Volume 6 Nomor 1 Februari 2026 p-ISSN : 2747-0725 e-ISSN : 2775-7838 Diterima : 17 November 2025 Direvisi : 21 Desember 2025 Disetujui : 7 Januari 2026 Diterbitkan : 28 Februari 2026 PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS KONTEKSTUAL Karina Fitriani*. Nisa Dzakiyya Shalihah. Yona Wahyuningsih Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia E-mail: karinafitriani18@upi. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam meningkatkan partisipasi aktif siswa melalui pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menggunakan sumber data berupa 25 artikel yang relevan dengan peran guru dalam meningkatkan partisipasi siswa pada pembelajaran IPS. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran jurnal daring, kemudiann dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pengarah yang mengaitkan konsep IPS dengan konteks sosial, budaya, dan geografis di lingkungan sekitar siswa. Strategi seperti teacher-fronted, facilitator-oriented, dan learner-oriented efektif dalam meningkatkan keterlibatan, kolaborasi, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Kesimpulannya, pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan mampu memperkuat karakter sosial, nasionalisme, serta kesadaran ekologis siswa Sekolah Dasar. Kata-kata Kunci: IPS, lingkungan, partisipasi, peran guru THE ROLE of TEACHERAoS in INCREASING STUDENT PARTICIPATION in CONTEXTUAL SOCIAL STUDIES LEARNING Abstract: This study aimed to describe the teacherAos role in increasing studentAos active participation through Social Studies learning based on regional and environmental potential. The method used in this study is a literature review utilizing data sources in the form of 25 articles relevant to the role of teachers in enhancing student participation in Social Studies learning. Data collection was conducted through online journal searches, and the data were analyzed using a descriptive qualitative The results showed that teachers acted as facilitators, motivators, and mentors who connected civics education concepts with the social, cultural, and geographical contexts surrounding students. Strategies such as Teacher-fronted. Facilitatororiented, and Learner-oriented approaches were effective in increasing student engagement, collaboration, and critical thinking In conclusion. Social Studies learning based on regional and environmental potential strengthened studentAos social character, nationalism, and ecological awareness. Keywords: IPS, environment, participation, teacherAos role PENDAHULUAN Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar memiliki peranan penting dalam membentuk warga negara yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial yang baik. Melalui pembelajaran IPS, siswa diharapkan mampu memahami realitas sosial di sekitarnya serta memiliki kemampuan berpikir kritis dan partisipatif terhadap isu-isu masyarakat. Namun dalam praktiknya, pembelajaran IPS masih sering didominasi oleh metode ceramah dan hafalan, sehingga partisipasi aktif siswa cenderung rendah (Astuti, 2. Siswa sering kali menjadi penerima pasif informasi tanpa diberi ruang untuk mengeksplorasi dan mengaitkan materi dengan kehidupan seharihari. Peran guru menjadi sangat krusial dalam menciptakan suasana belajar yang mendorong partisipasi aktif siswa. Guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu merancang pembelajaran bermakna dengan mengaitkan materi IPS dengan potensi daerah dan lingkungan sekitar sekolah. Pembelajaran berbasis potensi daerah memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui konteks nyata yang dekat dengan kehidupan mereka. Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 seperti kegiatan ekonomi lokal, budaya, serta kondisi geografis setempat (Rahmawati & Hartono, 2. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan relevansi materi, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan daerah asal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis potensi daerah mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa secara signifikan (Putra, 2020. Kurniawan, 2. Ketika siswa dilibatkan secara langsung dalam proses observasi dan eksplorasi lingkungan sekitar, mereka menjadi lebih antusias dan mampu mengaitkan teori dengan praktik nyata. Dalam konteks ini, guru berperan dalam merancang kegiatan yang berpusat pada siswa, mendorong interaksi Selain itu, partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran IPS