TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Telekontran Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. 1,: Jurnal April 2025 Vol. No. April 2025 DOI :13, 34010/telekontran. p-ISSN : 2303 Ae 2901. e-ISSN : 2654 Ae 7384 Studi Komparasi Pengaruh Lebar Pita Axial ratio Menggunakan Variasi Radiator Pada Antena Mikrostrip A Comparative Study on the Influence of Bandwidth Axial Ratio Using Radiator Variations in Microstrip Antennas Dian Rusdiyanto 1,*. Yohanes Galih Adhiyoga 2. Dian Widi Astuti 3. Catur Apriono 4. Arie Pangesti Aji 5 Program Studi Teknik Elektro. Universitas Mercu Buana. Jakarta. Indonesia Pusat Riset Telekomunikasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Bandung. Indonesia Departemen Teknik Elektro. Universitas Indonesia. Jawa Barat. Indonesia Departemen Teknik Elektro. Universitas Dian Nusantara. Jakarta. Indonesia Email*: dian. rusdiyanto@mercubuana. Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi bentuk radiator terhadap lebar pita axial ratio (LPAR) pada antena mikrostrip yang dirancang untuk menghasilkan polarisasi melingkar. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan bentuk radiator yang paling efektif dalam memperluas LPAR tanpa mengorbankan nilai axial ratio pada frekuensi resonansi. Metode yang digunakan meliputi perancangan dan simulasi tiga model antena dengan modifikasi pemotongan sudut . runcated corne. berbentuk segitiga, lingkaran, dan persegi pada elemen peradiasi yang disimulasikan menggunakan perangkat lunak CST Microwave Studio. Susbtrat yang digunakan berbasis FR4 dengan nilai konstanta dielektrik 4,6 dan ketebalan 1,6 mm. Masing-masing model dianalisis dari segi koefisien refleksi dan axial ratio untuk mendapatkan performa optimal pada frekuensi kerja 2450 MHz. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model truncated corner persegi memiliki nilai LPAR terbesar sebesar 150,3 MHz, sedangkan bentuk segitiga dan lingkaran mempunyai nilai LPAR 103,1 MHz dan 118,8 MHz secara berurutan. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk radiator mempengaruhi performa axial ratio dan LPAR. Oleh karena itu, pemodelan model trancuted corner ini dapat dapat dijadikan referensi desain antena mikrostrip dengan polarisasi melingkar pada aplikasi WLAN dan GPS. Kata kunci: radiator. axial ratio. LPAR. truncated corner. Abstract - This study aims to analyze the effect of radiator shape variations on the axial ratio bandwidth (LPAR) of a microstrip antenna designed to produce circular polarization. The main objective of this study is to determine the most effective radiator shape in expanding the LPAR without sacrificing the axial ratio value at the resonant frequency. The method used includes the design and simulation of three antenna models with truncated corner modifications in the form of triangles, circles, and squares on the radiating elements simulated using CST Microwave Studio software. The substrate used is FR4-based with a dielectric constant value of 4. 6 and a thickness of 1. 6 mm. Each model is analyzed in terms of reflection coefficient and axial ratio to obtain optimal performance at a working frequency of 2450 MHz. The simulation results show that the square truncated corner model has the largest LPAR value of 150. 3 MHz, while the triangle and circle shapes have LPAR values of 103. 1 MHz and 118. 8 MHz respectively. This study shows that the radiator shape affects the performance of the axial ratio and LPAR. Therefore, this truncated corner model can be used as a reference for designing microstrip antennas with circular polarization in WLAN and GPS applications. Keywords: radiator. axial ratio. ARBW. truncated corner. Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 PENDAHULUAN Polarisasi merupakan salah satu karakteristik fundamental dari suatu antena yang menentukan arah medan listrik gelombang elektromagnetik. Jenis-jenis polarisasi antena diantaranya polarisasi linear, sirkular . , dan elips. Pemilihan polarisasi suatu antena biasanya disesuaikan dengan aplikasi yang akan digunakan . Sebagai contoh, polarisasi linier biasa digunakan pada komunikasi satelit dan link microwave terestrial, sedangkan polarisasi sirkular banyak digunakan pada aplikasi WLAN dan GPS . Keunggulan polarasisasi sirkular adalah kemampuannya dalam mengurangi sensitivitas terhadap orientasi antena dan efek multipath. Salah satu parameter yang perlu diperhatikan dalam menentukan kualitas polarisasi sirkular adalah axial ratio (AR), dimana nilai ideal AR berada di bawah 3 dB . Selain itu, lebar pita axial ratio (LPAR) juga perlu diperhatikan sebagai rentang frekuensi kerja yang beroperasi pada menjadi penting, karena menunjukkan rentang polarisasi sirkular. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh . mengusulkan model ANN untuk optimasi axial ratio. Walaupun demikian, model tersebut kurang mengeksplorasi aspek geometris radiator. Studi peracangan antena polarisasi sirkular juga dilakukan oleh . yang menunjukkan pendekatan dual-feed untuk mencapai polarisasi sirkular, namun struktur yang diajukan cukup kompleks. Solusinya, dapat menggunakan metode single-feed dengan modifikasi geometri patch seperti truncated corner sehingga strukturnya lebih sederhana dan ringkas, seperti yang dilakukan oleh oleh . yang menghasilkan 1,1% - 1,3% nilai bandwidth axial Metode lainnya dapat dilakukan dengan modifikasi elemen peradiasi pada metode coplanar waveguide (CPW) . Parameter ditentukan dengan melihat nilai axial ratio yang didefinisikan sebagai perbandingan antara sumbu minor dan mayor dari elips polarisasi. Jika rasionya satu banding satu atau jika sumbu minor dan mayornya sama maka energi dipancarkan dalam pola melingkar . , . Standar axial ratio untuk polarisasi melingkar biasanya sama dengan atau di bawah 3 dB . Penelitian ini secara spesifik meneliti lebih lanjut tentang nilai pita lebar . dari axial ratio (LPAR) pada model elemen peradiasi dalam berbagai bentuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas LPAR yang dihasilkan dari masing-masing model. Metode yang digunakan berupa komparasi dari masing-masing model diawali dengan perancangan bentuk dasar patch berupa persegi. Dari pola awal tersebut selanjutnya dilakukan modifikasi pemotongan sudut . runcated corne. Pemotongan sudut yang diajukan berbentuk segitiga, persegi dan lingkaran. Penelitian sebelumnya banyak menggunakan bentuk pemotongan segitiga . Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menganalisis model lain untuk mengetahui efektifitas LPAR yang dihasilkan. Selanjutnya, ketiga model ini dibandingkan dengan melihat parameter-parameter antena seperti koefisien refleksi dan axial ratio. II. METODOLOGI Diagram Alir Pada penelitian ini proses perancangan antena dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya menentukan frekuensi kerja, jenis material, perhitungan dimensi antena, simulasi antena dan analisis parameter antena seperti yang terlihat pada Gambar 1. Frekuensi kerja antena menggunakan frekuensi kerja aplikasi WLAN dengan frekuensi tengah 2450 MHz. Material substrat yang digunakan berjenis FR-4 dengan ketebalan 1,6 mm, konstanta dielektrik . uAyc ) 4,6 dan loss tangent 0,0265. Elemen peradiasi . berupa tembaga . dengan ketebalan 0,035 mm. Perancangan menggunakan