ABSURDITAS MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME ALBERT CAMUS Muh. Yasin Ceh Nur IAI AsAoadiyah Sengkang muhyasincehnur01@gmail. Abstrak Pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep absurditas manusia dalam pandangan filsafat eksistensialisme Albert Camus? Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. , dengan menggunakan pendekatan filosofis. Selanjutnya metode analisis data yang dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: metode deskriptif, content analisis, dan metode interpretasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Camus menganggap manusia itu absurd, kehidupan ini tidak jelas, tidak ada tujuan dalam Bagi Camus, absurditas itu adanya ketidakpastian antara pikiran manusia dan realitas, manusia selalu memikirkan konsep kehidupan tetapi konsep ini tidak sesuai dengan realitas di luar. Perasaan absurd muncul karena manusia mencari pemahaman yang lengkap mengenai dunia yang tidak dapat dipahami. Manusia merindukan kebenaran universal sedangkan dunia hanya misteri, sehingga Camus menganggap kehidupan ini absurditas. Menurut Camus, kita tidak boleh lari dari kehidupan absurd tersebut, sebab lari dalam kehidupan adalah Baginya kehidupan yang absurd harus dilawan dengan memaknai kehidupan sendiri dan melakukan pemberontakan. Penulis mengharapkan dengan penelitian ini dapat menambah wawasan dan memperluas wacana mengenai makna kehidupan dan absurditas manusia. Kata Kunci: Absurditas. Manusia. Eksistensialisme. Albert Camus PENDAHULUAN Berbicara tentang manusia, yang tergambar dalam pikiran adalah berbagai macam perspektif. Ada yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan berpikir rasional . nimal rasiona. Ada pula yang menyebut bahwa manusia adalah animal Disebut demikian karena manusia mengomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol simbol-simbol Ada pula yang menyebut bahwa manusia sebagai homo feber, yaitu manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan. Undang Ahmad Kamaluddin. Filsafat Manusia: Sebuah Perbandingan antara Islam dan Barat (Cet. Bandung: CV Pustaka Setia, 2. , h. JURNAL SULESANA Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat. Manusia lahir dalam keadaan serba misterius. Artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa, bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. Yang pasti, manusia dilahirkan oleh Tuhan melalui manusia lain, sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya. Kenyataan itu memberikan kejelasan bahwa sesunnguhnya manusia adalah makhluk yang lemah. Keberadaannya sangat bergantung kepada penciptanya (Tuha. Segala potensi dirinya ditentukan secara mutlak oleh sang pencipta. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap sang pencipta, kecuali pasrah. Menurut pandangan klasik yaitu Aristoteles, manusia sebagai gabungan dari materi pertama dan jiwa . yang merupakan bentuk atau prinsip hidup. Namun, dalam diri manusia ia menemukan sesuatu yang sifatnya lebih tinggi, yaitu aktivitas yang menurutnya melampaui potensi materi . dan bersifat sematamata rohani, antara lain berpikir dan berkehendak. Kemudian Aristoteles mengintrodusir sesuatu yang lain, yaitu roh. Tetapi, dengan demikian ia mendapatkan dalam diri manusia sesuatu gabungan dari tiga hal, yaitu materi, jiwa dan roh. 3 Dalam pandangan Renaisance terhadap manusia tetap memberi kesan percaya pada akal, perbedaannya dengan pandangan klasik adalah bahwa keistimewaan manusia itu dilihat dari segi kebebasan akal dan hubungan manusia dengan tuhan. Jadi, manusia pada zaman Renaisance mencari keharmonisan dalam filsafat dan teologi. Konsepsi manusia dalam agama-agama di dunia seperti Yahudi. Nasrani dan Islam. Dalam kitab-kitab suci agama tersebut terdapat gambaran yang pokok yaitu bahwa manusia mempunyai hubungan yang khusus dengan zat pencipta alam. Lebih dari, tiap pribadi merupakan pribadi yang istimewa dan berharga karena berasal dari Tuhan. Dalam pandangan agama Yahudi dan Nasrani, manusia Undang Ahmad Kamaluddin. Filsafat Manusia: Sebuah Perbandingan antara Islam dan Barat, h. Van Der Weij. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. , h. JURNAL SULESANA mempunyai kemampuan untuk bertindak menurut inisiatifnya, dia mempunyai kebebasan untuk bergerak dan bertindak dalam batas waktu dan tempat yang ditentukan, dalam arti bahwa manusia mempunyai kemauan untuk memilih dan mengadakan hubungan cinta, menurut istilah Nasrani AuIa diciptakan dalam citra TuhanAy, maksudnya adalah bahwa Tuhan memberikan sifat-sifat istimewa kepada manusia berupa kebebasan akan tetapi tidak terlepas dari koridor Tuhan. Islam memandang bahwa manusia juga merupakan makhluk Tuhan yang penuh misteri. Ia tidak akan mampu mengungkapkan dirinya yang sebenarnya. Manusia diberi akal oleh Allah dan dengan akalnya, ia akan berpikir. Dengan berpikir, dia akan mengajukan pertanyaan dan akan dicari jawabannya. Asal-usul manusia dalam pandangan Islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah dimuka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya. Allah menciptakan manusia memiliki tujuan tersendiri salah satunya menjadi pemimpin dimuka bumi ini, apa yang dilakukan pada hari ini akan dimintai pertanggung jawabannya di hari akhir. Dan Tuhan menciptakan manusia sebaikbaik ciptaan dikarenakan di dalam diri manusia memiliki potensi yang makhluk lain yang tidak diketahui Manusia dalam pandangan Al-QurAoan bukan makhluk anthropomorfisme, yaitu makhluk penjasa dan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. AlQurAoan menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Di samping itu, manusia dianugerahi akal yang dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada kualitas tertinggi sebagai manusia takwa. Sementara itu, tokoh eksistensialisme yaitu Jean Paul Sarte . menyatakan manusia merupakan pusat transendensi. Hal ini dikarenakan manusia selalu dalam proyeksi serta mengatasi dirinya sehingga menjadi ada, dan tidak ada alam semesta lain kecuali alam manusia. Transenden disini bukan dalam pengertian Tuhan sebagai transendensi, melainkan dalam pengertian bahwa manusia Titus. Smith. Nolan. Persoalan-persoalan Filsafat, (Cet. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1. , h. JURNAL SULESANA mengatasi dirinya. Manusia sepanjang hidupnya tidak terbungkam dalam dirinya sendiri, melainkan hadir dalam alam manusia itu sendiri, berada dari luar dirinya sendiri untuk mengejar tujuan yang transenden sehingga manusia dapat mengada. Jadi, hubungan transenden sebagai wewenang atau kuasa manusia, subjektivitaslah yang disebut Sartre sebagai humanistik eksistensial. Tujuan dasar dari eksistensial humanistik adalah membantu individu menemukan nilai, makna dan tujuan hidup manusia itu sendiri, dan diarahkan juga untuk membantu seseorang agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak, kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang memungkinkan dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yang bermakna. Dengan demikian, nampak bahwa eksistensialisme adalah filsafat yang memberi penekanan pada eksistensi yang mendahului esensi. Masalah yang dihadapi dalam memandang manusia adalah mencari makna manusia uang utuh. Oleh karena itu titik tolak harus dimulai dari manusia sebagai yang konkret, dan inilah pemikiran yang dicetuskan yang pertama kali oleh Soren Kierkegaard. Manusia seperti itu harus disaksikan dan dihayati, semakin dalam penghayatan perihal manusia, semakin bermaknalah kehidupan ini, dan dalam kehidupan yang real dan temporal itu akan terungkap bahwa manusia individu tidak dapat saja diurai dalam dalil-dalil umum, karena kenyataan manusia sebagai eksistensi adalah subyek yang memiliki harkat dan martabatnya yang tinggi, dan karenanya manusia mempertahankan orientasi pribadinya. Pandangan Albert Camus . bahwa manusia itu absurd, dan manusia absurd merupakan manusia yang ada dalam fakta bahwa ia tidak membuat tuntutan buat dirinya dan dunianya, ia menuntut dengan tegas mempermasalahkan projek sebagai permasalahan yang terbatas. Dengan itu mengenai absurditas. Albert Camus menyatakan. pertama, ada ketidakmampuan memahami dunia. Kenapa Camus menyatakan begitu karena Camus adalah seorang ateis dan sangat percaya Agus Hiplunuddin. Filsafat Eksistensialisme, (Yogyakarta: Cognitora, 2. , h. Agus Hiplunuddin. Filsafat Eksistensialisme, h. Muzairi. Eksistensialisme Jean Paul Sartre: Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia, . et I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. JURNAL SULESANA bahwa tidak ada penjelasan final mengenai dunia, dan bisa dikatakan bahwa hidup ini tidak memiliki tujuan dan makna. Bagi Albert Camus, perasaan absurditas lebih merupakan sesuatu yang muncul dari pertemuan antara alam dan pikiran manusia. Absurditas tergantung pada diri manusia sebagaimana dia tergantung pada kondisi alam. Perasaan absurditas muncul karena manusia mencari pemahaman yang lengkap mengenai dunia yang tidak dapat dipahami. Perasaan absurditas adalah hubungan pertemuan antara dunia dan pikiran. 