Perikanan dan BudidayaPerairan Peningkatan Respon Imun Jurnal UdangIlmu-ilmu Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Volume Nomor Juni 2023: 14-24 Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan PENINGKATAN RESPON IMUN UDANG VANAME (Litopenaeus vanname. MELALUI KOMBINASI VITAMIN D3. MINERAL Ca DAN Mg PADA PAKAN Enhancement of Vaname Shrimp (Litopenaeus vanname. Immune Responses Through the Combination of Vitamin D3. Mineral Ca and Mg in Feed Linuwih Aluh Prastiti1. Aldi Huda Verdian1*. Adni Oktaviana1. Nurul Fatimah2. Kurnia Fathurohman2. Qorie Astria2. Arif Faisal Siburian3 Program Studi Budidaya Perikanan. Politeknik Negeri Lampung. Indonesia Program Studi Teknologi Pembenihan Ikan. Politeknik Negeri Lampung. Indonesia Behn Meyer Chemicals. Indonesia *Corresponding author: aldihudaverdian@polinela. ABSTRAK Udang vaname merupakan biota perikanan yang tidak memiliki kekebalan tubuh Sehingga dalam teknis pembudidayaan udang lebih menerapkan prinsip pencegahan terhadap serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan respon imun udang vaname melalui penghitungan jumlah total hemosit dan pengamatan perbedaan jenis hemosit yang dipelihara selama 60 hari. Pengujian dilakukan dengan perlakuan kombinasi vitamin D3, mineral Ca dan Mg (Hypero. pada pakan antara lain kontrol . emeliharaan udang tanpa suplementasi Hypero. dan pemeliharaan udang dengan penambahan suplementasi Hyperol pada pakan sebanyak 0,25 mL/kg pakan (A). 0,5 mL/kg pakan (B). 0,75 mL/kg pakan (C). dan 1 mL/kg pakan (D). Hasil terbaik yang didapatkan adalah perlakuan dengan penambahan suplementasi Hyperol 1 mL/kg pakan dengan jumlah total hemosit 65,41A1,90 x 106 sel/mL. Hal ini menunjukkan penggunaan Hyperol 1 mL/kg pakan dapat meningkatkan respon imun pada udang vaname. Kata Kunci: udang vaname, mineral, respon imun ABSTRACT Vannamei shrimp is fisheries commodity who doesnAot have specific immunity in their body, so principle of prevent against disease was the most important thing to be applied in shrimp farming techniques. The aims of this study is to see an increase in the immune response of vannamei shrimp through counting the total number of hemocytes and observing the different types of hemocytes maintained for 60 days. Tests were carried out with a combination treatment of vitamin D3, minerals Ca and Mg (Hypero. on the feed, including controls . aising shrimp without Hyperol supplementatio. and rearing shrimp with the addition of Hyperol supplementation to feed as much as 0. 25 mL/kg feed (A). 5 mL/kg feed (B). 75 mL/kg feed (C). and 1 mL/kg feed (D). The best results obtained were treatment with the addition of 1 mL/kg Hyperol supplementation with a total hemocyte count of 65. A 1. 90 x 106 cells/mL. This shows that the use of Hyperol 1 mL/kg of feed can increase the immune response in vannamei shrimp. Keywords: vannamei shrimp, mineral, immune response e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 PENDAHULUAN Udang komoditas unggulan perikanan budidaya yang produktivitas dan permintaan pasarnya cenderung terus meningkat baik skala nasional maupun internasional. Data statistik produksi udang vaname menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020 adalah sebanyak 475,72 ton dan menargetkan produksi pada tahun 2024 sebesar 2 juta ton/tahun dengan program intensifikasi budidaya udang (KKP, 2. Intensifikasi budidaya adalah menerapkan sistem budidaya dengan padat tebar tinggi dan input pakan yang optimal untuk meningkatkan produksi. Namun dengan kegiatan budidaya yang semakin intensif akan menurunkan kapasitas daya tampung lingkungan seperti degradasi lahan dan meningkatnya potensi serangan patogen. Udang vaname merupakan biota perikanan yang tidak memiliki kekebalan tubuh spesifik. Sehingga dalam teknis pembudidayaan udang lebih menerapkan prinsip pencegahan terhadap serangan Salah meningkatkan status kesehatan udang vaname seperti dengan menambahkan prebiotik (Prastiti et al. , 2. dan probiotik . ataupun penambahan bahan tertentu dalam pakan seperti vitamin dan mineral (Madhana et al. Hyperol . ari Intracare B. The Netherland. adalah campuran kalsium, magnesium, dan vitamin D3 yang mudah Hyperol memiliki pH netral sehingga dapat dipastikan vitamin D3 tetap stabil. Salah satu peran paling penting dari vitamin D3 adalah untuk menjaga keseimbangan kalsium dengan mempromosikan absorbsi kalsium dalam Kalsium dan vitamin D3 dalam Hyperol memiliki peran sinergis untuk memastikan keseimbangan kalsium yang optimal dalam tubuh udang vaname. Pertumbuhan udang vaname terdiri dari serangkaian proses moulting secara periodik, khususnya pada tahap post moult untuk proses pengerasan kulit melalui pengendapan kalsium pada kulit Ketersediaan kalsium yang optimal dalam tubuh udang harus selalu terpenuhi, jika keberadaan kalsium tidak mencukupi maka proses pengerasan kulit udang yang baru akan berjalan lambat yang mana akan berpengaruh terhadap pertumbuhan udang atau bahkan udang yang kulit barunya belum sempurna akan mudah diserang oleh udang lain. Kalsium juga membantu mekanisme absorbsi vitamin B12 dari saluran pencernaan dan absorbsi vitamin pada membran sel. Kalsium rangsangan-rangsangan syaraf dari satu sel ke sel lainnya dengan cara mengatur pembentukan asetilkolin, salah satu jenis neurotransmitter . at kimia penghantar rangsangan syara. (Piliang, 2. Magnesium adalah mineral penting yang dibutuhkan oleh krustasea untuk pertumbuhan dan perkembangan normal (Davis & Lawrence, 1. , serta berfungsi sebagai kofaktor dalam banyak reaksi enzimatik dan terlibat dalam osmoregulasi, sintesis protein, dan pertumbuhan (Furriel et al. , 2. Reseptor vitamin D3 telah terbukti meningkatkan aktivitas fagositosis, yang merupakan salah satu komponen sistem imun nonspesifik pada udang untuk membunuh dan mencerna patogen yang dikenali sebagai benda asing. Yang et al. mengungkapkan bahwa vitamin D3 terindikasi turut berpartisipasi dalam respon imun melawan bakteri pathogen. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni - Agustus 2022 berlokasi di kolam dan laboratorium Budidaya Perikanan Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung. Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 Alat dan Bahan Alat penelitian ini adalah akuarium, syringe 1 ml, microtube, micro pipet dan slide glass DO meter, timbangan, thermometer, pH Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain adalah benur udang vaname, antikoagulan Na-sitrat 3,8%, metanol, pewarna giemsa. Hyperol . ari Intracare B. The Netherland. dan pakan buatan. Desain Penelitian Rancangan digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Perlakuan K: Pemeliharaan udang tanpa suplementasi Hyperol. Perlakuan A: Pemeliharaan udang dengan penambahan suplementasi Hyperol sebanyak 0,25 mL/kg pakan. Perlakuan B: Pemeliharaan udang dengan penambahan suplementasi Hyperol sebanyak 0,5 mL/kg pakan. Perlakuan C: Pemeliharaan udang dengan penambahan suplementasi Hyperol sebanyak 0,75 mL/kg pakan. Perlakuan D: Pemeliharaan udang dengan penambahan suplementasi Hyperol sebanyak 1 mL/kg pakan. Persiapan Hewan Uji dan Media Pemeliharaan Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah Benur udang vaname berukuran PL 15, yang berasal dari hatchery daerah kalianda. Sebelum digunakan benur dipelihara terlebih dahulu selama kurang lebih 5 hari. Hal ini bertujuan untuk mengadaptasikan benur pada media akuarium. Wadah yang digunakan berupa akuarium berukuran 40x25x30 cm sebanyak 15 buah. Padat tebar yang digunakan adalah 100 ekor/m2. Pemeliharaan Pemeliharaan udang dilakukan selama 60 hari. Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan dan pengecekan kualitas air. Pembersihan akuarium dilakukan setiap pagi hari yang bertujuan untuk membersihkan sisa pakan dan feses yang berada didasar akuarium. Selama pemeliharaan udang vaname diberikan pakan uji dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 4 kali sehari yaitu pada 00 dan 19. 00 WIB. Tingkat pemberian pakan (FR) sebesar 5% pakan uji yang digunakan pada penelitian ini berupa pellet tenggelam. Parameter yang diamati Respon imun udang Respon imun udang dapat diketahui dengan mengamati total haemocyte count (THC) serta Differential haemocyte count (DHC) pada udang yang dilakukan dengan pengambilan hemolim yang dilakukan pada hari ke 60 dan 100 hari Parameter penelitian yang diamati dan diukur dalam penelitian ini antara lain total haemocyte count (THC). Differential haemocyte count (DHC) dan kualitas air. Total haemocyte count (THC) Penghitungan THC mengacu pada metode Brock & Madigan . Hemolim diambil sebanyak 0,1 mL dari pangkal kaki renang pertama dengan menggunakan syringe 1 mL yang sudah berisi 0,3 mL antikoagulan Na-sitrat 3,8%. Jumlah sel hemosit per mL dihitung menggunakan mikroskop pada perbesaran 400 kali. Differential haemocyte count (DHC) Penghitungan DHC mengacu pada metode Mix & Sparks, . Hemolim yang telah didapatkan kemudian difiksasi yang dilakukan dengan cara meneteskan sedikit darah pada gelas obyek bersih di bagian sebelah kanan, dan gelas obyek lain diletakkan di sebelah kiri tetesan Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 30A. Kemudian gelas obyek ditarik ke kanan sampai menyentuh hemolim tersebut. Setelah darah menyebar di sepanjang tepi gelas obyek kedua dorong gelas obyek kedua tersebut ke kiri dengan tetap membentuk sudut 30A agar didapatkan preparat darah yang cukup tipis sehingga mudah diamati. Setelah itu ulasan dikeringudarakan kemudian fiksasi dalam larutan methanol selama 5-10 menit. Preparat ulas direndam pada larutan giemsa yang telah diencerkan . selama 15-20 menit dan di bilas menggunakan akuades untuk dikeringkan dan ditutup dengan gelas penutup setelah itu amati di bawah mikroskop pada perbesaran 400 kali. dan Bahan yang digunakan . Rancangan Penelitian. Populasi dan sampel . Teknik pengumpulan data dan pengembangan . dan teknik analisis data. Pada penelitian lapangan, perlu juga ditampilkan peta lokasi pengambilan penggunakan alat dan bahan. Untuk penelitian kualitatif seperti penelitian tindakan kelas, etnografi, fenomenologi, studi kasus, dan lain-lain, perlu ditambahkan kehadiran peneliti, subyek penelitian, informan yang ikut membantu beserta cara-cara menggali data-data penelitian, lokasi dan lama penelitian serta uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian. Kualitas Air Pengamatan kualitas air yang diamati meliputi suhu, pH, dan oksigen terlarut yang diukur setiap hari selama penelitian, serta salinitas, alkalinitas. Ca air, dan Mg air yang diukur setiap 10 hari selama penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Total Haemocyte Count (THC) Nilai total haemocyte count setelah pemberian pakan dengan penambahan suplementasi hyperol pada perlakuan K. C dan D. Nilai THC cenderung mengalami peningkatan dengan nilai lebih tinggi . <0,. pada pemberian pakan dengan suplementasi Hyperol . ari ke-. Nilai THC perlakuan D mendapatkan nilai yang paling tinggi yaitu sebesar 65,41A1,90 x 106 sel mL-1 jika dibandingkan dengan perlakuan K 38A1,33 x 106 sel mL-1. Nilai THC pada hari ke 60 pada perlakuan A. B dan C secara berturut Ae turut yakni 22,77A2,3x106 sel mL-1, 27,22A1,04x106 sel mL-1 dan 49,16A1,9x106 sel mL-1. Nilai THC mengalami peningkatan pada hari ke 100 pengambilan sampel, dengan nilai lebih tinggi . <0,. pada perlakuan D . ,41A 3,01 x 106 sel mL-. jika dibandingkan dengan perlakuan K . ,61A 1,04 x 106 sel mL-. Pada akhir penelitian . ari ke-. , nilai THC pada perlakuan A. B dan C secara berturut-turut yakni 55,97A1,47 x 106 sel mL-1, 63,75A1,47 x 106 sel mL-1 dan 50,17A1,76 Analisis statistik Data yang diperoleh ditabulasi menggunakan Microsoft Excel dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS. Data dianalisis dengan analisis ragam pada selang kepercayaan 95% untuk menentukan apakah perlakuan terhadap kinerja pertumbuhan. Apabila perlakuan berpengaruh signifikan maka dilanjutkan dengan uji Duncan untuk menentukan perlakuan yang terbaik. Apabila perlakuan tidak berpengaruh signifikan, maka dilakukan analisis secara Analisis deskriptif secara menjelaskan parameter kualitas air. Pada dasarnya bagian ini menjelaskan bagaimana penelitian itu Materi pokok bagian ini adalah: . Waktu dan Tempat. Alat Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 x 106 sel mL-1. Nilai THC pada hari ke 60 dan 100 dapat dilihat pada Gambar 1. Total hemocyte count . 106 sel mL-. Hari ke - 60 Hari ke - 100 Gambar 1. Total Haemocyte Count (THC) pada udang vaname (L. hari ke-60 dan hari ke-100, setelah pemberian pakan dengan suplementasi hyperol. Keterangan: K (Kontro. A . yperol dosis 0,. B . yperol dosis 0,. C . yperol dosis 0,. dan D . yperol dosis . Huruf di atas bar yang berbeda pada periode pengamatan yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan . <0,. antar perlakuan Secara umum, kelompok krustasea memiliki sistem kekebalan non-spesifik karena tidak memiliki kemampuan untuk mengingat antigen. Kutikula udang yang keras merupakan pertahanan fisik pertama yang menghambat masuknya patogen. jika terjadi infeksi baik bakteri, virus atau jamur. Jika patogen melewati pertahanan eksternal ini, pertahanan internal tubuh udang menjadi pertahanan kedua yang dilakukan oleh respons seluler dan humoralnya (Van de Braak, 2. Sistem kekebalan pada udang berbeda dengan vertebrata. Yang berperan dalam sistem imunitas udang adalah mekanisme pertahanan melalui hemosit dan protein plasma (VergasAlbores,1. Hemosit adalah sel yang memiliki perangkat fungsional seperti makrofag, granulosit, dan sel pembunuh alami . el NK) pada hewan vertebrata (Raa, 2. Hemosit memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh krustasea dengan mengeluarkan partikel asing melalui fagositosis, enkapsulasi, dan agregasi nodular (Rodriguez, 2. Parameter penanda untuk evaluasi sistem pertahanan udang meliputi imunitas humerus dan seluler, yang meliputi jumlah hemosit (Le Moullac, 1. , enzim prophenoloksidase . roPO) dan aktivitas enzim fenoloksidase (PO) (Le Moullac, 1998 dan Hernandez et al. Udang memiliki 3 jenis hemosit yaitu hyalin yang berperan dalam proses fagositosis dan sel granular dan semi granular yang penting dalam proses aktivasi fenoloksidase (Mahasri et al. Hemosit memiliki peran penting dalam sistem pertahanan tubuh udang. Faktanya total hemosit serta DHC Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 merupakan cara yang efektif untuk menganalisis kondisi kesehatan hewan. Populasi hemosit yang bersirkulasi berbeda berdasarkan spesies hewan Sebagian disebabkan oleh penggumpalan sel (Stewart et al. , 1. atau terkait dengan kondisi fisiologis hewan yang berbeda (Siddiqui & Al-Khalifa, 2. Hasil pengamatan THC pada perlakuan D hari ke 60 ke hari 100 menunjukkan peningkatan terbesar, hal ini mengindikasikan bahwa suplementasi hyperol yang mengandung campuran kalsium, magnesium, dan vitamin D3 memiliki efektifitas yang lebih baik dalam meningkatkan imunitas udang vaname jika dibandingkan dengan perlakuan lain. Kandungan kalsium dan magnesium sangat dibutuhkan oleh udang untuk melakukan proses molting. Secara umum, kalsium dan magnesium merupakan faktor penting yang mempengaruhi aktivitas biologis dan fisiologis krustasea. Pada sebagian besar spesies krustasea akuatik, ion ini tersedia di lingkungan akuatik dan diserap, sesuai kebutuhan, untuk menggantikan garam yang hilang selama molting (Fieber &Lutz, 1. Kandungan vitamin D3 yang terdapat dalam hyperol juga berperan penting dalam meningkatkan system kekebalan tubuh udang vaname. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bora et al. , . yang menyatakan bahwa salah satu fungsi non-klasik vitamin D adalah partisipasi dalam sistem kekebalan tubuh. Beberapa bukti menunjukkan bahwa vitamin D3 melindungi inang dari infeksi patogen. 1,25-dihidroksivitamin D3, bentuk aktif vitamin D, memediasi reaksi imun bawaan dengan meningkatkan aktivitas antimikroba sel imun. Differential Haemocyte Count (DHC) Differential Haemocyte Count pada vannamei (Tabel 1 dan Gambar . menunjukkan bahwa hemosit adalah yang paling banyak ditemukan pada hari ke 10 adalah pada populasi sel hyaline berkisar antara 24,2% Ae 39,3%. sel semi granula mencatat persentase 11,42 pada perlakuan K hingga 28,83 pada perlakuan A dan sel granula berkisar antara 30,95% pada perlakuan K hingga 40,13% pada perlakuan B. Tabel 1. Differential Haemocyte Count (DHC) udang vaname hari ke 60 dan 100 Pelakuan Hyaline Semi Granule Granule Hyaline Semi Granule Granule Hyaline Semi Granule Granule Rata-Rata (%) Hari ke-60 Hari ke-100 24,28A9,09 49,75A18,14 11,42A4,04 19,46A9,25 30,95A5,05 30,78A11,86 36,45A18,33 48,65A7,57 28,83A18,75 20,56A4,30 34,70A18,55 28,31A6,89 39,32A7,19 41,57A1,77 20,54A11,13 19,67A2,30 50,13A6,44 32,89A0,97 Hyaline Semi Granule Granule Hyaline Semi Granule Granule 35,65A5,91 24,77A2,16 39,57A6,50 33,00A9,84 32,00A6,08 35,00A13,22 Tipe Sel 51,12A1,55 19,08A1,11 33,15A1,62 50,20A1,00 27,79A1,50 33,09A2,47 Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 Peningkatan sel hemosit pada udang vaname terlihat pada hari ke 100 pengambilan sampel hemolim udang, dimana sel hyaline 49,75% pada perlakuan K dan sel hyaline tertinggi pada perlakuan D sebesar 50,20%. Populasi sel semi granula pada perlakuan K 19,46% dan perlakuan D sebesar 27,79%. Sedangkan pada sel granula perlakuan K sebesar 30,78%, dan tertinggi pada perlakuan C sebesar 33,15%. Differential hemocyte count (%) Hyaline hari ke - Hyaline hari ke - Granule hari ke - Granule hari ke - Semi granule - 60 Semi granule 60 Gambar 2. Differential Haemocyte Count (DHC) pada udang vaname (L. hari ke-60 dan hari ke-100, setelah pemberian pakan dengan suplementasi hyperol. Keterangan: K (Kontro. A . yperol dosis 0,25 mL/k. B . yperol dosis 0,5 mL/k. C . yperol dosis 0,75 mL/k. dan D . yperol dosis 1 mL/k. Pengamatan DHC pada tabel 1 dan gambar 2 menunjukkan respon imun udang vaname yang meningkat yang ditandai dengan meningkatnya populasi sel hemosit berupa hyaline pada semua perlakuan, namun terjadi penurunan sel hemosit berupa semi granula dan granula pada beberapa perlakuan. Meskipun penurunan yang terjadi tidak signifikan. Menurut Maftuch . , menyatakan semigranular dan granular dikompensasi oleh peningkatan proporsional dalam persentase populasi hialin. Aladaileh et , . , mengungkapkan bahwa peningkatan persentase jenis hemosit tertentu disebabkan oleh proliferasi seluler yang diinduksi, rekrutmen sel dari kompartemen hemolim yang tidak bersirkulasi, atau diferensiasi seluler yang cepat sebagai respons terhadap tantangan Kualitas Air Kualitas air merupakan hal yang memiliki peranan penting dalam mendukung kehidupan, pertumbuhan dan status kesehatan udang vaname. Hasil pengamatan selama 60 hari dengan perlakuan penambahan vitamin D3, mineral Ca dan Mg dapat dilihat pada yang meliputi suhu, pH. DO, serta Hail menunjukkan hasil pengamatan kualitas air yang masih pada batas toleransi aman untuk pemeliharaan udang vaname berdasarkan standar SNI. Peningkatan Respon Imun Udang Vaname (Litopenaeus vanname. A Linuwih Aluh Prastiti et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni 2023: 14-24 Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air Kisaran kualitas air Kisaran Parameter kualitas air ml/k. ,25 ml/k. ,5 ml/k. ,75 ml/k. 1 ml/kg Nilai SNI Suhu (AC) 27,5 - 33,5 27,7-33,7 28,0 - 33,2 27,7 - 33,7 28,2 - 33,1 28 - 33 6,8 - 7,5 6,9 - 8,5 7,0 - 8,2 6,7 - 8,1 6,4 - 8,4 7,5 - 8,5 DO . 5,5 - 6,0 5,8 - 6,2 5,2-6,1 5,2-6,2 5,6-6,4 >4,0 Salinitas . 18 - 35 20 - 35 18 - 34 15 - 35 15 - 35 30 - 33 Suhu pemeliharaan berkisar antara 27AC-33AC. Suprapto . menyatakan bahwa suhu untuk budidaya udang vaname berkisar antara 27 Ae 32AC. Suhu air memiliki peranan penting dalam mengatur proses alamiah udang di lingkungan air serta proses fisiologi pada udang seperti laju respirasi, metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi (Varatharajan et al. , 2021. Saputra et al. , 2. Kualitas air yang diukur selanjutnya adalah pH dan DO yang mendapatkan nilai yang masih dalam kisaran optimal yaitu 6,7-8,5 dan DO 5,2-6,4. Menurut (Varatharajan et al. , menyatakan bahwa nilai pH yang optimal pada budidaya udang adalah 7,58,5 dan untuk konsentrasi DO optimal adalah 5 ppm pada area tropis. Hasil pengukuran yang terakhir merupakan salinitas yang berkisar antara 30 Ae 35 ppt, hasil pengukuran tersebut masih dalam batas optimal untuk pertumbuhan udang. Sejalan dengan Supono et al. , . yang menyatakan bahwa secara umum udang vaname menunjukkan performa pertumbuhan yang baik pada wadah budidaya dengan salinitas 15 ppt. Hasil didapatkan hasil yang optimal baik suhum pH. DO dan salinitas, dengan kualitas air yang baik akan membuat patogen tidak akan mudah untuk tumbuh dan menyebabkan serangan penyakit pada udang, sehingga status kesehatan udang juga akan tetap optimal. KESIMPULAN Penambahan kombinasi vitamin D3, mineral Ca dan Mg pada pakan dapat meningkatkan respon imun udang vaname melalui penghitungan jumlah total hemosit dan pengamatan perbedaan jenis hemosit yang dipelihara selama 60 hari. SARAN kegiatan budidaya udang dapat menggunakan suplementasi kombinasi vitamin D3, mineral Ca dan Mg dengan dosis 1 mL/kg pakan untuk meningkatkan ststus kesehatan udang vaname. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan sampaikan kepada PT. Behn Meyer Chemicals yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat melakukan dan berpatisipasi dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA