Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 Analasis Nilai Tambah dan Efisiensi Faktor Produksi pada Usaha Home Industry Kerupuk Ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan aFina, bSyahril a,b Fakultas Ekonomi Universitas Teuku Umar Corresponding author: syahril@utu. ABSTRACT This study aims to analyze the added value and efficiency of production businesses in the sweet potato cracker home industry in Pasie Raja District. South Aceh Regency. This study uses primary data by selecting all sweet potato cracker home industries as samples. To answer the objectives of this research, an analysis model of added value and business efficiency is used. The research results prove that the added value of the sweet potato cracker home industry in Pasie Raja District. South Aceh Regency has low added value. Then the efficiency of the household sweet potato cracker industry business is feasible for running the business in Pasie Raja District. South Aceh Regency. For this reason, this study can be used as a reference and strategy formulation in creating and developing a sweet potato cracker business. Keywords: Added Value. Efficiency. Production. Home Industry. Sweet Potato Crackers. Abstrak Kajian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dan efisiensi usaha produksi pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Kajian ini menggunakan data primer dengan menetapkan semua home industry kerupuk ubi sebagai sampel. Untuk menjawab tujuan penelitian ini menggunakan model analisis nilai tambah dan efisiensi usaha. Hasil penelitian membuktikan bahwa nilai tambah pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan memiliki nilai tambah yang rendah. Kemudian efisiensi usaha industry kerupuk ubi rumah tangga layak untuk dijalankan usahanya di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Untuk itu, kajian ini dapat dijadikan referensi dan formulasi strategi dalam membuat dan mengembangkan usaha kerupuk ubi. Kata Kunci : Nilai Tambah. Efisiensi. Produksi. Home Industri. Kerupuk Ubi Jalar. PENDAHULUAN Pemerataan pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur menjadi amanat UUD 1945. Upaya pemerintah dalam mencapai tujuan tersebut dengan melakukan pengembangan sektor industri sebagai basis peningkatan pendapatan masyarakat, baik melalui penyediaan tenaga kerja maupun sebagai pelaku usaha. Selain itu juga pengembangan sektor industri sebagai pendorong dalam pengembangan sektor lain terutama sektor pertanian yang merupakan sektor modal berdirinya Negara Indonesia. Salah satu komoditi yang telah membuktikan kontribusi terbesar pada pembangunan negara adalah kelapa sawit dan dalam menghasilkan produk turunannya melahirkan berbagai industri (Syahril, et. , 2. Kemudian juga dengan komoditi pertanian yang lain seperti ubi yang menghasilkan berbagai produk turunan makanan melalui pengolahan industri yang berskala kecil dan menengah dalam meningkatkan nilai tambah (Saihani dan Hapizah, 2. Kegiatan usaha industri kecil dan menengah dari setiap pelaksanaan kegiatan tidak terlepas dari unsur pembiayaan produksi, karena biaya produksi akan mennetukan nilai tambah. Namun jika dilihat dari sistem pengolahan ubi kayu umumnya merupakan salah satu inovasi Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 pengolahan pangan yang bertujuan untuk penerapan nilai tambah yang diiringi dengan suatu penambahan biaya pengolahan, sehingga dari setiap produk pengolahan tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang layak bagi pengusaha (Widiastuti et. al, 2. Persoalan lain yang sering terjadi pada setiap industri-industri kecil dan menengah pada dasarnya adalah bagaimana cara pengalokasian faktor produksi yang efisien agar memperoleh keuntungan yang maksimal. Pengunaan faktor produksi yang tidak efisien dapat menyebab terjadinya inefisiensi atau pemborosan dalam suatu kegiatan produksi, salah satu dari faktor penyebab inefisiesi tersebut adalah kurangnya keterampilan dari tenaga kerja dalam mengoptimalkan pengunaan faktor produksi yang baik dan benar dalam proses produksi suatu barang atau jasa (Hanafi, 2. Efisiensi dapat dicapai dengan meminimalkan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi output tersebut dan memaksimalkan output yang dihasilkan