan sesaat, melainkan juga memahami akar penyebab kemiskinan dan bertindak untuk Ia menyajikan gagasan bahwa pelayanan yang efektif harus holistik, melibatkan bantuan langsung kepada individu yang membutuhkan serta usaha untuk memperbaiki sistem yang menciptakan ketidaksetaraan. 9 Dengan merujuk pada situasi ini, penulis menyadari bahwa ada kesamaan antara kondisi ini dengan zaman di mana kitab Mikha ditulis. Nabi Mikha mengekspos realitas pahit ketidakadilan sosial yang terjadi pada zamannya. Pelanggaran yang dilakukan oleh penguasa masyarakat meliputi tindakan melanggar prinsip agama . dan perilaku yang tidak adil terhadap sesama . :1-2, 8-. Para penguasa yang tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan meningkatnya kondisi ketidakadilan. 10 Para pejabat memprioritaskan kepentingan pribadi dan kelompok mereka dari pada kepentingan umum Akibatnya, sebagian besar masyarakat tetap hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan Yehuda hanya dinikmati oleh individu yang memiliki jabatan seperti pemimpin agama, pejabat negara atau raja, hakim, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan ekonomi. Menyaksikan pelanggaran sosial yang terjadi di sekelilingnya. Mikha merasakan belas kasihan yang mendalam terhadap penderitaan orang-orang yang miskin dan tertindas di masyarakat. Mikha sebagai nabi yang dipakai Allah menjadi oposisi bagi pemimpin social dan agama dalam menyuarakan ketidakadilan tersebut. oleh karena ini Mikha hadir untuk membumikan pelayanan dengan menyuarakan keadilan yang dilakukan oleh pemimpin bagi kaum termaginalkan. Sejumlah kajian telah menyoroti dimensi etis dan sosial dalam kitab Mikha, termasuk kritik terhadap elit penguasa dan relevansinya bagi kehidupan beriman. Namun, penelitianpenelitian tersebut umumnya berfokus pada analisis historis-kritis, pesan moral umum, atau isu sosial-ekonomi Israel. Kajian yang secara khusus menempatkan Mikha 3:1Ae12 sebagai dasar teologis untuk membangun paradigma pelayanan gereja bagi kaum termarginalkan masih sangat Gereja kerap terjebak dalam pelayanan yang bersifat ritualistik dan internal, sehingga Fibry Jati Nugroho. GEREJA DAN KEMISKINAN :DISKURSUS PERAN GEREJA DI TENGAH KEMISKINAN, 3 . : 100Ae112. Jonathan Horas M Silaban et al. UPAYA PEMBINAAN WARGA GEREJA: TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN BAGI PENGEMBANGAN RICH PERSONALITY REMAJA/PEMUDA, 2, no. : 11766Ae77. Robert D Lupton. Compassion. Justice, and the Christian Life: Rethinking Ministry to the Poor (Regal Books. Juan I Alfaro. Justice and Loyalty: Internasional Theological Commentary Micah (T & T Clark, 2. Melvin Malau. Keselamatan Di Balik Penghukuman : Menelisik Situasi Sosial Kitab Mikha, 3, no. 48Ae61. Alfaro. Justice and Loyalty: Internasional Theological Commentary Micah. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 dimensi profetis yang berpihak pada kaum lemah kurang diintegrasikan ke dalam praksis Berdasarkan celah penelitian tersebut, artikel ini berangkat dari pertanyaan: bagaimana pesan profetik Mikha 3:1Ae12 dapat menjadi dasar teologis bagi gereja dalam membangun pelayanan transformatif bagi kaum termarginalkan? Melalui kajian eksegetis-teologis, artikel ini melihat bahwa Mikha 3:1Ae12 tidak hanya mengkritik ketidakadilan, tetapi juga menawarkan kerangka teologis bagi gereja untuk menjalankan diakonia yang bersifat profetik yaitu pelayanan yang berani menegur penyalahgunaan kuasa, menantang struktur penindasan, dan membela hak-hak kaum miskin sebagai bagian integral dari identitas dan misi gereja di tengah dunia yang tidak adil. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegetis-teologis. Metode ini dipilih karena mampu mengungkap makna teks secara sistematis melalui analisis tekstual, historis, literer, dan teologis. 