P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR TEKS BERITA DI SISWA KELAS VII SMP YPBI 11 LUBUKLINGGAU Depita Sari,1 Dian Ramadan Lazuardi2. Cekman3 1,2,3 Universitas PGRI Silampari. Indonesia Depita123@gmail. com, dianramadan78@gmail. com2, x@umm. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menuntaskan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita Siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Rumusan masalah penelitian ini, apakah kemampuan mengidentifikasi unsurunsur teks berita siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau setelah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning secara signifikan tuntas? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau setelah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning secara signifikan tuntas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasinya adalah siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau Tahun ajaran 2025/2026 dengan sampel kelas VII. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes berupa tes tertulis mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. dapat menuntaskan hasil belajar siswa dalam materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita pada siswa kelas VII. 3 SMP YPBI 11 Lubuklinggau hal ini berdasarkan nilai rata-rata pretest sebesar 48,666% dan nilai postest sebesar 71, 333%. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji Aet, hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau setelah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning secara signifikan dapat menuntaskan kemampuan siswa. Kata Kunci: model Problem Based Learning, mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. ABSTRACT This study aims to complete the Problem Based Learning learning model on the ability to identify elements of news texts of class VII students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau. The formulation of the problem of this study is, whether the ability to identify elements of news texts of class VII students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau after the application of the Problem Based Learning learning model is significantly complete?. The purpose of this study was to determine the ability to identify elements of news texts of class VII students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau after the application of the Problem Based Learning learning model was significantly complete. The research method used in this study is quasi-experimental research. The population is class VII students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau in the 2025/2026 academic year with a sample of class VII. Data collection was carried out using a test technique in the form of an written test to identify elements of news texts. can complete student learning outcomes in the material identifying elements of news texts for class VII. 3 students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau, this is based on the average pretest value of 48. 666% and the posttest value of 71, 333%. The collected test data were then analyzed using the t-test, this means that Ho is rejected and Ha is accepted. In other words, it can be concluded that the ability to identify elements of news texts for class VII students of SMP YPBI 11 Lubuklinggau after implementing the Problem Based Learning learning model can significantly complete students' Keywords: Problem Based Learning learning model, identifying elements of news texts. P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 PENDAHULUAN Pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik, siswa dan sumber belajar Pembelajaran memiliki kemampuan yang saling berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku. Pembelajaran Bahasa Indonesia berinteraksi dengan pembelajaran dan sumber lainnya agar bertujuan untuk membantu siswa memperoleh ilmu, pengetahuan, sikap dan kepercayaan yang berupaya mengarahkan membelajarkan siswa secara efektif dan efesien. Siti . menyatakan pembelajaran Bahasa Indonesia umumnya menekankan kepada kemampuan siswa dalam menggunakan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan baik secara lisan maupun tulisan. Artinya bahwa proses pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan proses interaktif yang melibatkan pendidik, siswa, dan sumber belajar untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa secara efektif dan efisien. Fokus utama dari pembelajaran ini adalah membantu siswa mengembangkan ilmu, pengetahuan, sikap, dan kepercayaan, sehingga siswa dapat menggunakan Bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, sesuai dengan etika yang berlaku. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia berperan penting dalam mempersiapkan siswa untuk berinteraksi di berbagai konteks kehidupan. Pembelajaran Bahasa Indonesia sering kita jumpai di setiap jenjang sekolah. Keterampilan Berbahasa Indonesia memiliki empat komponen yaitu menyimak, berbicara, mengidentifikasi, dan menulis. Pada penelitian ini mengarah kepada keterampilan mengidentifikasi. Keterampilan mengidentifikasi berhubungan dengan materi mengidentifikasi teks berita. Idham dan Azari . dalam mengidentifikasi teks berita, siswa diharapkan mampu secara teratur sistematis dan logis dalam susunan Salah satu pembelajaran yang menuntut keterampilan mengidentifikasi sesuai dengan TP 4. 