Jurnal Lantera Ilmiah Pengabdian Masyarkat (JLIPM) Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Dikirim: 26 Maret 2025 Revisi: 9 April 2025 Diterima : 15 April 2025 Tersedia online : 30 April 205 Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Efa Kelya Nasrun*1. Irman Idrus2. Fajar Kurniawa3. Sultan Andilah4. Tawakkal5 1,2,3,4,5 5STIKes Pelita Ibu. Kendari - Indonesia *e-mail: kelyaefa93@gmail. com1 , irmanidrus80@gmail. com2, ns. fajarkurniawan87@gmail. andilah@gmail. Abstrak Kelor (Moringa oleifer. merupakan tanaman yang kaya akan gizi dan memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak. Pengabdian ini bertujuan untuk memanfaatkan kelor sebagai sumber fitobiotik untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pemantauan dalam mengedukasi masyarakat mengenai manfaat kelor, cara pengolahan, dan teknik penanaman yang mudah diterapkan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan masyarakat mengenai kelor, dengan 85% peserta memahami manfaatnya setelah pelatihan. Selain itu, pola konsumsi kelor juga berubah, di mana masyarakat mulai menggunakannya dalam masakan, teh, dan bubuk kelor. Peningkatan status gizi ibu hamil dan anak-anak juga terlihat, dengan kadar hemoglobin ibu hamil meningkat dan berat badan anak-anak menunjukkan perbaikan. Meskipun tantangan terkait dengan ketergantungan pada cuaca untuk penanaman kelor, program ini berhasil memberikan dampak positif yang signifikan dalam jangka pendek. Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan potensi kelor sebagai solusi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan keluarga. Ke depannya, program ini dapat diperluas dan dikembangkan untuk meningkatkan keberlanjutan dan dampak jangka panjang. Kata kunci: Kelor. Fitobiotik. Kesehatan Ibu. Anak. Pengetahuan Gizi. Sulawesi Tenggara. Abstract Moringa oleifera is a nutrient-dense plant with various health benefits, particularly for pregnant women and This community service aimed to utilize Moringa as a phytobiotic source to improve the health of mothers and children in Sawa District. Southeast Sulawesi Province. The activities included socialization, training, and monitoring to educate the community about the benefits of Moringa, processing methods, and easy cultivation techniques. The results showed a significant increase in community knowledge about Moringa, with 85% of participants understanding its benefits after the training. Additionally, there was a change in consumption patterns, with the community incorporating Moringa into dishes, tea, and powder. There was also an improvement in the nutritional status of pregnant women and children, with an increase in hemoglobin levels and weight gain in children. Although challenges related to weather dependency for Moringa cultivation were encountered, the program had a significant short-term positive impact. The success of this activity highlights the potential of Moringa as a solution for improving community health and food Moving forward, this program can be expanded and developed to enhance sustainability and longterm impact. Keywords: Moringa. Phytobiotics. Maternal Health. Child Health. Nutritional Knowledge. Southeast Sulawesi PENDAHULUAN Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator utama dalam menilai kualitas kesehatan suatu bangsa . Di Indonesia, meskipun telah ada berbagai upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, angka kematian ibu dan anak, terutama di daerahdaerah terpencil dan pedesaan, masih menunjukkan angka yang cukup signifikan . Salah satu penyebab utama masalah kesehatan ibu dan anak adalah kekurangan gizi, baik pada ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak-anak. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi yang optimal sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu dan anak, terutama melalui konsumsi pangan bergizi yang mudah diakses dan terjangkau . https://ojs. id/index. php/JLIPM Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al Di Sulawesi Tenggara, salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki daerah pedesaan yang luas, tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan anak masih menjadi masalah yang perlu perhatian lebih . Banyak daerah yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan, serta keterbatasan dalam mendapatkan pangan bergizi dengan harga yang Oleh karena itu, salah satu solusi yang dapat diupayakan adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal yang memiliki potensi sebagai sumber gizi dan fitobiotik . Salah satunya adalah kelor (Moringa oleifer. , yang dikenal sebagai "pohon kehidupan" karena kandungan nutrisi dan khasiatnya yang sangat tinggi untuk kesehatan. Kelor (Moringa oleifer. adalah tanaman yang