A G R I M E T A JURNAL PERTANIAN BERBASIS KESEIMBANGAN EKOSISTEM http://e-journal. id/index. php/agrimeta Vol . 12 No 23 (APRIL, 2. 39 - 45 e-ISSN : 2721-2556 . p-ISSN : 2088-2531 ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT DI SUKAWATI KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR. Afrianus Gosardi. Ni Gst. Ag Gde Eka Martiningsih*. Ida Ayu Made Dwi Susanti. Ni Putu Eka Pratiwi Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian dan Bisnis. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Corresponding Author : ekamartini@unmas. ABSTRACT. The aim is to determine the amount of income received by cayenne pepper farmers in Sukawati Village, the sampling technique in this study uses the purposive method. Analysis of the data used . namely income analysis by determining the cost and revenue . Farming efficiency is sought by the R/C formula. The results of this study indicate that the income of cayenne pepper farming in Sukawati Village is Rp. 600 per 27 acre land area, per one farming season or Rp 115. 000/hectares, with an R/C value of 3. 288 this indicates that cayenne pepper farming in Sukawati Village is very efficient and profitable. for the local community, so that it plays a very important role in the income of cayenne pepper farming in Sukawati Village. based on the results of the study, it is recommended that cayenne pepper farming in Sukawati Village maintains the results of its farming by developing better cayenne pepper management procedures. Keywords: revenue, cost, efficiency. PENDAHULUHAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki dataran yang sangat luas sehingga mata pencarian penduduk sebagian besar berada pada sektor pertanian, oleh karena itu. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti negara yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang struktur ekonomi negara dan juga sebagai sumber mata pencarian bagi Sektor pertanian di Indonesia meliputi subsektor hortikultural, subsektor perikanan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan. Dari keempat subsektor tersebut, subsektor hortikultural salah satu subsektor yang terus berkembang dan mempunyai peranan penting dalam peningkatan pendapatan masyarakat (Arwaida. Hortikultural salah satu subsektor pertanian yang dikelompokan kedalam empat kelompok komoditas yaitu buah-buahan, sayuran, tanaman hias, biofarmaka . anaman obatobata. Kebutuan produk hortikultural khususnya komoditas sayuran dewasa ini terus meningkat, akibat dari pola hidup sehat yang telah menjadi gaya hidup masyarakat sehingga membawa penduduk untuk mengetahui lebih luas akan manfaat pemenuhan gizi yang seimbang (Diksan. Salah satu tanaman hortikultural sayuran yang mempunyai gizi yang baik adalah cabai rawit. Cabai rawit sangat diminati oleh kalangan masyarakat karena cabai rawit merupakan jenis tanaman sayur sayuran yang sangat bagus terutama untuk kesehatan. Cabai rawit mempunyai banyak mengandung khasiat seperti karbohidrat, protein nabati vitamin A, vitamin C, serta tidak mengandung kolesterol dan dapat mencegah flu dan demam, (Biatma 2. Dalam melakukan usahatani cabai rawit sangat baik untuk di budidayakan dimana tanaman cabai rawit memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan kasiat yang sangat baik untuk kesehatan. Daerah sentra cabai rawit terbesar di seluruh wilayah Indonesia, jika di lihat dari jumlah produksi maka ada empat provinsi di Indonesia yang merupakan penghasilan cabai rawit yang terbanyak, yaitu provinsi Jawa Barat. Jawa Tengah. Aceh dan Jawa Timur. Data produksi dan rata rata hasil produksi, dapat di lihat pada Tabel 1 Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa rata-rata hasil usahatani cabai rawit sebesar 17. 440 kg, kemudian kentang dengan rata-rata hasil 2. 990 kg, dan tomat dengan rata-rata 1. 872 kg hasil paling rendah adalah kacang tanah yaitu 2. 