13 Pendekatan historis-kritis digunakan untuk menelusuri latar sosial-politik, ekonomi, dan religius Yehuda pada abad ke-8 SM, khususnya kondisi penyalahgunaan kekuasaan oleh elite politik dan religius yang menjadi sasaran kritik nabi Mikha. Selanjutnya, analisis literer berfokus untuk mengkaji struktur perikop Mikha 3:1Ae12, pendekatan teologi profetik, memandang teks kenabian sebagai bentuk teologis yang mengkritik struktur penindasan dan menuntut transformasi sosial. Selanjutnya, hermeneutik kontekstual, yaitu proses aktualisasi pesan Mikha 3:1Ae12 ke dalam konteks pelayanan gereja masa kini. Dalam artikel ini penulis akan memaparkan proses pembahasan yang akan dikaji. Tahap pertama adalah analisis teks, dengan menelaah struktur, kosakata kunci, dan gaya retorika Mikha dalam mengkritik para pemimpin yang menyalahgunakan kuasa. Tahap kedua adalah analisis historis, yaitu menelusuri latar sosial-politik Israel dan Yehuda yang ditandai oleh krisis moral serta penindasan terhadap rakyat kecil. Tahap ketiga adalah analisis literer, yang menempatkan perikop ini dalam keseluruhan kitab Mikha dan membandingkannya dengan nubuat nabi lain yang menekankan tema keadilan. Tahap keempat adalah analisis teologis, yang menyoroti pesan utama teks tentang keadilan Allah dan keberpihakan-Nya pada kaum lemah. Kritik Mikha dipahami bukan hanya sebagai seruan moral, melainkan sebagai panggilan profetik untuk menata kembali kehidupan umat sesuai kehendak Allah. Tahap terakhir adalah aktualisasi kontekstual, yaitu merelevansikan pesan Mikha dengan pelayanan gereja masa kini, sehingga teks ini menjadi paradigma profetik untuk menghadirkan pelayanan transformatif bagi kaum Temuan dan Pembahasan Konteks Historis Kitab Mikha Padangan Tradisional mengakui bahwa kitab Mikha ditulis oleh seorang bernama Mikha yang berasal dari Moresyet-Gat. 14 Argumen tersebut semakin valid jika merujuk kepada superskripsi yang dicantumkan di awal kepenulisan kitab ini. (Bdk. Mikha 1:. Kepenulisan kitab ini berlangsung sekitar tahun 740-710 SM. Pesan kenabian Mikha tidak jauh berbeda dengan Amos yang bernada penghakiman atas Auketidakadilan sosialAy yang terjadi pada masa itu. 15 Jika Grant Osborne. The Hermeneutical Spiral (IVP Academic, 20. Edward Glenny. Micah. A Comentary Based on Micah in Codex Vaticanus Septuagint Commentary Series (Brill, 2. , 52. obert B. Coote dan Marry P. Coote. Kuasa. Politik Dan Proses Pembuatan Alkitab. Trans. Minda Perangin Angin (BPK gunung mulia, 2. , 49. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 memperhatikan kitab Mikha secara komprehensif, penghakiman bukanlah satu-satunya tema utama dalan kepenulisan Mikha. Willem Vangemeren memposisikan tema AupenghakimanAy sebagai awal dari pemberitaan Mikha yang kemudian dilanjutkan dengan AupengharapanAy, dan Aupemulihan kerajaan Allah dan kerajaan MesianisAy. Nubuat Mikha berfokus pada tema penghukuman ilahi terhadap Israel dan Yehuda akibat penyimpangan hidup dari kehendak Allah, yang tampak dalam penindasan sosial dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin. Kekuasaan dan kekayaan dieksploitasi demi kepentingan pribadi, sementara praktik keagamaan direduksi menjadi ritual tanpa keadilan. Dalam kerangka ini, janji keselamatan justru diawali dengan kecaman keras terhadap para pemimpin yang mengabaikan keadilan (Mi. 3:1Ae. , karena ketidakadilan tersebut merupakan penyimpangan serius dari iman yang sejati. 17 Mikha sangat prihatin dengan para pemangku jabatan yang seharusnya bertanggung jawab untuk melaksanakan keadilan . justru memiliki perasaan terbalik dengan kekontrasan terhadap kebaikan. Diksi Aukataku: baiklah dengarAy dalam terjemahan Ibrani A( A iAMic. 3:1 WTT),18 mendapat pengulangan yang sama, baik . asal 2:. , . asal 3:. asal 6:. Wood melihat tampaknya ada penekanan khusus yang perlu dilihat dari penggulangan diksi tersebut. 19 kata tersebut sangat identik dengan bentuk imperatif sehingga dapat diartikan sebagai perintah atau ajaran terhadap seseorang untuk dapat mendengarkan dengan perhatian lebih. 20 Dengan kata lain, dalam menyampaikan pesan yang ia tujukan para pemimpin. Mikha ingin perhatian khusus yang pendengar dapat memperhatikan pesan penting sebagai seruan Ilahi yang Allah berikan melalui nabi Mikha. Urgensi pesan tersebut kemudian bernada ironis Aubukankah selayaknya kamu mengetahui keadilanAy. Ironi tersebut terucap sebagai sindiran bagi para pemimpin yang lalai dan tidak selaras dengan pengetahuan akan kebenaran yang mereka miliki. Dalam ayat 1, ada sebuah ironi yang kemudian dipertegas dengan peringatan kontras dalam ayat 2. Bangsa Israel selalu hidup dalam keadilan Allah, dan seharusnya mereka mengetahui keadilan dalam standar Allah yang seharusnya juga mereka lakukan bagi sesama. 