Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak, dan Budaya Subak Sebagai Modal Dasar dalam Pariwisata I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra Abstract Taking a mutualistic perspective, this article discusses the role of tourism as a vehicle for the preservation of the subak, and, conversely, the cultural aspects of the subak as a capital base for tourism. Tourism is a cornerstone in the development of Bali, and, due to several positive characteristics, such as its resilience in the face of crises, the benefits from tourism reach all levels of society. For Bali, the data indicate that 34% of the labor force is employed in this sector, and approximately 52% of Balinese peopleAos income has connection to tourism. Its role in generating the GDP and PAD (Pendapatan Asli Daerah, or local revenu. is also very large, which allows the regional and city governments to implement various development The basic capital of BaliAos tourism development is culture, especially culture based on agriculture. Because Aorice cultureAo is so central to many aspects of Balinese culture, then indeed the basic capital of Balinese tourism is rice culture or subak culture. This article argues that truly tourism has great potential as a vehicle for the preservation of the subak, because tourism could become the market that supports agricultural products. There is also the potential for developing various types of agriculture-based tourism, __________ I Gde Pitana adalah guru besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, kini menjabat sebagai Kepala Badan Sumber Daya Pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dia menulis beberapa buku referensi, antara lain Sosiologi Pariwisata . email: igdepitana@gmail. I Gede Setiawan Adi Putra adalah dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, kini menjabat sebagai Sekretaris Pusat Pengembangan Karir Unud. Dia menulis beberapa buku referensi, antara lain Revitalisasi Subak Menghadapi Era Globalisasi . dan Organisasi dan Kepemimpinan . email:setiawanadiputra@rocketmail. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra such as ecotourism and agro-tourism. Thus, the approach to considering the relationship between agriculture . and tourism should be mutualistic, not dichotomous. Keywords: Subak, tourism, agricultural, mutalistic vs dichotomy approaches, incentive fiscal Pendahuluan eskipun kecil, hanya merupakan sebuah titik di tengahtengah kepulauan Indonesia. Bali mempunyai nama besar karena berbagai keunikan atau ciri khasnya, yang mengundang banyak sarjana dari berbagai pelosok dunia mengadakan penelitian dalam berbagai bidang di Bali. Salah satu objek yang telah lama menjadi kajian adalah subak, sistem irigasi yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Berbicara tentang Bali, memang tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang subak, karena subak memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap citra Bali dengan identitasnya yang unik. Subak merupakan salah satu pilar penyangga kebudayaan Bali, bahkan tidak berlebihan kalau di katakan bahwa subak mendominasi kebudayaan Bali (Pitana dan Setiawan 2. Banyak kajian tentang subak telah di lakukan, dengan analisis dalam berbagai model dan metode, namun kebanyakan berfokus pada aspek dinamika internal, dengan dominasi pembahasan pada aspek sosial-religius yang memang menjadi salah satu ciri khas subak. Masalah budaya subak sebagai modal dasar dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan pariwisata, yang merupakan main issue dalam tulisan ini, belum banyak dibahas. Di awali dari kegelisahan akan kelestarian/keberlanjutan subak dan pertanian Bali dalam konteks perubahan situasi global yang sangat struktural, kegelisahan atas wacana yang berkembang yang acapkali tanpa data empiris, tulisan in akan mencoba menelaah hubungan anatara subak dan pariwisata secara timbal balik, dengan paradigma atau pendekatan non- JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. dikotomis, melainkan pendekatan holistic-i ntegralisti k. Eksistensi Subak Dalam Potret Kekinian Subak sebagai lembaga irigasi tradisional di Bali sudah ada lebih dari satu millennium, sebagai mana di buktikan dari berbagai telaah arkeologis dan filologis (Pitana 1994. Pitana dan Setiawan 2. Fungsi utama subak adalah pengelolaan air untuk memproduksi pangan, khususnya beras, yang merupakan makanan pokok utama bagi orang Bali, seperti juga halnya bagi kebanyakan penduduk Asia. Karena subak tidak lepas dari kegiatan pengelolaan irigasi untuk bercocok tanam padi, maka tidak