Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBM dalam Screening HIV di Wilayah Kerja Pelabuhan Panjang Analysis of Risky Sexual Behaviors in the TKBM Population during HIV Screening in the Panjang Port Work Area Novia Ika Lestari1. Nur Sefa Arief Hermawan2. Febria Listina2 Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Mitra Indonesia. Lampung. Indonesia Fakultas Kesehatan Universitas Mitra Indonesia. Lampung. Indonesia Korespondensi penulis : noviaikalestari@gmail. ABSTRACT The number of HIV/AIDS cases in Lampung Province increased from 185 cases in 2013 to 730 cases in 2023. High-Risk Men (HRM) such as stevedores (TKBM) are a group with the potential for risky sexual behavior, which can lead to HIV/AIDS transmission. The Class I Panjang Health Quarantine Center regularly conducts HIV screening across its working This study aimed to analyze risky sexual behavior among stevedores in HIV screening at Panjang Port in 2023. This research employed a cross-sectional approach and a population study of 150 stevedores, utilizing questionnaire data from HIV screening conducted in the Panjang Port working area in 2023. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-Square test. The Chi-Square statistical test results showed a significant relationship between age, education level, marital status, accessibility to sex transactions, and exposure to HIV information with risky sexual behavior among stevedores in the Panjang Port working area, with p-values of 0. 000, 0. 021, 0. 001, 0. 011, respectively. Meanwhile, knowledge was not associated with risky sexual behavior among stevedores, with a p-value of 0. It is recommended to enhance HIV prevention programs, such as expanding HIV screening to reach more high-risk groups, as well as analyzing screening results and planning subsequent intervention programs. Keywords: HIV. Loading and Unloading Workers. High-Risk Men ABSTRAK Peningkatan kasus di Provinsi Lampung dari 185 kasus pada 2013 menjadi 730 kasus Lelaki Berisiko Tinggi (LBT) seperti Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) merupakan kelompok yang berpeluang melakukan seks berisiko yang akan menyebabkan penularan HIV/AIDS. Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Panjang rutin melakukan screening HIV di seluruh wilayah kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perilaku seksual berisiko terhadap TKBM dalam screening HIV di Pelabuhan Panjang tahun Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan studi populasi terhadap 150 orang TKBM berdasarkan kuesioner hasil screening HIV di wilayah kerja Pelabuhan Panjang tahun 2023. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh terdapat hubungan antara usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, keterjangkauan transaksi seks, dan keterpaparan informasi HIV terhadap perilaku seksual berisiko pada TKBM di wilayah kerja Pelabuhan Panjang dengan p-value berturut-turut 0,000. 0,021. 0,001. 0,000. dan 0,011. Sementara pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM dengan p-value 0,555. Meningkatkan program pencegahan HIV seperti screening HIV dengan sasaran yang lebih luas dan dapat menjangkau kelompok berisiko lebih banyak lagi, serta melakukan analisis terhadap hasil screening dan merencanakan program penanganan selanjutnya. Kata kunci: HIV. Tenaga Kerja Bongkar Muat. Lelaki Berisiko Tinggi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-206 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. PENDAHULUAN HIlV (Human Immunodefilcilency Viru. menginfeksi sell darah putilh sehingga kekebalan tubuh manusila. Infeksi akibatnya sangat mudah terinfeksi oleh Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV (Kemenkes RI, 2. HIV menargetkan sel darah putih tubuh, hal ini membuat tubuh lebih mudah terserang penyakit seperti infeksi, tuberkulosis, dan beberapa jenis kanker (WHO, 2. Menurut United Nations Program on HIV and AIDS (UNAIDS) 2023, diperkirakan terdapat 39,0 juta orang hidup dengan HIV pada akhir tahun Pada tahun 2022, 630 ribu orang meninggal karena penyebab terkait HIV dan 1,3 juta orang tertular HIV. Penyakit HIV masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang uta,a, sejauh ini sudah merenggut 40. 4 juta nyawa dengan penularan yang terus berlanjut di semua negara secara global dengan peningkatan infeksi baru (WHO, 2. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023, jumlah ODHIV yang ditemukan periode Januari sampai dengan Maret 2023 sebanyak 13. 279 orang dari 023 orang yang di tes HIV, dan ARV . %). Jumlah komulatif ODHIV yang ditemukan . asus HIV) yang dilaporkan sampai dengan Maret 2023 sebanyak 377. 650 irang, sedangkan jumlah komulatif kasus AIDS yang dilaporkan hingga dengan Maret (Kemenkes RI, 2. Menurut data profil kesehatan Provinsi Lampung tahun 2022, jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dari keluruh Kabupaten/Kota dari tahun 2002 hingga 20219 terus meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus HIV yang terlaporkan mencapai 185 kasus dan terus meningkat menjadi 730 kasus pada tahun 2023 (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2. Pria berisiko tinggi . ria rist. atau yang sekarang dikenal dengan istilah Lelaki Berisiko Tinggi (LBT) terdiri dari supir truck. ABK (Anak Buah Kapa. TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Mua. Mereka merupakan kelompok usia produktif baik secara seksual maupun pekerjaan yang memungkinkan mereka untuk melakukan hubungan seks berisiko yang akan kelompok risiko tinggi ke dalam kelompok risiko rendah yang mayoritas bekerja berpindah-pindah, pendapatan atau sering disebut mobile man with money in macho . M) (Kemenkes RI, 2. Kecepatan enyebaran HIV/AIDS disebabkan oleh salah satu penularannya yaitu perilaku seksual yang berisiko pada populasi yang berisiko tinggi terpapar HIV/AIDS. Populasi dewasa yang berisiko tinggi tertular HIV berpotensi sebagai pelanggan penjaja seks adalah mereka yang biasanya bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain pada jangka waktu yang relative lama karena tuntutan bidang pekerjaan seperti pelaut/ABK. TKBM, dan sopir truck sementara kelompok wanita dewasa adalah mereka yang bekerja sebagai wanita penjaja seks (Kemenkes RI, 2. Karakteristik menunjukkan sebanyak 60% keatas berada pada kelompok usia 30 tahun 1-2% responden yang berusia sekolah . tahun kebawa. Tingkat pendidikan adlaah beragam pada kelompok pria berisiko tinggi. Distribusi status menikah, sebanyak 59-92% berstatus menikah, sementara status belum menikah masih banyak ditemukan pada kelompom ABK dan ojek, yaitu sekitar 31-38%. Status pernah menikah Simbang berada di kisaran 5% untuk kelompok TKBm, ojek, dan sopir truk, dan 2% untuk kelompok ABK. Distribusi pria yang tinggal sendiri yaitu paling banyak ditemukan pada Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. kelompok TKBM, yaitu sebesar 11%, sedangkan sekitar 10% ABK tinggal di tempat kerja (Kemenkes RI, 2. Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Panjang mempunyai kegiatan rutin yaitu screening HIV yang dilakukan di seluruh wilayah kerja. Salah satu kegiatan screening HIV pada tahun 2023 adalah dengan sasaran 150 orang di lingkungan TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Mua. di Pelabuhan Panjang Provinsi Lampung. Dari 150 orang responden ditemukan ada 5 orang reaktif HIV/AIDS di lingkungan TKBM. Berkaitan dengan hal tersebut kejadian HIV pada TKBM di Pelabuhan Panjang sebagai wilayah kerja BKK Kelas I Panjang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17 Ae 20 Juli 2024 di lingkungan kerja Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Panjang. Populasi dalam penelitian ini adalah TKBM di Pelabuhan Panjang responden dengan menggunakan total Variable independent dalam pengetahuan, keterjangkauan transaksi seks, dan keterpaparan informasi HIV. Variable dependen dalam penelitian ini yaitu perilaku seksusal berisiko pada TKBM. Pengumpulan sekunder hasil kegiatan screening HIV oleh Balai Kekarantianaan Kesehatan Kelas I Panjang tahun 2023. Penelitian ini bivariat . hi-squaar. METODE HASIL Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, pengetahuan, keterjangkauan transaksi seks, keterpaparan informasi HIV, dan perilaku seksual berisiko Variabel Usia O 30 tahun > 30 tahun Tingkat Pendidikan Rendah (Tamat SD Ae SMP) Tinggi (Tamat SMA Ae PT) Status Pernikahan Single . elum menikah/cera. Menikah Pengetahuan Kurang Baik Baik Keterjangkauan transaksi seks Mudah Sulit Keterpaparan informasi HIV Tidak terpapar Terpapar Perilaku Seksual Berisiko Tidak berisiko Total Frekuensi . Persentase (%) 16,67 83,33 36,67 63,33 42,67 57,33 24,67 75,33 38,00 62,00 19,33 80,67 100,00 Tabel 2. Hubungan usia dengan perilaku seksual berisiko Variabel Perilaku Seksual Berisiko Tidak berisiko Total (N) p-value . % CI) Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. Usia O 30 tahun > 30 tahun Total 7,083 ,882 Ae 12,. 