21 Ironi tersebut menggambarkan ke tidak sadaran para pemuka atas kebenaran yang seharusnya. Dalam ayat 2: Aukamu yang membenci kebaikan dan mencintai kejahatanAy menjadi kontras sekaligus penegasan bahwa tindakan praktik para pemimpin jauh dari pemahaman mereka akan kebenaran. Mikha mengecam hal tersebut dengan penekanan keadilan . dalam kaitannya dengan manusia, yang aritnya mutu integritas yang dengannya seseorang memerlakukan orang lain sesuai standar Allah. Keadilan tidak ditentukan oleh stasus ekonomi, status sosial, relasi, latar belakang, atapun desas-desus, keadilan merupakan seuatu ekspresi kasih . 22 Mikha sadar akan hal tesebut, ia sebagai utusan Allah, memahami koredor yang benar dan ia merasakan dampak dari ketidakadilan pada akhirnya meneyebabkan manusia melawan sesamanya, golongan bawah semakin terpuruk dan tidak mendapatkan hak yang sewajarnya. Mikha memfokuskan pelayanannya untuk mengecam ketidakadilan dan ia bertekad ketika Allah memanggil dia sebagai alatnya dalam menyampaikan pesan tersebut. Ia sadar, pelayanannya terhadap kaum termaginalkan adalah melalui bentuk keperhatiannya dan seruannya dalam menyampaikan pesan Ilahi kepada para pemimpin dan pemuka-pemuka. Ditinjau dari makna teologis, seruan Willem A VanGemeren. Penginterprestasian Kitab Para Nabi (Momentum, 2. , 155. Alfaro. Justice and Loyalty: Internasional Theological Commentary Micah. Bible Works J Wood Leon. The Prophets of Israel (Gandum Mas, 2. , 449. Roy B. Zuck. A BIBLICAL THEOLOGY of The Old Tastement, ed. Bertha Gaspersz . , 147. P Gordon. AuMichah VII 19 and Akkadian Kabasu, . : 335. VanGemeren. Penginterprestasian Kitab Para Nabi. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 nabi Mikha tidak hanya sekedar ia melakukan apa yang Allah perintahkan, namun juga menjadi perhatikan khusus bagi sesamanya secara khusus kaum golongan bawah yang kurang mendapatkan keadilan. Dalam persoalan pasal 3, tampaknya Mikha mengetahui ada nabi-nabi yang mandatnya telah dipalsukan dan menghasut dengan tindakan-tindakan yang berbau negatif. Kecaman yang dilakukan oleh nabi Mikha, menandakan bahwa kehadiran nabi palsu dan penyembahan terhadap berhala masih menadi kultus yang dipertahankan orang Israel pada waktu itu. Van der Woude melihat fenomena tersebut sebagai kemerosotan Spiritual yang tak terbendung. Kehadiran Nabi Mikha menyuarakan kecaman keras sebagai bentuk konfronntasi terhadap Analisis Mikha 3: Membumikan Pelayanan Mikha Dalam Kehidupan Menggereja Kitab Mikha pasal 3 menampilkan kritik sosial yang sangat tajam terhadap para pemimpin Israel. Kritik ini diarahkan bukan semata pada kegagalan moral individual, melainkan pada penyalahgunaan kekuasaan secara sistematis yang menghasilkan ketidakadilan dan Sebagai seorang nabi yang sering disebut sebagai Aunabi orang miskin,Ay Mikha menyuarakan kepedulian Allah terhadap kelompok rentan yang menjadi korban eksploitasi elit politik, ekonomi, dan religius pada zamannya. Suara kenabian ini tidak hanya relevan pada konteks abad ke-8 SM, melainkan juga menyodorkan prinsip-prinsip etis yang tetap aktual bagi pelayanan gereja di tengah realitas ketidakadilan sosial masa kini. Menegur Para Pemimpin yang Tidak Adil (Mikha 3:1-. Pasal ketiga kitab Mikha merupakan salah satu teks profetik yang paling keras dalam mengekspos penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin Israel. Mikha membuka seruannya dengan pertanyaan retoris: A( iuia u u y u e a i A oAhEls lAkem lAdaat etAe hammipA) Ae AuBukankah sudah menjadi tugasmu untuk mengetahui keadilan?Ay (Mi. Frasa ini mengandung teguran teologis sekaligus yuridis. Kata A( A oAmipA) tidak hanya berarti Auaturan hukumAy dalam pengertian formal, tetapi juga mencakup keadilan relasional yang mengikat kehidupan sosial Israel (Ul. 16:18Ae20. 