KESKOM. : 279-286 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS (J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A L T H) http://jurnal. Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet di Kabupaten Padang Lawas Utara Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers in Padang Lawas District North Roliana Harahap1*. Reni Agustina Harahap2, 1,2 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ABSTRACT ABSTRAK The rubber tapping process is still carried out manually, relying on human power, and is carried out repeatedly and has the potential to cause complaints of musculoskeletal disorders (MSD. This research aims to describe the MSDs complaint factors felt by rubber-tapping farmers due to unergonomic working postures. Data collection was carried out in February-March 2024 among rubber tapping farmers in Sihopuk Baru village. East Halongonan subdistrict. North Padang Lawas district with a total sample of rubber tappers. The instrument used in collecting data on complaints from rubber-tapping farmers was the Nordic Body Map (NBM) questionnaire. The research results showed that the number of farmers who did not experience MSDs complaints was 36 people . %) while the number of rubber tappers who experienced complaints was 14 people . %). On the other hand, gender does not affect MSDs complaints, while age and work posture have a relationship with MSDs Proses penyadapan karet masih dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga manusia dan dan dilakukan secara berulang-ulang berpotensi menimbulkan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor keluhan MSDs yang dirasan oleh petani penyadap karet karena postur kerja yang tidak ergonomis. Pengumpulan data dilakukan pada bulan februari- maret 2024 pada petani penyadap karet di desa sihopuk baru, kecamatan halongonan timur kabupaten padang lawas utara dengan jumlah sampel 50 orang penyadap karet. Instrument yang dipergunakan dalam pengumpulan data keluhan Petani penyadap karet adalah kuesioner Nordc Body Map (NBM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah petani yang tidak mengalami keluhan MSDs adalah sebanyak 36 orang . %) sedangkan jumlah penyadap karet yang mengalami keluhan adalah sebanyak 14 orang . %). Di sisi lain, jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap keluhan MSDs sedangkan umur dan postur kerja memiliki hubungan dengan keluah MSDs. Keywords : rubber tappers. MSDs, complaints Kata Kunci : petani penyadap karet. MSDs, keluhan Correspondence : Roliana Harahap Email : rolianaharahap@gmail. A Received 23 Mei 2024 A Accepted 24 Juni 2024 A Published 3 Juli 2024 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: https://doi. org/10. 25311/keskom. Vol10. Iss2. Copyright @2017. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribution and reproduction in any medium Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan sektor informal penting dalam perkebunan selain kelapa sawit, kakao dan teh, baik yang menjadi sumber pendapatan devisa1, kesempatan kerja, dan pendorong pertumbuhan ekonomi sentra- sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumber daya Hal ini ditunjukkan oleh jumlah petani yang terlibat dalam usaha karet alam mencapai 1,907 juta kepala keluarga, sehingga banyak penduduk menggantungkan hidup dari tanaman pohon karet. Gangguan Musculuskeletal (MSD. adalah cedera pada otot, saraf, tendon, ligamen, sendi, tulang rawan atau cakram tulang belakang2. MSDs biasanya hasil dari setiap peristiwa sesaat atau akut . eperti slip, perjalanan, atau jatu. , selain itu mencerminkan perkembangan yang lebih bertahap atau kronis2. International Labour Organization (ILO), dalam program Musculoskeletal Disorders Carpal Tunnel Syndrome, 59% dari semua catatan penyakit yang ditemukan pada tahun 2005 di negara Eropa3. Laporan Komisi Pengawas Eropa menghitung kasus Musculoskeletal Disorders menyebabkan 49,9% ketidakhadiran kerja lebih dari tiga hari dan 60% kasus ketidakmampuan permanen dalam bekerja. Pada tahun 2020 di Argentina dilaporkan 