Ganesha Civic Education Journal Volume 6. Number 2. Oktober 2024, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index TRADISI MALE SEBAGAI STRATEGI MODERASI BERAGAMA (ISLAM DAN HINDU) DI DESA LOLOAN KECAMATAN NEGARA KABUPATEN JEMBRANA. BALI Rizki Maulana 1 * . Dewa Bagus Sanjaya 2. I Putu Windu Mertha Sujana 3 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 07 Juni 2024 Accepted 01 Oktober 2024 Available online 10 Oktober Penelitian ini bertujuan untuk: . mengkaji urgensi tradisi male dapat mempersatukan umat (Islam dan Hind. di Desa Loloan. mengkaji prosesi dan sarana prasarana dalam pelaksanaan tradisi male di Desa Loloan. mengkaji tradisi male dari perspektif hukum Islam. mengkaji strategi penguatan moderasi beragama melalui tradisi male untuk umat Kata Kunci: (Islam dan Hind. di Desa Loloan. mengkaji nilai-nilai yang menjadi titik tradisi laki-laki. temu toleransi umat (Islam dan Hind. pada tradisi male di Desa Loloan. moderasi beragama. nilai-nilai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif. Hasil penelitian: . urgensi tradisi male dapat mempersatukan umat (Islam dan Keywords: Hind. di desa Loloan dapat dilihat dari praktik sosial masyarakat yang male traditions. saling bergandeng tangan memeriahkan tradisi. sarana tradisi ini adalah pajegan, telur, batang pohon pisang, dan bambu. Sedangkan prasarananya diselenggarakan di luar atau di dalam masjid/mushalla. Hukum Islam memandang tradisi male sebagai sesuatu yang diperbolehkan selama tidak mengarah kepada sesuatu yang dilarang agama. strategi penguatan moderasi beragama berbasis tradisi male dapat diterapkan di sekolah dan juga masyarakat umum. terdapat nilai- nilai luhur yang tersemat pada tradisi male seperti nilai religius, nilai etika, nilai estetika, dan nilai sosial. Implikasinya tradisi Male dapat dijadikan contoh konkret untuk pendidikan toleransi di masyarakat, mulai dari tingkat keluarga hingga lembaga pendidikan. ABSTRACT This research aims to: . examine the urgency of the male tradition to unite the people (Muslims and Hindu. in Loloan Village. examine the procession and infrastructure in the implementation of the male tradition in Loloan Village. examine the male tradition from the perspective of Islamic law. examine the strategy of strengthening religious moderation through the male tradition for the people (Muslims and Hindu. in Loloan Village. examine the values that are the meeting point for tolerance of the people (Muslims and Hindu. in the male tradition in Loloan Village. This study uses a qualitative descriptive method approach. The results of the study: . the urgency of the male tradition to unite the people (Muslims and Hindu. in Loloan Village can be seen from the social practices of the community who work together to enliven the tradition. the means of this tradition are pajegan, eggs, banana tree trunks, and bamboo. While the facilities and infrastructure are carried out outside or inside the mosque/prayer room. Islamic law views Male custom as something that is permissible as long as it does not lead to something that is prohibited by religion. The strategy of strengthening religious moderation based on Male custom can be applied in schools and also in the general . There are noble values embedded in Male custom such as religious values, ethical values, aesthetic values, and social values. The implication is that Male custom can be used as a concrete example for tolerance education in society, starting from the family level to educational institutions. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: rizki. maulana@undiksha. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Pendahuluan Intoleransi terhadap suku, ras, agama, dan agantargolongan secara nyata telah mencederai harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Staf Khusus BPIP mengkultuskan terjadi peningkatan kasus intoleransi di Indonesia setiap waktunya. Data menyebutkan dalam rentang waktu 2014-2020 telah terjadi 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 1. 