24 Para pemimpin yang menjadi hakim seharusnya menjadi penjaga norma ilahi yang memastikan hubungan antaranggota masyarakat berlangsung adil dan bebas dari eksploitasi. Namun, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya: mereka justru menyelewengkan hukum untuk kepentingan pribadi. Mikha melanjutkan kritiknya dengan tuduhan bahwa para pemimpin Aumembenci yang baik dan menyukai yang jahatAy (AaicA o A C AA CA aA o oic iA, ay. Ungkapan ini mengandung pembalikan ganda terhadap prinsip moral: para pemimpin tidak sekadar lalai dalam menegakkan kebenaran, tetapi secara aktif bersekutu dengan kejahatan dan menolak kebaikan. 25 Dalam perspektif profetik, sikap ini merupakan bentuk penolakan langsung terhadap kehendak Allah, sebab keadilan merupakan inti dari karakter dan perintah-Nya . Am. Lebih jauh. Mikha menggunakan metafora tubuh yang sangat keras: para pemimpin digambarkan sebagai orang Van Der Woude. Profeet En Establisment . William Holladay. A Concise Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament (Brill, 2. Francis Brown et al. The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon: With an Appendix Containing the Biblical Aramaic: Based on the Lexicon of Wilhelm Gesenius as Translated by Edward Robinson, and Edited with Constant Reference to the Thesaurus of Gesenius as Completed by E. Rydiger, and with Authorized Use of the German Editions of GeseniusAo Handwyrterbuch yuber Das Alte Testament, ed. Francis Brown (Clarendon Press. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . yang Aumenguliti mereka hingga bersih, dan memotong daging dari tulang-tulang merekaAy (AiA C yA Ac y A u Ai y i oiA AAe A uA oi y i A ooi iA ay. Penggambaran hiperbolis ini bukan deskripsi literal, melainkan satir profetik untuk menekankan sifat predatoris para pemimpin yang memperlakukan rakyat seperti korban yang siap disantap. Eksploitasi ekonomi dan politik mereka dipandang sebagai tindakan kanibalisme sosial, suatu kritik tajam yang sejalan dengan tradisi kenabian yang menyerukan keadilan bagi yang miskin dan tertindas (Yes. 10:1Ae2. Yer. 22:13Ae. Konsekuensi dari penyalahgunaan kekuasaan ini sangat serius. Mikha menegaskan bahwa Tuhan tidak akan menjawab doa-doa mereka Ai iA u Ca a uoA i o Ani a nA AiA o AA aC y oA AAu AeA i y oiAMaka pada waktu itu mereka akan berseru kepada TUHAN, tetapi Ia tidak akan menjawab mereka, dan Ia akan menyembunyikan wajah-Nya dari mereka,Ay ay. Istilah Ai AA A A( oyAhistar pAnym. Aumenyembunyikan wajahA. mengandung makna pengabaian ilahi, suatu tanda bahwa Allah menolak mengakui otoritas mereka karena perbuatan jahat yang telah melanggar perjanjian. Mikha 3:1Ae4 berfungsi sebagai kritik sosial yang relevan lintas zaman. Teks ini memperlihatkan korelasi erat antara korupsi struktural dengan penderitaan rakyat, di mana keadilan yang seharusnya melindungi justru diperdagangkan oleh penguasa. 27 Klaasen menambahkan bahwa teguran Mikha ini mengimplikasikan pentingnya diakonia gereja yang bersifat transformatifAiyakni pelayanan yang bukan hanya karitatif, melainkan juga mengoreksi struktur yang melahirkan ketidakadilan. 28 Suara Mikha tidak berhenti pada konteks abad ke-8 SM, melainkan tetap hidup sebagai seruan kenabian bagi gereja di era modern untuk membela hakhak kaum termarginalkan. Mengutuk Nabi Palsu yang Menyesatkan (Mikha 3:5-. Bagian ini menyoroti kecaman Mikha terhadap para nabi palsu yang telah menyelewengkan panggilan kenabian demi kepentingan pribadi. Dalam Mikha 3:5 digunakan ungkapan yang kuat yakni pernyataan AuAoaoy i A oy a oA A( Ay uCi a oA i ui A cAkoh Amar YHWH al-hannibyym hammatym et-ammy. AuBeginilah firman TUHAN terhadap para nabi yang menyesatkan umat-KuA. Kata kerja A( i A oyAhammaty. berasal dari akar kata AiA yang berarti Autersesat, menyimpang, menyesatkan. 29Ay Dalam konteks ini, kata tersebut menekankan tindakan aktif para nabi yang tidak hanya salah dalam penyampaian pesan, tetapi secara sengaja menyesatkan umat demi kepentingan mereka sendiri. Mikha menegaskan bahwa nabi-nabi ini bersikap diskriminatif: mereka menubuatkan damai (A uiyA. Aly. bagi mereka yang memberi makan kepada mereka, tetapi menyatakan perang (A Au iA, miluAm. terhadap yang tidak memberi (Mi. 3:5. 