Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Sustainable Development Goals (SDGS) dan Indonesia Maju: Dakwah Tasawuf Sebagai Model Moderasi Kebangsaan Sholahuddin1. Sadari2 INISA Tambun Bekasi1. IPRIJA Jakarta Timur2 sholahuddin@gmail. com, sadari@gmail. ABSTRACT This research aims to analyze the da'wah of Sufism as a model of nationality in the Sustainable Development Goals for an advanced Indonesia This research is classified as qualitative with the theory plus phenomenological approach developed by Jonathan A. Smith. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving leaders in Penajam Paser Utara. The data that has been collected is analyzed with phenomenological steps, namely: . reading and rereading, . initial noting, . developing emergent themes, . searching for connections across emergent themes, . moving the next cases, . looking for pattenrn across cases. The results showed that tasawuf da'wah also uses normative law, starting from legal materials in the form of Laws. Presidential Regulations. Regulations of the National Research and Innovation Agency (BRIN). National Research Master Plan (RIRN), and RPJMN which are in line with Sustainable Development Goals (SDGS) for advanced Indonesia, of course with the concept of tasawuf da'wah as a model of understanding from religious moderation to national moderation with a maqasyid sharia approach and so far Indonesia is still struggling with religious moderation not yet reaching national moderation, so, the results are still repressive. Keywords: Da'wah Tasawuf. SDGS. Advanced Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis dakwah tasawuf sebagai model kebangsaan pada Sustainable Development Goals untuk Indonesia maju Penelitian ini tergolong kualitatif dengan teori plus pendekatan fenomenologi yang dikembangkan oleh Jonathan A. Smith. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi secara mendalam melibatkan para tokoh di Penajam Paser Utara. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan Langkahlangkah fenomenologis yakni: . reading and rereading, . initial noting, . developing emergent themes, . searching for connections across emergent themes, . moving the next cases, . looking for pattenrn across case. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah tasawuf juga menggunakan hukum normatif, mulai dari bahan hukum berupa UndangUndang. Peraturan Presiden. Peraturan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), dan RPJMN yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGS) untuk Indonesia maju, tentunya dengan konsep dakwah tasawuf sebagai model pemahaman dari moderasi beragama menuju moderasi berkebangsaan dengan pendekatan maqasyid syariah dan selama ini Indonesia masih berkutat pada moderasi beragama belum sampai ke moderasi berkebangsaan, sehingga, hasilnya masih bersifat represif. Kata Kunci: Dakwah Tasawuf. SDGS. Indonesia Maju 1646 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari suku, ras dan agama, yang berbeda-beda sehingga diperlukan toleransi dalam memahami semua perbedaan yang ada, begitu juga pada lembaga pendidikan kultur warganya juga beraneka Oleh sebab itu moderasi beragama sangat tepat sekali diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pada masyarakat yang multikultural. Moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam mengadapi perbedaan baik kelompok ekstrem maupun fundamental. Untuk menerapkan moderasi beragama di masyarakat multikultural yang perlu dilakukan adalah. menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis laboratorium moderasi beragama dan melakukan pendekatan sosio-religius dalam beragama dan bernegara (Edy Sutrisno, 2. Penelitian ini menawarkan konsep baru untuk memahami dinamika kontemporer