Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) DI KELUARAH WEK 1 KECAMATAN BATANGORU KABUPATEN TAPANULI SELATAN TAHUN 2025 Fatma Mutia1. Masnawati2. Nur Arfah Nasution3. Arisa Harfa Said Lubis4. Yuliarisyah Siregar5 Dosen Kebidanan Program Sarjana Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidimpuan Dosen Keperawatan Program Sarjana Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidimpuan Dosen Kebidanan Program Diploma Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidimpuan Dosen Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidimpuan fatmamutia024@gmail. ABSTRAK Rencana Prembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, menunjukkan bahwa BKKBN melakukan penggarapan KBKR pada permasalahan tingginya akseptor KB yang putus pakai dan rendahnya pemakaian KB MKJP. Wanita yang tidak mau menggunakan KB sebanyak 23 % dan di kalangan pria sebanyak 32 %. Penilitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru tahun 2025. Jenis penelitian yamg digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian survey analitik dan pendekatan cross Populasi dalam penelitian sebanyak 63 orang dengan teknik total sampling, data diperoleh menggunakan kuesioner dengan uji statistik chi-square pada pengujian ( = 0,. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden baik sebanyak 23 orang. ,5%), tidak mendapat dukungan suami sebanyak 33 orang . ,4%) dan mendapat dukungan petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) sebanyak 39 orang . ,9%). Uji statistik membuktikan pengetahuan berhubungan dengan penggunaan MKJP (P=0,000 atau p<0,. , dukungan suami berhubungan dengan penggunaan MKJP(P=0,000 atau p<0,. dan dukungan petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) berhubungan terhadap penggunaan MKJP (P=0,000 atau p<0,. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan agar WUS lebih mencari informasi dan dukungan dari suami maupun PLKB sebagai pertimbangan menentukan alat kontrasepsi. Kata Kunci : MKJP. Pengetahuan. Dukungan Suami. Dukungan Ptugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) ABSTRACT The National Medium-Term Development Plan (RPJMN) in 2020-2024 shows that BKKBN is working on Family Planning and Reproductive Health on the problem of high FP acceptors who have discontinued use and low use of Long Term Contraceptive Methods of Family Planning. Women who do not want to use FP are 23% and among men about 32%. This study was conducted with the aim of determining the factors related to the use of long-term contraceptive methods in Wek 1 Village. Batangtoru District in 2025. The type of research used is quantitative with an analytical survey research design and a cross-sectional approach. The population in the study was 63 people with a total sampling technique, data was obtained using a questionnaire with a chi-square statistical test in testing ( = 0. The results of the study showed that 23 people . 5%) had good knowledge of respondents, 33 people . 4%) did not receive support from their husbands and 39 people . 9%) received support from family planning field officers (PLKB). Statistical tests prove that knowledge is related to the use of long-term contraceptive methods (P=0. 000 or p<0. , husband's support is related to the use of long-term contraceptive methods (P=0. 000 or p<0. and support from family planning field officers (PLKB) is related to the use of long-term contraceptive methods (P=0. 000 or p<0. Based on the results of the study, it is expected that woman of childbearing age will seek more information and support from their husbands and family planning field officers as a consideration in determining contraceptives. Keywords : MKJP . ong-term contraceptive method. Knowledge. Husband's Support. Family Planning Field Officer (PLKB) Support Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Tapanuli Selatan tahun 2023 pemakai IUD 1. MOW 916. MOP 14. Kondom 1. Implan 5. Suntik 9. 239 dan Pil 5. 