0,000 Tabel 3. Hubungan tingkat pendidikan dengan perilaku seksual berisiko Perilaku Seksual Variabel Berisiko Tidak berisiko Tingkat Pendidikan Rendah 16 29,1 Tinggi 13 13,7 Total 29 19,3 121 Total (N) p-value . % CI) 0,021 2,126 . ,107 Ae 4,. Tabel 4. Hubungan status pernikahan dengan perilaku seksual berisiko Variabel Status Pernikahan Single Menikah Total Perilaku Seksual Tidak Berisiko Total (N) 0,001 % CI) 2,986 ,458 Ae Tabel 5. Hubungan pengetahuan dengan perilaku seksual berisiko Variabel Pengetahuan Kurang Baik Baik Total Perilaku Seksual Berisiko Tidak berisiko Total (N) p-value 0,555 Tabel 5. Hubungan keterjangkauan transaksi seks dengan perilaku seksual berisiko Perilaku Seksual Berisiko Tidak berisiko Keterjangkauan transaksi seks Mudah 21 56,8 Sulit Total 29 19,3 Variabel Total (N) p-value 0,000 . % CI) 8,017 . ,884 Ae 16,. Tabel 7. Hubungan keterpaparan informasi HIV dengan perilaku seksual berisiko Variabel Perilaku Seksual Tidak Berisiko Total (N) % CI) Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. Keterpaparan informasi HIV Tidak terpapar 17 29,8 Terpapar 12 12,9 Total 29 19,3 PEMBAHASAN Usia Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Panjang dengan p-value sebesar 0. < 0,. dan PR = 7,083. Nilai PR menunjukkan bahwa TKBM yang berusia kurang dari atau sama dengan 30 tahun 7,083 kali lebih besar untuk mempunyai perilaku seksual berisiko dibandingkan TKBM yang berusia di atas 30 tahun di Pelabuhan Panjang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mardalina dkk, . yang melaporkan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan perilaku seksual berisiko TKBM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Usia memengaruhi seseorang dalam melakukan suatu Seseorang yang berusia muda . Ae 44 tahu. memiliki kekuatan fisik dan kesehatan yang baik dibandingkan seseorang yang usia lebih tua. Selain itu, tingkat libido atau dorongan seksual pada usia muda juga lebih tinggi sehingga usia dengan kategori muda memiliki peluang lebih besar untuk melakukan perilaku seksual berisiko HIV/AIDS dibandingkan kategori tua (Mardalina, 2. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4. 2 bahwa TKBM pada kategori usia muda (O 30 tahu. lebih banyak melakukan perilaku seksual sedangkan TKBM pada usia kategori tua (> 30 tahu. didominasi oleh TKBM dengan perilaku seksual tidak berisiko. Pada dasarnya, variabel usia dipengaruhi oleh pengalaman seseorang selama hidup yang akan memengaruhi latar belakang dan sifat seseorang Semakin lama seseorang hidup maka akan semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki dalam berbagai aspek. Semakin bertambahnya usia maka akan semakin bertambah juga HIV/AIDS sehingga menentukan perilakunya untuk tidak mendekati perilaku seksual berisiko. 0,011 2,311 ,193 Ae Tingkat pendidikan Berdasarkan tabel diatas bahwa tingkat pendidikan TKBM di Pelabuhan Panjang terdiri dari tingkat pendidikan rendah sebanyak 55 orang . ,67%) dan tingkat pendidikan tinggi sebanyak 95 . ,33%). Secara diperoleh p-value sebesar 0,021 . < 0,. yang berarti terdapat hubungan perilaku seksual berisiko TKBM di Pelabuhan Panjang. Nilai PR didapatkan 2,126 . aktor menunjukkan bahwa TKBM dengan tingkat pendidikan rendah 2,126 kali lipat lebih besar meningkatkan kejadian perilaku seksual berisiko dibandingkan TKBM dengan tingkat pendidikan tinggi di Pelabuhan Panjang. Penelitian Mardalina . juga menemukan hasil yang sama bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Namun hal berbeda ditemukan pada penelitian Margawati dkk, . bahwa tidak ada hubungan yang signifikan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Kalimas Surabaya. Sama halnya dengan penelitian Susanti . bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku seksual berisiko pada ABK di wilayah kerja KKP Kelas II Palembang. Menurut pendidikan TKBM berhubungan dengan perilaku seksual berisiko karena jumlah TKBM dengan pendidikan tinggi yaitu 82 orang tidak memiliki perilaku seksual berisiko dibandingkan dengan TKBM yang berpendidikan rendah yaitu 39 orang. Pendidikan merupakan salah satu upaya potensi diri yang dapat berpengaruh meningkatnya kemampuan bekerja dan berusaha sehingga dapat Melalui Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. memperoleh informasi