Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN VEGETASI PADA LAHAN AGROFORESTRI KAPULAGA DI KTH JAYA TANI 1,2,3 Machya Kartika Tsani *1. Sugeng Prayitno Harianto2. Surnayanti3 Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Jalan Prof. Dr Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. Kota Bandar Lampung. Provinsi Lampung E-Mail: machya. kartika@fp. id (*Corresponding autho. Submit: 15-12-2025 Revisi: 13-02-2025 Diterima: 12-03-2025 ABSTRAK Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi pada Lahan Agroforestri Kapulaga di KTH Jaya Tani. Studi agroforestri di Provinsi Lampung mayoritas berfokus pada sistem kopi, sementara penelitian terkait sistem agroforestri kapulaga masih sangat terbatas. Sehingga tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis komposisi dan keanekaragaman vegetasi pada lahan agroforestri kapulaga di KTH Jaya Tani. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis vegetasi pada petak ukur bersarang. Analisis Data menggunakan analisis indeks nilai penting, indeks keanekaragaman spesies, indeks kekayaan, indeks kemerataan, dan indeks Hasil penelitian menunjukkan vegetasi penyusun KTH Jaya Tani terdiri dari 31 spesies tanaman yang terdiri dari berbagai tingkat pertumbuhan seperti pohon, tiang, pancang dan semai. Selain itu juga terdiri dari berbagai tanaman herba yang menyusun bagian tumbuhan bawah yang didominasi oleh kapulaga sebagai tanaman pertanian utama yang diusahakan oleh petani. Setiap tingkat pertumbuhan menunjukkan INP tertinggi didominasi oleh spesies yang berbeda. Pohon INP tertinggi pada pada kelapa . ,696 %). Kakao memiliki INP tertingi pada tingkat tiang . ,118%) dan semai . ,801%). Pada tingkat pancang terdapat pisang . ,238%). Sedangkan pada tumbuhan bawah yaitu tanaman kapulaga . ,533 %). Nilai HAo menunjukkan pohon, tiang, pancang dan semai berada pada kategori sedang. Sedangkan untuk tumbuhan bawah menunjukkan nilai HAo pada kategori rendah. Nilai E pada pohon, tiang, pancang, dan semai menunjukkan nilai E > 0,6 yang berarti kemerataan jenis tergolong tinggi. Sebaliknya, tumbuhan bawah . memiliki besaran nilai E < 0,3 yang menunjukkan kemerataan jenis yang rendah. Indeks dominasi (C) tertinggi dari seluruh tingkat pertumbuhan ada pada tumbuhan bawah . yaitu pada kapulaga. Indeks kekayaan spesies seluruh tanaman menunjukkan kategori yang rendah . i bawah 3,. Kata kunci : Agroforestri kapulaga. Biodiversitas. Tingkat pertumbuhan. Vegetasi. ABSTRACT Composition and Diversity of Vegetation on the Cardamom Agroforestry Land at KTH Jaya Tani. Agroforestry studies in Lampung Province mostly focus on coffee systems, while research related to cardamom agroforestry systems is still very limited. The purpose of this study is to analyze the composition and diversity of vegetation in cardamom agroforestry land in KTH Jaya Tani. Data collection was carried out using vegetation analysis techniques on nested measurement plots. Data analysis used important value index analysis, species diversity index, richness index, evenness index, and dominance index. The results showed that the vegetation in KTH Jaya Tani consists of 31 plant species, consisting of various growth levels such as trees, poles, saplings and seedlings. In addition, it also consists of various herbaceous plants that make up the understory level which is dominated by cardamom as the main agricultural crop cultivated by farmers. Each growth level shows the highest INP dominated by different species. The highest INP tree is coconut . 696%). Cocoa has the highest INP at the pole level . 118%) and seedlings . 801%). At the sapling level there are bananas . 238%). Meanwhile, in the understory, namely cardamom plants . 533%). The H' value shows that trees, poles, stakes and seedlings are in the medium category. Meanwhile, the understory shows the H' value in the low category. The E value in trees, poles, stakes, and seedlings shows an E value > 6, which means that the evenness of species is classified as high. On the other hand, the understory . has an E value < 0. 