Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 1. Januari 2025 DOPIS SEBAGAI PEMBUNUH Sebuah Studi Ekoteologi Terhadap Dampak Buruk Penggunaan Dopis Di Pulau Pai Diperhadapkan Dengan Konsep Misi Berdasar Amanat Agung Yesus Kristus Dalam Injil Markus 16:15 Umbu Nusa Putra Akwan STFT GKI I. S Kijne Jayapura akwannusaputra@gmail. ABSTRAK Dopis adalah salah satu jenis bom yang digunakan untuk memudahkan penangkapan ikan dalam jumlah besar. Namun, penggunaan dopis memberikan dampak buruk tidak hanya bagi pengguna, tetapi juga bagi ekosistem bawah laut. Permasalahan terkait penggunaan dopis ini juga terjadi di Kabupaten Biak Numfor, khususnya di sekitar gugusan Kepulauan Padaido. Di daerah tersebut, banyak nelayan tradisional yang menggunakan dopis sebagai alat untuk menangkap ikan, yang berakibat merusak ekosistem laut di Kepulauan Padaido. Salah satu permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah dampak penggunaan dopis di Pulau Pai, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Padaido. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penggunaan dopis untuk menangkap ikan antara lain hancurnya ekosistem bawah laut, rusaknya terumbu karang, kematian berbagai jenis ikan, bahkan ikan-ikan yang berpindah dan menjauh dari pesisir pantai, serta laut yang tercemar. Dampak lainnya adalah penurunan pendapatan ekonomi penduduk, karena ikan semakin sulit untuk didapatkan. Tulisan ini akan mengkaji dampak penggunaan dopis dari sudut pandang teologi, khususnya yang berkaitan dengan ekologi dan ilmu misi pekabaran Injil. Dalam tulisan ini, dopis dipandang sebagai pembunuh, dan penggunaan dopis dianggap sebagai bentuk pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Amanat Agung Yesus dalam Injil Markus 16:15 tentang tugas pekabaran Injil kepada segala makhluk. Ekosistem bawah laut di Pulau Pai, yang merupakan dunia yang rusak akibat penggunaan dopis, perlu dipulihkan. Oleh karena itu, perintah Yesus dalam Markus 16:15 harus dipahami dan diterapkan kembali untuk kondisi dunia bawah laut di sekitar Pulau Pai, agar dapat kembali seperti sedia kala. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi pustaka, dan wawancara, yang kemudian dianalisis dan dilaporkan dalam bentuk deskripsi. Kata Kunci : Dopis. Ekoteologi. Padaido. Pekabaran Injil. Ekosistem. Nelayan Tradisional ABSTRACT Dopis is a type of bomb used to facilitate catching large amounts of fish. However, the use of dopis has a negative impact not only on users, but also on the underwater ecosystem. Problems related to the use of dopis also occur in Biak Numfor Regency, especially around the Padaido Islands group. In this area, many traditional fishermen use dopis as a tool to catch fish, which results in damaging the marine ecosystem in the Padaido Islands. One of the problems that will be discussed in this paper is the impact of the use of dopis on Pai Island, one of the islands in the Padaido Islands group. The damage caused by the use of dopis to catch fish includes the destruction of the underwater ecosystem, damage to coral reefs, the death of various types of fish, even fish that move and move away from the coast, and polluted seas. Another impact is a decrease in the economic income of the population, because fish are increasingly difficult to obtain. This paper will examine the impact of the use of dopis from a theological perspective, especially in relation to ecology and the science of evangelism missions. In this paper, dopis is seen as a killer, and the use of dopis is considered a form of human rebellion against God. This is then linked to the Great Commission of Jesus in the Gospel of Mark 16:15 regarding the task of preaching the gospel to all creatures. The underwater ecosystem on Pai Island, which is a world damaged by the use of dopis, needs to be restored. Therefore. Jesus' command in Mark 16:15 must be understood and reapplied to the condition of the underwater world around Pai Island, so that it can return to normal. This writing uses a qualitative descriptive method with data collection techniques in the form of observation, literature study, and interviews, which are then analyzed and reported in descriptive form. Keywords : Dopis. Ecotheology. Padaido. Evangelism. Ecosystem. Traditional Fishermen PENDAHULUAN Pulau Pai, adalah salah satu pulau di gugusan kepulauan yang berada di Kabupaten Biak Numfor, tepatnya gugusan kepulauan Padaido yang terletak di sebelah tenggara Pulau Biak. Berdasarkan Surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor Kep/68/Men/2009 tentang penetapan kawasan konservasi perairan nasional Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua,1kepulauan Padaido yang meliputi wilayah seluas kurang lebih 183. 