dapat ditingkatkan melalui strategi pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman langsung . xperiential learnin. dan pemecahan masalah . roblem-based learnin. yang bersumber dari potensi lokal (Nuraini, 2. Strategi ini menuntut kreativitas guru untuk mengintegrasikan potensi lingkungan sebagai sumber belajar yang kontekstual dan berkelanjutan. Dengan demikian, penguatan peran guru menjadi pembelajaran IPS yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada hasil belajar dan motivasi siswa, serta efektivitas model atau pendekatan pembelajaran yang digunakan. Hasil telaah lietarur menunjukkan bahwa kajian yang secara mendalam membahas guru sebagai aktor utama dalam meningkatkan partisipasi aktif siswa melalui pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan masih sangat terbatas. Berdasarkan Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 meningkatkan partisipasi aktif siswa melalui pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan di Sekolah Dasar. Kajian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan meninjau berbagai penelitian dan artikel ilmiah yang relevan untuk memperoleh implementasi dan efektivitas pendekatan METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode studi literatur . iterature revie. Studi literatur dilakukan dengan menelaah berbagai sumber pembelajaran IPS, peran guru, partisipasi aktif siswa, dan pembelajaran berbasis potensi Partisipan Penelitian ini tidak melibatkan menggunakan studi literatur. Subjek kajian berupa dokumen ilmiah yang terdiri atas jurnal nasional dan artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Pengumpulan Data Proses pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran database seperti Google Scholar. Garuda, dan DOAJ dengan rentang publikasi tahun 2018-2024 agar memperoleh data yang aktual dan relevan. Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tiga tahap, yaitu: . identifikasi dan seleksi literatur yang relevan dengan topik penelitian. klasifikasi tema dan fokus kajian seperti peran guru, pembelajaran berbasis potensi daerah. pemahaman konseptual dan rekomendasi praktis terkait strategi peningkatan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran IPS. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan kesesuaian antara teori dengan hasil kajian Hasil analisis diharapkan dapat memberikan pengembangan praktik pembelajaran IPS yang lebih kontekstual dan partisipatif di Sekolah Dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penerapan pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan menunjukkan hasil bahwa proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa sekolah dasar. Hal ini dikarenakan ketika guru mengaitkan materi IPS dengan lingkungan sekitar siswa menyebabkan siswa menjadi lebih mudah memahami konsep-konsep sosial yang sebelumnya merupakan konsep yang Penggunaan lingkungan sekitar siswa berdampak kepada peningkatan motivasi, minat, serta partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran karena mereka merasa bahwa hal yang sedang dipelajari relevan dengan pengalaman mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Rima Khasnia . memperoleh hasil bahwa keterlibatan belajar atau student engagement meningkat ketika siswa diminta untuk melakukan pengamatan secara langsung seperti menyentuh, melihat, dan berinteraksi dengan objek nyata. Selain meningkatkan pemahaman kognitif, pembelajaran berbasis potensi daerah dan lingkungan juga membantu mengembangkan kemampuan afektif dan psikomotor siswa, seperti empati sosial, kepedulian terhadap lingkungan, keterampilan observasi siswa. Hasil penelitian lain yang dilakukan di SDN 12 Kp. Lapai, menunjukkan bahwa model pembelajaran IPS yang memanfaatkan meningkatkan hasil belajar siswa tetapi juga memperkuat pemahaman siswa terhadap budaya lokal serta meningkatkan kecintaan siswa terhadap identitas daerah. Siswa menjadi lebih percaya diri ketika berbicara mengenai budaya dan nilai-nilai yang mereka temui dalam kehidupan mereka sehari-hari. Integrasi kearifan lokal dengan pembelajaran IPS terbukti dapat memperkuat karakter siswa terutama dalam karakter sopan santun, gotong royong, serta penghargaan terhadap Selain itu, pembelajaran berbasis lingkungan juga mampu menumbuhkan ecological literacy pada siswa, yaitu kesadaran lingkungan secara bijak. Secara keseluruhan, hasil dari pembelajaran IPS di SD yang menggunakan potensi daerah dan lingkungan sebagai sumber ajar mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, bermakna, dan mampu mengembangkan berbagai kompetensi siswa secara seimbang. Pembahasan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada tingkat sekolah dasar idealnya menekankan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa agar konsep-konsep sosial yang dipelajari dapat dipahami secara Namun, dalam praktiknya pembelajaran IPS banyak didominasi oleh metode ceramah dan mengandalkan kegiatan menghafal materi, sehingga siswa cenderung berperan sebagai penerima informasi secara pasif (Astuti, 2. Kebanyakan guru cenderung masih mengandalkan buku teks saja tanpa memanfaatkan lingkungan sekitar belajar,hal memahami materi IPS karena tidak dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pemanfaatan potensi daerah dan lingkungan sekitar menjadi salah satu pendekatan strategis yang tidak hanya membawa materi IPS menjadi lebih dekat dengan siswa, tetapi juga menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa (Putra, 2. Lingkungan belajar yang paling kaya dan autentik. Menurut Tilaar . lingkungan merupakan Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 sumber belajar utama bagi siswa karena menyediakan pengalaman langsung yang Pendapat ini diperkuat oleh Sudjana dan Rivai . mempunyai banyak keuntungan seperti dapat membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, meningkatkan motivasi belajar siswa, memperluas aktivitas belajar, serta menjadikan pembelajaran menjadi lebih faktual dan akurat. Ketika siswa belajar di luar kelas atau mengamati situasi lingkungan di sekitar sekolah, mereka jadi tidak perlu duduk berjam-jam, tetapi justru memperoleh mengobservasi, dan berinteraksi dengan objek maupun fenomena sosial yang relevan dengan materi IPS. Aktivitas ini secara langsung mendorong keterlibatan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dalam pembelajaran (Kurniawan, 2. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembelajaran berbasis potensi daerah dan lingkungan sekitar dinilai sangat relevan Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang kontekstual, diferensiasi, dan berbasis proyek. Guru dapat mengintegrasikan potensi daerah kedalam tema-tema seperti AuKegiatan Ekonomi di Sekitarku,Ay AuKeberagaman Budaya IndonesiaAy, dan AuLingkungan Tempat TinggalkuAy. Misalnya, untuk tema kegiatan ekonomi, siswa dapat diajak untuk mengamati aktivitas di pasar tradisional ataupun di warung sekitar sekolah untuk memahami apa itu peran produsen, distributor, dan konsumen (Rahmawati & Hartono, 2. Untuk tema keberagam budaya, siswa dapat melakukan suatu proyek mini berupa poster, maket, ataupun presentasi mengenai tarian ataupun makanan khas daerah mereka masing-masing. Sedangkan, untuk tema lingkungan guru dapat mengajak siswa melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan sekolah seperti Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 tanaman, kebersihan, dan tata ruang. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat mendorong siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung sehingga konsep IPS tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga aplikatif. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar tidak harus selalu dilakukan di tempat yang jauh ataupun memerlukan biaya besar, karena lingkungan sekitar sekolah pun memiliki banyak potensi yang dapat digunakan sebagai sumber belajar dalam mata pelajaran IPS seperti taman sekolah, halaman upacara, kantin, perpustakaan, ataupun interaksi sosial antarwarga sekolah. Menurut Rima & Abdullah . seorang guru yang dapat memaksimalkan lingkungan sekitar sekolah dengan baik maka dapat menciptakan iklim pembelajaran yang hidup, partisipatif, dan dinamis Dengan demikian, keterbatasan sarana dan prasarana bukan menjadi penghambat utama dalam pembelajaran IPS berbasis lingkungan. Keberhasilan IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan sangat ditentukan oleh peran guru. Guru memegang peranan yang sangat penting menentukan keberhasilan pembelajaran IPS di SD, terutama dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, kontekstual, dan bermakna yang akan meningkatkan partisipasi siswa. Pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan menuntut guru untuk berperan pengembang kreativitas siswa. Melalui peranperan tersebut, guru dapat mendorong siswa untuk bisa berpartisipasi aktif dalam proses Guru juga harus mampu mengaitkan konsep IPS dengan realitas konkret