45 JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI MELALUI KEGIATAN ORIGAMI PADA ANAK KELOMPOK B ROUDLOTUL ATHFAL (RA) AS-SALAM AMBON Oleh Djaleha Buamona1. St. Maria Ulfah2 1,2Universitas terbuka Email: 1djalehabuamona@gmail. com, 2mariaulfah@ecampus. Article History: Received: 23-09-2024 Revised: 03-10-2024 Accepted: 23-10-2024 Keywords: Origami, motorik halus. Abstract: Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak yang berusia antara 0-8 tahun. Salah satu cara untuk membantu anak usia dini meningkatkan keterampilan motorik halus mereka adalah dengan melipat kertas atau membuat origami. Salah satu masalah yang dihadapi guru di kelompok B RA As-Salam Ambon adalah kurangnya kemampuan melipat kertas. Berdasarkan kondisi ini, rumusan masalah ini membahas bagaimana kegiatan origami dapat meningkatkan keterampilan motorik halus di kelompok B RA As-Salam Ambon, seberapa besar pengaruh kegiatan origami terhadap peningkatan keterampilan motorik halus, seberapa besar pengaruh kegiatan origami terhadap peningkatan keterampilan motorik halus, dan seberapa besar pengaruh ke Studi ini menerapkan penelitian tindakan kelas. PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh kegiatan melipat kertas origami terhadap perkembangan motorik halus anak-anak. Berdasarkan penelitian Winarni . , ditemukan bahwa kegiatan origami dapat memberikan dampak positif pada kemampuan motorik halus anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan melipat kertas sesuai instruksi guru, dari 4 anak pada data awal menjadi 8 anak pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 13 anak pada siklus II. Selain itu, peningkatan ketangkasan dalam melipat kertas menjadi bentuk origami juga terlihat. Origami bukan hanya kegiatan seni yang menyenangkan, tetapi juga alat yang efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus. Ini penting karena keterampilan motorik halus sangat berkaitan dengan kemampuan akademik dan sosial anak, seperti yang dijelaskan oleh Hurlock . Dengan meningkatkan keterampilan ini, anak-anak dapat lebih mudah menguasai aktivitas akademik seperti menulis, menggunting, menjiplak, mewarnai, dan menggambar. LANDASAN TEORI Perkembangan motorik, baik kasar maupun halus, adalah aspek penting dalam pertumbuhan anak. Menurut Hurlock . , keterampilan motorik halus sangat penting karena memiliki korelasi positif dengan penyesuaian sosial dan prestasi akademik. Holts . menambahkan bahwa keterlambatan dalam perkembangan motorik halus dapat menyebabkan kesulitan bagi anak-anak dalam menguasai keterampilan yang seharusnya a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 sudah dikuasai pada usia tertentu, seperti penggunaan alat tulis. Anak-anak yang mengalami keterlambatan ini sering kali menunjukkan ketidakmampuan dalam mengatur gerakan tangan dan jari-jemari dengan baik. Yudanto menjelaskan bahwa perkembangan motorik melibatkan perubahan perilaku gerak yang mencerminkan interaksi antara individu dan lingkungannya seiring Sementara itu. U Keogh dalam Payne . mendefinisikan perkembangan motorik sebagai perubahan kompetensi gerak dari masa bayi hingga dewasa, yang mencakup berbagai aspek perilaku dan kemampuan. Origami, sebagai salah satu bentuk seni tradisional yang berasal dari Jepang, memiliki peran penting dalam pendidikan. Menurut Amanuma dalam Danandjaja . , origami adalah seni melipat kertas yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga berfungsi sebagai alat yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Dalam konteks pendidikan, origami dapat digunakan untuk melatih keterampilan motorik halus, meningkatkan kreativitas, memahami konsep matematika, serta melatih problem-solving, konsentrasi, dan rasa percaya diri. Penelitian Siti Rujaipah dkk. menunjukkan bahwa kegiatan melipat kertas simetris juga efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak-anak usia dini. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Winarni dan menegaskan pentingnya penggunaan origami sebagai media pembelajaran di prasekolah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK), yang merupakan penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan pembelajaran di kelas. dengan melakukan tindakan. Oleh karena itu. PTK terkait erat dengan perbaikan, yang dimaksudkan untuk menemukan solusi untuk masalah yang diungkapkan. Jalan keluar yang ditemukan dalam penelitian ini harus sesuai dengan masalah yang sebenarnya dialami oleh guru (Suyanto: 1997, . Penelitian ini menggunakan lembar observasi siswa dan hasil kerja Salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan observasi. Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode analisis deskriptif untuk menganalisis data. Salah satu indikator keberhasilan penelitian ini adalah peningkatan partisipasi anak selama pembelajaran berlangsung, peningkatan interaksi gurusiswa, dan peningkatan pemahaman anak tentang materi. Topic. Penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaborasi antara guru dan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar anak. Dengan kata lain. PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi, misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberiksn solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebutSubyantoro : 2009, . Penulis akan melaksanakan prosedur penelitian tindakan kelas dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus memiliki empat tahap yaitu . Perencanan, . Pelaksanaan, . Pengamatan, dan . Refleksi (Subyantoro: 2009, . Bagian ini mendeskripsikan tentang bagaimana cara mengumpulkan data sebagai dasar dalam menetapkan alternatif tindakan dan melakukan refleksi. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan meliputi : http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 Wawancara Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yaknimelalui media telekomunikasi. Pada hakekatnya wawancara merupakan Untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang Wawancara tersebut dilakukan kepada orang tua wali muridmurid. Observasi Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan tim kolaboratif untuk mengamati aktivitas siswa pada saat pembelajaran melipat kertas . Observasi atau pengamatan merupakan suatu tehnik atau cara untuk mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang (Sukmadinata, 2009 : . Dalam melakukan observasi terhadap siswa selama pembelajaran berlangsung, peneliti sebagai observer dibantu oleh guru mitra dengan menggunakan lembar observasi. Observasi sebagai tehnik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik apabila dibandingkan dengan tehnik yang lain. Observasi bersifat kompleks yang berarti secara keseluruhan diamati dari awal sampai akhir kegiatan. Proses tersusun secara sistematis melalui proses pengamatan dan ingatan yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. (Sugiono, 2010:. Tabel 1. Instrumen Penelitan Indikator Sub Indikator Siswa Guru Tahap I Meniru Melipat Kertas Anak dapat meniru 3 lipatan a. Perencanaan Guru menyiapkan bahan yang akan digunakan. Pelaksanaan Guru yang telah disiapkan. Evaluasi Guru mengevaluasi setiap kegiatan siswa yang telah selesai dan diberi Perencanaan Guru bahan yang akan dibuat. Pelaksanaan Guru untuk berekspresi. Evaluasi Guru menghargai karya anak dan memberikan nilai yang Tahap II Belajar Berkarya Seni Anak kertas menjadi bentuk Anak meniru b. melipat ketas menjadi bentuk daun. Anak mampu meniru 6 c. lipatan menjadi bentuk tulip menuangkan ide-ide kreatif melalui origami. Anak belajar berkarya melalui media Anak mengapresiasi karya seni origami yang telah dibuat a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 Tabel 2. lembar Observasi Indikator Sub Indikator Meniru Belajar karya Anak Jumlah meniru 3 lipatan bentuk rumah . Anak mampu meniru menjadi bentuk daun. Anak mampu meniru 6 lipatan menjadi Anak menggambar pohon kemudian diberi hiasan bunga. Anak ditambah dengan Dokumentasi Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cinderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi dimasa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoritik untuk memakai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekedar barang yang tidak Angket dan Tes Selain tersebut di atas Angket dan tes dapat juga digunakan untuk memperoleh informasi, yaitu dengan membuat daftar pertanyaan yang berhubungan dengan kegiatan Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Pembentukan sikap perilaku anak dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan skor . , 2 dan . Data data tersebut mulai dianalis dari siklus satu dan dua untuk dibandingkan perolehan nilai rata- ratanya, hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif prosentase yang dikelompokkan dalam 3 kategori baik, cukup, dan Contoh sebagai berikut: http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 Tabel 3. klasifikasi kategori Perkembangan Motorik Anak Kreteria Skor Perolehan Baik 81 Ae 100 Cukup 65 Ae 80 Kurang <64 (Depdiknas, 2004:. ycA Rumus yang digunakan adalah : ya X100% Keterangan : N : Nilai yang diperoleh A : Jumlah Anak % : Tingkat Keberhasilan yang dicapai Hasil observasi dari aspek guru dan siswa dianalisa menggunakan tehnik diskriptif kualitatif yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Rencana kegiatan dalam melipat . dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak di RA As Ae Salam Ambon meliputi aspek pembukaan, pelaksanaan dan penutup. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dilaksanakan berdasarkan prosedur penelitian tindakan kelas melalui kegiatan melipat kertas untuk meningkatkan motorik halus anak di RA As-Salam Ambon pada Kelompok B. Hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut: Hasil pengamatan awal dapat disimpulkan bahwa Anak-anak di RA As-Salam Ambon ini kurang menyukai kegiatan melipat kertas, oleh karena itu untuk meningkatkan kegiatan tersebut harus sering dilatih agar anak trampil dalam melipat atau pun membuat kreasi sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak kurang memahami tentang kegiatan melipat Untuk itu perlu dilatih sesering mungkin supaya anak terbiasa melipat kertas dengan rapi dan baik. Meskipun kegiatan melipat kertas kurang disenangi anak-anak kita tetap memberikan yang terbaik untuk mereka agar dalam melipat kertas tidak salah memberikan bentuk lipatan yang anak sukai ataupun belum pernah melipatnya. Untuk mendapatkan hasil yang menarik danbaik anak-anak harus berlatih. Hasil pengamatan siklus I cukup baik karena anak-anak sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan origami. Sebagian anak sudah dapat berpartisipasi dalam kegiatan origami, tetapi ada beberapa anak yang kurang berbakat dan perlu dimotivasi untuk lebih mahir. Untuk anak-anak yang belum sempurna, ulangi tugas secara berulang kali sampaimereka hafal dan akhirnya menjadi sempurna. Dengan demikian, pembelajaran di siklus kedua dirancang ulang. Hasil pengamatan dari siklus kedua menunjukkan bahwa anakanak sangat antusias mengikuti penjelasan guru dan sebagian besar anak sudah dapat mengikuti kegiatan origami dengan baik. Peningkatan dalam kegiatan origami telah dicapai, jadi kegiatan siklus II tidak perlu diulang. Pada penelitian siklus II, peningkatan keterampilananak melalui kegiatan origami dengan gambar yang disesuaikan dengan tema pembelajaran mencapai tingkat pencapaian yang baik, yaitu 80%. Dengan demikian, anakanak sangat menyukai hal-hal yang menarik, menyenangkan dan hal-hal yangaru. Dalam a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 hal meningkatkan motorik halus anak melalui melipat kertas. Dengan mengerjakan secara bersama-sama anak pasti akan bercakap-cakap dengan teman yang lain sehingga meningkatkan keterampilan motorik halus anak. Dalam meningkatkan keterampilan melalui origami , anak aktif dalam melalukan kegiatan, bertanya dan bercakap-cakap dan secara tidak sadar meningkatkan keterampilan motorik halus anak dalam dirinya agar mampu Elizabet B. Hurlock . menyatakan bahwa kesempatan motorik halus anak dapat ditingkatkan dengan salah satu kegiatan, misalnya melipat kertas satu sampai enam. Meningkatkan ketrampilan motorik halus dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan disekitar yang memberikan kesempatan baginya untuk meningkatkan keterampilan yang dimilikinya. Dalam penelitian, guru memberikan kegiatan melipat dalam meningkatkan keterampilan yangdimiliki anak sejak usia dini agar dapat berkembang. Dalam kegiatan melipat ini anak diberikan arahan dan petunjuk melipat yang benar, agar anak mengerti bagai mana lipatan yang benar seperti apa. Dalam pembelajaran guru juga memberikan pengalaman kepada anak seperti memberikan contoh lipatan yang baik dan benar. Keterampilan motorik halus banyak yang dapat ditingkatkan