Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Evaluasi Pelayanan Geriatri Berdasarkan Standar Akreditasi Kemenkes RI (STARKES) di Rumah Sakit YARSI Tahun 2025 Linda fratiwi1. Dedy Nugroho2. Yuli Prapanca Satar3 Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Respati Indonesia Email: linda. Pratiwi17@gmail. ABSTRAK Peningkatan jumlah populasi lansia di Indonesia menuntut pelayanan geriatri yang berkualitas sesuai dengan standar akreditasi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. RS YARSI sebagai salah satu rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan geriatri perlu mengevaluasi implementasi standar akreditasi guna memastikan mutu layanan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pelayanan geriatri di RS YARSI berdasarkan Standar Akreditasi Kemenkes RI (STARKES), mengidentifikasi hambatan, serta memberikan rekomendasi peningkatan mutu pelayanan geriatri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam. FGD (Focus Group Discussio. , observasi, dan telaah dokumen, dengan analisis menggunakan model evaluasi Input-Proses-Output untuk mengidentifikasi kesesuaian dengan standar Hasil analisis gap menunjukkan bahwa RS YARSI telah memenuhi standar dalam aspek regulasi, tim geriatri, edukasi, dan pendanaan, namun masih terdapat kekurangan dalam pembaruan regulasi, kesiapan SDM, fasilitas mandiri, metode edukasi lansia, serta digitalisasi pelaporan dan Dengan tingkat pemenuhan 60-70%. RS YARSI dikategorikan pada jenis layanan tingkat LENGKAP, namun belum mencapai SEMPURNA LANJUTAN. Untuk mencapai standar pelayanan geriatri tingkat sempurna. RS YARSI perlu melakukan pembaruan regulasi internal, peningkatan SDM bersertifikasi geriatri, penguatan fasilitas layanan mandiri, digitalisasi sistem pelaporan dan evaluasi, serta optimalisasi koordinasi antarprofesional. Implementasi strategi ini akan mendukung pencapaian akreditasi penuh dan meningkatkan kualitas pelayanan geriatri secara menyeluruh. Kata Kunci: Pelayanan geriatri, standar akreditasi, evaluasi, mutu layanan, rumah sakit. ABSTRACT The increasing elderly population in Indonesia demands high-quality geriatric care in accordance with the accreditation standards set by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. RS YARSI, as one of the hospitals providing geriatric services, needs to evaluate the implementation of accreditation standards to ensure optimal service quality. This study aims to evaluate the implementation of geriatric services at RS YARSI based on the Ministry of Health Accreditation Standards (STARKES), identify barriers, and provide recommendations for improving the quality of geriatric care. The research employs a qualitative approach using in-depth interviews. Focus Group Discussions (FGD), observations, and document reviews, with analysis based on the Input-ProcessOutput evaluation model to assess compliance with accreditation standards. Gap analysis results indicate that RS YARSI has met the standards in terms of regulations, geriatric teams, education, and However, deficiencies remain in regulatory updates, workforce readiness, independent care facilities, elderly education methods, and the digitization of reporting and evaluation. With a compliance level of 60-70%. RS YARSI is categorized under the COMPLETE service level but has not yet reached the ADVANCED EXCELLENT level. To achieve the highest standard of geriatric care. RS YARSI needs to update internal regulations, enhance the number of certified geriatric healthcare professionals, strengthen independent care facilities, digitize reporting and evaluation systems, and optimize interprofessional coordination. Implementing these strategies will support full accreditation achievement and comprehensively improve the quality of geriatric services. Keywords: Geriatric services, accreditation standards, evaluation, service quality, hospital. Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 PENDAHULUAN Pelayanan geriatri merupakan bagian penting dalam sistem kesehatan global, terutama mengingat peningkatan jumlah lansia secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. WHO . memproyeksikan bahwa pada tahun 2050 jumlah populasi lansia akan mencapai 2 miliar jiwa, meningkat dari 900 juta jiwa pada tahun 2015. Di Indonesia. Badan Pusat Statistik . memperkirakan bahwa populasi lansia akan mencapai 19,9% dari total populasi pada tahun 2045. Peningkatan ini menuntut tersedianya layanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi guna memenuhi kebutuhan kesehatan lansia secara holistik. RS YARSI, sebagai rumah sakit pendidikan, memiliki tanggung jawab dalam menyediakan pelayanan geriatri yang berkualitas sesuai dengan Standar Akreditasi Kemenkes RI (STARKES). Namun, implementasi layanan ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti regulasi yang sudah habis masa berlakunya, keterbatasan tenaga kesehatan yang memiliki pelatihan geriatri, serta fasilitas pelayanan terpadu yang masih perlu ditingkatkan. Observasi awal menunjukkan adanya kendala dalam regulasi, keterbatasan SDM, fasilitas yang belum optimal, serta sistem monitoring dan evaluasi yang masih dilakukan secara Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pelayanan geriatri di RS YARSI STARKES mengidentifikasi kesesuaian layanan dengan standar yang ditetapkan serta memberikan rekomendasi peningkatan kualitas. Pendekatan Input-Proses-Output digunakan dalam analisis Aspek Input mencakup regulasi, ketersediaan SDM, fasilitas, dan pendanaan. Aspek Proses meliputi implementasi edukasi, monitoring, pelaporan, serta Program (PKRS) bagi lansia. Sementara itu, aspek Output berfokus pada kepatuhan layanan geriatri terhadap standar akreditasi sebagai tolok ukur kualitas pelayanan yang diberikan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi evaluatif untuk menganalisis implementasi standar akreditasi pelayanan geriatri di RS YARSI berdasarkan ketentuan Kemenkes RI. Pengumpulan snowballing. FGD, observasi, dan telaah Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara, checklist data, dan alat Data dianalisis dengan reduksi, penyajian dalam narasi dan tabel, serta triangulasi untuk meningkatkan validitas HASIL INPUT Regulasi Berdasarkan wawancara dengan para informan, tentang regulasi. Sbb : Tabel 1. Matriks Hasil Wawancara Regulasi dan kebijakan Pertanyaa IK1 IP1 Apakah Regulasi RS Yarsi Ya, ada oleh tim i, regulasi POKJA pelayanan akreditas geriatri sudah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Sakit YARSI telah memiliki kebijakan dan regulasi terkait pelayanan geriatri yang disusun oleh tim POKJA akreditasi serta mengacu pada standar nasional, seperti Peraturan Menteri Kesehatan dan STARKES. Meskipun regulasi ini telah diterapkan dalam layanan rawat inap dan rawat jalan, integrasi sistem one-stop service masih belum optimal. Observasi menunjukkan bahwa implementasi regulasi memerlukan evaluasi lebih lanjut agar seluruh tenaga medis memahami dan menjalankan Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 kebijakan dengan baik. Selain itu, hasil telaah dokumen menemukan bahwa SK Pelayanan Geriatri yang dibuat pada tahun 2022 telah habis masa berlakunya pada 2024, dan belum ada buku pedoman SOP yang secara spesifik mengatur tata laksana pelayanan geriatri, sehingga diperlukan revisi kebijakan serta penyusunan SOP yang lebih komprehensif untuk