TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 15. Nomor 1 (Desember 2. : 49-63 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 12 Januari 2025 Accepted: 2 Desember 2025 Published: 30 Desember 2025 STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL PEMUDA CHRISTIAN RELIGIOUS EDUCATION STRATEGY TO OVERCOME ONLINE BULLYING AND ITS IMPLICATIONS FOR YOUTH MENTAL HEALTH Remegises Danial Yohanis Pandie,1* Romika1 Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way. Jakarta. Indonesia remegissesdypandie@gmail. ABSTRACT The purpose of this study is to explain the strategy of Christian Religious Education in overcoming the phenomenon of online bullying experienced by young people. Online bullying is one of the consequences of using social media that makes young people stressed, depressed, withdrawn, suicidal and not develop in any field. On the other hand. Christian religious education has not realized the effects of online bullying on the mental damage of Christian youth. This happens because Christian religious education focuses more on things that are visible to the naked eye, so that it ignores things that happen in cyberspace. On the other hand. Christian religious education also does not believe in the term online bullying. The method used is a literature The results of the study show that Christian religious education has a strategy to overcome the problem of online bullying through teachers, churches and families. Preparation of appropriate strategies is an alternative that needs to be prepared by schools, churches and families so that young people who experience online bullying feel safe and healthy and know how to deal with online bullying. A good strategy makes young people healthier mentally and physically which leads to the achievements of the young people themselves. Key phrases: mental health. online bullying. Christian Religious Education. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan strategi pendidikan agama Kristen dalam mengatasi fenomena pembulian online yang dialami oleh pemuda. Pembulian online menjadi salah satu akibat dari penggunaan media sosial yang membuat pemuda stres, depresi, menutup diri, bunuh diri dan tidak berkembang dalam bidang apa pun. Di sisi lain, pendidikan agama Kristen belum menyadari efek dari pembulian online terhadap rusaknya mental pemuda Kristen. Hal ini terjadi karena pendidikan agama Kristen lebih fokus kepada hal-hal yang terlihat secara kasat mata, sehingga mengabaikan hal-hal yang terjadi di dunia maya. Di sisi lain, pendidikan agama Kristen juga tidak memercayai adanya istilah pembulian online. Metode yang di gunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen memiliki strategi untuk mengatasi masalah pembulian online melalui guru, gereja, dan keluarga. Persiapan strategi-strategi yang tepat guna menjadi alternatif yang perlu disiapkan oleh sekolah, gereja dan keluarga agar pemuda yang mengalami pembulian online merasa aman dan sehat serta tahu cara menghadapi pembulian online. Strategi yang baik menjadikan pemuda lebih sehat secara mental dan sehat secara fisik yang bermuara pada prestasi pemuda itu sendiri. Frase kunci: kesehatan mental. pembulian online. pendidikan agama Kristen. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan dan penggunaan teknologi yang sangat masif. Hal ini menjadi salah satu kemajuan bagi masyarakat Indonesia yang semakin melek Kemajuan ini juga tidak lepas dari arus globalisasi yang mengharuskan masyarakat Indonesia untuk menggunakan teknologi demi kelancaran arus informasi maupun arus pekerjaan. Penggunaan teknologi memberikan manfaat dan dampak secara ekonomi hingga sosial. Di samping itu, teknologi Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 50 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE menawarkan berbagai hal menarik untuk dinikmati, sehingga masyarakat tidak kaku dan bosan ketika menjalani aktivitas kesehariannya. Hasilnya masyarakat merasa bahagia karena teknologi yang digunakan juga tidak hanya satu jenis, melainkan banyak jenis dan memberikan pilihan bagi masyarakat untuk memilih sesuai keinginannya. 1,2 Salah contoh sebaran teknologi adalah media sosial yang banyak digunakan. Penggunaan media sosial membuat masyarakat menginput dan menyebarkan aktivitas pribadi, kerabat, maupun keluarganya. 3 Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kehadiran media sosial memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dalam berbagai hal. Berdasarkan laporan We Are Social Januari 2024, penggunaan media sosial di Indonesia sangat luas dan intensif, dengan WhatsApp. YouTube. Instagram. Facebook, dan TikTok sebagai platform utama yang menjangkau ratusan juta pengguna usia 16Ae64 tahun dengan komposisi gender yang relatif seimbang. Ratarata durasi penggunaan 2 jam 23 menit per hari menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Media sosial berfungsi tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga ruang relasi sosial, akses informasi, pembentukan opini, dan aktivitas konsumsi digital. 4 Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, orang yang berselancar di dunia maya mayoritas adalah Gen Z . elahiran 1997-2. sebanyak 34,40%. Lalu, berusia generasi milenial . elahiran 1981-1. sebanyak 30,62%. Kemudian berikutnya. Gen X . elahiran 1965-1. sebanyak 18,98%. Post Gen Z . elahiran kurang dari 2. sebanyak 9,17%, baby boomers . elahiran 1946-1. sebanyak 6,58%, dan pre-boomer . sebanyak 0,24%. 5 Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknologi seperti media sosial di kalangan pemuda sangat tinggi. Data di atas menunjukkan masifnya penggunaan media sosial di Indonesia, sehingga kasus kejahatan online juga tidak bisa terhindarkan. Kejahatan online tidak memandang umur, gender dan status sosial. Mengingat pengguna media sosial mayoritas kaum muda, maka kejahatan online menjadi makanan kesehariannya, ketika oknum tidak bertanggung jawab bertindak sesuka hati. Salah satu contoh kejahatan online yang terjadi pada kaum muda adalah pembulian online. Pembulian online dilakukan untuk mempermalukan, melecehkan, mengintimidasi, mengancam, atau menyebabkan kerugian pada pemuda maupun kelompoknya. 6,7 Pembulian online dapat berupa pesan teks, meme, video tidak senonoh, gambar tidak senonoh, komentar negatif, penghinaan, fitnah dan lain sebagainya. 8,9 Varjas. Talley. Meyers. Parris, dan Cutts menulis tentang motif pembulian online menemukan bahwa motif-motif tersebut dapat dikategorikan sebagai motif internal, balas dendam, kebosanan, kecemburuan, mencoba kepribadian baru atau mengalihkan perasaan, tidak ada konsekuensi, dan non-konfrontatif. 10 Olweus & Limber menegaskan bahwa pembulian online memengaruhi mental pemuda dalam banyak hal seperti kurang percaya diri, depresi, stres, tidak berdaya dan yang lebih berbahaya adalah indikasi bunuh diri. 11 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembulian online akan menjadi persoalan besar bagi korban jika tidak ditangani dengan 1 Yohannes Maryono Jamun. AuDampak Teknologi Terhadap Pendidikan,Ay Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Missio 10, no. 1 (January 28, 2. : 48Ae52, https://doi. org/10. 36928/jpkm. 2 Dominikus I Gusti Bagus Kusumawanta. AuPandangan Dampak Dan Pengaruh Media Komunikasi Sosial Serta Teknologi Informasi Terhadap Perkembangan Anak,Ay Jurnal Pendidikan Agama Katolik 15, no. 8 (April 2. : 23Ae37. 