000 hektar itu, telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan2 Ketetapan tersebut kemudian bermakna bahwa gugusan kepulauan Padaido dijadikan kawasan konservasi dengan tujuan untuk wisata perairan dan rekreasi. Kawasan konservasi perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. Kawasan konservasi perairan terdiri dari taman nasional perairan, suaka alam perairan, taman wisata perairan, dan suaka Taman wisata perairan adalah kawasan konservasi perairan dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan wisata perairan dan rekreasi. Pengelolaan kawasan konservasi perairan dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Melalui pernyataan di atas maka dapat dipahami bahwa kawasan yang masuk dalam gugusan kepulauan Padaido harus tetap dijaga keindahannya, harus tetap dilestarikan segala bentuk ekosistem yang ada, tidak boleh bahkan sangat dilarang untuk melakukan hal-hal yang kemudian merusak keindahan gugusan kepulauan Padaido tersebut. Kenyataan yang terlihat, rupanya di salah satu pulau. Pulau Pai, terjadi tindakan perusakan kawasan lingkungan laut yang dilakukan oleh masyarakat setempat melalui penghancuran terumbu karang menggunakan Dopis . om Ika. Melalui Dopis ini, masyarakat kemudian mudah mendapat tangkapan Ikan namun kemudian berdampak buruk pada rusaknya ekosistem kawasan laut karena terumbu karang kemudian hancur, ikan dari berbagai jenis dengan berbagai ukuran kemudian mati, aktivitas ikan kemudian mulai menjauh dari pinggiran pantai yang berdampak juga pada kemudian hari usaha menangkap ikan akan sangat susah. Ketika tindakan perusakan itu terus dilakukan, sebenarnya tidak saja berdampak pada rusaknya keindahan kawasan wisata laut, tidak saja merupakan sebuah pelanggaran terhadap peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan, tidak saja terjadi tindakan Ecosida. Lebih dari itu, dari kaca mata iman kristen, tindakan membuang Dopis itu merupakan pelanggaran terhadap hukum Taurat yang ke enam : Jangan Membunuh (Kel. tindakan tersebut juga merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah di Taman Eden, ketika Allah memberi tanggung jawab pada manusia untuk menjaga dan memelihara ciptaan-Nya. Di sisi lain, tindakan masyarakat mencari ikan menggunakan Dopis juga merupakan tindakan yang bertentangan dengan amanat Agung Yesus di dalam Injil Markus 16:15 : Ay. Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhlukAy. Ketika umat manusia, dalam hal ini sebagian masyarakat di pulai Pai yang nota bene adalah umat kristen, yang sudah tahu bagaimana seorang kristen harus bersikap terhadap alam dan lingkungan, yang juga telah memahami nilai-nilai kekristenan serta larangan dan hukum yang harus dipatuhi namun kemudian karna berbagai alasan melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut, itu merupakan tindakan melawan Tuhan dan bentuk lain dari sikap tidak taat. Oleh karena itu, maka penulisan makalah ini akan berfokus pada tindakan masyarakat pulau Pai yang tidak melaksanakan nilai-nilai kekristenan sesuai ajaran di dalam Alkitab, sekaligus melalui tulisan ini masyarakat di pulau Pai diberi tahu atau diingatkan kembali untuk merenungkan tindakan mereka dan mereka perlu berubah sesuai ajaran kekristenan untuk terus melaksanakan perintah Tuhan seperti di dalam Markus 16:15 itu, sebagai bentuk pemberitaan firman Tuhan kepada segala makhluk Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 62/KEPMEN-KP/2014 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan Laut Disekitarnya di Provinsi Papua Tahun 2014-2034, hal. Sudirman Adibrata : Peningkatan Wawasan Dengan Metode Simulasi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Di Twp Padaido Kabupaten Biak Numfor. Akuatik: Jurnal Sumber daya Perairan, 6 . , 2012, hal. Bnd : Marsel T. Soumokil : Kajian EkoTeologis terhadap Dampak Penggunaan Dopis dalam Menangkap Ikan di Jemaat GKI Yahwe Pai Klasis Aimando Padaido Biak Numfor. (Skrips. STFT GKI I. Kijne, 2024. Hal. Lih : Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2007. METODE PENELITIAN Metode deskriptif kualitatif dipilih untuk memberikan gambaran yang mendalam dan rinci mengenai fenomena yang diteliti, tanpa mengubah atau mengontrol variabel-variabel yang ada. Teknik observasi dilakukan untuk mengamati langsung situasi atau objek yang relevan dengan topik penelitian, guna memperoleh data yang lebih otentik dan nyata. Selain itu, studi pustaka digunakan untuk menelusuri teori-teori yang sudah ada serta penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat mendukung pemahaman terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara langsung dari individu-individu yang memiliki pengetahuan atau pengalaman terkait topik penelitian. Setelah data terkumpul, analisis dilakukan dengan cara mengorganisasi, mengkategorikan, dan menafsirkan data untuk menemukan pola, tema, atau makna yang dapat menjelaskan fenomena yang diteliti. Hasil analisis tersebut kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi yang sistematis, jelas, dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang topik yang dibahas. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep tentang Dopis. Ekoteologi dan Misiologi Dopis Dalam keterangan sesuai kamus besar bahasa Indonesia. 4Dopis . ebuah kata nomina, bukan kata baku namun kata percakapa. diartikan sebagai sebuah sumbu ledak, pemicu ledak, atau mesiu yang dipakai untuk memicu sebuah ledakan. Di Papua, terutama di wilayah Kabupaten Biak Numfor. Dopis diartikan sebagai sebuah bom berdaya ledak kecil, yang difungsikan sebagai alat untuk menangkap ikan, sehingga Dopis disebut juga sebagai Bom Ikan. 5 Karena Dopis adalah bom, maka ketika dipakai untuk mencari ikan, tidak saja akan memperoleh hasil yang banyak namun juga kemudian merusak biota laut, ekosistem laut atau perairan di sekitar ledakan dopis akan Ekoteologi Secara sederhana, kata ekotelogi berasal dari kata yang kemudian merujuk pada dua disiplin kata yaitu ekologi, dan teologi. Ekologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari rumah atau habitat. Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari rumah tangga makhluk hidup. Ekologi merupakan studi ilmiah tentang interaksi yang menentukan distribusi organisme. Ekologi merupakan studi hubungan antara organisme dan lingkungannya. Ekologi merupakan studi yang mencari tahu hubungan organisme atau makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Yang pada prinsipnya terdapat adanya interaksi . saling ketergantungan . serta kemampuan berkelanjutan . Sementara teologi adalah ilmu atau pembelajaran tentang Tuhan, sehingga Ekoteologi dapat disimpulkan sebagai kata yang merujuk pada sebuah pembelajaran tentang realitas kehidupan makhluk hidup dalam suatu lingkungan, yang tidak saja dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan terkait relasi kehidupan tetapi juga dilihat dari sudut pandang ajaran kekristenan. Misiologi Dalam istilah latin dan yunani, misiologi berarti ilmu yang mempelajari tentang misi, yaitu upaya untuk membawa dan menyatakan kabar baik Allah di dalam Yesus Kristus kepada dunia dalam berbagai realitas kehidupan. Upaya untuk membawa dan menyatakan kabar baik tersebut tentunya membutuhkan cara atau strategi, oleh karena itu, misiologi di samping merupakan pembelajaran tentang misi Allah juga dapat dipahami sebagai metode untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Dalam konsep tersebut, misi juga berarti sebuah pergerakan keluar melewati batas untuk membawa terang Tuhan bagi bangsa-bangsa sedunia. Dalam kaitan dengan persoalan Dopis yang akan dibahas dalam tulisan ini, konsep misiologi akan dipakai untuk melihat dan menilai tindakan penggunaan Dopis tersebut dalam kaitan dengan kelestarian alam ciptaan Tuhan yang sesungguhnya menjadi elemen penting untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Dengan cara itu, akan dilihat dan dinilai, juga bagaimana tindakan id/arti-kata/dopis Ananda Nurafifah Anggraeni : Implementasi Penegakan Hukum Pidana terhadap Praktik Illegal Fishing di Kabupaten Raja Ampat berdasarkan UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Jurnal Riset Hukum. Bandung, (Vol 1. No. , 2021. Hartuti Purnaweni. Ekologi Manusia (Semarang : Fastindo, 2. , hal. merusak alam dengan menggunakan Dopis menjadi sebuah tindakan yang tidak sejalan dengan upaya membawa kabar baik bagi dunia. Relasi Dopis. Ekoteologi dan Misiologi dalam aktivitas nelayan di Pulau Pai Penggunaan Dopis sebagai alat mencari untuk hidup Masyarakat pesisir pantai selalu merupakan masyarakat dengan aktivitas mata pencaharian sebagai nelayan, dengan demikian berbagai teknik menangkap ikan di laut sudah menjadi aktivitas sehari-hari, mulai dari memancing, menjala, menjaring, dan menyelam baik dengan cara-cara sederhana hingga metode yang dengan teknik tinggi, mulai dari perorangan hingga kelompok. Salah satu metode yang sering juga dipakai oleh masyarakat nelayan adalah Bom Ikan, sebuah cara yang memungkinkan hasil banyak hanya dengan sekali meledakkan bom. Aktivitas semacam ini terjadi pula di pesisir pulau Pai kabupaten Biak Numfor, penggunaan bom ikan yang disebut Dopis sebagai cara untuk memperoleh hasil tangkapan yang banyak. Dengan hasil tangkapan yang banyak, memungkinkan masyarakat pulau Pai memperoleh keuntungan yang Mereka bisa menjualnya ke pasar dan mendapat uang dan bisa juga untuk konsumsi sehari-hari. Dalam tindakan ini. Dopis itu bukan saja sekedar menjadi alat untuk menangkap ikan tetapi juga sebagai alat untuk hidup, baik untuk kehidupan pribadi dan keluarga dari sang nelayan tetapi juga untuk keuntungan dan hidup yang sedikit lebih karena melalui Dopis, mereka memperoleh sejumlah ikan yang banyak hingga bisa dijual ke pasar yang memungkinkan memperoleh pendapatan dalam bentuk uang yang kemudian bisa dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup Dopis yang merusak biota laut di kawasan Pulau Pai Berdasarkan informasi dari beberapa penduduk asli yang mendiami Pulau Pai, karena aktivitas mencari ikan dengan menggunakan Dopis, maka keindahan alam bawah laut di wilayah pulau Pai, seperti di Bosen. Nus Babo. Marur Dori, terumbu karang menjadi rusak . atah dan mat. ,7 di samping itu ikan yang sering berenang atau berada di sekitar terumbu karang tersebut juga akhirnya menjauh dan menyulitkan nelayan untuk mencari. Bukan saja ikan kemudian menjauh, populasi ikan pun mengalami penurunan karena penangkapan menggunakan Dopis itu membunuh sejumlah besar ikan hingga banyak jenis ikan tertentu mengalami kepunahan. Rusaknya terumbu karang akibat penggunaan Dopis kemudian memperlihatkan beberapa hal yang terjadi, yaitu : keindahan dunia bawah laut di sekitar pulau Pai menjadi rusak, ekosistem yang tadinya harmonis menjadi rusak karena rumah tempat tinggal ikan menjadi rusak dan mati, terjadi hilangnya spesies ikan dan terumbu karang tertentu, seperti yang diungkapkan oleh Husain Latuconsina . bahwa Penangkapan ikan secara berlebihan tanpa terkontrol dan penggunaan alat penangkapan ikan yang merusak lingkungan dan tidak selektif merupakan salah satu alasan terjadinya penurunan biodiversitas dan stok sumber daya hayati ikan di alam liar. 9Lingkungan yang rusak akibat tindakan tersebut kemudian merusak juga upaya pemerintah untuk menjaga kawasan wisata perairan sesuai peraturan Pemerintah lewat 62/KEPMEN-KP/2014, dan itu juga berarti masyarakat yang sesungguhnya harus mendapat manfaat dari upaya kawasan wisata laut, kemudian menjadi pihak yang merusak serta melawan pemerintah. Dopis Sebagai Alat Pembunuh Istilah membunuh, bukan