di Indonesia yakni dari konsep dakwah tasawuf sebagai model moderasi beragama beranjak menuju ke moderasi kebangsaan. Kedepan dunia tasawuf menjadi perhatian penting dalam dunia muslim ataupun orientalis, terlihat tumbuh subur dalam beberapa majelis pengajian tasawuf dimana-mana dalam masyarakat Indonesia. Karena tasawuf memiliki prinsif-prinsif yang positif yang mampu menumbuhkan masa depan masyarakat menuju arah yang lebih bermoral (Abu Al-Wafa Al-Taftanjani, 1. Strategi dari Sustainable Development Goals (SDGS) dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang merupakan suatu negara berkembang yang masih memiliki beberapa masalah dalam kondisi dan kualitas pendidikannya yang belum sepenuhnya memadai dan merata. Lalu melihat bagaimana kondisi pendidikan saat ini dan bagaimana pula peran pemerintah dalam mengatasi hambatan-hambatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Diharapkan dengan adanya program SDGS dapat mengatasi permasalahan pendidikan yang masih belum merata serta dapat meningkatkan kualitasnya demi menjadikan bangsa Indonesia lebih maju (Alvira Oktavia Safitri dkk, 2. Problema di masyarakat yang sering muncul adalah kesalahan dalam memahami tasawuf. Bahkan sebagian umat memandang tasawuf sebagai hal yang sangat moderat sehingga tidak membuat manusia memiliki gairah dalam hidup. Untuk itu diperlukan tindakan oleh pendakwah Islam dalam meluruskan hal ini, sehingga masyarakat dapat menikmati konsepsi yang benar tentang tasawuf. Tasawuf yang meiliki muatan pendidikan keimanan, keislaman, dan keihsanan menghasilkan output insan kamil yang berakhlak mulia sebagai manifestasi ibadah yang mempedomani Rasulullah SAW. sehingga mencagah kekeringan spiritualitas Integrasi tasawuf dalam proses dakwah dengan olah ruhaniyahnya menjadi satu jawaban yang bisa menstabilkan kondisi krisis ruh ilahiyah pendidikan modern yang individualistik-matrialistik sekularistik. Muatan kekhusyukan dalam beribadah, mencintai dengan penuh pehun keikhlasan pada kehidupan alam tasawuf adalah bagian terpenting untuk diungkap dan diterapkan. Sejalan dengan itu, insan kamil yang mampu membangun peradaban yang harmoni bagi kemanusiaan akan terwujudkan (Hotna Sari, 2. 1647 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tasawuf mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya, menyikap tabir pembatas antara Tuhan dan manusia. Internalisasi tasawuf dalam dakwah menjadikan manusia tidak hanya ingat kepada Tuhan, namun berusaha agar bisa dekat dengan-Nya (Jauharotina Alfadhilah, 2. Dan untuk menjalankan ibadah dengan penuh khusyuAo serta berakhlak baik, metode dakwah yang dilakukan dengan cara melaksanakan muzakarah tauhid tasawuf, zikir dan ratib siribe, pengajian dari rumah ke rumah dan metode dakwah fardiyah (Aditya Engelen, 2. Kegiatan dakwah terkait dengan berbagai elemen yang tidak hanya melibatkan para pengkhotbah . dan madAou, tetapi juga unsur-unsur lingkungan yang mengelilingi kegiatan ini. Kegiatan dakwah sebagai suatu sistem mengandung input, konversi, output, umpan balik, dan lingkungan yang mempengaruhi satu sama Salah satu contoh kegiatan dakwah sukses yang mengambil peran besar dalam mengembangkan Islam di Indonesia adalah dakwah sufi yang dimulai sejak awal Islam di Nusantara ini. Tampaknya sufi dakwah masih sangat relevan dengan masyarakat saat ini, seperti jenis dakwah bermotif spiritualitas aktif, moralitas sosial, dan inklusif (Joko Tri Haryanto, 2. Tarekat yang semula berkiprah dalam bidang pendidikan spiritual muslim yang concern dalam pembentukan mental salih yang sering dipahami sebagai sebuah kelompok tertutup dan cenderung mengasingkan diri. Bahwa berbagai peran tarekat dalam mengembangkan dakwah Islam dengan berbagai macam cara diantaranya