di lingkungan sekitar siswa seperti pasar tradisional, tempat bersejarah, kegiatan adat, dan interaksi sosial dengan masyarakat, pengalaman belajar yang autentik dan bermakna (Nuraini, 2. Sebagai fasilitator guru harus memiliki kemampuan untuk memahami perilaku belajar siswa dari pengalaman langsung di dalam melakukan komunikasi secara spontan sehingga memungkinkan untuk memancing reaksi dari siswa terutama dalam hal mengemukakan pendapat di dalam kelas, memberikan kesempatan pada siswa untuk bisa merenungkan kembali hal-hal yang telah Guru juga harus menghubungkan konsep IPS dengan realitas konkret yang ada pada lingkungan sekitar siswa, misalnya guru harus mampu mengenali potensi daerah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber untuk belajar siswa seperti pasar tradisional, tempat bersejarah, kegiatan adat, serta interaksi yang ada di masyarakat. Dengan hal tersebut siswa akan memperoleh pengalaman nyata yang memperkaya pemahaman mereka. Dalam proses pembelajaran guru juga harus berperan sebagai pengarah partisipasi Dalam kegiatan diskusi siswa akan lebih nyaman untuk berbicara ketika guru memberikan waktu lebih untuk mereka bisa mempersiapkan kalimat atau menemukan kata yang tepat (Zarrinabadi, 2. Hal tersebut bisa disebut juga sebagai TeacherAos wait time atau waktu tunggu yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk memberikan sebuah jawaban. Guru juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan umpan balik kepada siswa (Harmer, 2. Untuk memberikan pendapat guru harus bisa melihat ada atau tidaknya kecemasan pada setiap individu, guru harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang sehat bagi siswa. Dalam hal pemberian umpan balik bisa dilakukan untuk konteks yang positif seperti memberikan dukungan dan apresiasi tetapi juga tetap berfokus pada hasil kerja siswa sehingga dapat memberikan dampak kepada siswa yang lain. Dengan pemberian umpan balik yang disampaikan dengan baik dapat siswa akan merasa lebih dihargai, percaya diri, dan terdorong untuk lebih aktif di dalam Dalam menjalankan perannya, guru dapat menerapkan berbagai macam strategi Pada strategi yang pertama yaitu Teacher-fronted menekankan pada sebuah pola yang digunakan guru ketika berinteraksi dengan siswa. Meskipun strategi ini lebih berpusat kepada guru tetapi strategi ini efektif untuk membangun komunikasi yang aktif di dalam kelas, terutama ketika guru bisa mengaitkan topik IPS dengan fenomena sosial yang ada di sekitar siswa. Strategi ini dapat dilakukan melalui tiga . Inisiasi, guru bisa memberikan pertanyaan kepada siswa agar pembelajaran menjadi lebih komunikatif dan bersifat dua arah sehingga dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dan berpendapat mengenai topik yang sedang dibahas, misalnya berupa kegiatan ekonomi, guru bisa memberikan pertanyaan seperti AuBagaimana kegiatan jual beli di pasar yang ada di dekat rumah kalian?Ay. Respon, siswa memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru, tahapan ini akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan . Tindak lanjut, guru memberikan umpan balik dengan memberikan apresiasi, klarifikasi, ataupun penguatan konsep. Strategi Teacher-fronted ini memang lebih berpusat kepada guru, tetapi dengan meningkatkan ketertarikan siswa yang dilanjutkan dengan pemberian umpan balik dapat meningkatkan keinginan siswa untuk lebih terlibat aktif di dalam kelas. Strategi Facilitator-Oriented, dalam strategi ini guru memiliki peran sebagai fasilitator dialog dan pembimbing proses berpikir siswa. Pada strategi ini guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mengarah kepada dialog pada pembelajaran, serta lebih berfokus pada isi dari diskusi dan tidak memberikan umpan balik terhadap kesalahan siswa. Melalui strategi ini siswa akan menjadi lebih bebas untuk mengemukakan pendapat tanpa takut Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 salah. Dalam konteks pembelajaran IPS berbasis lingkungan strategi ini efektif karena dapat mendorong dialog reflektif antara siswa dengan realitas sosial di sekitarnya. Yang terakhir yaitu strategi LearnerOriented yang lebih berfokus kepada proses pembelajaran siswa dibandingkan proses mengajar ataupun hasil belajar, sehingga diharapkan siswa dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan lebih maksimal, guru memberikan waktu kepada siswa untuk Strategi ini menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan menekankan