060 tindakan (Institut, 2. Kemudian dalam hasil risetnya salah satu anggota LIPI mengemukakan dalam forum BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasiona. bahwa faktor utama pemicu intoleran adalah fanatisme agama, sekularisme, serta ketidakbiasaan hidup berdampingan dengan agama lain. Bahkan Bali yang terkenal dengan budaya toleransinya pun tidak terlepas dari problema ini. Kusuma . menyebutkan belakangan ini terjadi intoleran warga Desa Sumberklampok. Kecamatan Gerokgak. Buleleng. Bali, yang memaksa rekreasi saat perayaan Nyepi. Kemudian kasus yang sama juga terjadi di Kecamatan Negara, tempat dimana penelitian ini berlangsung. Dikutip dari Balinetizen. com terdapat 9 warga non- Hindu di Desa Pengambengan Kecamatan Negara melakukan tindak intoleran dengan menaiki tembok Pura Dang Khayangan Jati di Desa Pengambengan. Kasus tersebut berakhir dengan sanksi adat. Kecendrungan yang sama dapat ditemui pada masyarakat yang memiliki jiwa kebangsaan rendah sehingga memicu rasa curiga terhadap pihak yang berbeda keyakinan dengannya. Di Desa Loloan sendiri, dalam beberapa tahun terakhir keberadaan kelompok ini mulai menunjukkan geliatnya, tampil ke ruang publik dalam beragam kegiatan dan gerakan. Warga muslim di tempat tersebut saat ini menghadapi masalah penting terkait kekerasan yang dilakukan atas nama agama mereka. Persepsi masyarakat Hindu Bali terhadap warga muslim berubah karena fakta bahwa aktor kekerasan bukan muslim Bali. Namun, doktrin Islam menganggap teror dan pengrusakan sebagai Salah satu buktinya adalah penggunaan istilah "nyame slam", yang berarti "saudara muslim", sebagai pengganti istilah "jalma slam", yang berarti bahwa masyarakat Hindu Bali tidak lagi menganggap orang Islam sebagai "saudara". Di era sekarang ini agama menjadi jembatan paling intens memunculkan intoleransi. Penelitian menukil semakin sekuler seseorang, semakin toleran mereka. Hal ini menunjukkan bahwa agama sering menimbulkan semangat fanatik. Menilai tingkat sekuleritas seseorang tidak hanya didasarkan pada nilai-nilai agama atau keyakinan mereka, tetapi juga pada bagaimana negara melindungi hak-hak semua warga negara. Intoleransi tampaknya akan terus menjalar pada negara majemuk seperti Indonesia yang dewasa ini memperlihatkan semakin marak terbentuknya golongan-golongan, ormas, serta aliran baru yang memunculkan stigma kurang baik dan rasa khawatir di tengah kemajemukan Indonesia sebagai identitas bangsa yang Menindaklanjuti hal ini pemerintah Indonesia sangat serius menetapkan kebijakan melalui program moderasi beragama sebagai antisipasi jejak langkah intoleransi. Bentuk keseriusan ini ditindaktegasi oleh Kementerian Agama (Kemena. dengan menyampaikan 4 indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan menghargai kearifan lokal (Kakanwil, 2. Dari keempat indikator tersebut yang terakhir menjadi titik fokus peneliti. Berdasarkan beberapa temuan, peneliti meyakini bahwa kearifan lokal . ocal wisdo. yang termuat dalam tradisi suatu daerah memiliki daya dukung yang signifikan dalam memperkuat moderasi beragama. Internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya dalam bentuk norma-norma yang dijakdikan pedoman hidup menghasilkan kearifan Maka tidak jarang nilai-nilai dalam kearifan lokal antar agama dan budaya memiliki kesamaan makna filosofis ataupun historis yang dapat digunakan sebagai media bertoleransi. Sebagai contoh Di Bali tepatnya di Desa Loloan peneliti menemukan kesamaan konsep ajaran Islam dan Hindu melalui kearifan lokal yaitu tradisi male. Hal ini menarik untuk diteliti karena daerah Loloan memiliki banyak agama (Hindu dan Isla. , tetapi mereka dapat mempertahankan kerukunan dengan menggunakan pendekatan budaya, meskipun terkadang ada dinamika pasang surut dalam kerukunan. Temuan ini secara nyata mendukung program pemerintah dalam GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. mengembangkan moderasi beragama untuk mengikis jejak langkah intoleransi di Indonesia melalui media kearifan lokal. Penguatan moderasi beragama melalui kearifan lokal ini cukup menjadi perhatian terutama di kalangan akademisi. Dalam 5 . tahun terakhir . peneliti menemukan 30 artikel dan jurnal nasional yang mengkaji urgensi penguatan moderasi beragama melalui kearifan lokal. Dari 30 artikel tersebut peneliti membagi menjadi 