3, which indicates low evenness of species. The highest dominance index (C) of all growth levels is in the understory . , namely in cardamom. The species richness index of all plants shows a low category . Key words : cardamom agroforestry, biodiversity, growth level, vegetation. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A PENDAHULUAN Agroforestri adalah sebuah sistem mengkombinasikan tanaman pertanian atau tanaman semusim dengan tanaman hutan atau tanaman berkayu secara bersamaan pada satu lahan yang sama (Toding. Ratag, & Pangemanan, 2. Agroforestri sistem pengelolaan lahan yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat alih guna lahan dan untuk mengatasi masalah pangan. Secara umum, bentuk agroforestri mencakup kebun campuran, tegakan berpohon, ladang, lahan bera . , kebun pekarangan, hutan tanaman rakyat yang lebih kaya jenis. Agroforestri berperan penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan . ustainable agricultur. Sistem ini memberikan manfaat dalam aspek produksi . , fungsi konservasi . serta fungsi sosial budaya (Purwanto, 2. Kelompok Tani Hutan (KTH) Jaya Tani register 20 di Desa Banjaran. Kecamatan Padang Cermin, telah menerapkan sistem agroforestry dalam Masyarakat mengembangkan agroforestri dengan mengkombinasi sebagai jenis tanaman meliputi tanaman semusim, tanaman kehutanan, serta tanaman Multi Purposes Tree Species (MPTS) atau tanaman serbaguna dalam pola tanam campuran. Salah satu tanaman agroforestry unggulan di KTH Jaya Tani adalah agroforestri Kapulaga komoditas HHBK yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat di KTH Jaya Tani yang sudah dikembangkan sejak Selama ini telah banyak penelitian yang mengkaji keragaman tanaman dalam Tsani et al. sistem agroforestri. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan berbagai manfaat agroforestry yang sebagian besar penelitian lebih fokus pada aspek ekonomi dan produktivitas tanaman utama (Priyadi. Nuryati. Sumarsih, & Faqihuddin, 2018. Sukmawati. Maarif, & Arkeman, 2014. Wattie & Sukendah, 2. Penelitian agroforestry di Provinsi Lampung, sangat banyak dilakukan pada lahan agroforestry kopi, sedangkan untuk agroforestry kapulaga masih sangat jarang dilakukan penelitian. Penelitian Evizal and Prasmatiwi . hanya menjadikan kapulaga menjadi salah satu understorey pada agroforestry kakao. Pengetahuan tentang keragaman vegetasi di dalam lahan agroforestri kapulaga di KTH Jaya Tani masih terbatas. Meskipun beberapa studi telah menyelidiki keragaman jenis tanaman dalam agroforestri, namun belum ada kajian tentang komposisi dan keanekaragaman vegetasi di lahan agroforestri kapulaga di KTH Jaya Tani. Bahkan kajian mengenai kapulaga yang menjadi tanaman utama dalam lahan agroforesti ini belum juga diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan pengetahuan tersebut dengan menganalisis komposisi dan keanekaragaman vegetasi pada lahan agroforestri kapulaga di KTH Jaya Tani. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada Juli-Agustus Lokasi penelitian terletak di KTH Jaya Tani Register 20 Pematang Kubuato. KPH Pesawaran yang terletak di Kabupaten Pesawaran. Provinsi Lampung. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 1. Peta lokasi penelitian Pengumpulan Data Pengumpulan data dilaksanakan di lahan petani yang melakukan sistem pengelolaan agroforestri kapulaga KTH Jaya Tani dengan teknik analisis vegetasi. Plot ukur dibuat bersarang dengan pengkategorian sebagai berikut (Dendang & Handayani, 2. 