AL-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 DAMPAK PSIKOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN ANAK KORBAN BROKEN HOME *Siti Hikmatul Aisyah1. Khoridatul Bahiyah2. Benny Prasetiya3 Dahani Kusumawati4 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Probolinggo Universitas Bondowoso *Email: hikmatulaisyah11@gmail. dahanikusumawati@yahoo. Abstract Family is the main role in the life of a child. Families have a big influence on children's growth and development, be it physical, emotional, and social development. If the family experiences a rift, of course it will affect the child's psyche. The impact that will be felt by a child after a divorce is the feeling of losing one of the parents who usually meet every day in the house. In this study, the factors that trigger the occurrence of a broken home and their impact on children's psychology are explained. The research method in this paper uses qualitative methods to analyze various problems in broken home families. Keywords: Broken home, divorce, psychological Abstrak Keluarga merupakan peran utama dalam kehidupan seorang anak. Keluarga memiliki pengaruh besar dalam tumbuh kembang anak, baik itu perkembangan fisik, emosional, dan sosial. Jika dalam keluarga mengalami keretakan, tentunya itu akan berpengaruh bagi psikis anak tersebut. Dampak yang akan sangat dirasakan oleh seorang anak setelah perceraian adalah perasaan kehilangan salah satu sosok orang tua yang biasanya bertemu setiap hari di dalam rumah. Dalam penelitian ini di jelaskan faktor Ae faktor yang menjadi pemicu terjainya broken home serta dampaknya pada psikologis anak. Metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis berbagai permasalahan dalam keluarga broken home . Kata kunci: Broken home, perceraian, psikologis. PENDAHULUAN Pada kesempatan kali ini penulis melakukan penelitian dan memberikan informas tentang AuDampak psikologis pada kehidupan anak korban broken homeAy Broken home adalah keluarga atau rumah tangga yang salah satu orang tuanya mengalami perceraian . Broken home digunakan untuk menggambarkan keluarga yang tidak harmonis yang mana keluarga tersebut tidak menyenangkan dan sering terjadi permasalahan yang menimbulkan pertengkaraan dan berujung perpisahan. Banyak konflik yang terjadi akibat terjadinya broken home salah satunya adalah korban yang mengalami situasi tersebut terjerumus pada jahatnya kehidupan dunia luar. Dalam hal ini penulis mengangkat kisah seorang remaja yang awalnya mempunyai kehidupan serta lingkungan yang baik dan harmonis yang pada akhirnya terkontaminasi kelamnya dunia Berawal dari seorang anak yang mempunyai kepribadian yang baik dilingkungan yang islami tepatnya yang berperetasi mempunyai sisi religius yang kuat tiba- tiba AL-ATHFAL. Volume 3 Nomor 2. Desember 2022 | 75 Siti Hikmatul Aisyah, etc. Dampak Psikologi terhadap Kehidupan Anak Korban Broken Home dipatahkan semangatnya karena masalah yang disebabkan oleh kedua orang tuanya. Keluarga yang disebut broken home dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dalam (Ardilla & Cholid, 2. Dampak broken home bukan hanya kepada anak anak saja, namun juga memiliki pengaruh yang besar terhadap remaja apalagi terhadap psikologinya. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi perkembangan emosional anak(Mistiani, 2. Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya broken home, misal perdebatan, perselisihan yang berakhir pertengkaran besar, hal tersebut yang menjadi pemicu terjadinya perceraian. Hampir setiap keluarga yang pernah mengalami perpisahan mengakibatkan banyaknya anak yang mengalami keadaan sebagai anak broken home Karena jika didalam suatu keluarga yang masih sering mengalami perdebatan dan pertengkaraan maka akan berujung dengan perpisahan, maka tulisan serta penelitian ini menjelaskan faktor pemicu terjadinya broken home serta dampaknya terhadap psikolog anak. (Massa et al. , 2. Perceraian didalam keluarga menimbulkan kerugian kepada banyak pihak terutama bagi anak , karena seorang anak adalah anggota keluarga yang paling dekat dengan orangtua maka dari itu anak adalah yang akan paling menjadi korban dari kejadian tersebut. Keluarga broken home juga dapat