30 Pola pelayanan berbasis imbalan ini memperlihatkan degradasi serius dalam fungsi kenabian, yang seharusnya berakar Holladay. A Concise Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament. Boloje. AuMicahyCTMs Theory of the Justice of Judgement (Micah 3. Ay Klaasen. AuDiaconia and Identity. Ay Brown et al. The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon: With an Appendix Containing the Biblical Aramaic: Based on the Lexicon of Wilhelm Gesenius as Translated by Edward Robinson, and Edited with Constant Reference to the Thesaurus of Gesenius as Completed by E. Rydiger, and with Authorized Use of the German Editions of GeseniusAo Handwyrterbuch yuber Das Alte Testament. Kyhler et al. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, no. 4 (E. Brill, 1. , https://books. id/books?id=HZAYAQAAIAAJ. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 pada otoritas Allah, bukan pada keuntungan material. Nubuat mereka kehilangan integritas dan berubah menjadi instrumen penindasan sosial-ekonomi. Konsekuensi ilahi atas penyelewengan tersebut dinyatakan dalam ayat 6 AuAu uA u oA u iA A( Ayu u y A ni iA C o u u y ACyAlAAen lAyla lAAem meuAzyn wiuseA lAAem miqqissm. AuSebab itu malam bagimu tanpa penglihatan, dan kegelapan bagimu tanpa ramalanA. Penggunaan paralelisme A( u oA u iAlAyla, mala. dan A( C oAuseA, kegelapa. menandai absennya wahyu ilahi. Dengan kata lain, akibat keserakahan dan manipulasi nubuat. Allah sendiri menutup akses mereka terhadap visi profetik. Hal ini sejalan dengan pemahaman Perjanjian Lama bahwa nubuat sejati bukanlah produk kehendak manusia, melainkan berasal dari Roh Allah . Yer. 23:16Ae Ayat 7 menegaskan puncak penghukuman: para pelihat (A noyA C AiA, hauszy. dan para peramal (Ai AC oyA, haqqssimy. akan dipermalukan karena tidak lagi memiliki pesan dari Allah. Istilah A( niAuAzy, melihat, mendapat penglihata. yang biasanya melambangkan pengalaman spiritual kini berubah menjadi sarana penghakiman. 31 Dengan kata lain, profesi keagamaan mereka akan menjadi kosong, tanpa otoritas dan tanpa isi. Secara teologis, bagian ini mengandung kritik tajam terhadap komersialisasi pelayanan Para nabi dan imam yang menjadikan jabatan rohani sebagai sarana keuntungan pribadi tidak hanya merusak integritas pribadi mereka, tetapi juga mengkhianati identitas mereka sebagai utusan Allah. Mikha menegaskan bahwa penyalahgunaan otoritas rohani berujung pada kegelapan rohani dan terputusnya komunikasi dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan profetik tidak bisa dipisahkan dari standar kebenaran Allah, yakni keadilan dan kesetiaan pada firman-Nya. Mikha 3:5Ae7 bukan hanya teguran historis, melainkan juga sebuah peringatan teologis bagi pelayanan masa kini, agar jangan sampai kharisma rohani digunakan sebagai alat manipulasi, melainkan tetap tunduk pada kebenaran ilahi yang menuntut kejujuran, integritas, dan keberpihakan pada umat yang tertindas. Menegaskan Kebenaran dan Keadilan (Mikha 3:. Salah satu bagian yang paling menegaskan identitas profetik Mikha adalah pernyataannya dalam Mikha 3:8: AciiA AAi A o ieA Ai oA iA Aaou C aA AAiA aiu y a Cuo uA Aiuo A aA u o aiA A ACc AiA AAu( Aui e oe Au oATetapi aku ini penuh dengan kekuatan oleh Roh TUHAN, dengan keadilan dan keberanian, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanyaA. Ayat ini tidak hanya memperlihatkan profil Mikha sebagai nabi yang autentik, tetapi juga meneguhkan posisinya sebagai pembela kaum termarginalkan yang menjadi korban sistem sosial yang timpang. Pernyataan AuAku penuh dengan kekuatan oleh Roh TUHANAy (Ai oA iA Aaou C aA AA) uA menekankan bahwa otoritas Mikha tidak bersumber dari dirinya sendiri, melainkan dari AiA A( oA iAryau YHWH). Istilah A( u CAksau. AukekuatanA. di sini bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan kekuatan moral dan spiritual yang memberi legitimasi bagi Mikha untuk menyuarakan firman Allah. Kata ksau sering digunakan dalam konteks kekuatan yang efektif untuk melaksanakan kehendak ilahi. 