perangkat lunak berupa CST Microwave Studio dengan bentuk patch persegi Langkah awal menentukan panjang dan lebar radiator/patch. Kemudian diikuti dengan menentukan lebar saluran pencatu dengan target 50 Ohm. Desain antena dimulai dengan model dasar patch persegi dengan penambahan stub pada bidang saluran pencatu. Stub berguna untuk menganggu nilai axial ratio pada setiap model antena . , . Di sisi lain penggunaan cavity back slot juga dapat mencapai target matching impedansi . Namun karena model antena menggunakan transmission line maka lebih sesuai menggunakan stub. Setelah model konvensional dibuat, selanjutnya dilakukan modifikasi pada radiator . terutama pada sudut diagonal. Modifikasi antena berbentuk pemotongan . dengan tiga bentuk yang berbeda-beda seperti segitiga, persegi dan lingkaran. Ketiga model antena dirancang untuk mendapatkan target koefisien refleksi di bawah -10 dB dan nilai axial ratio di bawah 3 dB. Hasil simulasi terbebut kemudian dibandingkan untuk diketahui nilai lebar pita axial rationya. Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 Gambar 1. Diagram Alir Spesifikasi Material yca Perancangan konvensional pada patch dengan model persegi panjang yang terdiri dari panjang . aycy ) dan lebar ( ycOycy ). Nilai panjang dan lebar dihitung menggunakan Persamaan . dengan memasukan karakteristik dari antena dan variabel material Spesifikasi material antena secara detail dapat dilihat pada Tabel I. Tabel I. Spesifikasi Material Antena Susbtrat FR4-Epoxy Konstanta dielektrik . uAyc ) Ketebalan . Dielektrik loss tangen . cycaycu y. Tembaga 1,6 mm 0,0265 Ketebalan Permitifitas Permeabilitas 0,035 mm 0,99991 Perhitungan Dimensi Menggunakan spesifikasi material antena, maka nilai ycOycy ditentukan berdasarkan persamaan . ycOycy = 2yce OoyuA 1 yc Dari persamaan . diketahui yca merupakan kecepatan cahaya, yceyc frekuensi resonan 2450 MHz dan yuAyc konstanta dielektrik substrat 4,6. Dari hasil perhitungan diketahui nilai ycOycy sebesar 36,58 mm. Langkah selanjutnya menentukan nilai yaycy yang dihitung dari persamaan . yuA 1 yuA Oe1 Oe1AE yuAycyceyceyce = yc2 yc2 . cO)] ycO uAycyceyceyce 0,. ( Ea 0,. = 0,412 ycO Ea . uAycyceyceyce Oe0. ( Ea 0. yca Oe 2yuuya 2yceyc OoyuAycyceyceyce . yaycy = Untuk mencari nilai yaycy maka perlu diketahui terlebih dahulu nilai konstanta dielektrik efektif yuAycyceyceyce dengan persamaan . , menentukan length extension yuuya pada persamaan . Setelah mendapatkan nilai yuAycyceyceyce dan yuuya, maka Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 diketahui besai yaycy sebesar 28,02 mm. Proses selanjutnya menentukan lebar saluran pencatu ycOyce yang ditentukan dari persamaan . yaA=ycs 0 OoyuAyc ycOyce = 2Ea yuA Oe1 aA Oe 1 Oe ln. yaA Oe . 2yuAyc aA Oe . 39 Oe yuA ]} dengan mengubah parameter stubycOycyc , yaycyc dan ycOycyc . Hasil optimal ditunjukan pada Tabel II dimana frekuensi tengah 2450 MHz mempunyai nilai koefisien refleksi -52,4 dB dan lebar bandwidth (< -10 dB) sebesar 856 MHz pada rentang frekuensi 1918 MHz Ae 2764 MHz. Hasil ini cukup optimal untuk menjadi acuan perancangan untuk masuk ke proses selanjutnya. yc Perancangan dan Simulasi Berdasarkan persamaan . diketahui nilai ycOyce sebesar 3 mm. Setelah mendapatkan nilai ycOycy , yaycy , ycOyce dan maka selanjutnya merancang antena pada simulasi dengan desain awal patch persegi. Untuk memperlebar bandwidth antena, maka dilakukan pemotongan pada sisi ground seperti yang ditampilkan pada Gambar 2 . Penggunaan stub bertujuan untuk mendapat matching impedansi dan sangat membantu pada saat optimasi axial ratio. Ukuran geometri antena setelah proses optimasi dapat dilihat pada Tabel II. Tabel II. Parameter Antena Parameter ycOyc yayc ycOycy yaycy ycOyce yayce ycOycyc yaycyc ycOycyc yayciyc Nilai . Gambar 2. Gambar Model dasar (Antena . Tabel II menunjukan nilai variabel setelah dilakukan proses optimasi pada stub. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 3 yang merupakan koefisien refleksi (S. hasil simulasi. Gambar 3 memperlihatkan proses iterasi yang dilakukan Gambar 3. Hasil optimasi stub Antena 1 i. HASIL DAN PEMBAHASAN Substansi dari peneltian ini untuk melihat perbedaan lebar pita axial ratio (LPAR) dari model radiator/elemen peradiasi dengan membedakan dari masing-masing elemen. Metode yang digunakan untuk mendapatkan nilai axial ratio optimal berupa truncated corner atau pemotongan sudut diagonal dari patch persegi. Bentuk truncated corner yang diajukan pada penelitian ini diantaranya bentuk segitiga, lingkaran dan persegi. Truncated Corner Segitiga Pada bagian ini menjelaskan truncated elemen bentuk segitiga. Secara umum, model dasar dan dimensi sama seperti Antena 1. Perbedaannya terletak pada ukuran stub dan panjang slot di ground yayciyc . Gambar 4 menunjukan model truncated corner bentuk segitiga siku-siku. Dimensi geometri antena diantaranya yca = 10,5 ycoyco, ycOycyc = 5,8 ycoyco , yaycyc = 2,5 ycoyco , ycOycyc = 21,2 ycoyco dan yayciyc = 37,7 ycoyco. Menggunakan dimensi tersebut, koefisien refleksi dan axial ratio sesuai dengan hasil yang diinginkan dimana nilai koefisien refleksi pada frekuensi 2450 MHz adalah -53,8 dB dan mempunyai bandwidth sebesar 686,6 MHz pada rentang frekuensi 2321 MHz Ae 3007,6 MHz. Gambar 5 merupakan hasil optimasi dari sisi segitiga dimana nilai a terbaik mempunyai nilai 10,5 mm. Jika nilai a ditambah atau dikurangi Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 maka koefisien refleksi terutama pada frekuensi tengah semakin membesar. MH. dan 147,2 MHz . 9,9 MHz Ae 2567,1 MH. secara berurutan. Nilai LPAR perubahan a . mm dan 11 m. tersebut lebih besar dibanding a = 10,5 mm namun nilai axial ratio pada frekuensi tengah juga semakin membesar. Truncated Corner Lingkaran Bentuk truncated corner lingkaran mengambil titik tengah jari-jari r pada sudut radiator persegi seperti yang ditunjukan pada Gambar 7. Berbeda dengan model segitiga, dimensi stub ycOycyc , yaycyc dan ycOycyc untuk matching impedansi truncated corner lingkaran bernilai 6,1 mm, 2,5 mm, dan 10,5 mm secara berurutan. Untuk panjang yayciyc nya sama seperti truncated corner segitiga yaitu 37,7 mm. Gambar 4. Antena 2: Model Truncated corner Segitiga Gambar 5. Koefisien Refleksi Antena 2 Gambar 7. Antena 3: Model Truncated corner lingkaran Gambar 6. Axial Ratio Antena 2 Nilai axial ratio truncated corner bentuk segitiga dapat dilihat pada Gambar 6. Besar LPAR yang dihasilkan dari model ini sebesar 103,1 MHz pada rentang frekuensi 2405,5 MHz - 2508,6 MHz. Pada frekuensi 2450 MHz nilai axial rationya 0,19 Similar dengan optimasi koefisien refleksinya, perubahan nilai a mempengaruhi nilai axial ratio pada frekuensi tengah dan LPAR nya. Pada saat nilai a sebesar 10 mm dan 11 mm mempunyai besar LPAR 110,2 MHz . 9,4 MHz - 2489,6 Gambar 8 menunjukan nilai koefisien refleksi hasil iterasi nilai r, dimana nilai r yang optimal berada pada panjang 10,5 mm. Iterasi r pada simulasi ini hanya mengikuti iterasi axial ratio untuk mengetahui perbedaan LPAR nya. Walaupun demikian, optimasi nilai S11 tetap menggunakan parameter stub. Pada frekuensi 2450 MHz, nilai mempunyai nilai koefisien refleksi sebesar -52,7 dB dengan bandwidth 598,8 MHz pada rentang frekuensi 2313,8 MHz sampai 2912,6 MHz. Nilai koefisien refleksi ini bergeser ketika variabel r bertambah atau berkurang. Nilai axial ratio truncated corner lingkaran dapat dilihat pada Gambar 9, dimana axial ratio frekuensi 2450 MHz dengan r = 10,5 mm bernilai 0,27 dB dan nilai LPAR nya sebesar 118,8 MHz pada rentang frekuensi 2401,6 MHz sampai 2520,4 MHz. Sedangkan nilai LPAR pada saat r sebesar 10 mm dan 11 mm adalah 155,3 MHz . 