saja merujuk pada mengambil nyawa atau kehidupan dari sesama manusia tetapi juga makhluk hidup lain di sekitar manusia, hal itu termasuk merusak alam, pembabatan hutan, menyebar racun di aliran sungai dan lain sebagainya. Dalam kekristenan, hukum Taurat sesuai yang tercatat dalam Ulangan 20:13 sesungguhnya merujuk hanya pada larangan membunuh sesama manusia, 10meskipun demikian larangan itu bisa secara luas dimaknai sebagai perintah Tuhan agar sebagai manusia, kita tidak boleh seenaknya Seperti yang dituturkan oleh Melyanus Rumpumbo dan P. Pai dalam wawancara bersama saudara Marsel Soumokil pada tanggal 21 Juni dan 16 Juli 2024. Seperti yang dituturkan oleh Absalom Rumere dan Ruland Sabarofek dalam wawancara dengan Marsel Soumokil, 16 dan 17 Juni 2024 Husain Latuconsina. Dissemination of the Impact of Overfishing and Mitigation Efforts Through the Development of Marine Protected Areas. Agrikan - Jurnal Agribisnis Perikanan, 16 . , 2023, hal. Budi Asali : Khotbah Tentang Hukum ke Enam (Kel. Teologi Reformed Lih : https://teologiareformed. melakukan tindakan penghilangan nyawa atau kehidupan dari makhluk hidup ciptaan-Nya. 11 Hal ini sesungguhnya sejalan dengan perintah-Nya di awal penciptaan yaitu Ay. berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumiAy (Kej. Allah menghendaki manusia berkuasa atas berbagai jenis hewan, baik yang di dalam air, di atas tanah tetapi juga yang beterbangan di udara. Kata berkuasa dalam nats ini bukan merujuk pada tindakan semena-mena manusia atas makhluk lain, bukan pula merujuk pada kehendak Tuhan agar manusia berbuat sesuka hati terhadap hewan-hewan tersebut, dan bukan juga pelimpahan kekuasaan Tuhan pada manusia untuk menjadi penguasa di bumi. Kata berkuasa dalam nats tersebut sesungguhnya dimaknai sebagai : Allah memberi kuasa bagi manusia agar manusia memperoleh kehormatan dalam melaksanakan tanggung jawabnya terhadap makhluk ciptaan yang lebih rendah 12 dan melalui kehormatan dalam tindakan tersebut, makhluk lain juga mendapat kehormatan. Dalam pengertian lain. Elwell13 juga memberi pengertian terhadap istilah AyberkuasaAy dalam ayat tersebut yaitu, berkuasa berarti bertanggung jawab terhadap alam, umat manusia adalah pelayan alam. Dengan demikian, manusia diberi tanggung jawab langsung oleh Allah untuk bertanggung jawab mengelola alam ciptaan Tuhan dan manusia harus mengelolanya secara bertanggung jawab kepada Tuhan. Jika manusia berbuat tidak sesuai dengan kehendak Tuhan bahkan kemudian menjadi pihak yang merusak dan membunuh ciptaan Tuhan, itu berarti manusia melakukan pemberontakan terhadap Tuhan. Penggunaan dopis sebagai alat mencari ikan di pesisir pantai Pulau Pai adalah tindakan pemberontakan manusia terhadap Tuhan dan manusia bertindak sebagai pembunuh atas makhluk-makhluk yang dipercayakan Tuhan padanya. Demikian pula dalam kaitan dengan larangan membunuh pada Hukum Taurat yang diartikan sejalan dengan pemahaman Murray . dan Stott . , sesungguhnya mencari ikan dengan menggunakan Dopis kemudian hari akan berdapak pula pada pembunuhan manusia, hal ini karena jika alam pesisir laut dirusak, kemudian ekosistem bawah laut menjadi tercemar dan rusak, banyak jenis karang mati, banyak jenis ikan mati, kemudian sebagian besar ikan akan berpindah dan menjauh dari pesisir pantai, ikan tercemar, maka akan berujung juga pada manusia yang akan mati karena susahnya mencari ikan, mengkonsumsi ikan yang tercemar, dan sebagainya. 14Dengan demikian, jelaslah bahwa Dopis adalah alat yang secara tidak langsung dipakai untuk membunuh, baik membunuh Ekosistem yang indah, merusak lingkungan, membunuh tumbuhan dan ikan di dalam laut juga membunuh manusia di kemudian hari. Markus 16:15 dalam konteks Misi bagi segala makhluk Injil Markus 16:15 secara lengkap adalah. Lalu Ia berkata kepada mereka : Aypergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Ay Kalimat ini disampaikan langsung oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dalam sebuah perjumpaan bersama setelah Dia bangkit. Sebuah kalimat perintah untuk mengabarkan Injil, penyampaian kabar baik, kabar kemenangan yang harus diteruskan bukan saja ke seluruh dunia . eluar Yerusale. , tetapi juga untuk segala makhluk. Perintah untuk mengabarkan Injil dalam nats ini perlu dijelaskan secara sederhana untuk kemudian menjadi acuan dalam uraian. Ada dua hal yang perlu mendapat penjelasan khusus dalam nats ini yaitu : Ayseluruh duniaAy dan Aysegala makhlukAy. Untuk kata Ayseluruh duniaAy. Alkitab versi King James. Basic English. American Standard juga Lexham English Bible menggunakan kalimat all the world, sementara Alkitab berbahasa Yunani Textus Receptus menggunakan istilah kosmon, yang memang diterjemahkan juga dengan kata AyduniaAy. Kata AyduniaAy yang bukan saja bisa diartikan sesuai yang dipakai oleh Alkitab TB LAI, seluruh wilayah di bumi tempat di mana manusia dari berbagai suku dan bangsa berdiam, tetapi bisa juga diterjemahkan secara luas. Dalam kamus, dunia didefinisikan sebagai segala sesuatu yang ada, termasuk planet, alam semesta, dan semua makhluk hidup. Di samping itu, dunia juga merupakan sebuah konsep yang lebih abstrak, sebuah tempat di mana manusia hidup, berinteraksi, dan mengalami pasang surut kehidupan. Dunia adalah rumah bagi sejarah, budaya, dan pengalaman bersama yang tak terhitung banyaknya. 