keliru jika di katakan bahwa subak identik dengan budidaya padi yang tentunya berimpit dengan budaya padi . ice cultur. Keunikan subak antara lain adalah tingginya intensitas dan frekuensi pelaksanaan kegiatan ritual keagamaan yang terkait erat dengan tahap-tahap pertumbuhan tanaman padi. Kegiatan ritual inilah antara lain yang merupakan ciri khas subak dan membedakannya dengan sistem irigasi tradisional lainnya di dunia. Subak tetap eksis sampai sekarang ini kiranya sudah cukup membuktikan bahwa subak adalah lembaga yang viable atau tangguh. Namun demikian, dewasa ini kelestarian subak mulai terancam, yang disebabkan oleh lingkungan strategis subak yang sudah banyak berubah berkaitan dengan gencarnya program-program pembangunan di berbagai bidang . i luar sektor pertania. , termasuk pesatnya perkembangan pariwisata di Bali. Perubahan lingkungan strategis, internal maupun external, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi, tentunya merupakan tantangan-tantangan baru, bahkan ancaman bagi kelangsungan hidup subak. Karena ragam dan skala permasalahan serta tantangannya berbeda dengan yang dihadapi subak di waktu-waktu lampau, maka sangat diperlukan adanya kebijakan pemerintah yang kondusif dan perhatian masyarakat Bali untuk menjaga kelestarian subak. Subak harus dijaga kelestariannya dan lebih JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra di berdayakan. Sebab, apabila subak yang di yakini sebagai salah satu penyangga kebudayaan Bali sampai punah, maka kelestarian kebudayaan Bali akan terancam (Pitana, deserted wealth, 2. Kebudayaan Bali adalah kebudayaan yang kental bernafaskan Hindu yang sudah menyatu dengan budaya Kebudayaan itu tumbuh dan berakar pada berbagai lembaga tradisional yang bersifat sosial religious seperti subak, desa adat dengan banjarnya, kelompok pemaksan, seka, dan warga . elompok keturunan, maxima cla. Lembagalembaga tradisional ini, di sampi ng lembaga-lembaga lainnya, merupakan pilar-pilar penyangga kelestarian kebudayaan Bali. Ini berarti mundurnya kebudayaan Bali sangat tergantung pada lembaga tradisional, sedangkan pariwisata tergantung pada kebudayaan, maka secara hipotetik dapat di katakan bahwa eksistensi pariwisata Bali tergantung pada eksistensi lembaga-lembaga tersebut. Globalisasi yang semakin pesat lewat sistem perdagangan bebas yang dikembangkan oleh WTO sedikit banyak berpengaruh terhadap keberadaan subak yang selama ini berorientasi centrifugal. Mau tidak mau subak harus berhadapan dengan situasi global dengan kekuatan centripetal yang dahsyat. Sutawan . menyampaikan AokegelisahannyaAo di dalam melihat eksistensi subak ke depan. Dengan menekankan fungsi jamak . ultifunctional role. dari subak, menjaga kelestarian subak merupakan suatu keharusan di dalam pembangunan Bali. Kelestarian/keberlanjutan subak harus dilihat secara holistic, yang mencakup kelestarian kelembagaan subak . nstitutional sustainabilit. , jaringan irigasi . echnical sustainabilit. , produksi pangan . conomic sustainabilit. , ekosistem lahan sawah . cological sustainabilit. , tradisi dan ritual keagamaan terkait dengan budaya padi . ocio-cultural sustainabilit. , dan lingkungan alami lokal yang merupakan faktor eksternal subak tetapi berdampak langsung JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. dan nyata kepada kelestarian kelima komponen dari sistem subak tersebut . nvironmental sustainabilit. Windia . juga menyampaikan kegelisahan yang sama, yang melihat bahwa subak merupakan pilar utama penyangga filosofi Tri Hita Karana, yang menjadi fondasi kebudayaan Bali, menjadi pegangan dalam sistem kemasyarakatan Bali, dan menjamin keberl anjutan Bali seara l ebi h l uas. Globalisasi adalah proses saling ketergantungan ekonomi di antara negara-negara di dunia dengan ciri utamanya adalah meningkatnya keterbukaan antarnegara di bidang perdagangan, arus investasi, arus keuangan, jasa, teknologi, informasi, manusia, dan ide-ide (Singh, 1. Dengan pengertian globalisasi seperti ini, maka pariwisata, revolusi hijau, dan perkembangan bioteknologi juga merupakan aspek penting dari proses globalisasi yang sudah atau akan membawa dampak pada sektor pertanian pada umumnya dan subak pada khususnya. Dampak dari globalisasi akan menjadi tantangan, peluang, atau bahkan ancaman bagi eksistensi Beri kut adalah identifi kasi masalah-masalah dalam pelestarian subak. Semakin menurunnya minat pemuda menjadi petani . Patut diakui bahwa industri pariwisata telah membawa dampak positif bagi perekonomian daerah Bali, seperti misalnya meningkatnya lapangan kerja dan pendapatan