Journal of Administrative and Social Science Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jass. Available online at: https://journal-stiayappimakassar. id/index. php/jass Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. Jupri1. Nurmiati2 . Abd Haris3 . Muhammad Tobar4 Univesitas Hasanuddin. Indonesia 2,3,4 Universitas Muhammadiyah Sinjai. Indonesia Abstract. This study aims to explain the strength of social capital owned by Nurdin in political contestation in This type of research is a descriptive qualitative study to explore the strength of social capital in the transformation of village head leadership. Meanwhile, the approach used is the phenomenological approach The results of this study indicate that the previous leadership style that the author limits only captures the leadership style for the period 2002-2009. During the 2002-2004 period, when Karaeng Oddang was in charge, in his leadership he tried to be more democratic, but the domination of his father (Karaeng Mann. was still strong at that time. Likewise with Aji Awaluddin 's karaeng leadership style, he was a typical leader who was considered by the community to be very good and realized democratic values during his tenure as head of Kindang village for the 2004-2009 period. In 2009-2016, this was where leadership transformation took place. Photographing Nurdin's leadership style for the period of 2009 cannot be separated from appreciation and praise. However, this criticism did not have an impact on the 2016 village head election. Nurdin won the pilkades again. Nurdin's strength of social capital in the election has won him victory. The rise of primordial sentiment among ordinary people . as Nurdin's strength, and on the other hand the rise of negative stereotypes against karaeng that spread to the issue of group identity and the strong strength of social networking capital, bonding, bridging and linking greatly colored the 2016 pilakdes. Social capital security control is a selling point for Nurdin so that he can get support from the community compared to other candidates who are deemed unfit and unable to anticipate security in Kindang village. Keywords: Strength of Social Capital in Political Contestation of Village Head Election in 2016 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kekuatan modal sosial yang dimiliki oleh Nurdin dalam kontestasi politik tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi kekuatan modal sosial dalam transformasi kepemimpinan kepala desa. Sementara itu, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan sebelumnya yang penulis batasi hanya menangkap gaya kepemimpinan periode 2002-2009. Pada periode 2002-2004, saat Karaeng Oddang bertugas, dalam kepemimpinannya ia berusaha lebih demokratis, namun dominasi ayahnya (Karaeng Mann. masih kuat saat itu. Begitu pula dengan gaya kepemimpinan karaeng Aji Awaluddin, ia merupakan tipikal pemimpin yang dinilai masyarakat sangat baik dan mewujudkan nilai-nilai demokrasi selama menjabat sebagai kepala desa Kindang periode 2004-2009. Pada tahun 2009-2016, di sinilah transformasi kepemimpinan terjadi. Memotret gaya kepemimpinan Nurdin periode 2009 tidak lepas dari apresiasi dan pujian. Namun kritikan tersebut tidak berdampak pada pilkades 2016. Nurdin kembali memenangi pilkades. Kekuatan modal sosial Nurdin dalam pilkades telah mengantarkannya pada kemenangan. Maraknya sentimen primordial di kalangan rakyat biasa . menjadi kekuatan Nurdin, dan di sisi lain maraknya stereotip negatif terhadap karaeng yang merembet pada isu identitas kelompok dan kuatnya modal jejaring sosial, bonding, bridging dan linking sangat mewarnai pilkades 2016. Penguasaan keamanan modal sosial menjadi nilai jual bagi Nurdin agar bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat dibanding kandidat lain yang dinilai tidak layak dan tidak mampu mengantisipasi keamanan di desa Kindang. Kata Kunci: Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pilkades 2016 Received: Mei 05, 2025. Revised: Mei 20, 2025. Accepted: Juni 14, 2025. Online Available: Juni 28, 2025 Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. PENDAHULUAN Era demokrasi telah membuka runag yang terbuka dalam kontetasi politik, setiap orang punya hak untuk terlibat dalam kontestasi tersebut, dalam kontestasi politik sangat dibutuhkan modal sosial sehingga transformasi kepemimpinan atau peralihan kepememipinan bisa terjadi di tingkat desa. Transformasi diartikan sebagai proses perubahan dari suatu kondisi . entuk awa. ke kondisi akhir. Tranformasi merujuk pada suatu perbedaan ciri dalam waktu tertentu. Proses ini mengandung tiga unsur penting. Pertama, perbedaan merupakan aspek penting dalam proses transformasi karena dengan perbedaanlah dapat dilihat perwujudan dari sebuah proses Kedua, konsep ciri atau identitas yang merupakan acuan di dalam proses transformasi, baik sosial, ekonomi, penampilan atau status seseorang dalam masyarakat. Ketiga, proses tranformasi selalu bersifat historis yang terikat pada satuan waktu yang bebeda. (Puji 2. Pemilihan kepala desa merupakan pesta demokrasi unit terkecil sekaligus menyediakan ruang kepada calon untuk mendapatkan kepercayan kepada masyarakat untuk terlibat dalam kontestasi pilkades di desa Kindang. Kec. Kindang Kab. Bulukumba. Seorang calon tentunya harus memiliki kekuatan modal sebagai instrumen dalam mengikuti kompetisi pilkades. Seyogyanya harus memiliki beberapa modal sosial, diantaranya rasa simpatik, rasa bersahabat, hubungan sosial kerja sama, (Syahra. , modal budaya, modal jaringan, modal popularitas, modal politik, modal ekonomi, dan modal kepercayaan . Modal bonding, bridging dan Semakin besar kekutan modal sosial yang dimiliki oleh seorang kandidat maka semakin besar pula dukungan yang diperoleh. (Stella