1 mengidentifikasi unsur teks berita. Hikmat . menyatakan berita adalah sesuatu yang di luar kebiasaan. Ada dua hal yang perlu di perhatikan dalam membuat berita, adalah peristiwa yang hangat, peristiwa diluar kebiasaan. Lalu Assegaf . menjelaskan berita dalam arti teknis jurnalistik adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan. Assegaf . menambahkan bahwa berita dalam konteks jurnalistik adalah laporan tentang fakta atau ide yang menarik bagi pembaca, mencakup elemen human interest seperti humor, emosi, dan ketegangan. Sedangkan Kurniawan,dkk, . menjelaskan sebuah berita disampaikan dengan menggunakan informasi yang jelas. Kejelasan informasi tersebut karena adanya unsurunsur yang membangun teks. Pada teks berita terdapat enam unsur yang membangunnya, yaitu what . , who . , where . i man. , when . , why . , dan how . Keenam pertanyaan itu di singkat menjadi 5W 1H. Mengidentifikasi teks berita dapat dijumpai pada tingkat SMP, mengarahkan pada pemahaman topik yang biasanya menemukan ciri atau tanda- tanda yang mengangkat peristiwa-peristiwa terkini secara kritis yang berhubungan dalam P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 5W 1H . Teks berita menggunakan bahasa yang standar atau kata yang baku agar mudah dipahami oleh siswa. Nisa . menyatakan berita adalah laporan mengenai peristiwa yang penting diketahui masyarakat dan juga peristiwa yang semata-mata menarik karena berhubungan dengan hal yang menarik dari seseorang atau sesuatu yang menarik. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam mengidentifikasi teks berita yang dijumpai pada tingkat SMP yang mengharuskan siswa mampu menemukan 5W 1H dalam mengidentifikasi unsur teks berita. Keterampilan mengidentifikasi dalam unsur teks berita mampu membuat siswa memperoleh pesan atau informasi dari yang mereka terima. Unsur-unsur berita yang ditemukan digunakan untuk mempermudah pembaca dalam menemukan informasi pada berita. Ramadhani . Keterampilan mengidentifikasi unsur teks berita merupakan keterampilan pembelajaran yang mengenakan, mencari, menelaah suatu informasi yang terdapat pada suatu teks. Artinya bahwa keterampilan mengidentifikasi unsur-unsur dalam teks berita sangat penting bagi siswa, karena keterampilan ini memungkinkan siswa untuk memperoleh dan memahami pesan atau informasi yang disampaikan. Ratna . menjelaskan mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas. Mengidentifikasi suatu proses yang melibatkan penentuan atau penetapan identitas dari suatu objek, individu, atau Dengan mengidentifikasi unsur-unsur berita, siswa dapat lebih mudah menemukan dan menelaah informasi yang terdapat dalam teks, sehingga meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis dan memahami berita secara Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dalam mengidentifikasi teks berita masih belum maksimal. Hasil yang belum maksimal disebabkan oleh model pembelajaran yang lama yang tidak sesuai kurikulum yang berlaku. Keterhambatan yang terjadi menyebabkan proses pembelajaran yang tidak efektif. Sedangkan dari hasil wawancara pada tanggal 16 Januari 2025, dengan guru mata pelajaran pada proses pembelajaran yang dilakukan belum menunjukan hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran yang menjadi acuan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan permasalahan yang ada diketahui jika kurangnya pembelajaran mengidentifikasi teks berita disebabkan oleh beberapa faktor. Salah faktor adalah pemahaman dalam menemukan fakta pada teks berita untuk menyusun unsur berita yaitu 5W 1H. Faktor utamanya ialah pembelajaran yang belum maksimal antara model pembelajaran yang lama dan kurikulum yang berlaku. Mengidentifikasian unsur-unsur berita dalam pembelajaran masih kurang Hal ini disebabkan oleh kurangnya inovasi dalam penyesuaian model pembelajaran dengan kurikulum yang berlaku. Pada TP 4. 1, siswa diharapkan dapat mengidentifikasi unsur-unsur teks berita secara lisan dan tulis, dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, serta elemen 5W 1H. Pemahaman yang baik mengenai unsur teks berita sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 secara efektif. Sehingga diberikan alternatif model pembelajaran yaitu problem based learning. Model pembelajaran problem based learning karena dengan inovasi yang baru dan berfikir kritis yang membantu siswa dalam menentukan isi dari unsur-unsur Problem based learning berpusat pada penyelesaian masalah yang kompleks dan nyata, sehingga mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, mengevaluasi solusi, dan membuat keputusan yang tepat. Erviana, dkk. menyatakan dengan problem based learning akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka siswa akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang Lismaya, . Berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran, atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan sehingga belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan. Hamdia . menyatakan PBL dapat membantu siswa dalam membangun kecakapan, kerjasama tim, dan berkomunikasi. Model pembelajaran problem based learning juga menyatakan siswa lebih termotivasi untuk belajar