013 kasus dari penyakit akibat kerja, dengan Musculoskeletal Disorders merupakan kejadian yang paling sering Musculoskeletal Disorders di Korea mengalami peningkatan yang sangat tinggi 634 pada tahun 2001 menjadi 5. pada tahun 20104. Keskom. Vol 10. No 2, 2024 Petani Karet di desa sihopuk baru, kecamatan halongonan timur kabupaten padang lawas utara terdapat 20 . ua pulu. lokasi penyadap karet dengan luas per kebun 2,5 hektar, dimana dalam satu tempat terdiri dari 2 . orang petani, dimana mereka bekerja secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan5 menyadap dan mengumpulkan karet dari hasil sadapan untuk dijual. Berdasarkan yang telah dijelaskan di atas dimana pada setiap kebun karet terdapat 2 . orang petani, yang menyadap karet di kebun dengan luas kebun 2,5 hektar, menggunakan alat penyadap yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai siang hari secara manual6, setelah itu mereka juga melakukan pengumpulkan karet hasil sadapan ini dilakukan biasanya mulai dari siang hari sampai sore hari pengambilan karet di dalam wadah yang ada di pohon karet, di bawa dengan ember ukuran sedang yang apa bila terisi penuh oleh karet seberat 15kg, selain itu juga petani 3 mempersiapkan kotak ukuran besar yang diletakan di atas gerobak yang ukuran besar, ember yang dibawa oleh masing-masing petani jika sudah penuh maka petani memindahkan karet ke dalam kotak yang sudah disediakan, setelah pengumpulan selesai gerobak yang sudah terisi penuh oleh karet dibawa ke penjualan karet, gerobak yang sudah di isi dengan kotak karet tersebut dibawa dengan menggunakan motor untuk dibawa ke pembeli karet di desa sihopuk baru7, pekerjaan pengumpulan karet ini dilakukan hanya satu kali dalam seminggu. Salah satu penyebab munculnya keluhan MSDs pada penyadap karet karena posisi kerja yang tidak alamiah8. Posisi tubuh pekerja saat penyadapan karet seringkali tidak dilakukan secara alamiah sehingga semakin meningkatkan risiko MSDs. Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet Penyadap karet seringkali memaksakan postur kerja yang tidak alamiah untuk mengangkut hasil karet ketempat TPH9. Berdasarkan data di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian AuAnalisis Musculoskeletal Disorders (MSD. pada petani karet di desa sihopuk baru kecamatan halongonan timur kabupaten padang lawas Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin, umur, dan postur kerja terhadap gangguan MSDs pada petani penyadap karet di Desa Sihipuk Baru Kabupaten Padang Lawas Utara. kuesioner online dengan pengisian dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil pemeriksaan Setelah responden mengisi kuesioner, selanjutnya memastikan kelengkapannya. Data tersebut akan diolah dan kemudian dianalilis menggunakan aplikasi SPSS versi 26 . Analisis data menggunakan 2 jenis statistik yaitu univariat yang ditunjukkan dalam mendeskripsikan distribusi frekuensi Kemudian bivariat, yang dilakukan pada dua variabel yang saling berhubungan dengan uji ststistik chi- square dengan kekuatan hubungan melalui angka OR (Odd Rati. pada Tingkat kepercayaan (CI) 95%. METODE HASIL Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Lokasi penelitian dilakukan di desa sihopuk baru kabupaten padang lawas utara. penelitian dilaksanakan pada bulan februari Populasi pada penelitian ini adalah petani penyadap karet di Desa sihopuk baru, kecamatan halongonan timur, sebanyak 50 Sampel pada penelitian ini menggunakan tekhnik total sampling yang Dimana keseluruhan responden berasal, jumlah total populasi yang ada yakni sebanyak 50 responden petani penyadap Pengumpulan data menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) melalui observasi terhadap aktivitas petani penyadap Analisis data dalam penelitian ini dilakukan untuk menilai Tingkat risiko keluhan musculosceletal disorders (MSD. berdasarkan banyak variabel Jenis Kelamin. Umur, dan Postur Kerja. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang di peroleh langsung dari Metode pengumpulan data dengan menggunakan google from dengan instrumen menggunakan Karakteristik Responden Karakteristik responden penelitian terlihat pada tabel 1: Keskom. Vol 10. No 2, 2024 Table 1. Karakteristik Responden Variabel Umur . 20-40 tahun 41-61 tahun Total Jenis kelamin Laki-laki Total Tingkat Pendidikan SD/ SMP/MTS SMA/SMK D3/S1 Total Postur Kerja Baik Kurang baik Total Risiko Keluhan Tidak ada keluhan Jumlah Persentase (%) Ada keluhan Total Sumber: data diolah peneliti dengan SPSS . Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih dalam usia produktif yakni dalam kategori usia 20 Ae 40 Tahun sebanyak 39 orang . %). Hal ini dikareakan karakteristik pekerjaan dari penyadap karet yang membutuhkan individu dengan usia yang masih produktif. Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah responden dengan jenis kelamin laki laki lebih banyak apabila dibandingkan dengan responden dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 33 orang . %). Hal ini dikarenakan responden dengan jenis kelamin laki laki lebih kuat bekerja ecara fisik apabila dibandingkan dengan responden dengan jenis kelamin perempuan Tabel 1 menunjukkan bahwa pendidikan terakhir SMA/SMK yaitu sebanyak 27 orang . %). Hal ini dikarenakan karakteristik pekerjaan dari Penyadap Karet. Tabel 1 menunjukkan bawha sebagian besar responden memiliki postur kerja yang kurang baik yaitu sebanyak 39 orang . %). hal ini dikarenakan dampak dari pekerjaan sebagai penyadap karet yang berpengaruh terhadap postur kerja dari Tabel 1 menyimpulkan bahwa sebagian besar responden tidak memiliki keluhan yaitu sebanya 36 orang . %). Hasil Distribusi kuesioner Nordic Body Map Berikut adalah hasil distribusi kuesioner yang dilakukan oleh penelitian. Table 2. Hasil Distribusi kuesioner Nordic Body Map Titik keluhan Tidak sakit (%) Sakit Sakit /kaku di leher bagian atas Sakit/kaku di leher bagian bawah Sakit pada bagian bahu kiri Sakit di bahu bagian kanan Sakit pada lengan atas kiri Sakit pada lengan atas kanan Sakit pada bagian punggung Sakit pada bagian pinggang Sakit pada bagian bokong Sakit bagian siku kanan Sakit bagian siku kiri Sakit pergelangan tangan kanan Sakit pergelangan tangan kiri Sakit pada paha kanan Sakit pada paha kiri Sakit pada lutut kanan1 Sakit pada lutut kiri Sakit pada betis kanan Sakit pada betis kiri Sakit pergelangan kaki kanan Sakit pergelangan kaki kiri Sakit pergelangan kaki kanan Sakit pada kaki kanan Sakit pada kaki kiri Sakit pada telapak kaki Rata Rata 65% 17. Keskom. Vol 10. No 2, 2024 (%) Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rata rata responden yang tidak mengeluhkan rasa sakit adalah sebanyak 48 Orang . %) sedangkan rata rata jumlah responden yang mengeluhkan rasa sakit adalah 17. %). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengeluhkan rasa sakit. Uji Bivariat Berikut adalah hasil uji bivariat yang dilakukan oleh peneliti: Tabel 3. Uji Bivariat Jenis Umur Kelamin Xhitung Sig X Tabel Tidak Memiliki Kesimpulan Memiliki Hubungan Hubungan Postur Kerja Memiliki Hubungan Sumber : Data Diolah Peneliti dengan SPSS . Berdasarkan pada Tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil uji statistic dengan korelasi spearman menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin tidak memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari alpha . % atau 0,. atau nilai p- value 0. oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin tidak menjadi factor risiko dari keluhan musculoskeletal disorders (MSD. pada pekerja penyadap karet di desa sihopuk baru, kabupaten padang lawas Namun berbeda dengan usia, usia memiliki nilai signifikan p-value 0,000 begitu juga dengan postur kerja, postur kerja memiliki nilai yang signivikan p-value 0,000. Hal ini mengindekasi bahwa hanya jenis kelamin yang tidak memiliki nilai signifikan, atau yang tidak memiliki hubungan dengan dengan factor risiki dan keluhan musculoskeletal disorders (MSD. pada petani penyadap karet, di desa sihopuk baru, kecamatan halongonan timur Keskom. Vol 10. No 2, 2024 kabupaten padang lawas uatara. Selain itu, nilai signifikansi yang positif menunjukkan bahwa Tingkat korelasi antar variabel meningkatkan keluhan musculoskeletal disorders (MSD. PEMBAHASAN Hubungan antara Jenis Kelamin dengan dengan Keluhan MSDS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan keluhan MSDS pada petani penyadap karet di Desa Sihopuk Baru Kecamatan Halongonan Kabupaten Lawan Utara. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai P Value 054 atau p value > 0. 05 serta nilai t hitung sebesar 0. 849 yang menunjukkan bahwa nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1. Jenis kelamin, dalam konteks biologis dan medis, merujuk pada perbedaan anatomis, fisiologis, dan hormon dalam tubuh yang membedakan antara lakilaki dan perempuan10. Perbedaan ini tidak hanya terbatas pada organ reproduksi eksternal dan internal, tetapi juga mencakup perbedaan dalam sistem hormonal, struktur tulang, distribusi lemak tubuh, dan komposisi otot. Secara umum, perbedaan kromosom seks, dengan perempuan memiliki dua kromosom X (XX) dan lakilaki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Namun, variasi dalam perkembangan seksual dan variasi biologis lainnya dapat menyebabkan variasi yang lebih kompleks dalam manifestasi jenis Musculoskeletal Disorders (MSD. , atau gangguan muskuloskeletal, mengacu pada berbagai gangguan yang mempengaruhi sistem muskuloskeletal. Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet termasuk tulang, otot, sendi, ligamen, dan jaringan lunak terkait lainnya. MSDs dapat berkisar dari gangguan yang menyangkut otot dan tulang, seperti osteoarthritis dan osteoporosis, hingga gangguan yang lebih luas yang melibatkan sistem saraf perifer dan gangguan otot yang lebih kompleks seperti fibromialgia. Penyebab MSDs bervariasi dan dapat meliputi faktor-faktor ergonomi, cedera fisik, genetik, perubahan hormonal, dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan dan Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Antari12 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik MSDs antara laki-laki dan Faktor-faktor biologis seperti perbedaan dalam struktur tulang dan distribusi lemak tubuh dapat mempengaruhi risiko terjadinya gangguan tertentu. Sebagai contoh, osteoporosis lebih sering terjadi pada perempuan karena memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah setelah menopause, sedangkan gangguan seperti sindrom nyeri muskuloskeletal . ontohnya fibromialgi. lebih sering dilaporkan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, perbedaan dalam pola kerja, kebiasaan hidup, dan respon terhadap pengobatan juga dapat memengaruhi manifestasi dan prevalensi MSDs antara kedua jenis kelamin. Hubungan antara usia dengan dengan Keluham MSDS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa terdapat hubungan antara usia dengan keluhan MSDS pada petani penyadap karet di Desa Keskom. Vol 10. No 2, 2024 Sihopuk Baru Kecamatan Halongonan Kabupaten Lawan Utara. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai P Value senilai 000 atau p value < 0. 05 serta nilai t hitung 491 yang menunjukkan bahwa nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel Usia, sebagai sebuah konsep, merujuk pada durasi waktu yang telah berlalu sejak kelahiran seseorang hingga titik waktu tertentu, dan sering kali digunakan sebagai salah satu parameter utama dalam studi demografi, kesehatan, dan ilmu sosial13. Dalam konteks biologi dan medis, usia dapat dibedakan menjadi usia kronologis, yang merupakan jumlah tahun hidup yang telah dijalani seseorang, serta usia biologis, yang mencerminkan berdasarkan tanda-tanda penuaan atau Usia kronologis umumnya digunakan dalam statistik dan studi populasi karena sementara usia biologis lebih kompleks karena membutuhkan analisis mendalam terhadap faktor-faktor kesehatan dan tandatanda penuaan fisik, seperti kondisi kulit, kekuatan otot, kapasitas fungsi organ, dan parameter biomarker lainnya. Penentuan usia biologis sering kali melibatkan pendekatan multidisiplin yang mencakup biologi molekuler, genetik, dan epigenetik untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang tingkat penuaan seseorang. Musculoskeletal Disorders (MSD. atau Gangguan Musculoskeletal adalah istilah umum yang mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi otot, tulang, sendi, ligamen, tendon, dan saraf. MSDs dapat mencakup kondisi akut dan kronis, berlebihan . veruse injurie. , gangguan Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet yang disebabkan oleh postur tubuh yang buruk, serta penyakit degeneratif seperti osteoarthritis dan osteoporosis. MSDs sering kali ditandai oleh gejala-gejala Penyebab MSDs bisa sangat beragam, mulai dari faktor fisik seperti pekerjaan yang melibatkan gerakan repetitif atau angkat beban berat, hingga faktor nonfisik seperti stres psikososia15. Evaluasi dan MSDs pendekatan holistik yang mencakup diagnosis yang akurat, intervensi terapeutik, serta modifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko dan dampak jangka Studi epidemiologi tentang MSDs menunjukkan prevalensi yang tinggi di berbagai populasi dan kelompok umur, masyarakat yang signifikan. Hubungan prevalensi Musculoskeletal Disorders (MSD. sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor biologi, lingkungan, dan gaya hidup. Seiring bertambahnya usia, prevalensi MSDs cenderung meningkat, yang sebagian besar disebabkan oleh proses degeneratif alami yang terjadi dalam sistem Penuaan menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada jaringan tubuh, seperti penurunan massa otot . , berkurangnya kepadatan tulang . steopenia atau osteoporosi. , dan degenerasi tulang rawan sendi yang Selain itu, elastisitas dan kekuatan jaringan ikat seperti ligamen dan tendon juga menurun, yang meningkatkan risiko cedera dan gangguan kronis16. Faktor lain yang berkontribusi adalah akumulasi kerusakan mikro yang terjadi sepanjang Keskom. Vol 10. No 2, 2024 hidup akibat aktivitas fisik, postur tubuh yang buruk, serta pekerjaan yang menuntut Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ginanjar, dkk18 yang menunjukkan bahwa individu yang lebih tua lebih rentan terhadap nyeri musculoskeletal kronis dan gangguan mobilitas, yang dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup Faktor komorbiditas seperti kardiovaskular, yang juga meningkat prevalensinya dengan bertambahnya usia, dapat memperburuk kondisi MSDs dan memperumit penanganannya. Oleh karena itu, pendekatan preventif dan terapeutik terhadap MSDs pada populasi yang lebih mempertimbangkan perubahan fisiologis terkait usia, serta fokus pada peningkatan keseluruhan untuk meminimalkan dampak negatif dari gangguan ini. Hubungan antara Postur Kerja dengan dengan Keluham MSDS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa terdapat hubungan antara postur kerja dengan keluhan MSDS pada petani penyadap karet di Desa Sihopuk Baru Kecamatan Halongonan Kabupaten Lawan Utara. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai P Value 000 atau p value < 0. 05 serta nilai t hitung sebesar 20. 911 yang menunjukkan bahwa nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel sebesar 1. Postur kerja merupakan aspek penting dalam ergonomi yang mengacu pada posisi tubuh dan anggota tubuh seseorang saat melakukan aktivitas atau tugas tertentu. Postur kerja mencakup Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet berbagai aspek, seperti posisi duduk, berdiri, membungkuk, dan pergerakan tubuh lainnya yang dilakukan secara berulang-ulang atau dalam jangka waktu yang lama. Idealnya, postur kerja yang baik adalah postur yang memungkinkan tubuh bekerja dengan efisien dan tanpa Postur kerja yang buruk, di sisi lain, dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada otot, sendi, dan tulang, yang pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Evaluasi postur kerja sering kali melibatkan analisis terhadap posisi ergonomis, termasuk sudut dan posisi sendi, keseimbangan beban, serta durasi dan frekuensi dari postur tertentu yang diadopsi selama bekerja. Musculoskeletal Disorders (MSD. atau gangguan muskuloskeletal adalah menggambarkan berbagai kondisi medis yang mempengaruhi otot, tulang, sendi, ligamen, tendon, dan saraf. Gangguan ini sering kali disebabkan oleh aktivitas yang melibatkan gerakan berulang, postur yang tidak tepat, tekanan berlebihan, dan Beberapa contoh umum dari MSDs termasuk nyeri punggung bawah, sindrom terowongan karpal, tendinitis, bursitis, dan osteoartritis. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit, peradangan, keterbatasan gerak, dan penurunan fungsi fisik yang signifikan. Selain itu. MSDs sering kali berdampak pada produktivitas individu dan dapat menyebabkan ketidakhadiran dari pekerjaan serta menurunkan kualitas hidup. Oleh karena itu, pemahaman dan pencegahan Keskom. Vol 10. No 2, 2024 MSDs merupakan aspek penting dalam kesehatan dan keselamatan kerja. Hubungan antara postur kerja dan prevalensi Musculoskeletal Disorders (MSD. sangat erat dan kompleks. Postur kerja yang tidak ergonomis dapat menjadi faktor risiko utama untuk pengembangan MSDs. Misalnya, postur duduk yang salah, seperti membungkuk terlalu lama atau posisi tubuh yang tidak seimbang, dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada tulang belakang dan otot punggung, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan nyeri punggung bawah atau herniasi diskus. Demikian pula, pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik berat atau gerakan berulangulang, seperti mengangkat beban berat atau mengetik dalam waktu lama, dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan sendi, meningkatkan risiko terjadinya tendinitis atau sindrom terowongan karpal. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dewi yang menunjukkan bahwa individu yang bekerja dalam posisi yang tidak ergonomis cenderung memiliki tingkat prevalensi MSDs yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bekerja dalam postur yang baik. Faktor-faktor seperti durasi paparan, frekuensi gerakan, dan intensitas beban juga berperan dalam perkembangan gangguan ini. Upaya untuk mengurangi risiko MSDs sering kali prinsip-prinsip ergonomi, seperti pengaturan stasiun kerja yang tepat, penggunaan alat bantu yang sesuai, serta pelatihan tentang teknik kerja yang benar. Dengan demikian, memahami dan mengelola postur kerja secara efektif adalah langkah krusial dalam pencegahan MSDs dan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif21. Roliana Harahap, et al Analysis of the Risk Musculoskeletal Disorders Complaint in Rubberr Tapper Farmers Analisis Risiko Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petani Penyadap Karet SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa jumlah responden yang tidak mengalami keluhan MSDs adalah sebanyak 36 orang . %) mengalami keluhan adalah sebanyak 14 orang . %). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur dan postur kerja pada keluhan MSDs pada penyadap karet di Kabupaten Padang lawas. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai signiifikansi 0. ig<0. sedangkan jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan keluhan MSDs pada penyadap karet di Kabupaten Padang Lawas yang dibuktikan dengan nilai signifikansi 524 . ig>0. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan untuk peneliti berikutnya serta para petani karet. Pertama, untuk peneliti berikutnya, disarankan untuk memperluas cakupan sampel responden guna memperkuat generalisasi hasil, terutama dengan mempertimbangkan variasi dalam umur dan postur kerja yang lebih luas. Selain itu, peneliti diharapkan dapat menggali lebih dalam faktor-faktor lain yang potensial mempengaruhi keluhan MSDs di antara penyadap karet. Bagi petani karet, disarankan untuk mempertimbangkan peran penting dari postur kerja yang tepat serta menjaga kesehatan postur tubuh saat melakukan kegiatan Menyikapi temuan bahwa umur dapat memengaruhi keluhan MSDs, petani pencegahan dini seperti pelatihan postur yang benar serta penyesuaian rutinitas kerja sesuai dengan usia. Hal ini diharapkan dapat mengurangi prevalensi keluhan MSDs dan produktivitas para petani karet di Kabupaten Padang Lawas. Keskom. Vol 10. No 2, 2024 DAFTAR PUSTAKA