360 kg Tabel 1. Produksi dan rata rata hasil produksi cabai rawit di Indonesia. Rata rata Luas Produksi Komoditas (To. (Hekta. ( Kg ) Cabai rawit Kentang Kacang Tomat Tabel 2 Luas panen dan produksi cabai rawit semusim di provinsi Bali 2021. Kabupaten/ Luas lahan Produksi Rata rata cabai rawit ( Ton ) (Ar. (K. Tabanan Badung Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Sumber: Badan Statistik Hortikultural ( 2. Berdasarkan data konsumsi pangan tahun 2020, periode tahun 2016-2019 yaitu konsumsi cabai rawit di Indonesia tiap tahunnya berturut-turut. Dari tahun 2016 mencapai 0,2830 kg, tahun 2017 mencapai 0,8840 kg, tahun 2018 mencapai 0,1220 kg, tahun 2019 mencapai,2,8954 kg dari data diatas konsumsi cabai rawit di Indonesia cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya, meski sempat mengalami penurunan yaitu di tahun 2018 dan akan tetapi mengalami kenaikan kembali di tahun 2019, kenaikan konsumsi di tahun 2019 dua kali lipat kosumsi cabai rawit di tahun 2017(BPS 2. Pada awalnya pemenuan kebutuhan manusia terhadap cabai rawit hanya tergantung dengan ketersediaan pada petani, sehingga jumlah cabai rawit yang diperoleh sangat terbatas dan hanya pada musim Inisiatif membudidayakan cabai rawit dilakukan ketika permintaan cabai rawit terus meningkat sedangkan ketersediaan petani terbatas, seiring berjalannya waktu kegiatan pembudidayaan cabai rawit dapat menciptakan sebuah lapangan pekerjaan baru dibidang pertanian. Selain itu, kegiatan membudidayakan cabai rawit dapat mendatangkan (Briatmat2. Menegaskan bahwa usaha budidaya cabai rawit dapat memberikan kesempatan kerja dan dapat dijadikan sebagai investasi bisnis bagi pemuda yang tinggal di daerah pedesaan terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu usahatani cabai rawit dapat memberikan nilai tambah bagi pendapatan rumah tangga petani serta dapat meningkatkan kapasitas perekonomian masyarakat (Arsansa, 2. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu bagian dari wilayah Provinsi Bali yang sedang mengoptimalkan dalam membudidaya usahatani cabai rawit. Pemerintah sendiri dalam hal ini Dinas Pertanian Pangan Kabupaten Gianyar sedang menggencar-gencarkan melakukan penambahan kelompok tani dalam membudidayakan usahatani cabai rawit karena memiliki potensi yang tinggi dalam melakukan pengembangan produksi cabai rawit seperti yang terdapat pada Tabel 2 (Dirmansa, 2. Bali 2020 Bali 2019 Bali 2018 Bali 2017 B ali 2016 Sumber: Badan Pusat Statistik Bali . Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kabupaten yang memilki usahatani cabai rawit terbesar dan memiliki potensi sosial dan ekonomi yang besar, ini dipandang sebagai salah satu usahatani yang dapat dikembangkan dan dapat meningkat kesejahteraan Oleh karena itu, para usahatani di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar melakukan budidaya cabai rawit karena salah satu penghasilan tetap. Usahatani cabai rawit yang ada di kabupaten Gianyar adalah usahatani yang sering di budidayakan oleh kalangan masyarakat desa Sukawati . Dalam usahatani cabai rawit di desa Sukawati merupakan salah satu usaha pontensial yang di budidayakan oleh kalangan masyarakat Desa Sukawati setiap tahun. Dalam membudidayakan cabai rawit ini banyak kendalah yang di hadapi oleh petani, hal ini dapat dilihat dari teknik budidaya yang dilakukan oleh para petani cabai rawit masih bersifat tradisional dalam membudidayakan cabai rawit, dalam hal ini memiliki kendala baik dari segi pemberantasan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman cabai rawit dan alat alat tekonologi pertanian yang kurang mendukung dalam usahatani cabai rawit METODEPENELITIAN Penelitian ini di lakukan di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar, dalam penentuan lokasi penelitian ini dilakukan menggunakan metode purpos ive, yakni suatu metode yang di lakukan secara sengaj a yang didasarkan atas pertimbangan bahwa : . Kabupaten Gianyar merupakan daerah yang memilki usahatani cabai rawit di daerah Bali, . Desa Sukawati mengusahakan cabai rawit secara konsisten tiap tahun, dan . tanaman cabai rawit memiliki potensi ekonomi yang besar serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Sukawati. AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini meliputi . Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka angka yang dapat di hitung, data yang termasuk di dalamnya adalah luas lahan, jumlah petani, jumlah pemasukan cabai rawit setiap musim, dan . Data kualitatif, yaitu jenis data yang tidak berbentuk angka tapi merupakan uraian atau penjelasan yang berhubungan dengan masalah yang di hadapi petani, data kualitatif dalam penelitian ini adalah data keadaan usaha pertanian di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah mengg unakan dua sumber data yaitu : . Data primer, yang termasuk data primer dalam penelitian ini berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka. dalam hal ini data primer yang diperlukan adalah: identitas petani, luas penguasahaan tanah keseluruhan, luas lahan untuk tanaman cabai rawit, biaya, pendapatan, harga, biaya produksi, dan . Data sekunder, dalam penelitian ini yaitu gambaran obyek penelitian. Dalam hal ini data sekunder yang diperlukan adalah data penduduk, letak geografis, struktur organisasi yang di dapatkan dari literatur atau sumber terkait. Metode pengumpulan data Pengumpulan data dalam penelitian mengeai analisis pendapatan usahatani cabai rawit ini dilakukan melalui : . Observasi Merupakan salah satu teknik Operasional variabel Tabel 3. Operasional Variabel Variabel Indikator Pendapatan - Biaya usahatani cabai Efisiensi pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden . awancara dan angke. namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi . ituasi, dan kondis. teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam yang dilakukan pada responden, . Metode Wawancara salah satu metode pengumpulan data ialah dengan cara wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan bertanya langsung kepada responden. Proses wawancara dilakukan dengan cara terbuka, mengaju-kan pertanyaan yang berkenan dengan tujuan atau data data yang dibutuhkan, . Metode Dokumentasi, dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dan . Studi pustaka suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan konsepkonsep teoritis melalui jurnal, refrensi perpustakaan, penelitian atau tulisan ilmiah maupun studi literatur terhadap buku yang relavan. Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data primer dan sekunder, yang di kumpulkan melalui observasi dan kusioner yang telah di buat terlebih terdahulu yang memuat pertanyaan yang ssudah di butukan dalam Data yang di peroleh lalu diklasifikasi, tabulasi, dan diolah sesuai alat analisis yang di dipakai dalam tahapan yang ada dalam penelitian ini (Sukirno Parameter Biaya tetap{ pajak ,sewah lahan,biaya upacara dan alat Biaya variabel . enih,pupuk organik,npk,pupuk urea, tenaga Pengukuran Penerimaan usahatani cabai rawit R/C ratio total penerimaan usahatai cabai rawit total biaya usahatani AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan umur Karakteristik petani cabai rawit yang menjadi responden dalam penelitian merupakan suatu gambaran tentang latar belakang petani beserta pengalamannya dalam berusahatani cabai rawit. Karakteristik petani ini dapat di lihat dari beberapa aspek yang meliputi umur petani, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, luas lahan usahatani. karakteristik petani cabai rawit di Desa Sukawati dapat di lihat pada Tabel 4 Tabel 4. Karakteristik petani cabai rawit di Desa Sukawati berdasarkan umur. Umur Jumlah Presentase . (%) 28,89 37,78 33,33 Jumlah 100,00 Sumber: Analisis data primer . 