pada usia dini. Imajinasi anak berkembang ketika anak diberikan kebebasan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Keterampilan tersebut dituangkan melalui kegiatan melipat kertas yang mengasyikkan untuk anak, guru dapat mengembangkan kegiatan belajar melipat untuk anak, agar meningkatkan keterampilan anak supaya anak merasa senang dan nyaman saat melakukan kegiatan sehingga potensi anak dapat berkembang sesuai tahapannya. Keterampilan merupakan sesuatu proses, bukan hasil. Keterampilan merupakan hasil belajar yang terus menerus, yang memerlukan bimbingan terus menerus tanpa henti hentinya dan tanpa bosan. Tabel 4. Hasil Pengamatan Peningkatan Kemampuan Pemahaman Tentang BerbagaiMacam Origami Pada Anak No Indikator Sub Indikator Pra Siklus Siklus I Siklus II Meniru Anak dapat meniru 3 lipatan kertas menjadi bentuk rumah . Anak mampu meniru 623% lipatan kertas menjadi Anak mampu meniru 430% lipatan menjadi bentuk Belajar karya Anak dapat menggambar pohon kemudian diberi hiasan Persentase Anak melipat bentuk rumah kemudian rata-rata kemampuan melipat kertas pada anak a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 Keterangan Belum Sudah Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan melipat anak yang tuntas sebesar 30%, setelah dilakukan penelitian siklus I meningkat menjadi 50% yaitu mengalami peningkatan sebesar 20% dan dilakukan penelitian kembali pada siklus II presentase ketuntasan anak menjadi 80% mengalami peningkatan 30%. Sebelum diberi tindakan menunjukkan persentase kemampuan melipat anak sebesar 30%, setelah diberi tindakan pada siklus I melalui melipat kertas yang disesuaikan dengan tema, kemampuan melipat kertas anak meningkat menjadi 50%. Peneliti kemudian memberi tindakan pada siklus II dengan melipat kertas dan lipatan yang sudah jadi yang di sesuaikan dengan tema pembelajaran,kemampuan melipat kertas anak meningkat menjadi 80%. Hasil peningkatan melipat kertas anak sebesar 80% penelitian dinyatakan berhasil karena peneliti sudah memenuhi target sebesar 80%. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, motorik halus anak dapat dilatih dengan melipat kertas atau Mereka dapat belajar membuat lipatan dan bentuk yang dicontohkan oleh guru dan kemudian melipat sendiri dengan lipatan yang berbeda. Kegiatan melipat kertas ini juga dapat diperluas dengan berbagai bentuk dan dihiasi dengan hiasan tambahan, seperti menggambardi sekitar lipatan. Anak-anak juga dapat membuat coretan dengan cat air pada kertas lipat. Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki oleh anak akan muncul dengan Untuk menjadi lebih mahir dalam melipat kertas dan membuat origami, guru dan anak harus sering mengajarkan anak didiknya teknik melipat. Guru juga harus memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana yang baik. Kesimpulannya adalah bahwa untuk meningkatkan pemahaman anak tentang melipat kertas melalui kegiatan membentuk kreasi lipatan, guru harus lebih kreatif dan bervariasi dalam membuat origami sehingga anak-anak dapat berkreasi sesuai dengan imajinasi mereka sendiri. Dengan menggunakan bahan kertas yang berwarna-warni, anak-anak akan lebih tertarik untuk membuat lipatan kertas yang menarik dan enak dipadang. Sekolah harus memfasilitasi lebih banyak kegiatan melipat kertas, meningkatkan keterampilan anak dalam melipat kertas, dan menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap. Orang tua harus memiliki tempat yang cukup untuk belajar origami. PENGAKUAN/ACKNOWLEDGMENTS Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan karya ini. Tidak lupa, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan bantuan dalam proses penyelesaian penelitian ini. Ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada keluarga saya yang selalu memberikan doa, dukungan moral, dan semangat yang tiada henti. Terima kasih atas pengertian dan kasih sayang yang diberikan selama ini. Kepada para pendidik dan pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan arahan, serta ilmu yang sangat berharga, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Bimbingan dan masukan yang diberikan telah menjadi pijakan penting dalam menyelesaikan karya ini. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Oktober 2024 DAFTAR PUSTAKA