0,9 MHz Ae 2486,2 MH. dan 165,9 MHz . 0,6 MHz Ae 2586,5 MH. Nilai LPAR kedua iterasi tersebut lebih besar, namun nilai axial ratio pada frekuensi resonannya meningkat. Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 nilai LPAR sebesar 169,5 MHz . 7,1 MHz 2496,6 MH. dan 193,4 MHz . 0,1 MHz 2593,5 MH. secara berturut-turut. Gambar 8. Koefisien Refleksi Antena 3 Gambar 10. Antena 4: Model Truncated corner persegi Gambar 9. Axial Ratio Antena 3 Truncated Corner Persegi Perancangan selanjutnya menggunakan model truncated persegi dimana sisi-sisi pemotongan persegi dituliskan dengan simbol s seperti yang terlihat pada Gambar 10. Dengan dimensi yang sama seperti kedua model sebelumnya, yang membedakan hanya ukuran stub dimana nilai ycOycyc , yaycyc dan ycOycyc sebesar 7,4 mm, 2,7 mm dan 25,33 mm secara berurutan. Sisi pemotongan bernilai 8,9 mm dengan panjang yayciyc nya sebesar 36,1 mm. Hasil iterasi koefisien refleksi truncated corner persegi dapat dilihat pada Gambar 11 dimana koefisien refleksi optimal frekuensi 2450 MHz berada pada variabel s = 8,9 mm dengan nilai -51,34 dB. Model ini mempunyai bandwidth sebesar 464 MHz pada rentang frekuensi 2327,2 MHz sampai 2837,2 MHz. Nilai koefisien refleksinya bergeser dengan bertambah dan berkurangnya nilai s. Gambar 12 menunjukan axial ratio truncated corner persegi dari tiga proses iterasi nilai s, dimana nilai s = 8,9 mm mempunyai nilai axial ratio optimal pada frekuensi 2450 MHz sebesar 0,31 dB dan nilai LPAR nya 150,3 MHz pada rentang frekuensi 2380,4 MHz sampai 2530,7 MHz. Iterasi pada saat s=8,4 dan 9,4 mempunyai Gambar 11. Koefisien Refleksi Antena 4 Gambar 12. Axial Ratio Antena 4 Analisis Hasil Setelah melakukan perancangan dengan ketiga model antena dan melihat hasil simulasi berdasarkan parameter koefisien refleksi dan nilai LPAR maka dapat dianalisis dan dibandingkan berdasarkan prosesnya. Analisis pertama dimulai Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 dengan menganalisis performa stub sebagai matching impedansi yang berkeja sesuai dengan target dimana perubahan dimensi stub tidak mempengaruhi nilai axial ratio. dimana rentang frekuensi LPAR masih dalam cakupan bandwidth. Jika dipresentasikan besar bandwidth LPAR dibanding koefisien refleksi Antena 2. Antena 3, dan Antena 4 adalah 15,02%, 25,6 %, dan 21,89% secara berurutan. Parameter Gambar 13. Perbandingan Axial ratio Antena Jika melihat Gambar 13. Bentuk truncated corner persegi mempunyai nilai LPAR yang lebih besar dibanding kedua bentuk lainnya dengan perbedaan lebih dari 30 MHz. Walaupun demikian, jika melihat nilai axial ratio pada frekuensi 2450 MHz, bentuk segitiga mempunyai nilai yang lebih dalam sebesar 0,19 dB. Proses iterasi pada truncated elemen berpengaruh pada nilai axial ratio dan LPAR. Dalam penelitian ini, untuk melihat grafik frekuensi terhadap axial ratio, terlebih dahulu dicari nilai axial ratio pada frekuensi 2450 MHz dengan sudut tetap phi 90A dan sudut theta di 0A. Jika pada frekuensi tersebut mempunyai nilai axial ratio di bawah 0,5 dB, maka proses selanjutnya dibuat grafik frekuensi terhadap axial ratio. Jika melihat iterasi axial ratio dari ketiga model terlihat nilai LPAR masing-masing bentuk baik di atas maupun di bawah angka optimasi mempunyai nilai LPAR yang lebih besar. Kemudian penelitian ini mencoba masuk pada nilai-nilai tersebut untuk mencapai LPAR yang lebih besar, namun hasilnya tetap lebih besar nilai iterasi di atas atau di bawah bentuk tersebut. Hal ini disebabkan karena fokus pencarian nilai axial ratio hanya pada frekuensi 2450 MHz dimana nilainya harus optimal. Jika mengabaikan nilai axial ratio pada frekuensi tersebut, maka nilai LPAR berpotensi untuk menjadi besar. Pemilihan hasil parameter ini bergantung pada target dan aplikasi yang akan digunakan. Tabel i memperlihatkan rangkuman hasil simulasi dari keempat desain. Untuk nilai koefisien refleksi masih dapat dimaksimalkan dengan mengatur dimensi stub. Selain itu nilai yayciyc juga berpengaruh terhadap koefisien refleksi dan axial Besar LPAR masing-masing desain lebih kecil dibanding bandwidth koefisien refleksi Koefisien Refleksi @2450 MHz . B) Bandwidth (MH. Frekuensi Atas (MH. Frekuensi Bawah (MH. Axial ratio at 2450 MHz . B) LPAR (MH. Tabel i. Parameter Antena Antena Antena Antena Antena -52,4 -53,8 -52,7 -51,34 Linear 0,19 0,27 0,31 Analisis pada distribusi medan listrik dan arus permukaan yang terpengaruh dari bentuk truncated Bentuk persegi memiliki LPAR yang lebih besar karena menghasilkan jalur resonansi yang lebih panjang dibanding bentuk lainnya. Walaupun demikian, nilai axial ratio terkecil dimiliki oleh bentuk segitiga yang memiliki distribusi medan listrik yang lebih merata. Tabel IV menunjukan komparasi hasil penelitian yang telah dilakukan dari beberapa referensi sebelumnya yang menggunakan metode truncated corner pada antena mikrostrip. Semua referensi yang ditampilkan menggunakan pemotongan berbentuk segitiga. Beberapa penelitian menampilkan besar LPAR, namun sebagian tidak. Pada Tabel IV terlihat nilai LPAR maksimal yang dicapai oleh . hanya 65 MHz di frekuensi tengah 9200 MHz. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dengan melakukan pengujian pada frekuensi 2450 MHz dan membandingkan tiga bentuk pemotongan sudut: segitiga, lingkaran, dan persegi. Hasilnya menunjukkan bahwa model persegi menghasilkan LPAR terbesar yaitu 150,3 MHz dengan axial ratio sebesar 0,31 dB. Model lingkaran menghasilkan LPAR sebesar 118,8 MHz dan axial ratio 0,27 dB, sedangkan segitiga memberikan axial ratio terbaik yaitu 0,19 dB dengan LPAR 103,1 MHz. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak hanya mampu mempertahankan axial ratio yang rendah . i bawah 3 dB) sesuai standar meningkatkan lebar pita axial ratio secara signifikan dibandingkan dengan penelitian Telekontran : Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. April 2025 Hal ini menunjukkan efektivitas pendekatan desain antena dengan variasi truncated corner, terutama model persegi, dalam menghasilkan performa yang lebih luas dan stabil untuk aplikasi komunikasi nirkabel. Ref Penelitian Tabel IV. Perbandingan hasil penelitian Model Frekuensi Axial Truncating (MH. Ratio . B) Segitiga Segitiga Segitiga Segitiga Segitiga 0,19 Lingkaran 0,27 Persegi 0,31 LPAR (Mh. Beberapa hal yang perlu dikembangkan dari hasil simulasi diantaranya konfigurasi bentuk truncated corner perlu dioptimalkan dalam berbagai sudut dan besarnya dimensi. Penggunaan slot pada ground bermanfaat untuk meningkatkan bandwidth dan juga berpengaruh terhadap nilai axial ratio. Sehingga parameter tersebut perlu dikombinasikan dengan bentuk truncated element agar dapat optimal. Dengan desain yang masih sederhana, maka dapat dikembangkan dengan berbagai model lain seperti radiator dasar lingkaran, segitiga, atau penambahan slot juga perlunya melihat surface current untuk mengetahui bidang optimal polarisasi melingkar. IV. DAFTAR PUSTAKA