20x20 m2 untuk tingkat pohon . ohon dewasa berdiameter Ou 20 c. 10x10 m2 untuk tingkat tiang . ohon muda dengan diameter mulai dari 1019,9 c. 5x5 m2 untuk tingkat pancang . ohon muda dengan tinggi Ou 1,5 m dan diameter < 10 c. 2 x 2 m2 untuk tingkat semai . nakan pohon dengan tinggi kurang dari 1,5 . dan tumbuhan bawah . anaman herba dan tanaman pertania. Gambar 2. Design plot pengamatan. Analisis Data Data hasil analisis vegetasi yang didapat di lapangan dianalisis dengan menggunakan berbagai indeks nilai penting, indeks kekayaan spesies, indek keanekaragaman spesies dan indek kemerataan spesies. Untuk memperoleh INP tahapan perhitungan yang digunakan adalah menghitung nilai kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, luas penutupan lahan, luas penutupan lahan relatif, dan terakhir dihitung INP-nya. Selain itu, juga vegetasi di lahan agroforestry kapulaga KTH Jaya Tani menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H'). Indeks Kemerataan (E). Indeks Dominansi (C), dan Indeks Kekayaan spesies (R). Indeks Nilai Penting Rumus yang digunakan dalam analisis ini dimulai dengan menghitung Kerapatan (K. Kerapatan Relative (KR). Frekuensi (F. Frekuensi Relative (FR). Luas Penutupan Lahan (D. Luas Penutupan Lahan Relative (DR). This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A yaycn = Tsani et al. yaycycoycoycaEa ycnycuyccycnycycnyccyc ycycuycycyco ycyceycuycnyc ycoyceOeycn ycoycycayc ycyceycoycycycEa ycyyceycycayco ycaycuycuycycuEa yayceycycaycyycaycycaycu ycyceycuycnyc ycoyceOeycn yaycI = ycoyceycycaycyycaycycaycu ycyceycoycycycEa ycyceycuycnyc ycu100% yaycn = . yaycycoycoycaEa ycyyceycycayco yccycnycyceycoycycoycaycuycuycyca ycyceycuycnyc ycoyceOeycn yaycycoycoycaEa ycyceycoycycycEa ycyyceycycayco ycycoycyc yaycyceycoycyceycuycycn ycyceycuycnyc ycoyceOeycn yaycI = yaycyceycoycyceycuycycn ycyceycoycycycEa ycyceycuycnyc ycu100% yaycn = . ycycuycycayco ycoycycayc ycaycnyccycaycuyci yccycaycycayc ycycuycycyco ycyceycuycnyc ycoyceOeycn ycoycycayc ycyceycoycycycEa ycyyceycycayco ycaycuycuycycuEa yaycuycoycnycuycaycycn ycycycaycyc ycyceycuycnyc ycoyceOeycn yaycI = yaycuycoycnycuycaycuycycn yccycaycycn ycyceycoycycycEa ycyceycuycnyc ycu100% . yaycAycE ycyycuEaycuycu yccycaycu ycycnycaycuyci = yaycI yaycI yaycI yaycAycE ycyycaycuycaycaycuyci, ycyceycoycaycn yccycaycu ycycycoycaycEaycaycu ycaycaycycaEa = yaycI yaycI Indeks keanekaragaman spesies ya A = OeOc{. } . Keterangan: HAo: Indeks keanekaragaman, pi: Proporsi jumlah individu ke-i . i/N) ni: Kelimpahan spesies ke-i N: Kelimpahan total spesies yang ditemukan Indeks kekayaan ycIOe1 ycI = ln. cA) . Keterangan: R: Indeks kekayaan spesies. S: jumlah total spesies. N: jumlah total individu. Indeks kemerataan yaA ya = ln ycIA Keterangan: E : Indeks kemerataan HAo: Indeks keanekaragaman S : Jumlah spesies Indeks dominansi ycu ya = Oc ( ycAycn ) Keterangan: C = Indeks dominansi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 ni = Jumlah individu ke-i N = Jumlah total individu HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Komposisi Jenis Tanaman Hasil analisis data yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa vegetasi penyusun KTH Jaya Tani terdiri dari 20 famili yang tersebar dalam 30 genus dan 31 spesies tanaman. Setiap famili tumbuhan memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari yang lain. Adapun kelompok spesies yang memiliki kesamaan tertentu. Melalui analisis vegetasi penyusun lahan KTH Jaya Tani maka dapat digunakan untuk melihat bagaimana setiap kelompok tumbuhan ini agroforestry kapulaga. Berbagai spesies tanaman mulai dari tanaman budidaya sampai dengan tumbuhan bawah ditemui di lokasi penelitian. Spesies ini juga tidak pertumbuhan saja, akan tetapi memiliki berbagai tingkat pertumbuhan mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Data jenis tanaman penyusun dan berbagai tingkat pertumbuhan vegetasi di KTH Jaya Tani disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Jenis vegetasi penyusun. Nama lokal Alpukat Bayur Cengkeh Dadap bogor Duku Durian Jabon Jambu biji Jengkol Kakao Kapulaga Kedondong Hutan Keladi Kelapa Kemiri Kluwih Kopi Luingan Mangga Melinjo Nanas Nangka Paku-pakuan Pala Petai Pinang Pisang Pulai Randu Singkong karet Uci-uci Nama Ilmiah Persea americana Pterospermum acerifolium Syzygium aromaticum Erythrina variegata Lansium domesticum Durio zibethinus Neolamarckia cadamba Psidium guajava Pithecellobium jiringa Theobroma cacao Elettaria cardamomum Spondias pinnata Caladium bicolor Cocos