KONSEP ETIKA NILAI MAX SCHELER DAN ANALISIS TERHADAP AKSIOLOGINYA Benediktus Titirloloby Seminari Tinggi Fransiskus Xaverius. Poka Rumah Tiga. Ambon Email: titirloloby@gmail. Abstrak Dengan melihat fakta dunia sekarang tentang cara berpikir manusia dan tindakannya yang terlalu cepat menilai orang lain membuat penulis merasa tertarik menelusuri hal ini. Terhadap realitas ini, penulis memilih konsep etika nilai Max Scheler yang menyajikan cukup buah pemikiran untuk mengkaji hal ini. Dengan alasan ini penulis mempresentasikan konsep etika nilai Max Scheler tentang nilai-nilai material yang khas dirinya untuk menjawab realitas tersebut. Penulis dengan singkat dan padat mendeskripsikan pandangan umum dan permasalah tentang nilai dengan tujuan membuat perbandingan dengan etika nilai Scheler. Dengan begitu penulis berusaha mengangkat secara lebih kentara manakah ciri khas etika nilai dari Scheler. Selanjutnya, penulis berusaha untuk membuat analisis terhadap aksiologinya. Di sini, penulis akan memperlihatkan manakah gagasangagasan yang Scheler gunakan untuk menyusun etika nilainya yang dikritik maupun didukung oleh beberapa pemikir dan juga menunjuk kelemahan dan keunggulan dari aksiologinya yang berguna sebagai pendasaran tindakan moral manusia. Tujuan penulisan ini adalah untuk menjawab persoalan di atas. untuk membuat suatu analisis yang dilanjutkan dengan refleksi terhadap aksiologi Max Scheler demi menunjuk kelemahan dan keunggulan etika nilainya. Juga, melihat sumbangan etika nilai dan aksiologi Max Scheler bagi ilmu etika dan pertimbangannya bagi kehidupan manusia. Kata Kunci: Max Scheler. Etika. Nilai dan Analisis. Abstract The facts of the world today about the way humans think and act too quickly to judge others makes the author feel interested in exploring this matter. Regarding this reality, the author chooses the concept of the ethics of value Max Scheler, which provides enough ideas to study this matter. For this reason, the author presented the concept of the ethics of Max Scheler's values about material values that are unique to him to answer this reality. The author briefly and concisely describes general views and issues regarding values in order to make comparisons with Scheler's ethical In this way the author tries to raise more clearly what is the characteristic of Scheler's ethics of values. Next, the writer tries to make an analysis of the axiology. Here, the author will show which of the ideas Scheler used to construct his ethical values which were criticized and supported by some thinkers and also pointed out the weaknesses and advantages of his axiology which are useful as a basis for human moral action. The purpose of this paper is to answer the above problems. to make an analysis followed by a reflection on Max Scheler's axiology in order to point out the weaknesses and advantages of his value ethics. Also, see the contribution of the ethics of values and axiology of Max Scheler for the science of ethics and its considerations for human life. Keywords: Max Scheler. Ethics. Values and Analysis. PENDAHULUAN Manusia yang bermoral sesungguhnya tak bisa hidup tanpa nilai. Moralitas setiap tindakan manusia mengarah pada nilai-nilai tertentu baik disadari maupun tidak disadari. Ada orang yang mungkin saja bertindak tanpa sadar hanya karena mengikuti kebiasaan hariannya dan berpikir bahwa apa yang ia lakukan tidaklah terlalu berguna atau tidak bernilai karena tidak ada kaitannya dengan apa pun. Atau sebaliknya, ada orang yang dengan kesadaran penuh dan karena itu sangat berhati-hati dalam bertindak untuk menjaga agar setiap tindakan yang dilakukannya mempunyai bobot nilai AubaikAy tertentu. Ada pula tanggapan lain dari luar diri kita yaitu sesama kita yang atas cara tertentu dan dalam waktu tertentu sesekali dapat melihat dan menilai tindakan yang kita perbuat baik secara sadar maupun secara tidak sadar. Di lain pihak, persoalan tentang nilai tidak hanya melekat pada perbuatan