PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PERAWATAN PAYUDARA DAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM Ardhiyani Muslimah1. Fauzia Laili2. Halimatus Saidah3 Prodi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri. Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Alamat Email muslimahardhiyani@gmail. RINGKASAN Pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data di wilayah kerja Puskesmas Mrican pada tahun 2018 prosentase cakupan pemberian ASI eksklusif yaitu 55,8%. Penyebab rendahnya cakupan ASI yaitu rendahnya angka pemberian ASI terkait dengan produksi ASI yang kurang mencukupi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Mrican Kota Kediri tahun 2020. Penelitian ini menggunakan pre eksperimen dengan pendekatan One Group Pre Test Post Test Design. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 15 orang ibu postpartum hari ke 3 yang diambil dengan menggunakan teknik Total Sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar checklist. Data diperoleh dengan menggunakan data primer. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan taraf signifikansi =0,05. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan hasil A-value sebesar 0,000 atau A value<. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Mrican tahun 2020. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan bagi petugas kesehatan dan ibu postpartum dapat melakukan kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin sebagai upaya untuk meningkatkan produksi ASI. Kata Kunci: Perawatan Payudara. Pijat Oksitosin, dan Produksi ASI ABSTRACT Exclusive breastfeeding in Indonesia is still low. Based on data in the working area of Mrican Health Center in 2018 the percentage of exclusive breastfeeding coverage was 55. The reason for the low coverage of breast milk is the low rate of breastfeeding related to inadequate milk production. The purpose of this study was to determine the effect of giving a combination of breast care and oxytocin massage to increase milk production in postpartum mothers in the working area of Mrican Health Center in Kediri in 2020. This study used a pre-experimental approach to the One Group Pre Test Post Test Design. The sample size in this study was 15 postpartum mothers day 3 taken using the Total Sampling technique. The research instrument used was a checklist sheet. Data obtained using primary data. Data analysis using the Wilcoxon test with a significance level of = 0. Wilcoxon statistical test results show A-value of 0,000 or A value < . The results of the analysis showed that there was a significant effect before and after the administration of a combination of breast care and oxytocin massage to increase breastmilk production in postpartum mothers in the area of Mrican Health Center in 2020. Based on the results of the study, it is expected that health workers and postpartum mothers can do a combination of breast care and oxytocin massage in an effort to increase milk Jurnal Mahasiwa Kesehatan Vol. 1 No. 2 Maret 2020. Halaman 87-94 e-ISSN: 2686-5300 p-ISSN: 2714-5409 Keywords : Breast Care. Oxytocin Massage. Breastfeeding Production LATAR BELAKANG Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan Angka Kematian Neonatal (AKN) sebesar 15 000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) 24 per 1. 000 kelahiran hidup, dan Angka Kematian Balita (AKBA) 32 per 1. kelahiran hidup. Angka Kematian Balita (AKBA) Target Pembangunan Berkelanjutan (TPB) pada Sustainable Development Goals (SDGAo. 2030 yaitu sebesar 25/1. 000 kelahiran hidup dan Indonesia mengharapkan Angka Kematian Neonatal (AKN) dapat mencapai target yaitu 12/1. 000 kelahiran hidup (Depkes, 2. Program Sustainable Development Goals (SDGAo. yang dimulai tahun 2016 hingga 2030 terdiri dari 17 pokok tujuan dengan 169 target dan 240 indikator, sedangkan sektor kesehatan pada SDGAos terdapat 4 tujuan, 19 target dan 31 indikator. Target SDGAos di bidang kesehatan tertuang pada tujuan . ke 3 salah satunya yaitu mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan menurunkan Angka Kematian Neonatal (AKN) hingga 12 per 1. 