dari sumber daya yang Dikarenakan dari setiap pengunaan sumber daya yang sangat optimal dapat memperoleh produktivitas yang tinggi bagi setiap produsen yang menjalankan usaha dengan cara yang sangat konduktif (Anggraini et. al, 2. Perkembangan dari usaha itu juga sangat ditentukan pengelolaan dalam menciptakan suatu bentuk yang unik sehingga dapat meningkatkan kualitas barang dan nilai tambah dari hasil produksi yang sangat efisien. Permasalahan nilai tambah dan efisiensi juga di alami para industri kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Aceh Selatan yang berpusat di Desa Pante Raja dan Desa Seneubok. Mengamati usaha kerupuk ubi di dua desa ini berjalan lancar dan terus mengalami perkembangan, namun secara detail belum ada pihak yang melakukan kajian dan menganalisis seberapa besar nilai tambah yang diperoleh mulai dari petani sampai pengolahan menjadi berbagai jenis kerupuk. Kemudian juga dari sisi efisiensi usaha belum ada kajian dalam menganalisis seberapa efisien usaha kerupuk ubi di kembangkan di Kecamatan Pasie Raja Aceh Selatan. Penelitian mengenai nilai tambah dan efisiensi sudah banyak dilakukan, diantaranya oleh Suprianto et al. , membuktikan nilai tambah industry pengolahan kerupuk kulit lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tambah industry temped an tahu. Kemudian kajian industry kerupuk singkong di Pontianak oleh Hamidah et al. membuktikan bahwa nilai tambah industry kerupuk singkong di Pontianak sangat tinggi, mencapai 79 persen. Selanjutnya kajian industry keripik pisang di Demembe Manado Sulawesi Timur oleh Makarawung et al. , . membuktikan bahwa nilai tambah industry keripik pisang tinggi dan usaha ini layak Ketiga kajian di atas belum melihat secara bersama antara nilai tambah dan efisiensi. Maka untuk itu, inilah yang membedakan kajian ini dengan sebelumnya bahwa menganalisis secara bersama baik nilai tambah maupun efisiensi faktor produksi pada usaha industry keripik ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Kajian ini dilakukan secara spesifik dan detail dari setiap usaha pada home industry, dan kajian bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dan efisiensi usaha produksi pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Kemudian kajian ini dapat dijadikan referensi dan formulasi strategi dalam membuat dan mengembangkan usaha kerupuk ubi. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 TINJAUAN PUSTAKA Teori Nilai Tambah Nilai tambah adalah pertambahan suatu komoditas karena adanya input fungsional yang diberlakukan pada komoditi yang bersangkutan. Input fungsional tersebut berupa proses pengubahan bentuk . orm utilit. Nilai tambah mengambarkan imbalan bagi tenaga kerja modal dan manajemen (Hamidah et. al, 2. Kemudian menurut Intyas dan Firdaus . , menjelaskan nilai tambah merupakan pertambahan nilai yang terjadi karena satu komoditi mengalami proses pengolahan, pengangkutan, dan penyimpanan dalam satu proses produksi dengan penggunaan/pemberian input fungsional. Selanjutnya menurut Herdiyandi et. al, . , menformulasikan bahwa nilai tambah adalah selisih antara nilai output dengan nilai bahan baku yaitu ubi kayu dan sumbangan input lainnya. Widiastuti et. al, . lebih spesifik mengartikan nilai tambah, merupakan penambahan nilai suatu produk atau suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, penganggkutan, ataupun penyimpanan dalam suatu Dalam suatu proses pengolahan nilai tambah dapat didefinisikan sebagai selisih antara nilai produk dengan nilai bahan baku dan input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Konsep nilai tambah suatu pengembangan nilai yang terjadi karena adanya input fungsional adalah pelakuan dan jasa yang menyebabkan bertambahannya kegunaan dan nilai komoditas selama mengikuti arus komoditas, sehingga penambahan input fungsional dan jasa akan meningkatkan nilai dan manfaat komoditas yang dihasilkan (Sipayung, 2. Besarnya nilai tambah diperoleh dari nilai produk dikurangi biaya bahan baku dan input lainnya/selain tanaga kerja (Hamidah et. al, 2. Analisis data yang digunakan berupa metode hayami, dengan pendekatan nilai tambah. Nilai tambah dihitung dengan memperhatikan interaksi antara pelaku dengan dengan tujuan masing-masing (Pamungkassari et. al, 