3 Remegises Danial Yohanis Pandie. AuLiterasi Digital Berbasis Pendidikan Kristiani Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Era Disrupsi Teknologi,Ay Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan 4, no. : 5995Ae6002, https://doi. org/10. 31004/edukatif. 4 We Are Social. AuDigital 2024,Ay We Are Social, 2024, https://wearesocial. com/id/blog/2024/01/digital-2024/. 5 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. AuJumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang,Ay Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, accessed April 19, 2024, https://apjii. id/berita/d/apjii-jumlah-penggunainternet-indonesia-tembus-221-juta-orang. 6 Justin W. Patchin and Sameer Hinduja. AuCyberbullying and Self-Esteem*,Ay Journal of School Health 80, no. 12 (December 2. : 614Ae21, https://doi. org/10. 1111/j. 7 Justin W. Patchin and Sameer Hinduja. AuMeasuring Cyberbullying: Implications for Research,Ay Aggression and Violent Behavior 23 (July 2. : 69Ae74, https://doi. org/10. 1016/j. 8 Robert Slonje. Peter K. Smith, and Ann Frisyn. AuThe Nature of Cyberbullying, and Strategies for Prevention,Ay Computers in Human Behavior 29, no. 1 (January 2. : 26Ae32, https://doi. org/10. 1016/j. 9 Dan Olweus. AuCyberbullying: An Overrated Phenomenon?,Ay European Journal of Developmental Psychology 9, no. (September 2. : 520Ae38, https://doi. org/10. 1080/17405629. 10 Kris Varjas et al. AuHigh School StudentsAo Perceptions of Motivations for Cyberbullying: An Exploratory Study. ,Ay The Western Journal of Emergency Medicine 11, no. : 269Ae73, http://w. gov/pubmed/20882148 http://w. gov/articlerender. fcgi?artid=PMC2941365. 11 Dan Olweus and Susan P Limber. AuSome Problems with Cyberbullying Research,Ay Current Opinion in Psychology 19 (February 2. : 139Ae43, https://doi. org/10. 1016/j. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. REMEGISES DANIAL YOHANIS PANDIE. ROMIKA | 51 Kaitannya dengan penjelasan di atas. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa kasus perlindungan anak dari media tahun 2023 sebanyak 912 kasus dengan 110 kasus melalui media cetak dan 802 media online. Jakarta dan Jawa Barat menjadi tempat yang banyak menyumbang kasus pembulian online. Namun, secara umum kasus-kasus yang terjadi berupa kekerasan online, penyebaran konten negatif tentang korban, pelecehan, intimidasi, ancaman, mempermalukan korban dan lain sebagainya terjadi tanpa ampun bagi korban. 12 Oleh karena itu, perlu penanganan yang lebih serius agar tidak menjadi bumerang bagi pemuda dalam mengekspresikan hidupnya sebagaimana kehidupan normal manusia pada umumnya. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK), pembulian online menjadi pelanggaran moral dan Di mana. PAK mengajarkan moralitas dan etika yang bersumber dari Yesus. Moral dan etika yang diajarkan oleh Yesus bermuara pada karakter. Yesus menekankan kebenaran tentang karakter dalam ajaran-Nya dalam khotbah di bukit (Mat. 5Ae. Yesus berulang kali menekankan bahwa karakter mendahului tingkah laku dan moralitas berkaitan dengan masalah hati . :3-. Knudson mencatat bahwa Yesus menjunjung tinggi dua prinsip yang diterima semua orang Kristen yaitu prinsip kasih dan prinsip moral batiniah, sehingga karakter mengacu pada jenis orang yang bertindak dengan cara tertentu. 13 Stanley Hauerwas menggambarkan karakter sebagai kualifikasi atau penentuan diri manusia, dibentuk oleh manusia dan memiliki niat tertentu daripada yang lain. 14 Willimon menyebutnya sebagai orientasi moral dasar yang memberikan kesatuan, definisi, dan arah untuk hidup manusia. Willimon, menegaskan bahwa karakter terbentuk secara sadar dan tidak sadar dalam suatu komunitas atau lingkungan sosial. Wheeler memuji etika karakter dan kebajikan sebagai keterampilan, disposisi, dan kebiasaan yang memungkinkan manusia untuk berperilaku benar di bawah tekanan. 15 Oleh karena itu, pelanggaran moral dan etika merusak karakter seseorang yang melakukan kejahatan seperti pembulian online terhadap orang lain. Fenomena ini menjadi salah satu tugas PAK untuk mencegah terjadinya kasus-kasus pembulian online melalui edukasi, pendekatan kekeluargaan dan pengawasan agar pemuda memiliki mental yang kuat dalam menghadapi terjadinya pembulian secara online. Namun, faktanya PAK belum menyadari efek dari pembulian online terhadap rusaknya mental pemuda Kristen. Hal ini terjadi karena PAK lebih fokus kepada hal-hal yang terlihat secara kasat mata, sehingga mengabaikan hal-hal yang terjadi di dunia maya. Di sisi lain. PAK juga tidak memercayai adanya istilah pembulian online. Akibatnya ketika pemuda mengalami gangguan psikologis, maka selalu dipikir bahwa terkena bulian secara konvensional. Penelitian terdahulu terkait masalah ini telah banyak dilakukan. Pandie dan Weismann meneliti tentang pengaruh cyberbullying . embulian onlin. di media sosial terhadap perilaku reaktif sebagai pelaku maupun sebagai korban cyberbullying pada siswa Kristen SMP Nasional Makassar menemukan bahwa pelayanan yang bisa dilakukan oleh gereja seperti support group untuk anak-anak yang menjadi korban 16 Namun, tidak sedikit pun menyinggung strategi PAK terkait masalah pembulian online. Selanjutnya Dwikoryanto dan Arifianto menulis tentang Sinergisitas Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kristiani dalam Mereduksi Cyber Bullying di Era digital menyimpulkan bahwa aktualisasi orang Kristen dalam dunia digital perlu diberikan batasan untuk menghargai dan menghormati setiap pengguna dunia maya dan dapat memilah mana yang baik dan menguntungkan bagi kemanusiaan. 17 Namun, analisis yang ditonjolkan adalah konsep teologis, sehingga strategi PAK menyikapi masalah cyberbullyng tidak terlihat. Sedangkan Ruimassa & Nanuru menulis tentang Gereja dan Cyberbullying Remaja: pendampingan pastoral bagi remaja korban cyberbullying menemukan bahwa pelayanan pastoral yang dilakukan dalam rangka menyembuhkan dan memulihkan remaja korban cyberbullying perlu memberi ruang bagi pendekatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia. AuData Kasus Perlindungan Anak Dari Media Tahun 2023,Ay Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2023, https://bankdata. id/tabulasi-data/data-kasus-perlindungan-anak-dari-media-tahun2023. 13 Krista Sinta Dewi Simamora. AuPendidikan Agama Kristen Dan Signifikansinya Dalam Pembentukan Karakter,Ay PROVIDENSI : Jurnal Pendidikan Dan Teologi 2, no. : 36Ae53, https://doi. org/10. 51902/PROVIDENSI. V2I2. 14 Justice Zeni Zari Panggabean. AuVirtue Dalam Pendidikan Karakter Kristiani,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 6, no. 2 (April 14, 2. : 691Ae707, https://doi. org/10. 30648/dun. 15 Sinta Dewi Simamora. AuPendidikan Agama Kristen Dan Signifikansinya Dalam Pembentukan Karakter. Ay 16 Mira Marleni Pandie and Ivan Th. Weismann. AuPengaruh Cyberbullying Di Media Sosial Terhadap Perilaku Reaktif Sebagai Pelaku Maupun Sebagai Korban Cyberbullying Pada Siswa Kristen SMP Nasional Makassar,Ay Jurnal Jaffray 14, no. (March 9, 2. : 43, https://doi. org/10. 25278/jj71. 17 Matius I. Totok Dwikaryanto and Yonatan Alex Arifianto. AuSinergisitas Pendidikan Pancasila Dan Pendidikan Kristiani Dalam Mereduksi Cyber Bullying Di Era Digital,Ay Jurnal Psikologi 43, no. : 66. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 52 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE psikologi perkembangan remaja. 18 Namun, tulisan ini lebih mengarah kepada bimbingan konseling, sehingga tidak sedikit pun menyinggung strategi PAK dalam mengatasi masalah cyberbullyng. Oleh karena itu, fokus penulisan ini adalah strategi PAK dalam mengatasi praktik pembulian online terhadap psikologi pemuda melalui edukasi guru, gereja dan pendekatan kekeluargaan, agar pemuda memiliki mental yang kuat dalam menghadapi terjadinya pembulian secara online. METODE PENELITIAN Dalam menjawab masalah yang ada, maka model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka melalui Alkitab, buku, jurnal, dan media online yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan dari sumber tersebut terdiri dari konsep, pendapat, dan gagasan yang telah dipilih oleh penulis berdasarkan kesesuaian terhadap pembahasan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan di dalam penulisan karya ilmiah ini adalah terlebih dahulu mengamati, mengajukan pertanyaan dan menganalisis budaya konsumtif pemuda terkait dengan media Kemudian peneliti melakukan kajian literatur tentang pembulian online sebagai akibat budaya konsumtif pemuda dengan media sosial guna menemukan gambaran masalah sebenarnya. Selanjutnya, untuk memberikan solusi mengenai masalah yang diangkat, penulis menawarkan strategi pendidikan agama Kristen melalui guru, gereja, keluarga dan masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya Konsumtif Pemuda Dengan Media Sosial Budaya konsumtif pada pemuda mengalami intensifikasi signifikan seiring meningkatnya paparan terhadap media sosial sebagai ruang representasi gaya hidup dan identitas. Algoritma platform digital bekerja dengan pola kurasi konten yang mendorong kecenderungan komparatif, sehingga preferensi konsumsi terbentuk melalui visualisasi tren, endorsement figur publik, dan simbol status yang direproduksi secara terusmenerus. Proses ini membentuk habitus baru yang menjadikan aktivitas konsumsi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fungsional, tetapi ekspresi diri yang dipengaruhi oleh imajinasi sosial dan konstruksi nilai yang bersifat performatif. Media sosial beroperasi sebagai arena di mana makna kepemilikan, estetika barang, serta narasi kemewahan mengalami normalisasi dan berpotensi membangun pola konsumsi impulsif. Dinamika tersebut diperkuat oleh kapitalisasi data pengguna yang memungkinkan personalisasi iklan secara presisi, sehingga dorongan konsumtif menjadi lebih terarah dan persuasif. Intensitas interaksi dengan konten komersial menciptakan mekanisme psikologis berupa fear of missing out (FOMO), yang berkontribusi terhadap keputusan membeli berdasarkan kecemasan sosial dan kebutuhan untuk tetap relevan dalam jaringan pertemanan digital. Situasi ini mendorong pemuda untuk merespons stimulus konsumsi melalui pola perilaku yang terstruktur secara sistemik oleh industri teknologi dan ekonomi digital. Konsekuensinya, proses pengambilan keputusan konsumtif mengalami reduksi rasionalitas dan semakin bergantung pada impresi visual, narasi promosi, serta dinamika afektif yang dikonstruksi oleh media sosial sebagai ekosistem budaya konsumsi. Harlan menjelaskan bahwa media sosial sebagai sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas landasan ideologis dan teknologi yang memungkinkan pembuatan dan pertukaran konten buatan. Sejalan dengan itu. Kaplan dan Haenlein mengklasifikasikan media sosial ke dalam enam kategori berbeda yang sering di gunakan: proyek kolaboratif . isalnya Wikipedi. , blog, dan blog mikro . Twitte. , komunitas konten . YouTube. TikTo. , situs jejaring sosial . Facebook. Instagra. , dunia permainan virtual . Mobile Legen. , dan dunia sosial virtual . Second Lif. 20 Sedangkan Dawson memetakan lanskap media sosial menjadi empat segmen: widget/komponen . Nin. , rating/tagging . Flick. , agregasi/rekombinasi . Sna. , dan pemfilteran kolaboratif . ChaCh. 21 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk media sosial memiliki kekuatan dan fungsi tertentu yang memungkinkan pengguna memainkan perannya mau pun menikmati peran orang lain melalui sebaran konten. 18 Aleta Apriliana Ruimassa & Ricardo Freedom Nanuru. AuGereja Dan Cyberbullying Remaja: Pendampingan Pastoral Bagi Remaja Korban CyberbullyingAy 9, no. : 702Ae14, https://doi. org/10. 1111/j. 19 Pandie. AuLiterasi Digital Berbasis Pendidikan Kristiani Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Era Disrupsi Teknologi. Ay 20 Andreas Kaplan and Michael Haenlein. AuCollaborative Projects (Social Media Applicatio. : About Wikipedia, the Free Encyclopedia,Ay Business Horizons 57, no. 5 (September 2. : 617Ae26, https://doi. org/10. 1016/j. 21 Jane Dawson. John Knox (Edinburgh: Yale University Press, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. REMEGISES DANIAL YOHANIS PANDIE. ROMIKA | 53 Dalam konteks Indonesia, beberapa media sosial yang menjadi sasaran pemuda adalah Instagram. Twitter. YouTube. Facebook. Watshapp. Hal ini dapat dilihat pada hasil data yang dipaparkan oleh We are Social pada Januari 2024 yaitu Whatsapp 90,9%. Instagram 85,3 % . ,9 juta pengguna, laki-laki 54,5% & perempuan 45,5%). YouTube 139 juta pengguna . aki-laki 46,9% & perempuan 53,1%). Facebook 81,6% . ,6 juta pengguna, laki-laki 41,9% & perempuan 58,1%). TikTok 73,5% . ,8 juta pengguna, laki-laki 46,5% & perempuan 53,5%). Telegram 61,3%. Twitter 57,5% . , 69 juta pengguna, laki-laki 46,3% & perempuan 53,7%). Facebook Messenger 47,9% . ,75 juta pengguna, laki-laki 44,9% & perempuan 55,1%), dengan pengguna berumur 16 sampai 64 tahun. We Are Social juga melaporkan bawah rata-rata pengguna media sosial menghabiskan 2 jam 23 menit per hari dengan berbagai alasan seperti mengisi waktu luang 9%, tetap berhubungan dengan teman dan keluarga 57,1%, melihat apa yang dibicarakan 48,8%, menemukan inspirasi untuk hal-hal yang harus dilakukan dan dibeli 47,9%, menemukan konten artikel, video 47,0%, membaca berita 40,2%, menemukan produk untuk dibeli 35,4%, menonton streaming langsung 34,9%, posting tentang aktivitas hidup 31,6%, menemukan komunitas dan kelompok minat yang berpikiran sama 30,9%, membuat kontak baru 29,2%, berbagi dan mendiskusikan pendapat dengan orang lain 28,9%, jaringan atau penelitian terkait pekerjaan 27,6%, menghindari hal-hal yang terlewatkan 24,5% dan menonton atau mengikuti berita olahraga 22,8%. Berdasarkan data tersebut, bisa dilihat dan bisa dikatakan bahwa pemuda Indonesia sangat konsumtif dengan media sosial. Hal ini terjadi karena media sosial pada dasarnya bersifat sosial yang berupaya menciptakan, memanfaatkan, atau memelihara interaksi sosial di antara penggunanya. Namun, interaksi sosial ini tidak harus bersifat antarpribadi secara khusus, asalkan pengguna diberikan rasa keterlibatan interaktif dengan orang lain. Nilai . anfaat atau kenikmata. penggunaan media sosial diperoleh dari kontribusi atau interaksi dengan pengguna lain, bukan konten yang dihasilkan oleh organisasi atau individu yang menjadi tuan rumah media tersebut. Nilai media sosial mungkin berbeda dengan kontennya, yang tidak perlu dihasilkan oleh pengguna individu. Konten juga dapat dihasilkan dan