8 Maka muncul pertanyaan, bagaimanana makna kehidupan manusia menurut Albert Camus? METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualititatif, karenanya metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data library research. 9 Jadi peneliti memperoleh data dengan cara penelusuran terhadap sumber-sumber kepustakaan yang relevan. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data tentang konsep absurditas manusia dalam pandangan filsafat eksistensialisme Albert Camus dan data lainnya yang dibutuhkan dalam peneliti. Sifat penelitian bersifat deskriptif analitik. Sumber data penelitian yaitu: data primer dan data sekunder. 10 Data primer yaitu literatur buku yang dari tangan pertama . itulis langsung oleh toko. atau data sumber data awal. Sedangkan data sekunder adalah literatur buku yang tidak berkaitan dengan sumber data awal, seperti halnya pemikiran suatu tokoh yang ditulis oleh orang lain. Adapun analis data, peneliti berusaha mencari makna dalam arti berupaya mengungkapkan dibalik makna yang tersirat maupun yang tersurat serta mengaitkan dengan hal-hal yang sifatnya logis teoretik. 11 Adapun langkah-langkah Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme. Kierkegaard. Sartre. Camus, (Cet I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. Sutrisno Hadi. Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1. , h. Chalid Narbuko dan Abu Achmadi. Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , h. Noeng Muhajir. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1. , h. JURNAL SULESANA yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. ) Metode Deskriptif, 2. ) Content Analisis, ) Metode Interpretasi, 4. ) Komparasi. PEMBAHASAN Biografi Albert Camus Albert Camus, lahir di Mondovi. Aljazair, 7 November 1913, dia lahir di tengah-tengah kemiskinan. Setahun kemudian, ayahnya gugur dalam pertempuran Marne. Dari sekolah dasar. Camus mendapat beasiswa masuk sekolah menengah (Lycee dAo Alger, 1923-1. Setelah menyelesaikan studi filsafat walaupun terputus-putus, ia bekerja pada berbagai jenis pekerjaan, namun ia lebih memilih Pada tahun 1930-an, ia memimpin rombongan pertunjukan drama, dan selama peperangan aktif melawan Prancis, memeriksa surat rahasia yang penting yaitu combat. Kemudian Camus menikah Simone Hie yang seorang pecandu morfin, dan pernikahannya ini tidak berjalan lama dikarenakan diantara keduanya ada yang tidak setia sehingga pernikahannya kandas. Pada tahun 1940. Camus menikah kembali dengan seorang pianis dan ahli dibidang matematika yaitu Francine Faure. Akan tetapi. Camus tidak menganggap pernikahan ini sah walaupun ada hubungan saling mencintai. Dengan itu. Camus kembali menikah dengan Maria Casares seorang artis. Pada tahun 1945 sekitar 5 September istrinya melahirkan anak kembar yang bernama Jean dan Catherine. Pada tahun 1935, semasa menjadi mahasiswa. Camus dalam perang melawan fasisme internasional dan telah berperang melawan Prancis untuk mempertahankan hak-hak penduduk Arab pada saat itu. Pertengahaan abad 1930 dalam karya kreatifnya dan tulisan jurnalnya. Albert Camus merefleksikan seperempat abad yang penuh perdebatan tentang masalah-masalah zaman itu seperti fasisme, pembunuhan, pembersihan kejam pasca perang atas kaki Prancis. Albert Camus. La Paste, terj. NH. Dhini. Sampar, dengan kata pengantar oleh NH. Dhini, (Cet. i: Jakarta: Yayaan Pustaka Obor Indonesia, 2. , h. VII. Mamor Adi Pradana dan Mochamad Nasrul Chotib. Biografi Albert Camus. https://m. Juni 2. JURNAL SULESANA kolonialisme yang tertindas, dan kesemuanya itu sudah menjadi tanggung jawab moral bagi Camus. Pada tahun 1937, beberapa waktu setelah menjadi wartawan, dia menampakkan kakinya dibidang sastra dengan menerbitkan kumpulan cerita yang diberi judul AuLAoEnvers et LAoEndroidAy. Di dalamnya dia memaparkan perasaan kepahitannya terhadap kehidupan. Lalu dia memutuskan untuk meninggalkan Algeria, ingin melawat ke Eropa. 