2. Perhitungan nilai tambah dengan metode hayami menggunakan tiga variabel, yaitu . output, input, dan harga . penerimaan dan keuntungan, . margin (Hidayat dan Muttalib, 2. Nilai tambah yang terjadi dalam proses pengolahan merupakan selisih dari nilai produk dengan biaya bahan baku dan input lainya (Widiastuti et. Analisis data dapat dilihat dari kriteria nilai tambah yang ditetapkan sebagai berikut: jika rasio nilai tambahnya > 50 % maka nilai tambah produk olahan tinggi, dan jika rasio nilai tambah < 50 % maka nilai tambah produk olahan rendah (Suprianto et. al, 2. Teori Efisiensi Suatu pengalokasian input tertentu kedalam proses produksi akan efisien secara teknis jika output suatu barang tidak mungkin dinaikan tanpa penurunan output barang lain (Pindyck & Rubinfeld,2010 h. Menurut Pindyck & Rubinfeld, . bahwa tingkat penyediaan efisiensi barang pribadi ditentukan dengan membandingkan manfaat marjinal unit tambahan dengan biaya marjinal untuk memproduksi unit tersebut. Efisiensi dicapai apabila manfaat marjinal dan biaya marjinal sama. Kemudian menurut Anggraini et. al, . dari sisi efisiensi produksi merupakan ukuran relatif kemampuan suatu perusahaan didalam menggunakan input tertentu pada tingkat teknologi Sealnjutnya melihat dari sudut rasio. Efisiensi merupakan rasio antara input dan output, dan perbandingan antara masukan dan pengeluaran. Efisiensi produksi sesuai dengan prinsip dasar ilmu ekonomi adalah output produksi tertentu akan dapat dihasilkan output semaksimal Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 mungkin atau untuk mendapatkan output tertentu dengan input seminimal mungkin (Widayanti. Teori Biaya Biaya produksi merupakan salah satu bagian dari langkah-langkah intern yang harus dilakukan dalam meningktkan efisiensi. Biaya produksi adalah sejumlah pengorbanan ekonomi yang harus dikorbankan untuk memproduksi suatu barang. Biaya produksi juga merupakan biaya yang digunakan dalam mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Dalam biaya produksi biasanya terdiri tiga unsur yaitu bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead Overhead pabrik merupakan semua biaya manufktur yang tidak ditelusuri secara langsung ke output tertentu (Khoirunnisa dan Achiria, 2. Secara lebih spesifik biaya dalam ilmu ekonomi merupakan pengorbanan untuk menghasilkan susuatu, baik yang terwujud uang maupun Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi oleh produsen. Menurut Amshari, . dapat mengartikel lebih simpel bahwa biaya merupakan fungsi hubungan antara biaya produksi dengan tingkat output yang akan dicapai dalam satu priode. Industri Standar pengklasifikasian industri di Indonesia didasarkan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) atau yang pada awal perkembanganya, disebut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (LKUI). KBLI mengklasifikasikan seluruh kegiatan ekonomi menjadi beberapa lapangan usaha. Pendekatan KBLI menekan pada pendekatan kegiatan, yaitu dengan melihat proses dari kegiatan ekonomi dalam menciptakan barang/jasa dan pendekatan fungsi, yaitu dengan melihat fungsi pelaku ekonomi dalam menciptakan barang/jasa BPS, 2017, (Tanjung dan Ruslan 2019, h . Sektor industri merupakan salah satu harapan dalam membangkit ekonomi masyarakat karena sektor industri mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap sektor-sektor lainya. Bila sektor industri berkembang maka dapat diyakini sektor perdagangan juga akan turut meningkat (Syahdan & Husnan, 2. Undang- Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2014 Bab 1 pasal 1 ayat 2 mendefinisikan industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi termasuk jasa industri. Home Industry/ Industri Rumah Tangga Industri rumah tangga . ome industr. atau yang lebih sering di istilahkan industri rumah tangga berskala kecil merupakan suatu usaha mencari manfaat atau faedah bentuk fisik dari suatu barang sehingga dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dan dikerjakan dirumah. Dalam pengertian ini termasuk juga kegiatan kerajinan tangan. Sehingga industri kecil juga dihasilkan sebagai suatu usaha untuk memproduksi dimana didalamnya terdapat perubahan bentuk atau sifat dari suatu barang (Syahdan dan Husnan, 2. Pemberdayaan industri