keterlibatan aktif siswa dalam seluruh proses Selain itu, guru juga perlu memperhatikan efisiensi waktu, ketersediaan fasilitas dan kesiapan peserta, guru juga bisa menyusun kegiatan pembelajaran lintas mata pelajaran agar kegiatan di luar kelas menjadi lebih efektif dan efisien seperti membuat peta sosial desa, wawancara dengan pedagang di pasar, atau mengadakan kegiatan berkunjung ke museum, dan yang terakhir perlu adanya dukungan dari lembaga dan kolaborasi dengan pihak eksternal, dengan dukungan ini akan memperkuat keterpaduan antara sekolah dan lingkungan sosial dalam IPS bermakna dan kontekstual. Pembelajaran berbasis potensi daerah dan lingkungan dapat diwujudkan dalam berbagai macam bentuk kegiatan, seperti kegiatan survei sosial yang dapat membawa siswa berinteraksi secara langsung dengan masyarakat melalui kegiatan ekonomi, struktur sosial, atau adat istiadat, kegiatan karya wisata yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa dalam mempelajari tempat bersejarah, museum, atau pabrik, mengembangkan keterampilan khusus siswa seperti menggambar peta, membuat laporan, atau menyusun dokumentasi, guru juga dapat menghadirkan narasumber lokal memperkaya wawasan siswa, kegiatan sederhana seperti jalan-jalan di sekitar Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 lingkungan sekolah seperti memungut sampah pun dapat dilakukan. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep IPS, tetapi juga menumbuhkan karakter sosial seperti tanggung jawab, kepedulian lingkungan, dan kerja sama. Untuk merancang kegiatan-kegiatan tersebut, guru perlu melakukan berbagai langkah penting seperti menentukan tema, mengintegrasikan dengan CP/KD, menyusun silabus pembelajaran, menentukan indikator pencapaian, dan membuat RPP atau modul ajar yang menggambarkan kegiatan secara Proses perencanaan ini bertujuan agar pembelajaran tidak hanya menarik, tetapi juga sistematis dan sesuai dengan tujuan yang ada di kurikulum. Meskipun pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan memiliki banyak keunggulan tetapi guru perlu memperhatikan berbagai aspek penting agar pelaksanaan proses pembelajaran berjalan dengan optimal. Yang pertama guru perlu mengenai pemanfaatan potensi daerah dan lingkungan sebagai sumber belajar IPS, guru kompetensi melalui pelatihan, workshop, dan berbasis lingkungan, sampai menyusun RPP yang relevan. Secara keseluruhan, pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan tidak hanya memperkuat pencapaian dalam aspek akademik saja, tetapi juga membentuk siswa menjadi pribadi yang berbudaya, peduli lingkungan, dan memiliki identitas sosial yang kuat. Pendekatan pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan ini mampu menghadirkan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna. PENUTUP Simpulan Dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan partisipasi aktif siswa melalui pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan Guru tidak hanya memiliki peran sebagai penyampai materi, tetapi juga berperan aktif sebagai fasilitator, motivator, dan pengarah yang memandu siswa untuk mengeksplorasi konteks sosial di lingkungan Melalui peran tersebut, guru mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam proses Pendekatan pembelajaran IPS berbasis memungkinkan siswa terlibat tidak hanya secara kognitif, tetapi juga secara emosional dan sosial. Pembelajaran ini berkontribusi dalam memperkuat karakter sosial siswa, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta membangun kesadaran ekologis sejak dini. Dengan demikian, siswa tidak hanya berkembang sebagai individu yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga sebagai warga negara yang peduli, bertanggung jawab, beretika terhadap lingkungan sosial maupun alam di sekitarnya. Meskipun demikian, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Kajian ini menggunakan studi literatur sehingga temuan yang dihasilkan bergantung pada kualitas, kelengkapan, dan relevansi sumber yang dianalisis. Selain itu, penelitian ini belum melibatkan data empiris langsung dari praktik pembelajaran di sekolah, sehingga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata implementasi pembelajaran IPS berbasis potensi daerah dan lingkungan di berbagai konteks sekolah dasar. Oleh karena itu, menggunakan pendekatan empiris atau studi lapangan, guna memperoleh gambaran yang lebih mendalam dan aplikatif mengenai peran guru dalam meningkatkan partisipasi aktif Saran