15 Tahun 1954, ketika Camus menolak untuk mendukung FLN, secara garis besar, dalam perjuangan mereka untuk Aljazair. Arab, merdeka dari Prancis. Pada tahun 1957. Albert Camus menerima hadiah nobel, dalam pidato penerimaanya, semakin jelas pendirian kemanusiaannya yang luas. Menurut Camus, seni bukanlah suatu kegembiraan yang dinikmati seorang diri, dan seorang seniman tidak dapat hidup tanpa keindahan. Seniman juga tidak mungkin melepaskan diri dari kelompok masyarakatnya. Seniman berada di tengah-tengah keduanya, dan mengharuskan dirinya untuk mengerti dan bukannya menentukan baik buruknya. Diakhir pidato tersebut. Camus mengajak manusia zamannya merengkuh tiga hal. Pertama, mengembalikan kedamaian atntarbangsa, tapi kedamaian yang tidak didasari oleh penghambaan. Kedua, adanya keselasaran kerja dengan Ketiga. Camus mengajak manusia agar menjaga yang namanya sifat persaudaraan sesamanya manusia dan tidak ada yang namanya kekacauan. Pada tahun 1960 tepatnya tanggal 4 januari. Albert Camus meninggal dunia dalam kecelakaan mobil didekat Villeblevin. Prancis diusia masih cukup mudah, 46 Albert Camus. Caligula. The Misunderstanding. The Just Assassins, terj. Ahmad Asnawi. Caligula dan Lakon Lainnya, (Cet. Yogyakarta: Pusataka Promethea, 2. , h. Albert Camus. La Paste, terj. NH. Dhini. Sampar, dengan kata pengantar oleh NH. Dhini, , h. VII. Albert Camus. Art Politique. Rebellion, terj. Hartono Hadikusumo. Seni. Politik dan Pemberontakan, dengan kata pengantar oleh Mudji Sutrisno, (Cet. I: Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1. , h. Albert Camus. Crises Liberte, terj. Edhi Martono. Krisis Kebebasan, dengan kata pengantar oleh Goenawan Mohammad, (Cet. i: Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , h. JURNAL SULESANA 18 Diusia yang masih mudah banyak karya yang dia ciptakan hingga masih dikenang sampai sekarang. Adapun karya-karya Albert Camus yaitu: Pertama. The Stranger . rang ane. Kedua. Le Mythe de Sisyphe (Mite Sisifu. 19 Ketiga. La Paste (Sampa. 20Keempat. Exile and The Kingdom . engasingan dan kerajaa. 21 Kelima. The Rebel (Pemberonta. 1954,22 buku ini muncul di Prancis, disajikan dalam pengertian sebagai kegairahan intelektual demi penelitian atas konsep kebebasan, buku ini bukanlah buku yang berifat teoritis, tetapi buku ini sebagai penguji tentang situasi di Eropa dewasa ini. 23 Keenam. Caligula. The Misuderstanding. The Just Assassins (Caligula, dan Lakon Lainny. Inilah beberapa karya dari Albert Camus sehingga dia besar dikalangan intelektual pada saat itu, dan menjadikan dirinya sesorang yang bisa dikenang sampai saat ini lewat karya-karyanya, dan pada itulah Camus mendapatkan hadiah nobel, walaupun dia meninggal dalam usia masih mudah. Makna Kehidupan Menurut Albert Camus Makna Kehidupan Manusia Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan Tuhan yang bersifat otonom yang bersifat individu sekaligus makhluk sosial, yang selalu bergerak kearah tujuan yang diinginkan, dengan bersifat otonom maka secara tidak langsung keberadaan manusia terlepas dari Tuhannya maka dari itu manusia bebas menentukan tujuan hidupnya. Jadi, manusia memiliki konsep kehidupan tersendiri, jika dia menggunakan dan mengamalkan hidupnya dengan baik maka hidupnya Albert Camus. Crises Liberte, terj. Edhi Martono. Krisis Kebebasan, dengan kata pengantar oleh Goenawan Mohammad, (Cet. i: Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , h. Albert Camus. La Paste, terj. NH. Dhini. Sampar, dengan kata pengantar oleh NH. Dhini. VII. Albert Camus. La Paste, terj. NH. Dhini. Sampar, dengan kata pengantar oleh NH. Dhini. Vi. Albert Camus. Keris Liberte, terj. Edhi Martono. Krisis Kebebasan, dengan kata pengantar oleh Goenawan Mohammad, h. Albert Camus. Keris Liberte, terj. Edhi Martono. Krisis Kebebasan, dengan kata pengantar oleh Goenawan Mohammad, h. Albert Camus. The Rebel, terj. Max Arifin. Pemberontak, ( Cet. II: Yogyakarta: NarasiPustaka Promethea, 2. , h. IV. JURNAL SULESANA memiliki makna tersendiri sedangkan tidak menggunakan secara baik, maka ketidakbermaknaan terjadi padanya. Konsep makna hidup yang diungkapan Bastman dalam jurnal yang ditulis oleh Hendro dan Tatik Meiyuntari AuHal-hal yang oleh seseorang anggap penting, yang dirasakan berharga, dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnyaAy. 24 Makna hidup terbagi atas dua yaitu, makna hidup subjektif dan makna hidup objektif. Makna hidup subjektif adalah sifatnya cenderung personal, temporal dan unik. Menurutnya, kehidupan ini bisa saja berubah waktu kewaktu, bisa saja kehidupan kita bermakna dan kehidupan orang lain tidak bermakna, dan itu tergantung dari individunya, selama dia menjalani hidupnya lebih baik maka makna hidupnya baik pula. Sifat lain dari makna hidup subjektif yakni konkrit dan spesifik, yaitu makna hidup yang ditemukan dalam pengalaman kehidupan sehari-hari manusia, sedangkan makna hidup objektif yang sifatnya cenderung umum. Maksudnya, kesamaan makna hidup setiap manusia, bisa saja individu satu memiliki makna hidup tertentu dan individu yang lain memiliki kesamaan makna hidup, karena kita ketahui manusia