masyarakat, meningkatnya penerimaan devisa, memicu laju pertumbuhan ekonomi daerah Bali, mendorong upaya pelestarian kebudayaan Bali, berkembangnya fasilitas transportasi dan komunikasi serta fasilitas publik lainnya. Pariwisata memang telah mampu meningkatkan peluang bagi penduduk pedesaan untuk mencari penghidupan di sektor pariwisata sehingga tekanan penduduk di sektor pertanian bisa di kurangi. Namun, apakah ini merupakan dampak positif dalam arti kata yang sesungguhnya, masih bisa diperdebatkan. Sebab, pariwisata telah memicu JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra urbanisasi dan migrasi. Penduduk desa khususnya kalangan muda, cenderung ingin mencari pekerjaan yang lebih bergengsi di sektor pariwisata dari pada tetap bertani, karena menjanjikan pendapatan yang jauh lebih besar. Pelaku urbani sasi dan migrasi ke kota Denpasar bahkan bukan penduduk desa dari Bali saja, tetapi juga dari luar Bali. Hal ini dapat menimbulkan berbagai permasal ahan seperti kri minalitas, kemacetan lalulintas, pemukiman kumuh, prostitusi dan banyak persoalan lainnya yang semua itu merupakan biaya sosial yang harus dipikul oleh masyarakat dan pemerintah daerah Bali. Tenaga kerja untuk memanen hasil padi kini semakin sulit di peroleh dari penduduk Bali, sehingga terpaksa harus di datangkan dari luar Bali, khususnya dari Jawa. Kalau generasi muda Bali tidak mau lagi bertani karena kesenjangan yang lebar antara sektor pertanian dan pariwisata, apakah para penggarap sawah atau petani nantinya juga bukan penduduk asli Bali? Kalau demikian bagaimana nasib subak di masa datang terutama terkait dengan aspek ritualnya? (Sutawan, 2. Menciutnya lahan sawah akibat alih f ungsi Kelestarian atau ketangguhan subak nampak mulai terancam akibat pesatnya perkembangan pariwisata Bali yang telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. Selain kurang berminatnya para pemuda pedesaan Bali untuk bekerja sebagai petani, sumber masalah lainnya adalah pesatnya alih fungsi sawah beririgasi kearah penggunaan lain di luar Seandainya sawah-sawah sampai habis maka lenyap pula berbagai manfaat . ulti-functional benefit. yang bisa diraih dari fungsi lahan sawah selama ini. Semakin terbatasnya persediaan air-relatif terhadap Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat dan perkembangan jumlah hotel dan restoran JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. akibat dari pesatnya laju pembangunan sektor pariwisata, menuntut terpenuhinya kebutuhan akan air yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Padahal, indeks penggunaan air (IPA) yaitu rasio persediaan air terhadap penggunaannya di Bali tahun 2000 sudah diperkirakan mencapai 1,13 yang berarti sudah tergolong Ausangat kritisAy (Sughandhy, 1. Karena air semakin langka maka ini berimplikasi pada semakin tajamnya persaingan yang bisa menjurus kearah konflik kepentingan dalam pemanfaatan air antara berbagai pengguna, teruama antara sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Kasus petani-petani di Penebel Tabanan yang memprotes keras pengambilan air di Y eh G embrong oleh Pemda Tabanan untuk kebutuhan air minum sekitar tahun 1990-an adalah contoh soal dari aki bat persai ngan pemanfaatan ai r. Pencemaran air sungai dan air pada saluran irigasi Di bebeberapa tempat telah muncul keluhan-keluhan dari masyarakat petani tentang adanya pencemaran air sungai dan air saluran irigasi akibat limbah dari industri garmen, sablon, hotel dan restoran. Penelitian perlu dilakukan agar lebih jelas seberapa jauh tingkat pencemaran yang terjadi dan dari mana saja sumbernya, agar dapat diambil langkah yang tepat siapa yang patut menanggung biaya pencemaran tersebut, sebab rumah tangga juga sangat berpotensi dalam menghasilkan limbah. Selain itu banjir dan tanah longsor sering terjadi karena kerusakan daerah hulu sungai . atchment are. akibat semakin menipisnya areal hutan serta pembangunan rumah dan villa di lerenglereng bukit. Pariwisata Bali sebagai Sektor Prioritas Pembangunan Sejak pembangunan Indonesia . an Bal. dirancang dalam perencanaan lima tahunan (Repelit. Bali sudah menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas, di samping JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra pertanian dan industri kecil . Pemilihan pariwisata sebagai sektor prioritas bukanlah sebuah Aueuporia pariwisataAy, melainkan sudah berdasarkan berbagai pertimbangan akademis, yang didukung bukti empiris dan analisis Dalam perjalanan sejarah, memang terbukti bahwa pariwisata mengalami kemajuan yang pesat, dilihat dari berbagai indikator. Sejak dasawarsa 1980-an, pariwisata telah menjadi leading sector atau generator penggerak yang telah terbukti mampu mendongkrak perekonomian Bali, menjadi salah satu i ndustri terbesar, dan merupakan andalan utama dal am peneri maan pemeri ntah (PAD). Perkembangan Pariwisata Bali, antara lain dapat dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara . irect arrival. , sebagaimana tersaji dalam Tabel 1. Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat jumlah wisatawan mancanegara secara langsung pada 2012 ke Pulau Dewata mencapai 2. orang, melampaui target yang ditetapkan . ,8 juta wisatawa. Provinsi Bali pada 2013 menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara dapat mencapai 3,1 juta wisatawan. Tabel 1. Jumlah kunjungan langsung wisatawan internasi onal ke Bali Tahun Jumlah Wisatawan . Sumber: Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2013 JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. Kunjungan wisatawan nusantara . ke Bali juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah wi satawan nusanatara yang datang ke Bali Tahun Jumlah Wisatawan (Oran. 2,038,186 2,408,509 2,474,787 2,484,644 2,898,794 3,521,135 4,646,343 5,675,121 6,063,558 Sumber: Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2013 Di samping trend kuantitatif, terjadi juga trend kualitatif atau pergeseran-pergeseran karakteristik wisatawan datang ke Bali. Penelitian yang dilakukan oleh Wiranatha dkk . 6, 2. menunjukkan adanya pergeseran-pergeseran ini. Bali bukan lagi dikunjungi oleh wisatawan semata-mata untuk leisure dengan atraksi utama Ausun-sea-sandAy, melainkan sudah sangat variatif, baik menikmati produk-produk berbasis budaya, berbasis alam, maupun yang berbasis buatan . , termasuk health and spa, yoga, meditation. MICE, shopping, dsb. Hal ini sesuai dengan berbagai teori perjalanan wisata yang antara lain dikembangkan oleh Dann . , yang memandang bahwa faktor pendorong utama seseorang untuk melakukan perjalanan wisata . hususnya dari negara Barat ke Dunia Ketig. adalah untuk melepaskan diri dari tekanan psikis dalam kehidupan sehari -hari di negara industry. Berbagai faktor penarik yang dimiliki DTW akan menyebabkan orang tersebut mimilih DTW tertentu untuk memenuhi need dan want-nya. Ryan . , menemukan berbagai faktor pendorong JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra atau motivasi bagi seseorang untuk melakukan wisata, seperti: Escape. Relaxation. Play. Strengthening familu bonds. Prestige. Social interaction. Romance. Educational Self-fufilment, ataupun 10. Wish-fufilment. Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi merupakan trigger dari proses perjalanan wisata, walaupun motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri (Sharpley, 2994. Wahab, 1. Analisis mengenai motivasi semakin penting kalau dikaitkan dengan pariwisata sebagai fenomena masyarakat modern, di mana perilaku masyarakat dipengaruhi oleh berbagai motivasi yang terjalin secara sangat kompleks, bukan hanya survival sebagaimana motivasi perjalanan pada masyarakat sederhana. Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal. Dari berbagai motivasi yang mendorong perjalanan. McIntosh . dan Murphy . Sharpley, 1. mengatakan bahwa motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kel ompok besar sebagai Phisical of physiological motivation . otivasi yang bersifat fisik, atau fisiologi. , antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai, dan sebagai nya. Cultural motivation . otivasi buday. , yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya . onument bersejara. Social motivation atau interpersonal motivation . otivasi yang bersifat sosia. , seperti mengunjungi teman dan keluarga (VFR. Visiting Friends and relative. , menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi . ilai prestis. , melakukan ziarah. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. pelarian dari situasi-situasi yang membosankan, dan Fantasi motivation . otivasi karena fantas. , yaitu adanya fantasi bahwa di daerah lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan, dan egoenhancement yang memberikan kepuasan psi kologis. Disebut juga sebagai status and prestige motivation. Faktor penting bagi calon wisatawan di dalam mengambil keputusan mengenai daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi Calon wisatawan akan mempersepsi daerah tujuan wisata yang memungkinkan, di mana persepsi ini dihasilkan oleh preferensi individual, pengalaman sebelumnya, dan informasi yang didapatkannya. M otivasi perjalanan wisata mengalami evolusi, sejalan dengan perkembangan pariwisata