Jurnal Penelitian & Gagasan Sains dan Matematika Terapan Vol. No. September 2025, pp. 74Ae85 | ISSN 1978Ae290X (Prin. | ISSN 3047Ae2385 (Onlin. https://doi. org/10. 35313/sigmamu. Hubungan Peer Pressure dengan Self Identity pada Siswa Kelas Xi SMA Negeri 1 Kalianda Tahun Ajaran 2023/2024 Yuliadini Az Zahra, 2 Muhammad Nurwahidin, 3 Shinta Mayasari Universitas Lampung Email: azzahra3008@gmail. com, mnurwahidin@yahoo. id, dan mayasari@fkip. Artikel Penelitian Diterima 02 Juli 2025. Disetujui 26 Agustus 2025 Cara sitasi: Zahra. Nurwahiddin. Mayasari. Hubungan Peer Pressure dengan Self Identifi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kalianda Tahun Ajaran 2023/2024. SIGMA-Mu, 17. , 74Ae Abstrak: Masalah dalam penelitian ini adalah self identity yang rendah pada siswa karena pengaruh peer pressure. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda tahun pelajaran 2023/2024. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan korelasional. Populasi penelitian ini sebanyak 409 siswa dengan sampel sebanyak 105 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik analisis data menggunakan Corelasi Product Moment. Pengumpulan data menggunakan Skala Peer Pressure dan Self Identity. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan positif antara peer pressure dengan self identity siswa yang ditunjukan dengan indeks korelasi rhitung = 0,340 > rtabel 0,192 pada taraf sig p = 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima menunjukan bahwa hasil dari penelitian ini terdapat hubungan yang berarah positif antara peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda. Hal ini berarti jika peer pressure semakin tinggi maka akan semakin kuat identitas diri pada siswa, begitupun sebaliknya, semakin rendah peer pressure maka akan semakin rendah pula self identity. Kata kunci: Bimbingan Konseling. Peer Pressure. Self Identity Abstract: The problem in this research is students' low self-identity due to the influence of peer This research aims to determine the relationship between peer pressure and self-identity among students at SMA Negeri 1 Kalianda for the 2023/2024 academic year. The research method used is a correlational approach. The population of this study was 409 students with a sample of 105 students taken using cluster random sampling techniques. The data analysis technique uses Product Moment Correlation. Data collection uses the Peer Pressure and Self Identity Scale. The results of the research show that there is a relationship between peer pressure and student selfidentity as shown by the correlation index rcount = 0. 340 > rtable 0. 192 at the sig p = 0. 001 <0. level, so H0 is rejected and Ha is accepted, indicating that the results of this research have a positive direction relationship Between peer pressure and self-identity among students at SMA Negeri 1 Kalianda. This means that the higher the peer pressure, the stronger the student's self-identity, and vice versa, the lower the peer pressure, the lower the self-identity Keywords: counseling guidance, peer pressure, self identity Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 74 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Pendahuluan Siswa SMA adalah individu yang sedang mengalami masa remaja akhir . ate adolescenc. , yang terjadi antara usia 15 hingga 18 tahun. Masa remaja awal dimulai pada usia 10 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Proses biologis, kognitif, dan sosial emosional mengalami perubahan, termasuk pertumbuhan fungsi seksual, proses berfikir abstrak, dan kemandirian. Masa remaja adalah suatu periode transisi dalam rentang kehidupan manusia, yang menjembatani masa kanak-kanak dan masa dewasa. alam Santrock, 2. Remaja berusaha untuk menemukan jati dirinya dengan melepaskan diri dari orang tua. Setelah memisahkan diri dari orang tua, remaja mulai mencari dan bergabung dengan teman sebaya karena merasa senasib. Perasaan senasib inilahyang mendorong orang untuk bergabung dengan kelompok dan mematuhiperaturannya, bahkan