hidup di bumi ini memiliki tujuan hidup yang Islam memandang bahwa manusia memiliki makna hidup dan tujuan hidup. Manusia yang merupakan bagian dari alam semesta ini diciptakan untuk suatu tujuan tertentu. Seperti dalam Al- QurAoan. S Az-Zariyat/51: 56 u AaOIA a AEA a AI au acacE aE aO aA a AaO aI aEa Ca E a acI aOA Terjemahnya: Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku. Berdasarkan dari ayat di atas bahwa, manusia diciptakan sebagai hamba Allah. Jadi, sudah jelas bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah menyembah. R Hendro Rumpoko Perwito Utomo. Tatik Meiyuntari. AuKebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan DepresiAy. Psikologi Indonesia, vol. 4, no. 03, (September 2. ,h. R Hendro Rumpoko Perwito Utomo. Tatik Meiyuntari. AuKebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan DepresiAy. Psikologi Indonesia, vol. 4, no. 03, (September 2. ,h. Depertemen Agama. Al-QurAoan dan Terjemhanya, (Jakarta: PT. Syamil Cipta Media, 2. , h. JURNAL SULESANA mengabdi kepada Allah swt. Penyembahan manusia terhadap Tuhan merupakan hal yang wajib yang dilakukan sebagai hamba. Dapat dipahami bahwa, setelah manusia meninggal dia akan kembali kepada Allah sebagai pencipta manusia dan alam semesta, segala perbuatan manusia yang dia perlakukan di bumi akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Kembalinya manusia kepada Tuhannya itulah menjadi tujuan manusia diciptakan. Berbeda dengan anggapan Alber Camus, yang menganggap manusia tidak mampu memahami dunia. Seperti yang dikatakan Camus, sebagaimana dikutip dalam buku Vincent Martin: Kukatakan bahwa dunia ini adalah absurd, tetapi aku terlalu gegabah. Dunia sendiri adalah sesuatu yang tidak dapat dipikirkan, hanya itu bisa dikatakan. Tetapi apa itu absurditas? Yaitu pertentangan irrasionalitas ini dengan kerinduan liar untuk menjernihkan sesuatu yang bergema di dalam hati Absurditas lebih banyak tergantung pada manusia seperti juga pada Menurut penjelasan di atas. Camus menganggap manusia tidak bisa memahami dunia, dan manusia hidup di bumi ini tidak memiliki tujuan. Setelah manusia meninggal dunia apakah ada kehidupan selanjutnya?. Mengapa Camus mengatakan begitu, karena dia seorang eksistensialisme ateis sehingga dia tidak percaya terhadap Tuhan dan kehidupan selanjunya. Manusia sebelum mengalami kehidupan yang tidak bermakna, dia penuh dengan pengharapan terhadap hidupnya, melakukan perbuatan yang baik agar supaya dihari kemudian mendapatkan balasan atau mendapatkan manfaat, sehingga manusia selalu mengharapkan balasan itu. Akan tetapi, itu akan sia-sia dan runtuh setelah datang pengalaman kehidupan yang tidak bermakna. Setelah mencapai hal ini, manusia akan mengalami sikap masa bodoh, acuh tak acuh serta sikap putus asa dalam menjalani hidup. Bagi Camus, dunia ini penuh dengan fakta- fakta tentang kesempurnaan dirinya, akan tetapi semua itu tidak memiliki kesempurnaan. Mengutip kembali perkataan Camus: Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. JURNAL SULESANA Pada tingkatan yang terakhir, kamu mengajariku bahwa alam yang menakjubkan dan penuh dengan warna ini dapat direduksi menjadi elektron. Ini semua baik dan akan kutunggu kamu melanjutkannya. Tapi kamu mengatakan ada sesuatu dalam tata surya yang tidak tampak dimana elektronelektron itu menggelilingi pusatnya. Kamu menerangkan dunia ini padaku dengan suatu citra. Saya sadari kemudian bahwa kamu telah direduksi menjadi sebuah puisi: aku tidak pernah tahu. Dari penjelasan di atas, kehidupan ini memiliki fakta-fakta tapi tidak memiliki fakta yang sempurna, ada banyak pengharapan dalam hidup tapi tidak ada tujuan hidup, ada banyak kebenaran tapi tidak ada yang benar, semuanya berhenti pada angan-angan atau hipotesis, karena kehidupan ini penuh dengan kesia-siaan dan ketidakjelasan. Absurditas Manusia Istilah absurditas berasal dari kata absurd yang berasal dari bahasa Latin, ab yang artinya AutidakAy dan surdus yang artinya mendengar. Jadi, absurd artinya tuli, tidak mendengar dan tidak masuk akal. 29 Sedangkan menurut pandangan Albert Camus bahwa absurditas adalah adanya ketidakmampuan memahami dunia. Bagi Camus manusia absurd merupakan manusia yang ada dalam fakta bahwa dia membuat tuntutan buat dirinya dan dunianya, ia menganggap dirinya tidak bermakna karena adanya Tuhan. 