itu sendiri. Krippendorf . melaporkan bahwa motivasi seseorang wisatawan melakukan perjalanan sangat bervariasi, dan motivasi tersebut tidak selalu bersifat tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai motivasi . Strategi Pelestarian Subak Dan Peran Pariwisata Menurut Suharto . , ada tiga bentuk strategi utama dalam penguatan subak: Pertama, strategi pengembangan subak melalui pendekatan individual petani. Kedua, strategi penguatan subak yang lebih menekankan pada pentingnya masyarakat Bali. dan Ketiga, strategi penguatan subak yang lebih menekankan pada peranan pemerintah (Suharto, 2. Strategi pengembangan subak melalui pendekatan individual Pendekatan individu menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat tani anggota subak akan meningkat jika individu petani anggota subak berusaha untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri di mana peran pemerintah masih diharapkan untuk membantu individu JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra petani anggota subak untuk berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan ekonomi pasar. Pendukung pendekatan ini tetap memandang perlunya intervensi yang berskala besar seperti kebijakan serta program-program yang bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan budaya usaha yang kondusif bagi individu, maupun intervensi berskala kecil yang bertujuan untuk membantu keluargakeluarga ekonomi lemah maupun kelompok usaha kecil atau sering disebut sektor informal untuk bekerja secara efektif dalam ekonomi pasar. Strategi ini di kembangkan mel al ui : Mengembangkan meningkatkan kemajuan subak. Pengembangan wiraswasta secara positif harus diciptakan dan didukung oleh pemerintah daerah maupun oleh organisasi yang relevan. Oleh karena itu intervensi tertentu sangat diperlukan dalam memaksimalkan kesempatan bagi individu petani anggota subak untuk berpartisipasi serta berfungsi dalam kegiatan pasar. Pengembangan usaha keci l. Dalam strategi ini diyaki ni bahwa pemeri ntah harus menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuhnya kegiatan usaha kecil, yang disebut sebagai sektor informal yang mampu memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin dalam memaksimalkan sumberdaya yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri . Pengembangan peningkatan keberfungsian individu petani anggota Jika petani anggota subak ingin mengembangkan kesejahteraannya, mereka harus mampu melaksanakan keberfungsiannya secara efektif serta mampu bekerjasama dengan penuh keyakinan dalam konteks budaya wiraswasta. Strategi ini berusaha menciptakan serta mengembangkan budaya wiraswasta maupun JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. usaha kecil. Strategi ini akan efektif jika petani anggota subak mampu memanfaatkan kesempatan yang disediakan oleh pemerintah. Pada kenyataannya banyak individu tidak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut, ini disebabkan oleh kompleksnya birokrasi modern, bervari asinya pengetahuan dan pemahaman serta penilaian terhadap kesempatan tersebut, adanya disksriminasi, serta letak geografis. Berdasarkan kenyataan tersebut perlu diambil langkah penting untuk membantu individu tersebut dalam mengatasi atau menghilangkan berbagai faktor yang menghambat keberfungsian sosial secara efektif. Para pendukung strategi ini memiliki keyakinan bahwa pekerja sosial adalah satu profesi yang paling cocok untuk meneri ma tanggung jawab i ni . Strategi penguatan subak yang lebi h menekankan pada kepenti ngan masyarakat Bali. Penguatan subak sebaiknya dilakukan oleh masyarakat Bali itu sendiri, atau biasa disebut dengan pendekatan Masyarakat memiliki kemampuan dalam mengorganisir dirinya untuk memahami dan memecahkan masalahnya dalam memenuhi kebutuhannya, serta mampu menciptakan kesempatan untuk mengembangkan Untuk mencapai tujuan tersebut mereka perlu saling Dengan demikian masyarakat Bali mampu menguasai sumber-sumber baik internal maupun eksternal secara lebih baik. Secara garis besar terdapat tiga strategi dalam pendekatan ini, yaitu: Pertama, strategi community development yang merupakan strategi untuk memobilisasi partisipasi aktif warga masyarakat, terutama masyarakat pedesaan pada kegiatan ekonomi . Strategi ini merupakan model pengembangan masyarakat dengan menggunakan pendekatan partisipatif serta kemampuan lokal untuk JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra mengatasi permasalahan lokal dalam memenuhi kebutuhannya . rinsip self determination serta self hel. Strategi ini seringkali efektif dalam mengembangkan tingkat kesejahteraan