nucifera Aleurites moluccana Artocarpus communis Coffea canephora Diospyros blancoi Mangifera indica Gnetum gnemon Ananas comosus Artocarpus heterophyllus Diplazium sandwichianum Myristica fragrans Parkia speciosa Areca catechu Musa spp. Alstonia scholaris Ceiba pentandra Manihot glaziovii Vigna sp Tabel 1 menunjukan bahwa terdapat 20 famili tanaman penyusun lahan agroforestry kapulaga di KPH Jaya Tani. Famili-famili seperti Malvaceae dan Fabaceae merupakan famili dominan yang Genus Persea Pterospermum Syzygium Erythrina Lansium Durio Neolamarckia Psidium Pithecellobium Theobroma Elettaria Spondias Caladium Cocos Aleurites Artocarpus Coffea Diospyros Mangifera Gnetum Ananas Artocarpus Diplazium Myristica Parkia Areca Musa Alstonia Ceiba Manihot Vigna Famili Lauraceae Sterculiaceae Myrtaceae Fabaceae Meliaceae Malvaceae Rubiaceae Myrtaceae Fabaceae Malvaceae Zingiberaceae Anacardiaceae Araceae Arecaceae Euphorbiaceae Moraceae Rubiaceae Ebenaceae Anacardiaceae Gnetaceae Bromeliaceae Moraceae Athyriaceae Myristicaceae Fabaceae Arecaceae Musaceae Apocynaceae Malvaceae Euphorbiaceae Fabaceae menunjukkan bahwa tumbuhan dari famili ini memiliki adaptasi yang baik terhadap pengelolaan agroforestri yang ada. Famili lain yang mendominasi adalah Malvaceae. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A Tsani et al. Famili ini merupakan tingkatan taksa tanaman yang termasuk ke dalam ordo Malvales dengan memiliki lebih dari 244 genus dan 2. 300 spesies yang tersebar di daerah tropis dan sub-tropis. Habitat famili Malvaceae ini tersebar di hutan, padang rumput, dan daerah pesisir (Kartika & Humaira, 2. Terdapat pula Fabaceae yang merupakan tumbuhan berupa pohon dan juga terna yang berbuah tipe polong. Tumbuhan ini banyak Penyebarannya yang luas menyebabkan tumbuhan Fabaceae banyak digunakan untuk bahan pangan, pakan ternak, obat, dll (Endang, 2020. Irsyam & Priyanti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan agroforestry kapulaga KTH Jaya Tani ditumbuhi oleh berbagai jenis Banyak tanaman yang berada pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang, maupun semai. Jumlah setiap tingkatan pertumbuhan tidaklah sama dalam suatu lokasi. Data komposisi jenis tanaman penyusun lahan dari tingkat pertumbuhan semai sampai pohon disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi jenis tanaman dan tingkat pertumbuhan. Nama lokal Alpukat Bayur Cengkeh Dadap bogor Duku Durian Jabon Jambu biji Jengkol Kakao Kapulaga Kedondong Hutan Keladi Kelapa Kemiri Kluwih Kopi Luingan Mangga Melinjo Nanas Nangka Paku-pakuan Pala Petai Pinang Pisang Pulai Randu Singkong karet Uci-uci Pohon Oo Tiang Pancang Semai Oo Oo Oo Oo Oo Oo Tumbuhan bawah Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Tabel 2 menunjukkan bahwa lokasi penelitian ditumbuhi oleh beragam tanaman dan tingkat pertumbuhan. Tanaman seperti jenis pohon, perdu, semak, dll. mengisi dalam lahan garapan KTH Jaya Tani. Tingkat pertumbuhan yang beragam ini dapat dikatakan mampu mencerminkan proses regenerasi hutan yang dinamis serta menggambarkan fungsi ekologis yang saling melengkapi di setiap tahapnya (Dian Hayati et al. , 2. Regenerasi alami dimulai pada tingkatan semai yang muncul. Ini menjadi dasar pertumbuhan vegetasi. Tingkat pancang dan tiang menunjukkan fase transisi menuju ke tanaman dewasa. Sementara itu, tingkat pohon berperan sebagai komponen utama dalam menjaga stabilitas ekosistem melalui penyediaan tutupan kanopi, habitat satwa, penyimpanan karbon, dan penjaga siklus air. Data yang ditunjukkan oleh Tabel 2 memperlihatkan bahwa durian, mangga, dan pala ditemukan di semua tingkat pertumbuhan, mulai dari semai hingga Adapun tanaman seperti alpukat, kelapa, dan kluwih hanya ditemukan pada tingkat pohon saja. Sedangkan cengkeh, kakao, dan kopi mendominasi pada tingkat tiang dan pancang. Tanaman berkayu seperti bayur hanya ditemukan pada tingkat semai saja. Keberadaan anakan pohon dalam berbagai ukuran di dalam hutan merupakan cerminan dari keberlangsungan proses regenerasi