meningkatkan kualitas layanan. SDM (TIM GERIATRI) Berdasarkan wawancara dengan para informan, tentang SDM (Tim Geriatr. Sbb: Tabel 2. Matriks Wawancara Mendalam SDM (Tim Terpad. Pertanyaan IK1 IP1 Sudah dengan SK. Apakah tim terdiri dari SK tim Sudah dalam, jiwa, saraf, gizi. Tabel 3. Telaah Dokumen SDM (Tim Terpad. Tim Terpadu Geriatri di RS YARSI telah dibentuk sesuai standar akreditasi dengan SK Nomor 106/KEP/DIRUT/RSY/I/2022, mencakup dokter spesialis dan tenaga medis Namun, implementasi menghadapi kendala seperti keterbatasan regulasi BPJS yang menghambat layanan multidisiplin dalam satu kunjungan, tingginya angka pergantian E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 tenaga kesehatan tanpa mekanisme regenerasi, serta minimnya tenaga bersertifikasi geriatri. Kurangnya komunikasi antar tim juga berdampak pada koordinasi layanan. Untuk mekanisme regenerasi tim, peningkatan komunikasi, serta pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan. Fasilitas Pelayanan Geriatri Berdasarkan wawancara dengan para informan, tentang fasilitas pelayanan geriatri. Sbb: Tabel 4. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Fasilitas Pelayanan IP1 Fasilitas Poli rawat jalan Alur jelas, geriatri belum tetapi perlu Fasilitas one-stop standar, area khusus Layanan service, masih Geriatri perlu bed bercampur reclining dengan Tabel 5. Observasi Fasilitas Pelayanan Geriatri Fasilitas pelayanan geriatri di RS YARSI belum optimal, terutama dalam penerapan onestop service di rawat jalan. Informan 1 menjelaskan bahwa poliklinik geriatri telah disiapkan di ruang medical check-up dengan akses ke laboratorium dan radiologi, namun Informan ketersediaan fasilitas dasar seperti toilet dan musala, tetapi kurangnya pegangan tangan dan area khusus masih menjadi kendala. Informan 3 menyatakan bahwa alur pelayanan sudah jelas, tetapi masih bergabung dengan pasien umum. Observasi menunjukkan bahwa Geriatri Center Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 One-Stop Service belum ada, ruang tunggu dan administrasi masih bercampur, serta alur pelayanan belum efektif bagi lansia dengan Selain ketidaksesuaian jadwal dokter spesialis menghambat kesinambungan layanan. Telaah dokumen menunjukkan bahwa fasilitas geriatri belum terdokumentasi secara rinci dalam daftar fasilitas rumah sakit. Pendanaan Berdasarkan wawancara dengan para informan tentang pendanaa. Sbb: Tabel 6. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Pendanaan Pertanyaan IP1 "Pendanaa "Sumber n berasal "Pendanaa dana dari dari klaim Bagaiman n bisa BPJS a sumber ditanyakan sakit. JKN sesuai manajemen mendukung dana hibah sepenuhny tersedia sakit, saya a, hanya tidak tahu untuk " pasien Berdasarkan wawancara dengan manager keuangan rumah sakit yarsi, peneliti Menanyakan bagaimana mekanisme pendanaan untuk pelayanan geriatri, kutipan jawaban dari informan adalah sebagai berikut: Tabel 7. Matriks Hasil FGD Pendanaan Pertanyaan IK2 Pelayanan geriatri dibiayai Bagaimana secara mandiri oleh rumah pendanaan untuk Pendanaannya berasal dari BPJS, asuransi, geriatri di rumah atau pasien pribadi sesuai sakit ini? Apakah penjaminan masing-masing. ada sumber Rumah sakit menggunakan metode penghitungan unit khusus dari cost untuk menentukan tarif layanan, yang mencakup asuransi, atau biaya operasional, jasa pihak lain? E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Pelatihan SDM anggaran tahunan, dengan sponsor dari pihak farmasi untuk mendukung pelatihan. Pendanaan pelayanan geriatri di RS YARSI dijelaskan dengan perspektif berbeda. Informan 1 mengarahkan pertanyaan ke manajemen rumah sakit, khususnya manajer medis. Informan 2 menyatakan bahwa pendanaan