dipromosikan secara organisasi sebagai tambahan atau sebagai pengganti kontribusi dari pengguna Shirky menjelaskan bahwa imbalan intrinsik dari penyediaan konten ke situs berkontribusi terhadap popularitas dan utilitas media sosial. Desanctis dan Poole setuju bahwa pengguna dapat dengan setia mengadopsi suatu teknologi dengan menggunakannya untuk tujuan yang dimaksudkan atau tidak. Pengguna memperoleh nilai dari layanan yang tidak dimaksudkan untuk memberikan nilai melalui konten buatan pengguna dan mengadopsi konten kemudian menggunakannya sebagai bagian media sosial. Misalnya, penggunaan Instagram. YouTube. Twitter. Facebook, yang membuat pengguna memperoleh kepuasan dari komentar dan pertukaran interaktif pengguna di bawah setiap gambar dan video. Cyberbullyng/Pembulian Online Sebagai Akibat Budaya Konsumtif Pemuda Dengan Media Sosial Budaya konsumtif pada pemuda dalam ekosistem media sosial berpotensi menciptakan struktur sosial yang kompetitif dan hierarkis, sehingga standar gaya hidup menjadi tolok ukur penerimaan sosial. Representasi visual mengenai barang mewah, tren fashion, atau simbol status membentuk ekspektasi yang sulit dijangkau sebagian pengguna. Ketika seorang individu tidak mampu memenuhi standar tersebut, peluang terjadinya stereotip negatif dan komentar merendahkan meningkat. Proses ini membuka ruang bagi cyberbullying yang berakar pada disparitas akses terhadap komoditas digital maupun material, sehingga konsumsi menjadi indikator nilai diri yang rentan disalahgunakan untuk meneguhkan superioritas sosial. Interaksi digital yang dilingkupi nilai konsumtif juga menciptakan budaya evaluatif yang berbasis penampilan dan kepemilikan, sehingga ruang komunikasi daring . alam jaringa. menjadi arena penilaian publik yang tidak terkontrol. Unggahan yang tidak sesuai dengan tren tertentu dapat memicu respons agresif berupa ejekan, sindiran, atau penghinaan yang dilakukan secara terbuka maupun anonim. Mekanisme tersebut memperlihatkan bagaimana budaya konsumtif turut membentuk pola komunikasi yang predatif, karena status sosial digital dipertaruhkan melalui performativitas konsumsi. Cyberbullying muncul sebagai konsekuensi dari ketimpangan representasi diri, ketika tekanan sosial untuk tampil ideal menciptakan kondisi yang memvalidasi perilaku agresif berbasis perbandingan dan eksklusivitas. 22 We Are Social. AuDigital 2024Ay. 23 Gerardine DeSanctis. Marshall Poole, and Ilze Zigurs. AuThe Minnesota GDSS Research Project: Group Support Systems. Group Processes, and Outcomes,Ay Journal of the Association for Information Systems 9, no. 10 (October 2. : 551Ae608, https://doi. org/10. 17705/1jais. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 54 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE Media sosial pada hakikatnya menjadi portal yang positif bagi pemuda untuk menikmati dan mengekspresikan hidupnya. Namun, dalam penggunaannya tidak pernah lepas dari hal-hal negatif. Hal ini tentu menjadi persoalan karena oknum yang tidak bertanggung jawab menghasilkan satu tindakan yang merugikan pemuda itu sendiri. Di mana, sebagian besar media sosial mengharuskan pengguna membuat profil dasar yang mencakup informasi, foto, esai pribadi, komentar singkat, dan sebagainya. Setelah profil dibuat, pengguna dapat berinteraksi dengan orang lain dengan mengikuti profilnya, mengirim pesan, atau meninggalkan komentar langsung di profil lain. Sifat komunikasi online ini dapat mengakibatkan korban salah mengartikan apa yang dimaksudkan sebagai kesenangan, sedangkan pelaku mungkin tidak menyadari konsekuensi tindakannya karena tidak ada umpan balik isyarat fisik dan sosial. 24 Smith dan Slonje mencatat bahwa ketidakmampuan untuk melihat reaksi korban atau menunjukkan kekuatan seseorang kepada suatu kelompok dapat menghalangi beberapa calon pelaku intimidasi, meskipun beberapa pelaku intimidasi sebenarnya lebih suka melihat reaksi atau dampak korban dari cyberbullying di kemudian hari. 25 Hester menegaskan bahwa situs jejaring sosial, seperti Facebook. Instagram dan Twitter, memungkinkan pengguna untuk menjadi bagian dari komunitas virtual dan dengan demikian memberikan jalan tambahan untuk 26 Oleh karena itu, terdapat empat jenis kejahatan cyberbulyyng yang terjadi pada pengguna media Pertama Flaming adalah salah satu bentuk cyberbullying yang mengacu pada argumen atau pertengkaran singkat antara dua orang atau lebih yang melibatkan bahasa vulgar atau kasar, ancaman, dan penghinaan. Biasanya flaming terjadi di pengaturan internet publik seperti papan pesan dan ruang obrolan, bukan pertukaran pesan pribadi. Serangkaian saling menghina dapat terjadi, yang biasanya disebut sebagai perang Pelecehan dunia maya adalah bentuk spesifik perundungan siber yang melibatkan pesan-pesan ofensif berulang yang dikirimkan kepada suatu target. Pelecehan sering kali terjadi melalui komunikasi pribadi seperti Facebook. Instagram. TikTok. Whatsapp dan email. Model pelecehan ini terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama dan tindakan ini cenderung bersifat sepihak, yaitu ada satu atau lebih pelaku yang berfokus pada satu sasaran, namun korban tidak melakukan banyak tindakan balasan. Jika pelecehan dan pencemaran nama baik yang berulang dan intens terus berlanjut dan mencakup ancaman atau menimbulkan ketakutan yang signifikan, hal tersebut dapat dianggap sebagai cyberstalking. 27,28,29 Kedua Denigrasi adalah penyebaran informasi tentang orang lain yang bersifat menghina dan tidak benar, termasuk menyebarkan gosip atau rumor tentang seseorang dengan tujuan merusak reputasi dan Dengan fitnah online, informasi palsu dapat di-posting di halaman web atau disebarluaskan melalui saluran komunikasi pribadi. Termasuk dalam bentuk cyberbullying ini adalah perubahan digital pada foto, yang paling sering menggambarkan seseorang dengan cara yang bersifat seksual atau berbahaya. Cyberbullying melalui pesan mempunyai berbagai bentuk, namun yang paling jelas adalah pengiriman pesan kemarahan atau ancaman. Ruang obrolan, papan pesan, blog, dan situs web yang dibuat pengguna juga rentan terhadap pelecehan dan penganiayaan dunia maya karena diatur secara longgar. Situs jejaring sosial, seperti Facebook. Twitter. SnapChat. YouTube, dan TikTok memungkinkan pengguna untuk menjadi bagian dari komunitas virtual dan memberikan jalan tambahan untuk cyberbullying. Cyberbullying melibatkan orangorang yang menggunakan sistem komunikasi elektronik untuk melakukan hal-hal yang masih dilakukan seperti bergosip, mempermalukan, melecehkan, mengintimidasi, memaksa, atau mengancam. 30,31,32 24 Alexander T. Vazsonyi et al. AuCyberbullying in Context: Direct and Indirect Effects by Low Self-Control across 25 European Countries,Ay European Journal of Developmental Psychology 9, no. 2 (March 2. : 210Ae27, https://doi. org/10. 1080/17405629. 25 Robert Slonje. Peter K Smith, and Ann Frisyn. AuProcesses of Cyberbullying, and Feelings of Remorse by Bullies: A Pilot Study,Ay European Journal Developmental Psychology (March 244Ae59, https://doi. org/10. 1080/17405629. 26 Wesley P Hester and Vivian H Wright. Cyberbullying Intervention: A Case Study Analysis of Stakeholder Perceptions Regarding the Authority of School Administrators in Addressing Cyberbullying Issues (Alabama: University of Alabama Libraries, 2. 