30 Jadi kita bisa memahami, bahwa absurditas itu sebagai ketidakbermaknaan dunia dan tidak adanya tujuan hidup. Mengapa Camus membahas tentang absurditas, karena bagi Camus, absurditas ini merupakan sesuatu yang muncul dari pertemuan antara alam dan pikiran manusia tersebut. Jadi, absurditas ini memiliki ketergantungan pemikiran manusia sebagaimana ketergantungannya terhadap alam ini. Kenapa ini bisa muncul, karena manusia mencari pemahaman dunia yang tidak dapat dipahaminya, sehingga perasaan absurditas ini adalah sesuatu yang berhubungan antara pertemuan dunia dan pikiran manusia. Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. Saeful Ahkam dan Koento Wibisono. AuAbsurditas Manusia dalam Perspektif Pemikiran Albert Camus (Evalusi Kritis atas Pandangan Antropologi FilosofisAy. Sosiohumanika, vol. 16 no 2 (Mei 2. , h. Agus Hiplunuddin. Filsafat Eksistensialisme, h. Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. JURNAL SULESANA Menurutnya, perasaan absurditas ini terjadi ketika apa yang diharapkan manusia tidak sesuai apa yang terjadi dimuka bumi ini, karena sering terjadi pada diri manusia mengharapkan sesuatu tapi tidak terjadi di alam ini. Jadi absurditas ini mempertanyakan apakah tujuan manusia hidup dimuka bumi ini? Dan apakah hidup ini memiliki makna? Karena tanpa kita sadari dan harapkan kita terlempar di bumi tidak pernah tau untuk apa manusia dilahirkan di bumi ini? Dan itu menjadi misteri bagi diri manusia. Absurditas sebagai titik pemikiran eksistensialisme yang kemudian dikembangkan oleh Albert Camus sebagai ciri filsafat tersendiri yang dinamakan filsafat absurdisme, yang merupakan pengembangan dari corak pemikiran filsafat Kemunculan absuritas ini di abad 21, pada masa modernisme karena adanya budaya mekanisasi dan dehumanisasi yang mengalienasi manusia pada saat itu, karena manusia itu produk yang otomatis menjadikan manusia itu sebagai robot. Di sinilah sumber dari absuditas, manusia sebagai robot, ketika sudah diprogram untuk bekerja sebagai A, dia harus bekerja sebagai A dan tidak boleh bekerja sebagai B. Padahal hidup ini tidak sesimpel yang kita bayangkan, hidup ini dinamis yang selalu berubah-ubah semantara hidup ini sudah terlanjur stagnan. Sehingga ideal yang kita hayati sering tidak nyambung dengan hidup sehari-hari. Kenapa bisa begitu karena adanya mekanisasi hidup. Hidup ini seakan-akan monoton dan sudah ada aturan hidup yang struktural yang terjadi pada diri manusia. Yang sering dia tidak sadari, seperti manusia harus bangun jam 5. 30 melakukan shalat subuh, setelah itu jam 8 sarapan pagi lalu berangkat kerja, pada jam 12. 00 siang sarapan sampai pada malam dan itu berulangulang terjadi. Inilah rutinitas-rutinitas yang menjebak karena tidak relevan lagi untuk dilaksanakan, tetapi dipaksakan untuk dilaksanakan, itu merupakan jebakanjebakan cara berpikir modern, beginilah gambaran ketidakbermaknaan hidup. Manusia dalam menjalani hidupnya dengan penuh harapan. Dia berharap bahwa tujuan hidupnya tercapai. Kemudian, berjalannya waktu muncul kesadaran Agus Hiplunuddin. Filsafat Eksistensialisme, h. JURNAL SULESANA tentang kehidupan, seakan-akan menganggap bahwa kehidupan ini tidak memiliki Sampai kepada manusia berada titik kejenuhan dan bermasa bodoh. Sifat ini muncul karena manusia merasa bebas dari aturan-aturan yang ditentunkan sehingga dia bebas memilih, dengan pilihan manusia bisa menentukan arah tujuan hidupnya, apakah dia mau berbuat baik atau jahat. Novel Mite Sisifus membahas juga bagaimana kehidupan itu absurd. Menurut metologi Yunani seorang pemuda bernama Sisifus, dia orang paling bijaksana dan paling hati-hati. Dia dihukum oleh dewa, pada awalnya, dia dituduh melakukan kesemberonoan sehubungan dengan dewa dan mencuri rahasianya. Sehingga para dewa mengutuk Sisifus untuk tak henti-hentinya menggulirkan batu ke puncak sebuah gunung, dimana batu itu akan jatuh kembali karena beratnya Dari cerita inilah. Camus mengungkapkan bahwa kehidupan ini absurditas, adanya kesia-siaan dalam menjalani hidup dan hidup ini berulang-ulang. Seperti yang dilakukan oleh Sisifus disaat mendorong batu ke puncak kemudian menjatuhkan lalu didorong lagi, begitulah terus menurus. Mendorong batu tersebut, ibarat manusia menjalani kehidupan. Setelah sampai kepada puncak kehidupan maka akan menggelinding turun kembali. Jadi, kita bisa pahami bahwa manusia tidak akan bisa sampai kepada tujuan hidupanya, sebab sebelum sampai pada tujuan akan jatuh kedasar kehidupan. Jalan Keluar Absurditas Setelah manusia terjerumus dalam kehidupan yang absurditas. Camus berusaha menjawab jalan keluarnya yaitu: Bunuh diri Apa yang harus dilakukan untuk mengahadapi absuritas ini? Apakah semua absurditas kehidupan ini layak dihidupi