manusia yang dapat dikatakan atau disadari sebagai AubaikAy, namun ada juga kategori dari benda-benda tertentu yang padanya entahkah orang mengatributkan nilai AuindahAy ataukah benda itu yang bernilai pada dirinya sebagai AuindahAy. Lebih daripada itu, terdapa pula nilai-nilai yang bukan bersifat material seperti nilai-nilai rohani/spiritual yang darinya atau karenanya seseorang terkadang dikatakan sebagai orang baik, saleh, suci dan bertakwa kepada Allah. Tentu saja masih banyak lagi nilai-nilai yang lain. Jelas, ada begitu banyak pengertian tentang nilai karena terkadang nilai dipandang sebagai suatu hal yang dapat berubah-ubah. Dalam benak banyak orang, nilai itu bersifat subyektif belaka sehingga setiap perbuatan manusia selalu diberi nilai. Hal itu mengasumsikan bahwa nilai itu tergantung pada setiap orang dan bukannya bersifat apriori. Bila demikian adanya maka setiap perbuatan yang manusia lakukan akan bersifat relatif dan tidak ada suatu patokan/tolak ukur tertentu yang dapat berlaku secara umum. Persoalan-persoalan seperti yang terlihat di atas adalah suatu rangsangan bagi penulis untuk mengkaji lebih jauh dalam sudut pandang etika apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan nilai. Apakah nilai itu bersifat subjektif ataukah objektif ataukah memang kedua-duanya. Penulis berusaha mengkaji hal ini dengan bertolak dari konsep etika nilai Max Scheler. Baginya, nilai bukanlah sesuatu yang bersifat subjektif belaka, namun lebih daripada itu, nilai sesungguhnya bersifat material, objektif dan apriori. Baginya, setiap perbuatan manusia seharusnya terarah kepada nilai-nilai tertentu. Nilai seharusnya diperjuangkan lewat kemampuan-kemampuan manusia yang tidak hanya secara rasional tetapi juga secara emosional-intuitif yang tertanam dalam hati setiap II. KAJIAN LITERATUR Dalam hidup setiap hari, baik disadari maupun tidak disadari, manusia selalu berbicara dan menyinggung tentang nilai. Ini memperlihatkan bahwa nilai begitu penting dalam kehidupan manusia. Nilai menjadi suatu tolak ukur, tingkatan perilaku dan juga sebagai sarana berperilaku. Pada zaman Yunani kuno, dikala filsafat baru mulai berkembang dan mendapat tempat penting dalam tatanan dunia pendidikan, secara khusus di zaman Plato, nilai (Valu. masih dimengerti dalam konteks Auyang adaAy . Being, yang merupakan hakikat dasar penemuan filsafat tentang realitas, terkadang dimengerti juga sebagai nilai. Bilamana di zaman ini orang berbicara tentang nilai . , yang dimaksudkan ialah AuadaAy atau being. Dapat dikatakan perhatian secara khusus terhadap pentingnya nilai masih kabur dalam zaman itu. Perhatian terhadap pentingnya nilai, baru mendapat tempatnya pada abad ke-19. Dalam masa ini, hal-hal seperti keadilan, kebaikan, keindahan dan kebenaran dilihat secara khusus sebagai nilai. Di sini hal-hal serupa mulai dibuat distingsi dengan nilai. 2 Kemudian muncul perbedaan pemahaman tentang yang ada . sebagai fakta dengan nilai . sebagai yang memiliki karakteristik tersendiri. Konsekuensinya, muncul sesuatu yang dimengerti sebagai aksiologi, yang berbicara secara khusus tentang hakikat nilai. Max Scheler . ilsuf dan etikawa. memberikan gambaran tentang nilai. Pikiran Scheler tentang nilai dapat dilihat dalam bukunya yang berjudul Etika Formalisme dan Etika Nilai Material (Der Formalismus in der Ethik und die Materiale Wert Ethi. Baginya, nilai bercorak apriori, objektif dan material. Nilai tidak tergantung pada manusia atau mendahului tangkapan manusia, nilai bukanlah bersifat subjektif atau dibuat berdasarkan rasio Lebih daripada itu, nilai itu ada dalam kehidupan manusia dan termuat dalam benda-benda yang membawa nilai dan sangat spesifik atas realitas hidup manusia. Scheler juga menegaskan bahwa untuk dapat sampai pada pemahaman tentang nilai yang dimaksudkan maka tak dapat lepas dari fenomenologi yang dikembangkannya dari Edmund Husserl. Corak apriori nilai pun menyebabkan nilai bebas dari perubahan, baik itu perubahan yang terjadi pada pembawa nilai . arrier of valu. maupun pada tanggapan manusia. Nilai itu obyektif karena ia ada dalam keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh sesuatu yang lain, bahkan tidak oleh kehendak manusia. Kehendak manusia yang kuat sekalipun tak dapat merubah obyektivitas nilai. Hal ini turut ditegaskan oleh Quantin Lauer menjelaskan pendapat Scheler sebagai berikut: Bdk. Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20 (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Ing. Distinction. dari bahasa Latin distinction, distinctus . emisahan, pembedaan, penjaringa. Kegiatan kesadaran dalam merefleksikan perbedaan obyektif antara benda-benda atau hal-hal atau unsur-unsur kesadaran . enginderaan, konsep dl. Lorens Bagus. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1. , hlm. Bagi Scheler adalah tidak cukup bahwa sebagai objek yang dimaksudkan dalam operasi intelektual, secara sederhana menjadi objek dari tindakan berdasarkan keinginan. Harus ada yang menghendaki suatu aspek nilai yang menjadikannya sebagai objek dari keinginan . haruslah diusahakan sebuah distingsi operasi kognitif yang mana merangkul secara tepat di bawah formalitas ini. Operasi ini ia sebut "emosional" untuk membedakannya dari operasi rasional intelektual. Nilai itu bersifat material artinya nilai itu ada dan hidup secara konkret dalam dunia manusia dan bendabenda yang mengandung nilai. Terhadap hal ini. Scheler pun menembukan dan membuat tingkatan-tingkata dalam nilai dan kriteria-kriteria yang menentukan tingkatan-tingkatan nilai tersebut. Terdapat 5 kriteria dan empat tingkatan nilai. Scheler juga membahas tentang hubungan nilai dan persona / manusia yang adalah satu kesatuan Menurut Scheler, antara persona . ang khas dariny. dan nilai terjadi hubungan terikat dan timbal balik. Di sini, ia memperilhatkan peran dari perasaan manusia yang disebutnya Intensionality feeling sebagai sarana utama manusia dalam menangkap nilai dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. METODE Penelitian ini menggunakan motode library research, yang diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat dan mengolah bahan penelitian dengan 4 ciri utama yakni: Pertama, bahwa peneliti berhadapan langsung dengan teks atau data angka, bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan. Kedua, data pustaka bersifat Ausiap pakaiAy artinya peniliti tidak terjun langsung ke lapangan karena peneliti berhadapan langsung dengan sumber data yang ada di perpustakaan. Ketiga, bahwa data pustaka terdiri atas data primer dan sekunder. Terdapat beberapa sumber primer dari Max Scheler dan pemikirannya, juga sumber sekunder tentang dirinya dan pemikirannya. Keempat, bahwa kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan dengan hal tersebut di atas, maka pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan menelaah dan/atau mengekplorasi beberapa jurnal, buku, dan dokumen-dokumen lainnya yang dianggap relevan dengan penelitian atau kajian. IV. KONSEP ETIKA NILAI MAX SCHELER DAN ANALISIS TERHADAP AKSIOLOGINYA Biografi. Karya Dan Latar Belakang Pemikiran Max Scheler Secara garis besar, pada bagian ini ada beberapa hal yang patut dikatakan tentang Max Scheler. Pertama, mengenai kehidupan keluarga, kisah cinta dan pendidikannya. Max Scheler lahir pada tanggal 22 Agustus 1874, di Munchen, ibukota daerah Bayern. Jerman Selatan, dengan menyandang nama lengkap Max Ferdinand Scheler. Ia dilahirkan dalam keluarga yang unik: orang tua yang berbeda agama, dan dirinya yang kemudian memilih menjadi seorang Katolik. Ia adalah seseorang yang terus mencari jati dirinya dalam segala hal baik lewat karyakaryanya maupun lewat kehidupan pribadinya. Pencarian jati diri itu terus berlanjut dalam masa dewasanya secara khusus saat ia dimabuk cinta. Scheler adalah pria yang kuat dalam hal cinta dan membutuhkan cinta dari wanita untuk menyemangati dia dalam hidupnya khususnya dalam menemukan inspirasi baru untuk karya-karyanya. Ada tiga wanita dalam hidupnya, namun yang paling ia cintai dan menjadi salah satu dorongan inspirasi baginya adalah Marit Furtwangler. 