1 ) Berdasarkan Tabel 4 umur responden di Desa Sukawati dan presentasi responden terbanyak berada pada jenjang usia 41- 50 tahun dengan jumlahnya sebanyak 17 orang dan presentase sebesar 37. Hasil penelitian menyatakan bahwa jenjang usia responden merupakan usia yang produktif dan cukup potensi dalam melakukan usahatani cabai rawit. Berdasarkan usia produktif tersebut maka responden mempunyai tenaga yang optimal dalam melakukan usahatani. Tingkat pendidikan petani Tingkat pendidikan petani di bagi menjadi 4 jenjang, yaitu Pendidikan Sekolah Dasar (SD). Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sarjana (S. Karakteristik petani dalam penelitian ini berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 5 Tabel 5. Karakteristik petani cabai rawit Desa Sukawati berdasarkan tingkat Pendidikan. Tingkat Jumlah Presentase Pendidikan . (%) 6,67 SMP 0,00 SMA 80,00 13,33 Jumlah 100,00 Sumber : Analisis data primer tahun . Responden dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 36 orang dan jumlah presentase 80,000%, responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 2 orang dan jumlah presentase 4,444%, dan responden untuk tingkat pendidikan perguruan tinggi 6 orang dan jumlah presentase 13,333%. Jadi tingkat pendidikan yang paling tinggi untuk petani cabai rawit yaitu pada tingkat SMA. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden usahatani cabai rawit mempunyai pendidikan yang bervariasi bahkan masih menemukan responden yang mempunya pendidikan dasar. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang membantu dan mendorong para petani dalam meningkat usahataninya, karena petani lebih tanggap dalam perubahan yang terjadi dalam usahataninya. Berdasarkan luas lahan petani Luas lahan merupakan faktor utama dalam mengembangkan cabai rawit karena sangat mempenga ruhi baik dari segi produksi maupun pendapatan, luas lahan dapat di ukur dalam satuan are yang terbagi, dapat di lihat pada Tabel 6 Tabel 6. Karakteristik petani cabai rawit Desa Sukawati berdasarkan luas lahan. Luhas lahan Jumlah Presentase . (%) 66,66 8,89 15,56 8,89 Jumlah 100,00 Sumber:Analisis data primer tahun . 1 ) Berdasarkan Tabel 6, responden petani cabai rawit di Desa Sukawati memilki luhas lahan paling banyak 25 are dengan presentasi sebanyak 66,66%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa petani memilki luas lahan dengan relatif kecil, lahan pertanian dengan berbentuk lahan kering dengan status milik sendiri dan luas lahan akan berpengaruh pada produksi dan pendapatan, semakin luas lahan yang di usahakan maka semakin tinggi produksi dan pendapatan yang di Berdasarkan jenis kelamin Karakteristik responden di Desa Sukawati menurut jenis kelamin, dari 45 orang responden jenis kelamin yang terbesar dalam penelitian ini adalah laki laki yakni 43 orang dengan prosentase 95,56% dan perempuan sebanyak 2 orang dengan presentase 4,44%. Hal ini menunjukan bahwa rata rata usahatani AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 cabai rawit di Desa Sukawati adalah dominan oleh kaum laki laki jika di bandingkan dengan perempuan. Analisis Biaya. Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Permasalahan petani dalam melaksanakan usahataninya tentu tidak terlepas dari masalah biaya dan pendapatan, maksud dari biaya dan pendapatan adalah semua nilai dari input produksi selama produksi Biaya usahatani cabai rawit Biaya usahatani dalam penelitian ini terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel meliputi biaya sarana produksi, tenaga kerja, sedangka n biaya tetap meliputi pajak lahan, upacara,sewa lahan dan biaya penyusutan. Biaya variabel Biaya sarana produksi Dalam usahatani cabai rawit tentu terdapat biaya yang di keluarkan yaitu berupa biaya produksi petani cabai rawit di Desa Sukawati, untuk lebih jelas dapat di lihat pada Tabel 7 Tabel 7 Rata rata penggunaan biaya sarana produksi per musim. Kuantitas Harga Biaya Jenis biaya . (Rp/k. (R. Benih Pupuk Npk Pupuk urea Pestisida 3 botol Jumlah Sumber:Analisis data primer ( 2. Pada Tabel 7 dapat diketahui bahwa biaya produksi cabai rawit di Desa Sukawati mencapai Rp Petani cabai rawit tidak perlu membeli bibit karena bibit diambil dari tanaman itu sendiri sesuai standar pemilihan bibit yang baik yakni tanaman setengah umur yang berwarna merah. Biaya tenaga kerja Kegiatan usahatani memerlukan tenaga kerja pada tiap produksi, keperluan tenaga kerja ini sekaligus akan mendorong timbulnya biaya untuk mengubah tenaga kerja yang digunakan, jika tenaga kerja kelompok atau keluarga kurang mencukupi. Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh petani cabai rawit Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar hanya pada pengelolaan lahan dan tanam, hal ini dikarenakan petani cabai rawit lebih mengusahakan sendiri tanpa menyewakan tenaga kerja lainnya. Sehingga mereka melakukan pembibitan, pemeliharaan, dan panen itu sendiri. Biaya tenaga kerja pada lahan cabai rawit untuk rata rata luas lahan 27 are memerlukan tenaga kerja rata rata 13 HOK dengan biaya Rp. 000 per HOK, sehingga biaya tenaga kerja untuk pengolaan lahan sampai siap tanam mencapai biaya Rp 1. 000 atau Rp 5. 000/hektar. Total biaya variabel Total biaya variabel merupakan biaya sarana produksi dan biaya tenaga kerja. Rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani cabai rawit di Sukawati dapat dilihat pada Tabel 8 Tabel 8. Total biaya variabel per luas lahan per satu musim tanaman cabai rawit di Desa Sukawati tahun Jenis biaya Biaya(R. Biaya produksi Biaya tenaga kerja Jumlah Sumber : Analisis data primer . Pada Tabel 8 diketahui bahwa rata-rata biaya variabel usahatani cabai rawit untuk luas lahan garapan per 27 are per musim tanam membutuhkan bi aya sebesar Rp 2. 100 atau Rp 7. 000 per hektar. Biaya Tetap Biaya pajak garapan Biaya pajak garapan untuk usahatani cabai rawit di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar per satu tahun sebesar Rp 20. 000 per luas lahan . Biaya upacara Biaya upacara yang dikeluarkan oleh petani cabai rawit pada usahatani cabai sebesar Rp 50. 000 per Sewa lahan Sewa lahan yang di keluarkan oleh usahatani cabai rawit per satu tahun sebesar Rp 27. 000 per are. Biaya penyusutan Biaya penyusutan ini mencantum berbagai alat yang di gunakan petani dalam melakukan usahatani cabai rawit,seperti sabit,cangkul,skop,semprot,seb esar Rp 11. 300 per dua tahun. AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Total biaya tetap Total biaya tetap merupakan biaya yang di keluarkan oleh petani cabai rawit dalam melakukan usahatani, dapat dlihat pada Tabel 9 Tabel 9 Total biaya tetap usahatani cabai rawit di Desa Sukawati tahun 2021. No Jenis biaya Biaya(R. Keterangan Pajak lahan 000 Per tahun Biaya upacara 000 Per musim Sewa lahan 000 Per tahun Biaya 500 Per dua tahun C Sabit 500 Per dua tahun C Cangkul Per dua tahun C Skop 500 Per dua tahun C Semprot Total Biaya Jumlah Sumber:Analisis data primer . Total Biaya produksi cabai rawit Total biaya produksi usahatani cabai rawit merupakan biaya yang di keluarkan untuk usahatani cabai rawit yaitu total biaya variabel dan total biaya tetap, disajikan pada Tabel 10 Tabel 10. Total biaya produksi cabai rawit per luas lahan per satu kali musim usahatani cabai rawit di Desa Sukawati tahun 2021. Jenis biaya komuditi Biaya variabel Biaya produksi Tenaga kerja Sub total Biaya tetap Pajak garapan Upacara Sewa lahan Biaya penyusutan Sub total Jumlah Biaya (R. Biaya penerimaan dan pendapatan usahatani cabai Penerimaan usahatani merupakan hasil kali total produksi dengan harga satuannya. Produksi adalah total hasil dari usahatani yang di nyatakan dalam bentuk fisik, sedangkan pendapatan merupakan selisih antara total penerimaan dengan biaya yang di keluarkan selama berlangsungnya proses produksi dari usahatani cabai rawit. Berdasarkan wawancara yang di lakukan dengan responden usahatani cabai rawit bahwa panen cabai rawit setiap 1 kali dalam satu musim. Rata rata pemanenan bisa berlangsung selama 6 bulan, dengan demikian satu musim usahatani cabai rawit kurang lebih tiga sampai enem bulan, rata rata kuantitas produksi cabai rawit dalam satu musim mencapai 1. kg dengan harga mencapai Rp 45. 