tentang kesehatan diantaranya HIV, sehingga pendidikan kemampuan seseorang untuk mencegah meningkatkan kesehatannya. Status pernikahan Berdasar pada Tabel diatas bahwa sebagian besar TKBM di Pelabuhan Panjang sebanyak 86 orang . ,33%) dan selebihnya berstatus single sebanyak 64 orang . ,67%). Hasil analisis statistik diperoleh p-value 0,001 . < 0,. yang berarti terdapat hubungan antara status pernikahan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Panjang. Nilai PR diperoleh sebesar 2,986 . aktor risik. yang menunjukkan bahwa TKBM dengan status single berpeluang melakukan perilaku seksual berisiko 2,986 kali lebih besar dibandingkan TKBM yang sudah menikah. Hasil yang sama ditemukan pada Susanti . menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara status pernikahan dengan perilaku seksual berisiko pada ABK di wilayah kerja KKP Kelas II Palembang. Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian Mardalina dkk, . bahwa tidak ada hubungan antara status pernikahan dengan perilaku seksual berisiko HIV/AIDS pada TKBM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Menurut opini peneliti, status pernikahan menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Panjang, dilihat dari hasil analisis data bahwa TKBM dengan perilaku seksual berisiko didomininasi oleh TKBM yang berstatus single. Kelompok TKBM dengan status single dan gejolak usia muda berpengaruh terhadap gaya hidup untuk lebih mudah untuk mencoba melakukan aktifitas seksual yang berisiko seperti bertransaksi seks dengan penjaja seks dan sebagainya dan memungkinkan timbulnya keinginan atau hasrat untuk melakukan kembali. Pengetahuan Dalam penelitian ini, pengetahuan didasarkan pada jawaban responden pengetahuan dasar mengenai HIV/AIDS meliputi cara penularan HIV dan Berdasarkan pada Tabel 1, sebagian besar TKBM di Pelabuhan Panjang memiliki pengetahuan kurang baik, yaitu sebanyak 90 orang . %) dan TKBM yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 60 orang . %). Hal ini sesuai dengan hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2018 Ae 2019 bahwa pengetahuan komprehensif terkait penularan dan pencegahan HIV masih rendah . ,1%). Hasil uji statistik diperoleh p-value sebesar 0,555 . > 0,. yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual berisiko TKBM di wilayah kerja Pelabuhan Panjang. Adapun nilai PR yang didapatkan adalah 0,821 yang berarti pengetahuan merupakan faktor protektif. TKBM dengan pengetahuan rendah berisiko 0,82 kali lebih kecil untuk melakukan perilaku seksual berisiko TKBM pengetahuan tinggi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Susanti . bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual berisiko pada ABK di wilayah kerja KKP Kelas II Palembang. Selain itu, hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian Mardalina dkk, . bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sementara Margawati . berhubungan dengan perilaku seksual berisiko HIV pada TKBM di Pelabuhan Kalimas Surabaya. Menurut opini peneliti terhadap TKBM yang memiliki pengetahuan kurang HIV/AIDS menunjukkan perilaku seksual tidak melindunginya dari perilaku seksual berisiko karena TKBM tersebut mungkin lebih fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab terhadap keluarga. Selain itu. TKBM dengan dua kriteria tersebut . erpengetahuan kurang baik dan tidak berperilaku seksual berisik. mayoritas kesulitan dalam menjangkau transaksi seks sehingga mereka tidak terpapar faktor risiko. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. Keterjangkauan transaksi seks Berdasarkan Tabel diatasTKBM menjangkau transaksi seks sebanyak 37 orang, 21 orang . ,8%) diantaranya menunjukkan perilaku seksual berisiko . ,2%) menunjukkan perilaku seksual tidak Sementara TKBM yang mengaku sebanyak 113 orang, 8 orang . ,1%) seksual berisiko dan 105 orang . ,9%) lainnya menunjukkan perilaku seksual tidak berisiko. Hasil analisis bivariat menunjukkan p-value sebesar 0,000 . < 0,. yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara keterjangkauan transaksi seks dengan perilaku seksual berisiko, bahwa TKBM yang mudah menjangkau transaksi seks lebih banyak melakukan perilaku seksual berisiko dan TKBM yang sulit menjangkau transaksi seks lebih banyak menunjukkan perilaku Nilai menunjukkan 8,017 . aktor risik. yang berarti bahwa TKBM yang mudah menjangkau transaksi seks berisiko 8,017 kali lebih