4 Karena cinta dan wanita. Scheler memiliki gambaran ideal wanita sempurna yang harus mengkombinasikan empat sosok: ibu, kekasih, biarawati dan pelacur [Nota 1971, . 5 Dalam kenyataannya tidak ada wanita yang demikian yang menjadi milik Scheler. Sejak di bangku pendidikan. Scheler telah memperlihatkan minatnya pada filsafat. Ia gemar membaca terutama mempelajari tulisan-tulisan Nietzsche dan Karl Marx. Di dalam pendidikannya, ia berjumpa dengan beberapa tokoh/pemikir, salah satu yang paling berjasa yakni Husserl. 6 Terdapat beberapa karya Scheler yang For Scheler it is not enought than an object intended in an intellectual operation simply become an object for the operation willing. There must be in the which is willed a value aspect which makes of it an object of willing . it must be intended a distinct cognitive operation which grasps it precisely under this formality. This operation he calls "emotional" to distinguish it from the rational operation of intellection. Lauer. AuThe Phenomenological Ethics of Max Scheler,Ay International Philosophical Quarterly I (May, 1. , hlm. Paulus Wahana. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20 (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Bdk. Paulus Wahana. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. dikembangkan selama berada di bangku pendidikan maupun dalam situasi zaman itu, yakni pecahnya perang dunia I. Salah satu karyanya yang terkenal dala bidang etika dituangkan dalam bukunya yang berjudul Der Formalismus in der Ethik und die Material Wertethik Ae Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material. Kedua, tanggapan dan kritik terhadap etika formal Kant. Perlu diperhatikan bahwa salah satu dasar Scheler dapat mengkritik etika formal Kant yakni latar belakang metode berfilsafatnya yang khas yakni fenomenologi, dan juga ia menambahkan pemikirannya yang unik tentang emosi yang kadangkala luput dari fokus pemikiran banyak filsuf besar, termasuk Kant. Setelah melontarkan beberapa kritik terhadap etika kewajiban Kant secara khusus atas imperatif kategoris yang menjadi terminologi Kant. Scheler akhirnya mengomentari bahwa etika Kant sangat formal dan tidak berbobot. Menurutnya, etika Kant tak dapat diterapkan pada situasi konkret dan khusus sebab pada situasi tertentu kita tidak tahu mana yang wajib dan mana yang tidak wajib. 7 Tidak hanya semata-mata mengkritik etika formal Kant, ia juga berusaha mengatasi pemikiran Kant dengan mengembangkan etika material atau yang popular dikenal sebagai etika nilai/aksiologi. Ketiga, fenomenologi sebagai metode atau sarana berfilsafat. Pada awalnya Scheler terpengaruh dan mendapat inspirasi dari Husserl sebagai orang pertama yang mempopulerkan fenomenologi sebagai sebuah ilmu yang rigor. 8 Scheler mengaku berhutang budi pada Husserl. Namun dalam perkembangannya, ia menemukan jalan baru yang berbeda dari Husserl. 9 Ia tidak melihat fenomenologi sebagai sebuah ilmu, melainkan sebagai metode atau sarana dalam berfilsafat. Atas dasar inilah, ia mulai memberikan tanggapan atas fenomenologi Husserl. satu pihak, ia memperlihatkan kemiripan fenomenologinya dengan Husserl, namun di pihak lain, ia memperlihatkan ciri khas fenomenologinya yang berbeda dari Husserl. Salah satu sumbangan terbesar Scheler dalam fenomenologi yakni menunjukkan tentang peran emosi/perasaan manusia. Ia menyebutnya intentional feelings atau perasaan intensional, yakni perasaan yang sungguh terarah kepada sesuatu, dalam hal ini kepada nilai-nilai yang tampak dalam realitas. 