menghambat pertumbahan anak dan mengganggu psikolog anak tersebut. Maka tidak dapat dipungkiri sebagian besar anak yang mengalami keadaan tersebut banyak yang mengalami gangguan mental, ketidak stabilan emosional. Dalam kasus ini keluarga broken home dapat di lihat dari 2 aspek yang pertama : suatu keluarga yang memang dalam rumah tersebut orangtua bercerai / berpisah & yang kedua : suatu keluarga yang utuh akan tetapi keluarga tersebut tidak harmonis / ayah ibu tidak memperlihatkan kasih sayang satu sama lain. Anak yang awalnya mempunyai keluarga harmonis dan mempunyai hubungan harmonis dan dekat dengan kedua orang tuanya, pastinya membuat anak tersebut hancur sebab adanya hal yang membuat keluarganya tidak bahagia, namun beda halnya dengan anak yang mengalami saat ia belum mengerti apa itu perceraian, sehingga biasanya orang tuanya akan menutupi apa yang terjadi dengan keadaan sesungguhnya. Pada umur yang masih cenderung labil biasanya pada masa remaja kisaran umur 15-18 Tahun, masa masa remaja dimulai sejak anak tersebut mengalami pubertas secara matang dan berakhir pada saat ia menginjak usia terakhir pada masa remaja tersebut dan siap secara fisik dan psikis. (Yulia, 2. Sebab pada masa tersebutlah dapat mengganggu dan berisko buruk pada keadaan psikologis anak karena tidak menutup kemungkinan pada masa tersebut akan timbul pengaruh buruk dan hal yang tidak baik yang bisa saja terjadi pada anak tersebut, hal tersebut tergantung bagaimana orangtua menanganinya, yang mana sebagai orang tua harus bertanggung jawab ,dengan situasi apapun yang terjadi di dalam keluarganya dan orang tua tersebut juga harus memberikan perhatian lebih terhadap anak terlebih dalam situasi keluarga yang mengalami keadaan yang kurang harmonis / broken home. (Wijaya, 2. Alasan penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perasaan seorang anak yang mengalami kehidupan di dalam keluarga yang tidak harmonis. Alasan lainnya untuk menghilangkan pikiran negative pada masyarakat yang menilai bahwa anak korban broken home itu pasti nakal. Maka dalam penelitian ini kami juga ingin menjelaskan bahwa anak tersebut juga memiliki sisi positif, dan terkadang tidak dapat sedikit anak broken home mempunyai kelebihan atau bakat yang luar biasa , maka 76 | AL-ATHFAL. Volume 3 Nomor 2. Desember 2022 Siti Hikmatul Aisyah, etc. Dampak Psikologi terhadap Kehidupan Anak Korban Broken Home dari itu kita harus memberikan support yang baik agar anak tersebut tidak merasa kesepian dan merasa kurangnya penyemangat untuk dirinya maka dengan hal tersebut dia akan lebih baik dan semangat dalam mejalankan kehidupan kedepannya. (R & DYAH, 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian Dalam penelitian ini penulis meneliti dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif dimana dalam pendekatan tersebut peneliti akan bekerja dan memberikan informasi yang didapat sesuai dengan hasil penelitian secara langsung dan valid. Dan dapat diketahui bahwa sanya dalam pendekatan terdapat 2 macam metode yang dapat digunakan yaitu metode pendekatan kualitatif dan metode pendekatan kauntitatif, metode kuantitatif yakni berfokus dengan perhitungan / angka-angka. Dalam penelitian kali ini kita akan menggunakan metode kualitatif dimana kita langsung untuk mencari dan menerima informasi dari beberapa narasumber dengan menggunakan cara wawancara. Tempat dan waktu penelitian - Wawancara dilakukan melalui via online - pada tanggal 25 Mei 2022. Sumber data penelitian Sumber data yang di peroleh dalam jurnal ini dengan cara meminta narasumber untuk menceritakan secara langsung kisah hidupnya, dan memintanya untuk menjelaskan kondisi mental yang di alami pada masa itu. Kami jadikan cerita tersebut sebagai bahan penelitian dalam jurnal kami. PEMBAHASAN Definisi broken home Broken home merupakan rumah yang retak, keluarga yang berantakan broken home bisa diartikan juga dengan suatu keluarga yang tidak utuh, terpecah belah yang disebabkan oleh perceraian, perpisahan dan bisa juga karena keluarga tersebut tidak mempunyai keharmonisan di dalamnya. Keluarga yang mengalami keadaan seperti inilah bisa di artikan sebagai keluarga broken home. Sebenarnya seseorang atau seorang anak yang mengalami