Maria 2. Salah satu desa terjadi kontetastasi pilkades tahun 2016 di desa Kindang Kec. Kindang Kab. Bulukumba. Menariknya, di desa ini masyarakat masih mengenal sistem stratifikasi yang membuat mereka tergolong dalam golongan masyarakat yang berbeda, yaitu golongan karaeng dan golongan maradeka. Penggolongan masyarakat ini ke dalam stratifikasi menimbulkan gap di antara mereka. Masyarakat karaeng adalah masyarakat yang memiliki status yang terhormat di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat maradeka merasa segan kepada mereka. Status karaeng dalam lapisan masyarakat merupakan sebuah status yang didapatkan dari keturunan keluarga. Sedangkan masyarakat maradeka adalah kumpulan masyarakat yang merdeka . ukan buda. (Rochmawati 2. Dalam istilah sosiologi status karaeng dan Maradeka disebut ascribed status (Soekanto 2. , sehingga seseorang yang terlahir dari kelurga tersebut, secara otomatis akan mendapatkan status sebagai karaeng dan Maradeka. Kekalahan kelompok karaeng pasca pemilihan kepala desa tahun 2016 menandakan bahwa Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. mangkirnya trust karaeng di mata masyarakat biasa. transformasi kepemimpinan dari golongan karaeng bisa beralih ke golongan maradeka. Pemilihan kepala desa, kekuatan modal sosial sangat diperlukan dalam mengikuti kontestasi politik. Seyogyanya harus memiliki beberapa modal sosial, tidak hanya mengandalkan popularitas, akan tetapi membutuhkan modal lain seperti modal ekonomi, modal personal seorang atau lebih dikenal sebagai human capital calon, modal kepercayaan . Meskipun diketahui bersama bahwa sejak terjadinya revolusi industri berdampak pada relasi sosial yang menyebabkan masyarakat tercabut dari akar koletifitasnya menjadi individualis, atau dalam istilah Dhurkeim dari masyarakat yang bercirikan solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Salah satu dampak dari transisi tersebut tidak hanya mencabut masyarakat dari akar kolektifitasnya akan tetapi juga menimbulkan berbagai macam patologi sosial seperti hilangnya solidaritas mekanik, gotong royong, individualistik sebagai ciri dari pergeseran tersebut. (Pip 2. Sehingga kepercayaan . terkikisnya trust dari masyarakat saling curiga mencurigai antara satu dengan yang lainnya sesuatu tidak bisa dinafikan, sehingga semangat kolektifitas semakin teramat sulit menyatukan masyarakat. Fakta tersebut menjadi cerminan bahwa modal sosial dalam konteks pesatuan, baik menyatukan gagasan-gagasan dan pendapat adalah hal sangat mustahil kita raih, pernyataan tersebut mungkin terdengar pesimis, akan tetapi itulah fakta yang harus diakui. Tercabutnya masyarakat dari kolektifitas merupakan tantangan baru, relasi sosial menjadi semakin longgar, kelonggaran tersebut menjadi tantangan bagi calon kepala desa untuk mendapatkan suatu dukungan dari masyarakat, meskipun masyarakat dalam tingkat desa ikatan-ikatan kekeluargaan masih menjadi ciri yang umum yang sering kita temui dalam masyarakat desa yang relatif homogen. Homogenistas suatu masyarakat tentu memiliki ikatanikatan kekeluargaan sehingga radius kepercayaan diantara mereka relatif kuat, ikatan-ikatan kekeluargaan mungkin berbeda dengan yang lainnya seperti dicatat oleh Fukuyama bahwa masyarakat di Cina dan Amerika Latin ikatan kekeluargaan sangat kuat, akan tetapi sangat sulit mempercayai orang asing, tingkat kerja sama dengan orang luar sangat rendah. (Francis 2. Contoh di atas semakin menguatkan bahwa Trust elemen sangat penting yang harus dimiliki oleh calon yang terilbat dalam kompetisi. Sejauh ini sudah ada beberapa penelitian tentang modal sosial salah satunya adalah Penelitian dari Indah Kartika Ratri. Amaliatulwalidain dan Isabella Program Studi Ilmu Pemerintahan. Universitas Indo Global Mandiri dengan judul: Strategi Pemenangan Yan Anton Ferdian Di Pilkada Langsung Kab Banyuasin 2013, dengan tujuan penelitian untuk Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. mengetahui strategi yang digunakan untuk memenangkan pilkada langsung khususnya di Kab. Banyuasin. (Indah. Amaliatulwalidain, and Isabella 2. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Wahida Intania Sari dengan judul Kontestasi politik: strategi Pemenangan Paslon Faida-Muqit dalam pilkada Jember Tahun 2015. Dengan fokus penelitian yakni: bagaiman strategi partai yang dilakukan partai pengusung dan paslon Faida-Muqit untuk memenangkan paslon Faida-Muqit dalam pilkada serentak Jember 2015, salah satu strategi yang digunakan adalah konsolidasi partai pengusung, pembentukan relawan, kampanye, serta figur kandidat, strategi pemenangan paslon ini yakni figur dan citra diri dimana Faida adalah seorang Dokter yang berkolaborasi dengan Kyai sebagai modal dalam memenangkan pilkada pada tahun 2015. (Sari 2. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Tatik Romahwati . dengan Judul. Dinamika politik pedesaan dalam pemilihan Kepala Desa Masin. Kabupaten Batang Provinsi Jawa tengah, dengan tujuan untuk melihat relasi aktor-aktor yang terlibat dalam pemilihan. Hasil penelitian menunjutkan bahwa masing-masing calon memiliki strategi dalam memenangkan kompetisi tersebut. Seperti masing-masing calon kepala desa menggunakan money politic sebagai strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Selain itu mereka juga menggunakan pendekatan silaturahmi, mengadakan doa bersama, yang pada akhirnya memenangkan Sugianto sebagai kepala desa dengan jumlah suara 50%, calon kedua yaitu Masrur memperoleh jumlah suara 45%, sedangkan Asmilin sebagai calon terakhir hanya memperoleh suara 5% . (Rohmawati 2. Beberapa artikel di atas telah membahas modal sosial dalam kontestasi politik yang hanya berfokus pada strategi yang dilakukan oleh calon dalam kontestasi akan tetapi belum ada yang membahas modal sosial dalam kontetasi politik secara spesifik. Dalam artikel ini penulis mengambil judul AuKekuatan Modal Sosial yang dimiliki Nurdin dalam Kontestasi Politik pada Tahun 2016Ay sehingga terjadi transformasi kepemimpinan kepala desa di desa Kindang Kec Kindang. Kabupaten Bulukumba. Dalam tulisannya ini ada dua pokok permasalahan: pertama: Gaya kepemimpinan sebelumnya, periode 2002-2009 sebagai faktor adanya kegangjalan kepemimpinan sebelumnya sehingga terjadi transformasi. Kedua: Kekutan modal sosial Bonding. Bridging dan Linking kepala desa terpilih pada tahun 2016. Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif dengan mengeksplorasi dan memahami kekuatan modal sosial secara kemprehensif dalam transfomasi kepemimpinan kepala desa tahun 2016. Sementara itu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi. Melong . Lokasi penelitian ini berada di Desa Kindang Kec. Kindang Kab. Bulukumba. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam yang terdiri dari 15 informan, dan 7 diantaranya informan kunci yang ditentukan secara snowball sampling dan juga mewawancarai masyarakat biasa untuk mendapatkan informasi didapatkan dari berbagai sumber dari masyarakat yang terlibat langsung dan mengetahui kontestasi pada tahun 2016. HASIL DAN PEMBAHASAN Kindang adalah sebuah nama Desa yang terletak di Kecamatan Kindang. Kindang adalah salah satu desa dari 13 Desa/Kelurahan yang ada di Kec. Kindang Kab. Bulukumba. Desa Kindang terdiri atas 4 dusun yakni, dusun Sapaya. Mattirodeceng. Cibollo dan Bungayya. Desa Kindang memiliki jumlah penduduk 3. Desa kindang termasuk salah satu desa yang didominasi kekuasaan oleh pihak karaeng. Distribusi kekuasaan hanya bergulir oleh pihak karaeng di bawah ini akan penuliskan akan memaparkan nama-nama yang pernah memimpin desa kindang dari. Paggotting . Bangkona . Alimuddin MAT . Oddang . Awaluddin . Nurdin 2009-20016 di sinilah awal mula terjadinya transformasi kepemimpinan dari masyarakat karaeng ke masyarakat biasa. (RPJMDes, 2. Gaya Kepemimpinan Kepala Desa Periode Tahun 2002-2004 Gaya kepemimpinannya . eadership styl. juga memiliki peran penting untuk menarik modal sosial dari msyarakat. James M. Henslin . alam Manik 2. membagi empat gaya kepemiminan yang sering ditunjukkan oleh para pemimpin. Pertama: Pemimpin otoriter . uthoritharian leade. Kedua: Pemimpin demokratis . emocratic leade. Ketiga: Pemimpin laissez-faire . aissezfaire leade. Pada periode tahun 2002. Temuan yang didapatkan dilapangan menunjukkan bahwa kepemimpinan Kepala Desa pada tahun 2002-2004 dipegang oleh karaeng Oddang. Walaupun dari temuan lapangan ditemukan bahwa keterpilihan karaeng Oddang sebagai kepala desa lebih disebabkan oleh unsur ketakutan masyarakat terhadap ayah karaeng Oddang yaitu karaeng Manna. Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. Salah satu masyarakat yang menyatakan bahwa karaeng Oddang bersifat demokratis dalam memimpin desa Kindang adalah informan yang berinisial (H. B dan A) walaupun ia mengakui bahwa Karaeng Oddang terpilih karena ketakutan masyarakat terhadap karaeng Manna, ayahnya, namun dari segi kepemimpinan, karaeng Oddang menunjukkan kepemimpinan yang lebih demokratis dibanding dengan ayahnya. Karena karaeng Oddang terpilih sebagai kepala Desa ketakutan masyarakat terhadap karaeng Manna waktu itu. Karaeng manna sangat ditakuti, itumi saya buat kubu dengan teman-teman merubah dan alhamdulillah berhenti itu, muncul anaknya karaeng Oddang Bagus dia termasuk bagus sekali itu karaeng Odaang tidak pernah ada marahi dan pendekatannya kepada anak muda bagus. Waktu itu teman-teman katakan kalau ada kepala desa yang sabar maka karaeng Oddang adalah seorang pemimpin yang sabar. Pandangan masyarakat terhadap kepemimpinan yang ditunjukan oleh karaeng Manna memicu pergeseran gaya kepemiminan. Ayahnya terkenal sebagai pemimpin yang masih bergaya otoriter, tergantikan setelah karaeng Oddang mengambil alih kekuasaan sebagai kepala Desa. Karaeng Oddang dikenal sebagai Kepala Desa yang bergaya demokrasi. Hal yang sama juga diutarakan oleh Baha mengenai gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh karaeng Oddang. Karaeng Oddang adalah tipe pemimpin yang menerima segala ide dari masyarakat. Artinya masyarakat memiliki kebebasan untuk berpendapat. Selain itu dalam merancang program kerja. Karaeng Oddang betul betul melibatkan semua BPD dan juga aparat. Karaeng Oddang menggunakan cara musyawarah. Karaeng Oddang ingin mendengar masukan dari para masyarakat, sehingga jika ada salah satu masyarakat yang tidak setuju dengan suatu rancangan kerja, maka rancangan kerja tersebut tidak akan disahkan, karena ia tidak ingin jika ada masyarakatnya yang Selain itu. Karaeng Oddang menunjukkan pelayanan yang sangat memuaskan terhadap masyarakat, ia selalu bersikap ramah terhadap masyarakat. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa karaeng Oddang adalah seorang tipikal pemimpin yang memiliki jiwa terbuka. ia berusaha untuk melakukan transformasi gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh ayahnya yang otoriter ke gaya kepemimpinan yang demokratis, ini tergambar dengan ia membuka hubungan yang baik dengan masyarakat. Akan tetapi dominiasi dan intervensi ayahnya masih kuat. Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. Periode Tahun 2004-2009 Kontestasi politik pada tahun 2004 dan karaeng Awaluddin memenangkan kontestasi tersebut dari ke tiga calon lain terlibat dalam kontestasi tersebut. Ada empat pasangan yang mencalonkan diri sebagai kandidat pilkades desa Kindang yaitu karaeng Awal, karaeng Bahar, karaeng Asli dan karaeng Oddang. Gaya kepemimpian karaeng Awaluddin tak beda jauh dengan kepemimpinan yang dijalankan oleh karaeng Oddang, karaeng Awaluddin juga menunjukkan kepemimpinan yang bergaya demokrasi. Hal ini tergambar dari hasil wawancara dengan informan yang berinisal (H. Karaeng Awal adalah seorang pemimpin yang menerima semua padangan. Karaeng Awal juga menerapkan sistem demokrasi yang dalam putusan yang ia ambil. Ia akan menyetujui suara terbanyak dari masyarakat. Bahkan dalam rapat jika ada salah satu anggota yang memiliki kapasitas untuk memutuskan suatu hasil rapat namun masyarakat tersebut tidak bisa hadir, maka ia tidak langsung memutuskan hasil rapat itu, namun ia akan bertanya terlebih dahulu kepada pihak yang bersangkutan, jika hasil rapat tersebut tidak disepakati, maka hal itu tidak akan disahkan. Gaya kepemimpinan yang ditunjukkan oleh karaeng Awal mendapatakan penilalian yang positif dari masyarakat. Karaeng Awal memberikan suatu kebebasan dan juga ruang kepada seluruh masyarakat baik yang berstatus sebagai karaeng mauapun yang non-karaeng untuk berpartisipasi dalam memajukan Desa Kindang. Selain itu, keterbukaan karaeng Awaluddin terhadap masukan dari masyarakat memberikan kesan positif saat karaeng Awaluddin menjabat sebagai kepala desa Kindang. Periode Tahun 2009-2016 Tahun 2009 merupakan sejarah baru perpolitikan yang terjadi di Desa Kindang. Ini disebabkan karena atmosfer perpolitikan di Desa Kindang menemui titik baru dengan majunya salah satu kandidat yang bestatus masyarakat biasa . ukan karaen. untuk berkompetisi dengan salah satu kandidat yang berstatus karaeng yang telah memimpin Desa Kindang selama beberapa periode. Majunya Nurdin sebagai masyarakat biasa untuk berkontestasi dengan karaeng sebagai lawannya dalam kontestasi pilkades menimbulkan kesan tersendiri kepada masyarakat yang memiliki strata sosial dengan masyarakat biasa. Ia dianggap memiliki keberanian untuk mencalonkan dirinya ditengah keberkuasaan masyarakat karaeng di Desa Kindang. Nurdin Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. terlibat dalam kontestasi pada tahun 2009 tidak terlepas dari dorongan oleh masyarakat waktu itu sebagai orang yang dianggap punya kapasitas dan sekaigus punya kekuatan untuk melawan dominasi karaeng. Dominasi karaeng ternyata meninggalkan citra negatif kepada masyarakat. Pada tahun 2009 bulan sembilan, ada enam calon yang maju dalam kompetisi memperebutkan kekuasaan di Desa Kindang. Diantaranya adalah Nurdin dengan jumlah suara 872. Amir 320 suara, karaeng Bahar 200 suara, karaeng Mancu 140 suara, karaeng Amir 103 suara, karaeng Oddang 50 suara. Di sinilah awal mula dan memberikan angin segar kepada masyarakat, dominasi karaeng terhadap distribusi kekuasaan yang selama ini hanya terdistribusi dari kalangan mereka kini dapat dikalahkan oleh Nurdin. Selama kepemimpinan Nurdin di desa Kindang telah memunculkan berbagai respon negatif dan positif. Gaya kepemimpinan setiap orang pasti berbeda-beda, dan penilaian seseorang terhadap pemimpin juga berbeda. Hal yang sama juga dengan Nurdin, selama kepemimpinan Nurdin, tahun 2009 tak terlepas dari kritikan pedas bagi sebagian orang. Khusus yang terlibat dalam pemerintahan, baik dusun, staf, dan RT. RW merasakan gaya kepemimpinan Nurdin. Gaya kepemimpinan Nurdin, awal ia menjabat sebagai kepala desa tahun 2009 dianggap gaya kepemimpinan sangat demokratis. seperti yang diungkapkan oleh informan yang berinisial (H) Kalau ada masalah masyarakat ia libatkan orang tua, tokoh masyarakat, kalau ada kegiatan masyarakatnya didukung oleh pak Desa. Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Kontrol Sosial Keamanan sebagai Kekuatan Modal dalam Kontestasi Pemilihan Kepala Desa Tahun 2016 Keterlibatan seorang aktor dalam kontestasi politik baik kontestasi pemilihan gubernur, pemilihan legislatif dan pemilihan kepala desa membutuhkan peran modal, habitus serta ranah yang menjadi formula yang harus diperhatikan. Habitus terbentuk dari pengalaman individu yang berhubungan dengan individu yang lain dalam struktur objektif yang ada pada ruang (Chris 2. Nurdin dikenal sebagai mantan preman yang memiliki banyak teman dari berbagai dusun dan juga Desa lain membentuk habitus Nurdin sebagai pemberani. Hal ini juga tergambar saat Nurdin berani melawan karaeng Manna saat pemilihan tahun 2009. Kekutan modal sosial kontrol keamanan menjadi nilai jual Nurdin dalam kontestasi pilkades tahun 2016. Kepuasan masyarakat saat Nurdin menjabat sebagai kepala desa menjadi kekuatan dalam merekontruksi persespsi masyarakat. Selain itu. Nurdin juga mampu Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. mengetahui soal kebutuhan masyarakat, bahwa di desa Kindang yang perlu ditangani secara serius adalah masalah keamanan. Dan calon lain masyarakat belum percaya bahwa mereka bisa mengontrol kemananan di desa Kindang ketika mereka menjadi kepala desa. Justru. Nurdin mendapatkan trust masyarakat bahwa hanya dia yang mampu melakukan itu pada saat penyampaian visi misi. Karaeng Amir dengan nomor urut 01 sebagai calon pertama yang menyampaikan visi misinya di depan masyarakat dengan waktu kurang lebih lima menit. Visi Misi karaeng Asli waktu itu hanya satu, yaitu hanya dibidang keagamaan sebagaimana diungkapkan oleh informan yang berinisial (B). Visi-misinya keagamaan, saya tidak pilih waktu karaeng Asli karena visi misinya hanya satu yaitu, memperbaiki masjid. Makanya saya tidak pilih waktu itu karena visi misinya Cuma satu, waktu saya pilih karaeng Bahar, pertama karena saya liat pak desa Nurdin waktu menjabat priode pertama diktator kalau kareang Bahar ini naik karena dia bisa kita memberikan masukan. Visi misi setiap calon ternyata sangat berpengaruh terhadap pemilih dalam menentukan hak pilihnya. Penyampaian visi misi merupakan arena dalam memperebutkan citra positif di mata masyarakat. Visi misi karaeng Asli ternyata tidak menuai perhatian dan dapat meyakinkan masyarakat untuk memilihnya, sebagaimana ungkapan di atas bahwa pemilih tidak