besar untuk melakukan perilaku seksual berisiko dibandingkan TKBM yang sulit menjangkau transaksi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mardalina dkk, . bahwa berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Hasil penelitian yang selaras juga ditemukan oleh Winahyu dkk, . bahwa keterjangkauan transaksi seks berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada trucker di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Jarak tempuh yang dekat dan biaya yang terjangkau akan memengaruhi frekuensi transaksi seksual. Keterjangkauan transaksi seks merupakan salah satu faktor pemungkin, yaitu faktor lingkungan sebagai sarana yang mendorong seseorang terjadinya perilaku seseorang. Keterjangkauan yang dimaksud adalah kemampuan untuk menempuh jarak dan memenuhi biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan transaksi seksual. Sementara transaksi memperjualbelikan badan, kehormatan, dan kepribadian kepada banyak orang dengan tujuan memuaskan nafsu dan mendapatkan pembayaran Mardalina dkk, . Menurut berdasarkan hasil analisis kelompok TKBM dengan perilaku seksual berisiko mengaku mudah untuk menjangkau transaksi seks sebanyak 21 orang, keterjangkauan dari segi jarak maupun berpotensi menularkan HIV. Keterpaparan informasi HIV Hasil uji statistik diperoleh nilai pvalue 0,011 yang berarti terdapat hubungan antara keterpaparan informasi HIV dengan perilaku seksual berisiko pada TKBM di wilayah kerja Pelabuhan Panjang. Nilai PR diperoleh 2,311 . aktor risik. yang menunjukkan bahwa TKBM yang tidak terpapar informasi HIV berisiko 2,311 kali lebih besar untuk dibandingkan TKBM yang sudah terpapar informasi mengenai HIV. Hal ini sejalan dengan penelitian Zardil, . bahwa semakin baik pengetahuan seseorang yang terpapar informasi HIV, baik dari media cetak maupun elektronik, maka semakin tinggi pencegahan dalam penularan HIV/AIDS. Sementara penelitian Winahyu dkk, . menemukan bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan informasi kesehatan dan pelayanan kesehatan dengan perilaku seksual berisiko. Keterpaparan HIV merupakan salah satu faktor pemungkin atau faktor yang mendorong perilaku Dengan adanya informasi mengenai HIV dapat meningkatkan pengetahuan TKBM untuk menghindari perilaku seksual berisiko. Sebagian besar TKBM di wilayah kerja Pelabuhan Panjang, yaitu 93 orang . ,00%) sudah menerima informasi mengenai HIV, sedangkan 57 orang . ,00%) belum menerima informasi mengenai HIV. Menurut peneliti, keterpaparan informasi HIV berhubungan dengan perilaku seksual berisiko dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa 87,1 % responden yang terpapar informasi HIV Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 298-306 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Perilaku Seksual Berisiko Pada Populasi TKBMA (Novia Ika Lestari, dk. tidak memiliki perilaku seksual berisiko pengetahuan dan pemahaman tentang HIV. SIMPULAN Terdapat hubungan antara usia . -value . < . dan PR 7,. , tingkat pendidikan . -value . < . dan PR 2,. , status pernikahan . -value . < . dan PR 2,. , keterjangkauan transaksi seksual . -value . < . dan PR 8,. , keterpaparan informasi HIV . -value . < . dan PR 2,. dengan perilaku seksual berisiko pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di wilayah kerja Pelabuhan Panjang. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual berisiko pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di wilayah kerja Pelabuhan Panjang dengan p-value . > . dan PR 0,82. Variabel keterjangkauan transaksi seksual merupakan variabel paling dominan atau paling berpengaruh untuk berperilaku seksual berisiko pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di wilayah kerja Pelabuhan Panjang dengan PR adjusted : 8,017 . % CI PR : 3,884 Ae 16,. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Jaya. Biostatistik Statistik Penelitian Kesehatan. Edisi Digital. Jakarta: Kencana. Alamsyah. Ikhtiaruddin. Purba. Asih. Mengkaji HIV/AIDS dari Teoritik hingga Praktik. Indramayu: Penerbit Adab. Arikunto. Suharsimi. Prosedur Jakarta: Rineka Cipta Bustan dan M. Nadjib. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rhineka Cipta. Chandra. Rahmawati. , dan Hardiani. 'Hubungan Tipe Kepribadian dengan Perilaku Seksual Berisiko Remaja di SMKN "X" Jember'. Jurnal Pustaka Kesehatan, 2 . Dimbuene. Emina. , & Sankoh. UNAIDS Aomultiple sexual partnersAo core SARAN