keadaan broken home bukan hanya yang berasal dari orang tua yang bercerai,tetapi juga anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis. Maka dari itu keluarga yang mengalami keadaan tersebut merupakan kondisi kelaurga di dalamnya tidak terdapat suatu keharmonisan sebagaimana keluarga yang diharapkan. dan dalam rumah tangga yang awalnya sejahtera rukun bisa hilang sebab adanya persoalan yang gagal di selesaikan dan di carikan titik temu oleh pasangan suami/istri sehingga menyebabkan perpisahan itu terjadi(Massa et al. , 2. AL-ATHFAL. Volume 3 Nomor 2. Desember 2022 | 77 Siti Hikmatul Aisyah, etc. Dampak Psikologi terhadap Kehidupan Anak Korban Broken Home Faktor Ae faktor terjadinya broken home Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya broken home. Tapi yang sering terjadi di Indonesia adalah : Faktor ekonomi Perekonomian yang baik dalam suatu keluarga sangat berpengaruh dalam keharmonisan keluarga tersebut , karena apabila suatu keluarga tersebut mengalami krisis ekonomi maka tidak jarang akan menimbulkan permasalahan antara suami & istri sehingga bisa menyebabkan perseteruan antara keduanya . Dalam situasi ini tidak jarang seseorang akan melakukan suatu hal yang tidak wajar/ tidak seharusnya dilakukan dan terkadang sampai melakukan hal yang merendahkan harga diri dan yang dilarang agama, misalnya mencuri, melacur sehingga ketika orang tua melakukan hal tersebut lalu diketahui oleh sang anak, maka akan mengganggu psikolog anak dan berdampak negative. Faktor KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ) Dalam suatu rumah tangga tidak jarang terjadi pertengkaran antara suami & istri yang biasanya akan menyebabka perdebatan dan bisa berujung Sudah banyak kasus perceraian yang terjadi akibat faktor KDRT tersebut, dan apabila kejadian tersebut terus terjadi dan disaksikan oleh anak tidak jarang nantinya akan berpengaruh buruk pada anak tersebut yang akan mejadikan psikolog anak tersebut terganggu dan menyebabkan trauma pada Adanya Orang ketiga Broken home juga bisa terjadi karna di picu oleh hubungan gelap antara pria dan wanita lain atau wanita dengan pria lain. Dan pada akhirnya mereka saling mencari cari kesalahan satu sama lain, hingga berakhir pada kasus perceraian. Dalam hal ini pastinya anaklah yang menjadi korban keegoisan orang tua nya . Dampak broken home terhadap anak : Anak broken home biasanya mempunyai sikap yang tidak ingin diatur dan ingin melakukan suatu hal yang di mau saja ( keras kepala ) Mudah terpengaruh oleh hal yang negative Anak yang mengalami broken home cenderung mempunyai watak yang pendiam , malas dan tidak bersemangat. Anak yang mengalami broken home akan mempunyai rasa minder kepada keluarga harmonis yang lengkap sehingga menyalahkan tuhan. Sulit bergaul / berteman karena lebih cenderung menutup dirinya Tidak percaya diri Anak broken home tidak jarang akan mempunyai rasa benci terhadap Rasa cemas berlebih Takut menjalani hidup berpasangan 78 | AL-ATHFAL. Volume 3 Nomor 2. Desember 2022 Siti Hikmatul Aisyah, etc. Dampak Psikologi terhadap Kehidupan Anak Korban Broken Home HASIL PENELITIAN Dari penelitian ini, dapat di ketahui bahwa sikap anak korban broken home cenderung berbeda dari anak yang lainnya yang masih memiliki keluarga utuh. Hal tersebut di sebabkan karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari keluarga. Berikut hasil wawancara dari nara sumber yang mengalami kejadian broken home Setelah melakukan wawancara dengan MS, narasumber menjelaskan bagiamana kondisinya setelah insiden perceraian yang terjadi antara kedua orang tuanya. Sebelum perceraian tersebut terjadi MS adalah seorang yang bisa di katakan sebagai anak masjid . nak yang kerasan di masjid dan gemar mengikuti berbagai kegiatan yang positif. ) setelah lulus sekolas MTS. MS berangkat ke pesantren, di situlah mulai ada perseteruan di antara kedua orang tuanya, faktor yang menjadi pemicu terjadinya perceraian antara kedua orang tuanya adalah faktor ekonomi. Selang beberapa waktu di pesantren, orang tuanya menjenguknya di waktu yang berbeda, hal tersebut membuat MS curiga, namun saat menanyakan alasannya kepada kedua orang tuanya, mereka tidak menjelaskan dengan jelas, hingga pada akhirnya