kecil bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembangan Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 menjadi usaha menengah dan juga untuk meningkatkan peranan industri kecil dalam pembentukan produk nasional, perluasan kesempatan kerja, dan berusaha meningkatkan ekspor, serta peningkatan dalam pemerataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta perkokohan strukturan (Sulfati, 2. Ubi Kayu Komoditi ubi kayu merupakan salah satu salah satu komoditi tanaman pangan yang penting dan sangat strategis karena dapat dimaanfaatkan untuk berbagai produk meliputi bahan pangan, pakan, energi, farmasi dan kosmetik (Firdaus et. al, 2. Ubi kayu merupakan komoditas yang mudah teknik budidayanya serta mudah ditanam dimana saja karena ubi kayu mampu bertahan pada lahan kritis dan kekurangan air (Widiastuti et. al, 2. Tujuan pengolahan ubi kayu itu sendiri adalah untuk meningkatkan keawetan ubi kayu sehingga layak unuk dikonsumsi dan manfaatkan ubi kayu untuk memenuhi nilai jual yang tinggi dipasaran (Sipayung. Tujuan pengolahan ubi kayu untuk meningkatkan daya tahan ubi kayu sehingga layak dikonsumsi dan memanfaatkan ubi kayu agar memproleh nilai jual yang tinggi dipasaran (Hamidah et. al, 2. Teori Produksi Masalah pokok yang di hadapi perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi adalah berupa output yang harus diproduksi, dan bagaimanakah mengkombinasikan berbagai input . aktor produks. agar dapat menghasilkan output secara efisien (Tanjung dan Ruslan 2019, h . Produksi adalah suatu usaha atau kegiatan menambah atau menciptakan kegunaan barang dan jasa. Proses produksi adalah prosese mengkombinasi dan mengkoordinasikan sumber daya input untuk menghasilkan barang atau jasa output. Hubungan di antara faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakan dinamakan faktor produksi (Hanafi, 2. Fungsi produksi sangat penting dalam teori produksi karena dapat diketahui hubungan antara faktor produksi dan produksi . secara langsung. Proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi, yang mengambarkan hubungan antara faktor produksi dengan kuantitas produksi. (Widayati, 2. Hubungan antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakan dinamakan fungsi produksi. Didalam teori ekonomi, dalam menganalisis mengenai masalah produksi selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi yang belakangan dinyatakan . anah, modal, dan keahlian keusahawana. adalah tetap jumlahnya. Hanya tenaga kerja dipandang sebagai faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya, dengan demikian dalam mengambarkan hubungan faktor produksi yang digunakan dan tingkat produksi yang dicapai, yang digambarkan adalah hubungan diantara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan dan jumlah produksi yang dicapai (Sukirno, 2013 h,. METODELOGI PENELITIAN Kajian ini menentukan seluruh industri rumah tangga . ome industr. kerupuk ubi yang ada di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan sebagai populasi. Namun karena keterbatasan dana penelitian, pengambilan data detail dan spesifik perhitungan satu persatu sampel yang diteliti maka hanya 2 . desa (Pante Raja dan Desa Seneubo. dijadikan sampel. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 dikarenakan 2 desa tersebut merupakan central home industry kerupuk ubi. Penentuan sampel dalam kajian ini teknik sampling jenuh . emua populasi dijadikan sampe. sebanyak 15 sampel dengan rincian Desa Pante raja 3 usaha dan Seunebok 12 usaha. Model analisis yang digunakan pada kajian di mulai dengan model menghitung nilai tambah (Sipayung, 2020. Hidayat dan Muttalib, 2. , dimana besarnya nilai tambah diperoleh dari nilai produk dikurangi biaya bahan baku dan input lainnya / selain tanaga kerja (Pamungkassari et. al, 2018. Hamidah et. al, 2. Kemudian menurut Widiastuti et. al, . , bahwa nilai tambah yang terjadi dalam proses pengolahan merupakan selisih dari nilai produk dengan biaya bahan baku dan input lainya (Widiastuti et. al, 2. Model nilai tambah yang digunakan dalam kajian ini adalah nilai tambah dengan menentukan kriteria dimana jika rasio nilai tambahnya > 50 % maka nilai tambah produk olahan tinggi, dan jika rasio nilai tambah < 50 % maka nilai tambah produk olahan rendah (Suprianto et. al, 2020. Sudiyono . Melakukan analisis nilai tambah dengan formulasi sebagai berikut: NTp = Na Ae Ba a. AA. Ba = (Bb Bp Bb. AA. Dimana NTp merupakan Nilai Tambah Produk (R. Na adalah Nilai Produk Akhir (R. Baadalah Biaya antara (R. Bb adalah Biaya Bahan Baku (R. Bp adalah Biaya Penyusutan Alat (R. Bbp adalah Biaya Bahan Penolong (R. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis rasio nilai tambah dengan formulasi berikut ini. Rasio Nilai Tambah (RNT) = NT / NP a. Dimana RNT adalah Rasio Nilai Tambah (%). NT merupakan Nilai Tambah (R. dan NP = Nilai Produksi (R. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam menganalisis rasio nilai tambah, jika Rasio Nilai Tambah > 50%, maka nilai tambah produk olahan tinggi, dan jika Rasio Nilai Tambah < 50%, maka nilai tambah produk olahan rendah. Tahapan berikutnya untuk menganalisis efisiensi menggunakan formulasi Revenue Cost Ratio (R/C Rati. Menurut (Suprianto, 2. R/C Ratio adalah perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya yang menunjukan nilai peneriman yang diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut. melakukan analisis Penyusutan Peralatan produksi dihitung dengan menggunakan garis lurus dengan rumus berikut ini : D = P Ae S / N . AA. Dimana : D adalah Biaya penyusutan per tahun. P adalah Harga awal peralatan (R. S adalah Harga Akhir peralatan (R. , dan N adalah Perkiraan Umur ekonomi . Kedua, dilanjutkan analisis Biaya Produksi dengan rumus berikut ini berikut : BP = BT BV a. Dimana : BP merupakan Biaya Produksi (Rp/tahu. BT adalah Biaya Tetap (Rp/tahu. , dan BV adalah Biaya Variabel (Rp/tahu. Ketiga, tahapan menganalisis Penerimaan (Revenu. dengan formulasi berikut ini: TR = P x Q a. Dimana : TR merupakan Total Revenue . otal penerimaan Rp/tahu. Q adalah Kuantitas . , adalah Harga ubi per kilogram (R. Ke empat, menghitung keuntungan dengan menggunakan rumus : = TR Ae TCa. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 Dimana : adalah Keuntungan usaha industri pengolahan. TR adalah Total penerimaan kotor, dan TC adalah Total biaya produksi. Kelima, melakukan analisis Efisiensi Usaha Dengan rumus: ycNycI R/C = ycNya a. AA. Dimana : R/C adalah efisiensi. TR adalah Total Penerimaan. TC adalah Total Biaya. Menentukan efisien tidaknya dengan memenuhi syarat sebagai berikut: jika R/C > 1. Maka Usaha home industry pengolahan menguntungkan untuk di usahakan, jika R/C < 1. Maka Usaha home industry pengolahan tidak layak untuk di usahakan . , dan jika R/C = 1, maka usaha home industry pengolahan dalam posisi tidak untung dan tidak merugikan . encapai titik impa. HASIL DAN PEMBAHASAN Rekapitulasi nilai tambah dan efisiensi usaha pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Tujuan dari rekapitulasi ini untuk mempermudah dan memahami setiap memperjelaskan dari keterangan model analisis pada hasil penelitian nilai tambah dan efisiensi usaha : Tabel 1. Rekapitulasi Dari Analisis Nilai Tambah Dan Efisiensi Usaha Pada Home Industry Kerupuk Ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan Nama Responden Mariani Asna Rosmawati Samsidar Saltila Mutiah Erlisa Hasnah Jasmi Hadawiyah Irnida Ahmad Nuraji Sanusi Irda Nilai (R. Total Biaya Bahan Baku (R. Total Penerimaan Hasil Penjualan (R. Nilai Tambah (R. Rasio Nilai Tambah (%) Efisiensi Usaha 36,53 45,51 49,51 40,80 46,85 40,27 45,26 44,65 44,66 42,00 24,07 42,12 41,45 36,09 38,53 1,39 1,66 1,79 1,53 1,69 1,51 1,66 1,61 1,62 1,55 1,81 1,56 1,56 1,46 1,48 Sumber : Data Primer, 2021 (Data Diola. Tabel 1. menunujukan semua pelaku usaha yang berjumlah 15 orang responden pada home industry kerupuk ubi dengan hasil penelitian nilai tambah dan efisiensi usaha adalah sebagai berikut: kerupuk ubi usaha ibu mariani dengan perolehan nilai penyusutan peralatan Rp. total biaya bahan baku Rp. 000, total penerimaan hasil penjualan Rp. 00, nilai tambah sebesar Rp. 846/kg, rasio nilai tambah Rp. 36,53% dan efisiensi R/C rasio 1,39. usaha ibu asna dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 685, total biaya bahan baku Rp. total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 315/kg, rasio nilai tambah Rp. 45,51% dan efisiensi R/C rasio 1,66. usaha ibu rosmawati dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 507, total