alami. Selain itu juga ditemukan tumbuhan bawah keladi, paku-pakuan, nanas, kapulaga dan singkong karet. Tumbuhan bawah ini merupakan suatu tipe vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan, herba dan semak belukar (Hilwan. Mulyana, & ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Pananjung, 2. Keberagaman jenis vegetasi penyusun lahan agroforestri yang tinggi menunjukkan potensi yang besar sebagai sumber plasma nutfah, yang sangat penting untuk pengembangan varietas tanaman baru dan upaya konservasi (Dwi Saputra. Indriyanto, & Duryat, 2. Kondisi pada lahan agroforestri di KTH Jaya Tani ini menunjukkan bahwa sistem ini mampu mendukung regenerasi alami tanaman berkayu secara efektif. Keberadaan berbagai jenis vegetasi di lahan tersebut juga menjadi bukti nyata akan potensi besarnya sebagai sumber genetik. Indeks Nilai Penting Analisis komprehensif melibatkan perhitungan berbagai indeks, termasuk kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, dan indeks nilai penting. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengetahui struktur komunitas tumbuhan di lokasi Kerapatan mengindikasikan tingkat kepadatan suatu spesies di dalam suatu area, sedangkan frekuensi relatif mencerminkan seberapa sering spesies tersebut ditemukan dalam berbagai sampel. Dominansi relatif menunjukkan kontribusi spesies terhadap biomassa total di dalam komunitas. Ketiga parameter ini digabungkan untuk menghitung indeks nilai penting (INP), yang memberikan gambaran menyeluruh tentang peran ekologi setiap spesies dalam struktur komunitas (Pamoengkas. Siregar, & Dwisutono, 2. Data Kerapatan Relatif. Frekuensi Relatif. Dominansi dan Indeks Nilai Penting Tanaman di KTH Jaya Tani disajikan pada Tabel 3. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A Tsani et al. Tabel 3. Indeks Nilai Penting. Nama lokal Alpukat Bayur Cengkeh Dadap bogor Duku Durian Jabon Jambu biji Jengkol Kakao Kapulaga Kedondong Hutan Keladi Kelapa Kemiri Kluwih Kopi Luingan Mangga Melinjo Nanas Nangka Paku-pakuan Pala Petai Pinang Pisang Pulai Randu Singkong karet Uci-uci INP (%) Pohon 3,635 0,000 1,925 0,000 2,779 41,285 5,561 2,779 35,927 0,000 0,000 2,781 0,000 128,696 23,528 2,779 0,000 0,000 5,560 0,000 0,000 7,482 0,000 13,258 6,414 9,192 0,000 2,782 3,637 0,000 0,000 Tiang 0,000 0,000 41,264 0,000 20,502 0,587 0,000 0,000 23,407 126,118 0,000 0,000 0,000 0,000 2,774 0,000 4,516 0,000 5,497 2,691 0,000 2,716 0,000 8,685 0,000 61,242 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat dinamika kontribusi spesies tanaman pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan beberapa spesies mendominasi tingkat tertentu dan beberapa lainnya menyebar Parameter yang digunakan antara lain yaitu kerapatan . umlah individu persatuan lua. Frekuensi, dominansi relative dan INP (Indeks Nilai Pentin. INP yang diperoleh dari penjumlahan nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif, merupakan parameter kuantitatif dominansi menyatakan spesies komunitas tumbuhan (Nurjaman et al. , 2. Hasil analisis data menunjukkan distribusi INP yang beragam untuk setiap tanaman pada tingkat pertumbuhan yang Pancang 0,000 0,000 19,048 26,667 0,000 28,571 0,000 5,714 0,000 12,381 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 14,286 0,000 5,714 6,667 0,000 0,000 0,000 30,476 0,000 13,333 35,238 0,000 1,905 0,000 0,000 Semai 0,000 4,058 0,000 3,792 0,000 4,146 0,000 0,000 0,000 6,801 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 3,792 3,792 0,000 0,000 0,000 0,000 4,412 3,881 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Tumbuhan bawah 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 125,533 0,000 3,792 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 5,651 0,000 20,288 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 5,474 4,589 Rata-rata 0,727 0,812 12,447 6,092 4,656 14,918 1,112 1,699 11,867 29,060 25,107 0,556 0,758 25,739 5,260 0,556 3,760 0,758 4,113 1,872 1,130 2,040 4,058 11,366 2,059 16,754 7,048 0,556 1,108 1,095 0,918 Hal ini menunjukkan