000 Kelahiran Hidup dan Angka Kematian Balita 25 per 1. Kelahiran Hidup (Kemenkes, 2. Faktor yang berperan dalam tingginya AKB salah satunya adalah rendahnya cakupan ASI Eksklusif, karena tanpa ASI Eksklusif bayi lebih rentan terkena berbagai penyakit yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas (Roesli, 2. Data Kementerian Kesehatan mencatat, ada kenaikan pada angka pemberian ASI eksklusif, dari 29,5% pada tahun 2016 menjadi 35,7% pada 2017. Angka cakupan tersebut sangat rendah mengingat pentingnya peran ASI bagi kehidupan anak. Target minimal pemberian ASI eksklusif di Indonesia yaitu minimal 50% sesuai target WHO (Puput, 2. Kementrian Kesehatan peningkatan target pemberian ASI eksklusif hingga 80%. Namun pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada kenyataannya masih rendah hanya 74,5% (Balitbangkes, 2. Data profil kesehatan Indonesia, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif tahun 2018 sebesar 68,74% (Kemenkes, 2. Data cakupan ASI Eksklusif di provinsi Jawa Timur pada tahun 2014 sebesar 183. ,0%), tahun 2015 sebesar 375. ,1%), tahun 2016 sebesar 31,3%, tahun 2017 sebesar 76,01%, tahun 2018 sebesar 76,98% (Kemenkes, 2. Data cakupan ASI Eksklusif tersebut masih dibawah target yang ditetapkan provinsi yaitu 77%. Adapun data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Kediri, bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif pada tahun 2017 yaitu 333 bayi . ,3%) kemudian tahun 2018 yaitu 340 bayi . ,6%). Secara jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif mengalami peningkatan, namun dari segi presentase dapat dilihat terjadi penurunan. Cakupan ASI Eksklusif kota Kediri masih tergolong rendah, angka tersebut masih belum memenuhi cakupan ASI Eksklusif yang ditetapkan oleh provinsi (Dinkes, 2019. Data presentase cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Mrican tahun 2018 sebesar 55,8%, presentase ini memang sudah lebih dari target WHO, namun belum mencapai target yang ditetapkan provinsi yaitu 77%. Cakupan ASI Eksklusif yang rendah salah satunya disebabkan oleh produksi ASI pada awal masa menyusui. Sehingga dapat disimpulkan masih ada permasalahan dalam pemberian ASI. Berdasarkan data cakupan ASI Eksklusif di kota Kediri yang masih Jurnal Mahasiwa Kesehatan Vol. 1 No. 2 Maret 2020. Halaman 87-94 e-ISSN: 2686-5300 p-ISSN: 2714-5409 dibawah target provinsi Jawa Timur 77% yaitu Puskesmas Mrican 55,8 % maka mendasari peneliti untuk melakukan survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 20 November 2019, dari 5 orang ibu postpartum 3 diantaranya . %) mengalami masalah ketidaklancaran produksi ASI. Masalah ketidaklancaran produksi ASI dapat diatasi dan diupayakan dengan pemberian kombinasi perawatan payudara dan pijat Pada studi pendahuluan tersebut seluruh ibu postpartum . %) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mrican tidak mengetahui tentang perawatan payudara dan pijat oksitosin serta tidak mendapatkan perawatan payudara dan pijat oksitosin secara memadai. Pemberian ASI Eksklusif belum maksimal dikarenakan banyak faktor yaitu kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI, ibu bekerja, kurangnya dukungan dari keluarga dan Penyebab lainnya adalah peran tenaga kesehatan yang berkaitan langsung dengan persalinan belum sepenuhnya membantu pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI Eksklusif (Dinkes. ASI merupakan makanan utama bagi bayi dan paling sempurna, mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi sesuai dengan kebutuhan bayi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal (Pollard, 2. Pemberian ASI diatur dalam PP No. 33 tahun 2012 dimana disebutkan pemberian ASI Eksklusif sejak lahir sampai batas usia 6 bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan (Lestari, 2. 2004 yang menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain karena ASI tidak segera keluar setelah melahirkan/produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja dan pengaruh promosi pengganti ASI (Lestari, 2. Kenyataan di lapangan menunjukkan produksi dan pengeluaran ASI sedikit pada hari-hari pertama setelah melahirkan menjadi kendala bagi ibu dalam memberikan ASI. Hal ini didukung data Riskesdas 2018 yang mengungkap bahwa alasan utama anak 0-23 bulan belum atau tidak pernah disusui karena ASI tidak keluar . ,7%). Sehingga bayi usia 0-5 bulan . ,3%) telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak . ,5%) yaitu susu formula. Berbagai meningkatkan produksi ASI seperti dengan melakukan perawatan payudara dan pijat oksitosin maupun dengan keduanya. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari et. 2018 mengatakan bahwa terdapat perbedaan rerata berulang yang signifikan antara produksi ASI setelah melakukan pijat oksitosin pertama, kedua, dan ketiga. Frekuensi pijat oksitosin berbanding searah dengan peningkatan produksi ASI. Semakin sering dilakukan pijat oksitosin maka produksi ASI cenderung lebih banyak. Pijat oksitosin perlu dilakukan dengan bantuan sehingga ibu menyusui tidak bisa melakukan secara mandiri (Wulandari, 2. Perawatan payudara merupakan perawatan yang dilakukan pada payudara untuk membantu kebersihan payudara, mengatasi masalah menyusui dan merangsang hormon Dampak dari tidak memberikan ASI yaitu Prolaktin. Berdasarkan hasil penelitian menyumbang angka kematian bayi karena Soleha et. al 2019 perawatan payudara pada buruknya status gizi yang berpengaruh pada ibu nifas berpengaruh terhadap produksi ASI kesehatan bayi dan kelangsungan hidup bayi. apabila dilakukan dengan baik dan benar Apabila bayi tidak diberi ASI eksklusif maka (Soleha, 2. Kombinasi perawatan hal ini akan meningkatkan pemberian susu payudara dan pijat oksitosin disinyalir juga formula pada bayi. Pernyataan tersebut dapat meningkatkan atau mempengaruhi didukung oleh hasil penelitian Siregar tahun produksi ASI. Ketidaktahuan ibu dalam Jurnal Mahasiwa Kesehatan Vol. 1 No. 2 Maret 2020. Halaman 87-94 e-ISSN: 2686-5300 p-ISSN: 2714-5409 melakukan perawatan payudara dan pijat pemberian ASI eksklusif. Pada era SDGAos menitik beratkan pada penuntasan capaian program terdahulu yaitu dengan menuntaskan, mempertahankan dan menjaga keberhasilan capaian program. Usaha memperbanyak produksi ASI mempertahankan cakupan ASI eksklusif. Salah satu upaya asuhan pada ibu postpartum menyusui yaitu dengan memberikan bimbingan perawatan payudara untuk memperlancar pengeluaran ASI . Perawatan payudara secara rutin dapat mencegah timbulnya masalah-masalah pada ibu postpartum yang menyusui (Asih. Risneni. Manfaat perawatan payudara yaitu hipofise untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin (Rukiyah. dkk, 2. Perawatan payudara dilakukan dengan cara masase payudara untuk pemeliharaan dan menstimulasi reflek oksitosin (Suherni. Solusi lain dalam mengatasi produksi ASI pada hari-hari pertama postpartum yaitu dengan pijat oksitosin. Pijat Oksitosin merupakan pemijatan bagian sepanjang tulang belakang hingga tulang kosta ke 5 dan 6 sebagai usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan yang memberi efek tenang pada ibu, sehingga ASI dapat keluar (Rahayuningsih. Mudigdo, & Murti, 2. Sekresi hormon oksitosin dapat dirangsang melalui pijatan pada ibu pada tulang belakang, pijatan ini bertujuan memberikan kenyamanan, mengurangi pembengkakan . , mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin serta mempertahankan produksi ASI baik dalam kondisi sehat maupun ketika ibu dan bayi Sedangkan penambahan perawatan payudara adalah sebagai pelengkap dari pijat oksitosin agar produksi ASI lancar (Rahayuningsih et al. , 2. Petugas kesehatan mempunyai peran penting dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum serta mengajarkan kepada keluarga untuk dapat membantu ibu melakukan pijat oksitosin dan perawatan Perawatan payudara dilakukan untuk menunjang keberhasilan pijat oksitosin yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Mengacu pada uraian latar belakang diatas peneliti melakukan penelitian dengan judul pengaruh pemberian kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Mrican Kota Kediri tahun METODE Desain penelitian One Group Pre Test Post Test Design dengan rancangan PreEksperiment. Sumber data menggunakan data Primer. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu postpartum yang berada di wilayah kerja Puskesmas Mrican Kota Kediri Tahun 2020 pada bulan Januari. Kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin disinyalir dapat meningkatkan Besar sampel yaitu 15 ibu postpartum yang produksi ASI pada ibu postpartum awal. diberikan kombinasi perawatan payudara dan Pemaparan sebelumnya menerangkan bahwa pijat oksitosin. Teknik pengambilan sampel keberhasilan pemberian ASI merupakan suatu dalam penelitian ini adalah total sampling. reaksi kompleks antara rangsangan mekanik, saraf serta rangsangan hormon prolaktin dan Variabel dalam penelitian ini ada 2 variabel. Hormon prolaktin berpengaruh variabel bebas . ndependent variabl. yaitu terhadap produksi ASI, sedangkan hormon kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin mempengaruhi pengeluaran ASI. Jurnal Mahasiwa Kesehatan Vol. 1 No. 2 Maret 2020. Halaman 87-94 e-ISSN: 2686-5300 p-ISSN: 2714-5409 oksitosin (X). Sedangkan Variabel terikat . ependent variabl. yaitu produksi ASI (Y). Instrumen penelitian ini menggunakan Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Mrican Kota Kediri. Peneltian dilakukan pada bulan Januari tahun Analisa data bivariate menggunakan Uji Wilcoxon. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisa dengan Uji Wilcoxon pada tabel didapatkan positive ranks: 15 maka berarti 15 responden yang produksi ASInya sesudah post-test>pre-test yaitu Kurang ke Banyak sebanyak 7 responden. Cukup ke Banyak sebanyak 8 Negative ranks: 0 artinya tidak ada responden yang sesudah perlakuan