masyarakat lokal. Kedua, strategi community action yang lebih bersiifiat radikal . Berbeda dengan strategi sebelumnya, strategi ini lebih bersifat radikal dan berusaha mengatasi persoalan dengan cara mengambil jalan pintas untuk memberdayakan kelompok yang paling rentan terhadap permasalahan. Para pendukung strategi ini memiliki keyakinan bahwa masyarakat yang menjadi sasarannya adalah orang-orang yang seringkali tertindas oleh struktur kekuasaan. Masyarakat mengalami kemiskinan akibat intervensi negatif dari penguasa. Oleh karena itu teknik yang digunakan adalah teknik-teknik pemberdayaan kelompok rentan tersebut menentang atau melawan Ketiga, gender dan peningkatan kontribusi kaum perempuan dalam pembangunan sosial. Gender merupakan istilah yang digunakan untuk menentukan peran laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Pada kenyataannya di Negara-negara berkembang, kedudukan dan peran perempuan berada pada posisi yang kurang menguntungkan, karena mereka seringkali diidentikkan dengan pekerjaan domestik. Kenyataannya beberapa aktivis perempuan menunjukkan bahwa perempuan sebenarnya dapat memiliki suatu yang sangat strategis dalam melaksanakan pembangunan sosial. Jika program-program pengembangan kapasitas subak diarahkan untuk mengembangkan potensi perempuan serta memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk berperan pada sektor publik, maka pertumbuhan ekonomi yang dihasilkannya akan meningkat, yang pada akhirnya kesejahteraan sosial pun akan meningkat. Strategi penguatan subak yang lebih menekankan pada peranan pemerintah daerah. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. Pengembangan subak sebaiknya dilakukan oleh pemerintah, yang terlaksana melalui para perencanaan kebijakannya, lembaga-lembaga khususnya, serta para administratornya membentuk suatu landasan yang disebut pendekatan statist pada pembangunan subak. Negara merupakan penjelmaan dari kepentingan masyarakat secara menyeluruh dan dengan demikian tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyatnya. Pemerintah daerah secara kolektif berpihak pada rakyat Bali dengan kata lain Pemda Bali adalah kolektivitas ahir masyarakat Bali. Pemerintah daerah harus memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kesejahteraan sosial rakyatnya, serta memiliki kewenangan memobilisasi sumber yang dimiliki untuk mencapai tujuan Selain itu pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk meyakinkan bahwa kebijakan-kebijakan pembangunan sosialnya dapat dilaksanakan dengan baik, serta mengupayakan secara optimal bagi harmonisasi kebijakan ekonomi maupun sosialnya. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam pendekatan ini . Strategi memajukan pembangunan sosial melalui perencanaan secara terpadu Penerapan strategi ini mengharuskan pemerintah untuk mengupayakan seoptimal mungkin harmonisasi dari perencanaan pembangunan ekonomi serta perencanaan pembangunan sosial. Selain itu strategi ini juga mengharuskan adanya penekanan yang sama pada pertumbuhan ekonomi maupun kemajuan sosial, serta mengharuskan para perencana ekonomi maupun sosial untuk bersama membahas upaya perencanaan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Tema sentral yang sering muncul dalam pendekatan ini adalah intervensi negara, keahlian teknis, serta kemauan politis untuk memadukan kedua tujuan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra utama dari pemerintah, yaitu pertumbuhan ekonomi serta penciptaan kesejahteraan sosial bagi seluruh . Strategi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan Model strategi ini beranggapan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi secara pesat akan menjamin munculnya industry, secara besar akan menyerap ribuan bahkan jutaan tenaga kerja, yang dengan sendirinya akan meningkatkan taraf kesejahteraan sosial bagi seluruh buruh dan mengurangi kemiskinan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan taraf kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Strategi kesejahteraan dan kebutuhan dasar Para pendukung strategi ini berkeyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan mampu mengurangi kemiskinan serta tidak akan mampu meningkatkan standar hidup bagi rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang diperoleh melalui pemberian dorongan bagi pertumbuhan industry maupun bisnis dengan skala besar akan menghasilkan ketimpangan yang justru akan memicu permasalahan lain yang juga memerlukan biaya yang sangat besar. Penerapan strategi ini mengharuskan pemerintah untuk mengupayakan perencanaan sosial maupun program