10 Dengan metode fenomenologi ini. Scheler kemudian menyusun konsep etika nilai material. Konsep Etika Nilai Max Scheler Pandangan Scheler tentang nilai tak dapat dilepaskan dari metode fenomenologi. Di sana ada semacam gaya tertentu untuk memahami nilai. Nilai berbeda dengan penilaian. Orang cenderung untuk memberikan penilaian dan mengatakan itulah nilai dalam arti sebenarnya. Padahal dengan demikian, mereka telah mencampuradukkan hakikat nilai yang apriori, obyektif dan material dengan perasaan pribadi. Scheler juga membedakan antara nilai sebagai kualitas yang independen dengan barang pembawa nilai. Nilai dalam dirinya sendiri tidak tergantung pada pembawa nilai. Itu sebabnya, nilai tidak berubah dalam kurun Secara umum terdapat dua nilai yakni nilai positif dan nilai negatif. Selain itu terdapat juga nilai baik dan nilai jahat. Menurut Scheler, nilai-nilai ini dapat dijelaskan dengan dua aksioma dasar. Pertama, nilai positifbaik adalah nilai yang harus ada dalam perwujudannya di dunia. Kedua, nilai negatif-jahat adalah nilai yang tidak harus ada dalam perwujudannya di dunia. Scheler menyatakan bahwa suatu nilai semakin tinggi apabila ada dalam wilayah nilai-nilai positif-baik. Sebaliknya, suatu nilai semakin rendah apabila nilai tersebut berada dalam wilayah nilai-nilai negatif-jahat. Ini memperlihatkan arah pandangan nilai dari Scheler yang selanjutnya, yakni tentang tingkatan dalam nilai. Dalam nilai terdapat tingkatan tertentu yang membedakan setiap nilai. Karena itu, dengan berani Scheler memperlihatkan tingkatan dalam nilai. Dasarnya ialah preferensi apriori. Sebelum orang menentukan jenis-jenis nilai mana yang terendah sampai tertinggi, di dalam nilai itu sendiri sudah ada tingkatan nilai. Hal itu hanya dapat ditangkap melalui emosi intensional atau perasaan terbuka yang terarah pada nilai. Bdk. Bertens. Sejarah Filsafat Kontemporer - Jerman dan Inggris (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , hlm. Paulus Wahana. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Bdk. Max Scheler. Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, hlm. Bdk. Paulus Wahana. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Bdk. Max Scheler. Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Value, hlm. Ibid. , hlm. Selain dengan dasar preferensi tersebut. Scheler juga menambahkan hal lain berupa kriteria sebagai standar untuk mengukur tinggi-rendahnya nilai. Ia menyebutkan lima kriteria pembeda dalam tingkatan nilai, yakni kriteria pertama: kecenderungan intrinsik untuk bertahan, kriteria kedua: keutuhan atau ketidakterbagian, kriteria ketiga: kemendasaran nilai, kriteria keempat: kepuasan yang dihasilkan, kriteria kelima: relativitas dan keabsolutan nilai. Dari lima kriteria tersebut. Scheler kemudian menyusun hierarki atau tingkatan nilai. Hasilnya, ia menemukan terdapat empat jenis nilai mulai dari nilai tertendah yakni nilai inderawi . esenangan yang sifatnya sementar. , nilai vitalitas atau kehidupan, nilai spiritual hingga nilai tertinggi yakni nilai kekudusan . ilai yang absolut dan abad. Scheler menegaskan bahwa untuk memperoleh nilai setiap individu harus terbuka dan terdorong oleh semacam perasaan intensional yang kuat, seperti cinta. Scheler menerapkan konsep etikanya terhadap person sebagai AudiaAy satu-satunya yang mampu untuk menangkap nilai dengan perasaan intensional yakni hati yang mencintai. 13 Selain cinta, terdapat juga benci sebagai emosi yang menghancurkan nilai dan menggerakan person untuk mewujudkan nilai lebih rendah. Bila hal itu terjadi. Scheler juga menawarkan satu gagasan yakni tentang penyesalan sebagai permulaan baru bagi person untuk mulai lagi mencapai kesempurnaan nilai-nilai. Person dengan hati yang mencintai yang di dalamnya disertai dengan ordo amoris didorong untuk terus bergerak mencapai kesempurnaan nilai-nilai yang kemudian menjadi konkret dalam perbuatan person sebagai pribadi yang bermoral. Analisis Terhadap Aksiologi Max Scheler Karya Scheler, etika nilai, telah memperoleh banyak tanggapan dari berbagai pihak, baik itu berupa kritik yang memperlihatkan kelemahan gagasan Scheler maupun apresiasi yang memperlihatkan keunggulannya. Terdapat dua tokoh utama yang memberikan tanggapan terhadap pemikiran Scheler, itulah Hartmann