2 kategori. Pertama, penguatan moderasi beragama melalui kearifan lokal untuk peserta didik. Kedua, penguatan moderasi beragama melalui kearifan lokal untuk masyarakat umum. Namun kedua kategori penelitian tersebut hanya mengkaji penguatan moderasi beragama melalui kearifan lokal tertentu di suatu daerah secara umum tanpa menunjukkan nilai-nilai toleransi beragama pada kearifan lokal secara Berdasarkan data ini studi terdahulu terbukti hanya mengkaji teori dan praktik moderasi beragama melalui sebuah tradisi tanpa mencari titik temu toleransinya. Adapun penulis menemukan satu studi terdahulu yang sejalan dengan tujuan penelitian ini yaitu pada artikel Saihu . Yang berfokus pada dampak dari strategi kearifan lokal . terhadap proses integrasi yang mengarah pada praktik damai pada masyarakat Hindu dan Muslim di JembranaBali. Akantetapi penelitian ini juga belum cukup detail dalam mendeskpriskan nilai-nilai toleransi antar umat Islam dan Hindu di Bali pada tradisi male. Maka dari itu melalui penelitian ini peneliti mencoba menguak nilai-nilai filosofis dalam kearifan lokal . radisi mal. untuk menemukan titik temu toleransi antar umat beragama (Hindu dan Musli. di Bali sebagai syiar kepada masyarakat Bali untuk tetap berada di atap toleransi sebagai perwujudan dari sila ke-3 Pancasila, sehingga penelitian ini teramat penting untuk dilakukan. Metode Melaksanakan suatu penelitian diperlukan adanya dukungan dari metode penelitian yang tepat agar penelitian tersebut mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan menggunakan metode penelitian yang tepat ini akan mendapatkan hasil yang optimal serta valid dan relevan. Untuk mendapatkan metode penelitian tepat, seorang peneliti harus memahami betul permasalahan yang diangkat serta memahami bagaimana permasalahan yang timbul di lapangan. Metode penelitian ini dilakukan agar dapat memudahkan didalam proses penelitian serta dengan adanya metode penelitian yang tepat ini dapat dijadikan sebagai pedoman pada saat proses penelitian Ramdan . menyatakan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan dengan tujuan dan manfaat tertentu. Sebaliknya, menurut Priyono . , metode penelitian adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara hati-hati untuk mencapai suatu tujuan. Berdasarkan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu metode atau metode ilmiah yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang suatu objek melalui penelitan dengan tujuan untuk menemukan solusi untuk suatu Studi ini melakukan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Menurut Salim et al. penelitian kualitatif bersifat analitik dan deskriptif. Semua data yang dikumpulkan oleh peneliti di lokasi penelitian, termasuk hasil pengamatan, wawancara, pemotretan, analisis dokumen, dan catatan lapangan, tidak diformat dalam bentuk angka. Penelitian ini dapat digunakan untuk menggali informasi dan menjawab masalah yang diteliti oleh peneliti secara menyeluruh mengenai penerapan moderasi beragama di masyarakat Islam dan Hindu di Desa Loloan. Kecamatan Negara Bali. Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dilaporkan dan kemudian dianalisis secara ilmiah menggunakan kalimat yang melatarbelakangi perilaku informan, yang berkaitan dengan cara mereka berpikir, berperasaan, dan bertindak. (Usman. , dkk, 2. Konsep di bawah ini berkaitan dengan penelitian kualitatif pada studi lapangan, serta prosedur yang akan dilakukan peneliti selama pengambilan data lapangan, mulai dari desain penelitian hingga analisis data yang akurat. Hasil dan pembahasan Berdasarkan hasil observasi serta wawancara mengenai tradisi male Sebagai Strategi moderasi beragama di Desa Loloan. Jembrana. Bali maka secara garis besar penelitian Rizki Maulana. Dewa Bagus Sanjaya. I Putu Windu Mertha Sujana. / Tradisi Male Sebagai Strategi Moderasi Beragama (Islam Dan Hind. Di Desa Loloan Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Bali Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. mendapatkan hasil beberapa hal sebagai berikut. Pertama, urgensi tradisi male Dapat Mempersatukan Umat (Islam Dan Hind. di Desa Loloan dapat dilihat dari nilai sosial pada tradisi