IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index Penerapan Metode Eksperimen Mencampur Warna untuk Mengembangkan Kemampuan Kognitif Anak Kelompok B di RA As-Sholeh Baron" Lilis Rahmawati1. Siti Istatik Choiroyaroh2 1 STAI Miftahul AoUla Nganjuk, 2FTIK UIN SATU Tulungagung elrahmawati22@gmail. com1, istatiktatik6@gmail. Article History Received : August 9th 2025 Revision : Sep 13th 2025 Publication : Oct 30th 2025 Abstract This study aims to describe the implementation of the color-mixing experiment method in developing the cognitive abilities of Group B children at RA As-Sholeh Baron. This research uses a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. The results show that the implementation of the experimental method, using natural materials like dragon fruit and pineapple, was carried out through the stages of preparation, demonstration, direct practice, and This approach proved effective in developing children's cognitive abilities, particularly in recognizing primary and secondary colors, understanding cause-andeffect relationships, and communicating their findings. Key supporting factors included teacher competence and the availability of facilities, while time management and the need for meticulous preparation were identified as inhibiting factors. This study concludes that the color-mixing experiment method is an effective, contextual, and enjoyable alternative for developing early childhood cognitive abilities, in line with constructivist and cognitive development theories. Keywords: Experimental Method. Color Mixing. Cognitive Ability. Early Childhood. Qualitative Descriptive. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode eksperimen mencampur warna dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA As-Sholeh Baron. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode eksperimen, dengan menggunakan bahan alam seperti buah naga dan nanas, dilaksanakan melalui tahapan persiapan, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak, khususnya dalam mengenal warna primer dan sekunder, memahami hubungan sebab-akibat, serta mengomunikasikan temuan. Faktor pendukung utama adalah kompetensi guru dan ketersediaan sarana, sedangkan manajemen waktu dan kebutuhan persiapan yang matang diidentifikasi sebagai faktor penghambat. Kajian ini menyimpulkan bahwa metode eksperimen mencampur warna merupakan IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index alternatif yang efektif, kontekstual, dan menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak usia dini, sejalan dengan teori konstruktivisme dan perkembangan kognitif. Kata kunci: Metode Eksperimen. Mencampur Warna. Kemampuan Kognitif. Anak Usia Dini. Deskriptif Kualitatif PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. Tujuan pendidikan anak usia dini secara umum adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Sujiono, 2. Terdapat beberapa aspek perkembangan yang harus distimulasi pada anak usia dini, salah satunya adalah aspek kognitif. Kemampuan kognitif diperlukan anak sebagai kerangka untuk mengembangkan pengetahuannya tentang apa yang mereka lihat, dengar, rasa, raba, ataupun cium melalui panca indranya. Salah satu capaian perkembangan kognitif yang harus dikembangkan adalah pengenalan Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa kemampuan mengenal warna termasuk dalam lingkup perkembangan kognitif. Pengenalan warna bermanfaat untuk meningkatkan daya pikir serta kreativitas anak. penglihatan dalam bentuk warna, anak dapat merasakan dan menggunakan rasa keindahan (Sutejah et al. , 2. Salah satu metode yang dinilai efektif untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak, khususnya dalam mengenal warna, adalah metode eksperimen. Menurut Djamarah . , melalui metode eksperimen, anak dapat mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan yang dihadapinya, melatih cara berpikir ilmiah, serta menjadi lebih aktif dalam berpikir dan berbuat. Pendekatan konstruktivis dari Piaget dan Vygotsky juga mendasari hal ini, yang meyakini bahwa pembelajaran terjadi ketika anak secara aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui eksplorasi dan penyelidikan terhadap lingkungan di sekitarnya (Sujiono, 2. Berdasarkan observasi awal di kelompok B RA As-Sholeh Baron, diketahui bahwa dari 20 anak, sebagian besar telah mengenal macam-macam warna, namun masih terdapat 4 anak yang perkembangannya belum optimal. Untuk mendorong kemampuan tersebut, guru telah menerapkan eksperimen sederhana menggunakan media bahan alam, seperti buah naga untuk warna merah, nanas untuk warna IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index kuning, dan rebusan kol ungu untuk warna biru. Kegiatan ini memungkinkan anak untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan termotivasi untuk berpikir kritis. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendetail bagaimana penerapan metode eksperimen mencampur warna dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok B di RA As-Sholeh Baron. Dengan memahami penerapan dan dampaknya, diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga bagi pendidik dalam memilih metode pembelajaran yang tepat, menarik, dan bermakna bagi anak usia dini METHOD Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam fenomena penerapan metode eksperimen mencampur warna di RA As-Sholeh Baron. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif yang berfokus pada pemahaman holistik terhadap perilaku, persepsi, dan pengalaman subjek penelitian dalam konteks alamiahnya. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan proses, faktor pendukung, dan penghambat dari penerapan metode tersebut. Dalam pelaksanaannya, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci atau human instrument (Sugiyono, 2. , di mana kehadiran peneliti di lapangan sangat Kehadiran peneliti dilakukan secara formal dengan status yang diketahui oleh pimpinan lembaga dan guru. Selama di lapangan, peneliti berperan sebagai pengamat penuh . ull observe. yang terlibat dalam aktivitas harian tanpa melakukan intervensi terhadap proses pembelajaran, sehingga memungkinkan pengumpulan data yang otentik dan mendalam. Sumber data penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari informan kunci, yaitu Kepala RA As-Sholeh Baron, dua orang guru kelompok B, dan beberapa wali murid. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari berbagai dokumen pendukung seperti arsip sejarah dan profil sekolah, struktur organisasi, data sarana dan prasarana. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH), serta literatur dan jurnal yang relevan dengan fokus Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama. Pertama, observasi partisipatif (Moleong, 2. digunakan untuk mengamati secara langsung penerapan metode eksperimen dan aktivitas anak selama pembelajaran. Kedua, wawancara tidak terstruktur dilakukan kepada informan kunci untuk menggali informasi, persepsi, dan pengalaman mereka secara mendalam. Ketiga, teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis dokumendokumen tertulis dan visual yang mendukung, seperti foto kegiatan dan RPPH. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman . alam Sugiyono, 2. , yang meliputi tiga tahapan yang IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index berjalan secara simultan. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses memilih, memusatkan perhatian, dan merangkum data yang terkumpul. Tahap kedua adalah penyajian data, di mana data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk uraian naratif dan tabel untuk memudahkan pemahaman. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan, di mana temuan-temuan diverifikasi dan dirumuskan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Guna memastikan keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari narasumber yang berbeda, seperti kepala sekolah dan guru. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil observasi dan dokumentasi. Melalui cara ini, kredibilitas dan keandalan temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan. HASIL Penerapan Metode Eksperimen Mencampur Warna Proses pembelajaran dengan metode eksperimen mencampur warna dilaksanakan pada tanggal 5 April 2021 selama 2x45 menit . di Kelompok B. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dengan tema "Tumbuhan" dan sub tema "Buahbuahan". Media pembelajaran yang digunakan adalah bahan alam, yaitu: Buah naga sebagai sumber warna merah. Buah nanas sebagai sumber warna kuning. Pewarna makanan biru . ebagai alternatif dari rebusan kol ung. Tahapan Pelaksanaan Eksperimen: Kegiatan Awal: Guru menjelaskan tujuan eksperimen dan memperkenalkan alat serta bahan yang akan digunakan, termasuk menyebutkan nama buah dan warna yang dihasilkannya. Kegiatan Inti (Eksperime. : Guru mendemonstrasikan prosedur pencampuran warna dengan urutan sebagai berikut: Mencampur warna merah . ari buah nag. dan kuning . ari buah nana. untuk menghasilkan warna jingga. Mencampur warna kuning . ari buah nana. dan biru . ewarna makana. untuk menghasilkan warna hijau. Mencampur warna merah . ari buah nag. dan biru . ewarna makana. untuk menghasilkan warna ungu. Setelah demonstrasi, anak-anak diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen secara langsung. Mereka meneteskan dan mencampur warna di mangkuk plastik, kemudian mengaduknya dengan sedotan sebelum mengamati perubahan yang terjadi pada ampas kelapa yang digunakan sebagai media warna. Kegiatan Penutup: Guru membimbing diskusi mengenai hasil eksperimen, dimana anak-anak menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan alami selama proses pencampuran warna. Hasil akhir eksperimen berupa ampas IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index kelapa berwarna-warni kemudian digunakan untuk