dan Stephen Richard Wigmore. Secara sangat signifikan, banyak kritik yang dilontarkan dari Hartmann terhadap beberapa gagasan inti dari Scheler seperti: keterbatasan otonomi moral dari Scheler, konflik pikiran dan perasaan dalam etika nilai Scheler, kritik Hartmann terhadap konsep person Scheler, dan terdapat juga kritik Stephen Richard Wigmore terhadap preferensi nilai Scheler. Hal itu wajar, sebab Hartmann merupakan orang yang menaruh minat pada karya Scheler sehingga bukan hanya sekedar melontarkan kritik, namun di balik itu ia ingin memperlengkapi kelemahan Scheler dengan menambahkan pokok pikirannya. Itulah yang dibuat oleh Kelly dalam upaya mensintesiskan pemikiran Scheler dan Hartmann. Selain itu, ditunjukkan beberapa penilaian kritis terhadap etika nilai/aksiologi Scheler dengan memperlihatkan beberapa kelemahan dan keunggulannya. Dari konsep etika nilai/aksiologi Scheler dan tanggapan atasnya, maka penulis membuat suatu refleksi tentang aksiologi dan nilai dalam perkembangan zaman. Meskipun terdapat penyempitan hakikat nilai yang disebabkan karena kepentingan aplikasi nilai ke dalam lingkup, aspek dan konteks konkret masyarakat, toh itu merupakan bentuk perhatian terhadap perkembangan tindakan moral manusia berdasarkan nilai-nilai. Dengan langkah demikian, hakikat nilai itu tidak hanyut terbawa zaman, namun tetap eksis dalam hidup manusia. Lebih daripada itu, penulis melihat bahwa etika nilai Scheler masih sungguh relevan dalam perkembangan zaman. Secara pribadi, sebagai calon imam, penulis sungguh merasa terbantu lewat teori etika nilai Scheler ini. Satu hal yang penulis petik dari pemikirannya, yakni tentang bagaimana melihat nilai-nilai dalam realitas dan menjadikan nilai-nilai yang ada, terutama nilai tertinggi yakni nilai kekudusan, sebagai orientasi sikap moral penulis sendiri. Kegunaan teori etika nilai Scheler ini terbuka dan berdampak juga bagi masyarakat umum. Mereka dapat dibantu untuk melihat dengan jelas nilai-nilai yang ada yang dibedakan dari obyek bernilai dan penilaian. Nilai-nilai yang ditemukan oleh Scheler ini dapat menjadi dasar perbuatan moral mereka. Penulis juga Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20 (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Bila dengan tepat penerapan ini dilakukan, maka Scheler memperlihatkan bahwa person tersebut akan menjadi pribadi yang bermoral dengan beberapa karakter, seperti menjadi orang suci/santo, pahlawan, pemimpin, jenius dan artis. Hal ini bisa dibaca lebih lanjut dalam Paulus Wahana. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Eugene Kelly. Material Ethics of Value: Max Scheler and Nicolai Hartmann, editor by Philip Blosser (USA: Springer Dordrecht Heidelberg London New York, 2. , hlm. memberikan pendapat bahwa etika nilai Scheler masih relevan hingga kini khususnya dapat diterapkan dalam lingkup pendidikan seperti pendidikan nilai yakni penanaman nilai-nilai hidup kepada genarasi muda sebagai upaya membentuk karakter mereka sejak dini. Dengan demikian, mereka akan mempunyai dasar yang kokoh dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dan memiliki orientasi dalam bertindak dan bersikap secara moral. PENUTUP Etika nilai material/aksilogi Scheler sungguh merupakan suatu karya dalam bidang etika yang unik sebab di sana terdapat suatu ciri khas berfilsafat yakni dengan metode fenomenologi. Dalam menguraikan pemikirannya, ia telah memperlihatkan tentang pentingnya peran emosi/perasaan dalam uraian-uraian filsafat. Atas kritiknya terhadap etika Kant yang menurutnya kosong, ia kemudian menemukan etika nilai material yang artinya etika nilai yang mempunyai bobot, isi tertentu sehingga menjadi lebih jelas sebagai patokan perbuatan manusia. Pemikiran Scheler ini ditanggapi dan dikritisi oleh beberapa pemikir, namun pada intinya ia telah menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi manusia, yakni ia menjadikan nilai-nilai sebagai landasan perbuatan moral manusia. Daftar Pustaka