MS mengetahui masalah ini dari orang lain. MS memutuskan untuk kabur dari pesantren dan pulang kerumahnya. Semenjak itu MS sudah tidak mau Kembali ke pesantren, dan bergaul dengan orang yang memiliki kebiasaan tidak baik, dan pada akhirnya ikut terjerumus pada kehidupan yang tidak sehat, seperti sering keluar sampai larut malam, minum-minuman keras, berkelahi, berjudi, mengonsumsi narkoba, dan lain sebaginya. (Massa et al. , 2. karena ia berfikir dengan mengonsumsi minuman keras tersebut ia bisa melupakan masalah yang terjadi padanya,(Lie et al. , 2. Maka dari hasil wawancara diatas seharusnya keluarga bisa menjadi motivator utama dan terbesar bagi anak. Terutama pemberi motivasi belajar bagi anak(Crossesa & Sindarti, 2. Berdasarkan hasil wawancara dari MS dapat di ketahui AuDampak keluarga broken home terhadap perilaku anakAy sebagai berikut : Mudah mengalami gangguan kepada mentalnya Mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungannya Permasalahan pada moral Wawancara kedua di lakukan kepada AW , narasumber memberikan keterangan bahwa keluarga nya adalah keluarga yang tidak harmonis mengapa demikian sebab orangtua nya bercerai pada saat usia orang tuanya masih tergolong muda . AW menjelaskan bahwa penyebab orangtua nya berpisah adalah keegoisan dan rasa tak mau kalah antara kedua nya , karena orantua AW tersebut tergolong orangtua yang masih muda oleh sebab itu dalam keluarga nya sering mengalamai pertengkaran dan rasa tak mau kalah dari orantua nya sehingga terjadilah perceraian . pada saat itu AW masih tergolong masih belum cukup umur untuk ikut campur dalam masalah keluarganya tersebut sehingga AW tidak dapat mencegah orang tuanya berpisah. AW juga menjelaskan bahwa itu adalah kenangan terburuk yang dialaminya karena akibat peristiwa tersebut ia memiliki rasa trauma sebab ia menyaksikan sendiri pertengkaran orantuanya dulu yang tidak bisa dilupakan, dan tak jarang AW tersebut mendapatkan bullyan dari teman-teman nya seperti :Ay ikam tu orang tuanya sudah barpisah . AL-ATHFAL. Volume 3 Nomor 2. Desember 2022 | 79 Siti Hikmatul Aisyah, etc. Dampak Psikologi terhadap Kehidupan Anak Korban Broken Home kada mungkin ikam tu suksesAy( kamu tu orang tuanya sudah cerai , ga akan mungkin kamu tu sukses ) dari bullyan tersebut terkadang membuat AW merasa tidak akan berhasil melakukan hal yang ia kerjakan dan menjadi patah semangat serta beranggapan jika hidup yang dijalanin syaia sia, sebab tidak mudah untuk bergaul dan berbaur dan juga beranggapan akan mendapatkan permasalahan pada moral(Fitriani, 2. Berdasarkan dari wawancara AW tersebut dapat diketahui bahwa akibat dari broken home mempunyai dampak : Kurang percaya pada diri sendiri Rasa trauma yang susah dilupakan Gampang patah semangat KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang dapat di simpulkan bahwa suatu keluarga seharusnya menjadi sandaran ternyaman bagi seorang anak ,serta rumah yang indah untuk anak sebab dengan keharmonisan yang ada didalam rumah tersebut seorang anak akan mempunyai tempat pulang dengan nyaman. Faktor terbesar terjadinya keretakan dalam keluarga atau broken home tersebut tidak lain yaitu pertengkaran, perdebatan yang biasanya di sebabkan karena faktor ekonomi, orang ke tiga dan lain lainnya. Berdasarkan hasil penelitian diatas juga menjelaskan bahwa keretakan keluarga sangatlah berpengaruh untuk psikologi anak, mungkin anak yang mengalami keadaan tersebut terlihat biasa biasa saja akan tetapi sebenarnya mereka sangatlah hancur sebab keadaan yang menimpanya. Maka dari itu anak yang mengalami keadaan tersebut sebenarnya sangatlah membutuhkan support dan dorongan semangat dari orang lain agar ia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik tanpa merasa inseciur dengan kehidupan orang lain. Garis besar dari permasalah serta penelitian diatas mempunyai inti, keluarga merupakan rumah untuk semua anak, rumah yang seharusnya indah, harmonis dan rukun sebab keluarga adalah satu satunya harapan serta sandaran untuk setiap anak(Hafiza & Mawarpury, 2. Akan tetapi terkadang takdir mempunyai jaln lain yang tidak bisa dihindari, maka dari itu bersyukur adalah jalan satu satunya dalam menjalankan skenario kehidupan ini. DAFTAR PUSTAKA