pelayanan sosial yang ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi kelompok miskin. Strategi pembangunan yang berkelanjutan Dalam strategi ini mengharuskan pemerintah untuk melakukan intervensi bagi perlindungan terhadap lingkungan, sekaligus juga tidak mengabaikan aspek ekonomi dari lingkungan yang dapat di manfaatkan untuk menyejahterakan rakyat dari lingkungan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. yang dapat dimanfaatkan untuk menyejahterakan Aspek ekonomi dari lingkungan ini berupa migas, hutan, air, serta unsur-unsur tambang lainnya. Pemanfaatan lingkungan ini tidak terlepas dari profesi secara menyeluruh. Sebagaimana disebutkan terdahulu, keberadaan pariwisata tergantung pada kelestarian kebudayaan Bali yang berakar pada lembaga-lembaga tradisional, seperti subak, banjar, dan sebagai nya. Dengan logika di atas, maka seharusnya ada usaha-usaha nyata sektor pariwisata untuk memperkuat eksistensi lembaga-lembaga tradisional ini . Sejalan pembangunan berkelanjutan, konsep berkelanjutan juga sangat dominan dalam wacana pembangunan kepariwisataan. Pembangunan pariwisata berkelanjutan diartikan sebagai proses pembangunan kepariwisataan yang tidak mengesampingkan kelestarian sumberdaya yang dibutuhkan untuk pembangunan di masa yang akan datang. Dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, penekanan keberlanjutan tidak cukup dengan keberlanjutan ekologis dan keberlanjutan pembangunan Yang tidak kalah pentingnya adalah keberlanjutan kebudayaan, karena kebudayaan merupakan salah satu AosumberdayaAo yang sangat penting dalam pembangunan Keterlibatan masyarakat lokal . ommunity-based approac. merupakan prasyarat mutlak tercapainya pembangunan Pengelolaan harus benar-benar dilakukan oleh mereka yang hidup dan kehidupannya paling dipengaruhi oleh pembangunan Agar masyarakat dapat secara langsung berperan secara aktif dalam pembangunan kepariwisataan maka jenis kepariwisataan yang harus dikembangkan adalah pariwisata Lembaga-lembaga tradisional seperti subak harus JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra berperan secara aktif, termasuk aktif di dalam menikmati manfaat ekonomi pembangunan kepariwisataan. Bukti-bukti empiris sebagai mana terlihat dari hasil penelitian di berbagai subak menunjukkan bahwa sesungguhnya subak dan desa adat mempunyai potensi untuk mengelola atraksi wisata yang ada di daerahnya. Di samping itu, harus dirumuskan suatu mekanisme untuk mengembalikan sebagian dari manfaat ekonomi pariwisata kepada sumber-sumber daya pariwisata, sehingga sumber tersebut dapat tumbuh subur, yang akan menjamin keberlanjutan pariwisata itu sendiri. Tanpa ada usahausaha seperti ini, lambat laun akar budaya Bali akan rapuh sehingga pohon budaya Bali tidak akan mampu menghasilkan bunga dan buah yang dini kmati oleh pariwisata. Dengan berkembangnya berbagai jenis special-interest tourism, maka pariwisata sesungguhnya bisa menjadi trigger dan inspiratory dalam pelesatarian subak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pariwisata bisa menjadi sector yang menambah value added dari budaya subak yaitu dengan pengembangan pariwisata berbasis pertanian . griculture-based touris. atau agro tourism. Dengan dimanfaatkannya landscape pertanian . serta berbagai jenis tumbuhan sebagai atraksi wisata, maka akan ada motivasi untuk melakukan pelestarian pertanian dalam hal ini subak. Karena pariwisata sangat membutuhkan landscape dan aktifitas pertanian subak tersebut maka kalangan pariwisata akan berusaha melestarikan subak dengan berbagai aktifitasnya, yang tentu saja ini berarti pendapatan bagi petani atau kelompok petani yang mengelola Sebagai mana dilaporkan oleh Charlie Sampson . , dari pengalaman empiris di berbagai negara, pengembangan agro based tourism ternyata mampu menjadi trigger pelestari an dan penguatan pertanian, sekaligus pariwisata memberi kan manfaat l angsung kepada pertanian. Pariwisata juga merupakan pasar yang sangat potensial JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. bagi produk-produk pertanian. Kenyataan sampai saat ini banyak sekal i keutuhan-kebutuhan pariwisata yang masih di datangkan dari daerah lain . ahkan dari luar neger. seperti bunga potong, buah-buahan, sayur mayur, daging, telur, susu. Padahal sesungguhnya berbagai produk hortikultura dan hasil peternakan tersebut di atas bisa dihasilkan oleh petani subak. Kalau berbagai kebutuhan pariwisata seperti di atas dapat diproduksi oleh subak, maka petani-subak akan mendapatkan nilai ekonomis lebih tinggi dari produk pertani annya, yang berarti peningkatan