15 Artinya, kata dunia itu tidak saja diterjemahkan sebagai John Murray : Principles of Conduct (Aspects of Biblical Ethic. Hal. Bnd. John Stott : The Message of the Sermon on the Mount. InterVarsity Press. Hal. Dalam penjelasannya. Murray dan Stott membedakan istilah to Kill dengan to Murder. Dan Larangan membunuh dalam Hukum Taurat diartikan dalam konteks to Murder. Matthew Hendry : Tafsiran Kitab Kejadian. Surabaya. Momentum, 2014. Hal. Walter A. Elwell : Analisa Topikal Terhadap Alkitab. Malang. SAAT 2003 Dituturkan oleh L. Inas, salah satu Majelis Jemaat GKI Yahwe Pai pada tanggal 21 Juni 2024 Lih : https://definisi. id/dunia/ diakses pada 21 Januari 2025 . 36 WIT) bumi tempat manusia tinggal tetapi juga sebuah keadaan, situasi dan berbagai keadaan yang Dengan demikian, kejahatan bisa juga diterjemahkan sebagai sebuah dunia, politik bisa pula diartikan sebagai sebuah dunia, dan lain sebagainya. Istilah kedua yang perlu didalami adalah kata Aysegala makhlukAy. Penggunaan bahasa Indonesia dalam kata ini jelas merujuk pada segala jenis makhluk hidup dan bukan saja manusia. Hal itu terkait dengan penggunaan bahasa asli dalam nats Alkitab, yaitu all Creatures (King James Version. New Internasional Version. New American Standard Bibl. All creatures itu memang merujuk langsung pada apa saja yang telah diciptakan Tuhan, jadi memang nats Markus 16:15 itu adalah sebuah perintah langsung dari Yesus pada murid-murid-Nya untuk mengabarkan Injil ke seluruh dua dengan berbagai keadaan dan situasinya serta untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya dan bukan hanya untuk manusia. Sebuah pekabaran Injil yang menyeluruh atau holistik. Penggunaan Dopis di sekitar Pulau Pai, sesungguhnya tindakan tersebut adalah bentuk pemberontakan manusia terhadap perintah Tuhan, sehingga penggunaan Dopis perlu dihentikan melalui penyampaian dari pihak Gereja terutama Majelis Jemaat GKI Yahwe yang berada di Pulau Pai, karna warga masyarakat di Pulau Pai adalah juga warga jemaat. Dari uraian singkat tentang dua kata di atas . eluruh dunia dan segala makhlu. , dapatlah disimpulkan bahwa masyarakat yang mendiami Pulau Pai dan yang mencari ikan di sekitarnya dengan menggunakan Dopis dapat diartikan sebagai suatu dunia, juga perairan sekitar Pulau Pai dan segala ekosistem yang berada di sekitarnya, baik yang di pinggiran pantai bahkan yang berada di bawah laut merupakan segala makhluk. Dalam pemahaman ini, ketika masyarakat menggunakan Dopis untuk mencari ikan, mereka sesungguhnya merupakan pihak yang perlu dibina kembali tentang tugas sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan amanat untuk menjaga alam, menyatakan wujud hadirat Tuhan . ebagai Imago De. di wilayah pulau Pai. Penggunaan Dopis merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, penggunaan Dopis justru mencemarkan citra manusia sebagai Imago Dei, dan penggunaan Dopis dalam mencari ikan di kawasan sekitar Pulau Pai adalah tindakan manusia yang tidak menjalankan perintah untuk membawa Injil pada segala makhluk. Demikian juga segala makhluk dalam lingkup ekosistem di kawasan sekitar Pulau Pai, yang bisa disebut sebagai dunia bawah laut, tidak mengalami kabar baik sesuai perintah Yesus dalam Markus 16:15, mereka justru menjadi korban dari perilaku warga jemaat . iartikan sebagai murid Yesu. di Pulau Pai yang tidak menjalankan perintah untuk mengabarkan Injil. Alih-alih harus hidup dalam situasi yang harmonis, mereka justru hancur, rusak dan mati karena penggunaan Dopis. Misi dalam konteks kerusakan lingkungan di Pulau Pai Ekosistem Laut sekitar Pulau Pai (Dunia Yang Perlu Menerima Kabar Bai. Sudah ditegaskan dalam pembahasan di atas bahwa Ekosistem di Pulau Pai adalah sebuah dunia yang perlu menerima kabar baik, oleh karenanya fokus uraian di bagian ini akan membahas seputar bagaimana kawasan Pulau Pai kemudian mengalami jamahan Tuhan dalam situasi yang Perintah untuk mengabarkan Injil disampaikan langsung oleh Yesus pada murid-muridNya (Mrk. 16:15. Mat. 28:19-. , perintah tersebut merupakan penyampaian Yesus agar para murid melanjutkan apa yang telah dilakukan-Nya bagi dunia. Perintah tersebut juga bertujuan agar seluruh dunia mengenal dan mengalami apa yang disebut sebagai kabar baik dalam berbagai realitas kehidupan mereka, agar dunia yang telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. , bahkan manusia yang telah terusir jauh dari pohon kehidupan (Kej. 1:23-. kemudian mengalami syalom Allah, kabar baik, sesuatu yang telah digagas Allah, menjadi bagian hidup mereka. Kawasan pulau Pai yang telah digambarkan di atas, adalah sebuah kawasan yang telah kehilangan keindahan, kawasan yang telah rusak akibat tangan-tangan manusia, telah hancur karena kepintaran manusia oleh karenanya perlu sebuah tindakan segera untuk memperbaikinya agar kembali baik. Kehancuran dan kerusakan yang dialami di pulau Pai, bukan saja pada ekosistem lautnya tetapi yang utama adalah manusianya. Hal ini karena manusia yang mendiami pulau Pai menggunakan Dopis untuk menangkap ikan dan itu berdampak besar pada rusak, hancur dan punahnya ekosistem lautnya. Untuk hal ini, perlu dilakukan langkah-langkah misi . ekabaran Inji. yang sesuai agar suasana yang rusak itu bisa kembali menjadi baik, dan akan ada dua hal yang perlu mendapat sorotan dalam aksi misi, yaitu penduduk di pulau Pai terutama mereka sang pelaku pengguna Dopis, serta segala makhluk lain dalam ekosistem bawah laut Pulau Pai. Penduduk Pulau Pai (Pengguna Dopi. Seluruh penduduk Pulau Pai adalah warga jemaat . mat Kriste. yang bisa diartikan sebagai murid Yesus. Sebagai murid Yesus, mereka bertanggung jawab menjadi pelaku ajaran-Nya, di mana salah satu ajaran Yesus adalah mengabarkan Injil kepada segala makhluk, dan dalam kaitan dengan persoalan yang sedang dibahas, perlu dipahami bahwa setiap individu yang mendiami kawasan pulau Pai harus menjadi pembawa kabar baik bagi orang lain. Mereka itu antara lain : Pihak Gereja yang terdiri dari Majelis Jemaat serta warga jemaat. Majelis jemaat adalah kelompok yang terdiri dari Pendeta. Guru Jemaat. Guru Injil. Penatua. Syamas juga Pengajar, adalah pihakpihak yang bertanggung jawab menjalankan berbagai bentuk pelayanan dalam suatu jemaat dan itu berarti dalam kaitan dengan tugas pekabaran Injil untuk lingkungan laut yang rusak, mereka harus memainkan peran penting sebagai pembawa kabar baik, artinya perlu sebuah aksi terencana, terstruktur dan terarah untuk menghentikan aksi bom ikan serta perbaikan ekosistem laut yang telah Majelis jemaat perlu menetapkan dalam sebuah sidang gereja untuk menetapkan sebuah program penanggulangan kerusakan ekosistem laut di sekitar Pulau Pai, dan ini perlu menjadi program yang dilaksanakan bersama warga jemaat. Untuk program tersebut, penggunaan Dopis perlu segera dihentikan, dampak kerusakan yang fatal terhadap ekosistem laut perlu disosialisasikan dan terus menerus disampaikan agar warga jemaat menjadi sadar. Program ini juga kemudian bisa dijalankan bersama dengan program pemerintah berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 62, tahun 2014 tentang pengelolaan taman wisata kelautan gugusan kepulauan Padaido. Dengan melaksanakan program tersebut, sesungguhnya majelis dan jemaat GKI Yahwe Pau beserta warga masyarakat sudah menjadi pembawa kabar baik, melalui pengajaran tentang dampak kerusakan lingkungan laut Pulau Pai bagi sesama manusia di pulau Pai dan menjadi pembawa kabar baik juga bagi segala makhluk yang ada dalam kawasan ekosistem bawah laut pulau Pai. Dalam program ini. Gereja harus memainkan peran penting, terutama Gereja Kristen Injili di Tanah Papua yang secara tidak langsung melayani umat Tuhan di Pulau Pai melalui Jemaat Yahwe Pai. Pelaksanaan program kerja tersebut juga kemudian akan sejalan dengan Pengakuan Iman GKI terkait Aymengaku mengusahakan dan menjaga alam ciptaan TuhanAy. Untuk memberi informasi pada pelaku pengguna Dopis, perlu juga majelis dan warga jemaat yang telah memahami dampak buruk penggunaan dopis dan telah paham tugasnya sebagai murid Yesus, perlu juga menerapkan metode misi AyKesaksian PribadiAy 16 , artinya setiap orang atau warga jemaat, harus menjadi alat pekabaran Injil untuk memberitahu orang-orang terdekatnya untuk berhenti menggunakan Dopis, dan tindakan ini harus dilakukan secara berulang, terus-menerus hingga aksi penggunaan Dopis berhenti. Ekosistem Laut Pulau Pai Gugusan kepulauan Padaido adalah salah satu kawasan laut yang termasuk dalam wilayah yang disebut Trianggel Coral Reef, sebuah kawasan laut yang meliputi enam negara (Indonesia. Filiphina. Malaysia. Papua New Guinea. Kepulauan Solomon dan Timor Lest. 17Dalam seluruh wilayah tersebut terdapat keanekaragaman hayati yang luar biasa, keindahan dunia bawah laut yang mempesona yang dapat dibandingkan dengan Hutan Amazon di Brazil. Wilayah tersebut tidak saja indah namun juga kaya akan berbagai spesies ikan, terumbu karang bahkan makhluk laut lainnya. Demikian juga kawasan Wisata Laut sekitar pulau Pai, tadinya memiliki keindahan laut yang mempesona, terdapat berbagai jenis terumbu karang dengan berbagai warna dan berbagai jenis ikan, diantaranya adalah Indos. Inamas. Kasem. Insyur. Inof . Indakmas. Inpekem Imbarkof. Insaser Inggarfor . Semua ini kemudian merupakan ekosistem bawah laut yang dapat menjadi destinasi wisaya, sumber ilmu pengetahuan untuk kepentingan penelitian, juga sumber hidup ekonomi bagi masyarakat setempat. Meskipun demikian, suasana yang mempesona itu akhirnya sirna karena perbuatan masyarakat sendiri dan bisa disebut sebagai bentuk keserakahan karena saat mencari ikan, mereka menggunakan cara-cara yang tidak benar dengan menggunakan Dopis. Arie de Kuiper : Missiologia. Jakarta. BPK Gunung Mulia, 2010. Hal 100 Ph. Erari : Spirit Ekologi Integral (Sekitar Ancaman Perubahan Iklim Global dan Respon Perspektif Budaya Melanesi. Jakarta. BPK Gunung Mulia. Bnd. Laras Larasati : Lima Fakta Coral Triangel. Episentrum Keanekaragaman Hayati Laut Dunia. IDN Times, 2023. Berbagai nama dan Jenis Ikan yang disebut dalam bahasa Biak, ikan-ikan yang dapat dikonsumsi yang kemudian mulai punah atau bermigrasi ke wilayah yang jauh dari pesisir pantai hingga sulit lagi ditemukan. Gambaran ekosistem bawah laut Pulau Pai yang indah itu sesungguhnya dapat diumpamakan sebagai sebuah Taman Eden yang indah karena ada kebersamaan antar makhluk hidup yang harmonis, adanya keindahan, adanya kehidupan yang damai namun akibat tindakan manusia yang serakah menyebabkan kehancuran dan kematian. Kehancuran dan kematian itu merupakan bentuk dari tindakan Suasana ini perlu diperbaiki dan untuk hal itu maka pekerjaan pekabaran Injil perlu diterapkan. Kehancuran ekosistem bawah laut pulau Pai merupakan wujud nyata dari sebuah dunia yang telah rusak dan perlu menjadi sasaran pekabaran Injil, agar segenap makhluk hidup dan berbagai bentuk benda di dalamnya mengalami pembaharuan dan dihidupkan. Agar terjadi perubahan yang berdampak baik bagi ekosistem