adalah dengan peran pendidikan, peran sosial dan ekonomi, serta peran sosial-politik dan militer. Kalau dilihat lingkup yang diperankan tarekat dalam panggung kehidupan sosial-historik ini cukup kompleks, dan juga berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman (Agus Riyadi, 2. Maka dakwah melalui pemikiran tasawuf dianggap sebagai dakwah yang sangat berhasil dalam meningkatkan kualitas keislaman masyarakat dunia khususnya masyarakat Indonesia. Dakwah sufiyah penuh dengan tasamuh, kelembutan, dan menyentuh hati, sehingga dakwah tasawuf di dalam kehidupan sosial memiliki pengaruh signifikan untuk mengentaskan problematika sosial yang ada di tengah masyarakat serta dapat meningkatkan kualitas keislaman. Dengan demikian maka tasawuf menempatkan posisi sebagai solusi terhadap krisis moral. Setelah memahami sederet kajian di atas maka penelitian ini kemudian berusaha untuk melakukan proses implementasi dari suatu kebijakan kemudian dihubungankan dengan pembangunan berkelanjutan atau biasa disebut Sustainable Development Goals (SDGS). SDGS kemudian dijadikan sebagai parameter . aya uku. dalam penelitian ini, dimana cita-cita terbesar negara Indonesia adalah program jangka panjang. Tujuan SDGS yang dimaksud adalah memaksimalkan semua potensi . otensi sumber daya alam dan sumber daya manusi. yang dimiliki oleh negara Indonesia dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan (Fahmi Irhamsyah. Visi dari SDGS adalah pertama, mengacu pada 3 . pilar yaitu pilar ekonomi, sosial dan lingkungan dan tata kelola. Kedua, tujuan SDGS terdiri dari 17 tujuan besar ( Ketiga, 17 tujuan yang ingin dicapai oleh SDGS adalah tujuan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Keempat, hal ini memiliki arti bahwa pembangunan berkelanjutan ditujukan untuk semua kalangan, sehingga diharapkan 1648 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. tidak ada 1 golongan atau orang pun yang tidak maju atau tertinggal. Kelima. Dalam hal mencapai 17 tujuan SDGS, maka perlu adanya kerjasama atau bersinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarat, enterprenuer, lembaga pendidikan dan masyarakat (Emil Salim, 2. Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa dakwah tasawuf sebagai model kebangsaan pada Sustainable Development Goals untuk Indonesia maju. Dan mempunyai tujuan penelitian untuk menganalisis model kebangsaan sebagai rujukan model dalam dakwah tasawuf menuju Sustainable Development Goals untuk mewujudkan Indosenia maju. Semua kajian awal penting dilakukan dikarenakan untuk itu perlu adanya model dakwah tasawuf agar masyarakat Indonesia tidak terkendala banyak hal dalam mempersiapkan Indonesia maju untuk menghadapi sustainable development Oleh karena itu penting untuk mengkaji dakwah tasawuf yang efektif dan tepat sangat dibutuhkan dalam pencapaian tujuan dari memenuhi kebutuhankebutuhan politik sebagai suatu strategi persaingan dunia. Karena pada saat ini semakin berkembangnya zaman. METODE PENELITIAN Jenis riset ini adalah kualitatif . dengan menggunakan penelitian studi lapangan . iled researc. Penelitian ini bersumber dari data lapangan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Alasan lokus karena menjadi satu Penelitiannya memfokuskan pada pemahaman dakwah tasawuf sebagai model moderasi kebangsaan menuju sustainable development goals (SDGS), sehingga dilakukan penelitian kepustakaan untuk mengkorelasikannya menjadikan Indonesia maju. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, yaitu penelitian yang menggambarkan secara objektif mengenai dakwah tasawuf sebagai model moderasi kebangsaan menuju sustainable development goals (SDGS) dalam Indonesia Maju, kemudian dianalisis menggunakan konsep dari moderasi beragama ke moderasi kebangsaan, dengan pendekatan filsafat hukum Islam yang bersumber pada datadata literatur konsep maqasid asy-syarAoah, dengan menjadikan SDGS sebagai parameter capaian penelitian. Setelah data-data kepustakaan terkumpul dan telah dianalisis, kemudian konsep tersebut dapat didiskripsikan lebib lanjut. Teknik Pengumpulan Data penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari diskusi, wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap para tokoh meliputi: Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pimpinan pesantren Hidayatullah. Adapun data sekunder yang diperoleh dari sumber lain berasal dari kepustakaan, baik berupa buku-buku, kitab-kitab, jurnal, sumber-sumber lain yang relevan dalam menunjang penelitian ini. Analisis data ini menggunakan metode kualitatif, yakni mencari nilai-nilai dari suatu variabel yang tidak dapat diutarakan dalam bentuk angka-angka, tetapi dalam bentuk kategori. Teori plus pendekatan fenomenologis digunakan dalam riset ini. Metode dapat dipilih dalam penggunaan pendekatan kualitatif yakni fenomenologi, studi kasus, grounded theory dan etnografi maupun penelitian tindakan. Pemilihan 1649 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. studi fenomenologi memberikan kemungkinan peneliti untuk melakukan analisi data dengan Interpretative phenomenology analysis (IPA). Analisis data dalam penelitian fenomenologi. Data dari fenemena sosial yang diteliti dapat dikumpulkan dengan berbagai cara, diantaranya observasi dan interview, baik interview mendalam . n-depth intervie. In depth dalam penelitian fenomenologi bermakna mencari sesuatu yang mendalam untuk mendapatkan satu pemahaman yang mendetail tentang fenomena sosial dan pendidikan yang diteliti. In-depth juga bermakna menuju pada sesuatu yang mendalam guna mendapatkan sense dari yang nampaknya straight-forward secara aktual secara potensial lebih complicated. Pada sisi lain peneliti juga harus memformulasikan kebenaran peristiwa/kejadian dengan pewawancaraan mendalam ataupun interview. HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian tentang moderasi beragama, berdasarkan penelusuran akademik, secara litaratur telah banyak dikaji, antara lain: Husnah. Z dkk, menganalisa peranan dari moderasi beragama dalam mengatasi fenomena intoleransi dalam perspektif Al-QurAoan, dan strategi membangun dan memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Strategi tersebut berupa masuknya muatan moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan, mengintensifkan dialog antar umat beragama, dan memanfaatkan media sosial untuk sosialisasi moderasi beragama (Husnah, 2. Dari kajian ini kemudian akan memperkuat moderasi kebangsaan untuk meneruskan Sustainable Development Goals (SDGS) Indonesia lebih maju lagi. Kholis Amrullah menganalisa beberapa kaidah yang berintegrasi dalam kehidupan umat beragama, yaitu wasatiyyah melalui pendekatan makna dan Wasatiyyah berdampingan dengan sejarah, wasatiyyah sebagai Berdampingan dengan syariat, wasatiyyah dan perubahan, wasatiyyah dan peribadahan, wasatiyyah dan ekonomi, dan wasatiyyah dan lingkungan (M. Kholis Amrullah, 2. Kajian ini lebih banyak menghubungkan bagaimana kita berada diposisi ditengah-tengah . idak ke kanan dan ke kir. , sehingga pada kajian ini bisa memberikan arah baru dinamika kontemporer bagi bangsa Indonesia. Moderasi kebangsaan yang dimaksud dalam kajian ini juga mencoba menganalisa dan memberikan pemahaman pada warga negara Indonesia mengenai IKN dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila, dengan posisi yang moderat dengan meminjam dua istilah: dari Mujiburahman (Mujiburrahman, 2. Aumengindonesiakan IslamAy (Sadari, 2. dengan menambahkan Aumengislamkan IndonesiaAy, dengan kata lain terjadi