Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 ANALISIS HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA POPULASI LANSIA Agustin Marcela Candra1. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo2. Riski Wulandari3 STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: agustin. marcella20@gmail. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: erjinamigo291109@stikespantirapih. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: riskiwulandari@stikespantirapih. ABSTRAK Latar belakang: Lansia lebih rentan mengalami penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, dan hipertensi. Hipertensi pada lansia disebabkan oleh perubahan tekanan darah yang berkaitan dengan usia dan faktor gaya hidup seperti kurangnya aktivitas fisik. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Bantul II Yogyakarta. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Psuskesmas Bantul II Yogyakarta pada bulan Mei sampai Juni Populasi penelitian lansia dengan usia > tahun dengan jumlah sampel 94 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian digunakan adalah GPAQ (Global Physical Activity Questionnair. Hasil: Hasil penelitian berdasarkan kejadian hipertensi menunjukkan bahwa sebagian besar lansia hipertensi melakukan aktivitas kategori ringan 78,0% . , sementara lansia yang tidak hipertensi sebagian besar melakukan aktivitas kategori berat 55. 9% . Analisis statistik menggunakan Chi-Square menghasilkan p-value sebesar 0. 002, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia. Simpulan: Lansia dengan aktivitas fisik ringan memiliki risiko lebih besar terkena hipertensi dibandingkan dengan lansia yang melakukan aktivitas fisik sedang dan berat. Pentingnya edukasi kepada lansia mengenai pentingnya aktivitas fisik rutin untuk mengurangi angka kejadian hipertensi. Kata kunci: Aktivitas Fisik. Hipertensi. Lansia ABSTRACT Background: Elderly individuals are more susceptible to degenerative diseases such as heart disease, diabetes mellitus, and hypertension. Hypertension in the elderly is caused by changes in blood pressure related to aging and lifestyle factors, such as a lack of physical activity. Objective: This study aims to determine the relationship between physical activity and the incidence of hypertension in the elderly in the working area of Puskesmas Bantul II. Yogyakarta. Method: The study employed a quantitative method with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach. The research was conducted at Puskesmas Bantul II. Yogyakarta, in June The study population consisted of elderly individuals aged Ou 60 years, with a total sample size of 94 respondents selected using accidental sampling. The research instrument used was the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) Results: The study results showed that, based on the incidence of hypertension, the majority of hypertensive elderly individuals engaged in light physical activity . 0%, 32 respondent. , while the Agustin Marcela Candra. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo. Riski Wulandari Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Populasi Lansia majority of non-hypertensive elderly individuals engaged in vigorous physical activity . 9%, 19 Statistical analysis using the Chi-Square test yielded a p-value of 0. 002, indicating a significant relationship between physical activity and the incidence of hypertension in the elderly. Conclusion: Elderly individuals who engage in light physical activity have a higher risk of developing hypertension compared to those who engage in moderate or vigorous physical activity. is important to educate the elderly on the benefits of regular physical activity to reduce the prevalence of hypertension. Keywords: Physical Activity. Hypertension. Elderly. PENDAHULUAN Lansia memiliki risiko tinggi terhadap Prevalensi penyakit degeneratif seperti hipertensi, yang mengalami kemajuan dari 650 juta pada disebabkan oleh perubahan tekanan darah tahun 1990 menjadi 1,3 miliar pada tahun seiring bertambahnya usia dan penurunan 2019, dengan prevalensi tinggi di Asia kondisi fisik. Tekanan darah diastolik pada Tenggara pria cenderung meningkat hingga usia 60 tahun dan pada wanita hingga 80 tahun. menjadi salah satu masalah kesehatan yang Sebaliknya, tekanan darah sistolik akan sangat umum dijumpai dengan prevalensi meningkat hingga usia 80 tahun pada wanita 34,1% pada tahun 2018 (Laporan Nasional daripada pria. Setelah usia 70-75 tahun. Riset Kesehatan Dasar, 2. dan angka peningkatan tekanan darah sistolik lebih kematian tinggi, terutama di Yogyakarta signifikan dibandingkan diastolik, sebelum yang mencatat hipertensi sebagai penyakit keduanya sedikit menurun pada usia lanjut paling umum dengan 129. 764 kasus pada (Miller et al, 2. Hipertensi terjadi ketika tekanan darah diastolic mencapai atau Yogyakarta, 2. Di Kabupaten Bantul, melebihi 90 mmHg dan tekanan sistolik mencapai atau melampaui 140 mmHg perempuan, dengan jumlah 26. ,8%) (Chasanah & Sugiman, 2. apabila tidak ditangani hipertensi dapat memicu masalah . ,2%) (Dinkes Kabupaten Bantul, 2. serius seperti gagal ginjal, penyakit jantung Studi pendahuluan di Puskesmas Bantul II koroner, dan stroke yang tidak dikendalikan. Yogyakarta mencatat bahwa pada tahun Dampak komplikasi tidak hanya kesehatan 2023 terdapat 1. 158 lansia dengan hipertensi, fisik tetapi juga mencakup kesehatan mental dan 108 pasien hipertensi yang rutin melakukan pemeriksaan pada tahun 2024, (World Health Indonesia, (Dinas Organization. Kesehatan laki-laki kecemasan dan depresi (Dinkes Kabupaten Bantul, 2. kurang berolahraga dan memiliki denyut jantung lebih tinggi. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 Meskipun Penelitian ini menggunakan metode meluncurkan berbagai program manajemen deskriptif korelasi dengan pendekatan cross- Prolanis Pengumpulan data dilakukan di (Program Pengelolaan Penyakit Kroni. , wilayah Puskesmas Bantul II Yogyakarta pada bulan Mei hingga Juni 2024. Besar (Kementerian Kesehatan RI R1, 2. sampel ditentukan menggunakan rumus Aktivitas fisik terbukti berperan penting Slovin yang menghasilkan 94 responden. dalam pengelolaan hipertensi pada lansia. Responden dipilih menggunakan teknik Pengambilan mengontrol tekanan darah dan kesehatan didasarkan pada kriteria inklusi yaitu: lansia secara keseluruhan (Karim et al. , 2. Namun, banyak lansia masih kurang dalam berkomunikasi dengan baik, dan bersedia Penelitian terlibat dalam penelitian dari awal hingga sebelumnya menunjukkan sebagian besar Kriteria eksklusi meliputi: lansia lansia lebih banyak beraktivitas fisik ringan yang tidak bersedia, tidak mampu atau sulit daripada sedang atau berat (Chasanah & berkomunikasi . troke, gangguan bicara. Sugiman, 2. Perawat memiliki peran esensial dalam menta. , memiliki komplikasi medis . troke, mendukung dan memotivasi lansia untuk gagal ginjal, diabetes, edema pulmonal, atau mengelola hipertensi melalui peningkatan jantun. , serta lansia yang sudah meninggal. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penelitian sphygmomanometer digital merk Omron HEM-7124, yang telah dikalibrasi dengan hubungan antara aktivitas fisik dan kejadian nomor surat 229. U1. 24 dan dinyatakan hipertensi pada lansia di wilayah Puskesmas Bantul II Yogyakarta, dengan menggunakan dilakukan menggunakan kuesioner Global Physical Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Activity Questionnaire (GPAQ). Diharapkan Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan penelitian ini dapat memberikan perspektif dari Komite Etik STIKes Guna Bangsa baru tentang upaya pengendalian hipertensi Yogyakarta melalui peningkatan aktivitas fisik pada 021/KEPK/V/2024. dalam penelitian ini adalah aktivitas fisik, (Nasrullah. Global METODE PENELITIAN Pengukuran Variabel Agustin Marcela Candra. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo. Riski Wulandari Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Populasi Lansia kejadian hipertensi. Analisis data dilakukan Chi-Square untuk menguji hubungan antara variabel independen dan dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN mengetahui distribusi aktivitas fisik dan kejadian hipertensi pada lansia. Selanjutnya, analisis bivariat menggunakan uji korelasi Tabel 1 Distribusi Frekuensi Tingkat Aktivitas Fisik pada Lansia Jumlah Tingkat Aktivitas Fisik Frekuensi . Presentasi (%) Berat Sedang Ringan Sumber: Juni, 2024 Berdasarkan tabel 1 distribusi frekuensi berdasarkan tingkat aktivitas fisik lansia yang menunjukkan bahwa lansia cenderung Aktivitas fisik ringan pada lansia seperti melakukan aktivitas ringan dibandingkan dengan aktivitas sedang dan berat. Lansia membutuhkan sedikit energi dan tidak melakukan aktivitas ringan sebanyak 43. menghasilkan transformasi yang signifikan . dan lansia yang melakukan pada pernapasan atau ketahanan, sehingga lansia dapat melakukannya dengan nyaman, . bahkan sambil berbicara atau bernyanyi Aktivitas fisik melibatkan otot rangka ketahanan (P2PTM, 2. Aktivitas ini umumnya membakar kurang dari 3,5 Kcal per menit dan termasuk dalam aktivitas sehari-hari MET (Metabolic kesehatan mental dan fisik, serta mencegah Equivalen. <600 (Sudargo et al. , 2. penyakit kardiovaskular dan penyakit tidak Penelitian menular lainnya (Mary & Melanie, 2018. Yogyakarta menunjukkan sebagian besar Sukmawati et al. , 2. Penelitian di lansia lebih sering melakukan aktivitas fisik Puskesmas Bantul Yogyakarta ringan, sesuai Puskesmas Bantul kemampuan dan kondisi Sejalan berbagai intensitas aktivitas fisik dalam sebelumnya yang dilakukan oleh Novitasari intensitas ringan, sedang, dan berat sesuai & Aisyah, . menunjukkan responden dengan kemampuan masing-masing, yang memiliki aktivitas dengan intensitas fisik Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 ringan sebanyak 68. 2% . di penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pesantren Husnul Khotimah Kabupaten Chasanah & Sugiman, . menunjukkan Kendal. 54% . melakukan aktivitas Aktivitas fisik sedang seperti berjalan intensitas sedang yang berada Wilayah Keja cepat, membawa beban ringan, senam, atau Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta. Aktivitas berkelanjutan dan dilakukan setidaknya 5 kekuatan dan daya tahan otot seperti berlari, membawa beban berat, dan mencangkul, kebugaran dan kesehatan mental (Sudargo et perlu dilakukan minimal 7 hari seminggu , 2. Aktivitas ini membakar 3,5-7 untuk meningkatkan manfaat kesehatan Kcal per menit, meningkatkan denyut secara optimal (Sudargo et al. , 2. Aktivitas ini meningkatkan denyut jantung, memungkinkan percakapan meski tidak bisa frekuensi napas, dan membakar lebih dari 7 bernyanyi (P2PTM, 2. MET untuk Kcal per menit dengan nilai MET Ou 3000 aktivitas ini berkisar antara Ou 600 sampai < (P2PTM, 2. Penelitian di Puskesmas Bantul II Yogyakarta dan studi lainnya menunjukkan bahwa lansia yang rutin kardiovaskular dan kekuatan otot (Sudargo et al. , 2. Penelitian di Puskesmas Bantul peningkatan kekuatan otot dan ketahanan II Yogyakarta dan lainnya menunjukkan bahwa lansia yang rutin melakukan aktivitas sedang mengalami peningkatan kesehatan 4% . dari 62 fisik dan kognitif yang signifikan, termasuk responden yang berada di Pesantren lansia Husnul Khofifah Kabupaten Kendal. Sejalan Novitasari & Aisyah, . kardiovaskular, dan kekuatan otot. Sejalan Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Lansia Kejadian Hipertensi Jumlah Frekuensi . Presentasi (%) Hipertensi Tidak Hipertensi Sumber: Juni, 2024 Berdasarkan . distribusi kejadian hipertensi pada lansia 6% . dari 94 sebagian besar mengalami hipertensi 57. Agustin Marcela Candra. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo. Riski Wulandari Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Populasi Lansia Penelitian sebelumnya oleh Lestari et , . menunjukkan sebagian besar berkontraksi (Stergiou et al. , 2. Tekanan responden hipertensi sebanyak 51. 2% . diastolik 90 mmHg menunjukkan tekanan di responde. di Puskesmas Kedu Kabupaten dalam arteri selama interval antara detak Temanggung. Tekanan diastolik lebih dari 90 dilakukan oleh Kamriana & Sumarmi, . mmHg menunjukkan tekanan tinggi saat jantung dalam fase relaksasi (Udjianti, 2. menderita hipertensi sebanyak 44. 0% . Penelitian oleh Lestari et al. , . di wilayah kerja Puskesmas menunjukkan bahwa 48. 8% responden di Pattallassang Kabupaten Takalar. Kekuatan Puskesmas Kedu Kabupaten Temanggung aliran darah dipengaruhi oleh volume darah tidak mengalami hipertensi. Di Puskesmas dipompa jantung dan hambatan alirah darah Bantul II Yogyakarta, lansia tanpa hipertensi di arteri dikenal sebagai tekanan darah. dengan tekanan darah normal, yaitu sistolik Tekanan darah diukur dalam dua nilai utama kurang 140 mmHg dan diastolic kurang 90 mmHg. Tekanan darah normal menunjukkan berkontraksi serta tekanan diastolic saat aliran darah yang tidak mengalami resistensi jantung sedang beristirahat (Indartati et al. berlebihan, dengan faktor-faktor seperti kekakuan arteri yang optimal, volume darah Tekanan Sejalan yang stabil, dan aktivitas sistem saraf menunjukkan adanya peningkatan resistensi simpatis yang seimbang (Indartati et al. terhadap aliran darah di arteri. Terdapat beberapa penyebab potensial untuk hal ini. Lansia yang tidak mengalami hipertensi termasuk di antaranya kekakuan arteri, biasanya memiliki fungsi pembuluh darah volume darah yang tinggi, atau peningkatan yang optimal, yang mendukung aliran darah aktivitas sistem saraf simpatis. Hipertensi ditandai dengan tekanan sistolik lebih dari oksigen dan nutrisi seluruh tubuh. Sistem 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari kardiovaskular mereka berfungsi efisien 90 mmHg. (Brunner & Suddarth, 2. tanpa tekanan berlebihan pada dinding arteri Tekanan sistolik 140 mmHg dihasilkan (Udjianti, 2. Penelitian menunjukkan ketika darah dialirkan dari jantung ke bahwa lansia dengan tekanan darah normal memiliki kondisi kesehatan kardiovaskular merupakan pembuluh darah utama. Tekanan yang lebih baik dibandingkan dengan lansia sistolik mengukur tekanan di arteri selama Nilai di atas 140 mmHg menunjukkan Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 yang mengalami hipertensi. Kondisi ini dan mengurangi risiko komplikasi terkait dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dengan menjaga fungsi tubuh yang optimal Tabel 3 Hasil Uji Chi-Square Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Populasi Lansia di Puskesmas Bantul II Yogyakarta Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Total Aktivitas Fisik p-value Hipertensi Berat Sedang Ringan Sumber: Juni, 2024 Berdasarkan tabel 3 secara statistik mempengaruhi tekanan darah (Sudargo et al. menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai p value 0. 002 yang menunjukkan . Penelitian value <0. sehingga hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan meningkatkan risiko hipertensi, sedangkan gaya hidup aktif membantu menjaga tekanan Yulia Kartika hipertensi pada lansia di Puskesmas Bantul II Yogyakarta. menemukan bahwa berjalan kaki memiliki . Sebagian besar responden hipertensi potensi untuk menurunkan tekanan darah dalam penelitian ini cenderung lebih sering lansia hipertensi hingga 2%, dan aktivitas melakukan aktivitas ringan seperti pekerjaan rumah tangga, mengasuh cucu, dan berjalan santai selama 15 menit 78% . Jamaludin et al. , . juga Aktivitas menurunkan tekanan darag sebesar 5. mempengaruhi tekanan darah kemudian mmHg tekanan diastolic dan 9. 40 mmHg meningkatkan kebutuhan aliran darah ke tekanan diastolic. Akibatnya, jantung harus memompa Penelitian responden yang tidak hipertensi sebanyak . memastikan suplai oksigen dan nutrisi ke melakukan aktivitas fisik kategori sedang. seluruh jaringan. Hal ini menunjukkan Aktivitas seperti berjalan cepat, membawa bahwa aktivitas ringan secara signifikan beban ringan, dan bersepeda dengan energi 3,5-7 Kcal/menit meningkatkan aliran darah Agustin Marcela Candra. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo. Riski Wulandari Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Populasi Lansia ke otot, sehingga jantung tidak perlu bekerja durasi, frekuensi, dan intensitasnya (Maudi keras untuk mencukupi kebutuhan tubuh, et al. , 2. Aktivitas fisik rutin dapat berkontribusi menurunan tekanan darah membantu mengontrol tekanan darah dalam (Sudargo et al. , 2. Penelitian ini batas normal meningkatkan efisiensi kerja Mukti, . (Kartika menemukan aktivitas fisik dengan intensitas menurunkan tekanan darah (Kasumawati et Penelitian Aktivitas bahwa aktivitas intensitas sedang, seperti menjaga sirkulasi darah, dan melindungi senam tera, efektif menurunkan tekanan kesehatan fisik serta mental, mengurangi darah sistolik. kemungkinan terjadinya penyakit risiko penyakit kronis seperti jantung dan diabetes responden yang tidak hipertensi sebanyak (Sukmawati et al. , 2. Lansia yang rutin beraktivitas fisik, baik ringan maupun melakukan aktivitas fisik kategori berat. sedang, cenderung memiliki kondisi fisik Meskipun yang lebih baik serta mengurangi risiko Platini et al. , . juga membuktikan Penelitian meningkatkan tekanan darah sementara, secara jangka panjang, aktivitas ini dapat mendukung lansia untuk tetap aktif adalah membantu menurunkan tekanan darah saat istirahat dengan memperkuat otot jantung kualitas hidup lansia. dan meningkatkan elastisitas dinding arteri. Aktivitas Oleh yang mengurangi resistensi aliran darah penatalaksanaan non farmakologi dapat (Sudargo et al. , 2. Aktivitas berat yang memberikan dampak pada tekanan darah pasien hipertensi lanjut usia. Pendidikan menimba air, dan mencangkul, menjadi kesehatan mengenai penatalaksanaan non rutinitas mingguan dengan durasi 30-60 farmakoterapi hipertensi terbukti bermanfaat Penelitian Makawekes et al. , . juga mendukung mengurangi kejadian hipertensi. Penelitian sebelumnya oleh Nekada et al. , . menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan tekanan darah pada lansia. Aktivitas fisik dikategorikan sebagai ringan, sedang, atau berat berdasarkan jenis, melalui pendekatan non farmakologi. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta. AnNadaa Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9. Https://Doi. Org/10. 31602/Ann. V9i2. Dinkes Kabupaten Bantul. Profil Kesehatan Kabupaten Bantul Tahun 2022. Tunas Agraria, 3. , 1Ae47. Indartati. Marhamah. Sari. , & Sunarti. Hubungan Gaya Hidup Terhadap Peningkatan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kota Datar. Health Caring: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 3. , 22Ae26. Https://Doi. Org/10. 47709/Healthcaring. V3i Jamaludin. Karyadi. , & Munawarah. Pengaruh Jalan Santai Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Warga Rw 005 Pisangan Barat Ciputat. Seminar Nasional Keperawatan, 6. , 165Ae Kamriana. Sumarmi. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Pattallassang Kabupaten Takalar. Karim. Onibala. Dan Kallo, & V. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Derajat Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tagulandang Kabupaten Sitaro. Jurnal Keperawatan, 6. , 1Ae6. Kartika. Afifah. , & Suryani. Asupan Lemak Dan Aktivitas Fisik Serta Hubungannya Dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan. Jurnal Gizi Dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal Of Nutrition And Dietetic. , 4. , 139. Https://Doi. Org/10. 21927/Ijnd. Kasumawati. Holidah. , & AAoyunin. Analisis Hubungan Kebiasaan Merokok Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Kelompok Usia 45-54 Tahun. Edu Masda Journal, 4. , 11Ae20. Http://Openjournal. Masda. Ac. Id/Index. Php/ Edumasda/Article/View/48 Kemenkes R1. Kementerian Kesehatan Ri. In Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Https://Pusdatin. Kemkes. Go. Id/Resources/ Download/Pusdatin/Profil-KesehatanIndonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia- SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian diperoleh hasil terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Aktivitas fisik dilakukan secara rutin baik yang ringan, sedang, maupun berat memiliki manfaat signifikan dalam menjaga tekanan darah tergantung pada jenis, durasi dan frekuensi resistensi perifer, dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, tenaga untuk mendorong lansia untuk tetap aktif dalam berbagai jenis aktivitas fisik sebagai langkah penting untuk menurunkan risiko kesejahteraan mental serta fisik. DAFTAR PUSTAKA