atau dibiarkan saja? Sebagaimana yang diungkapkan Camus,Ay Memang salah satu persoalan filsafat yang benar-benar serius yaitu bunuh diriAy. Tindakan bunuh diri ini sebagai tindakan untuk mengakhiri hidup yang absurditas ini, karena menganggap kehidupan ini tidak layak untuk Albert Camus, . The Myth of Sisyphus and Other Essays, terj. Showwam Azmy. Mite Sisifus dan Esai-esai Lainnya, h. JURNAL SULESANA dijalani lagi. Akan tetapi. Camus tidak terlalu sepakat dengan ini karena tindakan yang menerimah begitu pasrah kehidupan ini. Menurut Camus, bunuh diri ada dua macam yaitu bunuh diri fisik dan bunuh diri filosofis. Camus melihat bahwa bunuh diri fisik ini yaitu manusia mengakhiri hidupnya karena menganggap kehidupan ini sangat susah, karena menyadari tidak adanya alasan untuk hidup sehingga mengakhiri absurditas dengan bunuh diri, apakah berupa gantung diri atau melompat. Kemudian, bunuh diri filosofis, menurut Camus bunuh diri filosofis ini ketika seorang filosof sadar akan absudritas dan ketidakrasionalan, tetapi kemudian ada beberapa simpul pemikiran, beberapa putusan keinginan dan perubahan imajinasi sekaligus menemukan makna dalam dunia ini. 35 Maksud bunuh diri filosofis ini yaitu tidak mau susah payah memikirkan hidup, pasrah terhadap kehidupan, mencoba menghalangi diri untuk memikirkan kehidupan. Dia hanya berkata menolak absurditas tetapi tidak mau bertindak, membunuh akal dan Bagi Camus, perlakuan bunuh diri sudah merata dikalangan filsafat Dikarenakan, dia mulai memikirkan absurditas dalam pandangan masing-masing filsuf, mereka berusaha menemukan jalan keluar dari absurditas Seperti yang diutarakan Camus yaitu: AuKierkegaard telah melakukan lompatan imannya, sedangkan Husserl menemukan solusi absurditas dengan suatu dunia esensi yang transenden yang benar-benar menolak irrasionalitas dalam eksistensiAy. Sehingga banyak yang menyebabkan di antara filsuf yang menghindari absurditas dalam hidupnya dengan melakukan bunuh diri dan ada pula yang mencari solusi yang lain dengan menolak prinsip-prinsip filsafat mereka. Sebenarnya bunuh diri ini, terutama bunuh diri filosofis merupakan solusi awal, karena adanya kesadaran manusia untuk menghindari kehidupan yang absurditas. Saeful Ahkam dan Koento Wibisono. AuAbsurditas Manusia dalam Perspektif Pemikiran Albert Camus (Evalusi Kritis atas Pandangan Antropologi FilosofisAy. Sosiohumanika, vol. 16 no 2 (Mei 2. , h. Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. JURNAL SULESANA Menolak kemampuan individu mencari makna secara rasional . Tindakan melompat ini, mengupayahkan diri dengan memaknai penalaran mistik sebagai solusi keterbatasan pikiran, seperti pemikiran tentang spritual, 37 Maksudnya, mengembalikan sesuatu kepada Tuhan, mejadikan agama dan Tuhan sebagai pelarian. Ketika manusia mengalami keabsuritasan dalam hidup, kemudian Tuhan dijadikan kambing hitam dalam hal itu. Karena pola pemaknaan agama yang terlalu teosentris akan menjadikan Tuhan sebagai sesuatu yang harus dipatuhi dan ditaati, sedangkan agama yang dipahami oleh Feuerbach yaitu agama itu sebagai antropologi. Maksudnya agama keberadaannya, karena yang kita ketahui bahwa misi agama, manusia harus turut ambil membentuk eksistensinya agar dia bisa mentukan jalan hidupnya di alam raya Camus tidak sepakat dengan hal ini juga, karena lari dari tanggung jawab atau lari dari absurditas, dengan menolak untuk berpikir rasional sehingga menghubungkan dengan hal-hal yang religius, keterlibatan Tuhan dalam kehidupan, seperti pemikiran aliran eksistensialisme ateis, dimana dalam menentukan eksistensi manusia ada Tuhan sebagai pengarah dan perlindungan, sehingga Tuhan sebagai pelarian. Sebenarnya, yang diinginkan Camus yaitu akui saja absurditas kehidupan itu bahwa dunia ini memang absurd, jangan lari dari tanggung jawab, karena hidup ini memang absurd dan kapan lari darinya maka dikatakan orang yang tidak berani menghadapi kehidupan. Kita kembali cerita Sisifus, dimana dia tidak putus asa dan lari tanggung jawab, ketika dihukum menggelindingkan batu di atas gunung, kemudian melepaskan lalu menggelindingkan lagi, begitulah terus-menerus Sehingga kita menilai bahwa Sisifus ini tidak pasrah atas kehidupannya, walaupun sebenarnya absurd, tapi tetap menghadapinya. Jadi, bagi camus terimalah Saeful Ahkam dan Koento Wibisono. AuAbsurditas Manusia dalam Perspektif Pemikiran Albert Camus (Evalusi Kritis atas Pandangan Antropologi FilosofisAy, h. Eko P. Darmawan. Agama Itu Bukan Candu: Tesis-tesis Feurerbach. Karl Marx, dan Tan