berasal dari rumah sakit, sementara JKN belum sepenuhnya mendukung layanan geriatri. Informan 3 menjelaskan bahwa dana diperoleh dari klaim BPJS berdasarkan diagnosis, dengan tambahan dari anggaran rumah sakit dan hibah non-khusus. Manajer mengungkapkan bahwa pendanaan awal berasal dari korporat PT, sementara operasional bergantung pada klaim BPJS, asuransi swasta, dan pembayaran pribadi. Tarif layanan ditentukan melalui unit cost, mencakup jasa medis, kamar, makanan, dan operasional Anggaran tahunan mencakup pelatihan tenaga medis, didanai dari pendapatan rumah sakit dengan kemungkinan dukungan sponsor PROSES Pogram PKRS Warga Lanjut usia Berdasarkan wawancara kepada para informan, tentang Program PKRS. Sbb: Tabel 8. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Progrm PKRS Pertanyaan IK1 IP1 Kolaborasi YARSI Senior Klipsa. Peran Layanan Club: senam Kampung Makpiro, & PKRS rutin, kerja lansia untuk sama dengan edukasi, & Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 Program PKRS YARSI Informan 1 menyebutkan bahwa YARSI Senior Club memfasilitasi lansia sehat melalui senam, pemeriksaan gratis, dan kerja sama dengan komunitas lansia. Informan 2 menekankan integrasi pelayanan geriatri dengan PKRS, menghubungkan layanan medis dengan kegiatan promotif. Informan 3 menyoroti kolaborasi dengan komunitas eksternal seperti Klipsa dan pesantren lansia dalam kegiatan edukasi dan pemeriksaan Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan tenaga medis (Informan . , kurangnya pemahaman tenaga kesehatan tentang sistem rujukan geriatri (Informan . , serta rendahnya kepatuhan lansia dan keterbatasan cakupan BPJS (Informan . FGD menunjukkan partisipasi lansia dalam senam masih rendah, sementara telaah dokumen informasi PKRS yang lebih sistematis. Edukasi Berdasarkan wawancara kepada para Informan, tentang edukasi program. Sbb : Tabel 9. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Edukasi Pertanyaan IK2 IP1 Edukasi rawat inap & jalan Dilakuka Keluarga Efektivita s edukasi langsung memahami, lansia butuh spesialis pendamping nutrisi, & Berdasarkan hasil wawancara dan FGD. Edukasi pelayanan geriatri di RS YARSI bertujuan meningkatkan pemahaman lansia dan keluarga tentang perawatan kesehatan, terutama manajemen penyakit kronis, kepatuhan berobat, pola makan, aktivitas fisik, serta kesehatan mental dan sosial. Informan 1 menyebutkan E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 edukasi diberikan pada pasien rawat inap dan rawat jalan, termasuk tanda bahaya dan peran keluarga dalam pencegahan komplikasi. Informan 2 menambahkan bahwa edukasi dilakukan oleh spesialis geriatri, namun efektivitasnya bergantung pada pemahaman Informan 3 menyoroti pentingnya pendampingan, terutama bagi lansia dengan keterbatasan kognitif. Kendala utama adalah minimnya dukungan keluarga, kondisi fisik atau kognitif lansia, serta keterbatasan media Observasi menunjukkan edukasi telah mencakup gizi, pengobatan, dan aktivitas fisik, namun ketersediaan media promosi masih perlu . Pelaporan Berdasarkan wawancara kepada para Informan, tentang Pelaporan. kutipan jawaban dari informan adalah sebagai berikut : Tabel 42. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Pelaporan Pertanya IP1 Pelaporan triwulanan,na mun masih Data Apakah dkumpulk Seharusn an oleh ya masing- plaporan masing dlakukan indikator mutu POKJA secara agar lebih baik, termasuk triwulan. Berdasarkan FGD dengan pihak managemen mutu, peneliti meninjau frekuensi pelaporan pelayanan geriatri, pihak yang bertanggung jawab atas pelaporan, serta pihak yang menerima laporan tersebut. Berikut petikan Jawab Informan: Tabel 10. Matriks Hasil FGD Kelengkapan Pelaporan Pertanyaan Sistem & Jawaban IP3 Pelaporan bulanan, direkap Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Pertanyaan Mekanisme Pelaporan jika perlu. Jawaban IP3 triwulanan, disampaikan ke direktorat medis. Unit terkait melapor Frekuensi & bulanan, direkap tiga bulan. Tanggung Jawab untuk perbaikan layanan. Dievaluasi direksi untuk Penggunaan peningkatan mutu, termasuk Laporan jadwal dokter spesialis. Berdasarkan jawaban Informan 1, pelaporan pelayanan geriatri di RS YARSI dilakukan setiap triwulan, namun masih perlu perbaikan, terutama dalam pencatatan indikator mutu Saat ini, data masih dicatat secara manual menggunakan spreadsheet, dan sedang diupayakan agar instrumen assessment geriatri dapat diintegrasikan ke dalam rekam medis untuk mempercepat pengambilan data. Informan 2 menambahkan bahwa setiap POKJA juga melakukan pelaporan triwulanan, yang menunjukkan adanya koordinasi antarunit dalam memastikan kelangsungan layanan Sementara itu. Informan 3 menegaskan bahwa pelaporan harus dilakukan secara rutin untuk memastikan evaluasi yang berkelanjutan, meskipun masih ada tantangan dalam Secara meskipun pelaporan sudah berjalan secara berkala, sistem pencatatan yang masih manual berpotensi menyebabkan keterlambatan dan kesalahan dalam pengolahan data, sehingga diperlukan sistem pelaporan yang lebih terstruktur dan terintegrasi agar monitoring dan evaluasi dapat dilakukan secara lebih efektif. Monitoring dan Evaluasi Wawancara peneliti kepada para informan tentang monitoring dan evaluasi. Sbb: Tabel 11. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Monev Prtanyaan IK2 IP1 Laporan Evaluasi dari tim Incident POKJA, report Monitoring & Evaluasi ke bagian diteruskan mutu. ke BOD Prtanyaan IK2 IP1 Berdasarkan FGD dengan manajemen mutu tentang Monitoring dan Evaluasi pelayanan geriatri ditemukan jawaban sebagai berikut: Pertanyaan Jawaban IP3 Dilakukan sesuai standar akreditasi, meski belum Pemantauan & Beberapa indikator Evaluasi masih perlu perbaikan. Data Pelayanan dikirim ke bagian mutu. Geriatri indikator diperbaiki, dan unit menindaklanjuti umpan balik. Monitoring dan evaluasi (Mone. pelayanan geriatri di RS YARSI dilakukan berkala oleh Informan 1 menyebutkan bahwa evaluasi mengidentifikasi kendala seperti kurangnya perawat terlatih, dengan rencana pelatihan tambahan. Informan 2 menjelaskan bahwa laporan Monev disusun tim POKJA, dibahas di komite mutu, dan diteruskan ke BOD jika ada ketidaksesuaian. Informan 3 dilaporkan ke bagian mutu jika ditemukan FGD menunjukkan bahwa evaluasi dilakukan sesuai standar akreditasi, namun belum maksimal. Tindak lanjut meliputi integrasi Monev dengan rekam medis, pembentukan tim home care, dan analisis laporan mutu. Audit poliklinik geriatri dilakukan tiap tiga bulan, dengan umpan balik direktur pada bulan keempat. Sistem Monev yang masih manual dinilai kurang efisien, sehingga perlu digitalisasi untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas. PROSES Capaian Kepatuhan Terhadap Standar Akreditasi Berdasarkan wawancara informan tentang capian tingkat kepatuhan pelayanan geriatri. Sbb : Tabel 12. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Capian Kepatuhan Pertanyaan IK1 Bagaiman Tantanga Masih a capaian n utama belum Standar Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 kepatuhan monev, pelayanan perlu terhadap dengan memenuhi, terpenuhi, pendanaan respit care keterbatasa pelayanan n dukungan paripurna JKN. sudah ada. Kemudian peneliti menanyakan kembali kepada informan elemen apa saja yang sulit Kutipan jawaban Sbb : Tabel 13. Matriks Hasil Wawancara Mendalam Elemen yang sulit dipenuhi Pertany Evalua Tantang Kendala Sertifika maksim ruang di si