ketika siswa terlibat dalam proses pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan mereka. Problem based learning memungkinkan siswa untuk mengambil kepemilikan atas pembelajaran siswa sendiri dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah yang menarik bagi Said . menjelaskan pembelajaran problem based learning ini menuntut siswa untuk aktif melakukan penyelidikan dalam menyelesaikan permasalahan dan guru berperan sebagai fasilitator atau pembimbingan, dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk berpikir kritis, kreatif dan komunikatif. Menurut Syamsida dan Suryani . yang menarik dari model pembelajaran ini adalah dilibatkannya peserta didik dalam pembelajaran, mereka diberi oleh guru berbagai problem kemudian peserta didik diharapkan menganalisis masalah, mendiagnosis masalah, merumuskan alternatif/strategi pemecahan masalah, menentukan dan menerapkan strategi pemecahan masalah lalu dievaluasi problem Syamsida dan Suryani . mengemukakan bahwa ada beberapa urgensi mengapa problem based learning dinilai sangat penting sebagai berikut: a. Seorang lulusan tidak dapat menaggulangi masalah yang dihadapinya hanya dengan menggunakan satu disiplin ilmu. Ia harus mampu menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dipunyai atau mencari ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya dalam rangka menanggulangi masalahnya. Melalui PBL yang diawali dengan pemberian masalah pemicu kepada siswa, dapat menerapkan model pembelajaran secara spiral . piral learning mode. dengan memilih konsep dan prinsip yang terdapat dalam sejumlah cabang ilmu, sesuai kebutuhan masalah. Oleh karena itu, diharapkan sebagian besar/seluruh materi cabang ilmu dicakup. Integrasi antara berbagai konsep/prinsip/informasi cabang ilmu dapat terjadi c. P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 Kemampuan mahasiswa untuk secara terus menerus melakukan "up-dating' pengembangan pengetahuannya tercapai. Perilaku sebagai seorang Aulife Long learner" dapat tercapai. Oleh sebab itu guru dalam hal ini harus terampil dalam memilih dan memilah problem apa yang penting berkenan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Jangan diberi problem yang terlalu luas yang memungkinkan pembelajar buyar konsentrasinya, meski problem kecil tetapi tajam dan dalam itu lebih baik daripada luas tetapi tidak fokus pada masalah, usahakan agar problem tersebut benar-benar menyentuh dan realistis, jangan abstrak yang dapat membingungkan pembelajar. Berdasarkan uraian di atas peneliti melakukan penelitian dengan judul penerapan model pembelajaran problem based learning terhadap kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita dengan hasil pembelajaran identifikasi unsur-unsur berita masih kurang optimal karena kurangnya inovasi dalam model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Oleh karena itu, diusulkan model pembelajaran problem based learning (PBL) diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang unsur-unsur berita. Model PBL dapat membantu siswa berpikir kritis, menganalisis informasi, dan menyelesaikan masalah yang kompleks dan nyata, sehingga membuat pembelajaran lebih bermakna dan relavan dengan kehidupan siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif jenis eksperimen semu. Prasetyo,dkk . eksperimen semu merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu data dan menguji hipotesis yang dikontrol dengan tepat, untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan, maka harus dirancang dan kemudian di uji Dalam pengotrolan penelitian ini dilakukan dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengontrol semua variable luar yang mempengaruhi eksperimen yaitu variabel yang dipandang paling dominan. Ibrahim . menyatakan Penelitian eksperimen sebagai suatu penelitian yang dengan sengaja peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variable dengan suatu cara tertentu sehingga berpengaruh pada satu atau lebih variable yang di diukur. Penelitian ini menggunakan tahapan pre-tes, treatmen dan pos-tes untuk mengetahui ketuntasan secara signifikan kemampuan mengidentifikasi unsur teks berita. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 25 Februari-25 Maret 2025 di kelas VII. di SMP YPBI 11 Lubuklinggau, pelaksanaannya dilakukan secara langsung oleh peneliti dan sesuai dengan jadwal yang berlangsung di sekolah tersebut. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran problem based learning pada materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. Proses pelaksanaan penelitian, dimulai dengan melaksanakan tes awal . untuk mengetahui kemampuan awal P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 siswa dalam mengidentifikasikan unsur-unsur teks berita yang akan dipelajari setelah tes awal selesai diterapkan, siswa diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning untuk kelas eksperimen. Penelitian kemudian diakhiri dengan melaksanakan tes akhir . , untuk mengetahui perbedaan hasil belajaran pretes dan postes siswa. Pemberian test awal digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran yang diberikan. Kemampuan awal tersebut mengambarkan kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran yang akan disampaikan guru. Setelah kemampuan awal siswa