kesejahteraan petani, yang pada akhirnya juga berarti adanya daya tarik pertanian sebagai lapangan kerja sehi ngga kekhawatiran bahwa pertanian akan ditinggalkan oleh generasi muda bisa dicegah. Ini sangat penting dalam usaha pelestarian subak. Sesungguhnya di samping hubungan langsung seperti di atas, pariwisata juga memberikan dampak positif yang berbentuk dampak tak langsung . ndirect and induced effect. , di mana pembangunan pariwisata pada suatu daerah akan menjadi trigger untuk pembangunan sector lainnya seperti sarana prasarana publik yang juga dinikmati oleh petani, yang juga berarti meningkatkan aksesbilitas petani terhadap sumber-sumber i nformasi, teknolgi dan ekonomi lai nnya. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Selain kebudayaannya terutama budaya subak. Bali juga dikenal dengan pariwisata budayanya. Pariwisata Budaya sudah melekat pada pariwisata Bali, dan pariwi sata budaya ini telah dianut sejak awal 1970-an, bahkan sudah dituangkan dalam bentuk perda. Pariwisata budaya . al am Perda Bali yang sudah di ubah tiga kal. menyiratkan hubungan timbal balik yang mutualistis antara pariwi sata dengan kebudayaan Bali. Interaksi antara pariwi sata dengan kebudayaan Bali diharapkan terjadi secara simetris, atau yang oleh Geriya . JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra disebutkan sebagai hubungan yang dinamik progresif. Artinya, kemajuan pariwisata harus secara langsung memajukan kebudayaan Bali secara selaras, serasi dan sei mbang (P i tana 1999. G eri ya 1. Berdasarkan kaji an dan anali si s yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai beri kut: Ti dak dapat di ragukan l agi bahwa budaya Bali . engan ni l ai domi nan budaya subak/ri ce culture, merupakan modal dasar pembangunan pariwisata Bali. Motivasi kedatangan wisatawan ke Bali dalam kategori cultural motivation . otivasi buday. , yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian sangat besar. Permasalahan yang di hadapi Bali dalam pelestari an subak dan pertanian adalah: . Semaki n menurunnya minat pemuda menjadi petani. Menciutnya lahan sawah akibat alih fungsi. Semakin terbatasnya persediaan air-relatif terhadap dan . Pencemaran air sungai dan air pada sal uran irigasi Untuk menjamin kelestarian subak, terdapat tiga bentuk strategi utama dalam penguatan subak, yaitu: . Strategi pengembangan subak melalui pendekatan individual . Strategi penguatan subak yang lebih menekankan pada pentingnya masyarakat Bali. Strategi penguatan subak yang lebih menekankan pada peranan pemeri ntah. Pariwisata, kalau dikelola dengan baik, akan bisa menjadi trigger untuk pelestarian subak, baik langsung maupun tidak langsung. Pengembangan berbagai produk pariwisata berbasis pertanian . gro-based touris. akan dapat merangsang usaha-usaha pelestarian subak, dengan adanya insentif ekonomi. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak. Saran Pemerintah daerah perlu mengeluarkan kebijakan yang tegas yang mendukung subak sebagai bagian dari sektor pertanian sehingga subak tidak terdesak oleh berbagai kepentingan sektor lain. Aturan-aturan ini antara lain larangan alih fungsi lahan, insentif local kepada petani . emilik lahan suba. , kewajiban sector pariwisata untuk memanfaatkan produk pertanian local, dan pengetatan perijinan investasi yang boros lahan. Agar sector pertanian . bisa memanfaatkan pariwisata sebagai pasar maupun sebagai aktifitas yang meningkatkan value added dari aktifitas subak, maka diperlukan adanya fasilitasi dari pemeri ntah, misalnya dalam bentuk capacity building . elatihan dan pendampinga. , match making antara kelompok petani subak dengan kelompok pariwisata, serta membuat berbagai aturan/kebijakan yang memungkinkan kemitraan antara industri pariwisata dengan masyarakat subak bisa berjalan. MiAsalnya dengan mengeluarkan aturan agar hotel/restoran memanfaatkan produk-produk local seperti buah-buahan local, sayur mayur local, dan berbagai produksi subak lainnya. Berbagai issue klasik seperti masalah kualitas, kuantitas, dan kontinuitas harus juga ditangani secara komprehensif, baik dengan teknologi maupun dengan pengaturan jenis hortikultura sesuai dengan musimnya. Di dalam melihat hubungan antara pertanian . dan pariwisata, pendekatan yang lebih realistis adalah pendekatan mutualistik, bukan pendekatan dikotomis. Berdasarkan pendekatan mutualistik maka perlu adanya program untuk meni ngkatkan kesadaran semua komponen, bahwa subak dan pertanian sangat penting peranannya dalam menunjang sektor pariwisata, dan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra DAFTAR PUSTAKA