bawah laut Pulau Pai, maka setiap masyarakat yang mendiami pulau Pai harus mengabarkan Injil ke wilayah tersebut, yaitu untuk ikan-ikan, untuk berbagai jenis kerang, untuk berbagai jenis terumbu karang dan untuk berbagai jenis makhluk yang mendiami wilayah tersebut. Pekabaran Injil itu dilakukan bukan melalui suara atau kata-kata yang keluar dari mulut, tetapi melalui tindakan nyata untuk menjaga dan menyelamatkan kehidupan yang mulai rusak itu. Konsep ini dikenal dengan istilah Pekabaran Injil yang Holistik, menyeluruh, agar segala makhluk pun mengalami kabar baik dalam realitas kehidupan mereka. Dopis, sang pembunuh ekosistem dan merusak pekerjaan pekabaran Injil bagi segala Tugas pekabaran Injil dalam sorotan Markus 16:15 bertujuan agar bukan saja manusia yang mengalami kabar baik tetapi segala makhluk pun mengalaminya. Hal ini sejalan dengan konsep pergerakan misi yaitu bergerak keluar melewati batas. Manusia telah mengalami pekerjaan pekabaran Injil, manusia kemudian harus menjadi pelaku untuk meneruskan pekerjaan pekabaran Injil tersebut, bukan saja untuk sesama manusia tetapi sampai melewati batas yakni pada makhluk lain juga, dalam hal ini ekosistem bawah laut pulau Pai. Yang kemudian terjadi adalah manusia, sebagian besar warga jemaat yang berdomisili di pulau Pai, kemudian untuk kepentingan mereka yang sesaat, mereka menggunakan Dopis untuk menangkap ikan dan itu berdampak luar pada rusaknya kehidupan laut yang indah. Hal itu dapat diartikan sebagai sebuah tindakan pembunuhan menggunakan Dopis, pengguna Dopis menggunakan cara membunuh dan menghancurkan ekosistem laut hanya untuk kehidupan mereka. Tindakan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa mereka menghambat pekerjaan pekabaran Injil. Tugas Pekabaran Injil adalah pekerjaan yang bertujuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik, sebuah pembaharuan hidup, sebuah tindakan untuk membebaskan segenap ciptaan Tuhan dari berbagai bentuk intimidasi dan kematian namun penggunaan Dopis di Pulau Pai untuk mencari ikan justru merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan tugas dan tujuan Pekabaran Injil. Seharusnya membawa kehidupan namun menjadi pembawa kematian. Membangun Kesadaran bermisi bagi masyarakat di pulau Pai berdasar Markus 16:15 Kesadaran bermisi merujuk pada adanya sebuah gerakan dari dalam diri seseorang tentang tanggung jawab untuk menjalankan atau mewujudkan perintah Tuhan: membawa kabar baik ke seluruh dunia. Gerakan dari dalam diri itu merupakan sebuah gerakan keluar melewati batas untuk membawa syalom Allah menjadi bagian integral dari segenap makhluk ciptaan Tuhan. Untuk mewujudkan adanya sebuah kesadaran yang muncul dari dalam diri tentang tanggung jawab pekerjaan pekabaran Injil merupakan sebuah pekerjaan yang berat karena harus ada aksi yang mampu menggugah hati seseorang agar dirinya sadar lalu beraksi, apalagi dalam kaitan dengan permasalahan yang dilakukan sebagian besar penduduk di sana, perlu sesuatu yang mampu mengubah perilaku. Sebagai langkah awal, kesadaran bermisi dapat dimulai melalui aktifitas pengajaran (Mat. 28:19-. , dan hal ini seperti yang disampaikan juga oleh Romelus Blegur dkk20di mana pengajaran baik secara formal maupun non formal adalah langkah awal, dasar yang penting untuk memulai kesadaran bermisi bagi umat Tuhan, dan itu berlaku juga bagi penduduk di Pulau Pai. Jika metode ini di lihat dari sudut pandang misiologi, benarlah bahwa perintah utama Yesus dalam pekerjaan pekabaran Injil adalah : Aypergilah, . ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamuAy (Mat. 28:19-. , dan istilah AumerekaAy dalam nats Alkitab di Arie de Kuiper : Ibid Romelus Blegur dkk : Mendidik Kesadaran Gereja Terhadap Tugas Misi Allah. Makarois (Jurnal Teologi Kontekstual (Vol. Hal. atas itu adalah kata yang merujuk pada segala makhluk, istilah yang dipakai dalam Markus 16:15. Artinya tugas pekabaran Injil adalah tugas untuk mengajar, dan secara formal harus dimulai dari jenjang pendidikan dasar, terutama melalui materi-materi muatan lokal dan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Untuk pendidikan non formal, melalui Gereja yaitu persekutuan jemaat GKI Yahwe Pai dalam pelayanan pada setiap unsur atau unit pelayanan khusus bagi anak-remaja. Pemuda, persekutuan kaum wanita dan persekutuan kaum bapak, pelayanan jemaat pada mereka harus memberi sorotan penting pada rusaknya ekosistem laut dan dampak kerugian serta kesulitan mencari ikan yang dialami. Perlu ditekankan bahwa sebagai warga gereja dan pengikut Kristus, tugas utama mereka adalah mengabarkan Injil pada segala makhluk dan itu termasuk ekosistem laut yang kini telah rusak. Kerusakan ekosistem laut adalah salah satu dampak dari perilaku umat Tuhan yang tidak menjalankan perintah-Nya untuk mengabarkan Injil, melakukan hal-hal positif untuk kebaikan makhluk hidup lain bahkan untuk kehidupan dan kelestarian makhluk lain. Hal ini pun sejalan dengan salah satu pasal pengakuan Iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua tentang pengakuan untuk memelihara alam ciptaan Tuhan21 hal ini perlu diseriusi dan ditetapkan dalam program utama pelayanan jemaat GKI Yahwe Pai dengan sistem kontrol yang serius, kemudian bisa dibentuk kelompok-kelompok kecil di dalam masyarakat Pulau Pai yang berfokus pada kelestarian ekosistem bawah laut di sekitar Pulau Pai. Program pelayanan jemaat di Pulau Pai juga perlu membangun kerja sama dengan jemaat-jemaat lain di sekitar gugusan kepulauan Padaido, teristimewa pulau-pulau yang berdekatan Pulau Pai, untuk menjalankan program bersama, saling menjaga dan mengawasi serta terus melestarikan. Jika hal ini dapat terwujud, maka keindahan ekosistem bawah laut di sekitar pulau Pai akan kembali menjadi baik, suasana indah yang hilang muncul kembali, biota laut serta ikan-ikan akan kembali berdatangan dan itu sama dengan mengembalikan keharmonisan hidup ekosistem bawah laut di Pulau Pai dan tujuan dari perintah Tuhan dalam Markus 16:15 bisa tercapai. Kemudian dari sisi pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui dinas-dinas terkait membentuk kelompok masyarakat untuk mengembalikan kondisi ekosistem bawah laut melalui tindakan-tindakan nyata. Pemerintah melakukan pengajaran dan pelatihan, melengkapi segala fasilitas pendukung hingga melatih dan mempersiapkan masyarakat untuk menanam terumbu karang kembali dan tidak lagi menggunakan Dopis. Program pendidikan non formal yang akan digagas pemerintah ini juga perlu dilakukan sejalan dengan penetapan gugusan kepulauan Padaido sebagai Kawasan Wisata Air sehingga masyarakat harus mendukung. Penting untuk dicatat adalah program kerja baik dari Gereja maupun Pemerintah tidak boleh hanya berfokus untuk membina anggota kelompok yang dibentuk, anggota kelompok pun wajib menjadi pelaku untuk dirinya sendiri, keluarganya, tetapi juga orang-orang terdekat mereka. Anggota kelompok harus dapat menjadi agen pembawa dan pelaku berita damai bagi orang lain yang ditemui dan sikap itu harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Dengan adanya program pengajaran ini diharapkan timbul kesadaran bermisi dari warga gereja yang sekaligus adalah warga masyarakat itu untuk kemudian berubah dan berperilaku lebih baik melestarikan ekosistem laut pulau Pai di gugusan kepulauan Padaido KESIMPULAN Mengakhiri tulisan singkat ini, beberapa hal perlu disampaikan sebagai kesimpulan : Kerusakan lingkungan merupakan bentuk dari keserakahan manusia dalam bertindak semena-mena terhadap alam ciptaan Tuhan. Tindakan semena-mena itu sesungguhnya terjadi karena manusia ingin memperoleh segala sesuatu yang lebih untuk memenuhi kebutuhannya secara luar biasa namun tanpa disadari tindakan itu kemudian berdampak pada kehidupan manusia yang terancam. Hal ini terkait erat dengan prinsip keseimbangan22 Romelus Blegur dkk : Mendidik Kesadaran Gereja Terhadap Tugas Misi Allah. Makarois (Jurnal Teologi Kontekstual (Vol. Hal. 1 yang telah diciptakan Tuhan bagi dunia, yaitu seluruh makhluk di dunia ini diciptakan untuk saling mendukung demi kehidupan yang lebih baik. Lih. Pengakuan Iman GKI di Tanah Papua (Hasil Sidang Sinode 18 di Waropen tahun 2. Umbu Akwan : Ja Asamanam Ap Camar (Prinsip Keseimbangan berdasar Budaya Asma. Abepura. STFT GKI I. Kijne. Tesis 2015. Sebagai Pencipta. Allah tidak berkenan atas ciptaan-Nya yang hancur oleh karenanya Dia selalu merancang sebuah aksi penyelamatan untuk mengembalikan kondisi bumi yang rusak ke keadaan yang baik. Dalam upaya inilah Allah selalu melakukan berbagai hal sepanjang sejarah manusia untuk kebaikan bersama dan dalam kaitan itu, melalui Injil Markus 16:15, tugas pekabaran Injil diamanatkan pada manusia yaitu pergi ke seluruh dunia dan memberitakan kabar sukacita lewat tutur kata dan tindakan agar bukan saja manusia mengalami suasana damai dalam kehidupan di dunia tetapi juga makhluk ciptaan lain dapat mengalami hal yang sama. Inilah perintah pekabaran Injil yang universal dan holistik. Ekosistem bawah laut di sekitar Pulau Pai dulunya merupakan salah satu wilayah yang indah karena ada keanekaragaman ekosistem yang hidup bersama secara harmonis sekaligus menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan dan hewan laut lain. Kondisi ini secara rohani diartikan sebagai cara Allah mempersiapkan berbagai kebutuhan hidup untuk manusia . Kej 1:29-. Suasana yang indah itu kemudian rusak karena keserakahan sebagian besar penduduk pulau Pai dengan menangkap ikan menggunakan Dopis. Untuk mengembalikan suasana yang dulu indah itu, pihak gereja dan pemerintah perlu bekerja sama melakukan berbagai kegiatan pengajaran pada berbagai kelompok dan komunitas masyarakat agar kemudian memiliki kesadaran untuk memperbaiki dan melestarikan ekosistem bawah laut yang telah rusak. Dari sudut pandang iman kristen, tindakan untuk mengembalikan keindahan dan keharmonisan ekosistem bawah laut di sekitar pulau Pai adalah sebuah panggilan untuk mengabarkan Injil sesuai perintah Yesus dalam Markus 16:15, dan oleh karenanya setiap warga jemaat perlu diajak dan diikutsertakan untuk tanggung jawab itu. Hal ini berlalu untuk seluruh warga Jemaat di Pulau Pai, sebuah panggilan untuk mengabarkan Injil kepada dunia bawah laut yang rusak, dan berbagai jenis ikan yang mulai punah atau menjauh dari sekitar pulau Pai. Panggilan pekabaran Injil itu bertujuan untuk ekosistem dunia bawah laut Pulau Pai yang kembali menjadi baik. Bertindak serakah dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan mengorbankan dan membunuh makhluk hidup lain adalah perbuatan yang melanggar perintah pekabaran Injil, itu sebuah pelecehan terhadap amanat Agung. Oleh karena itu setiap warga jemaat perlu menyadari hal tersebut dan berubah untuk menjadi alat damai sejahtera demi dunia yang lebih baik yang kemudian berujung pada kehidupan manusia yang akan membaik dengan sendirinya. DAFTAR PUSTAKA