adanya dinamika dalam ekosistem agroforestri. Kelapa mendominasi pada tingkat pohon dengan nilai INP 128,696 % dan diikuti oleh durian dengan INP 41,285 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelapa dan durian memiliki peran besar sebagai pohon dewasa pada lahan agroforestry KTH Jaya Tani. Sedangkan kakao . ,118%) dan Pinang . ,242%) mendominasi pada tingkat tiang yang mencerminkan regenerasi menengah kuat sebelum mencapai fase pohon. Sementara itu, pada tingkat pancang terdapat pisang . ,238%) dan pala . ,476%) yang Pada tingkatan semai kakao memiliki nilai INP tertinggi . ,801%). Sedangkan tumbuhan bawah terlihat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ,533 %) sebagai tanaman pertanian utama sangat mendominasi dibanding dengan jenis lain. Sebaliknya, beberapa tanaman seperti kluwih dan pulai memiliki nilai rata-rata INP yang rendah. Hal ini menunjukkan kontribusi terbatas pada ekosistem dan mungkin memerlukan perhatian khusus untuk mendukung Nilai INP ini dapat dikatakan menjadi indikator seberapa dominan suatu jenis tanaman dalam sistem agroforestri. Semakin tinggi nilai INP, maka semakin sering tanaman tersebut ditemukan di lahan petani (Burhanuddin. Suryanto, & Sadono, 2. Salah satu tanaman dominan yang dapat dilihat adalah Tanaman ini merupakan tanaman pertanian yang menjadi sumber pendapatan utama bagi petani. Kapulaga ditanam oleh petani KTH Jaya Tani sejak Sejak saat itu, petani tanaman campuran dalam kawasan hutan yang dikelola. Sebagai tanaman yang ada pada tingkatan di bawah naungan tanaman tajuk tinggi, jenis tanaman ini sangatlah cocok ditanam. Kapulaga tidak tahan terhadap sinar matahari langsung yang terik, sehingga membutuhkan naungan untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Octavia. Wijayanto. Budi. Suharti, & Batubara, 2. Selain kapulaga yang menjadi jenis vegetasi utama di KTH Jaya Tani, durian an pala adalah salah dua jenis tanama yang menjadi sumber pendapatan bagi petani. Durian dan pala merupakan jenis MultiPurpose Tree Species (MPTS) yang memberikan kontribusi besar baik sebagai tanaman kehutanan maupun sebagai sumber penghasilan utama petani melalui produksi buah yang bernilai ekonomis Buah durian dan pala banyak digunakan masyarakat untuk dinikmati dalam keseharian sebagai buah yang dimakan langsung . , diolah sebagai bumbu atau makanan olahan . urian dan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 , serta dijual dengan nilai yang tinggi, sehingga banyak petani di sekitar hutan membudidayakan tanaman ini (Rahmanto. Fajriani, & Hariyono, 2018. Surnayanti et , 2. Tanaman MPTS seperti durian dan pala menunjukkan distribusi yang merata di semua tingkat pertumbuhan, mulai dari semai hingga pohon, mencerminkan regenerasi alami yang baik dan keberlanjutan populasinya di ekosistem. Durian memiliki dominasi yang kuat pada tingkat pohon . ,285%) dan pancang . ,571%), sedangkan pala menunjukkan nilai tinggi pada tingkat pancang . ,476%) dan pohon . ,258%). Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, pelindung tanah, tetapi juga mendukung stabilitas ekonomi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pengelolaan agroforestri berbasis tanaman seperti kapulaga, durian, dan pala menjadi strategi penting untuk mendukung keberlanjutan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan Indeks Keanekaragaman Tanaman Analisis tanaman merupakan langkah penting dalam mengevaluasi kekayaan hayati suatu kawasan hutan (Biosite. Kopi. Geopark. Dewi, & Sulistiyowati, 2. Perhitungan indeks keanekaragaman tumbuhan adalah langkah penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya memperkuat upaya konservasi (Kitikidou. Milios. Stampoulidis. Pipinis. Radoglou, 2. Indeks ini memberikan informasi yang mendalam tentang kekayaan spesies dan distribusinya dalam suatu area. Data keanekaragaman tumbuhan memainkan peran penting dalam penelitian ilmiah, khususnya untuk memahami interaksi ekologis, pola This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A Tsani et al. distribusi spesies, dan faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan flora di berbagai habitat. Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman di KTH Jaya Tani disajikan pada Tabel 4. Tabel 1. Rekapitulasi Data Penelitian. Variable Pohon Tiang Pancang Semai Indeks Keanekaragaman Shannon (H') Indeks Kemerataan ( E ) Indeks Dominansi ( C ) Indeks Kekayaan spesies ( R ) 2,19 1,48 2,12 1,31 Tumbuhan 0,36 0,77 0,15 3,36 0,60 0,32 1,89 0,85 0,15 2,36 0,63 0,41 1,73 0,20 0,86 0,71 Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H'). Indeks Kemerataan (E). Indeks Dominansi (C), dan Indeks Kekayaan (R). Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H') pada lahan agroforestri KTH Jaya Tani menunjukkan perbedaan nilai di berbagai tingkat pertumbuhan tanaman. Nilai HAo menunjukkan pohon, tiang, pancang dan semai berada pada kategori sedang. Sedangkan untuk tumbuhan bawah menunjukkan nilai HAo pada kategori Semakin besar nilai HA akan menunjukkan semakin tinggi pula keanekaragaman jenis spesies yang ada dan juga semakin stabil komunitas di kawasan tersebut (Nahlunnisa & Zuhud. Tingkat keanekaragaman tertinggi (H' = 2,19 kategori sedan. , menunjukkan distribusi spesies yang merata dan keberagaman yang lebih stabil dibanding dengan Nilai HAo tingkat pohon tidak berbeda jauh dengan tingkat pancang yang juga memiliki nilai keanekaragaman sedang dengan nilai H' = 2,12. Nilai ini menunjukkan kondisi regenerasi alami yang cukup baik dan potensi pertumbuhan menuju pohon dewasa. Namun, pada tingkat tiang, nilai keanekaragaman menunjukkan angka 1,48. Nilai ini masih menunjukkan kategori sedang, akan tetapi nilainya masih jauh di bawah pohon dan Adanya nilai keragaman yang mengalami penurunan ini dapat dikatakan bahwa pertumbuhan dari tiang-pancangpohon mengalami kegagalan dan tidak mampu bertahan dan tumbuh ke tingkat pertumbuhan selanjutnya (Susilowati. Rachmat. Yulita, & Wijaya, 2. Pada tingkatan semai terlihat bahwa nilai HAo menunjukkan angka yang paling rendah dibanding dengan tingkat pertumbuhan Hal ini dikarenakan pada lahan agroforestry KTH Jaya Tani, pertumbuhan semai bersaing dengan tumbuhan bawah yang salah satunya adalah kapulaga. Kapulaga sendiri merupakan salah satu jenis tanaman unggulan yang dipanen bijinya oleh petani dan dijual dengan keuntungan yang relatif tinggi. Sehingga untuk saat ini persaingan di tingkatan stratum bawah dapat dikatakan lebih didominasi oleh tanaman herba ini. Indeks lain yang dihitung adalah indeks kemerataan (E). Indeks ini dapat digunakan untuk mengukur seberapa merata individu dari berbagai spesies terdistribusi dalam suatu komunitas. Nilai indeks yang tinggi menunjukkan distribusi yang lebih merata, sementara nilai yang rendah mengindikasikan adanya dominasi beberapa spesies. Kemerataan yang tinggi umumnya menandakan ekosistem yang lebih sehat dan stabil (Nahlunnisa & Zuhud, 2. Tabel 4 memperlihatkan bahwa nilai E pada semua tingkat pertumbuhan menunjukkan distribusi berbeda-beda, mencerminkan dominasi spesies tertentu di beberapa tingkat. Nilai E pada pohon. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. tiang, pancang, dan semai menunjukkan nilai E > 0,6 yang berarti kemerataan jenis tergolong tinggi. Sebaliknya, tumbuhan bawah . memiliki besaran nilai E < 0,3 yang menunjukkan kemerataan jenis yang rendah (Hilwan et al. , 2. Pancang memiliki nilai kemerataan tertinggi . yang menunjukkan menunjukkan distribusi spesies yang lebih merata dan relatif stabil. Adapun tumbuhan bawah menunjukkan distribusi yang tidak merata, dengan adanya spesies dominan yang lebih menonjol. Jumlah individu spesies tumbuhan bawah tidak berada dalam angka yang relatif sama, terlihat dari populasi tertinggi seperti pada Populasi kapulaga sangat mendominasi dimana tanaman ini ditanam oleh petani dan dirawat sehingga menghasilkan panen yang berlimpah dan dapat dijual dengan nilai yang tinggi. Sehingga, meski nilai indeks kemerataan tumbuhan bawah tergolong rendah, akan tetapi sampai saat ini nilai ekonomi yang diterima masyarakat dirasa sangat baik. Indeks lain yang digunakan yaitu indeks dominasi (C). Indeks dominansi memberikan gambaran tentang seberapa tidak merata penyebaran dominansi jenisjenis tumbuhan dalam suatu tegakan, di mana nilai yang tinggi menunjukkan dominasi yang terpusat pada beberapa jenis saja. Nilai indeks dominansi ini berkisar antara 0 hingga 1. Semakin tinggi nilai C, semakin tinggi pula dominasi satu atau beberapa jenis organisme tersebut (Nuraina. Fahrizal, & Prayogo, 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa vegetasi di KTH Jaya Tani memiliki nilai indeks dominasi tertinggi pada tumbuhan bawah . Setelah itu, diikuti oleh tingkat pertumbuhan semai . yang mendominasi pada tanaman berkayu, yang dikuti oleh tiang . pancang dan pohon . Tumbuhan bawah yang mendominasi pada lahan garapan menunjukkan bahwa fokus utama petani di KTH Jaya Tani yaitu pada tanaman ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 pertanian berupa kapulaga. Tanaman ini merupakan tumbuhan bawah yang membutuhkan naungan untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik (Hasnah. Sakhidin, & Faozi, 2. Untuk nilai C semai yang lebih tinggi dibanding tiang, pancang dan pohon, menunjukkan bahwa adanya dominasi satu atau beberapa jenis semai dalam suatu kawasan. Keberadaan semai yang melimpah ini mencerminkan proses regenerasi alami yang penting untuk mempertahankan keberlanjutan ekosistem (Lohbeck. Rother, & Jakovac. Selanjutnya, digunakan indeks kekayaan spesies (R) untuk menilai jumlah jenis vegetasi dalam suatu luasan areal lahan tertentu (Biosite et al. , 2. Nilai R jika memiliki nilai < 3,5 menunjukkan kekayaan jenis yang tergolong rendah. Sedangkan nilai R yang menunjukkan angka Ae 5,0 menunjukkan kekayaan jenis tergolong Adapun R yang menujukkan nilai> 5,0 berarti memiliki kekayaan jenis yang tergolong tinggi (Hilwan et al. Hasil olah data menunjukkan bahwa nilai R tertinggi di lahan agroforestry KTH Jaya Tani yaitu pada pohon . yang termasuk pada kategori Nilai indeks yang rendah ini menunjukkan jumlah jenis spesies yang hidup di lahan tersebut tergolong sedikit. Akan tetapi tingkatan pohon memiliki jenis spesies yang lebih banyak dibanding dengan yang lain. Hal ini dapat mencerminkan bahwa lapisan pohon memiliki dominasi relatif dibandingkan keseluruhan masih rendah. Bahkan jika melihat nilai HAo, nilai tertinggi juga pada pohon hanya dengan kategori AusedangAy. Hal ini dapat disebabkan oleh pengelolaan agroforestri yang berfokus pada spesies yang lebih dominan dengan jenis tanaman utama yang diusahakan oleh petani. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Komposisi dan Keanekaragaman Vegetasi A KESIMPULAN Vegetasi penyusun KTH Jaya Tani terdiri dari 20 famili yang tersebar dalam 30 genus dan 31 spesies tanaman yang terdiri dari berbagai tingkat pertumbuhan. Durian, mangga, dan pala ditemukan di semua tingkat pertumbuhan, mulai dari semai hingga pohon. Adapun tanaman seperti alpukat, kelapa, dan kluwih hanya ditemukan pada tingkat pohon saja. Sedangkan cengkeh, kakao, dan kopi mendominasi pada tingkat tiang dan Tanaman berkayu seperti bayur hanya ditemukan pada tingkat semai saja. Selain itu juga ditemukan tumbuhan bawah seperti keladi, paku-pakuan, nanas, kapulaga dan singkong karet. Kelapa pada tingkat pohon memiliki INP tersesar dengan nilai 128,696 %. Sedangkan INP kakao . ,118%) mendominasi pada tingkat tiang. Pada tingkat pancang terdapat pisang . ,238%) yang memiliki INP terbesar. Pada tingkatan semai, kakao memiliki nilai INP tertinggi . ,801%). Sedangkan tumbuhan bawah, kapulaga memiliki INP tertinggi yaitu 125,533 %. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H') tertinggi ada pada tingkat pohon . dengan kategori sedang. Indeks Kemerataan (E) tertinggi juga pada tingkat pancang . dengan kategori tinggi. Indeks Dominasi (C) tertinggi pada tumbuhan bawah . dengan kapulaga merupakan spesies yang mendominasi. Indeks Kekayaan spesies (R) terbesar pada pohon . dengan kategori rendah. DAFTAR PUSTAKA