jika peraturan kelompok tersebut bertentangan dengan prinsip moral. Semua upaya remaja untuk melepaskan diri dari pengaruh orangtua akan berdampak pada lingkungan sosial yang lebih luas yang mereka masuki saat mereka menjadi Remaja akan lebih dekat dengan orang lainselain keluarganya, terutama teman sebaya. Teman sebaya akan memberikan pengaruh, baik positif maupun negatif, sehingga mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan mereka. Menurut Melka dkk. , penerimaan teman sebaya mengacu pada persepsiapakah seseorang diterima atau dipilih untuk menjadi anggota suatu kelompok tertentu. Remaja mengalami efek langsung dari menerima teman sebaya: mereka merasa berharga, penting, dan dibutuhkan oleh Remaja akan melakukan interaksi sosial dan merasa senang dan puas karena mereka membutuhkan interaksi dengan orang lain di luar keluarga mereka, terutama dengan teman sebaya. Dapat dikatakan bahwa remaja membutuhkan interaksi sosial atau membangun hubungan dengan orang lain karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama orangorang di luar lingkungan keluarga. Usia remaja adalah antara 12 - 21 tahun. Menurut Erikson, "maka remaja akanmelalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri "(Search for self-identit. Ay untuk menjadi orang dewasa (Dariyo, 2. Menurut Erikson . alam Hurlock, 1. , mencapai identitas diri (Self Identit. yang lebih kuat adalah tujuan utama remaja. Ini dilakukan dengan mengeksplorasi dan mencari tahu tentang diri mereka sendiri serta lingkungan mereka. Sebelum munculnya identitas diri, biasanya akan ada krisis identitas. Remaja mengalami krisis identitas, banyak efek demoralisasi yang disebabkan oleh krisis identitas diri remaja, termasuk mempertanyakan siapa diri sendiri secara berkeseluruhan atau berkaitan dengan aspek kehidupan tertentu seperti hubungan, usia, dan karir. krisis identitas selalu berakibat buruk bagi kehidupan seseorang karena merasa kehilangan jati diri. Oleh karena jati diri berperan sangat penting dalam meraih kebahagiaan, dengan begitu kenali lebih dalam identitas diri dengan cara menemukan nilai- nilai keutamaan diri seperti hal-halapa yang di anggap penting? Apa prinsip-prinsip yang mendasari cara menjalanihidup? Bagaimana hal-hal ini terbentuk dan siapa yang memengaruhi sehingga kamu menerima nilai keutamaan tersebut?, dan pula bisa memilih lingkungan pertemanan yang positif lalu bisa mengontrol diri dalam lingkungan sosial, sehingga tidak terjadinya tekanan dalam teman sebaya. Individu harus memiliki identitas diri (Self identit. yang kuat agar dapat menjalani Mereka yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang diri mereka sendiri lebih cenderung hidup dalam ketidakpastian dan tidak dapat mengidentifikasi kekuatan dan Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 75 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 kelemahan mereka. Mereka juga akan menjadi orang yang tidak percaya diri dan tidak percaya diri pada diri mereka sendiri. Identitas mengacu pada cara hidup tertentu yang telah ditetapkan sejak lama dan menentukan peran sosial yang harus diambil (Rumini dan Sundari,2. Peneliti memilih tempat penelitian di SMAN 1 Kalianda karena setelah peneliti melakukan pra penelitian di sekolah SMAN 1 Kalianda terdapat masalah yang sesuai dalam penelitian ini yaitu hubungan antara peer pressure dengan self identity. Berdasarkan fenomena yang terjadi pada remaja dalam kaitannya dengan identitas diri, maka peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut yang mengangkat sebuah penelitian yang berjudul AuHubungan Peer Pressure denganSelf Identity pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kalianda Tahun Ajaran 2023/2024Ay Metode Penelitian (Font: Times New Roman, ukuran . Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitaif. Menurut Sugiyono . data kuantitatif adalah metode penelitian yang didasarkan pada data empiris . ata konkri. , data penelitian ini dalam bentuk angka yang akan diukur secara statistik sebagai alat uji penghitungan, terkait dengan masalah penelitian untuk menghasilkan sebuah Metode pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kolerasional, menurut Sugiyono . alam Sari, 2. penelitian korelasional adalah penelitianyang bermaksud mendekteksi sejauh mana variasi-variasi dalam suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor berdasarkan koefisien korelasinya. Hasil dan Pembahasan Uji normalitas bertujuan untuk mengetauhi apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan one sample kolmogrov Ae smirnov yang dibantu dengan program SPSS statistic Jika nilai sign > 0,05 maka data berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas bahwa variabel peer pressure dan self identity memiliki nilai signifikansi . = 0,149 > 0,05. Tabel 1 : Hasil Uji Normalitas Uji Homogenitas Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 76 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Uji homogenitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sama atau tidak varians-varians dua buah distribusi atau lebih. Uji Homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang mempunyai varians yang sama atau homogen. Perhitungan homogenitas dilakukan dengan bantuan SPSS statistic 27. Sebagai kriteria pengujian jika nilai signifikansi lebih dari 0. 05 maka dapat dikatakan bahwa varian dari dua atau lebih kelompok data adalah sama. Berdasarkan hasil uji homogenitas diketahui nilai signifikansi . = 0,846 > 0,05 maka dapat disimpulkan data tersebut berasal dari populasi yang mempunyai varians yang sama atau homogen. Tabel 2 : Hasil Uji Homogenitas Uji Linieritas Uji linearitas bermaksud untuk menguji apakah ada hubungan antara dua buah variabel, maksudnya apakah garis regresi antara variabel X dan Y membentuk garis linear atau tidak. Jika tidak linear maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan. Pengujian linearitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS statistic 27. Dasar pengambilan keputusan dalam uji linearitas yakni jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 berarti hubungan kedua variabel berpola linear. Perhitungan hasil dari output anova table uji linieritas diketahui nilai Sig Deviation from Linierity sebesar 0,947 lebih besar dari 0,05. Hal itu berarti kedua variabel linear. Tabel 3 : Hasil Uji Linieritas Uji Hipotesis Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 77 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Berdasarkan hasil tabel uji korelasi diketahui bahwa nilai korelasi antara peer pressure dengan self identity r hitung sebesar 0,340. Nilai tersebut berdasarkan tabel interprestasi koefisien korelasi berada di rentang 0,20 Ae 0,399 artinya termasuk kedalam kategori rendah. Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungantersebut signifikan atau tidak yaitu dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Apabila r hitung > r tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima, sebaliknya apabila r hitung < r tabel maka H o diterima dan Ha Dalam penelitian ini, r tabel menggunakan rumus df = (N-. jadi 105-2 = 103, dengan melihat signifikansi p . 0,05 . %) sehingga diperoleh r tabel yaitu 0. Dari hasil uji hipotesis diketahui r hitung > r tabel yaitu 0,340 > 0,192 dengan nilai Sig sebesar 0,001 yang berarti kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda. Tabel 4 : Hasil Uji Hipotesis Gambaran tentang Peer Pressure Tabel 5 : Tabel Distribusi Kategori Frekuensi Peer pressure Kategori Rentang Skor Jumlah Presentase Rendah Sedang Tinggi Total X < 55 55 O X < 73,25 X < 73. Perhitungan pada tabel di atas menunjukkan terdapat 11 siswa yang memiliki tingkat peer pressure rendah dengan presentase 10%, kategori siswa dengan tingkat peer pressure sedang sejumlah 74 siswa dengan presentase 70%, dan pada kategori tinggi terdapat 20 siswa dengan presentase 19%. Untuk gambaran yang lebih jelas dapat dilihat pada diagram batang sebagi berikut Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 78 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Peer