membuat kolase gambar buah-buahan. Perkembangan Kemampuan Kognitif Anak Berdasarkan observasi dan analisis dokumen penilaian, penerapan metode eksperimen ini berhasil mengembangkan kemampuan kognitif anak, dengan fokus pada indikator berikut: Kemampuan Mengenal Macam-Macam Warna: Sebelum eksperimen, sebagian besar anak sudah mengenal warna dasar . Setelah eksperimen, pemahaman mereka berkembang ke warna sekunder . ingga, hijau, ung. Data dari tabel penilaian menunjukkan bahwa dari 20 anak, 16 anak sudah mencapai kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) dalam kemampuan mengenal macam-macam warna. Hanya 4 anak yang masih dalam kategori Mulai Berkembang (MB). Kemampuan Membedakan Warna Primer dan Sekunder: Anak-anak tidak hanya mampu menyebutkan nama warna, tetapi juga mulai memahami hubungan antara warna primer dan sekunder. Mereka dapat menjelaskan bahwa "merah dan kuning jadi jingga" yang menunjukkan pemahaman sebab-akibat sederhana dalam proses percampuran warna. Kemampuan Mencampurkan Warna: Aspek keterampilan praktis ini melatih motorik halus dan ketelitian anak. Meskipun awalnya beberapa anak mengalami kesalahan dalam takaran pencampuran . ehingga tidak menghasilkan warna yang diharapka. , bimbingan guru secara bertahap membantu mereka memahami proporsi yang tepat. Kemampuan Menceritakan Kembali Hasil Eksperimen: Pada tahap ini, anak-anak dilatih untuk mengkomunikasikan temuan mereka. Sebagian besar anak mampu menceritakan urutan kegiatan dan perubahan warna yang mereka lihat dengan bahasa mereka sendiri, misalnya: "Tadi saya campur warna kuny sama biru, jadinya ijo. Bu. " Ini menunjukkan kemampuan memori dan penyampaian ide yang Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor Pendukung: Kemampuan Guru: Guru telah memahami konsep dan prosedur metode eksperimen, serta mampu memberikan instruksi dan pengawasan yang tepat selama kegiatan. Ketersediaan Sarana Prasarana: Sekolah menyediakan alat dan bahan yang dibutuhkan, seperti buah-buahan, pewarna, mangkuk plastik, dan sedotan, yang memungkinkan eksperimen berjalan dengan lancar. Minat dan Antusiasme Anak: Anak-anak menunjukkan ketertarikan dan antusiasme yang tinggi terhadap kegiatan eksperimen. Seorang guru menyatakan, "Anak-anak terlihat antusias dari awal pembelajaran. mereka sangat senang karena bisa mencoba sendiri. " (Wawancara. Guru Kelas B, 5 April 2. Faktor Penghambat: Manajemen Waktu: Kegiatan eksperimen memerlukan waktu yang tidak sedikit, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga pembersihan. IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index Guru dituntut untuk dapat mengelola waktu dengan efisien agar tidak mengganggu jadwal pembelajaran lain. Perencanaan yang Matang: Kegagalan kecil pada beberapa anak dalam menghasilkan warna yang tepat menunjukkan bahwa perencanaan, terutama dalam hal penjelasan proporsi pencampuran dan pengaturan antrian menggunakan alat, perlu lebih detail. Variasi Eksperimen: Keterbatasan variasi eksperimen yang dapat dilakukan dengan bahan sederhana menjadi tantangan untuk menjaga keberlanjutan minat anak dalam jangka panjang. PEMBAHASAN Berdasarkan temuan penelitian, penerapan metode eksperimen mencampur warna di RA As-Sholeh Baron terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak Kelompok B. Keberhasilan ini dapat ditinjau dari beberapa perspektif teoritis yang relevan. Metode Eksperimen sebagai Pemicu Pembelajaran Aktif dan Kontekstual Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak terlibat secara aktif dan penuh antusiasme selama proses eksperimen. Fenomena ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Djamarah . yang menyatakan bahwa metode eksperimen memungkinkan anak didik lebih aktif berpikir dan berbuat, serta menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan yang dihadapinya. Dalam konteks ini, kegiatan mencampur sari buah naga dan nanas bukan sekadar permainan, tetapi merupakan sebuah proses ilmiah sederhana dimana anak menjadi subjek pembelajaran. Mereka mengalami langsung proses perubahan warna, sehingga pengetahuan yang diperoleh bukan hafalan semata, melainkan pemahaman yang bersifat konkret dan bermakna. Hal ini membuktikan bahwa metode eksperimen berhasil menciptakan pembelajaran yang kontekstual, di mana anak belajar dari hal-hal yang nyata dan dekat dengan lingkungannya. Pencapaian Indikator Kognitif melalui Eksplorasi Sensorimotor Peningkatan kemampuan anak dalam mengenal dan membedakan warna primer dan sekunder,serta kemampuan mereka menceritakan kembali proses eksperimen, secara langsung mencerminkan tercapainya indikator perkembangan kognitif untuk anak usia 5-6 tahun sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No. 146 Tahun 2014. Kemajuan ini dapat dijelaskan melalui teori perkembangan kognitif Piaget, yang menyatakan bahwa anak usia Taman Kanak-Kanak berada pada tahap pra-operasional dengan karakteristik