male yang mengikat praktik sosial masyarakat yang saling bergandeng tangan memeriahkan proses perayaan tradisi ini baik pra upacara, saat upacara, hingga pasca upacara. Pada pra upacara, umat Islam akan mengumpulkan sumbangan ke rumah-rumah warga di sekitar lokasi upacara, tujuannya untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pembiayaan saat upacara Pada saat upacara berlangsung, pecalang dan BANSER keduanya secara profesional menjaga keamanan dan ketertiban dalam peringatan Maulid dari awal upacara hingga selesai. Kedua, prosesi tradisi male di Desa Loloan ini dapat dilaksanakan di setiap masjid dan mushalla bahkan di lapangan terbuka dengan sarana dan prasarana yang sudah ditetapkan. Tahap pelaksanaan tradisi male ini dibagi menjadi 3 . tahap, yaitu: . tahap persiapan, . arakarakan, dan . tahap inti. Tahap persiapan ini dimulai dengan masyarakat muslim Desa Loloan melakukan rapat atau AusangkepAy dalam bahasa melayu yang berarti diskusi penting. Kemudian dilanjutkan ke tahapan arak-arakan yang tidak hanya dilaksanakan oleh umat Islam saja tetapi juga umar Hindu dibuktikan dengan eksistensi pager uyung dan pecalang. Dan terakhir tahapan ini, ketika sampai kembali ke masjid, maka pajegan male akan dipajang di dalam masjid kemudian akan dilanjutkan kegiatan inti yaitu pengajian, sholawatan, hingga pembagian male di masjid. Ketiga. Islam memandang tradisi male sebagai Auurf atau kearifan lokal yang tentu saja Dalilnya kembali ke hukum asal bahwa kearifan lokal itu sah-sah saja dilakukan selama tidak menyalahi syariat. Keempat, untuk menciptakan hubungan persaudaraan yang harmonis di tengah perbedaan agama yang dianut di Desa Loloan diperlukan sebuah strategi penguatan moderasi beragama yang terintegrasi berdasarkan nilai-nilai toleransi pada tradisi male. Maka dari itu penguatan moderasi beragama berbasis tradisi male ini perlu diinternalisasi ke dalam dua komponen penting dalam masyarakat Loloan, yaitu di sekolah dan masyarakat umum. Sekolah dapat menanamkan moderasi beragama kepada siswa melalui guru yang berperan sebagai role model, proses pembelajaran kritis dan menarik, dan pembinaan yang dilakukan kepada para siswa. Sementara terhadap masyarakat digunakan pendekatan pada jejaring sosial keagamaan yang mampu menjadi aktor penguat moderasi beragama di masyarakat, yaitu pemuka agama, masyarakat, dan terakhir adalah ormas. Kelima, tradisi male ini tidak hanya memiliki makna filosofis dan edukatif, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang penting untuk membangun kehidupan yang harmonis dan Tradisi ini mengikat nilai sosial, etika, dan estetika. Nilai sosial pada tradisi male terdapat pada praktik berbagi makanan . pada masyarakat dengan adil tanpa mementingkan skala prioritas antar Islam dan Hindu. Nilai etika terdapat pada proses arakarakan male yang bertujuan untuk memberi tahu khalayak ramai, khususnya warga Hindu, bahwa orang Muslim meminta izin untuk melakukan kegiatan keagamaan, yang dalam perjalanannya tidak hanya diikuti oleh orang muslim, tetapi juga diikuti oleh Hindu. Selanjutnya nilai estetika dalam tradisi male dapat dilihat melalui model atau bentuk male yang memiliki nilai seni yang Simpulan dan saran Tradisi Male di Desa Loloan adalah tradisi multikultural yang layak untuk tetap dilestarikan. Karena melalui tradisi ini, masyarakat Desa Loloan dapat menumbuhkan rasa untuk saling memperhatikan dan memahami sehingga terbangun karakter individu yang memiliki pandangan yang luas, meliputi pengetahuan . oral knowin. , perasaan . oral feelin. , dan tindakan . oral Masyarakat Loloan. Jembrana juga merasa tidak ada perbedaan dalam berinteraksi sosial karena yang membedakan diantara mereka hanya agama saja. Tetapi melaui aktivitas ini perbedaan agama diantara mereka tidak menjadi jurang pemisah dalam berinteraksi dan hidup bersama ditengah-tengah masyarakat yang berdampak pada banyaknya umat Hindu yang ingin mengenal Islam lebih dalam lagi. Selain itu. Aourf atau kearifan lokal . , menanamkan sekaligus mempertajam pandangan hidup sehingga mengarah pada asosiasi. Integrasi, komplementasi, dan sublimasi yang kuat ditengah-tengah masyarakat yang multikultural. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Daftar Rujukan Akhmadi. Moderasi Beragama dalam Keragaman Indonesia. Jurnal Diklat Keagamaan. Alim. , and Munib. Aktualisasi pendidikan moderasi beragama Di Madrasah. Jurnal Progress: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, 9 . doi:10. 31942/pgrs. Ambarudin. Pendidikan Multikultural Untuk Membangun. Jurnal Civics: Media Kajian. Amin. Pendidikan Multikultural. Jurnal Kajian Islam Kontemporer, hlm. Anggraeni. Hakam. Mardiah. , & Lubis. Membangun Peradaban Bangsa Melalui Religiusitas Berbasis Budaya lokal (Analisis tradisi Palang Pintu Pada Budaya Betaw. Jurnal Studi Al-QurAoan. Vol. No. 1, 2239-2614. org/10. 21009/JSQ. Arifai. Akulturasi Islam dan Budaya lokal. As-Shuffah: Journal of Islamic Study. Vol 7 No 2, 1-17. https://doi. org/10. 19109/as. Basuki. tradisi Ritual Perang Obor. Jurnal Online Internasional & Nasional Vol. 7 No. Darlis, dkk. Moderasi Beragama dalam pendidikan Islam di Indonesia. Journal on Education. Dharso, dkk . Kontribusi Esensi Dan Estetika User Interface Terhadap User Experience dalam Virtual Exhibition: Systematic Literature Review. Volume 6. Nomor 1, halaman 95108. DOI: 10. 25105/jsrr. Donny Prasetyo & Irwansyah, . Memahami Masyarakat Dan Perspektifnya. Jurnal Menejemen pendidikan dan Ilmu Sosial. Volume 1. Issue 1. Faiz. Transformasi Konflik Bernuansa Agama dan Strategi Reformatif pada Pembangunan Budaya Damai di Indonesia. Jurnal Sosiologi Agama: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama dan Perubahan Sosial. Volume 14. Nomor 2, 179 -196. Hayes. Bernadette C. Ian McAllister, and Lizanne Dowds. Integrated Schooling and Religious Tolerance in Northern Ireland. Journal of Contemporary Religion 28. doi:10. 1080/13537903. Hubermen. , dkk. Analisis data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia, 1982. Karim. Toleransi Umat beragama di Desa Loloan Jembrana Bali. Jurnal Studi Ke Islaman 16 . Khoiri. Pemikiran Politik Hukum Islam Muhammadiyah. Jurnal Ilmu SyariAoah dan Hukum, 47. , 169Ae218. Lonthor. Peran pendidikan multikultural dalam Menciptakan Kesadaran Hukum Masyarakat Plural. Jurnal Tahkim, 16 . , 209. Mulyani. Peran Agama Dan Budaya Dalam Membentuk Kepribadian. AT-THARIQ: Jurnal Studi Islam dan Budaya, 47-63. Nasution. , & Fauzie. Kondisi Masyarakat Terhadap Harmonisasi Masyarakat: Analisis Ilmu. Adat dan Agama. Khazanah: Journal of Islamic Studies. Volume 1. Nomor 1, 16-27. Nugraha. Ruswandi. , & Erihadiana,M. Urgensi pendidikan multikultural di Indonesia. Jurnal pendidikan PKN Pancasila dan Kewarganegaraan, 1 . , 145-146. Nurcahyono. Pendidikan Multikultural di Indonesia: Analisis Sinkronis dan Diakronis. Jurnal pendidikan. Sosiologi dan Antropologi 2 . , 28. Pradnyani. Eksistensi Tradisi Okokan Pada Era Modernisasi di Desa Adat Kediri Kabupaten Tabanan. Prihatin. Peran Madrasah Dalam Membangun moderasi Agama Di Indonesia Di Era Milineal. Jurnal pendidikan Dan Pembelajaran 1. Riyadi. Agama dan Kebudayaan Masyarakat Perspektif Clifford Geertz. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia. Vol. No. 1, 13-22. Rizky. Komunikasi Persuasif Konten Youtube Kementerian Agama. Jurnal Ilmu Komunikasi. Saragih. Moderasi Neragama Berbasis Kearifan Lokal Suku Pakpak Aceh Singkil. Jurnal Teologi Berita Hidup 4 . Suarnaya. Model moderasi beragama Berbasis kearifan lokal di Desa Pegayaman Kabupaten Buleleng. Jurnal Widya Sastra pendidikan Agama Hindu. Rizki Maulana. Dewa Bagus Sanjaya. I Putu Windu Mertha Sujana. / Tradisi Male Sebagai Strategi Moderasi Beragama (Islam Dan Hind. Di Desa Loloan Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Bali Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Sugianto. Dialektika Agama Dan Budaya (Kajian Sosio-Antropologi Agama dalam Teks dan Masyaraka. Al-Tadabbur: Jurnal Kajian Sosial. Peradaban dan Agama. Vol:5 No:2, 409432. Sujana. ,dkk. Menggagas Penguatan Kajian Akhlak Kewarganegaraan (Civic Virtu. Perspektif Hindu Dalam Masyarakat multikultural. Seminar Nasional Inobali. Sutrisno. Aktualisasi moderasi beragama di Lembaga pendidikan. Jurnal Bimas Islam 12 . doi: 10. 37302/jbi. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304