Pressure RENDAH SEDANG TINGGI Gambar 1 Diagram Batang Peer Pressure Berdasarkan diagram batang diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat peer pressure siswa di SMA Negeri 1 Kalianda berada di kategori sedang sebanyak 74 siswa dengan persentase 70%. Gambaran tentang Self Identity Tabel 6 Tabel Distribusi Kategori Frekuensi Self Identity Kategori Rentang Skor Jumlah Presentase Rendah Sedang Tinggi Total X < 65 65 O X < 83 83 O X Perhitungan pada tabel di atas menunjukkan terdapat 11 siswa yang memiliki tingkat self identity rendah dengan presentase 10%, kategori siswa dengan tingkat self identity sedang sejumlah 80 siswa dengan presentase 76%, dan pada kategori tinggi terdapat 14 siswa dengan presentase 13%. Untuk gambaran yang lebih jelas dapat dilihat pada diagram batang sebagai Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 79 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Self Identity RENDAH SEDANG TINGGI Gambar 2 : Diagram Batang Self Identity Berdasarkan diagram batang diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat self identity siswa di SMA Negeri 1 Kalianda berada di kategori sedang sebanyak 80 siswa dengan persentase 76%. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara emperis tentang hubungan peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan positif antara peer pressure dengan self identity SMA Negeri 1 Kalianda. Berdasarkan hasil penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Pearson Product Moment dengan jumlah sampel 105 siswa SMA Negeri 1 Kalianda diperoleh hasil uji hipotesis diketahui rhitung > rtabel yaitu 0. 0,192 dengan nilai Sig sebesar 0,001 yang berarti kurang dari 0,05. maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positf antara peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda. Variabel peer pressure memberikan sumbangan kontribusi terhadap variabel self identity hanya 0,11%. Hal ini menunjukkan bahwa peer pressure dapat mempengaruhi perkembangan atau pemahaman seseorang terhadap identitas dirinya secara positif. Hasil signifikan positif yang mengungkap hubungan antara peer pressure dengan self identity dapat disebabkan oleh beberapa faktor: Pengaruh sosial : Tekanan dari teman sebaya dapat mempengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri. Ini bisa termasuk penilaian terhadap perilaku, minat, atau nilai-nilai yang dianggap penting dalam lingkungan sosial tertentu. Pembentukan Identitas : Selama masa remaja dan dewasa muda, individu sering mencari cara untuk membentuk identitas mereka sendiri. Interaksi dengan teman sebaya dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi proses ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Validasi dan Penerimaan : Tekanan dari teman sebaya juga bisa mempengaruhi seberapa besar individu merasa diterima dan diakui dalam kelompok sosialnya. Validasi ini dapat memperkuat atau mengubah persepsi individu terhadap dirinya Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 80 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Proses Pembelajaran Sosial : Melalui interaksi dengan teman sebaya, individu dapat mempelajari norma-norma sosial, nilai-nilai, dan ekspektasi yang kemudian membentuk bagian dari identitas mereka. Konteks dan Lingkungan : Faktor-faktor kontekstual seperti jenis teman sebaya, intensitas hubungan, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kelompok sosial tertentu dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap identitas diri seseorang. Jadi, hasil positif yang menunjukkan hubungan antara peer pressure dengan self identity menggambarkan kompleksitas dinamika sosial dan psikologis dalam pembentukan identitas Hal ini sejalan dengan pendapat Tajfel dan Turner . yang menjelaskan bahwa individu cenderung mencari keanggotaan dalam kelompok-kelompok sosial tertentu sebagai cara untuk meningkatkan evaluasi diri mereka sendiri . elf-estee. Dalam konteks tekanan teman sebaya. Tajfel dan Turner mengemukakan interaksi dengan teman sebaya dalam kelompok sosial dapat memberikan pengakuan dan validasi terhadap identitas sosial remaja. Teman sebaya dapat memberikan dukungan, persetujuan, atau penghargaan terhadap kontribusi individu terhadap kelompok, yang kemudian memperkuat dan menguatkan identitas sosial dan identitas diri. Oleh karena itu, tekanan dari teman sebaya dapat membantu memperkuat atau membangun identitas sosial dan identitas diri remaja. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Dwi indra kurnawati . yang berjudul AuHubungan Konformitas Teman Sebaya Dengan Identitas Diri Remaja Di Smp N 1 Tempel Sleman YogyakartaAy. Hasil penelitiannya ialah bahwa ada hubungan antara konformitas teman sebaya dengan identitas diri remaja . = 0,. dengan keeratan rendah dan mempunyai hubungan yang positif . yaitu hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi konformitas maka semakin baik identitas diri remaja. Hal ini menunjukan bahwa konformitas teman sebaya sangat berpengaruh dalam pembentukan identitas diri remaja meskipun dalam katagori rendah, hal ini di sebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembentukanidentitas diri pada remaja. Peneliti menjelaskan siswa menghadapi banyak pilihan tentang siapa mereka dan ke mana tujuan hidup mereka. Identitas diri merupakan kesadaran individu dalam memposisikan dan memberi makna pada dirinya di kehidupan mendatang, sehingga menjadi suatu kesatuan gambaran diri yang utuh dan berkesinambungan untuk menemukan jati diri. Terbentuknya identitas diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Soetjiningsih . , salah satunya ialah faktor kelompok acuan adalah kelompok yang terbentuk pada masa remaja, biasanya teman sebaya atau kelompok sebaya. teman sebaya menjadi kelompok bagi seorang remaja yang dapat mengidentifikasi dan mematuhi norma-norma kelompok. adanya kelompok tersebut menjadikan remaja untuk bisa mendapatkan nilai-nilai dan peran yang dapat menjadi acuan bagi dirinya. Identitas diri siswa mulai terbentuk ketika ia menjadi bagian dari kelompok teman sebaya. Dengan begitu siswa biasanya mengubah tingkah laku atau keyakinannya agar bisa menyesuaikan diri dengan orang lain, untuk menunjukkan jati dirinya agar dapat diterima dan diakui oleh kelompoknya. Dari hasil penelitian berkaitan dengan self identity secara keseluruhan ditemukan bahwa jenis self identity yang memiliki persentase tinggi diterima oleh siswa SMA Negeri 1 Kalianda adalah identitas intelektual/prestasi. adapun self identity yang diterima siswa yang ditemukan oleh siswa SMA Negeri 1 Kalianda dari teman sebayanya dari identitas intelektual/prestasi diantaranya siswa malas untuk belajar, dan siswa merasa percuma saja belajar karena hasilnya Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 81 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 tidak akan pernah memuaskan, bisa juga dari faktor lingkungan, stimulus, kesesuaian gaya belajar maupun nutrisi. Menurut peneliti, pada saat siswa melakukan interaksi sosial dengan teman sebayanya, siswa bukan hanya mengalami penerimaan ataupun penolakan namun siswa juga akan mengalami tekanan. Tekanan ini disebut dengan peer pressure. peer pressure yang sering dialami remaja dapat menentukan perilaku remaja. Pada usia remaja, anak lebih banyak mendengarkan perkataan atau nasihat teman sebaya dibandingkan orang tua atau guru. Dan hasil penelitian berkaitan dengan peer pressure secara keseluruhan ditemukan bahwa jenis peer pressure yang memiliki persentase tinggi diterima oleh siswa SMA Negeri 1 Kalianda adalah bentuk barang material. adapun peer pressure yang diterima siswa yang ditemukan oleh siswa SMA Negeri 1 Kalianda dari teman sebayanya dari jenis barang material diantaranya adalah siswa cenderung mengikuti cara berpenampilan teman sebaya dan diajak untuk menggunakan/membeli benda-benda yang tidak bermanfaat. Hal ini disebabkan karena siswa sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama teman-temannya baik di sekolah ataupun di luar sekolah sehingga ada kemungkinan siswa mengikuti hal-hal yang menjadi ketentuan dalam kelompoknya dalam hal barang material. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hurlock . yang menjelaskan bahwa remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya, karena itu dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daripada pengaruh keluarga. Peer pressure yang diterima oleh siswa SMA Negeri 1 Kalianda tersebut memiliki kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal misalnya ketakutan tidak diterima dalam kelompok, ketakutan akan pendapat-pendapat yang disampaikan oleh teman-teman, khawatir akan dijauhi oleh teman-teman jika tidak bersedia melakukan hal-hal yang berlaku dalam kelompok teman sebaya. Hal ini sesuai dengan pendapat Gulati . yang menjelaskan beberapa anak menyerah pada tekanan teman sebaya karena mereka ingin disukai, untuk menyesuaikan diri, atau karena mereka memiliki kekhawatiran terhadap anak-anak lain akan mengolok-olok mereka jika mereka tidak mengikuti apa yang sudah diterapkan dalam kelompok. Dari data diatas peneliti menyimpulkan terdapat hubungan positif antara peer pressure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda tahun ajaran 2023/2024. Semakin tinggi peer pressure maka akan semakin tinggi pula identitas diri pada siswa, begitupun Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kalianda, maka dapat diambil kesimpulan yaitu terdapat hubungan yang positif antara peer presure dengan self identity pada siswa SMA Negeri 1 Kalianda. Dari hasil statistik diperoleh nilai Pearson Correlation 0,340 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan yang rendah antara peer pressure dengan self identity pada siswa. Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian, maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil penelitian tersebut dapat diartikan bahwa jika Semakin tinggi peer pressure maka akan semakin baik identitas diri pada siswa, segitupun sebaliknya. Sehingga variabel peer pressure (X) dan variabel self identity (Y) memiliki koefisien determin rA sebesar 0. 340, hal ini berarti peer pressure memberikan kontribusi sebesar 0,11% terhadap self identity pada siswa. Sigma-Mu ISSN 3047Ae2385 (Onlin. | 82 Yuliadini Az Zahra1,Muhammad Nurwahidin2. Shinta Mayasari3 Referensi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Arini. Emerging Adulthood : Pengembangan Teori Erikson mengenai Teori Psikososial pada Abad 21. JurnalIlmiahPSYCHE, 15, 11 Ae20 Daradjat. Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung. Desmita. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya Erikson. Identity: Youth and Crisis. New York: Norton. Gabungan. Guneri. Summer. , & Yildrim. Sources of Self Identity Among Turkish. Jakarta : Penerbit Erlangga. Gulo. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pionir Jaya Kedokteran. Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Padang. Kurniawan. Deni. Pengaruh Pergaulan Teman Sebaya terhadap Identitas DiriPeserta Didik Kelas VII Smp Pawyatan Daha 1 Kediri Tahun Pelajaran 2016/2017. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusantara PGRI Kediri. Kurnawati. Hubungan Konformitas Teman Sebaya Dengan Identitas Diri Remaja Di Smp N 1 Tempel Sleman YogyakartaAy. Skripsi. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Marliani. Rosleny. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Maslakha. Alissa Qotrunnada. Hubungan antara Hope dan Peer Pressure dengan Quarter Life Crisis pada Dewasa Awal. Skripsi. Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Melka. Ahmad. Firman. Sukmawati. , & Gusri. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Penerimaan Teman Sebaya serta Implikasinya dalam Bimbingan dan Konseling. Nariwati. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Teori dan Aplikasi. Bandung: Agung Media Netrawati. Khairani. , & Karneli. Upaya Guru BK untuk Mengentaskan Masalah-Masalah Perkembangan Remaja dengan Pendekatan Konseling Analisis Transaksional. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 2. , 79-90. Pustaka