memilih karaeng Asli karena visi misinya hanya satu yaitu dalam bidang keagamaan. Begitu juga visi misi Ishak sebagaimana yang diugkapkan oleh Ishak sendiri: Visi misi yang saya tawarkan kepada masyarakat pada saat itu adalah pelayanan prima bagi masyarakat 24 jam dan pembangunan di Desa kindang Berbeda halnya visi misi Nurdin sebagai calon pilkades dengan nomor urut 03, dengan AuVisi Misi, pembangunan dan keamananAy yang ternyata menuai respon positif dalam Nurdin dengan simbol ke premanismenya sebagai modal yang dapat meyakinkan masyarakat atas kemampuannya menangani masalah keamanan di desa Kindang. Sebagaimana diungkapkan oleh informan. Parman dan Harun di bawah ini: Kenapa banyak pilih Nurdin karena dia memiliki visi misi untuk menjaga keamanan di desa Kindang. Kalau dibandingkan empat calon. Nurdin paling layak, karena ia mampu menjaga kemananan di kampung, itulah yang dipikirkan masyarakat soal Selain itu keluarga yang jadi alasan dan memang dia layak karena mampu mengantisipasi kemamanan di kampung sementara calon lain saya masih ragu. Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. Keamanan Bangkona. keamanan,pencuri, sama dengan pasca pak Ali Muddin jadi kepala desa, ,memang banyak pencuri. Setelah Pak Aji Alimuddin digantikan oleh karaeng Oddang sudah mulai Aman. Kalau zamannya A. Oddang hanya Satu Ekor sapi dicuri. Zamannya karaeng Awal ada barangkali tapi tidak seberapa juga. Kaeang Awaluddin kekuatannya pada masyarakat, bukan disegani sama orang tapi dia itu pribadinya sehingga orang mendukung dia dan artinya aman. Karena memang waktunya karaeng Bangkona dan Aji Alimuddin memang zamannya pencurian. Jaminan keamanan yang disampaikan oleh Nurdin menjadi daya tarik masyarakat untuk memilih Nurdin. Hal ini dikarenakan sebelum periode Nurdin. Desa Kindang termasuk desa yang memiliki keamanan yang cukup rendah. Banyak terjadi pencurian hewan ternak yang sangat meresahkan masyarakat. Termasuk pada priode kepemimipan karaeng Bangkona. Alimuddin dan karaeng Awaluddin. Terjadi kasus pencurian sehingga dengan munculnya Nurdin sebagai kepala Desa yang menawarkan pemecahan atas masalah tersebut mampu membawa Nurdin untuk memenangkan kontestasi politik ini. Setelah Nurdin terpilih pada periode pertama saat pencalonannya sebagai kepala desa ternyata masyarakat mengakui bahwa pembangunan yang dilakukan oleh Nurdin masih sangat Namun hal itu ternyata tidak menyurutkan modal Nurdin untuk terpilih kembali sebagai calon kepala desa pada periode selanjutnya. Nyatanya. Nurdin kembali berkompetisi dan memenangkan kontestasi politik ini. Hal ini sebagaimaana yang disampaikan oleh informan yang berinisial (P) Kepercayaan masyarakat terhadap Nurdin. pertama, orang berpikir dalam kepemimpinannya Nurdin dari segi pembangunan kurang memuaskan tapi dari ketenangan dalam wilayah artinya aman dari perampok sehingga orang memilih dia, dari ketiga calon itu hanya Nurdin yang bisa meruntuhkan karaeng. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hasan Saya pilih Nurdin karena masalah keamanan dan ingat jasa-jasanya, kampung juga tenang, tenang tidur, tidak ada beban. Dulu kacau pencuri. Kuda. Sapi, dulu kudanya karaeng Arcak dicuri, selama masuk pak desa (Nurdi. tidak ada pencuri. Dulu siang malam ronda di dekat sekolah waktu zaman pemerintahannya pak Alimuddi MAT dan Saya rasakan sekali dulu waktu zamannya karaeng Awaluddin. Dulu, pencuri banyak sekali dan setelah masuk pak desa selama dua priode tidak pernah ada kudengar Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. kecuarian sapinya orang sedangkan sapinya orang jauh semua di area tempat tinggal Tapi, tidak ada yang curi sejak pak desa jadi kepala desa. Mengingat, desa Kindang salah satu desa mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai peternak Sapi. Kuda dan Ayam. Hal itu menjadi pertimbangan masyarakat atas keamanannya. Mengingat. Hal ini bisa kita lihat populasi ternak yang ada di desa Kindang pada tahun 2016. pupulasi Sapi sebanyak 548 ekor. Kuda sebanyak 67 ekor, ayam sebanyak 812 ekor. (BPS Kabupaten Bulukumba 2. Tentu, dengan jaminan keamanana yang dijanjikan oleh Nurdin menjadi nilai jual dalam masyarakat. Berbeda misalnya dengan beberapa calon lain masih diragukan untuk menangani masalah kemamanan di desa Kindang. masyarakat terhadap calon lain dalam mengantisifasi keamanan di desa Kindang, khususnya masalah pencurian sehingga masyarakat menjatuhkan pilihannya untuk memilih Nurdin sebagai calon yang layak dan bisa dipercaya . Sebagaimana yang dikatakan oleh Informan Hasan bahwa: Kkalau karaeng saya rasa tidak bisa dan saya kurang yakin bahwa bisa aman kampung kalau dia yang memerintah. Kurangnya tingkat percayaan mereka terhadap karaeng dalam mengantisipasi pencurian di desa Kindang adalah salah satu faktor sehingga masyarakat tidak memilih karaeng Bahar dan karaeng Asli, begitupun juga dengan Ishak sebagai salah satu calon yang juga merupakan sarjana muda menyampaikan visi dan misinya untuk memberikan pelayanan prima bagi masyarakat 24 jam dan juga untuk membangun Desa Kindang. Hal ini disampaikan sendiri oleh calon (Isha. salah satu calon tahun 2016. Visi misi yang saya tawarkan kepada masyarakat pada saat itu adalah pelayanan prima bagi masyarakat 24 jam dan pembangunan di Desa kindang. Penawaran visi misi Ishak kepada masyarakat dalam hal pelayanan dan juga pembangunan tidak mampu menarik simpati masyarakat. Disamping visi dan misi yang dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Ishak juga sebagai calon termuda dianggap oleh masyarakat belum memiliki kemampuan untuk memimpin desa Kindang. Gelar sarjana belum mampu menjadi daya tarik untuk memunculkan trust Hal ini disampaikan oleh informan yang berinisial (B) bahwa: Saya tidak pilih ishak, saya terus terang dia memang sarjana tapi dia masih muda dan jiwa muda itu ada dua kemungkinan pertama apakah dia bisa menerima masukan atau tidak karena jiwa muda itu biasnya tinggi egoisnya apalagi ishak itu waktu menyampaikan visi-misi bahasanya masih kurang meyakinkan. Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. Calon kepala Desa selanjutnya adalah karaeng Bahar yang menawarkan visi misi untuk memecahkan masalah pendidikan untuk lansia dan juga menyediakan mobil sehat untuk masyarakat yang sewaktu-waktu bisa digunakan bagi yang membutuhkan. Namun sekali lagi hal ini tidak menjadi penarik bagi masyarakat desa Kindang untuk memilih karaeng Bahar karena citra orang tua menjadi alasan masyarakat untuk memilihnya, menurut salah satu informan yang berinisial (M). Karaeng Bahar kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat karena melihat masalah lalu, waktu orang tuanya menjabat sebagai pelaksana pemerintah yaitu karaeng Toting yang banyak sekali orang merugikan masyarakat. Tidak tajam ujung badiknya tapi tajam ujung pulpennya, maksudnya banyak masyarakat yang ia rugikan. Hal ini memicu pesan berantai kepada masyarakat lain mengenai kepemimpinan yang dilakukan oleh orang tua karaeng Bahar dahulu. Ini menyebabkan ia mengalami kekalahan dari Nurdin . Hal ini menandakan bahwa rekonstruksi modal sosial bagi para calon kepala desa mulai dari latar belakang keluarga calon, penyampaian visi misi, bahasa yang digunakan, kematangan umur dan penilaian masyarakat terhadap kamampuan memimpin juga sangat berpengaruh untuk merekonstruksi modal sosial calon kepala desa. Citra negatif terhadap karaeng Bahar telah tersebar luas kepada masyarakat bahwa orang tuanya telah banyak yang merugikan masyarakat Kekutan Modal Sosial Jaringan dalam Kontestasi Politik Tahun 2016. Jaringan dalam konteks pemilihan kepala desa merupakan kekuatan yang dapat melancarkan jalannya suatu harapan atau kepentingan individu atau kolompok. Salah satu media yang paling ampuh untuk memperluas jaringan adalah pergaulan. Arti jaringan dalam konteks modal sosial merujuk pada hubungan dengan orang atau kolompok lain yang memungkinkan pengentasan masalah dapat berjalan secara efesien dan efektif dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Field, . Personalitas Nurdin yang sangat ramah ke masyarakat, hal itu terbukti ketika saya beberapa hari bersama dengan beliau. Dalam perjalanan tersebut, ia senantiasa membunyikan klakson mobilnya ketika bertemu dengan masyrakat bahkan tidak hanya itu, ia malahan berhenti dan menyapa masyarakat. perilaku tersebut sangat kental dalam kepribadian Nurdin, dari segi pergaulan juga ia termasuk orang yang banyak berinteraksi dan terjung langsung ke masyarakat sebagaimana yang diungkapkan oleh informan yang berisial (H). Banyak temanAy tingkat interaksi Nurdin salah satu modal sosial dalam mendukung kemenangannya pasca pilkades tahun 2016. Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. Modal Sosial Bridging. Bonding dan Linking Kepala Desa tahun 2016 Pilkades tahun 2016 yang diselenggarakan pada tanggal 26 April telah berlangsung pemilihan kepala desa dengan total jumlah pemilih sebagai berikut: Tabel. Jumlah Pemilih Pada Tahun 2016 Laki-laki Perempuan Jumlah Keseluruhan Sumer: Ketua KPPs Desa Kindang. Jumlah pemilih dengan tingkat partisipasi masyarakat mencapai 90%. Di bawah ini kita dapat melihat presentasi jumlah suara dari setiap calon pilkades tahun 2016. Kontestasi politik tersebut dapat dimenangkan oleh Nurdin dengan memperoleh 980 suara. Ishak hanya memperoleh suara 400. karaeng Bahar memperoleh suara 580 dan karaeng Asli memperoleh 19 suara. Melihat presentasi jumlah suara calon di atas. Maka, posisi Nurdin sebagai calon incumbent dapat memperoleh suara yang paling banyak diantara ke empat calon tersebut, ini menandakan kuatnya modal sosial Nudin. Kekuatan Bonding Calon Kepala Desa 2016 Modal sosial . ocial capita. mempunyai beragam makna. Dalam Ilmu Ekonomi modal bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menguntungkan atau menghasilkan. Menurut Hanifan, elemen yang termasuk kedalam modal sosial adalah kemauan baik, rasa bersahabat, saling simpati, serta hubungan sosial dan kerjasama yang erat antara individu dan keluarga yang membentuk suatu kelompok sosial (Syahra 2. dalam istilah Ibnu Khaldun hal tersebut disebut sebagai perasaan kelompok atau kohesi solidaritas . yang dapat mengalahkan mereka yang telah kehilangan kohesifitasnya. Ashabiyah berarti mengikat, secara fungsional ashabiyah menunjuk pada ikatan sosial budaya yang menekankan pada kesadaran, kepaduan dan persatuan kelompok. (M. Fahim 2. Kesamaan identitas dan munculnya sentiment primordial seperti kesamaan suku, dan ikatan kekeluargaan sebagai pengikat sosial adalah salah satu faktor dominan yang menentukan kemenangan seorang calon. Kesamaan ini melahirkan beban moral untuk saling monolong, kerja sama dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya untuk mempertahankan eksistensi kolompoknya dan menimbulkan kepercayaan yang sangat kuat antara satu dengan yang lain. Hal ini juga terjadi pada pemilihan calon kepala desa tahun 2016. Nurdin yang keluar Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. sebagai pemenang ternyata memiliki bonding yang kuat dengan masyarakat Desa Kindang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh informan yang berinisial (HB) dan (H) bahwa: Nurdin itu banyak keluarganya, bahkan di sini (Sapayy. hampir semua keluarganya dan kalau mattirodeceng keluarga besarnya istrinya pak desa. Dari hasil wawancara diatas terlihat jelas bahwa hal yang mendukung kemenangan Nurdin sebagai kepala Desa yaitu jumlah keluarga yang dimiliki di dua dusun di Desa Kindang, yaitu Sapayya dan Mattirodeceng. Keluarga istri Nurdin juga memberikan dukungan di dusun Mattirodeceng terhadap pencalonan Nurdin sebagai kepala Desa. Kehadiran Ishak sebagai calon baru dan mewakili anak muda, ternyata tidak mampu memunculkan trust di mata masyarakat. Kehadiran Ishak sebagai representasi kaum muda Justru karena usia yang masih relatif muda yang menjadi penyebab ketidakpercayaan masyarakat desa Kindang baik itu dari keluarganya maupun masyarakat etnis Sehingga masyarakat sesama etnis biasa dan juga keluarganya lebih memilih Nurdin sebagai calon dianggap punya kapasitas dalam memipin desa Kindang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh informan yang berinisial (H. B) dan senada yang diungkapkan oleh Harun. Padangan orang masih anak-anak sehingga tidak mendukung kesitu. Ishak dianggap sebagai anak-anak artinya sebagai pemimpin harus dianggap layak dan bagaimana kalau anak-anak. Kepercayaan Ishak sangat kurang misalnya keluarganya justru memilih Nurdin meskipun satu rumpung dengan Nurdin tapi mungkin keluarga merasa bagaimana caranu marenta punna ananajako akhirnya memilihi Nurdin. Posisi dua calon yang notabenenya berasal dari dusun Bungayya yaitu karaeng Bahar dan karaeng Asli. Kedua calon tersebut masih memiliki hubungan keluarga, akan tetapi masuknya karaeng Asli dalam kontetasi politik pada tanggal 26 April tahun 2016 salah indikator bahwa terjadi ketidakharmonisan diantara mereka yang juga berdampak pada kekalahan pasca pemilihan kepala desa tahun 2016. Sebagaimana diungkapkan oleh informan yang berinisial (B) Karaeng Asli sepupu dengan karaeng Bahar, begini sebenarnya itu karaeng Bahar kan tiga kali ikut mencalonkan kepala desa pada saat pemilihan ke tiga karaeng Asli juga mau masuk tapi karaeng Bahar masuk Juga sehingga karaeng Asli berkesimpulan kapan saya ini mau masuk. Kekalahan karaeng Bahar dalam kontestasi tahun 2016 disebabkan bebrapa faktor. Sebagaimana diungkapkan oleh Informan yang berinisial (B) Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. Kelemahannya karaeng Bahar kurang merangkul masyarakat kurangi dia, dari segi bentuk dana kurang, karena bahasa-bahasa yang lalu banyak juga yang tidak suka. Masalah-masalah yang lalu itu banyak tidak disukai masyarakat misalanya tidak sama ide, itu persoalan-soalan dulu. Kr bahar juga keluarga besar yang tinggal dua dusun. Cibollo dan Bungayya kahkan keluarganya karaeng Bahar ada yang tidak memilih misalnya nummang. Nummang itu keluarganya karaeng Bahar tapi lebih memilih Nurdin karena satu ideki sama Nurdin,Nurdin hanya temanna, tapi lebih nasuaki Nurdin, dan sekitar dua persen karaeng mendukung Nurdin waktu pemilihan kepala Desa Tahun 2016 lalu. Hal yang sama diungkapkan oleh Edi Periode kedua misalnya karaeng Ramme dan karaeng Guling memilih pak desa (Nurdi. semetara mereka ini keluarga dengan karaeng Bahar, tapi karena pecah akhirnya pilih Nurdin. Lemahnya bonding yang dimiliki oleh karaeng Bahar dan karaeng Asli nampak terlihat dari penuturan informan. Bonding kesukuan dan kekeluargaan yang lemah dan terjadinya perpecehan kekeluargaan yang menyebabkan kekalahan pihak karaeng. Modal Sosial Bridging Calon Kepala Desa 2016 Kekuatan modal sosial bridging juga turut berpengaruh dalam keterpilihannya. Kekuatan Bridging . sosial merupakan salah satu kekuatan modal sosial yang mampu menjembatani atau menyambung relasi antar individu dan kolompok yang berbeda identitas asal, baik perbedaan status, agama dan suku. Karakteristik dari bridging sosial adalah sifat keterbukaan dan fleksibel, kebersamaan, kebebasan, nilai-nilai kemajemukan dan (Abdullah 2. Salah satu yang bisa menjadi modal bridging . Nurdin adalah image baik yang berasal dari keluarganya. Perilaku dan sikap keluarga Nurdin juga berkontribusi terhadap keputusan masyarakat untuk memilih Nutdin. Sebagaimana yang diungkapkan oleh informan yang berinisial (H. S) dan (AM) Kalau masih masuk Nurdin saya tetap pilih Nurdin karena kelurganya juga baik. Dan tidak akan pilih karaeng kalau ada yang masuk karena itu ingat masa lalu. Image keluarga yang baik yang dimiliki oleh Nurdin mampu menjadi jembatan kepada masyarakat untuk memilih Nurdin. Hal ini disebabkan oleh kepemimpinan kepala desa yang dirasakan oleh masyarakat biasa yang jauh dari ekspektasi mereka. Berbeda imege karaeng Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. yang telah kehilangan kepercayaan masyarakat karena dampak dari Kepemimpinan karaeng yang menimbulkan trauma selama periode kepemimpinan karaeng di masa lalu. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh informan yang berinisial (H) Salah satu tindakan yang dianggap penindasan oleh mayoritas masyarakat adalah terjadinya beberapa pemukulan yang dilakukan oleh karaeng Manna waktu itu salah satu warga yang dipukuli waktu itu adalah. Tibai. Poto,Romba saat proses pembangunan jalan. Kelemahan pada sisi bridging juga cukup menjadi faktor kekalah karaeng Bahar, kurangnya interaksi dalam masyarakat, khususnya di dua dusun. Mattirodeceng dan Sapayya, sebagaimana diungkapkan oleh informan yang berinisial (A). Kalau karaeng Bahar baik orangnya, kalau saya, humoris juga orangnya. Tapi kurang kurang bermasyarakat, artinya banyak kenal tapi kenal-kenal Namanya saja dan tidak terlalu akrab kemasyarakat dari dua dusun, sapayya dan mattirodeceng. Hal yang sama diungkapakan oleh Hasan (RT) Waktunya pemilihan dulu karaeng Bahar tidak tidak pernah jalan-jalam ke dusun Mattirodeceng dan Sapayya. Jadi, tidak akrab dengan masyarakat. Faktor lain menjadi kekalahannya karaeng Bahar adalah tidak adanya tim sukses di dusun Mattirodeng dan dusun Sapayya sehingga menuai kekalahan pasca pemilihan tahun 2016 sebagaimana diungkapakan oleh informan (H). Tim suksesnya karaeng Bahar. Tidak ada tim suksesnya di Sapayya dan dusun Mattirodeceng Tidak adanya tim sukses sebagai modal sekaligus sebagai sarana untuk menjembatani dalam memperoleh dukungan masyarakat khusus di dusun Mattirodeceng dan dusun Sapayya menjadi sumber kekalahannya. Selain itu, kurangnya interaksi karaeng Bahar ke masyarakat dan Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hasan sebagai RT. Aukaraeng Bahar juga kurang dipercaya oleh masyarakat disekitar Rt satu sehingga kurang pilihAy Kekuatan Linking Calon Kepala Desa 2016 Modal sosial yang terkahir yang juga turut berpengaruh terhadap keterpilihan kepala Desa adalah Sosial Linking berupa hubungan/ jaringan sosial dengan beberapa level dari kekuatan modal sosial dan status sosial yang ada dalam masyarakat. Merupakan hubungan sosial yang dikarakteristikan dengan adanya hubungan dengan beberapa level kekuatan sosial Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. maupun status sosial yang ada dalam masyarakat. Misalnya hubungan antara masyarakat dengan elit politik dengan masyarakat umum dalam hal ini elit politik yang dipandang layak sebagai public figur tokoh dan mempunyai status sosial yang berbeda dalam (Suparman 2. Pak desa itu banyak sekali temannya . sebagaimana yang diungkapkan oleh informan Edi Selain itu, yang mendukung Nuddin pak Rk dan juga perpengaruh di Angruling dan dia termasuk keluarga besar dan dulu pemihak ke Nurdin dan suara besarnya dulu Nurdin Sapayya seandainya suara di Sapaya lari sekitar 50 persen tidak ada apa-apanya Nurdin, kan suara terbanyak di desa Kindang Kan Sapaya dan suara Mattirodeceng 20 persen lari maka Nurdin tidak menang waktu itu. Pemilih di Sapayya itu tujuh ratus lebih dan termasuk pemilih terbanyak sapayya itu di desa Kindang. Mattorodeng enam ratus lebih. Salah satu kekutan modal sosial bridging yang dimilikih oleh Nurdin adalah karena tokoh masyarakat yang memiliki jabatan yang sangat strategis seperti yang diungkapkan oleh Edi di atas bahwa Nuddin didukung oleh rukun keluarga dan memiliki basis keluarga dan termasuk memiliki keluarga besar yang berdomisili di dusun Sapayya (Angrulin. dan pemilih terbanyak di desa Kindang adalah dusun sapayya. Hal ini bisa kita lihat jumlah pemilih setiap dusun di desa Kindang. Sebagaimana yang diungkapakan oleh Mahdi Nawir sebagai Ketua KPPs Desa Kindang adalah: Dusun Bungayya total jumlah pemilih 414, dusun Cibollo jumlah pemilih sebayak 600, dusun Mattirodeceng sebanyak 736, sedangkan dusun Sapayya jumlah pemilih Tokoh masyarakat yang pengaruh di desa yang mendukung Nurdin di Mattirodeceng adalah Darman sebagai anggota BPD. Haji Pabo dan Hasan sebagai RT di dusun Bungayya mereka inilah masing-masing memiliki keluarga besar di desa Kindang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Edi. Dan di Mattirodeng yang bergerak dulu itu, termasuk Darman (BPD) HajiMusa juga masih memilih Nurdin, haji Pabo. Dulu itu yang mendukung di Bungayya termasuk pak dusun dengan Pak RK dan pak dusun juga termasuk keluarga besar di sana dan juga pak Hasan (R. termasuk keluarga besar juga di Bungayya. Hal yang sama diungkapkan oleh Hasan sebagai RT di dusun Bungaya saya di sini keluargaku ke pak desa semua na pilih. Cuma dirahasiakan karena jaga perasaan calon lain dan saya yakinkan Nurdin bahwa suaraku pasti ke kita dan Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Keterpilihan Kepala Desa Kindang Kec. Kindang. Kab. Bulukumb. memang bagus sekali hubungannya Nurdin di masyarakat kalau di sini. Pak dusun di sini di Bungayya na pak desa Juga napilih dan banyak juga kelaurganya natarik untuk memilih pak desa na sekitar dua ratus di sini di bungayya pilih pak desa. Bahhkan keluargaku saya bilangi bahwa bagaimana kalau kita bersatumimaki pilih pak desa (Nurdi. karena sudahmi juga kirasakan caranya memerintah bahwa kita amanjaki di kampung soal ternak aman juga. Akhirnya, bersatu memilih Nurdin, kalau tidak bisa menang, berapa lagi tambahannya suara kalau kita bersatu kalau kita pilih na sekitar dua ratus suara kalau kita bersatuki dan tidak adaji juga celahnya Nurdin. KESIMPULAN Kindang adalah salah satu desa yang ada di Kabupaten Bulukumba yang memiliki ciri khas dalam strata sosialnya, dimana terdapat dua kategori yaitu: karaeng . dan maradeka . Dalam hal kepemimpinan Kepala Desa sebelumnya didominasi oleh karaeng. Kindang telah lama dipimpin oleh pihak karaeng dengan gaya kepemimpinan lebih demokrasi yang diterapkan oleh karaeng Oddang, karaeng Awaluddin dan Nurdin, akan tetapi intervensi karaeng Manna waktu itu sangat kuat sehingga meninggalkan citra negatif terhadap Salah satu faktornya terjadinya transformasi kepemimpinanan adalah Nurdin sebgai calon yang mampu mengalahkan pihak karaeng dan mampu menangani keamanan di Desa Kindang. Citra positif karaeng telah terjadi distrust dan streotipe negatif terhadap mereka karena dampak kepemimpinan sebelumnya. Ikatan kekeluargaan Nurdin sangat kuat dibandingkan dengan dengan masyarakat karaeng. Kekuatan modal sosial bonding,bridging dan lingking sangat kuat dibandingkan dengan calon-calon lain. Mayoritas masyarakat tidak mau lagi dipimpin oleh karaeng. Saran Masyarakat harusnya mulai terbuka dan melihat figur sosok pemimpin yang layak dalam memimpin desa Kindang, tidak hanya melihat kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk menolak calon lain sebagai orang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu. Hanya persoalan kekejaman yang dilakukan oleh oknum yang harusnya tidak digeneralkan kepada semua masyarakat yang berstatus bangsawan . Journal of Administrative and Social Science - Volume 6 Nomor 2. Juli 2025 e-ISSN : 2828-6340. P-ISSN: 2828-6359. Hal. Ikatan primordialisme seharusnya bukan lagi alasan dalam memilih pemimpin, akan tetapi dengan alasan kapasitas dan integritas sebagai alasan untuk memilih pemimpin sehingga demokrasi dalam konteks lokal bisa terealisasi sesuai yang di cita-citakan bersama. DAFTAR PUSTAKA