32 Frase AuDengan keadilan dan keberanianAy (AciiA AA)i A o ieA Kedua istilah ini bersifat etis dan teologis. MipA (A) A oA menunjuk pada prinsip hukum dan keadilan sosial yang menegakkan hak orang miskin dan tertindas. Sedangkan gibyry (AciiA AA)eA Ibid. Kyhler et al. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 secara literal berarti AukeperkasaanAy atau AukeberanianAy, yang dalam konteks profetik merujuk pada keberanian moral untuk menentang struktur kuasa yang menindas. Mikha menegaskan bahwa kehadiran Roh Allah membekali dirinya untuk menyuarakan kebenaran meskipun berhadapan dengan elite politik dan religius yang korup. Frase AuUntuk memberitakan pelanggaran dan dosaAy (A o aiA. A AiA. AoeA A)ui eA Kata kerja A( ie oeAhiggyd. AumemberitakanA. dipakai dalam bentuk infinitif konstruksi dengan fungsi 34 Tugas utama Mikha adalah menyatakan dan menghadapkan pelanggaran umat di hadapan Allah. Istilah A( Apea. AupelanggaranA. menunjuk pada pemberontakan sadar terhadap kehendak Allah, sementara A( o aAuaot. AudosaA. merujuk pada kegagalan manusia dalam memenuhi standar perjanjian. Peran profetik Mikha adalah menyampaikan tuduhan ilahi agar umat menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada keadilan. Mikha tampil dalam konteks masyarakat yang penuh ketimpangan, di mana para pemimpin politik dan agama mengeksploitasi rakyat kecil . :1Ae3, 9Ae. Di tengah kondisi ini. Mikha menunjukkan dirinya sebagai nabi sejati yang memiliki komitmen kuat terhadap Penuh dengan ryau YHWH. Mikha tidak gentar mengkritik pemimpin yang Aumembenci yang baik dan menyukai yang jahatAy . Fungsi kenabian Mikha menegaskan bahwa Roh Allah selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Keberanian Mikha menyampaikan keadilan merupakan perwujudan panggilan profetik yang tidak hanya bersifat religius, tetapi juga sosial. Mikha menghadirkan teologi keadilan yang membumi, yakni membela hak-hak kaum termarginalkan sebagai bagian dari kesetiaan kepada Allah. Memperingatkan Akan Datangnya Penghukuman (Mikha 3:9-. Kitab Mikha memberikan kritik profetik yang tajam terhadap para pemimpin politik dan religius Israel dan Yehuda. Dalam Mikha 3:9Ae12, pesan ilahi yang dibawa nabi mencapai puncaknya dalam bentuk nubuat penghukuman atas ketidakadilan struktural yang dipraktikkan para pemimpin bangsa. Teks ini menunjukkan keterkaitan erat antara dosa kepemimpinan, rusaknya tatanan sosial, dan kehancuran kota sebagai konsekuensi dari penyimpangan terhadap kehendak Allah Ungkapan A( A o i A coyAhamtaEvym mipA. Auyang membenci keadilanA. menegaskan sikap aktif para pemimpin yang menolak prinsip hukum yang adil. Kata kerja AoiA . aaqey, dari akar . berarti Aumembengkokkan, memutarbalikkanAy, menunjukkan adanya distorsi terhadap Ausegala yang lurusAy (Au ui oA iA, kol-hayyiAr. Hal ini menyingkap realitas bahwa hukum dan keadilan tidak hanya diabaikan, tetapi sengaja dipelintir demi kepentingan kelompok tertentu. Metafora yang digunakan dalam ayat 10AiAcAiA C A( Ac e oy oiAbsneh iyn bidAmym. Aumembangun Sion dengan darahA. Aimenggambarkan pembangunan kota dan struktur politik yang ditegakkan dengan penindasan, kekerasan, dan korban dari mereka yang Frasa paralel A( Ac iA u i yi oi uAwiyiryAlaim biawlAh. AuYerusalem dengan ketidakadilanA. mempertegas bahwa pusat religius bangsa pun tercemar oleh praktik-praktik Hibbard. AuTo Err Is Human. Unless YouAore a Prophet: Isaiah and Micah on Prophetic Opposition. Ay Holladay. A Concise Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament. Becking. AuReligious Polemics in the Book of Micah. Ay Brown et al. The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon: With an Appendix Containing the Biblical Aramaic: Based on the Lexicon of Wilhelm Gesenius as Translated by Edward Robinson, and Edited with Constant Reference to the Thesaurus of Gesenius as Completed by E. Rydiger, and with Authorized Use of the German Editions of GeseniusAo Handwyrterbuch yuber Das Alte Testament. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Ayat 11 menyingkap peran para pemimpin, imam, dan nabi yang korup: Aioi o ACoi AcC e a oiA AuA C AAo ACi Acu iA coa oi oii c A o iA. Di sini terdapat tiga tuduhan utama: . Pemimpin . AyhA) yang mengadili dengan A( C eAsuad. AusuapA. Imam yang mengajar dengan imbalan (Ac A oA, bimuy. Nabi yang bernubuat demi uang (Acu A. A bikese. Kritik ini menunjukkan bahwa seluruh sistem religius telah terkorupsi oleh motif Dalam struktur sosial, institusi yang seharusnya menjaga integritas hukum dan peribadahan justru berperan dalam melanggengkan ketidakadilan. Sebagai klimaks. Mikha menyampaikan konsekuensi dari dosa para pemimpin: Au uA ceA u Auu y oi ei A A i oi u y o o Aioi iA i i c o Auc i o EA. Frasa AceA u Auu yA . iglalAem. Aukarena kamuA. menegaskan bahwa penyebab kehancuran adalah dosa para Tiga gambaran kehancuran digunakan: Pertama, kata kerja A( A AAteuAr. , dari akar A( Aur. AumembajakA. , dalam frasa A oi ei A AAmenggambarkan Sion yang diperlakukan layaknya ladang biasa. Ini menunjukkan profanasi: kesucian kota Allah hilang dan digantikan oleh status profan. Kedua, ungkapan A( Aioi o o yi oi uAwiyiryAlaim iyn tihye. menggunakan kata A( o oAiyn. Aupuing/reruntuhanA. untuk menandakan kehancuran total Yerusalem, melambangkan hilangnya identitas politik, sosial, dan religius umat Allah. Ketiga, frasa AiA i A A( o uci i c o Awihar habbayit libAmyt yAa. menggambarkan transformasi gunung Bait Allah menjadi bukit berhutan. Pergeseran dari ruang sakral menuju ruang liar ini mencerminkan desakralisasi total: tempat yang semula dipandang sebagai pusat kehadiran Allah kini tak lagi memiliki fungsi religius. Ironi teologis muncul karena bukit suci diperlakukan sama dengan bukitbukit kafir, mengisyaratkan pemutusan relasi Allah dengan umat yang menolak keadilan. Nubuat ini memperlihatkan hubungan kausalitas antara korupsi moral dan kehancuran nasional: dosa para pemimpin bukan hanya masalah etika individual, tetapi ancaman eksistensial bagi seluruh Analisis terhadap Mikha pasal 3 menunjukkan bahwa nubuat ini tidak hanya berfungsi sebagai teguran historis terhadap elite Israel abad ke-8 SM, melainkan juga sebagai peringatan teologis lintas zaman mengenai konsekuensi penyalahgunaan kuasa. Kritik tajam Mikha menyingkapkan realitas korupsi struktural, di mana keadilan diputarbalikkan, nubuat diperdagangkan, dan religiositas direduksi menjadi sarana ekonomi. Dengan bahasa Ibrani yang sarat metafora profetik. Mikha menegaskan bahwa kehadiran Roh TUHAN memberinya keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan membela kaum tertindas, sekaligus menubuatkan kehancuran kota suci sebagai simbol runtuhnya tatanan sosial-religius yang tidak setia pada Allah. Pesan ini tetap aktual bagi gereja masa kini, yang dipanggil untuk menghidupi iman secara profetik dengan menegakkan keadilan, menjaga integritas pelayanan, dan berpihak kepada kelompok yang terpinggirkan sebagai wujud kesetiaan pada Allah yang adil Implikasi Mikha 3 Membumikan Pelayanan Mikha Dalam Kehidupan Menggereja. Membumikan kaum termarginalkan adalah usaha untuk membuat perhatian dan pelayanan terhadap mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan tujuan istilah "membumikan" di sini mencerminkan proses mengakui keberadaan, martabat, dan hak-hak kaum termarginalkan sebagai bagian yang sangat penting. Ini melibatkan lebih dari sekadar memberikan bantuan jangka pendek. Ini juga tentang mengubah pola pikir, nilai, dan praktik yang mungkin mendukung penindasan dan ketidaksetaraan. Gereja masih bergerak pada Boloje. AuMicahyCTMs Theory of the Justice of Judgement (Micah 3. Ay HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 apa yang biasa terjadi, gereja masih terpaku pada rutinitas yang berpusat pada ibadah di dalam gedung gereja. Gereja perlu memikirkan pelayanan yang bersifat holistik yang tertuang dalam suatu pedoman pelayanan yang lebih lengkap yang di dalamnya memuat arahan pelayanan kepada orang miskin. Di dalam perannya di tengah dunia ini, gereja bukan saja memberi peran dalam sisi spiritualitas saja, akan tetapi juga mempunyai kewajiban berperan dalam sisi jasmani, dan sisi yang lain di dalam kehidupannya . Gereja perlu memberikan pelayanan yang menyentuh kehidupan jasmanai maupun rohani dalam bentuk