perawat fasilitas Elemen terbatas, gabung Standar masih pasien Sulit didampi umum. Dipenuh & alur multidisip perawat mutu Informan 1 (IK) menyoroti integrasi sistem monev yang belum optimal dan keterbatasan pembiayaan JKN dalam mendukung layanan Informan 2 (IU) mencatat tata ruang belum sesuai standar karena rawat jalan dan inap seharusnya satu lantai, sementara tenaga medis bersertifikasi masih minim dan pemahaman tim multidisiplin belum merata. Informan 3 (IP) menekankan pelaporan belum maksimal, fasilitas geriatri masih tergabung dengan layanan umum, dan standar mutu 90% sulit dicapai, sehingga diusulkan penurunan menjadi 80%. Observasi menunjukkan standar akreditasi belum terpenuhi akibat regulasi kedaluwarsa, minimnya SDM, serta jadwal dokter spesialis yang tidak sesuai. Belum adanya Geriatri Center one-stop service juga menghambat akses pasien, sehingga diperlukan E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 pembaruan regulasi, peningkatan SDM, dan perbaikan sistem layanan. PEMBAHASAN INPUT Regulasi Penerapan regulasi pelayanan geriatri di RS YARSI telah sesuai dengan kebijakan internal No. HK. 02/D/47104/2024. Namun, terdapat kendala, seperti belum optimalnya implementasi PMK No. 79 Tahun 2014 akibat keterpisahan ruang layanan dan kurangnya koordinasi antarprofesi. SK Pelayanan Geriatri 2022 yang sudah kedaluwarsa perlu diperbarui, sementara ketiadaan buku pedoman SOP yang Mekanisme rujukan internal dan komunikasi antar tenaga kesehatan juga perlu Untuk meningkatkan kualitas layanan, diperlukan perbaharuan regulasi dan pedoman teknis yang lebih terarah (WHO, . SDM (Tim Terpad. Pelayanan geriatri RS YARSI telah membentuk tim terpadu sesuai HK. 02/D/47104/2024, namun keterbatasan perawat gerontik dan koordinasi tim masih menjadi kendala. Beberapa anggota tim telah keluar, sementara hanya sedikit tenaga kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan geriatri, memengaruhi asesmen pasien dan manajemen terapi. BieE et . menekankan pentingnya kesiapan tenaga medis dan komunikasi tim. RS YARSI perlu meningkatkan pelatihan, sertifikasi, dan supervisi guna memastikan kompetensi tenaga kesehatan dalam layanan geriatri. Fasilitas Pelayanan Geriatri Fasilitas pelayanan geriatri di RS YARSI belum optimal sesuai standar akreditasi tingkat jenis layanan, terutama dalam pengelompokan area khusus dan aksesibilitas lansia. Layanan masih tersebar di beberapa lantai, bercampur dengan poli umum, dan jadwal dokter spesialis belum terkoordinasi baik. PMK No. 79 Tahun 2014 mengamanatkan layanan geriatri yang mandiri, sementara standar akreditasi terbaru menetapkan fasilitas ini sebagai indikator mutu. Studi Mukherjee & Chaturvedi . Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 meningkatkan keselamatan pasien. RS YARSI mengoptimalkan alur pasien, serta memisahkan area geriatri untuk memenuhi standar dan meningkatkan kualitas pelayanan khususnya di poli rawat jalan. edukasi berkesinambungan. RS YARSI perlu meningkatkan akses media, keterlibatan keluarga, dan metode penyampaian yang lebih adaptif agar edukasi lebih efektif. Pendanaan Pelayanan Geriatri Pelaporan rutin pelayanan geriatri di RS YARSI telah sesuai standar akreditasi, namun masih terkendala kelengkapan dan akurasi data. Pencatatan manual dengan spreadsheet kurang efisien, sementara PMK No. 79 Tahun 2014 menekankan pelaporan sistematis. Studi Santoso et al. dan Hidayat & Prasetyo . menunjukkan bahwa sistem digital meningkatkan akurasi dan efisiensi. RS YARSI perlu mengembangkan sistem pelaporan digital terintegrasi untuk optimalisasi evaluasi, pengambilan keputusan, dan peningkatan mutu Pendanaan layanan geriatri RS YARSI berasal dari modal