diketahui, dilanjutkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan pada akhir penulisan dilakukan tes akhir untuk mengetahui kemampuan akhir siswa. Kemampuan akhir siswa adalah kemampuan siswa dalam penguasaan materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita yang merupakan hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran yang diberikan. Kemampuan awal tersebut menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran yang akan menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Pembelajaran pre-test digunakan untuk mengetahui kemampuan awal pada materi pokok mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. Pembelajaran pre-test dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2025 yang diikuti 25 Kemudian peneliti menilai lembar jawaban siswa mengidentifikasi unsurunsur teks berita tersebut dan membuat rekapitulasi hasil tes awal, penilaian secara individu yang dikategorikan berdasarkan Kreteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Siswa yang tuntas sebanyak 2 Siswa 8% dan yang tidak tuntas sebanyak 23 Siswa 92%. Nilai rata-rata secara keseluruhan adalah sebesar 48,6636%. Secara deskriptif jelas bahwa kemampuan awal siswa sebelum diterapkan model pembelajaran problem based learning dikatakan belum tuntas karena nilai rata-ratanya di bawah kriteria ketuntasan minimum KKM yaitu 64. Setelah kemampuan awal siswa diketahui, dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem based learning. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning pada materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. Pada akhir penelitian dilakukan tes akhir untuk mengetahui kemampuan akhir siswa. Tes akhir dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning. Kemampuan akhir siswa adalah kemampuan siswa dalam pengusaan materi pokok mengidentifikasi unsur-unsur teks berita pada kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau yang merupakan hasil belajar siswa setelah P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 proses pembelajaran. Tes kemampuan post-test dilaksanakan pada 14 Maret 2025 yang diikuti sebanyak 25 siswa. Oleh karna itu tes akhir untuk menentukan keberhasilan siswa itu sendiri secara individual kategori berdasarkan KKM . , yang telah ditetapkan oleh sekolah SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Siswa yang tuntas sebanyak 19 siswa 76% dan yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa 24%. Nilai rata-rata secara keseluruhan adalah sebesar 71, 333%. Secara deskriptif jelas bahwa kemampuan akhir siswa sesudah diterapkan model pembelajaran problem based learning dikatakan tuntas. Pengujian Persyaratan Analisis Uji Rata-Rata dan Simpangan Baku Adapun hasil Perhitungan nilai rata-rata dan simpangan baku tes awal . re-tes. dan tes ahir . os-tes. terhadap kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau dapat dilihat bahwa perhitungan SPSS versi 20 di atas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata (Mea. pada tes awal . pada penelitian ini yaitu 48,666, nilai tengah (Media. pada penelitian ini yaitu 46,6660. Sedangakan untuk nilai simpangan baku (Std. Devitio. 713595 dan nilai terendah pada tes awal (Minimu. 33,333 sedangkan nilai tertinggi (Maksimu. 66,666. Sedangkan pada tes akhir . ost-tes. nilai rata-rata (Mea. 71,333 adapun nilai tengah (Media. 73,333, sedangkan untuk nilai simpangan baku pada tes akhir ini yaitu (Std. Devitio. 7,758, nilai terendah (Minimu. 53,333 dan nilai tertinggi (Maksimu. pada tes akhir pada penelitian ini adalah 86,667. Uji Normalitas Data Adapun hasil Normalitas data tes . re-te. awal dan tes akhir . os-tes. dengan menggunakan uji kecocokan. Berdasarkan data statistik tersebut dapat dideskripsikan bahwa diketahui nilai Shapiro-wilk . tatistik 0,. dengan derajat bebas . 25 dan signifikansi . 0,148. Nilai sig yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa data pre-test berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas terpenuhi untuk analisis statistik lanjutan. Sedangkan hasil ujinormallitas data post-test berdasarkan data statistik nilai Shapiro-wilk . tatistic 0,. dengan derajat bebas . 25 dan signifikansi . 0,150. Nilai sig yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa data post-test berdistribusi norma. Analisis Hipotesis Auuji tAy Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS versi 20. Hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengatahui keefektifan model pembelajaran problem based learing terhadap kemampuan mengidentifikasi unsurunsur teks berita VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Nilai antara pre-test dan post-test dengan nilai signifikan Sig . -taile. sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0,05 . Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 yang signifikan secara statistik antara pre-test dan post-test. Artinya, penerapan model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Pembahasan Penelitian ini berjenis kuantitatif dimana menggunakan angka menjadi data dalam penelitian. Karimuddin, . penelitian kuantitatif sebagian besar dilakukan dengan menggunakan metode statistik yang digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dari studi penelitian. Pembahasan hasil penelitian ini berdasarkan hasil data tes awal . yang dilakukan tanggal 6 Maret 2025, dan hasil tes akhir . pada tanggal 14 Maret 2025. Pada hasil tes mengidentifikasi unsur-unsur teks berita sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based learning (PBL) . diketahui nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 36,666 dan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 66,666 sedangkan nilai rata-rata adalah 48,666%, sehingga kemampuan siswa kelas VII. 3 SMP YPBI 11 Lubuklinggau sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based learning (PBL) belum mencapai ketuntasan. Hal ini disebabkan kurangnya minat siswa terhadap materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita karena relatif siswa berpendapat bahwa keterampilan mengidentifikas sangat sulit untuk dipelajari. Sedangkan hasil tes akhir mengidentifikasi unsur-unsur teks berita setelah diterapkannya model pembelajaran problem based learning (PBL) . , diketahui bahwa nilai terendah adalah 53,333 dan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 86,667, sedangkan nilai rata-ratanya 71,333%, sehingga kemampuan siswa kelas VII. 3 SMP YPBI 11 Lubuklinggau setelah diterapkannya model pembelajaran problem based learning (PBL) siswa lebih termotivasi untuk mengikuti proses belajar dengan aktif dan menyenangkan, karena pada model ini siswa diminta untuk menyelesaikan setiap masalah dengan ide dan imajinasinya sehingga siswa mampu menerima pembelajaran dengan baik khususnya pada materi mengidentifikasi unsurunsur teks berita. Idham dan Azari . dalam mengidentifikasi teks berita, siswa diharapkan mampu secara teratur sistematis dan logis dalam susunan tulisan. Salah satu pembelajaran yang menuntut keterampilan mengidentifikasi sesuai dengan TP 4. 1 mengidentifikasi unsur teks berita. Hasil kegiatan tes pretest dan postest dapat dideskripsikan bahwa pada kegiatan pretest siswa yang mendapat nilai >64 dengan kriteria tuntas sebanyak 3 siswa . %), sedangkan nilai <64 dengan kriteria tidak tuntas adalah 22 siswa . %). Diketahui nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 36,666 dan nilai tertinggi yang diperoleh siswa 66,666 dengan nilai rata-rata adalah 48,666%. Sedangkan pada kegiatan postest siswa yang mendapat nilai >64 dengan kriteria tuntas sebanyak 19 siswa . %), sedangkan nilai <64 dengan kriteria tidak tuntas adalah 6 siswa . %). Diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 53,333 dan nilai tertinggi yang diperoleh siswa 86,667 dengan nilai rata-rata 71,33324%. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Tarigan . dengan judul Peningkatan P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 Kemampuan Menulis Teks Berita Melalui Penerapan Model Problem Based Learning dengan Teknik Pengamatan Objek Langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model problem based learning (PBL) dibantu teknik pengamatan objek langsung dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Alifia dkk . dengan judul Penerapan Model Problem Based Learning Berbantuan Media Wattpatt dalam Pembelajaran Mengidentifikasi Unsur Dramadi Kelas Vi SMPN 2 Dayeuhkolot. Menemukan hasil tes terdapat peningkatan nilai rata-rata pretest dari 63,39 menjadi 88,54 pada posttest kelas eksperimen. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan nilai rata-rata pos-test kelas eksperimen sebesar 88,54 sedangkan kelas kontrol sebesar 84,59. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bawa model pembelajaran problem based learning (PBL) masih sangat relevan untuk menuntaskan kemampuan siswa khusunya pada materi mengidentifikasi unsur-unsur teks berita. Berdasarkan uraian nilai pretest dan postest di atas, sangat jelas terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada kegiatan pretest dan postest, diketahui nilai ratarata siswa dalam pembelajaran mengidentifikasi unsur-unsur teks berita setelah diterapkannya model pembelajaran problem based learning (PBL) lebih besar dibandingkan sebelum menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL). Syafitri dkk. , . PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Sebagai pembuktian maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji t-test diketahui hasil perhitungan thitung dengan menggunakan SPSS diperoleh nilai signifikan berarti model pembelajaran problem based learning (PBL), dalam mengidentifikasi unsur-unsur teks berita kelas VII. 3 SMP YPBI 11 Lubuklinggau secara signifikan tuntas. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning secara signifikan mampu menuntaskan kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur teks berita siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata tes akhir sebesar 71,333 dengan persentase jumlah siswa yang tuntas belajar mencapai 76% dan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji-t. Diketahui nilai antara pre-test dan post-test dengan nilai signifikan Sig . -taile. sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0,05 . Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara pre-test dan post-test. Artinya, penerapan model pembelajaran problem based learning memberikan P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2025 Page:6-15 pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa kelas VII SMP YPBI 11 Lubuklinggau. DAFTAR PUSTAKA