Malaka, (Yogyakarta: Resist Book, 2. , h. JURNAL SULESANA saja kehidupan ini seperti yang dicontohkan Sisifus, dengan menerimah begitu saja maka ada muncul rasa semangat untuk menjalaninya. Pertanyaanya setelah menerimah begitu saja hidup ini, apakah kehidupan ini asal-asalan? Jawabannya tidak, karena manusia bisa memaknai hidupnya dengan versinya sendiri sehingga muncul sifat individual pemaknaan hidup. Di sinilah muncul kebebasan manusia untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya, dengan menentukan dan memaknai kehidupan sendiri maka akan menemukan makna yang terbaik bagi hidupnya, karena manusia dalam sejarah berusaha menemukan makna hidup dan dia akan jatuh diantara keduanya yaitu hidup ini tidak bermakna dan hidup ini bermakna. Jadi, jika hidup kita akan bermakna maka ciptakanlah makna bagi dirimu sendiri. Pemberontak Inilah yang diinginkan Camus terhadap kehidupan yang absurd yaitu Bagi Camus, manusia yang absurd yaitu dia yang mengerti terhadap absurditas dan tidak lari darinya, tetapi menentang absurditas tersebut, inilah manusia pemberontak. Manusia dalam pemberontakan tertarik pada realitas yang mengangkatnya karena dia tidak bisa memahaminya, akan tetapi dia jauh dari sikap mengalah, dia berdiri tegak dan berjuang melawan harapan. Pertanyaannya siapakah pemberontak itu? Manusia yang berkataAyTidakAy pada kehidupan, tetapi penolakannya tidak termasuk suatu penolakan diri atau penolakan terhadap keberadaannya. Dia juga pernah mengatakan AuYaAy, sejak dia menampilkan gelagat pertamanya untuk memberontak, seperti contohnya seorang budak yang selama ini selalu mematuhi perintah aturan, tiba-tiba dia mengatakan AuTidakAy untuk mematuhi peraturan baru. 40 Dengan pemberontakan, maka manusia menemukan arti dalam kehidupannya sendiri, dia menemukan kebebasan untuk menempuh hidupnya. Dimana selama ini, dia ikut aturan-aturan hidup yang membuatnya terkungkung dan tidak mengalami kebebasan. Sehingga di pemberontak ini, akhirnya memiliki sebuah kebebasan yang mutlak. Vincent Martin. Filsafat Eksistensialisme, h. Albert Camus. The Rebel, terj. Max Arifin. Pemberontak, h. JURNAL SULESANA Pemberontakan terbagi atas dua yaitu pemberontakan metafisik dan pemberontakan historis. Pemberontakan metafisik adalah gerakan dimana orang memperotes kondisi ciptaan. Kenapa dikatakan metafisik, karena gerakan ini menggugat tentang tamatnya manusia dan ciptaannya. Seperti para budak memperotes tentang kondisi dimana ia menemukan dirinya berada dalam keadaan Sehingga pemberontak metafisik menentang kondisi ini karena tidak menemukan jati dirinya sebagai manusia. Sedangkan pemberontakan historis adalah gerakan pertentangan manusia terhadap terjadinya perasaan, ketidakadilan dan ketidakbebasan bagi manusia untuk menentukan eksistensinya akibat adanya ideologi dan paham keagamaan. Gerakan ini bermaksud untuk melawan sejarah-sejarah yang sudah ditentukan sehingga manusia tidak bisa keluar dari koridor sejarah tersebut. Maka dari itu yang harus dilakukan yaitu memberontak. Dengan jiwa pemberontak maka manusia bisa menentukan eksistensi dirinya, seperti semboyang Camus yaitu AuAku memberontak, maka aku adaAy. Ini bentuk penegasan bagi eksistensi dari diri manusia. Aku memberontak, itu menandakan adanya jiwa perlawanan untuk menentang kehidupan yang absurd, maka aku ada menandakan manusia sudah menemukan eksistensi dirinya. PENUTUP Menurut Camus, manusia itu absurd, kehidupan ini tidak jelas, tidak ada tujuan dalam kehidupan ini. Bagi Camus, absurditas itu adanya ketidaksesuaian antara pikiran manusia dengan realitas, manusia selalu memikirkan konsep kehidupan tetapi konsep itu tidak sesuai dengan realitas di luar. Perasaan absurd muncul karena manusia mencari pemahaman yang lengkap mengenai dunia yang tidak dapat dipahami. Manusia merindukan kebenaran universal sedangkan dunia hanya misteri, sehingga Camus menganggap kehidupan ini absurditas. Albert Camus. The Rebel, terj. Max Arifin. Pemberontak, h. Saeful Ahkam dan Koento Wibisono. AuAbsurditas Manusia dalam Perspektif Pemikiran Albert Camus (Evalusi Kritis atas Pandangan Antropologi FilosofisAy, h. JURNAL SULESANA Bagaimana keluar dari kehidupan yang absurd ini? Bagi Camus yaitu bunuh Bunuh diri terbagi atas dua yaitu, bunuh diri fisik dan bunuh diri filosofis. Menurut Camus, kita tidak boleh lari dari kehidupan absurd tersebut, sebab lari dalam kehidupan adalah pecundang. Camus menganggap kehidupan yang absurd itu harus dilawan dengan memaknai kehidupan sendiri dan melakukan DAFTAR PUSTAKA