korporat, klaim BPJS, asuransi swasta, dan pembayaran pribadi, namun pemanfaatannya layanan masih rendah. PMK No. 79 Tahun 2014 menekankan pentingnya pendanaan yang memadai. Studi Kotler & Keller Rahman menyarankan strategi pemasaran digital untuk meningkatkan kesadaran dan keberlanjutan RS YARSI perlu mengoptimalkan pemasaran dan pendanaan guna meningkatkan pemanfaatan layanan. INPUT Program PKRS Warga Lanjut Usia PKRS RS YARSI telah berjalan sesuai HK. 02/D/47104/2024, mencakup promosi kesehatan lansia, aktivitas fisik, dan kerja sama Namun, tantangan masih ada dalam tim multidisiplin/ SDM terlatih yang memberikan promosi, fasilitas ramah lansia, dan rujukan geriatri. PMK No. 79 Tahun 2014 menekankan layanan komprehensif, sementara Wahyuni et al. dan Sari & Nugroho . menyoroti pentingnya pendekatan multidisiplin dan sarana pendukung. YARSI perlu memperkuat tenaga medis, fasilitas, dan kerja sama komunitas untuk meningkatkan aksesibilitas dan keberlanjutan layanan geriatri. Edukasi Program edukasi geriatri RS YARSI sudah sesuai dengan Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan No. HK. 02/D/47104/2024 edukasi yang diberikan mencakup kepatuhan berobat, manajemen penyakit, pola makan sehat, dan aktivitas fisik, namun masih terkendala minimnya media edukasi seperti brosur, pamflet, dan pemanfaatan media sosial, serta kurangnya dukungan keluarga dalam penerapan informasi, sementara Prasetyo et al. dan Rahmawati & Setiawan . menyoroti pentingnya pendekatan keluarga dan . Pelaporan Pelayanan Geriatri . Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi (Mone. pelayanan geriatri di RS YARSI telah sesuai Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan Nomor HK. 02/D/47104/2024, retrospektif, pelaporan POKJA, dan evaluasi Namun, tantangan masih ada dalam integrasi sistem informasi dan koordinasi lintas PMK No. 79 Tahun 2014 menekankan pemantauan terpadu, sementara studi Wahyuni et al. dan Sari & Nugroho . menyoroti manfaat digitalisasi Monev. YARSI perlu mengintegrasikan Monev ke rekam medis elektronik, meningkatkan kompetensi tenaga medis, dan memperkuat koordinasi agar layanan lebih efektif. OUTPUT Pelayanan geriatri RS YARSI telah mencapai tingkat lengkap namun belum sempurna sesuai Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan Nomor HK. 02/D/47104/2024 dan PMK No. Tahun 2014. Kendala utama meliputi fasilitas yang belum terintegrasi sesuai tingkat jenis layanan, akses pasien yang masih terhambat, regulasi internal yang perlu diperbarui, keterbatasan tenaga terlatih geriatri, dan jadwal dokter yang tidak konsisten. Selain itu, ketiadaan Geriatri Center berbasis one-stop Untuk meningkatkan mutu. RS YARSI perlu menyediakan fasilitas terintegrasi, menambah tenaga medis, memperbarui regulasi, dan Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 mendigitalisasi pelaporan agar layanan lebih KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian dan kesenjangan implementasi standar pelayanan geriatri di RS YARSI dengan kebijakan dalam Kepdirjen Yankes No. HK. 02/D/47104/2024 dan Permenkes No. 79/2014 berdasarkan wawancara. FGD, observasi, serta telaah Tabel 55 Kesimpulan Gap Penelitian Kesimpulan Analisis Gap: RS YARSI telah memenuhi sebagian besar standar layanan geriatri, termasuk regulasi, tim geriatri, edukasi, dan pendanaan. Namun, masih terdapat kekurangan dalam pembaruan regulasi, kesiapan SDM, fasilitas mandiri, metode edukasi lansia, serta digitalisasi Dengan tingkat pemenuhan 60-70%. RS YARSI berada dalam kategori tingkat LENGKAP SEMPURNA LANJUTAN jika rekomendasi perbaikan diterapkan secara optimal untuk mendukung akreditasi penuh dan meningkatkan kualitas layanan. DAFTAR PUSTAKA