000/kg, penerimaan usahatani cabai rawit pada luas lahan 27 are per satu kali musim tanaman adalah sebesar Rp 45. atau Rp 166. 000/hektar, selengkapnya disajikani pada tabel 11. Tabel 11 menunjukan bahwa pada tahun 2021 harga cabai meningkat menjadi Rp 45,000/kg, dari tabelte rsebut juga di ketahui bahwa nilai rata rata penerimaan usahatani cabai rawit adalah Rp 000 untuk rata rata luas lahan 27 are atau Rp 000/ hektar. Tabel 11 dapat diketahui rata rata Rp 31. 600 per rata rata luas lahan 27 are per satu musim tanamana atau Rp 115. 000 per hektar Besar kecilnya penerimaan di pengaruhi oleh besarnya produksi cabai, maka akan semakin besar penerimaan yang akan di peroleh maka semakin tinggi produksi yang di dapatkan, disamping itu pula besarnya penerimaan juga di tentukan dari mutu cabai rawit yang di produksi sehingga menye-babkan perbedahan harga produksi yang di terim Sumber:Analisis data primer . 1 ) AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Tabel 11. Rata rata biaya pendapatan usahatani cabai rawit satu kali musim tanaman cabai rawit di Desa Sukawati Tahun 2021. Usahatani Kuantitas Harga (Rp/k. Nilai Rp Penerimaan 000 kg Biaya produksi Pendapatan Sumber:Analisis data primer( 2. Analisis Efisiesi Usahatani cabai rawit/cost ratio Tabel 12 Total nilai usahatani cabai rawit dengan menggunakan R/C cost ratio. Usahatani cabai rawit Nilia (R. Penerimaan Biaya cabai rawit Nilai R/C 3,288 Sumber: Analisis data primer . 1 ) Efisiensi usahatani di cirikan dengan cost ratio (R/C) yaitu perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya produksi. Jadi, dengan rata rata penerimaan usahatani cabai rawit sebesar Rp 000 untuk rata rata luas lahan 27 are atau Rp 000/hektar total biaya cabai rawit sebesar Rp 400 per rata rata luas lahan 27 are atau Rp 000/hektar maka tingkat efisiensi pendapatan usahatani cabai rawit di Desa Sukawati 3,288. Dari hasil perhitungan R/C tersebut di atas dapat di jelaskan bahwa usahatani cabai rawit mempunyai nilai efisiensi lebih sebesar E1, ini menunjukan bahwa usahatani cabai rawit efisien untuk di usahakan. Masalah yang di hadapi petani dalam mengelolah usahatani cabai rawit. Masalah yang di hadapi dalam usahatani cabai rawit adalah hama dan penyakit yang terdapat pada usahatani cabai rawit sehingga hasil produksi tidak sesuai dengan target atau tidak mencapai hasil yang memuaskan. Dengan adanya hama dan penyakit sangat mempengarui pada pendapatan usahatani cabai rawit yakni harga semakin menurun tidak sesuai apa yang di SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : . Biaya produksi cabai rawit satu musim di Desa Sukawati adalah Rp 13. 400 per luas lahan 27 are, atau Rp 000/ hektar dengan penerimaan sebesar Rp 000 per luas lahan 27 are atau Rp 000/hektar, . Pendapatan usahatani cabai rawit di Desa Sukawati per satu musim adalah Rp 600 per rata-rata luas lahan 27 are atau Rp 000 dan memilki nilai R/C ratio sebesar 3,288 dari hasil perhitungan R/C tersebut di atas dapat di jelaskan bahwa usahatani cabai rawit mempunyai nilai lebih sebesar E1, ini menunjukan bahwa usahatani cabai rawit efisien untuk di usahakan Saran Usahatani cabai rawit perlu dikembangkan karena dap at memberikan keuntungan serta pendapatan bagi petani cabai rawit, namun perlu melakukan kajian lebih lanjut mengenai penggunaan produksi yang optimal supaya dapat memberikan keuntungan serta pendapatan bagi masyarakat petani cabai rawit. Sarana produksi pupuk, pestisida dan tenaga kerja perlu di diupayakan yang lebih bagus menggunakan karena dari berbagai pupuk, pestisida dan tenaga kerja dapat memberikan produksi cabai rawit yang lebih meningkat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi cabai rawit. REFERENSI