PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . ISSN . KELEKATAN IBU-ANAK MEMBENTUK KEYAKINAN TERHADAP ATURAN: ANALISIS MODEL KONTROL SOSIAL PERILAKU REMAJA BERISIKO PENYALAHGUNA NAPZA MOTHER-CHILD ATTACHMENT SHAPES BELIEF ABOUT RULES: A SOCIAL CONTROL MODEL ANALYSIS OF ADOLESCENTS AT RISK DRUG ABUSE Eny Purwandari & Rini Lestari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta ep271@ums. rl237@ums. ABSTRAK Perilaku penyalahgunaan NAPZA sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang harus dikontrol agar tidak terjadi peningkatan penyalahgunaan dan kerugian di berbagai sektor kehidupan, baik ekonomi, kesehatan, sosial, maupun individu yang bersangkutan. Keluarga sebagai salah satu lembaga kontrol sosial mempunyai pengaruh yang kuat terhadap munculnya perilaku penyalahgunaan NAPZA. Teori kontrol sosial akan mengkaji fungsi keluarga, khususnya ibu dalam membentuk keyakinan terhadap aturan pada kasus penyalahgunaan NAPZA. Subjek penelitian ini adalah remaja yang menunjukkan risiko penyalahgunaan NAPZA sebanyak 241 remaja . sia 15-17 tahu. dengan cluster random sampling dengan kriteria inklusif harus tinggal Bersama kedua orang tua. Data dianalisis dengan menggunakan structural equation model (SEM) dengan indikator indeks kecocokan model GFI = 0,925. CFI=908. AGFI=0,879. TLI=0,874. estimasi kelekatan ibu-anak terhadap keyakinan aturan sebesar 0,41, dan estasi keyakinan aturan terhadap risiko penyalahgunaan napza sebesar -0,35. Hasil menunjukkan bahwa kelekatan ibu-anak lebih berperan dibandingkan kelekatan ayah dalam membentuk keyakinan terhadap aturan seorang remaja sehingga mampu mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA. Implikasinya peran ibu dapat lebih ditingkatkan dalam pengasuhan agar mampu memberikan rasa nyaman pada anak dengan pengetahuan dan ketrampilannya, sehingga transmisi nilai, aturan terinternalisasi pada diri anak. Kata Kunci: Penyalahgunaan napza, kelekatan ibu-anak, kelekatan ayah-anak, keyakinan adanya aturan, kontrol sosial ABSTRACT Drug abuse behavior is a kind of behavioral deviance that needs to be managed in order to prevent abuse and losses in the social, health, economic, and individual domains of life from The establishment of drug misuse behavior is significantly influenced by the family as a social control institution. According to social control theory, the role of the mother in particular in setting family norms about drug misuse will be investigated. Cluster random selection was used to choose 241 teens . Ae17 years ol. who met the inclusionary criterion of having to live with both parents and shown a risk of drug misuse. A structural equation model (SEM) was used to evaluate the data. The model fit index indicator was GFI = 0. CFI = 908. AGFI = 0. TLI = 0. The estimate of rule beliefs' relationship to the likelihood of drug abuse was -0. 35, and the estimate of mother-child attachment to rule beliefs was 0. The findings indicate that, in order to lower the likelihood of drug usage, a http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 teen's attitudes about regulations are formed more by their mother and child than by their The inference is that the mother's role in raising her child can be further developed so that she can use her knowledge and abilities to comfort the child and help the youngster internalize the rules and values that have been imparted to them. Keywords: drug abused, mother-attachment, father-attachment, belief, social control PENDAHULUAN NAPZA merupakan kependekan dari Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif. Peredaran NAPZA di Indonesia dalam waktu belakangan ini semakin marak. Hal ini ditunjukkan dari peningkatan kasus penyalahgunaan NAPZA dari tahun ke tahun. Hasil riset BNN bersama BRIN dalam publikasi Kompas. September 2. menyebutkan bahwa penyalahgunaan narkotika di Indonesia meningkat dari 1,80% di tahun 2019 menjadi 1,95% di tahun 2021 (Yulianus, 2. Data lain mengungkapkan sepanjang 2022 hingga Maret 2023, telah dilakukan penangkapan 768 kasus tindak pidana narkotika dengan tersangka sebanyak 1. 