banyak ditemukan di berbagai daerah tropis, termasuk di kawasan Sulawesi Tenggara . Tanaman ini memiliki berbagai manfaat kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah, terutama sebagai sumber fitobiotik yang kaya akan nutrisi penting. Daun kelor mengandung berbagai macam senyawa bioaktif yang memiliki efek antimikroba, antiinflamasi, serta antioksidan yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan tubuh. Selain itu, daun kelor juga kaya akan vitamin A, vitamin C, kalsium, besi, protein, dan asam amino esensial, yang semuanya penting untuk mendukung perkembangan ibu hamil dan anak-anak . Meskipun kelor memiliki potensi besar sebagai sumber gizi dan fitobiotik, pemanfaatannya di masyarakat Sulawesi Tenggara masih sangat terbatas. Sebagian besar masyarakat belum memahami sepenuhnya manfaat dari tanaman ini, dan belum ada upaya yang terkoordinasi untuk mengedukasi masyarakat tentang cara mengolah dan memanfaatkan kelor secara optimal. Padahal, dengan pengetahuan yang tepat, kelor dapat menjadi solusi yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas gizi ibu dan anak, khususnya di daerah-daerah dengan akses terbatas terhadap pangan bergizi . Salah satu kecamatan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki potensi besar untuk pemanfaatan kelor adalah Kecamatan Sawa. Kecamatan ini memiliki banyak lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk menanam kelor, serta mayoritas penduduknya masih bergantung pada sumber daya alam lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka . Namun, meskipun potensi tanaman kelor cukup besar, kesadaran masyarakat mengenai manfaatnya masih rendah, dan belum ada program yang terstruktur untuk mengedukasi mereka mengenai pemanfaatan kelor sebagai sumber gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa, pemanfaatan kelor sebagai sumber fitobiotik dapat menjadi salah satu solusi yang efektif. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat kelor, serta cara mengolahnya menjadi produk yang bergizi dan mudah dikonsumsi. Selain itu, program ini juga akan mendorong masyarakat untuk menanam kelor secara mandiri di halaman rumah atau lahan yang ada, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pangan impor dan meningkatkan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga . Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kelor memiliki potensi yang sangat baik dalam mendukung kesehatan ibu hamil, menyusui, serta anak-anak, terutama dalam mencegah dan mengatasi kekurangan gizi. Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi kelor secara teratur dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil, mengurangi risiko anemia, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak . Selain itu, senyawa bioaktif dalam kelor juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan melindungi tubuh dari infeksi. Oleh karena itu, pemanfaatan kelor di Kecamatan Sawa dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program pemanfaatan kelor sebagai sumber fitobiotik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Program ini tidak hanya akan memberikan pengetahuan tentang manfaat kelor, tetapi juga memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah kelor menjadi produk bergizi yang praktis dan mudah dikonsumsi, seperti bubuk kelor, teh kelor, dan produk olahan lainnya. Diharapkan, program ini dapat menjadi model yang dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil dan dengan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pangan bergizi . Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al Program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi yang optimal, serta mendorong mereka untuk lebih memanfaatkan sumber daya alam lokal yang ada, seperti kelor, dalam mendukung kesehatan keluarga. Dengan demikian, kelor tidak hanya akan menjadi solusi gizi, tetapi juga menjadi langkah awal untuk mewujudkan kemandirian pangan dan kesehatan yang lebih baik di masyarakat Kecamatan Sawa dan sekitarnya . Rumusan masalah dalam kegiatan PKM ini adalah bagaimana cara memanfaatkan kelor (Moringa oleifer. sebagai sumber fitobiotik untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang manfaat kelor, serta mengetahui kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan kelor di daerah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengeksplorasi cara-cara efektif untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan kelor menjadi produk bergizi yang mudah diakses dan dikonsumsi, serta untuk menilai potensi kelor dalam meningkatkan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan anakanak di Kecamatan Sawa. Sebagai bagian dari solusi, penelitian ini juga akan mengkaji sejauh mana keberlanjutan program pemanfaatan kelor dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat setempat dalam jangka panjanglain. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif dengan kombinasi metode deskriptif dan kualitatif untuk mencapai tujuan pengabdian . , yaitu pemanfaatan kelor (Moringa oleifer. sebagai sumber fitobiotik untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Pendekatan ini dipilih karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari perencanaan hingga implementasi dan evaluasi. Tahap Persiapan dan Sosialisasi Pada tahap ini, kegiatan dimulai dengan pengumpulan data dasar mengenai pengetahuan dan kondisi kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa melalui survei awal. Survei ini bertujuan untuk memahami tingkat pemahaman masyarakat tentang kelor dan status kesehatan ibu dan anak. Selain itu, sosialisasi mengenai manfaat kelor sebagai sumber fitobiotik dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan setempat. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi kelor sebagai solusi gizi bagi ibu dan anak. Alat ukur yaitu : kuesioner dan wawancara mendalam digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan awal masyarakat mengenai kelor dan status gizi mereka. Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Setelah tahap sosialisasi, dilakukan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga, khususnya yang sedang hamil atau menyusui, mengenai cara mengolah kelor menjadi produk yang bergizi dan praktis, seperti teh kelor, bubuk kelor, atau campuran kelor dalam masakan sehari-hari . Pelatihan ini juga mencakup cara menanam kelor di lahan terbatas, sehingga ibu-ibu dapat memanfaatkan tanaman ini di rumah mereka. Alat ukur yaitu : tes pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan, serta observasi langsung selama pelatihan untuk menilai pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengolah kelor . Implementasi dan Pemantauan Pada tahap implementasi, masyarakat mulai menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pemantauan dilakukan dengan melakukan kunjungan rutin ke lokasi sasaran untuk memastikan kelor mulai digunakan dalam konsumsi makanan ibu dan anak, serta menilai sejauh mana keberlanjutan kegiatan ini, seperti penanaman kelor di pekarangan rumah. Alat ukur yaitu : pengamatan langsung, wawancara dengan ibu rumah tangga, dan pencatatan hasil observasi mengenai penerapan kelor dalam konsumsi sehari-hari . Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al Evaluasi dan Pengukuran Keberhasilan Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan kegiatan pengabdian ini, baik dari sisi perubahan sikap, sosial budaya, dan ekonomi masyarakat sasaran. Indikator keberhasilan akan mengacu pada perubahan dalam pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan kelor serta peningkatan status gizi ibu dan anak. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta, serta wawancara mendalam untuk mengidentifikasi dampak sosial dan budaya yang dihasilkan oleh program ini . Selain itu, perubahan dalam kondisi ekonomi masyarakat, seperti pengurangan pengeluaran untuk membeli bahan pangan bergizi, juga akan diukur. Alat ukur: Pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan mengenai kelor dan pemahaman tentang pentingnya gizi bagi ibu dan anak. Wawancara mendalam dengan ibu rumah tangga untuk mengetahui sikap dan perubahan perilaku mereka setelah mengikuti pelatihan. Observasi lapangan untuk menilai penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penanaman kelor dan pengolahan produk kelor. Data kesehatan ibu dan anak, seperti perubahan status gizi . enggunakan indikator seperti berat badan, tinggi badan, dan kadar hemoglobi. sebelum dan sesudah penerapan program. Analisis Data Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Data deskriptif akan digunakan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan awal dan perubahan pengetahuan peserta setelah pelatihan. Analisis kualitatif akan digunakan untuk mengeksplorasi perubahan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan kelor, serta dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program ini. Indikator Keberhasilan Tingkat keberhasilan kegiatan pengabdian ini dapat dilihat dari . Perubahan pengetahuan: Masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat kelor dan cara mengolahnya untuk kesehatan ibu dan anak. Perubahan sikap: Terdapat perubahan dalam pola konsumsi gizi masyarakat, di mana kelor mulai dikonsumsi secara teratur sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Perubahan sosial budaya: Masyarakat mulai menerima dan mengintegrasikan kelor dalam kebiasaan mereka, baik dalam hal konsumsi maupun penanaman di pekarangan rumah. Perubahan ekonomi: Masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada pangan impor dan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi mereka, serta dapat menghemat pengeluaran untuk bahan pangan bergizi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memanfaatkan kelor (Moringa oleifer. sebagai sumber fitobiotik untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Melalui serangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pemantauan implementasi, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka Proses Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pengabdian ini dimulai dengan survei awal yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang kelor dan kondisi kesehatan ibu serta anak di Kecamatan Sawa. Berdasarkan hasil survei, ditemukan bahwa sebagian besar masyarakat belum mengetahui manfaat kelor sebagai sumber gizi penting, terutama dalam mendukung kesehatan ibu hamil dan anak-anak. Oleh karena itu, langkah awal yang diambil Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al adalah sosialisasi dan edukasi mengenai potensi kelor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan. Selanjutnya, dilakukan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga tentang cara mengolah kelor menjadi produk yang bergizi dan mudah dikonsumsi, seperti teh kelor, bubuk kelor, dan campuran kelor dalam masakan sehari-hari. Pelatihan ini juga mencakup teknik menanam kelor di pekarangan rumah, agar masyarakat dapat memanfaatkan tanaman ini secara mandiri. Pelatihan dilakukan secara langsung dengan pendekatan yang interaktif, sehingga peserta dapat mempraktikkan langsung cara-cara pengolahan kelor. Gambar 1. Dokumentasi Observasi dan Sosialisasi Kegiatan PKM Setelah pelatihan, tahap selanjutnya adalah pemantauan dan evaluasi. Pemantauan dilakukan melalui kunjungan rutin ke lokasi sasaran untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan selama pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, perubahan pola konsumsi dan status gizi ibu dan anak juga dipantau melalui wawancara dan pengamatan langsung. Tabel 1. Perubahan Pengetahuan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pelatihan Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan Aspek yang Diuji (%) (%) Pengetahuan tentang manfaat Kelor Pengetahuan tentang cara pengolahan Kelor Pengetahuan tentang penanaman Kelor Gambar 2. Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pelatihan Tabel 1 dan gambar 1 menggambarkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan masyarakat mengenai kelor setelah mengikuti pelatihan, baik mengenai manfaatnya, cara pengolahannya, dan cara menanam kelor di pekarangan rumah. Tabel 2. Perubahan Pola Konsumsi Kelor Kegiatan Sebelum Pelatihan (%) Sesudah Pelatihan (%) Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Penggunaan Kelor dalam masakan Penggunaan Kelor sebagai teh Penggunaan Kelor sebagai bubuk Efa Kelya Nasrun, et al Gambar 3. Perubahan Pola Konsumsi Kelor Sebelum dan Sesudah Pelatihan Tabel 2. Dan gambar 2 diatas menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat setelah pelatihan. Sebelumnya, kelor belum banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun setelah pelatihan, masyarakat mulai menggunakannya sebagai bagian dari pola makan Tabel 3. Perubahan Status Gizi Ibu dan Anak Indikator Kesehatan Sebelum Pengabdian Sesudah Pengabdian Kadar Hemoglobin Ibu Hamil . /dL) 5 g/dL 5 g/dL Berat Badan Anak . 8 kg 10 kg Status Gizi Anak 20% Gizi Kurang 5% Gizi Kurang Tabel 3 diatas menunjukkan peningkatan status gizi ibu hamil dan anak-anak setelah penerapan program pemanfaatan kelor. Kadar hemoglobin ibu hamil meningkat, serta ada peningkatan berat badan dan status gizi anak-anak. Indikator Keberhasilan Keberhasilan dari kegiatan pengabdian ini diukur berdasarkan beberapa indikator utama, yaitu perubahan dalam pengetahuan masyarakat tentang kelor, perubahan perilaku dalam konsumsi kelor, serta peningkatan status gizi ibu dan anak. Indikator keberhasilan secara spesifik adalah: Peningkatan Pengetahuan Setelah mengikuti pelatihan, sebagian besar peserta menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai manfaat kelor dan cara pengolahannya. Sebelum pelatihan, hanya 40% peserta yang mengetahui manfaat kelor, sedangkan setelah pelatihan, angka ini meningkat menjadi Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi dan pelatihan berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat. Perubahan Perilaku Perubahan dalam pola konsumsi terlihat dari mulai diterapkannya penggunaan kelor dalam menu sehari-hari oleh masyarakat. Sebagian besar ibu rumah tangga mulai menanam kelor di pekarangan mereka dan mengolahnya menjadi produk konsumsi seperti teh kelor dan bubuk Penggunaan kelor dalam konsumsi sehari-hari meningkat sebesar 60% setelah . Peningkatan Status Gizi Pemantauan kesehatan ibu dan anak menunjukkan adanya perubahan positif dalam status Sebelum pelatihan, sebagian ibu hamil dan anak-anak mengalami kekurangan gizi, namun setelah penerapan program, terjadi peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil dan berat badan anak-anak. Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al Keunggulan dan Kelemahan Keunggulan utama dari kegiatan ini adalah pemanfaatan kelor yang merupakan sumber daya alam lokal yang mudah diperoleh dan dapat ditanam di pekarangan rumah. Hal ini menjadikan kelor sebagai solusi yang praktis, terjangkau, dan berkelanjutan untuk meningkatkan gizi ibu dan anak. Selain itu, pelatihan yang diberikan bersifat aplikatif, sehingga masyarakat dapat langsung mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Namun, ada beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah ketergantungan pada faktor cuaca yang dapat memengaruhi keberhasilan penanaman kelor di beberapa lokasi. Selain itu, meskipun kelor dikenal mudah untuk ditanam, beberapa masyarakat masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pengolahan kelor yang berbeda dari kebiasaan mereka Tingkat Kesulitan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini tidak terlalu sulit, namun tantangan utama terletak pada mengubah kebiasaan masyarakat dalam konsumsi pangan. Banyak ibu rumah tangga yang awalnya belum familiar dengan kelor membutuhkan waktu untuk memahami cara-cara pengolahannya dan merasa ragu untuk mencobanya. Selain itu, kesulitan juga muncul dalam hal menjaga keberlanjutan program, di mana beberapa keluarga masih belum sepenuhnya menerapkan penanaman kelor di halaman mereka. Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan terus memberikan dukungan dan pemantauan secara berkala, serta memperkenalkan variasi produk olahan kelor yang lebih mudah dikonsumsi. Peluang pengembangan kedepannya adalah memperluas jangkauan pelatihan dan menciptakan produk kelor yang lebih inovatif, seperti tepung kelor untuk campuran makanan atau suplemen kelor dalam bentuk kapsul, yang dapat dijual untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Peluang Pengembangan Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini berhasil memberikan dampak positif bagi masyarakat di Kecamatan Sawa, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masyarakat kini lebih memahami manfaat kelor dan telah mulai menggunakannya dalam konsumsi seharihari. Selain itu, mereka juga telah belajar cara menanam kelor di pekarangan rumah, yang diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Keberhasilan kegiatan ini memberikan peluang untuk pengembangan lebih lanjut, baik dalam hal peningkatan produksi kelor maupun pengolahan produk kelor menjadi barang yang lebih bernilai ekonomi. Program ini dapat diperluas ke kecamatan-kecamatan lain di Sulawesi Tenggara dan daerah lain yang memiliki potensi serupa, dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri secara pangan KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan kelor (Moringa oleifer. sebagai sumber fitobiotik untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Sawa. Provinsi Sulawesi Tenggara, telah menunjukkan hasil yang signifikan. Melalui serangkaian kegiatan seperti sosialisasi, pelatihan, dan pemantauan, masyarakat menunjukkan peningkatan yang jelas dalam pengetahuan tentang manfaat kelor, cara pengolahannya, serta cara menanamnya di pekarangan rumah. Sebelum pelatihan, pengetahuan masyarakat tentang kelor sangat terbatas, namun setelah kegiatan ini, pengetahuan mereka meningkat drastis, dengan 85% peserta memahami manfaat kelor sebagai sumber gizi penting. Perubahan dalam pola konsumsi juga sangat signifikan. Sebelum pelatihan, penggunaan kelor dalam masakan dan produk lainnya sangat rendah. Setelah kegiatan ini, penggunaan kelor dalam berbagai bentuk, seperti teh, bubuk, dan campuran masakan, meningkat pesat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, status gizi ibu hamil dan anak-anak juga mengalami perbaikan. Kadar hemoglobin ibu hamil meningkat, dan berat badan anak-anak serta status gizi mereka menunjukkan perbaikan yang jelas. Meskipun demikian, tantangan tetap ada dalam menjaga keberlanjutan program, seperti ketergantungan pada cuaca untuk penanaman kelor. Pemanfaatan Moringa oleifera Sebagai Sumber Fitobiotik Untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Volume 2 Nomor 1 | Januari - April 2025 Efa Kelya Nasrun, et al UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Konawe khususnya Bapak Camat Kec. Sawa dan seluruh aparatur sipil dan staf Kantor Kec. Sawa, yang telah memberi izin sehingga kegiatan ini dapat terlaksan. DAFTAR PUSTAKA