pelayanan yang holistik. Sebagaimana Mikha mengkritik pemimpin yang menindas rakyat dan mengabaikan keadilan. Gereja masa kini bisa menjadi suara bagi ketidakadilan, korupsi, dan penindasan. Ini meliputi advokasi kebijakan kaum termarginalkan dan penolakan terhadap praktik-praktik yang tidak adil. Gereja harus secara konsisten menyuarakan kritik yang bersifat profetis terhadap segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, pelanggaran hak-hak masyarakat, serta sistem yang menindas dan merugikan manusia, tanpa memandang siapa pelakunya. Gereja harus menyerukan kepada orang kaya atau penguasa untuk menghormati dan mencintai kaum miskin sebagai sesama manusia. Mereka harus berhenti mengeksploitasi dan menindas, tetapi bertindak adil untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka, serta memuliakan Allah dengan hidup berbagi dengan sesama. Implikasi Mikha 3 terhadap pelayanan bagi kaum termarginalkan menegaskan bahwa gereja masa kini dipanggil untuk meneladani keberanian profetik Mikha yang mengekspos penyalahgunaan kekuasaan politik, ekonomi, dan religius. Kritik Mikha terhadap para pemimpin yang Aumembenci yang baik dan menyukai yang jahatAy (Mi. , para nabi palsu yang memperdagangkan nubuat demi keuntungan (Mi. 3:5Ae. , serta para imam yang mengajar demi bayaran (Mi. menunjukkan bahwa ketidakadilan struktural lahir ketika otoritas publik dan religius diselewengkan untuk kepentingan diri sendiri. Hal ini mengimplikasikan bahwa gereja tidak boleh hanya terpaku pada liturgi dan rutinitas internal, melainkan harus tampil sebagai suara kenabian yang menyuarakan kebenaran dengan kuasa Roh Allah (Mi. , membela hakhak kaum lemah, dan menolak segala bentuk eksplotasi. Pelayanan yang membumi bagi kaum termarginalkan berarti bukan sekadar aksi karitatif, tetapi transformasi yang menyentuh dimensi rohani dan sosial sekaligus, agar kehadiran gereja benar-benar menjadi tanda keadilan Allah yang menolak korupsi, menentang penindasan, dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat bagi semua. Kesimpulan Kajian eksegetis-teologis atas Mikha 3:1Ae12 menegaskan bahwa nubuat Mikha tidak dapat dipahami sebagai seruan moral individual semata, melainkan sebagai kritik profetik yang bersifat sistemik terhadap penyalahgunaan kekuasaan politik, religius, dan ekonomi yang melahirkan ketidakadilan struktural. Mikha mengecam para pemimpin yang memutarbalikkan mipA (A) oA keadilan relasional yang berakar pada perjanjian Allahserta para nabi dan imam yang memperdagangkan otoritas rohani demi keuntungan material. Dalam kerangka teologis Mikha, ketidakadilan sosial bukan sekadar kegagalan etis, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap iman yang sejati dan pemutusan relasi perjanjian dengan Allah. Dalam pesan profetik Mikha, penelitian ini menegaskan bahwa gereja masa kini belum sepenuhnya Nugroho. GEREJA DAN KEMISKINAN :DISKURSUS PERAN GEREJA DI TENGAH KEMISKINAN. Ibid. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 menghidupi mandat profetiknya ketika pelayanan direduksi pada liturgi internal dan tindakan karitatif yang terlepas dari kritik terhadap struktur penindasan. Oleh karena itu, membumikan pelayanan bagi kaum termarginalkan berarti menjadikan keberpihakan kepada mereka sebagai bagian integral dari identitas dan misi gereja, bukan sekadar program tambahan. Pelayanan yang setia pada Mikha 3:1Ae12 harus bersifat diakonia transformatif, yakni pelayanan yang menggabungkan solidaritas konkret dengan keberanian profetik untuk menegur penyalahgunaan kuasa, menolak komersialisasi pelayanan rohani, serta memperjuangkan keadilan sosial secara struktural. Dengan demikian. Mikha 3:1Ae12 menyediakan dasar teologis yang normatif dan relevan bagi gereja untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang profetik di tengah dunia yang timpang. Gereja dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dengan kuasa Roh Allah, membela hak-hak kaum lemah, dan menantang sistem sosial yang melanggengkan ketidakadilan, sebagai wujud kesetiaan kepada Allah yang adil dan berpihak kepada mereka yang tertindas. Daftar Pustaka