209 orang (Adri, 2. Dari kasus penyalahgunaan NAPZA ini. BNN menerbitkan temuan New Psychoactive Substance (NPS) sebanyak 91 jenis dan 85 diantaranya telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 dan 4 tahun 2021 (BNN Editor, 2. Menurut Badwi et al. kasus penyalahgunaan NAPZA adalah bentuk perilaku yang menyalahgunakan obat dan atau zat di luar semestinya, yaitu di luar kebutuhan medis dan penelitian sebagai pengembangan ilmu, yang dapat mempengaruhi cara kerja syaraf, yang berakibat pada berubahnya cara berpikir dan emosi. Obat dan atau zat yang dimaksud disini jenis olahan bahan alami maupun sintesis. Individu penyalahgunaan NAPZA dapat dikenali dengan mudah seperti adanya perubahan sikap dan tingkah laku, pandangan mata menjadi sayu, takut dan jarang mandi, bersifat pemalas, berjalan sempoyongan (Gusdiansyah & Sarli, 2. Menurut Wahyuni et al. , secara psikologis ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak dapat berpikir dan berperilaku normal. Perasaan, pikiran dan perilaku sudah dipengaruhi oleh zat yang Berbagai gangguan psikis yang dialami antara lain : depresi, paranoid, percobaan bunuh diri dan melakukan tindak kekerasan . Kaess et al. membagi tingkatan pemakaian NAPZA menjadi tiga tingkatan, yaitu tidak memakai, berisiko menyalahgunakan, dan pemakai berat. Kelompok berisiko http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 penyalahgunaan NAPZA perlu mendapat perhatian khusus agar tidak berlanjut dalam penyalahgunaan NAPZA yang lebih berat. Rais et al. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa merokok dan minum-minuman keras adalah jenis NAPZA yang paling sering digunakan dan terkait dengan rasa ingin tahu, serta sebagai zat yang dikonsumsi untuk menjadi penyalahguna NAPZA jenis lain yang lebih parah. Hasil studi awal yang dilakukan Qotrunnada & Purwandari . 27 sekolah di Kabupaten Sragen dengan jumlah subjek 2407 pada remaja usia 15-18 tahun yang menunjukkan 21,5% mempunyai kebiasaan merokok dan 15,4% minum-minuman keras. Remaja di wilayah perkotaan menunjukkan angka yang lebih tinggi pada kedua perilaku tersebut. Angka yang cukup besar untuk diperhatikan dalam kajian penyimpangan perilaku, yaitu risiko penyalahgunaan NAPZA (Purwandari, 2. Tingginya angka penyalahgunaan NAPZA, menjadi urgensi dalam kajian yang lebih mendalam untuk menemukan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor dan dampak untuk merumuskan upaya preventif dalam penyalahgunaan NAPZA. Prevalensi ini akan menjadi sumber penting untuk memperhatikan remaja yang berisiko sebagai penyalahguna NAPZA. Jubir et al. menyebutkan 45% dari remaja mencoba menyalahgunakan NAPZA dan 32% tetap bertahan dan berlanjut pada perilaku penyalahguna NAPZA. Nawi et al. menemukan 36% dari 1035 remaja berisiko penyalahgunaan NAPZA. Angka prevelensi penyalahgunaan NAPZA di Indonesia pada tahun 2023 mengalami penurunan dari 1,95% menjadi 1,73% (Humas BNN, 2. Namun demikian, angka ini perlu masih perlu menjadi perhatian khusus untuk terus meningkatkan upaya penurunan penyalahgunaan NAPZA. Salah satu survei nasional tahun 2023 penyalahgunaan narkoba yang dilaksanakan BNN menunjukkan anak sekolah dasar sudah mengkonsumsi narkoba. Survei yang diikuti 13. 710 responden ini menyatakan pengguna NAPZA termuda berusia 7 tahun dengan jenis inhalan. Pada usia 8 tahun sudah menggunakan ganja dan usia 10 tahun sudah menggunakan narkoba dengan jenis bervariasi, seperti pil penenang, ganja dan morfin. Usia penyalahguna semakin menunjukkan usia awal. Pada tahapan usia inilah peran lingkungan sosial menjadi besar di dalam pembentukan perilaku penyalahgunaan NAPZA. Salah satu lingkungan yang memiliki andil besar dalam kontrol penyimpangan perilaku anak yaitu lingkungan Dalam konsep bioekologi yang dikemukakan oleh Bronfenbrenner . , http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 bahwa orang tua berada dalam mikrosistem perkembangan anak. Artinya, orang tua memiliki peran yang sangat strategis dalam perkembangan anak, terkhusus dalam kasus penyimpangan perilaku penyalahgunaan NAPZA. Penelitian Saragih . menunjukkan bahwa kelekatan orang tua dengan remaja berhubungan langsung dengan penyalahgunaan obat dan alkohol. Selain itu, kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan orang tua sebagai dimensi penting dalam menjalin kelekatan. Hasil penelitian Purwandari et al. pada penelitian sebelumya menemukan bahwa dari 71% keluarga mantan penyalahguna NAPZA tidak mengetahui bentuk penyimpangan perilaku penyalahgunaan NAPZA. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua Ae anak kurang menunjukkan kelekatan. Orang tua yang lekat dengan anak akan mampu mengikuti perkembangan dan peka terhadap perubahan perilaku anak, termasuk melihat perubahan perilaku yang mengarah pada risiko penyalahgunaan NAPZA. Oleh karena itu kelekatan dapat menjadi salah satu prediktor pada perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA. Kelekatan orang tua yang dirasakan anak akan membentuk rasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga (Kutsiyah et al. , 2. Rasa nyaman di dalam keluarga merupakan orientasi nilai-nilai hidup pertama pada mantan penyalahguna NAPZA dan orientasi nilai-nilai hidup pada remaja (Purwandari et , 2. Jadi keluarga merupakan lingkungan pertama seorang anak dan secara normatif sebagai tempat kembali jika anak mengalami kesulitan. Norma yang terbentuk pada diri anak akan dikembangkan dalam pemahaman keyakinan anak terhadap aturan yang berlaku. Dalam konteks kehidupan anak di lingkungan sekolah, aturan sekolah yang jelas dan tegas berhubungan dengan pembentukan sikap kedisiplinan anak. Melalui penerapan aturan ini, diharapkan dapat menekan munculnya kenakalan sebagai awal terbentuknya perilaku penyalahgunaan NAPZA. Selain itu, pemberlakuan aturan secara konsisten yang tentunya melibatkan guru dan siswa dapat mempererat hubungan guru dan siswa dalam relasi pembelajaran di Ben . meneliti pengaruh sekolah terhadap penyalahgunaan NAPZA, khususnya dilihat hubungan antara siswa dengan guru. Sikap hormat murid pada guru dan penerimaan guru terhadap murid berhubungan tidak langsung dengan penyalahgunaan NAPZA. Dengan terbangunnya relasi yang positif antara guru dan siswa, maka transfer nilai-nilai dan penerapan aturan akan semakin mudah dilakukan. Sehingga http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 aturan sekolah terhadap larangan NAPZA sebagai mediator antara sikap terhadap guru dan penerimaan guru terhadap pemakaian NAPZA. Fenomena perilaku penyalahgunaan NAPZA akan dikaji berdasarkan kerangka teori kontrol sosial (TKS), yang dalam konteks ini menekankan pada pengendalian sosial TKS merupakan teori yang dikembangkan dengan konsep bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh dan sebagai kontrol munculnya perilaku yang menyimpang, termasuk risiko penyalahgunaan NAPZA. Salah satu faktor sosial yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan kontrol dalam perilaku remaja ialah keluarga. Keluarga sebagai bagian terdekat anak dalam lingkup mikrosistem di ekologi perkembangan anak, yang terdiri atas orang tua dan adik-kakak. Kelekatan seorang anak dengan ibu menjadi bagian dari pembentukan kontrol perilaku dari lingkungan keluarga, sebab melalui kelekatan dengan ibu anak cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik (Mutya & Adiyanti. Remaja yang menjadi harapan bangsa seharusnya mengisi masa mudanya dengan kegiatan yang bermanfaat yang ditunjukkan oleh perilaku yang baik dan tidak menyimpang, seperti penyalahgunaan NAPZA (Aprianto & Saputro, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji model kontrol sosial yang menunjukkan keterkaitan antara kelekatan ibu-anak, keyakinan adanya aturan luar terhadap perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA pada remaja dan untuk mengetahui adanya pengaruh langsung dan tidak langsung kelekatan ayah-anak, kelekatan ibu-anak, keyakinan aturan, terhadap perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui survei yang disebarkan kepada responden. Responden yang terlibat dalam riset ini, ialah remaja sejumlah 241 remaja dengan karakteristik demografi pada tabel 1. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 1. Karakteristik Demografi Subjek Penelitian Karakteristik Karakteristik spesifik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Rendah Sedang Di atas rata-rata Tinggi Bersama kedua orang tua Tidak Bersama orang tua Risiko Penyalahgunaan napza Tempat tinggal Pendidikan Jumlah . alam persentase/%) Ayah Tidak Sekolah Sekolah Dasar SMP SMA Sarjana Ibu Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan empat skala yang digunakan, yaitu : . Skala risiko penyalahgunaan NAPZA yang terdiri dari 8 item ( = 0,. dengan aspek perilaku yang berkaitan dengan sekolah, performansi pertemanan, performansi diri, alternatif jawaban tidak pernah (TP), kadang-kadang (KD) sering (S), dan hampir selalu (HSL). skala kelekatan ayah-anak ( = 0,. , . skala kelekatan ibu-anak ( = 0,. masing-masing sebanyak 7 item, dengan aspek yang diungkap kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan, alternatif pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS), dan . skala keyakinan adanya aturan yang terdiri dari 7 item ( = 0,. dengan alternatif pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS), aspek terdiri dari pengetahuan adanya aturan, pelaksanaan aturan, dan evaluasi. Keempat skala merupakan skala yang didesain oleh peneliti sesuai dengan teori yang sudah ditelusuri. Pada masing-masing skala diuji model pengukurannya dengan hasil yang menunjukkan bahwa : Model pengukuran risiko penyalahgunaan NAPZA dengan delapan aitem yang merupakan first order CFA, yaitu Sklh2 dengan muatan faktor 0,91. Sklh1 dengan muatan faktor 0,81. Sklh6 dengan muatan faktor 0,89. Sklh3 dengan muatan faktor 0,88. PerfP21 dengan muatan faktor 0,58. PerfP dengan muatan faktor 0,71. Perf17 dengan muatan faktor 0,83. dan Perf dengan muatan faktor 0,83. Model pengukuran risiko penyalahgunaan NAPZA menunjukkan model yang fit http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 yang dilihat berdasarkan chi-square = 32,069 . p > 0,05. GFI > 0,9. CFI > 0,9. AGFI > 0,9, dan RMSEA < 0,08. Sklh3 Sklh2 Sklh1 Sklh6 Sekolah PerfP21 Perf Pertemanan PerfP19 Performansi Chi-Square=32. Prob=. GFI=. AGFI=. CFI=. RMSEA=. Perf17 Perf18 Gambar 1. Model Pengukuran Fit Konstruk Risiko Penyalahgunaan NAPZA . Model pengukuran kelekatan ibu-anak terbentuk dengan tujuh aitem, yaitu Kp1 dengan muatan faktor 0,64. Kp17 dengan muatan faktor 0,61. Kp12 dengan muatan faktor 0,67. Ko19 dengan muatan faktor 0,75. Ko20 dengan muatan faktor 0,70. Kt8 dengan muatan faktor 0,55. dan Kt11 dengan muatan faktor 0,66. Model kelekatan ibu-anak menunjukkan model yang fit yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu kepercayaan dengan muatan dimensi sebesar 0,96. komunikasi sebesar 1,00, dan dimensi keterlibatan sebesar 0,80, serta dilihat berdasarkan chi-square = 21,216 . p > 0,05. GFI > 0,9. CFI >0,9. AGFI > 0,9, dan RMSEA < 0,08. Kp12 Kp1 Kp17 Kepercayaan Ko19 Komunikasi Kelekatan IB-A Ko20 Keterlibatan Chi-Square=21. Prob=. GFI=. AGFI=. CFI=. RMSEA=. Kt8 Kt11 Gambar 2. Model Pengukuran Fit Konstruk Kelekatan Ayah-Anak http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 . Model pengukuran kelekatan ayah-anak terbentuk dengan tujuh aitem, yaitu Kp1 dengan muatan faktor 0,54. Kp12 dengan muatan faktor 0,54. Kp17 dengan muatan faktor 0,56. Ko19 dengan muatan faktor 0,68. Ko20 dengan muatan faktor 0,68. Kt8 dengan muatan faktor 0,47. dan Kt11 dengan muatan faktor 0,53. Kp1. Kp12, dan Kp17 merupakan variabel teramati dari dimensi kepercayaan dengan muatan dimensi sebesar 0,95. Dimensi komunikasi yang terdiri dari Ko19 dan Ko20 muatan dimensinya sebesar 0,97 dan muatan dimensi keterlibatan sebesar 0,98. Model pengukuran kelekatan ayah-anak menunjukkan model yang fit yang dilihat berdasarkan chi-square = 3,528 . p > 0,05. GFI > 0,9. CFI > 0,9. AGFI > 0,9, dan RMSEA < 0,08. Kp12 Kp17 Kp1 Kepercayaan Ko19 Kelekatan BpA Komunikasi Ko20 Keterlibatan Chi-Square=3. Prob=. GFI=. AGFI=. CFI=1. RMSEA=. Kt8 Kt11 Gambar 3. Model Pengukuran Fit Konstruk Kelekatan Ayah-Anak . Model pengukuran keyakinan adanya aturan terbentuk dengan tujuh aitem yang merupakan second order CFA, dengan Pt1 muatan faktor 0,62. Pt2 dengan muatan faktor 0,64. Plk10 dengan muatan faktor 0,61. Plk17 dengan muatan faktor 0,70. Plk7 dengan muatan faktor 0,67. Ev22 dengan muatan faktor 0,43. dan Ev19 dengan muatan faktor 0,68. Model pengukuran keyakinan adanya aturan menunjukkan model yang fit yang dilihat berdasarkan chi-square = 30,127 . p > 0,05. GFI > 0,9. CFI >0,9. AGFI > 0,9, dan RMSEA < 0,08. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Pt2 Pt1 Pengetahuan Plk10 Plk17 Keyakinan Pelaksanaan Plk7 Evaluasi Chi-Square=30. P=. Cmin/DF=2. CFI=. AGFI=. GFI=. RMSEA=. Ev22 Ev19 Gambar 4. Model Pengukuran Fit Konstruk Keyakinan Andanya Aturan HASIL PENELITIAN Hasil SEM menunjukkan indikator goodness of index (GoF) yang memenuhi model kontrol sosial perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA yang menekankan pada posisi orang tua, yaitu ayah-anak dan ibu-anak dengan mediator keyakinan aturan. Indikator GoF yaitu Chi-Square = ePgt Pgt eKpB eKoB Plk Kelekatan Bpk KoB KtB Risiko KpI eKoI KoI Sklh eSklh PTmn ePTmn eKpI eKtB Eva Yakin Aturan KpB Chi-Square=125. P=. CMIN/DF=2. GFI=. RMSEA=. AGFI=. CFI=. TLI=. eEva ePlk PDr ePDr Kelekatan Ibu eKtI KtI Gambar 5. Model Kontrol Sosial antara kelekatan ayah-anak, kelekatan ibu-anak, keyakinan adanya aturan, dan perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA Keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung antara varibel berdasarkan teori Kontrol Sosial, yang terdiri dari kelekatan ayah-anak, kelekatan ibu-anak, keyakinan adanya aturan, dan perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA terpapar pada gambar 1. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 2. Regression Weights Estimate S. <--- Kelekatan Ayah-anak . <--- Kelekatan Ibu-anak 979 *** Yakin Aturan Yakin Aturan Risiko penyalahgunaan <--- Kelekatan Ayah-anak . NAPZA Risiko penyalahgunaan <--- Kelekatan Ibu-anak NAPZA Risiko penyalahgunaan <--- Yakin Aturan NAPZA Berdasarkan tabel 1 yang menunjukkan korelasi signifikan adalah kelekatan ibu-anak terhadap keyakinan aturan dan keyakinan aturan terhadap risiko penyalahgunaan NAPZA. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan aturan sebagai mediator bentukan kelekatan ibu-anak terhadap risiko penyalahgunaan NAPZA. Tabel 3. Skor Empiris dan Teoritis Subjek Penelitian Empiris Min Maks Rerata Risiko NAPZA YakinAturan Kelekatan Ibu-anak 2 Kelekatan Ayah-anak 2 Teoritis Min Maks 16,5311 8,73213 13,7801 3,99445 0 13,9129 4,26965 0 12,5560 3,56808 0 Rerata SD 36,00 12,0 10,50 3,5 10,50 3,5 10,50 3,5 Berdasarkan tabel 2, perbandingan standar deviasi empiris dengan standar deviasi hipotetik, keyakinan adanya aturan, kelekatan ibu-anak, kelekatan ayah-anak, dan perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA menunjukkan respon subjek yang variatif. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 4. Deskripsi data berdasarkan jenis kelamin Variabel Laki-laki R = 10,0% Keyakinan aturan luar S = 51,3% T = 38,7% R = 9,4% Kelekatan ibu-anak S = 46,6% T = 44,0% R = 7,3% Kelekatan ayah-anak S = 67,5% T = 25,2% Keterangan : R = rendah. S= sedang. T = tinggi Perempuan R = 10% S = 30% T = 60% R = 4% S = 34% T = 62% R = 4% S = 56% T = 40% Perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA tergolong rendah. Secara rinci terdiri dari 197 . 7%) kategori rendah, 43 orang . 8%) tergolong kategori risiko sedang, disusul 1 orang . ,4%) tergolong risiko tinggi penyalahguna NAPZA. Berdasarkan hasil yang diperoleh, anak mempersepsikan bahwa ibu mampu kenyamanan dengan kepercayaan, mampu membangun komunikasi dan terlibat dengan anak. Kategori kelekatan ibu-anak yang tinggi sebesar 114 . ,3%), disusul sedang 107 . ,4%). Ibu yang kurang menunjukkan kelekatan hanya sebesar 20 . ,3%). Ayah di mata anak cukup memberikan kenyaman dengan kepercayaan, mampu berkomunikasi dan terlibat dengan anak. Namun apabila diperinci dalam kategori sedang sebesar 157 . ,1%), disusul tinggi 68 . ,2%), dan rendah 16 . ,6%). Keyakinan adanya aturan luar yang dimiliki remaja menunjukkan bahwa sudah cukup menyadari adanya aturan dari luar, dimana perincian kategori tinggi 104 . ,2%), sedang 116 . ,1%), dan rendah 21 . ,7%). DISKUSI Usia remaja adalah masa dimana seorang anak ingin mengeksplorasi diri, mencoba hal yang berbeda, mengikuti trend, dan mencari jati diri (Pratama & Sari, 2. Upaya pencarian jati diri remaja seringkali dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung lainnya seperti banyak sedikitnya teman dan permasalahan internal pada remaja, seperti rendah diri maupun stress, serta pola asuh yang kurang mendukung. Apabila dikaitkan dengan tingginya tingkat penyalahgunaan NAPZA saat ini, faktor pencarian jati diri pada remaja menjadi salah satu gerbang yang menyebabkan remaja terjerumus dalam http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 penyalahgunaan NAPZA (Aryuni et al. , 2. Beberapa kelompok remaja menjadikan perilaku penyalahgunaan NAPZA menjadi trend dan ajang eksistensi diri (Ni Made & Ni Ketut, 2. Dalam hal ini, peran sinergis lembaga-lembaga sosial dan masyarakat, utamanya orang tua, diperlukan untuk mengeliminir trend penyalahgunaan NAPZA yang terus mengalami peningkatan seiring waktu. Berdasarkan pada gambar 1, model perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA yang ditemukan dapat memberikan paparan penjelasan munculnya perilaku berdasarkan teori kontrol sosial (Bunsaman & Krisnani, 2. Perilaku remaja berisiko penyalahgunaan NAPZA dalam perspektif teori kontrol sosial merupakan bentuk dari penyimpangan perilaku yang dipengaruhi adanya kesempatan muncul perilaku pelanggaran terhadap norma sosial. Lingkungan terkecil sebagai kontrol sosial adalah Keluarga adalah lembaga nonformal dan pemberlakuan aturan berdasar hukum konvensional . turan tidak tertulis dengan tuntutan untuk dilaksanaka. Berdasarkan perbedaan tersebut maka faktor kelekatan ayah-anak dan kelekatan ibuanak menjadi hal yang penting dalam berlakunya fungsi kontrol sosial, namun tidak berpengaruh secara langsung seperti hasil temuan (Bahr et al. , 2005. Dewit et al. , 2000. Marcos et al. , 1. Kelekatan ayah-anak dan kelekatan ibu-anak yang terdiri dari faktor kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan akan menjadi kendali kuat di dalam antisipasi perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA. sehingga perlu juga diperhatikan pengaruh faktor lain yang kontribusinya tidak langsung. Namun Koh et al. menemukan adanya pengaruh yang berbeda antara ayah dan ibu di dalam pola berinteraksi serta pembentukan identitas diri anak-anak. Berdasarkan Teori Kontrol Sosial Travis Hirschi, perilaku penyalahgunaan NAPZA pada remaja dapat dijelaskan melalui kurangnya ikatan sosial yang kuat, komitmen terhadap tujuan positif, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan konstruktif, dan keyakinan terhadap norma-norma sosial yang sehat (Costello & Laub, 2. Menurut riset Kutsiyah et al. remaja yang mengalami defisit dalam ikatan emosional dengan keluarga atau teman-teman, kurang komitmen terhadap pencapaian tujuan positif, terlibat dalam kegiatan negatif, dan memiliki keyakinan yang lemah terhadap dampak negatif penyalahgunaan NAPZA, dinilai lebih rentan terhadap perilaku tersebut. Pada dasarnya remaja menyadari adanya lembaga kontrol, yaitu keluarga dengan aturan-aturan yang dibuat oleh orang tua dan disepakati bersama secara normatif. Hal http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tersebut sesuai dengan keberfungsian keluarga dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA (Rachmawati et al. , 2. Sistem kontrol sosial yang berlaku di keluarga berfungsi dengan optimal, khususnya apabila anak mempunyai kelekatan yang kuat dengan ibunya (Saragih, 2. Menurut Yolanda et al. kelekatan antara ibu-anak ini memiliki peran krusial dalam perkembangan emosional anak. Anak-anak yang memiliki kelekatan dengan ibunya cenderung merasa aman, didukung, dan mampu mengelola stress dengan baik. Sehingga melalui kontrol diri yang baik, dapat menekan potensi anak dalam penyalahgunaan NAPZA. Nurcahyawati et al. menyatakan hal yang hampir sama dengan temuan penelitian ini, yaitu seorang anak yang mempunyai kelekatan dengan ibu yang rendah akan meningkatkan penyalahgunaan NAPZA, khusunya pada anak perempuan. Dijabarkan oleh Dolev-Cohen & Ricon . bahwa fungsi kontrol sosial sangat berperan melalui kelekatan ibu dan anak. Kelekatan yang terbangun ini membentuk keyakinan adanya aturan yang mampu mencegah perilaku berisiko penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Pada kondisi ini, peran ibu sangat besar apabila dibandingkan dengan ayah, sebab Ibu membetuk keyakinan pada diri anak untuk taat pada peraturan. Hal ini sesuai dengan temuan Gambin et al. , bahwa kelekatan anak dengan ibu dapat secara positif mempengaruhi perilaku taat aturan, menyediakan dasar emosional yang stabil, memberikan model perilaku yang baik, dan membantu anak mengembangkan keterampilan regulasi emosional. Keamanan dan interaksi positif dengan ibu menjadi faktor kunci dalam membentuk norma internal anak terkait ketaatan aturan (Amseke, 2. Kelekatan ibu-anak yang mempunyai posisi strategis tersebut memang tidak berhubungan langsung dengan munculnya perilaku penyalahgunaan NAPZA, namun dapat membentuk rasa nyaman pada diri remaja, sehingga apa yang disampaikan oleh ibu menjadi lebih berkesan bagi remaja. Selain itu, menurut Istikomah et al. aturan yang ada dalam ajaran agama, seperti dilarang merokok berpengaruh pada perilaku merokok yang merupakan pintu pembuka penyalahgunaan NAPZA. Apabila konsep ini ditanamkan oleh seorang ibu yang menolak merokok akan mempunyai pengaruh terhadap munculnya perilaku merokok. Temuan ini juga mendukung Delgado et al. yang menyatakan bahwa tingkat risiko penyalahgunaan NAPZA pada remaja dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 sumber dukungan sosial dari orang tua dan teman sebaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan dari orang tua, terutama dalam bentuk kehadiran emosional dan keterlibatan positif, memiliki dampak yang lebih signifikan daripada pengaruh dari orang tua yang mengkonsumsi alkohol. Meskipun kehadiran orang tua yang mengkonsumsi alkohol bisa menjadi faktor risiko, dukungan yang diberikan oleh orang tua dalam bentuk ikatan emosional yang kuat dan keterlibatan positif dapat berfungsi sebagai penguat kontrol sosial yang efektif. Sebaliknya, hubungan dengan teman sebaya yang berisiko dan kurangnya dukungan teman sebaya dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan. Hasil ini mendukung prinsip-prinsip Teori Kontrol Sosial, yang menekankan pentingnya ikatan sosial dan dukungan positif dalam mencegah perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Oleh karena itu, menguatkan dukungan sosial dari orang tua dapat menjadi strategi pencegahan yang lebih efektif dalam mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja. Salah satu lembaga kontrol sosial, yaitu keluarga mempunyai iklim yang berbeda dengan sekolah. Sekolah sebagai lembaga formal yang dikelola secara terstruktur dan pemberlakuan aturan secara tertulis. Sedangkan keluarga adalah lembaga nonformal dan pemberlakuan aturan berdasar hukum konvensional . turan tidak tertulis dengan tuntutan untuk dilaksanaka. Berdasarkan perbedaan tersebut maka faktor kelekatan ayah-anak dan kelekatan ibu anak menjadi hal yang penting dalam berlakunya fungsi kontrol sosial, namun tidak berpengaruh secara langsung (Anarta et al. , 2022. Ni Made & Ni Ketut, 2. Kelekatan ayah-anak dan kelekatan ibu-anak yang terdiri dari faktor kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan akan menjadi kendali kuat di dalam antisipasi perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA (Bunsaman & Krisnani, 2. Namun demikian, perlu diperhatikan pengaruh faktor lain yang kontribusinya tidak langsung. Berdasarkan hasil analisis SEM dalam penelitian ini, pengaruh tidak langsung pada model kontrol sosial perilaku remaja berisiko penyalahguna NAPZA, kelekatan ayahanak dan kelekatan ibu-anak terhadap perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA dengan mediator keyakinan adanya aturan luar membentuk pola yang fiks dengan teori. Pada pengaruh kelekatan ayah-anak terhadap perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA, peran mediator keyakinan aturan tidak tampak berfungsi. Kelekatan ayah-anak yang sudah terbangun dengan baik tidak mampu membangun keyakinan adanya aturan. Sedangkan pola kelekatan ibu-anak yang dirasakan anak sudah berperan secara langsung mampu http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 penyalahgunaan NAPZA. Mancinelli et al. , . Piotrowski . menemukan adanya pengaruh yang berbeda antara ayah dan ibu di dalam pola berinteraksi serta pembentukan identitas diri anak-anak. Perbedaan jenis kelamin anak juga berpengaruh di dalam merespon sosialisasi nilai dari orang tuanya. Jadi antara ayah dengan anak perempuan, ayah dengan anak laki-laki, ibu dengan anak perempuan, dan ibu dengan anak laki-laki. Pola berinteraksi ini sangat dipengaruhi budaya. Namun di dalam penelitian ini peneliti tidak melakukannya. Chien & Hassenzahl . yang lebih memfokuskan pada kelekatan ayah-anak yang dipengaruhi oleh tinggal bersama atau tinggal jarak jauh, menyimpulkan ayah yang tinggal bersama lebih mampu menjalin relasi lebih baik dan mampu mencegah penyalahgunaan NAPZA. Paparan Zou & Wu . perbedaan antara ayah dan ibu berkaitan dengan kelas sosial dan struktur sosial. Pada kondisi ini membawa implikasi di dalam pola kontrol sosial perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA. Oleh karena itulah, kelekatan ibu-anak lebih bersifat dominan terhadap perilaku risiko penyalahgunaan NAPZA dibandingkan dengan kelekatan ayah. Stimulasi penanaman nilai melalui sikapsikap kedisiplinan, pengenalan Auboleh dan tidak bolehAy, serta penerapan aturan oleh seorang ibu melalui pembiasaan sehari-hari di rumah, menjadi kontrol kuat dalam diri seorang anak dalam menghindari penyalahgunaan NAPZA di masa depannya. KESIMPULAN DAN SARAN Teori kontrol sosial yang ditunjukkan dalam model perilaku remaja berisiko penyalahgunaan NAPZA yang melibatkan faktor kelekatan ayah-anak, kelekatan ibuanak, dan keyakinan aturan membentuk konsistensi. Keyakinan terhadap aturan menjadi mediator yang efektif dalam mengeliminir perilaku penyalahgunaan NAPZA. Kelekatan ibu-anak lebih membentuk keyakinan terhadap aturan dibandingkan kelekatan ayahanak. Oleh karena itu kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan dengan anak lebih ditingkatkan sehingga membentuk faktor yang mampu mencegah penyalahgunaan NAPZA . aktor proteks. dengan pengasuhan agar mampu memberikan rasa nyaman pada anak. Orang tua perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga transmisi nilai, aturan terinternalisasi pada diri anak. Kelekatan ayah-anak dan kelekatan ibu-anak tidak mampu secara langsung mempengaruhi perilaku penyalahgunaan NAPZA. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Agustus 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Sehingga ada faktor external yang perlu dikaji dan dieksplorasi lebih dalam untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh tentang perilaku penyalahgunaan NAPZA, seperti relasi pertemanan, kepribadian, kapasitas kognitif atau kondisi lainnya. Dalam pengembangan metodologi riset ini terbatas pada crossectional, jadi kajian riset longitudinal dapat dipertimbangkan. DAFTAR PUSTAKA Adri. March . Peringatan. Ada 4,8 Juta Penduduk Terpapar Narkotika. Kompas. Id. https://w. id/baca/metro/2023/03/25/peringatan-ada-48juta-penduduk-terpapar-narkotika?status=sukses_login Amseke. Pola Asuh Orang Tua. Temperamen dan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Media Pustaka