27 Melisa Arisanty and Gunawan Wiradharma. AuThe Motivation of Flaming Perpetrators as Cyberbullying Behavior in Social Media,Ay Jurnal Kajian Komunikasi 10, no. 2 (December 29, 2. : 215, https://doi. org/10. 24198/jkk. 28 G. Soldatov & E. Rasskazova. AuFlaming and Trolling as a Type of Cyberaggression: The Role Structure and Features of Digital Sociality,Ay Psikhologicheskii Zhurnal 42, no. , https://doi. org/10. 31857/S020595920015229-7. 29 Gilberto Marzano and Velta Lubkina. AuCyberbulling And Real Reality,Ay SOCIETY. INTEGRATION. EDUCATION. Proceedings of the International Scientific Conference 2 (May 30, 2. : 412, https://doi. org/10. 17770/sie2013vol2. 30 Lynette K. Watts et al. AuCyberbullying in Higher Education: A Literature Review,Ay Computers in Human Behavior 69 (April 2. : 268Ae74, https://doi. org/10. 1016/j. 31 Colette Langos. AuCyberbullying: The Shades of Harm,Ay Psychiatry. Psychology and Law 22, no. 1 (January 2, 2. : 106Ae 23, https://doi. org/10. 1080/13218719. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. REMEGISES DANIAL YOHANIS PANDIE. ROMIKA | 55 Ketiga metode cyberbullying populer lainnya adalah peniruan identitas. Pelaku menyamar sebagai korban dan mengirimkan atau memposting informasi negatif, kejam, atau tidak pantas dalam upaya merusak reputasi orang tersebut. Hal ini dapat terjadi di bursa publik dan swasta. Peniruan identitas juga dapat dilakukan dengan menyamar sebagai orang lain dalam upaya memperoleh informasi atau memanipulasi perasaan. Hal ini berkaitan dengan bentuk lain dari cyberbullying yang dikenal sebagai tipu daya dalam membujuk seseorang untuk mengungkapkan rahasia atau informasi yang memalukan kemudian membagikannya secara online. Terkadang tipu daya berujung pada outing, yaitu berbagi rahasia pribadi atau informasi sensitif tanpa izin korban. Jenis cyberbullying ini paling sering digunakan ketika membahas kasuskasus yang melibatkan pengungkapan orientasi seksual korban. 33,34,35 Keempat eksklusi/cyber-ostracism adalah pengucilan seseorang secara sengaja dan kejam dari grup Penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun oleh para psikolog sosial telah mengidentifikasi keinginan dasar manusia untuk dilibatkan oleh orang lain, dan anak-anak dengan mudah menganggap dirinya masuk atau keluar dalam konteks kelompok. Hal ini terlihat secara online dengan membatalkan pertemanan atau memblokir di Facebook. Instagram. TikTok. Whatsapp dan situs jejaring sosial serupa. Meskipun mungkin tidak seburuk jenis cyberbullying yang bersifat langsung, pengucilan atau bahkan anggapan pengucilan telah terbukti menurunkan harga diri. 36,37 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembulian secara online tidak hanya memiliki satu bentuk atau satu cara, tetapi memiliki banyak model yang memungkinkan para pelaku melakukannya tanpa harus memikirkan cara lain ketika salah satu caranya dibatasi oleh pengguna. Oleh karena itu, situasi tersebut menjadi sangat tidak terkendali jika tidak ditangani dengan baik oleh pengguna media sosial. Dampak Cyberbulyyng Bagi Psikologis Pemuda Dampak cyberbullying terhadap psikologis pemuda bersifat multidimensional dan dapat mengganggu perkembangan emosional, kognitif, serta sosial. Paparan berulang terhadap hinaan, intimidasi, atau serangan verbal di ruang digital dapat memicu peningkatan tingkat kecemasan, rasa takut, dan ketidakamanan dalam berinteraksi. Individu yang mengalami tekanan tersebut sering menghadapi gangguan konsentrasi, penurunan motivasi belajar, serta kesulitan dalam mengelola emosi secara adaptif. Situasi ini turut memperbesar risiko munculnya gejala depresi, rasa putus asa, dan persepsi negatif terhadap diri sendiri, terutama ketika identitas remaja sedang berada dalam tahap pembentukan yang rentan terhadap evaluasi eksternal. Contohnya seperti tindakan mengunggah satu foto yang memalukan dapat mengakibatkan penghinaan yang berkelanjutan. Selain itu, insiden cyberbullying dapat menyebar ke banyak orang dalam waktu yang relatif singkat. Hampir tidak ada jalan keluar bagi korban mengingat kehadiran komunikasi elektronik di mana-mana dan kesulitan menghapus informasi dari internet. 38 Bagi para korban, fenomena sebuah video yang menjadi viral dalam bahasa sehari-hari saat ini dapat menimbulkan perasaan ditindas berulang kali meskipun hanya satu kali pelecehan yang dilakukan oleh pelakunya. 39 Di sisi lain, pesan instan dan teks biasanya merupakan bentuk komunikasi pendek antara dua orang atau lebih. Cyberbullying melalui layanan pesan mempunyai berbagai bentuk, namun yang paling jelas adalah pengiriman pesan kemarahan atau ancaman. Ruang obrolan, papan pesan, blog, dan situs web yang dibuat pengguna juga rentan terhadap pelecehan dan pembakaran dunia maya karena diatur secara longgar. 32 Stephanie Pieschl. Christina Kuhlmann, and Torsten Porsch. AuBeware of Publicity! Perceived Distress of Negative Cyber Incidents and Implications for Defining Cyberbullying,Ay Journal of School Violence 14, no. 1 (January 2, 2. : 111Ae32, https://doi. org/10. 1080/15388220. 33 Ersilia Menesini and Christiane Spiel. AuIntroduction: Cyberbullying: Development. Consequences. Risk and Protective Factors,Ay European Journal Developmental Psychology (March 163Ae67, https://doi. org/10. 1080/17405629. 34 Robin M. Kowalski et al. AuBullying in the Digital Age: A Critical Review and Meta-Analysis of Cyberbullying Research among Youth. ,Ay Psychological Bulletin 140, no. 4 (July 2. : 1073Ae1137, https://doi. org/10. 1037/a0035618. 35 Robin M. Kowalski. Susan P. Limber, and Annie McCord. AuA Developmental Approach to Cyberbullying: Prevalence and Protective Factors,Ay Aggression and Violent Behavior 45 (March 2. : 20Ae32, https://doi. org/10. 1016/j. 36 Yoon-Jin Choi. Byeong-Jin Jeon, and Hee-Woong Kim. AuIdentification of Key Cyberbullies: A Text Mining and Social Network Analysis Approach,Ay Telematics and Informatics 56 (January 2. : 101504, https://doi. org/10. 1016/j. 37 Lynne Edwards. April Edwards Kontostathis, and Christina Fisher. AuCyberbullying. Race/Ethnicity and Mental Health Outcomes: A Review of the Literature,Ay Media and Communication 4, no. 3 (June 16, 2. : 71Ae78, https://doi. org/10. 17645/mac. 38 Slonje. Smith, and Frisyn. AuThe Nature of Cyberbullying, and Strategies for Prevention. Ay 39 Varjas et al. AuHigh School StudentsAo Perceptions of Motivations for Cyberbullying: An Exploratory Study. Ay 40 Olweus. AuCyberbullying: An Overrated Phenomenon?Ay Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 56 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE Interaksi digital yang agresif juga berpotensi menciptakan distorsi dalam pemahaman mengenai nilai diri dan relasi sosial. Rasa malu, isolasi sosial, dan penurunan kepercayaan diri dapat berkembang akibat tekanan sosial yang terus berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Cyberbullying kerap menimbulkan pengalaman traumatis, karena serangan daring dapat menyebar luas, terekam secara permanen, dan sulit Konsekuensinya, pemuda yang mengalami perundungan digital berisiko menghadapi gangguan psikologis jangka panjang, termasuk kecenderungan menarik diri dari aktivitas sosial, sensitivitas berlebih terhadap kritik, serta potensi berkembangnya perilaku destruktif sebagai mekanisme pelarian dari tekanan emosional yang tidak tertangani, sehingga cyberbullying menciptakan bentuk penindasan yang lebih intens karena pesan intimidatif, gambar, dan pemaksaan seksual dapat disebarkan dengan cepat dan Tiga prinsip dasarnya adalah niat menyakiti, pengulangan, dan ketidakseimbangan kekuasaan. Teknologi membuat serangan terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga korban menghadapi tekanan psikologis lebih berat dibanding penindasan tradisional. Penelitian Ybarra menunjukkan korban dua kali lebih berisiko mengalami depresi, memiliki kecemasan sosial tinggi, prestasi rendah, serta penurunan harga 42 Anonimitas pelaku memperkuat ketakutan dan membuat korban enggan mencari bantuan atau melapor, sehingga dampaknya dapat berlangsung lebih lama karena takut kehilangan hak online atau pembatasan penggunaan internet. 