berpikir intuitif (Jamaris, 2. Eksperimen mencampur warna memberikan pengalaman fisik dan sensorimotor yang krusial bagi anak pada tahap ini. Ketika anak mengaduk warna kuning dan biru hingga menjadi hijau, mereka tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi membangun skema kognitif baru melalui interaksi langsung dengan objek. Proses "melihat dan membuktikan sendiri" ini memfasilitasi pemahaman sebab-akibat yang lebih stabil dibandingkan dengan metode ceramah atau pengenalan melalui IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index Konstruksi Pengetahuan melalui Interaksi Sosial Selain aspek individual,keberhasilan metode ini juga didukung oleh aspek Kegiatan diskusi setelah eksperimen, di mana anak saling bercerita tentang hasil pengamatannya, menciptakan ruang untuk pertukaran ide. Hal ini selaras dengan teori Vygotsky . alam Sujiono, 2. yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara sosial. Dalam aktivitas tersebut, guru dan teman sebaya berperan sebagai "pembantu yang lebih ahli" . ore knowledgeable othe. yang memungkinkan terjadinya scaffolding. Seorang anak yang belum mampu menjelaskan dengan lancar dapat terpacu oleh penjelasan temannya yang lebih Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berkembang dalam zone of actual development anak, tetapi juga mendorong mereka mencapai zone of proximal Sinergi Faktor Pendukung dalam Keberhasilan Implementasi Temuan mengenai faktor pendukung,yaitu kemampuan guru dan ketersediaan sarana, menguatkan pendapat Slameto . alam bab II skrips. bahwa faktor eksternal dari sekolah sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Guru yang memahami prosedur eksperimen mampu menciptakan alur pembelajaran yang terstruktur, sementara ketersediaan bahan alam memastikan kegiatan dapat berjalan lancar. Sinergi antara kompetensi guru dan ketersediaan sumber daya ini menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, di mana rasa ingin tahu anak dapat dieksplorasi secara aman dan terarah. Refleksi atas Faktor Penghambat sebagai Bahan Penyempurnaan Kendala yang diidentifikasi,seperti manajemen waktu dan perlunya perencanaan yang lebih matang, justru memberikan pelajaran berharga. Kendala ini merefleksikan pernyataan Djamarah . alam bab II) bahwa salah satu kelemahan metode eksperimen adalah memerlukan waktu yang tidak sedikit dan persiapan yang cermat. Oleh karena itu, hambatan ini tidak boleh dilihat sebagai kegagalan, melainkan sebagai umpan balik yang kritis untuk perbaikan praktik di masa depan. Misalnya, tantangan dalam pengaturan antrian alat dapat diatasi dengan membagi anak ke dalam kelompok kecil yang lebih mudah dikelola. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa: Penerapan Metode Eksperimen Mencampur Warna telah dilaksanakan secara efektif di RA As-Sholeh Baron melalui tahapan yang sistematis meliputi: . persiapan alat dan bahan dari sumber alam. demonstrasi oleh guru. praktik langsung oleh anak. diskusi hasil eksperimen. Proses pembelajaran ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan menyenangkan, dimana anak dapat mengalami secara langsung fenomena pencampuran warna dari warna primer menjadi warna sekunder. IERA: Islamic Education and Research Academy |EISSN: 2721-7698 . Vol. No. October 2025 https://ejournal. id/index. php/iera/index Pengembangan Kemampuan Kognitif Anak menunjukkan hasil yang positif, terlihat dari peningkatan dalam: . kemampuan mengenal dan membedakan warna primer dan sekunder. pemahaman hubungan sebab-akibat melalui proses pencampuran warna. keterampilan praktis dalam mencampur warna dengan proporsi yang tepat. kemampuan mengkomunikasikan hasil pengamatan secara lisan. Hal ini membuktikan bahwa metode eksperimen sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini yang bersifat konkret dan sensorimotor. Faktor Pendukung Keberhasilan meliputi: . kompetensi guru dalam memahami dan mengimplementasikan metode eksperimen. ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. antusiasme dan rasa ingin tahu anak yang Sementara Faktor Penghambat yang dihadapi adalah: . kebutuhan waktu yang relatif panjang dalam pelaksanaannya. perlukan perencanaan yang sangat matang terutama dalam hal pengelolaan alat dan bahan. keterbatasan variasi eksperimen dengan bahan sederhana. Secara Teoritis, temuan penelitian ini memperkuat pendapat bahwa metode eksperimen sesuai dengan teori perkembangan kognitif Piaget dan konsep Vygotsky, pengetahuannya sendiri melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial. Implikasi Praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode eksperimen mencampur warna dengan bahan alam merupakan alternatif pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak usia dini, khususnya dalam pengenalan konsep sains sederhana, yang dapat diadopsi oleh lembaga PAUD lainnya dengan menyesuaikan kondisi dan sumber daya yang tersedia. DAFTAR PUSTAKA