545 (BPS, Berdasarkan data dari Balai Penyuluhan Keluarga Berencana Kecamatan Batangrtoru, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 2024 sebanyak 4452 peserta dengan akseptor KB aktif Pengguna IUD 421. MOW 190. MOP 3. Implan 568. Suntik 910. Pil 312 dan Kondom 189. Dapat disimpulkan bahwa pengguna MKJP di Kecamatan Batangtoru lebih sedikit dibanding pengguna Non-MKJP. Di Desa Wek 1 jumlah PUS sebanyak 85 orang dengan jumlah akseptor aktif sebanyak 63 orang, dimana pengguna MOW 3. MOP 1. IUD 9. Implan 14. Suntik 12. Pil 9 dan Kondom 15 orang (Balai Penyuluhan KB Kecamatan Batangtoru, 2. Dari seluruh jumlah data pemakai alat kontrasepsi di Kecamatan Batangtoru dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya penggunaan alat kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Hal ini masih belum sesuai dengan Rencana Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (RENSTRA) tahun 2020-2024 untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan berdaya saing dengan program prioritas pengendalian penduduk. PENDAHULUAN Struktur penduduk di Indonesia menunjukkan ciri yang positif ditandai dengan tingginya proporsi penduduk usia produktif, sehingga kependudukan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan bonus demografi . emographic Dalam upaya mempertahankan dan memanfaatkan bonus demografi secara maksimal, diperlukan strategi yang tepat guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai modal pembangunan, serta diperlukan langkahlangkah penguatan pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian penduduk sehingga pemanfaatan bonus demografi dapat lebih komprehensif (BKKBN, 2. Berdasarkan data World Population Review jumlah penduduk dunia mencapai 8,09 miliar jiwa, meningkat 0,62% dari tahun 2023. Negara Indonesia tahun ke tahun terus mengalami pertambahan yang cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 jumlah penduduk Indonesia saat ini 278. 696,2 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,13%. Laju pertumbuhuan penduduk di Sumatera Utara juga mengalami kenaikan yaitu 1,21%. Pada tahun 2021, 1,9 miliar perempuan kelompok usia reproduksi . -49 tahu. diseluruh dunia terdapat 1,1 miliar membutuhkan menggunakan metode kontrasepsi modern dan 164 juta memiliki kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi (WHO, 2. Salah satu kebijakan dari Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang dijabarkan dalam RPJMN 2020-2024 adalah memberi perhatian lebih dalam penggarapan Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) terutama pada permasalahan tingginya peserta KB yang putus pakai (Drop Ou. serta masih rendahnya pemakaian KB MKJP dan KB Pria. Adapun penyebab utama menurunnya jumlah pengguna kontrasepsi modern pada Pasangan Usia Subur (PUS) adalah masih rendahnya tingkat pengetahuan dan kurangnya akses terhadap informasi yang akurat mengenai alat kontrasepsi (BKKBN, 2. Tahun 2022 pengguna kontrasepsi global dengan semua metode diperkirakan 65% dan metode modern 58,7% pada wanita yang sudah menikah (WHO, 2. Data BPS tahun 2023 di Indonesia wanita berumur 15-49 tahun dan berstatus menikah yang sedang memakai KB sebesar 55,49%. Provinsi Sumatera Utara mencapai 43,18% menggunakan kontrasepsi (BPS. Sumatera Utara pengguna IUD 34. MOW 67. MOP 1. Implan 018. Kondom 54. Suntik 423. 796 dan Pil 923 per tahun 2023. Daerah Kabupaten METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Survey Analitik dan menggunakan pendekatan Cross-Sectional serta pengumpulan dalam satu waktu dengan menggunakan kuesioner. Penelitian dilakukan di Desa Wek 1 Batangtoru dan dilaksanakan mulai bulan Januari-Mei 2025. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB aktif di wek 1 Kecamatan Batangtoru. Kabupaten Tapanuli Selatan dimana jumlahnya sebanyak 63 orang. Sampel diambil dengan teknik Total sampling, dimana jumlah sampel sama dengan jumlah Prosedur penelitian dimulai dari tahapan persiapan, peneliti membuat surat izin survey pendahuluan di Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan, lalu surat diantarkan ke Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah kepala dinas menyetujui dan mengeluarkan surat balasan untuk izin survey pendahuluan, peneliti mengantarkan surat tersebut ke Balai Penyuluhan Keluarga Berencana Kecamatan Batangtoru. Peneliti meminta data sekunder berupa jumlah akseptor KB dan data pengguna alat kontrasepsi di setiap desa Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) SMP SMA Perguruan Tinggi Total yang berada di Kecamatan Batangtoru. Setelah peneliti mendapat data yang dibutuhkan, data tersebut dianalisis dan didapatkan hasil bahwa pengguna MKJP di Kelurahan Wek 1 tergolong cukup rendah dibanding Desa yang lain. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian di Kelurahan Wek 1 Kec. Batangtoru. Selanjutnya pada tahap pelaksaan, peneliti membuat surat izin penelitian di Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan, lalu surat diantarkan ke Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah kepala dinas menyetujui dan mengeluarkan surat balasan untuk izin penelitian, peneliti mengantarkan surat tersebut ke Balai Penyuluhan Keluarga Berencana Kecamatan Batangtoru. Petugas balai memberi izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di Kelurahan Wek 1, lalu peneliti meminta izin kepada kepala desa dan meminta bantuan kepada anggota PPKBD untuk membantu peneliti saat melaksanakan penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan dari rumah kerumah dengan cara membagikan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria untuk mendapatkan data primer. Pengambilan data menggunakan teknik kuesioner yaitu dengan menggunakan serangkaian pertanyaan terkait dengan penelitian yang akan dilakukan dan diberikan secara langsung kepada responden untuk diisi sesuai petunjuk atau arahan dari peneliti. Penelitian dilakukan selama 4 hari pada bulan April. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan komputer melalui tahapan editing, coding, processing, cleaning dan tabulating. Analisa data yang digunakan adalah uji chi-square, namun jika uji tersebut tidak memenuhi syarat maka uji alternatif yang dilakukan adalah uji Fisher Exact dengan interval kepercayaan 95% (Oy = 0,. Pada tabel 3. 1 dapat diketahui bahwa dari 63 responden di Kelurahan Wek 1 Kec. Batangtoru, usia responden paling banyak di rentang umur >35 tahun sebanyak 35 orang . ,6%) dan usia responden paling sedikit di rentang umur 20-35 tahun sebanyak 28 orang . ,4%). Mayoritas pekerjaan ibu sebagai Petani sebanyak 35 orang . ,6%), minoritas sebagai PNS sebanyak 4 orang . ,3%). Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang menjadi responden paling banyak lulusan SMA sebanyak 35 orang . ,6%) dan paling sedikit lulusan SD sebanyak 3 orang . ,8%). 2 Pengetahuan Ibu Tabel 3. 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun 2025 Pengetahuan Ibu Baik Cukup Kurang Total Berdasarkan tabel 3. 2 dapat diketahui dari total 63 responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang . ,5%), cukup sebanyak 21 orang . ,3%) dan kurang sebanyak 19 orang . ,2%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan mayoritas responden memiliki pengetahuan baik. 3 Dukungan Suami Tabel 3. 3 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun 2025 HASIL 1 Karakteristik Responden Penelitian Tabel 3. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun 2025 Karakteristik Responden Umur 20-35 tahun >35 tahun Total Pekerjaan IRT PNS Wiraswasta Petani Total Pendidikan Terakhir Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Pada tabel 3. 3 terdapat 63 responden, yang menyatakan mendapat dukungan dari suami sebanyak 30 orang . ,6%) dan tidak mendapat dukungan sebanyak 33 orang . ,4%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden tidak mendapat dukungan dari suami. 4 Dukungan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Tabel 3. 4 Distribusi Frekuensi Dukungan PLKB Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun 2025 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Dukungan PLKB Mendukung Tidak Mendukung Total Tabel 3. 7 Distribusi Frekuensi Hubungan Dukungan Suami Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun Pada tabel 3. 4 diketahui dari 63 responden mayoritas mendapat dukungan sebanyak 39 orang . ,9%) dan tidak mendapat dukungan sebanyak 24 orang . ,1%). 5 Penggunaan Jenis Kontrasepsi Tabel 3. 5 Distribusi Frekuensi Penggunaan Jenis Kontrasepsi Responden di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun 2025 Penggunaan Kontrasepsi MKJP Non-MKJP Total Mendukung Tidak Mendukung Total Berdasarkan tabel 3. 7 terdapat 27 responden yang menggunakan MKJP, mendapat dukungan dari suami sebanyak 21 orang . ,3%) dan tidak mendapat dukungan sebanyak 6 orang . ,5%). Dari hasil analisis bivariat diperoleh P = 0,000 (<0,. artinya ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Dari tabel 3. 5 total pengguna kontrasepsi sebanyak 63 orang, yang menggunakan Non- MKJP sebanyak 36 orang . ,1%) dan pengguna MKJP sebanyak 27 orang . ,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas wanita usia subur di Kelurahan Wek 1 Kec. Batangtoru menggunakan Non-MKJP. 6 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Penggunaan MKJP Tabel 3. 6 Distribusi Frekuensi Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Penggunaan MKJP Jumlah Valu MKJP NonMKJP % N % N % 8 Hubungan Dukungan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Dengan Penggunaan MKJP Tabel 3. 8 Distribusi Frekuensi Hubungan Dukungan PLKB Dengan Penggunaan MKJP di Kelurahan Wek 1 Kecamatan Batangtoru Tahun Dukungan PLKB Jumlah Value Mendukung 23 Tidak Mendukung Total 0,001 Tabel 3. 8 menunjukkan bahwa dari 27 responden yang menggunakan MKJP, mendapat berencana/PLKB sebanyak 23 orang . ,5%%) dan tidak mendapat dukungan PLKB sebanyak 4 orang . ,3%). Hasil uji statistik didapatkan P = 0,001 . <0,. , berarti Ha diterima dan Ho ditolak, dimana terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan petugas lapangan berencana (PLKB) dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Pada tabel 3. 6 total pengguna MKJP sebanyak 27 responden, berpengetahuan baik sebanyak 19 orang . ,2%), cukup 5 orang . ,9%) dan pengetahuan kurang sebanyak 3 orang . ,8%). Dengan menggunakan uji statistik pada tingkat kemaknaan 5% menghasilkan P = 0,000 . <0,. , dimana Ha diterima dan Ho ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Suami Penggunaan MKJP MKJP Non-MKJP 19 30,2 4 6,3 23 36,5 5 7,9 16 25,4 21 33,3 0,00 3 4,8 16 25,4 19 30,2 27 42,9 36 57,1 63 100 7 Hubungan Dukungan Penggunaan MKJP Penggunaan MKJP Jumlah Value MKJP NonMKJP N % N % N % 21 33,3 9 14,3 30 47,6 6 9,5 27 42,9 33 52,4 0,000 27 42,9 36 57,1 63 100 Dukungan Suami PEMBAHASAN 1 Karakteristik Responden Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai kualifikasi karakteristik responden pada kuesioner yang telah disusun, hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang responden yang mengisi kuesioner secara jelas dan akurat sehingga Dengan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) nantinya responden akan dijadikan objek untuk dilakukan penelitian. Melalui kuesioner yang akan disebarkan, peneliti akan mengenal karakteristik responden dengan mencantumkan beberapa pertanyaan yang meliputi umur, pekerjaan dan pendidikan terakhir. 2 Umur Usia adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai tahun yang terakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang berumur >35 tahun sebanyak 35 orang dan umur 20-35 tahun sebanyak 28 orang. Selaras dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Marliana. , dimana mayoritas umur responden paling banyak ialah >35 tahun. Seseorang dengan umur >35 tahun merupakan fase mengakhiri kehamilan dan tidak ingin hamil lagi, sehingga lebih memilih untuk menggunakan MKJP untuk membatasi jumlah anak (Rosidah, 2. Dalam penelitian Suryanti . usia merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam ber- KB, responden yang lebih tua lebih kecil kemungkinannya dibandingkan dengan yang lebih muda untuk menggunakan Wanita usia subur (WUS) dengan usia relatif tua dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi yang memiliki efektifitas tinggi, seperti MKJP (BKKBN, 2. WUS dengan usia >35 tahun tidak disarankan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal karena berisiko meningkatkan tekanan darah, sehingga lebih disarankan untuk menggunakan kontrasepsi mantap atau tubektomi (Mariana dkk, 2. Oleh karena itu, kampanye tentang penggunaan MKJP pada wanita usia subur (WUS) dengan usia >35 tahun harus digalakkan mengingat besar risiko yang dialami apabila terjadi 3 Pekerjaan Status pekerjaan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai segala kegiatan yang dilakukan oleh responden untuk mencari nafkah atau mendapat penghasilan baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Wanita yang bekerja memiliki akses lebih mudah untuk memperoleh informasi terkait keluarga berencana dari media Hasil penelitian ini menunjukan pekerjaan responden paling banyak adalah Petani sebanyak 35 orang. IRT 13 orang. Wiraswasta 11 orang dan minoritas sebagai PNS yaitu sebanyak 4 orang. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hindun. juga menunjukkan hasil yang sama, dimana mayoritas pekerjaan responden sebagai Petani dan minoritas sebagai PNS. Sejalan dengan penelitian di Etiopia bahwa wanita yang bekerja lebih memungkinkan untuk menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita tidak bekerja (Fekadu dkk, 2. 4 Pendidikan Terakhir Pendidikan adalah proses perubahan sikap, tata laku seseorang atau kelompok orang untuk mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan secara formal (KBBI, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 63 responden yang berpendidikan SD sebanyak 3 orang. SMP 14 orang. SMA 35 orang dan perguruan tinggi sebanyak 11 responden. Sejalan dengan penelitian Rosidah dkk . , dimana tingkat pendidikan mempengaruhi penggunaan MKJP. Tingkat pendidikan mempunyai pengaruh dalam menentukan pilihan, karena seseorang yang memiliki pendidikan tinggi pada umumnya akan lebih luas pandangannya dan lebih mudah menerima ide maupun hal-hal inovatif (Triyanto dkk, 2. Menurut teori Bertand, pendidikan tidak hanya membuat responden memutuskan alat kontrasepsi yang akan dipakai, tetapi juga pola pikir untuk memahami sampai mengevaluasi alat kontrasepsi yang akan digunakan (Rosidah, 2. 5 Pengetahuan Ibu Tentang Penggunaan MKJP Pengetahuan merupakan landasan dalam menentukan tindakan untuk tertarik pada suatu hal. Pengetahuan memberikan pemahaman yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Pengetahuan responden dalam penelitian ini terkait kontrasepsi jangka panjang yang mencakup jenis, tujuan, manfaat, keuntungan dan efek samping alat kontrasepsi jangka panjang. Penelitian yang dilakukan oleh Marliana, . menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang MKJP dan perolehan nilai OR pada CI 95% sebesar 18,445 . ,219-80,. , artinya WUS yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 18,445 kali lebih besar untuk menggunakan MKJP di banding WUS yang memiliki pengetahuan kurang baik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan responden yang baik sebanyak 23 orang . ,5%), cukup sebanyak 21 orang . ,3%) dan kurang sebanyak 19 orang . ,2%). Mayoritas pengetahuan responden yaitu baik, dimana semakin baik pengetahuan seseorang maka semakin teliti dan bijak dalam menentukan metode kontrasepsi yang digunakan. Kedua penelitian memiliki kesamaan, yaitu mayoritas responden berpengetahuan baik tentang MKJP. Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakikat program KB akan mempengaruhi akseptor 5 KB dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) akan digunakan, termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan tidaknya, kenyamanan & keamanan dan dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai. Wawasan yang baik dapat meningkatkan kesadaran untuk terus memanfaatkan pelayanan. 6 Dukungan Suami Tentang Penggunaan MKJP Partisipasi suami dalam menyukseskan program KB dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Partisipasi suami secara tidak langsung yaitu dengan mendukung istri untuk menggunakan alat kontrasepsi. Berdasarkan hasil uji statistik, penelitian ini menunjukkan proporsi lebih besar pada responden yang tidak mendapat dukungan dari suami, yaitu sebanyak 33 orang . ,4%) dan mendapat dukungan dari suami sebanyak 30 orang . ,6%). Disimpulkan bahwa mayoritas akseptor KB aktif di Kelurahan Wek 1 Kec. Batangtoru tidak mendapat dukungan dari Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hindun. dan Sitorus. dimana mayoritas responden lebih banyak yang tidak mendapat dukungan dari suami. Hal ini menunjukkan kurangnya peran suami dalam mendukung istri untuk menentukan jenis KB yang 7 Dukungan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Tentang Penggunaan MKJP Penelitian yang dilakukan oleh (Pontoh dkk, 2. menyatakan jika responden yang tidak mendapat informasi dari PLKB dan tidak menjadi akseptor KB disebabkan karena responden kurang mendapat dukungan dari suami. Penyampaian informasi oleh petugas kesehatan terhadap akseptor KB dalam hal penyampaian jenis-jenis alat kontrasepsi, dampak dan penggunaannya menjadi salah satu indikator keberhasilan gerakan KB. Penelitian ini menunjukkan responden yang mendapat dukungan sebanyak 39 orang . ,9%) dan tidak mendapat dukungan sebanyak 24 orang . ,1%). Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Marliana. dengan hasil nilai OR 3,232, artinya dukungan petugas kesehatan memberikan peluang 3,232 kali lebih besar untuk WUS menggunakan MKJP. Kedua penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Hindun. , dimana responden yang tidak mendapat dukungan lebih banyak daripada yang mendapat dukungan. 8 Penggunaan Jenis Kontrasepsi Responden Penelitian ini menunjukkan bahwa total responden yang menggunakan MKJP sebanyak 27 orang . ,9%) dan Non-MKJP sebanyak 36 orang . ,1%), mayoritas akseptor KB aktif di Kelurahan Wek 1 adalah pengguna Non-MKJP. Adapun alasan responden tidak menggunakan MKJP karena kurangnya informasi mengenai kontrasepsi jangka Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian mengenai dukungan PLKB dengan penggunaan MKJP, dimana responden lebih banyak mendapat dukungan daripada tidak mendapat dukungan. 9 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Penggunaan MKJP Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan baik formal maupun non-formal, dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula Sebaliknya, jika pendidikannya rendah akan menghambat perkembangan seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Sulistyowati dkk, 2. Ada 2 penyebab utama menurunnya jumlah pengguna kontrasepsi modern khususnya di kalangan usia produktif, yaitu masih rendahnya pengetahuan terhadap kesehatan reproduksi dan kurangnya akses terhadap informasi yang akurat dan tepercaya mengenai alat kontrasepsi (BKKBN, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan total pengguna MKJP sebanyak 27 responden, berpengetahuan baik sebanyak 19 orang . ,2%), cukup 5 orang . ,9%), kurang sebanyak 3 orang . ,8%) dan dari 36 responden pengguna NonMKJP yang berpengetahuan baik sebanyak 4 orang . ,3%), cukup 16 orang . ,4%), kurang 16 orang . ,4%). Hasil uji statistik diketahui P = 0,000 . <0,. , mengidentifikasikan Ho ditolak dan Ha diterima, artinya pada (Oy 0,. menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hindun. di UPTD Puskesmas Longat Panyabungan dengan hasil P = 0,020. Asumsi pengetahuan ibu dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Kelurahan Wek 1 Kec. Batangtoru ialah mayoritas responden memiliki pengetahuan baik karena lebih banyak yang berpendidikan tinggi. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi pada umumnya akan lebih luas pandangannya dan lebih mudah menerima ide maupun hal-hal inovatif (Triyanto dkk, 2. Hal ini menjadi faktor utama mengenai penilaian responden terhadap penggunaan MKJP. Namun, banyak ibu yang berpengetahuan baik lebih memilih menggunakan Non-MKJP karena faktor sosial ekonomi atau pendapatan. Dari penelitian Rochmaedah. S . didapatkan hasil bahwa pendapatan yang cukup mempengaruhi ibu agar 6 lebih memilih alat kontrasepsi MKJP. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) 10 Hubungan Dukungan Suami Dengan Penggunaan MKJP Partisipasi suami dalam pemilihan kontrasepsi yang akan digunakan istri seperti mendukung istri dalam memilih alat kontrasepsi dan memberikan kebebasan terhadap istri dalam menentukan pilihannya untuk menggunakan alat kontrasepsi (Arjawa dkk, 2. Dukungan suami terhadap penggunaan MKJP dapat terwujud dalam bentuk perhatian untuk mengantar istri kontrol rutin, mengantar istri periksa jika terdapat keluhan, menyediakan waktu untuk berdiskusi dalam rangka merencanakan jumlah anggota keluarga dan memberikan saran untuk membatasi jumlah anggota dalam keluarga (Choiriyah dkk, 2. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 27 responden pengguna MKJP, mendapat dukungan dari suami sebanyak 21 orang . ,3%), tidak mendapat dukungan sebanyak 6orang . ,5%) dan dari 36 responden pengguna Non-MKJP yang mendapat dukungan dari suami sebanyak 9 orang . ,3%), tidak mendapat dukungan sebanyak 27 orang . ,9%). Hasil analisis bivariat diperoleh P = 0,000 (<0,. , mengidentifikasikan Ho ditolak dan Ha diterima artinya ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Paulina. di Puskesmas PA AL X Kota Jambi dimana nilai P = 0,020, artinya ada hubungan dukungan suami dengan pemilihan MKJP. Asumsi peneliti tentang mayoritas ibu yang tidak mendapat dukungan dari suami karena rendahnya tingkat pengetahuan suami mengenai MKJP, menurut (Rahayu dkk, 2. pengetahuan suami menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dukungan suami, dimana semakin baik tingkat pengetahuan suami mengenai metode kontrasepsi maka semakin baik pula dukungan yang Pentingnya dukungan suami dalam pemilihan kontrasepsi mempengaruhi WUS untuk menggunakan MKJP, maka diperlukan sosialisasi KB kepada PUS yang bukan hanya dititikberatkan pada wanita sebagai istri dalam pasangan tetapi dilakukan kepada keduanya. 11 Hubungan Dukungan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Dengan Penggunaan MKJP Menurut peraturan BKKBN No. 12 tahun 2017, layanan utama pendayagunaan PKB dan PLKB adalah penyuluhan dan penggerakan program pembangunan keluarga. Dilihat dari tugas pokok dan fungsi petugas lapangan keluarga berencana adalah agent of change pada keluarga dan masyarakat luas menuju perubahan dari tidak mendukung menjadi pendukung program KB, dari tidak peduli menjadi peduli dan dari yang tidak mau berpartisipasi menjadi berperan serta (Karilda. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 27 responden pengguna MKJP, mendapat dukungan petugas lapangan keluarga berencana/PLKB sebanyak 23 orang . ,5%%), tidak mendapat dukungan PLKB sebanyak 4 orang . ,3%) dan dari 36 responden pengguna Non-MKJP, mendapat dukungan dari PLKB ,4%), tidak mendapat dukungan 20 orang . ,7%). Hasil analisis bivariat didapatkan P = 0,001 . <0,. , dimana Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan petugas lapangan keluarga berencana/PLKB dengan penggunaan MKJP. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Murdiningsih, . yaitu terdapat hubungan antara dukungan PLKB dengan pemilihan MKJP. Banyaknya responden yang mendapat dukungan dari PLKB karena aktifnya petugas lapangan KB dalam penyampaian informasi mengenai jenis-jenis alat kontrasepsi, dampak dan penggunaannya. Keaktifan dari PLKB menjadi hal yang sangat penting dalam menyukseskan RENSTRA BKKBN 2020-2024. Menurut asumsi peneliti, masih banyak yang tidak menggunakan MKJP walaupun mayoritas mendapat dukungan dari PLKB karena kurangnya kesadaran dan keingininan wanita untuk menggunakan MKJP. Hal ini sesuai dengan teori (Abidin dkk, 2. dimana usaha yang dilakukan petugas kesehatan dalam mengajak wanita PUS untuk menggunakan MKJP sudah cukup baik, namun kesadaran dan keinginan dari wanita PUS sendiri yang masih belum mampu membuat mereka memilih MKJP. KESIMPULAN DAN SARAN Karakteristik responden meliputi Umur. Pekerjaan dan Pendidikan Terakhir. Mayoritas umur responden >35 tahun, pekerjaan sebagai Petani dan pendidikan terakhir sampai SMA. Pengetahuan Ibu dominan Baik sebanyak 23 orang . ,5%). Tidak Mendapat Dukungan Dari Suami sebanyak 33 orang . ,4%) dan Mendapat Dukungan PLKB sebanyak 39 orang . ,9%). Mayoritas Penggunaan Jenis Kontrasepsi yaitu Non-MKJP sebanyak 36 orang . ,1%), terdapat hubungan yang signifikan antara Pengetahuan Ibu Dan Dukungan Suami Dengan Penggunaan MKJP dengan p= 0,000 . <0,. , 7 Dukungan PLKB Dengan Penggunaan MKJP juga Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) memiliki hubungan yang signifikan, dimana hasil uji statistik yang diperoleh p=0,001 . <0,. Adapun saran bagi responden sebagai peserta akseptor KB dan penerima layanan keluarga berencana harus lebih berperan dalam menentukan penggunaan metode kontrasepsi. Responden juga harus lebih aktif dalam mencari informasi dan dukungan baik dari suami maupun PLKB sebagai pertimbangan dalam menentukan penggunaan alat Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu sumber data untuk penelitian selanjutnya dengan menambah jumlah variabel seperti sosial ekonomi, pengetahuan suami, ketersediaan sarana & prasarana dan desain penelitian ditempat yang berbeda. REFERENSI