43,44,45 Dengan demikian, dampak negatif termasuk depresi, kecemasan bisa lebih parah dan bertahan lebih lama dibandingkan dampak yang terkait dengan penindasan tradisional. Cyberbullyng/Pembulian Online Dalam Perspektif Pendidikan Agama Kristen Dalam pendidikan agama Kristen, pembulian online merupakan pelanggaran moral dan etika. mana, pembulian online dipahami sebagai bentuk tindakan tidak berbelaskasihan yang bertentangan dengan kehendak Allah atas relasi manusia. Pendidikan Kristen menempatkan setiap pribadi sebagai gambar dan rupa Allah . mago De. , sehingga perundungan digital merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia dan mencederai nilai kasih yang menjadi pusat etika Kristen. Keberadaan ruang digital tidak menghapus tanggung jawab moral, justru menuntut kedewasaan rohani dan kemampuan menggunakan kebebasan dengan benar. Tindakan seperti melemahkan mental, menjelekan, fitnah, komentar negatif, menyebarkan berita bohong, ancaman dan lain sebagainya menjadi bagian yang tidak lepas dari pelanggaran moral dan Hal ini menciptakan degradasi moral yang sangat besar bagi pelaku dan kerugian bagi korban. Di samping itu, etika yang seharusnya menjadi dasar berperilaku juga ikut terdegradasi oleh tindakan yang dilakukan. Jika etika dan moral mengalami degradasi, maka karakter akan menjadi rusak, sehingga karakter yang mulanya baik karena adanya moral dan etika menjadi rusak seketika saat tindakan tidak bermoral dan tidak beretika dilakukan. Persoalan ini ibarat memutar balikan kebenaran demi keuntungan Meskipun merusak karakter diri dan merugikan orang lain, namun dianggap sebagai kepuasan bagi diri Niebuhr menjelaskan bahwa sifat manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menipu diri sendiri dan kejahatan dengan kedok kebaikan seperti memanipulasi kebenaran agar sesuai dengan tujuannya, membaca data dengan bias, atau menggunakan orang untuk mencapai tujuan besarnya. Hauerwas menegaskan bawah manusia adalah penentu utama dari apa yang manusia lakukan. Individu tidak mendekati pilihan moral secara objektif. Sebaliknya, setiap orang membawa watak, pengalaman, tradisi, warisan, dan kebajikan yang telah dia kembangkan. Manusia mengembangkan kebiasaan hati ini di dalam komunitas tempatnya berada seperti keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat. 48 Oleh karena itu, 41 Stephanie Pieschl et al. AuRelevant Dimensions of Cyberbullying Ai Results from Two Experimental Studies,Ay Journal of Applied Developmental Psychology 34, no. 5 (September 2. : 241Ae52, https://doi. org/10. 1016/j. 42 Michele L. Ybarra. Marie Diener-West, and Philip J. Leaf. AuExamining the Overlap in Internet Harassment and School Bullying: Implications for School Intervention,Ay Journal of Adolescent Health 41, no. 6 (December 2. : S42Ae50, https://doi. org/10. 1016/j. 43 Amanda E. Fahy et al. AuLongitudinal Associations Between Cyberbullying Involvement and Adolescent Mental Health,Ay Journal of Adolescent Health 59, no. 5 (November 2. : 502Ae9, https://doi. org/10. 1016/j. 44 Lili Tian. Yuru Yan, and E. Scott Huebner. AuEffects of Cyberbullying and Cybervictimization on Early AdolescentsAo Mental Health: Differential Mediating Roles of Perceived Peer Relationship Stress,Ay Cyberpsychology. Behavior, and Social Networking 21, no. 7 (July 2. : 429Ae36, https://doi. org/10. 1089/cyber. 45 Krista Howard et al. AuAn Examination of Psychosocial Factors Associated with Malicious Online Trolling Behaviors,Ay Personality and Individual Differences 149 (October 2. : 309Ae14, https://doi. org/10. 1016/j. 46 Ade Efra. AuKritik Moral Nabi Hosea Sebagai Model Bagi Hamba Tuhan Dalam Membangkitkan Spiritualitas Umat Allah,Ay KERUGMA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 30Ae52, https://sttiimedan. id/ejournal/index. php/kerugma/article/view/67. 47 Reinhold Niebuhr. ManAos Nature and His Communities: Essays on the Dynamics and Enigmas of ManAos Personal and Social Existence (New York: Wipf and Stock Publishers, 2. 48 Sinta Dewi Simamora. AuPendidikan Agama Kristen Dan Signifikansinya Dalam Pembentukan Karakter. Ay Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. REMEGISES DANIAL YOHANIS PANDIE. ROMIKA | 57 pelanggaran terhadap moral dan etika sangat tidak dibenarkan karena merusak karakter seseorang yang melakukan kejahatan seperti pembulian online terhadap orang lain. Alkitab memberikan cetak biru untuk pembentukan kerohanian, atau pengembangan moral dan karakter, dalam Mazmur 78:1-8, di mana Allah menggariskan langkah-langkah dalam melatih suatu generasi yang tidak seperti generasi sebelumnya "pemberontak dan suka melawan", suatu generasi yang dicirikan bukan dengan melupakan pekerjaan Allah namun dengan memelihara perintah-perintah-Nya. Para individu dikelilingi dengan yang memberitakan pekerjaan ajaib Allah . Allah adalah pusat dari kehidupan bagi umat, dan mereka tidak dapat kelihatan mengambil alih apa yang Allah telah lakukan di dalam dan bagi Para siswa yang mencari kenyataan tentang Allah, menemukannya dalam guru-guru mereka yang mengetahui dan secara setia mengajar "hukum tertentu" dan kesaksian yang ditemukan di dalam firman Allah . Firman Allah adalah pusat dari perintah-perintah mereka dan diintegrasikan ke dalam setiap Kritik pada proses itu adalah keperluan untuk mengajar agar "generasi mendatang dapat mengetahui" . , "meletakkan kepercayaan mereka pada Allah" . , dan merupakan langkah awal dari pembentukan kerohanian. Dalam Perjanjian Baru, karakter orang percaya harus mengacu pada karakter Kristus. Pembentukan karakter yang menjadi tujuan iman Kristen ialah karakter Kristus Yesus berada dan berkembang dalam diri orang-orang percaya, yang merupakan pekerjaan Roh Kudus. Setiap orang yang tinggal di dalam Yesus, akan menghasilkan buah karakter yang mulia . Kor. 3:17-. Jika orang percaya menolak hidupnya untuk dipimpin Roh Kudus, maka karakter yang jauh dari karakter Kristus yang melekat dalam hidupnya (Gal. 5:19-21. Rm. 8:9-. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan gabungan dari kebiasaan baik dan buruk dari seseorang dan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Strategi Pendidikan Agama Kristen dalam Mengatasi Pembulian Online Pendidikan agama Kristen (PAK) menjadi salah satu yang mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah-masalah pemuda. Pendidikan agama Kristen mengajarkan hal-hal yang rohani kepada pemuda guna membentuk karakter pemuda menjadi lebih baik secara rohani. Namun, pendidikan agama Kristen perlu memiliki beberapa strategi yang tepat agar setiap ajarannya tidak berlalu begitu saja, melainkan memberikan perubahan mau pun menjadi jawaban bagi pemuda ketika mengalami masalah pembulian Oleh karena itu, harus diperhatikan pihak-pihak yang turut bertanggung jawab dalam mengimplementasikan strategi pendidikan agama Kristen. Pertama guru, yang merupakan penerus orang tua dalam mendidik anak, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi, karena proses pembelajaran menjadi inti dari keseluruhan pendidikan dan agen sosialisasi sekunder yang melanjutkan pembentukan nilai, perilaku, dan karakter yang dimulai dalam keluarga. Wasitohadi mengutip Dewey menjelaskan bahwa sekolah merupakan kelanjutan kehidupan keluarga dalam ruang yang lebih luas, sehingga hubungan guru murid mengandung tanggung jawab etis dalam membimbing perkembangan manusia. 49 Guru dituntut memiliki kapasitas profesional dan moral agar mampu menjadi teladan serta membentuk karakter naradidik, bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi kematangan moral, intelektual, dan sosial. Pazmino menegaskan bahwa pendidik Kristen dipanggil untuk membimbing peserta didik menuju pembaruan hidup yang selaras dengan kehendak Allah, sehingga proses pendidikan mencakup pemeliharaan, koreksi, dan pendampingan holistik. 50 Ketika naradidik menghadapi tekanan psikologis akibat cyberbullying, guru dituntut menunjukkan kesabaran, kepekaan, serta kemampuan konseling agar mampu menolong siswa menemukan penyelesaian yang sehat. Tanggung jawab ini sejalan dengan ajaran Alkitab, seperti Amsal 22:6 yang menyatakan. AuDidiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,Ay dan Galatia 6:2 yang mengingatkan. AuBertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Ay Dalam menghadapi perundungan online, guru perlu membimbing penggunaan media sosial yang bijaksana, membantu siswa membatasi paparan digital, serta memberikan pendampingan ketika permasalahan muncul, sehingga kesehatan mental dan karakter naradidik tetap terpelihara. Kedua keluarga, yang menjadi ruang pertama dan paling menentukan bagi pemuda ketika menghadapi masalah mental akibat pembulian online, karena stabilitas emosional dan moral berawal dari komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak. Adu dan Pandie menegaskan bahwa keluarga adalah 49 Wasitohadi. AuHakekat Pendidikan Dalam Perspektif John Dewey: Tinjauan Teoritis,Ay Satya Widya 30, no. 1 (June 5, 2. : 49, https://doi. org/10. 24246/j. 50 Robert W. Pazmino. Fondasi Pendidikan Agama Kristen (Bandung: BPK Gunung Mulia, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 58 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE mikrosistem utama yang membentuk perkembangan psikososial seorang anak. 51 Hennessy menekankan bahwa pola asuh yang suportif dan dialogis memungkinkan anak menginternalisasi nilai moral secara Karena itu, kurangnya komunikasi dialogis dalam keluarga sering membuat remaja melupakan ajaran moral yang pernah diberikan. 52 Lingkungan rumah menjadi fondasi utama pembentukan moral, disusul oleh sekolah dan masyarakat. Penggunaan media elektronik perlu disertai sosialisasi dan pendampingan orang tua agar pemuda tidak salah menggunakannya. Tugas keluarga adalah membimbing, mendampingi, dan menjadi rujukan solusi ketika pemuda menghadapi tekanan akibat cyberbullying. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Alkitab, seperti Amsal 1:8. AuHai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu,Ay dan Efesus 6:4. AuDidiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan,Ay yang menegaskan bahwa keluarga memikul peran utama dalam pembentukan moral dan ketahanan mental anak. Oleh karena itu, keluarga perlu memiliki solusi seperti pembatasan penggunaan media sosial, cara menggunakan media sosial, cara menghadapi pembulian online dan jika perlu pelaku pembulian online perlu dilaporkan kepada pihak yang Ketiga gereja, perlu menyikapi perkembangan teknologi yang menuntut gereja menyesuaikan diri dengan penggunaan media sosial sebagai sarana pelayanan, pengajaran, dan komunikasi program. Namun, gereja juga dipanggil untuk terlibat dalam penanganan pembulian online dengan menyediakan program edukatif yang membimbing pemuda menggunakan media digital secara bijaksana serta memberi ruang pemulihan ketika terjadi perundungan. Weeks dan Winningham menegaskan bahwa gereja sebagai komunitas iman bertugas membentuk murid yang matang melalui proses pengajaran yang relevan dalam pendidikan gereja melalui ibadah, katekisasi, pelatihan, seminar, dan pembinaan pastoral melengkapi peran keluarga dan sekolah dalam pembentukan karakter. 53 Fowler dalam teorinya tentang perkembangan iman, menyatakan bahwa komunitas gerejawi berfungsi sebagai ruang pertumbuhan moral dan spiritual yang memperkuat struktur kepribadian seseorang karena gereja berperan memperkuat karakter yang telah dibangun di rumah dan sekolah, sekaligus membentuk aspek yang belum terbangun melalui pembinaan rohani yang konsisten. 54 Prinsip ini sejalan dengan ajaran Alkitab seperti Ibrani 10:24. AuMarilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik,Ay serta Efesus 4:12, yang menyatakan bahwa pelayanan gereja bertujuan Aumemperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Ay Dengan demikian, gereja berkontribusi signifikan dalam membangun karakter jemaat secara holistik. Keempat literasi digital berbasis pendidikan Kristen yang membuka peluang pembelajaran yang fleksibel dan tidak terikat ruang maupun waktu, sehingga generasi muda dapat dibekali nilai-nilai Kristiani sekaligus keterampilan baru dalam menyampaikan pesan tentang keberadaan Allah. Pazmiyo menjelaskan bahwa pendidikan Kristen harus adaptif terhadap perubahan zaman sambil tetap berpegang pada fondasi iman yang kokoh, sebab pendidikan Kristen berakar pada Alkitab, berpusat pada Kristus, dan diarahkan untuk transformasi hidup. Upaya penerapan pendekatan digital ini dimaksudkan untuk membentuk generasi yang mampu menjaga serta menghidupi nilai-nilai iman melalui peran edukatif, sosial, dan spiritual yang dijalankan secara terpadu. 55 Pemikiran ini sejalan dengan Kim yang melihat pendidikan agama Kristen sebagai proses dialogis yang memampukan peserta didik membaca realitas baru secara kritis dan beriman, termasuk realitas digital. 56 Oliver dan Duncan menegaskan bahwa literasi digital tidak dapat dipisahkan dari iman Kristen karena ruang digital merupakan Auruang formasi spiritual baruAy yang harus diisi dengan 51 Mariyanti Adu and Remegises Danial Yonanis Pandie. AuPola Asuh Demokratis Sebagai Praktik Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga,Ay Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan . 4589Ae4600, https://doi. org/10. 31004/edukatif. 52 Kevin D. Hennessy et al. AuResponses of Physically Abused and Nonabused Children to Different Forms of Interadult Anger,Ay Child Development 65, no. 3 (June 1. : 815, https://doi. org/10. 2307/1131420. 53 Matthew Weeks. Katie James Winningham, and Brandon Winningham. AuLooking for Mature Faith in the Missions of Religiously Affiliated Institutions of Higher Education,Ay Christian Higher Education 16, no. 3 (May 27, 2. : 159Ae71, https://doi. org/10. 1080/15363759. 54 Terri Daniel. AuGrief as a Mystical Journey: FowlerAos Stages of Faith Development and Their Relation to PostTraumatic Growth,Ay Journal of Pastoral Care & Counseling: Advancing Theory and Professional Practice through Scholarly and Reflective Publications 71, no. 4 (December 10, 2. : 220Ae29, https://doi. org/10. 1177/1542305017741858. 55 Pazmino. Fondasi Pendidikan Agama Kristen. 56 Hyun-Sook Kim. AuSeeking Critical Hope in a Global Age: Religious Education in a Global Perspective,Ay Religious Education 110, no. 3 (May 27, 2. : 311Ae28, https://doi. org/10. 1080/00344087. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. REMEGISES DANIAL YOHANIS PANDIE. ROMIKA | 59 tanggung jawab etis. 57 Pemanfaatan literasi digital berfungsi mengembangkan karakter kritis dan aplikatif, sejalan dengan Amsal 4:7 tentang pentingnya memperoleh hikmat dalam menjalani hidup. Tantangan teknologi membutuhkan pemikiran cermat dan tindakan nyata, sebagaimana 2 Timotius 1:7 mengingatkan bahwa Allah memberi Auroh kebijaksanaan dan ketertiban,Ay bukan ketakutan. Oleh sebab itu, penguatan literasi digital melalui kolaborasi sekolah, keluarga, gereja, dan masyarakat menjadi kebutuhan fundamental agar setiap individu mampu mengakses, memahami, serta memanfaatkan media digital secara bertanggung jawab, sesuai amanat Kolose 3:17 untuk melakukan segala sesuatu Audalam nama Tuhan Yesus. Ay Kemampuan menciptakan dan menyebarkan informasi harus diarahkan pada pembangunan karakter yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani, sebagaimana Filipi 4:8 menuntun umat untuk memikirkan segala hal yang benar, mulia, adil, dan layak dipuji. Dengan demikian, pendidikan agama Kristen menjalankan tiga peran utama edukatif, sosial, dan spiritual dengan menempatkan literasi digital sebagai sarana pembentukan karakter kritis dan aplikatif. Teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang, yang perlu direspons melalui kolaborasi sekolah, keluarga, gereja, dan masyarakat agar generasi muda mampu mengakses, memahami, dan memanfaatkan media digital secara bertanggung jawab. Keterampilan tersebut meliputi kemampuan menciptakan dan menyebarkan informasi dengan etika Kristen, serta penguasaan dasar teknologi seperti komputer, internet, perangkat lunak produktif, keamanan data, dan privasi digital. Implikasinya Bagi Kesehatan Mental Pemuda Strategi pendidikan agama Kristen dalam mengatasi pembulian online membantu pemuda memahami dampak nyata yang dialami korban, seperti kecemasan, rasa terisolasi, dan penurunan harga diri, dengan menanamkan nilai kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan keberanian moral. Melalui pembentukan karakter yang berlandaskan kasih, pemuda diperlengkapi untuk tidak hanya menghindari perilaku agresif digital, tetapi juga memberikan dukungan empatik serta berperan aktif menghentikan tindakan yang merugikan. Pendidikan agama Kristen turut menyediakan pemulihan emosional dan spiritual bagi korban dengan meneguhkan identitas diri sebagai pribadi yang berharga di hadapan Allah, sejalan dengan Mazmur 34:18 AuTUHAN dekat kepada orang yang patah hatiAy, dan Kolose 3:12 Aukenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaranAy, sehingga membantu korban memulihkan rasa aman, membangun kembali kepercayaan diri serta dapat memperoleh kekuatan untuk bangkit dari trauma digital yang dialami. Strategi ini juga mencakup dukungan komunitas gereja yang berfungsi sebagai jaringan sosial yang memberikan rasa aman dan dukungan moral. Kaitannya dengan hal di atas, strategi pendidikan agama Kristen juga memberikan dampak positif pada upaya pencegahan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual ke dalam pembelajaran tentang literasi digital, pemuda diajarkan untuk bijak dan selektif menggunakan teknologi. Ini menciptakan kesadaran bahwa setiap tindakan di ruang digital memiliki konsekuensi terhadap orang lain. Pencegahan tersebut tidak saja bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan kondusif untuk semua pengguna. Melalui pengajaran yang berfokus pada penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, pemuda diajarkan untuk menggunakan media digital sebagai sarana membangun, bukan merusak. Prinsip-prinsip Kristen seperti "berkata-kata yang membangun" (Ef. dapat menjadi landasan bagi mereka untuk menjaga interaksi yang positif dan bermanfaat di dunia maya, sekaligus mencegah tindakan pembulian. Implikasi strategis lainnya adalah pada peran gereja sebagai institusi pendidikan informal. Gereja dapat menjadi pusat pembelajaran nilai-nilai Kristen yang relevan dengan tantangan digital saat ini. Dengan menyediakan program pendidikan yang inklusif, seperti seminar atau pelatihan literasi digital berbasis spiritualitas, gereja dapat memperluas jangkauan pengaruhnya untuk mendukung pemuda dalam menghadapi realitas dunia maya yang kompleks. Oleh karena itu, strategi pendidikan agama Kristen dalam mengatasi pembulian online berkontribusi tidak hanya pada kesehatan mental pemuda, tetapi juga pada pembentukan masyarakat digital yang lebih bermoral dan etis. Pendekatan ini mencerminkan peran penting pendidikan agama Kristen dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus memperkuat iman dan karakter generasi muda. Strategi PAK memberikan dampak positif pada hubungan antara iman dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari pemuda Kristen. Dengan memadukan nilai-nilai spiritual dan pemahaman tentang teknologi, pendidikan agama Kristen membantu generasi muda menjembatani iman mereka dengan tantangan zaman modern. Implikasi ini tidak hanya memperkuat identitas Kristen mereka, tetapi juga 57 Kyle Oliver and Stacy Williams-Duncan. AuFaith Leaders Developing Digital Literacies: Demands and Resources across Career Stages According to Theological Educators,Ay Journal of Media Literacy Education 11, no. 2 (September 1, 2. : 122Ae45, https://doi. org/10. 23860/JMLE-2019-11-2-7. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 60 | STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGATASI PEMBULIAN ONLINE mempersiapkan mereka untuk menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi isu-isu kompleks di ruang digital, termasuk pembulian online. Dengan demikian, implikasi dari strategi ini melampaui individu, menciptakan dampak positif yang luas bagi komunitas Kristen dan masyarakat pada umumnya. KESIMPULAN Pembulian online pada hakikatnya sangat merugikan dan merusak mental pemuda. Rusaknya mental pemuda tentu akan berdampak beberapa hal seperti merosotnya kehidupan sosial, merosotnya nilai akademis di sekolah/kampus, merosotnya kesehatan mental dan lain sebagainya. Pendidikan agama Kristen sebagai salah satu wadah yang dipercayakan Tuhan dalam mendidik domba-domba-Nya menjadi solusi bagi pemuda yang mengalami persoalan pembulian online melalui PAK sekolah. PAK gereja. PAK keluarga, dan PAK dalam literasi digital. Oleh karena itu, persiapan strategi-strategi yang tepat guna menjadi alternatif yang perlu disiapkan oleh sekolah, gereja dan keluarga agar pemuda yang mengalami pembulian online merasa aman dan sehat mental serta tahu cara menghadapi pembulian online. Implikasinya adalah pemuda menjadi lebih sehat secara mental dan sehat secara fisik yang bermuara pada prestasi pemuda itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA