Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pengaruh Karakter Siswa dan Motivasi Belajar Terhadap Kompetensi Belajar Akidah Akhlak Siswa Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Kuningan Diah Nur Afriyanti. Saepudin. Iim Suryahim. Yanti Hasbian Setia Wati 1,2,3,Universitas Islam Al Ihya Kuningan Jawa Barat Indonesia 4Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor Jawa Barat Indonesia diahnurafriyanti@unisa. id, saepudin@unisa. id, iimsuryahim@unisa. yantihasbiansetiawati@laaroiba. ABSTRACT The background of this research is that there is still no effective competence to learn morality because competence is knowledge, skills, and abilities that have become part of one's The objective of this research is to know the positive influence of student character on the competence of learning in academia, to understand the positive impact of learning motivation on competence, and to know the positive impact of the character of students on the motivation of learning. This research method uses quantitative research with the partial least squares (PLS) approach and structural equation modeling (SEM). The sample is 150 students and using simple random sampling tecnict. The results of the study were positive and statistically significant for the direct influence of student character on the learning competence. Learning motivation has a direct positive and statistically significant influence on the learning competence, positive and statistically significant for the direct influence of student character on learning motivation. The result of the calculation of the path coefficient (Path Coefisie. was the equation KB = 0. 898 KS 0. 389 MB, which means that the competence of learning in academia of 56. 7% can be explained by the character of the student and 38. 9% by the learning motivation variable with a constellation value of 0. The results of the data analysis show a value = R-square adjusted of 0. 931, which means that 93. 1% of the variation of the endogenous variable of learning competence can be explained by the exogenic variables of student character and learning motivation, when the remaining 6. 9% is explained by variations of change not included in this model. Keywords: student character, learning motivation, learning competence ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah masih belum efektifnya kompetensi belajar akidah akhlak, karena kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan yang telah menjadi bagian dari diri seseorang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh positif karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak, mengetahui pengaruh positif motivasi belajar terhadap kompetensi belajar akidah akhlak, mengetahui pengaruh positif karakter siswa terhadap motivasi belajar. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan Structural Equation Modelling (SEM). Sampel adalah 150 orang siswa dan siswi. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Hasil penelitian menunjukan karakter siswa berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap kompetensi belajar aqidah akhlak. Motivasi belajar berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap kompetensi belajar akidah akhlak dan Karakter siswa berpengaruh 880 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. langsung positif dan signifikan terhadap motivasi belajar sebesar. Hasil penghitungan koefisien jalur (Path Coefisie. diperoleh persamaan KB = 0,898 KS 0,389 MB, yang artinya bahwa kompetensi belajar akidah akhlak sebesar 56,7 % dapat dijelaskan oleh karakter siswa dan 38,9 % dijelaskan oleh variable motivasi belajar dengan nilai konstelasi sebesar 0,898. Hasil analisis data dengan menunjukkan nilai = R-square adjusted sebesar 0,931, yang artinya sebesar 93,1 % variasi variabel endogen kompetensi belajar akidah akhlak dapat dijelaskan oleh variabel eksogen karakter siswa dan motivasi belajar, sedangkan sisanya 6,9 % dijelaskan oleh variasi perubahan yang tidak termasuk dalam model ini. Kata Kunci : Karakter Siswa. Motivasi Belajar. Kompetensi Belajar PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar untuk memberikan nilai-nilai kebatinan dan kebudayaan pada setiap masyarakat yang memiliki kebudayaan pada setiap keturunan, tidak saja berupa pemeliharaan tetapi juga bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan (Dewantara, 2011 : . Proses Pendidikan dalam pelaksanannya menghadirkan peserta didik sebagai komponen manusia yang menempati tempat sentral. Peserta didik adalah subjek dan objek perhatian dalam semua proses transformasi pendidikan. Sebagai bagian penting dari sistem pendidikan, dalam hal ini pendidikan tidak dapat dipisahkan dari keterampilan belajar. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuanyang telah benar-benar dikuasai oleh seseorang yang memang dapat melakukan beberapa perilaku yang sifatnya kognitif, afektif, serta psikomotor yang dilakukan dengan sebaik mungkin. Kompetensi itu sendiri meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang benar-benar perlu dimiliki oleh semua peserta didik agar dapat menyelesaikan berbagai tugas belajar yang perlu disesuaikan dengan jenis tugas tertentu. Atau dalam arti lain adanya kesesuaian antara mata pelajaran dan tugas yang dilakukan oleh seluruh siswa di sekolah dengan keterampilan yang memang dibutuhkan di dunia kerja. Madrasah Aliyah adalah pendidikan formal tingkat menengah di Indonesia yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dikelola oleh Kementerian Agama. Sama hal nya dengan SMA, pendidikan Madrasah Aliyah adalah masa belajar tiga tahun dari kelas X sampai dengan kelas XII. Madrasah Aliyah menyelenggarakan pendidikan dalam empat bidang antara ilmu pengetahuan, ilmu sosial, ilmu agama, dan Bahasa. Kurikulum Madrasah Aliyah sama dengan kurikulum SMA, hanya saja di MA lebih banyak konten pendidikan agam Islam seperti Fiqih. Akidah Akhlak. AlQurAoan Hadits. Bahasa Arab, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dengan kata lain. Madrasah Aliyah bertanggung jawab dalam mempersiapkan peserta didiknya sebagai Lembaga pendidikan menengah. Oleh karena itu, dalam pelaksanan pendidikan di Madrasah Aliyah, tidak hanya faktor pengelolaannya yang penting, tetapi juga karakter dan motivasi belajar siswa menjadi faktor penentu. Mata pelajaran akidah akhlak bertujuan untuk pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. 881 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pembelajaran akidah akhlak untuk siswa madrasah aliyah merupakan suatu tindakan melatih pikiran siswa sedemikian rupa sehingga dalam sikap hidup dan tindakan dipengaruhi oleh nilai spritual. Pembelajaran akidah akhlak sasaranya adalah pembentukan watak, sikap, tingkah-laku bahkan pendewasaan seluruh aspek-aspek kepribadian anak, karena anak lebih banyak waktunya bersama orang tua, maka pembelajaran akhlak juga dilakukan oleh orang tua. Pengajaran Aqidah Akhlak adalah wahana pemberian pengetahuan bimbingan dan pengembangan agar Siswa memahami, meyakini, dan menghayati kebenaran agama Islam dan bersedia mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya pendidikan akhlak tidak hanya dapat dipahami secara terbatas pada mata pelajaran saja, karena perilaku akhlak siswa tidak cukupdiukur hanya dari pemahaman mereka menguasai hal-hal yang bersifat kognitif saja, akan tetapi yang lebih penting adalah pemahaman nilai-nilai dan akhlak yang d a p a t tertanam dalam jiwa siswa, sejauh mana nilai-nilai itu terwujud d a l a m tingkah lakunya sehari-hari oleh karena itu pendidikan akhlak harus ditanamkan sejak dini melalui pembiasaan & pembiasaan baik di rumah maupun di sekolah (Hermawan. Fitriyah, 2. Berkaitan dengan pembelajaran akidah akhlak di sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan, kompetensi belajar akidah akhlak yaitu proses pembelajaran akidah akhlak Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan setelah mengikuti proses pembelajaran yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor, merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar khususnya mata pelajaran akidah akhlak. Dalam realitasnya kompetensi belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan cenderung belum efektif. Dari hasil pengamatan penulis terhadap kompetensi belajar akidah akhlak pada siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan, menunjukkan adanya indikasi bahwa kompetensi belajar akidah akhlak sudah baik (Abdul Kudus, 2. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kompetensi belajar akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan, diantaranya seperti karakter siswa dan motivasi belajar siswa dalam belajar mata pelajaran akidah akhlak. Penggunaan media dan metode pembelajaran sangat berperan penting dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak. Oleh karena itu, upaya-upaya pembelajaran yang efektif dengan memperhatikan karakter siswa yang sesuai guru seyogyanya terus diupayakan secara maksimal. Yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian penulis adalah rendahnya kompetensi belajar akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan. Keadan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya dari karakter siswa dan motivasi belajar siswa dalam meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak yang rendah. Kondisi ini menarik untuk diteliti secara ilmiah sehingga peneliti memandang perlu untuk melakukan penelitan Sumber Daya Manusia (SDM) yakni menganalisis karakter siswa dan motivasi belajar dalam meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak. Berangkat dari hal ini peneliti tertarik untuk mengkaji pengaruh karakter siswa dan motivasi belajar dalam meningkatkan kompetensi 882 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. belajar akidah akhlak pada siswa Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Kuningan, dengan populasi terjangkau yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan. TINJAUAN LITERATUR Kompetensi Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ketiga ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu ( Nidawati, 2013 ). Belajar juga merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku menuju perubahan tingkah laku yang baik, dimana perubahan tersebut terjadi melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut harus relatif mantap yang merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar tersebut menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan ataupun sikap ( Darnim dan Khairil, 2011 : 43 ). Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, belajar perubahan daya tanggap yang relatif tetap sebagai hasil pendidikan yang lebih baik. Belajar merupakan kewajiban bagi setiap individu. Dimana kegiatan belajar bagi setiap individu mungkin tidak selalu datang dengan sendirinya, kadang lancar, kadang tidak lancar. Terkadang Anda dapat dengan cepat memahami apa yang telah Anda pelajari, tetapi sebaliknya terkadang terasa sangat sulit. Secara semangat kadang tinggi, tapi kadang sulit konsentrasi. Situasi seperti itu sering kita jumpai pada semua siswa dalam kehidupan sehari-hari sehubungan dengan kegiatan Menurut Gagne. AuBelajar terdiri dari tiga komponen, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajarAy. Kondisi Internal Belajar - Informasi Verbal Keadaan Internal dan - Keterampilan Intelek Proses Kognitif Siswa - Keterampilan Motorik - Sikap - Siasat Kognitif Berinteraksi dengan Stimulus Dari Lingkungan Kondisi Eksternal Belajar Dalam bagan tersebut mendeskripsikan bahwa belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dari lingkungan. Dalam setiap proses kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik, tentunya akan mendapatkan pencapaian-pencapaian yang diharapakan dari hasil proses 883 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tentunya pencapaian tersebut sesuai dengan kriteria-kriteria yang tercantum dalam kurikulum yang ditentukan oleh sekolah. Pencapaian-pencapaian ini disebut dengan hasil belajar atau kompetensi belajar, yang didalamnya memuat kriteria-kriteria tertentu yang harus dicapai oleh peserta didik sesuai dengan tujuan pengajaran . ujuan instruksiona. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Mulyasa. Mc Ashan mengungkapkan bahwa kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Cahyo, 2. Kompetensi belajar siswa merupakan kemampuan yang dimiliki siswa yang mencakup dari pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa. Kompetensi belajar siswa juga merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh siswa dan merupakan tujuan pertama yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Jadi peserta didik harus lebih memiliki karakter dan motivasi belajar yang tinggi untuk mencapai semua pencapaian-pencapaian yang ada pada kurikulum di sekolah. Kompetensi belajar siswa dibedakan menjadi tiga hal, yakni kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik (Mulyasa, 2. Pelajaran Akidah Akhlak Akidah akhlak merupakan pelajaran yang termasuk penting dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam. Mata pelajaran aqidah dan akhlak lebih menekankan kemampuan antara pengetahuan, sikap dan perilaku. Tujuan mata pelajaran aqidah akhlak di sekolah adalah untuk membentuk siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan memiliki akhlak yang mulia. Pendidikan aqidah akhlak merupakan pendidikan paling penting dalam agama Islam. Dengan adanya pembelajaran aqidah akhlak ini di sekolah, diharapkan dapat membentuk akhlak siswa agar lebih baik ( Wazzuhriyah. Ritasari, dan Iqbal, 2021 ). Pada dasarnya pembelajaran akidah akhlak adalah salah satu usaha yang dilakukan secara sadar untuk dapat menyiapkan siswa agar beriman kepada Allah SWT, yang Pendidikan mengajarkan keimanan, masalah ke Islaman, kepatuhan dan ketaan dalam menjalankan syariat Islam menurut ajaran agama, sehingga akan terbentuk pribadi muslin yang sempurna imannya. Pelajaran akidah akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Apalagi dalam jenjang Pendidikan sekolah pelajaran akidah akhlak ini sangat penting dalam menerapakan akidah dan akhlak untuk menciptakan generasi-generasi peserta didik yang berkahlakul karimah. Hal ini karena akidah dan akhlak sangat erat kaitannya. Akidah yang kuat dan benar tercermin dari akhlak terpuji yang dimiliki sesorang dan sebaliknya. Dalam konsepsi Islam, akidah akhlak tidak hanya sebagai media yang mencakup hubungan antara manusia dengan sesamanya atau dengan alam lingkungannya karena pada hakekatnya Islam adalah Rahmatan lil'aalamin. Jika hubungan-hubungan tersebut dapat diterapkan secara selaras maka itulah yang dimaksud implementasi sejati akidah akhlak dalam kehidupan yang membuat Bahagia dunia dan akhirat. 884 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Karakter Siswa Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Karakter juga dapat disebut kumpulan nilai yang melandasi pemikiran, sikap dalam perilaku yang dilakukan. Individu yang berkarakter adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. (Subur, 2015 : Fatchul Muin, 2. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik menerapkan nilai karakter tentang pemahaman akan tertapi tertanam nilai-nilai keperdulian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan (Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, 2. Sekolah dituntut mampu membentuk karakter peserta didik melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, serta memiliki program yang mampu membentuk karakter peserta didik di sekolah. Peran sekolah sebagai tempat pembentukan karakter peserta didik dirasa penting dan memiliki pengaruh yang cukup besar. Guru dituntut untuk dapat terus mengembangkan diri dan mampu menjadi teladan bagi peserta didik untuk membentuk karakter yang baik. Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek penting di dalam proses pendidikan yang diterima peserta didik. Karakter dalam diri seseorang itu tentunya berbeda-beda, jadi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pun pasti peserta didik akan berbeda dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dan tentunya kompetensi yang di dapat dalam pelajaran tersebut khususnya mata pelajaran akidah akhlak akan berbde-beda pula. Jadi karakter peserta didik juga merupakan salah satu pengaruh yang dapat mempengaruhi kompetensi belajar peserta didik khususnya dalam mata pelajaran akidah akhlak. Karakter siswa sangat penting dalam pembelajaran, selain mempengaruhi keterampilan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, karena karakter membimbing kita dalam kehidupan sosial masyarakat. nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada siswa, seperti nilai integritas, tanggung jawab, kemandirin, kejujuran. Motivasi Belajar Motivasi berasal dari kata motif yakni kondisi dalam diri individu yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu baik disadari maupun tidak untuk mencapai tujuan tertentu (Winarni. Anjariah, & Romas, 2. Wina Sanjaya . mengatakan bahwa proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengarahkan segala kemampuannya. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya dorong peserta didik untuk memicu tindakan belajar, menjamin kelangsungan tindakan belajar, mengarahkan tindakan belajar, dan 885 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. mencapai tujuan yang diinginkan oleh peserta didik. Sebagaimana di dalam hadis Rasulullah, yang intinya semua tindakan tergantung pada niatnya (Anggraeni. Lubis. Yulia, 2. Motivasi merupakan faktor yang berpengaruh cukup besar terhadap hasil belajar (Slameto, 2. Dari bebarapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan hal yang sangat penting yang harus asa dalam diri peserta Hal ini juga sangat berpengaruh pada proses pembelajaran. Apabila peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dalam dirinya pasti semangat untuk belajar nya pun akan berbeda dan hasilnya pun akan lebih baik dan maksimal, tetapi sebaliknya apabila pada diri peserta didik motivasi belajarnya rendah akan berpengaruh juga pada hasil pembelajarannya dengan hasil yang kurang maksimal. Dimyati dan Moedjiono . membedakan motivasi berdasarkan sifatnya menjadi dua yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut motivasi intrinsik dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang disebut motivasi ekstrinsik. Abraham Maslow mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks. yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai (Sardiman, 2011 :. Motivasi belajar dapat diartikan sebagai daya pendorong untuk melakukan aktivitas belajar tertentu yang berasal dari dalam diri dan juga dari luar individu sehingga menumbuhkan semangat dalam belajar (Monika & Adman, 2. Motivasi belajar merupakan syarat mutlak untuk belajar dan memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar. Motivasi belajar tidak hanya menjadi pendorong untuk mencapai hasil yang baik tetapi mengandung usaha untuk mencapai tujuan belajar (Puspitasari, 2. Motivasi belajar adalah merupakan syarat mutlak untuk peserta didik melakukan kegiatan belajar. Karena motivasi ini adalah hal yang menggerakkan peserta didik untuk memulai kegiatan belajar, dapat dikatakan secara sadar peserta didik melakukan kegiatan belajar denga nada dorongan dalam dirinya bahwa kegiatan pembelajaran itu penting dan harus semangat dilaksanakan. Jadi motivasi dalam diri peserta didik dapat menentukan kompetensi belajar seorang peserta Motivasi belajar mempunyai peranan besar dari keberhasilan seorang siswa. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi belajar. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin baik hasil belajar. Berdasarkan tinjauan pustaka sebagaimana dipaparkan di atas, dapat digambarkan theoretical framework seperti berikut: 886 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Motivasi Belajar Hasil Belajar Dalam konsep pembelajaran motivasi berarti seni mendorong peserta didik untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Dari beberapa definisi tentang motivasi sebagaimana dinyatakan di atas, maka dapat dinyatakan di dalamnya mengandung tiga aspek penting yakni, pertama, motivasi itu penting menjadi awal terjadinya perubahan energi pada perubahan diri individu, walau motivasi itu muncul dari dalam diri manusia, namun penampilannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia. Kedua, munculnya rasa . dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan kejiwaan yang dapat menentukan tingkah laku, dan ketiga yaitu adanya tujuan yang merupakan respon dari suatu aksi. Fungsi motivasi belajar adalah besar pengarunya terhadap hasil belajar, sebab bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan motivasi siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya. Karena tidak ada daya tarik la akan segan untuk belajar dan juga tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahkan pelajaran yang menarik perhatian siswa lebih mudah dipelajari karena motivasi menambah kebahagiaan belajar . 0: . Jika siswa yang kurang termotivasi terhadap pelajaran, maka dapat diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar, yaitu dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan citacita serta erat kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari. Jadi apa yang dilakukan seseorang tentu mempunyai tujuan dan maksud tertentu, contohnya seorang anak yang membutuhkan penghargaan khusus, maka anak tersebut akan mengembangkan motivasinya pada semua aktivitasnya, baik dalam sekolah maupun di luar sekolah sebagai upaya untuk memuaskan kebutuhan Maka selayaknya sekolah melalui gurunya dapat memberikan motivasi kepada para siswa untuk dapat belajar secara optimal, guna dapat meraih hasil belajar yang baik. Untuk dapat menanamkan motivasi dalam belajar pada siswa, maka diperlukan cara-cara yang tepat dan strategis. Motivasi belajar adalah sangat bepengaruh terhadap hasil belajar, sebab bila bahan pelajaran yang dipeiajari tidak sesuai dengan motivasi siswa, maka siswa tidak dapat belajar dengan sebaikbaiknya. Karena tidak adanya daya tarik baginya. Siswa menjadi segan untuk belajar dan juga tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahkan pelajaran yang menarik perhatian siswa lebih mudah dipelajari karena motivasi menambah kebahagiaan belajar (Andi Mampiare, 2008 : . METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Penelitian ini dilakukan pada siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri yang ada di Kabupaten Kuningan. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri Kabuapten Kuningan dalam penelitian 887 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. menggunakan populasi terjangkau yaitu siswa dan siswi pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan sebanyak 150 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik random sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara acak sederhana yang berjumlah 150 orang siswa dan siswi (Sugiyono, 2. Teknik penelitian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang ditujukan kepada siswa siswi Madrasah Aliyah Negeri 1 Kuningan yang dijadikan objek penelitian. Kuesioner harus diisi dengan jawaban yang sesuai dengan pernyataan yang diberikan, dengan menggunakan skala likert. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yang diestimasi menggunakan bantuan software SmartPLS (Smart Partial Least Squar. Analisis data dan pemodelan persamaan struktural menggunakan software SmartPLS dengan beberapa tahapan sebagai berikut: . Uji validitas indicator, . Konversi diagram jalur menjadi sistem persamaan, . Uji reliabilitas konstruk, . Hipotesis pengujian, . Persamaan Inner Model, dan . Evaluasi model Struktural (Garson, 2. Kompetensi Belajar (KB). Karakter Siswa (KS). Motivasi Belajar (MB) diperlukan indicator untuk setiap variabel dengan skala pengukuran setiap variabel seperti Sangat Tidak Setuju (STS = . Kurang Setuju (KS = . Tidak Setuju (TS = . Setuju (S = . , san Sangat Setuju (SS = . Variabel penelitian Kompetensi Belajar dengan indikator: . Keckapan memahami tentang materi belajar. kecekapan pembelajaran. kemampuan melaksnakan materi belajar. Variabel Karakter Siswa dengan indikator . tanggung jawab dalam belajar. kemandirian dalam belajar. Variabel Motivasi Belajar dengan indicator: . dorongan untuk mendapat prestasi dalam belajar akidah akhlak. dorongan untuk mendapat nilai yang , . dorongan untuk mendapat penghargaan dari teman. , . dorongan untuk mendapat penghormatan dari guru. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kompetensi Belajar Hasil analisis statistik deskriptif pada variabel Kompetensi Belajar (KB) dapat dilihat pada table di bawah ini: Tabel 4. Hasil Analisis Deskriptif Variabel Kompetensi Belajar Indikator Variabel Mean Median Min Max KB1 KB2 3,927 3,920 4,000 4,000 2,000 2,000 5,000 5,000 888 | Volume 6 Nomor 3 2024 Number of Observations Used 0,809 150,000 0,788 150,000 Standard Deviation Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. KB3 KB4 3,760 3,920 4,000 4,000 1,000 1,000 5,000 5,000 0,830 0,963 150,000 150,000 Berdasarkan hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kompetensi Belajar (KB), dari masing-masing indikator . KB1 dengan nilai mean sebesar 3,927, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,809, jumlah observasi 150,000. KB2 dengan nilai mean sebesar 3,920, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,788, jumlah observasi 150,000. KB3 dengan nilai mean 3,760, median 4,000, minimum 1,000, standar deviasi 0,830, jumlah observasi 150,000. KB4 dengan nilai mean 3,920, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,963, jumlah observasi 150,000. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Karakter Siswa Hasil dari Analisis Statistik Deskriptif pada variabel Karakter Siswa (KS) dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Analisis Deskriptif Variabel Karakter Siswa Indikator Variabel Mean Median Min Max KS1 KS2 KS3 KS4 KS5 3,720 3,927 3,920 3,760 4,147 4,000 4,000 4,000 4,000 4,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 5,000 5,000 5,000 5,000 5,000 Standard Deviation 0,834 0,809 0,788 0,830 0,803 Number of Observations Used 150,000 150,000 150,000 150,000 150,000 Berdasarkan hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Karakter Siswa (KS) di atas, dari masing-masing indikator . KS1 dengan nilai mean sebesar 3,720, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,834, jumlah observasi 150,000. KS2 dengan nilai mean sebesar 3,927, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,809, jumlah observasi 150,000. KS3 dengan nilai mean sebesar 3,920, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,788, jumlah obeservasi 150,000. KS4 dengan nilai mean sebesar 3,760, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,830, jumlah observasi 150,000. KS5 dengan nilai mean sebesar 4,147, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,803, jumlah observasi 150,000. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kompetensi Belajar Hasil dari Analisis Statistik Deskriptif pada variabel Motivasi Belajar (MB) dapat dilihat pada tabel berikut ini: 889 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel 4. Hasil Analisis Deskriptif Variabel Motivasi Siswa Indikator Variabel Mean MB1 MB2 MB3 MB4 MB5 MB6 3,927 3,920 3,760 4,247 4,373 3,720 Median Min 4,000 4,000 4,000 4,000 4,000 4,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Max 5,000 5,000 5,000 5,000 5,000 5,000 Standard Deviation 0,809 0,788 0,830 0,721 0,717 0,834 Number of Observations Used 150,000 150,000 150,000 150,000 150,000 150,000 Berdasarkan hasil Analisis Statistik Deskriptif di atas variabel Motivasi Belajar (MB) masing-masing indikator . MB1 dengan nilai mean sebesar 3,927, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,809, jumlah observasi 150,000. MB2 dengan nilai mean sebesar 3,920, median 4,000, minimum 2,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,788, jumlah observasi 150,000. MB3 dengan nilai mean sebesar 3,760, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,830, jumlah observasi 150,000. MB4 dengan nilai mean sebesar 4,247, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,721, jumlah observasi 150,000. MB5 dengan nilai mean sebesar 4,373, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,717, jumlah observasi 150,000. MB6 dengan nilai mean sebesar 3,720, median 4,000, minimum 1,000, maksimum 5,000, standar deviasi 0,834, jumlah observasi 150,000. Pengujian Validitas Indikator Menurut Garson . dan Yasmin . bahwa pengujian validitas dapat dilakukan dengan menggunakan validitas convergent dan validitas Uji validitas convergent merupakan evaluasi terhadap setiap indikator konstruk. Evaluasi validitas convergent dilakukan dengan melihat nilai loading faktor dari masing-masing indikator yang akan dibangun. Diupayakan nilai loading factor pada konstruk lebih besar dari 0,50. Jika nilai indikator loading faktor dalam konstruk di bawah 0,50 maka indikator tersebut harus dikeluarkan dari model (Garson, 2016 . Yamin dan Kurniawan, 2. Loading faktor adalah korelasi antara indikator dan konstruk. Semakin tinggi korelasinya, semakin tinggi pula tingkat validitasnya, sedangkan validitas diskriminan adalah pengujian yang dilakukan dengan melihat nilai hasil crossloading. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah setiap indikator yang mengukur konstruknya sangat berkorelasi dengan konstruknya dibandingkan dengan konstruk lainnya (Garson, 2016 . Yasmin dan Kurniawan, 2. Berdasarkan hasil pengujian validitas konvergen, loading factor untuk variabel Kompetensi Belajar (KB) dengan indikator KB1. KB2. KB3. KB4 sebagai indikator diharapkan dapat mewakili variabel laten variabel karakter siswa 890 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dengan indikator KS1. KS2. KS3. KS4, dan KS5. Motivasi Belajar (MB) dengan indikator MB1. MB2. MB3. MB4. MB5 dan MB 6 memiliki loading factor lebih besar dari 0,50 yang berarti indikator tersebut valid untuk mewakili variabel laten karakter siswa (KS) dengan indikator KS1. KS2. KS3, dan KS4 dan variabel motivasi belajar (MB) dengan indikator MB1. MB2. MB3. MB4. MB5 dan MB6 sebagai representasi latency variabel, memiliki loading factor lebih besar dari 0,50 yang berarti indikator tersebut valid untuk mewakili variabel laten, seperti yang terlihat pada Gambar 4. berikut ini: Dari Gambar di atas, dapat terlihat bahwa semua skor skor indikator memiliki loading factor lebih besar dari 0,70 sehingga semua indikator variabel kompetensi belajar, karakter siswa, dan motivasi belajar dinyatakan valid. Uji validitas discriminant untuk setiap indikator variabel menggunakan nilai crossloading masing-masing indikator dibandingkan dengan nilai cross-loading indikator dengan variabel laten lainnya. Suatu indikator dapat dikatakan memiliki kemampuan yang baik dan tinggi dalam mepersentasikan variabel latennya jika nilai indikator cross-loading lebih tinggi dari nilai cross-loading dengan variabel laten lainnya. Hasil uji validitas discriminant untuk masingmasing indikator ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Uji Validitas Discriminant Dengan Cross Loading Indikator Karkater Siswa KB1 KB2 KB3 KB4 KS1 KS2 891 | Volume 6 Nomor 3 2024 0,781 0,740 Kompetensi Belajar 0,738 0,818 0,880 0,800 Motivasi Belajar Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. KS3 KS4 KS5 MB1 MB2 MB3 MB4 MB5 MB6 0,784 0,862 0,722 0,749 0,771 0,840 0,797 0,831 0,747 Berdasarkan hasil pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa indikator karakter siswa, motivasi belajar, sebagai indikator yang valid untuk menjelaskan variabel laten kompetensi belajar, memiliki cross loading yang lebih tinggi pada tiga variabel laten lainnya. Demikian juga dengan indikator KB1. KB2. KB3, dan KB4 dinyatakan sebagai indikator valid untuk variabel yang memiliki nilai cross loading lebih besar dari nilai cross loading variabel laten karakter siswa dan motivasi belajar dengan indikator KS1. KS2. KS3. KS4. KS5. MB1. MB2. MB3. MB4. MB5 dan MB6. Hal ini membuktikan bahwa indikatorindikator tersebut merupakan indikator yang valid untuk mewakili variabel laten Kompetensi Belajar. Pengujian Keandalan Konstruksi Uji reliabilitas konstruk merupakan pengujian yang dilakukan pada setiap konstruk untuk mengetahui apakah konstruk tersebut reliabel atau tidak. Kriteria suatu konstruk dikatakan reliabel jika nilai Composite Reliabel dari konstruk tersebut lebih besar dari 0,70 (Garson, 2016 . Noor, 2014 . Yasmin dan Kurniawan, 2. Hasil uji Contstruct Reliability dan CronbachAos Alpha untuk masing-masing konstruk dijelaskan dalam tabel di bawah ini: Tabel. Testing Results on the Construct Reliability of Each Variabel dan CronbachAos Alpha Variabel Cronbach's Alpha Composite Reliability Karakater Siswa Kompetensi Belajar Motivasi Belajar 0,838 0,825 0,879 0,885 0,884 0,909 Berdasarkan tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa nilai Composite Reliability Kepercayaan (KP). Keterlibatan Kerja (KK), dan Turnover Intention (TI) lebih besar dari 0,70 sehingga dapat dikatakan bahwa semua konstruk dalam penelitian ini memenuhi persyaratan. suatu konstruk . ariabel late. dapat dikatakan reliabel. Hasil ini menyiratkan bahwa semua variabel laten yang 892 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. digunakan dalam penelitian dapat bebas dari kesalahan atau tanpa bias dan secara konsisten menggunakan indikator yang sama sepanjang waktu (Garson. Latan, 2. Konversi Diagram Jalur ke Sistem Persamaan Setelah diperoleh indikator-indikator yang valid baik kovergen maupun diskriminan untuk setiap variabel laten, diperoleh konversi diagram jalur sesuai dan berdasarakan Gambar 1 ke dalam sistem persamaan untuk menjelaskan hubungan dan pengaruh masing-masing indikator terhadap masing-masing variabel latennya (Outer Equation Mode. Persamaan Outer Model untuk Variabel Laten Kompetensi Belajar yaitu. KB1 = 0,738. KB2 = 0,818. KB3 = 0,880, dan KB4 = 0,800. Dari hasil penelitian tersebut, indikator tertinggi variabel kompetensi belajar tercermin pada indikator KB3 = 0,880 yaitu tentang perbedaan dalam belajar, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak diupayakan siswa dapat belajar mengahargai perbedaan cara belajar antara diri sendiri dan teman-teman Sedangkan variabel kompetensi belajar akidah akhlak terkecil tercermin pada indikator KB 1 = 0,738 yaitu memahami dan menguasai konsep-konsep materi pembelajaran akidah akhlak. Sehingga dalam meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran akidah akhlak perlu diupayakan pembelajaran yang maksimal tentunya dengan berbagai cara dan metode yang sesuai dengan materi ajar pembelajaran akidah akhlak dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini perlu dilakukan secara sungguh-sungguh agar para siswa dapat meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak dengan baik. Persamaan Outer Model untuk Variabel Laten Karakter Siswa yaitu. KS1 = 0,781. KS2 = 0,740. KS3 = 0,784. KS4 = 0,862, dan KS5 = 0,722 Dari hasil penelitian tersebut, indikator tertinggi variabel karakter siswa tercermin pada indikator KS4 = 0,862 yaitu tentang kemandirian dalam belajar, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak diupayakan siswa dapat belajar secara mandiri dan tidak selalu bergantung pada guru dan dapat mengelola waktu dengan Sedangkan variabel kompetensi belajar akidah akhlak terkecil tercermin pada indikator KB 1 = 0,738 yaitu integritas. Integritas adalah merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak yang mengedepankan kemampuan dalam satu kesatuan yang utuh yang berkaitan juga dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan serta Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Oleh karena itu, berbagai upaya yang menunjang pada penerapan integritas perlu dilakukan secara terencaan dan berkala kepada para siswa. Persamaan Outer Model untuk Variabel Laten Motivasi Belajar yaitu. MB1 = 0,749. MB2 = 0,771. MB3 = 0,840. MB4 = 0,797. MB5 = 0,831, dan MB6 = 0,747 893 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dari hasil penelitian tersebut, indikator tertinggi variabel motivasi belajar tercermin pada indikator MB3 = 0,840 yaitu tentang memperbaiki hasil belajar, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak diupayakan siswa dapat memperbaiki hasil belajarnya apabila belum memenuhi KKM nilai yang ditentukan. Sedangkan variabel motivasi belajar terkecil tercermin pada indikator MB6 = 0,747 yaitu pengakuan prestasi dari guru. Prestasi adalah suatu pencapaian dan kompetensi dari proses kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, dari pihak sekolah atau guru dapat diupayakan untuk memberikan berupa penghargaan apabila siswanya mendapatkan prestasi dan hasil yang baik. Sehingga hal ini pun, setidaknya dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan prestasi yang baik sehingga akan mendapatkan penghargaan dari guru. Dan kompetensi belajar dalam hal ini belajar akidah akhlak akan lebih mudah untuk ditingkatkan. Hasil Uji Linearitas Pengujian hipotesis merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan pengaruh antar konstruk, yaitu antara variabel laten eksogen dan variabel laten endogen. Pengujian dilakukan dengan melihat koefisien jalur dan melihat nilai uji-t, jika p-value lebih kecil daei 0,50 maka dapat dikatakan pengaruh atau hubungan antar konstruk signifikan secara statistik, artinya H1 diterima dan H0 ditolak. Sedangkan jika p-value yang diperoleh lebih besar dari 0,50 maka dapat dikatakan pengaruh atau hubungana antar konstruk tidak signifikan secara statistik, artinya H0 dapat diterima dan H1 ditolak. (Garson, 2016 . Latan, 2014 . Noor, 2014 . Yamin dan Kurniawan, 2. Hasil uji koefisien jalur ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel. Hasil Uji Linearitas Pengaruh Antar Variabel Original Sample (O) Sample Mean (M) 0,567 0,564 0,079 7,184 0,000 0,965 0,965 0,005 191,275 0,000 0,389 0,393 0,080 4,892 0,000 Karakter Siswa -> Kompetensi Belajar Akidah Akhlak Karakter Siswa -> Motivasi Belajar Motivasi Belajar -> Kompetensi Belajar Akidah Akhlak Source : Author Standard T Statistics Deviation (|O/STDEV|) (STDEV) Values Berdasarkan tabel di atas, secara statistik terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara variabel laten karakter siswa, motivasi belajar, terhadap 894 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. variabel laten kompetensi belajar akidah akhlak. Hal tersebut dapat menjawab dugaan yang dikemukakan sebagai berikut: Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak yang dibuktikan dengan nilai P sebesar 0,000, karena 0,000 lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. maka dapat dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak pada taraf kepercayaan 95 % dengan arah positif ( ). Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap kompetensi belajar akidah akhlak yang dibuktikan dengan nilai P sebesar 0,000, karena 0,000 lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. maka dapat dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak pada taraf kepercayaan 95 % dengan arah positif ( ). Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap motivasi belajar yang dibuktikan dengan nilai P sebesar 0,000, karena 0,000 lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. maka dapat dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak pada taraf kepercayaan 95 % dengan arah positif ( ). Pengujian Hipotesis Persamaan Inner Model Equasi Path Coefisien Tabel 4. Persamaan Inner Model Equasi Path Coefisien Karkater Siswa Motivasi Belajar Motivasi Belajar 0,965 Kompetensi Belajar 0,567 0,389 Construct Original Sample (O) KS -> KB MB -> KB KS -> MB 0,567 0,389 0,965 Pengaruh Antar Variabel Karkater Siswa -> Motivasi Belajar -> Kompetensi Belajar Specific Indirect Effects 0,376 Dari hasil Uji Path Coefisien yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen. Berdasarkan 895 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Hasil pengujian Path Coefisien dengan program Smart PLS 3. 9 dapat dijelaskan bahwa: Pengaruh Karakter Siswa (KS) terhadap Kompetensi Belajar Akidah Akhlak (KB) Berdasarkan hasil perhitungan Path Coefisien dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan secara statistik variabel karakter siswa (KS) terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) sebesar 0,567 artinya variabel karakter siswa (KS) berpengaruh langsung positif terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) sebesar 56,7 %. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak dapat diawali dengan meningkatkan, menumbuhkan, dan membentuk karakter siswa dengan baik pada pihak sekolah. Hal ini dapat dinyatakan semakin baik karakter siswa, maka semakin meningkat kompetensi belajar akidah akhlak. Pengaruh Motivasi Belajar (MB) terhadap Kompetensi Belajar Akidah Akhlak (KB) Berdasarkan hasil perhitungan Path Coefisien dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan secara statistik variabel motivasi belajar (MB) terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) sebesar 0,389 artinya variabel motivasi belajar (MB) berpengaruh langsung positif terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) sebesar 38,9 %. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak dapat diawali dengan meningkatkan, menumbuhkan motivasi belajar kepada siswa. Hal ini dapat dinyatakan semakin baik motivasi belajar, maka semakin baik kompetensi belajar akidah akhlak. Pengaruh Karakter Siswa (KS) terhadap Motivasi Belajar (MB) Berdasarkan hasil perhitungan Path Coefisien dinyatakan terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan secara statistik variabel karakter siswa (KS) terhadap motivasi belajar (MB) sebesar 0,965 artinya karakter siswa (KS) berpengaruh langsung positif terhadap motivasi belajar (MB) sebesar 96,5 %. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan karakter siswa dapat diawali dengan meningkatkan, menumbuhkan motivasi belajar kepada siswa. Hal ini dapat dinyatakan semakin baik karakter siswa, maka semakin baik motivasi belajar. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis meliputi, . pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak, . pengaruh langsung positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap kompetensi belajar akidah akhlak, . pengaruh langsung positif dan signifikan antara karakter siswa terhadap motivasi belajar. Berdasarkan hasil uji persamaan Inner Model Equasi Path Coefisien, maka diperoleh persamaan sebagai berikut: KB = 0,898 KS 0,389 MB Persamaan tersebut memiliki arti bahwa variabel kompetensi belajar akidah akhlak sebesar 56,7 % dapat dijelaskan oleh variabel laten karakter siswa (KS) dan 38,9 % dapat dijelaskan oleh variabel motivasi belajar dengan nilai konstelasi sebesar 0,898. Hasil ini berimplikasi pada peningkatan siswa 896 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dalam upaya meningkatkan kompetesni belajar akidah akhlak melalui karakter siswa dan motivasi belajar. Inner Model Evaluation Evaluasi inner model dilakukan dengan tig acara, yaitu dengan melihat nilai F-Square. R-Square dan fit model. Uji F-Square merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogenpada level struktural. Jika nilainya 0,02 maka kemampuan variabel laten eksogen dalam menjelaskan variabel laten endogen lemah, jika nilainya 0,15 dikatakan kapasitas sedang dan jika nilainya 0,35 maka variabel laten eksogen dalam menjelaskan variabel laten endogen memiliki kemampuan yang kuat (Garson, 2016 . Yamin dan Kurniawan, 2. Tabel di bawah ini menjelaskan hasil uji F-Square: Tabel. F-Square Test Result Karkater Siswa Motivasi Belajar Construct KS -> KB MB -> KB KS -> MB Sumber : Out Put SEM PLS Motivasi Belajar 13,525 Kompetensi Belajar 0,217 0,103 Original Sample (O) 0,217 0,103 13,525 Berdasarkan tabel F-Square di atas, diketahui dan dapat dijelaskan bahwa sumbangan kekuatan variabel karakter siswa (KS) terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) adalah sebesar 0,217 atau 21,7 %. Hal ini menunjukkan bahwa variabel karakter siswa (KS) memiliki kemampuan untuk menjelaskan kompetensi belajar akidah akhlak (KB) pada tataran struktural sedang atau cukup baik. Kekuatan keterlibatan variabel motivasi belajar (MB) terhadap kompetensi belajar akidah akhlak (KB) sebesar 0,103 atau 10,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel laten motivasi belajar (MB) dalam menjelaskan kompetensi belajar akidah akhlak (KB) pada tataran tingkat struktural adalah sedang atau cukup baik. Kekuatan sumbangan variabel karakter siswa (KS) terhadap motivasi belajar (MB) dengan kekuatan sebesar 13,525 atau 135,35 %. Hal ini menunjukkan kuatnya karakter siswa (KS) terhadap variabel motivasi belajar (MB) pada tingkat struktural yang kuat. R-Square Adjusted Test R-Square Adjusted Test adalah merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui besarnya variasi variabel endogen yang dapat dijelaskan 897 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. oleh variasi variabel eksogen (Garson, 2016. Yamin dan Kurniawan, 2. Nilai R-Square Adjusted Test dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4. R-Square Test Result Variabel Kompetensi Belajar Motivasi Belajar Source : Out Put SEM PLS R Square 0,898 0,931 R Square Adjusted 0,897 0,931 Dari tabel di atas, dapat terlihat besarnya R-Square Adjusted adalah sebesar 0,931. Yang artinya sebesar 93,1 % variasi variabel endogen kompetensi belajar akidah akhlak (KB) dapat dijelaskan oleh variabel eksogen karakter siswa dan motivasi belajar (MB), sedangkan sisanya 6,9 % dijelaskan oleh variasi perubahan yang tidak termasuk dalam model ini. Uji Fit Model Uji fit model dilakukan dengan melihat nilai NFI pada model. Normes Fit Index (NFI) adalah ukuran kesesuaian model dengan basis komparatif terhadap base line atau nol. Nilai NFI akan bervariasi dari 0 . idak cocok sama sekal. hingga 1,0. Berdasarkan tabel statistik yang yang disajikan, nilai kesesuaian NFI yang baik untuk sampel penelitian sekitar 85 adalah di atas 0,921, sehingga dapat dikatakan model sesuai dengan basi komparatif dan sesuai dengan base Tabel berikt ini adalah hasil dari uji fit model : Tabel 4. Fit Model Test Results with NFI NFI Source : Out Put SEM PLS Saturated Model 2,704 Estimated Model 2,704 Berdasarkan tabel di atas, sangat terlihat bahwa nilai Normed Fit Index (NFI) berada di bawah 2,704, sehingga dapat dikatakan model tersebut sangat fit yang artinya model tersebut dikatakan mampu mencerminkan data yang Sehingga model ini memiliki kemampuan yang tinggi untuk menjelaskan data dan fakta. Pembahasan Hasil Penelitian Pengaruh Karakter Siswa Terhadap Kompetensi Belajar Akidah Akhlak Berdasarkan hasil uji koefisien jalur dapat diketahui bahwa nilai asli atau original sampel dari karakter siswa terhadap kompetensi belajar akidah akhlak dengan nilai kontribusi sebesar 0,567 atau 56,7 %, sehingga dapat dikatakan bahwa karakter siswa berpengaruh langsung positif dan signifikan 898 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. terhadap kompetensi belajar akidah akhlak. Dari hasil uji koefisien jalur tersebut dapat dinyatakan bahwa karkater siswa berdampak pada kompetensi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Ahmad . , yang menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan penerapan karakter siswa terhadap hasil belajar pada mata pelajaran akidah akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa semakin baik karakter siswa, maka akan semakin baik pula kompetensi belajar siswa dalam hal ini khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak. Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Kompetensi Belajar Akidah Akhlak Berdasarkan hasil uji koefisien jalur dapat diketahui bahwa nilai asli atau original sampel dari motivasi belajar terhadap kompetensi belajar akidah akhlak dengan nilai kontribusi sebesar 0,389 atau 38,9 %, sehingga dapat dikatakan bahwa motivasi belajar berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap kompetensi belajar akidah akhlak. Dari hasil uji koefisien jalur tersebut dapat dinyatakan bahwa motivasi belajar berdampak pada kompetensi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak, sehingga dalam upaya meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak dapat diawali dengan meningkatkan motivasi belajar pada siswa. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Suci . , yang menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran akidah akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa semakin baik motivasi belajar pada siswa, maka akan semakin baik pula kompetensi belajar siswa dalam hal ini khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak. Pengaruh Karakter Siswa Terhadap Motivasi Belajar Berdasarkan hasil uji koefisien jalur dapat diketahui bahwa nilai asli atau original sampel dari karakter siswa terhadap motivasi belajar dengan nilai kontribusi sebesar 0,965 atau 96,5 %, sehingga dapat dikatakan bahwa karakter siswa berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap motivasi belajar. Sehingga dalam upaya meningkatkan motivasi belajar pada siswa dapat dilakukan melalui penerapan Pendidikan karkater siswa. Dari hasil uji koefisien jalur tersebut dapat dinyatakan bahwa karkater siswa berdampak pada motivasi belajar pada siswa. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Fithriyaani et. , yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan penerapan karakter siswa terhadap motivasi belajar. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa semakin baik karakter siswa, maka akan semakin baik dan meningkat pula motivasi belajar pada siswa. 899 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. KESIMPULAN Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat dirumuskan kesimpulan . karakter siswa berpengaruh langsung positif terhadap kompetensi belajar akidah akhlak siswa Madrasah Aliyah Negeri . motivasi belajar berpengaruh langsung terhadap kompetensi belajar akidah akhlak siswa Madrasah Aliyah Negeri, dan . karakter siswa berpengaruh langsung terhadap motivasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka saran yang dapat diajukan adalah: Dari hasil penelitian, indikator kompetensi terkecil tercermin pada indikator memahami dan menguasai konsep-konsep materi pembelajaran akidah Pemahaman dan penguasaan konsep-konseo materi pembelajaran khususnya materi mata pelajaran akidah akhlak merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan kompetensi belajar pada mata pelajaran akidah akhlak yang mengedepankan aspek-aspek materi di dalamnya. Oleh karena itu, berbagai upaya yang menunjang pada peningkatan kompetensi belajar akidah akhlak perlu dilakukan secara terencana, sistematis dan berkelanjutan salah satunya dengan memperhatikan metode dan media pembelajaran yang dipakai dalam proses pembelajaran akidah akhlak sehingga para siswa dapat lebih mudah dalam memahami dan menguasai konsep-konsep dalam materi pelajaran akidah akhlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator variabel laten karakter siswa terendah tercermin pada indikator integritas. Integritas adalah merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan kompetensi belajar akidah akhlak yang mengedepankan kemampuan dalam satu kesatuan yang utuh yang berkaitan juga dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan serta prinsip. Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Oleh karena itu, berbagai upaya yang menunjang pada penerapan integritas perlu dilakukan secara terencaan dan berkala kepada para siswa. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar terendah tercermin pada indikator pengakuan prestasi dari guru. Prestasi adalah suatu pencapaian dan kompetensi dari proses kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, dari pihak sekolah atau guru dapat diupayakan untuk memberikan berupa penghargaan apabila siswanya mendapatkan prestasi dan hasil yang baik. Sehingga hal ini pun, setidaknya dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan prestasi yang baik sehingga akan mendapatkan penghargaan dari guru. Dan kompetensi belajar dalam hal ini belajar akidah akhlak akan lebih mudah untuk 900 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 880-902 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. DAFTAR PUSTAKA