biaya bahan baku Rp. 000, total penerimaan hasil penjualan Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 493/ kg, rasio nilai tambah Rp. 49,51 % dan efisiensi R/C rasio 1,79. usaha ibu samsidar dengan nilai penyusutan Rp. 198, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 302/kg, rasio nilai tambah Rp. 40,80% dan efisiensi usaha R/C rasio 1,53. Usaha ibu saltila dengan nilai penyusutan peralatan Rp. Total bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 977/kg, rasio nilai tambah Rp. 46,85 % dan efisiensi R/C rasio 1,69. Usaha ibu mutiah dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 764, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 757/kg, rasio nilai tambah Rp. 40,27% dan efisiensi R/C rasio 1,51. Usaha ibu erlisa dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 512, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 988/kg, rasio nilai tambah Rp. 45,26% dan efisiensi R/C rasio 1,66. Usaha ibu hasnah dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 118, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 417/kg, rasio nilai tambah Rp. 44,65% dan efisiensi R/C rasio 1,61. Usaha ibu jasmi dengan nilai penyusutan Rp. 168, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, tambah sebesar Rp. 332/kg, rasio nilai tambah Rp. 44,66 % dan efisiensi R/C rasio 1,62. Usaha ibu hadawiyah dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 679, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 821/kg, rasio nilai tambah Rp. 42,00% dan efisiensi R/C rasio 1,55. Usaha ibu irnida dengan nilai penyusutan Rp. 547, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan Rp. Nilai tambah sebesar Rp. 953/kg, rasio nilai tambah Rp. 24,07% dan efisiensi R/C rasio 1,81. Usaha bapak ahmad dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 767, total biaya bahan baku Rp. 000, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 233/kg, rasio nilai tambah Rp. 42,12% dan efisiensi R/C rasio 1,56. Usaha ibu nuraji dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 766, total biaya bahan baku Rp. 000, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 234/kg, rasio nilai tambah Rp. 41,45% dan efisiensi R/C rasio 1,56. Usaha bapak sanusi dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 367, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, nilai tambah sebesar Rp. 133/kg, rasio nilai tambah Rp. 36,09 % dan efisiensi R/C rasio 1,46. Dan usaha ibu irda dengan nilai penyusutan peralatan Rp. 323, total biaya bahan baku Rp. 500, total penerimaan hasil penjualan Rp. 000, perolehan nilai tambah sebesar Rp. 177/kg rasio nilai tambah Rp. 38,53 % dan efisiensi R/C rasio 1,48. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pada analisis nilai tambah dan efisiensi usaha pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan maka dapat disimpulkan bahwa nilai tambah pada home industry kerupuk ubi di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan yang rata-rata memiliki tingkat rasio nilai tambah < 50%, ini mengartikan bahwa tingkat rata rata keseluruhan home industry kerupuk ubi memiliki nilai tambah yang rendah karena dinilai dari tingkat rasio yang di peroleh lebih kecil dari 50%. Kemudian efisiensi usaha rata-rata keseluruhan usaha home industri kerupuk ubi dan opak memiliki skala efesiensi usaha atau nilai R/C Ratio lebih dari dari 1, ini mengartikan bahwa semua usaha industri rumah tangga layak untuk dijalankan usahanya di Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 7 Nomor 2, 2023 ISSN : 2614-2147 Upaya pengembangan usaha diharapkan bagi pelaku usaha home industry kerupuk ubi untuk kedepannya dapat menambahkan merek dagangannya dengan pengapackan yang lebih bagus. Kemudian pemerintah daerah setempat khusus Daerah Kabupaten Aceh Selatan, dan kepada pihak swasta langsung memberi pelatihan khusus kepada sekelompok pelaku usaha industri. Selanjutnya Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian selanjutnya mengenai usaha kecil rumah tangga maupun usaha menengah dan besar, dengan berbagai jenis usaha dagangan nya maka agar dapat menggunakana metode atau cara lain yang tidak hanya di Kecamatan Pasie Raja akan tetapi bisa dilakukan di Kecamatan lain yang ada di sekitar Kabupaten Aceh Selatan. DAFTAR PUSTAKA