keseimbangan dalam satu kerangka konseptual menuju perspektif jalan tengah . itengah-tenga. Strategi penanaman nilai-nilai moderasi beragama dilakukan pada setiap tahapan kaderisasi Pemuda Persatuan Islam Jawa Barat baik yang bersifat formal maupun informal. Terutama pada sisi materi, metode, instruktur, isu strategis, durasi dan teknik evaluasi (Aep Kusnawan dan Ridwan Rustandi, 2. Tasawuf merupakan elemen penting dalam ajaran Islam di Indonesia semenjak pra-kemerdekaan hingga kini. Tasawuf menjadi bagian tak terpisahkan dari 1650 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. kehidupan keagamaan Sebagian besar umat Islam di Indonesia. Sebagai bagian dari Islam, tasawuf yang berkembang memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan alQurAoan dan sunnah, tetapi pada praktiknya ia memiliki corak dan keragaman yang sangat variatif. Sungguh pun demikian seluruh aktivitas sufistik tetap harus merujuk kepada al-QurAoan dan sunnah (Asep Maskur, 2. Dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang tujuannya adalah menyeruh manusia ke jalan Tuhannya. Dalam tradisi tasawuf ajarannya menginginkan agar manusia berada sedekat mungkin dengan Tuhan, seperti pada ajaran mahabbah, maAorifah, fana dan baqa. Ittihad dan hulul serta ajaran wahda wal Tasawuf mengajak manusia untuk selalu berusaha membersihkan jasmani dan rohani. Proses pembersihan diri manusia dilakukan dengan mengeluarkan semua sifat yang tercelah, dan mengisi sifat yang terpuji. Titik berat dari ajaran tasawuf adalah pada tingkah laku manusia, maka tasawuf disebut juga sebagai ajaran akhlak atau moral dengan meniru sifat-sifat Tuhan. Dakwah Islam melalui ajaran tasawuf cukup mudah diterima oleh masyarakat karena ajaranya mementingkan pembinaan moral yang penuh dengan kelembutan, kepedulian kepada sesama makhluk serta sesuai dengan kebutuhan jasmani, terutama rohani sehingga menjadi solusi dari problem yang dihadapi manusia dewasa ini (Akhmad Sukardi, 2. Proses dakwah merupakan paduan dari perencanaan dalam mencapai suatu tujuan dakwah. Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan dakwah harus dapat dilakukan secara taktis, dengan melalui pendekatan yang berbeda beda dan sewaktu waktu tergantung pada situasi dan kondisi dimana dakwah dilaksanakan. Dakwah memerlukan pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan dan hasil yang segera, tanpa putus asa. Individu yang melaksanakan dakwah akan mendapat kehidupan yang berkah dalam ridha Allah SWT serta akan menerima pahala yang berlipat ganda, karena dakwah merupakan amal terbaik yang dapat memunculkan potensi diri dan memelihara keimanan yang kita miliki (Rahmawati, 2. Tasawuf pada umumnya dianggap sesat oleh sebagian besar dari kalangan muslim sendiri. Tasawuf yang ia fahami adalah usaha untuk bisa mengenal Allah dengan melalui pembersihan diri dalam masalah aqidah, ibadah maupun akhlaq. Salah bentuk implementasi antara lain perubahan pola pikir masyarakat, dari animisme dinamisme kepada tauhid, kerukunan dalam masyarakat menjadi semakin tinggi, hilangnya budaya yang menjerumuskan kepada amalan syirik, bidaAoah dan khurafat, timbulnya kesadaran tentang pendidikan dengan adanya sekolah formal dan Pondok Pesantren, masyarakat menjadi paham akan pentingnya ketaatan kepada Tuhan dan kepada pemimpin, perubahan visi misi hidup ke arah taqorrub ilallah, dan lain-lain (Moh. Abdul Kholiq Hasan dan Abdurrohim, 2. Tasawuf yang dianut dan diajarkan oleh al-Qusyairi adalah tasawuf yang sejalan dengan ajaran syariat. Sebagai proses upaya menyadarkan orang bahwa tasawuf yang benar adalah tasawuf yang bersandarkan pada akidah yang benar dan tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti yang dianut oleh para salaf atau AhlalSunnah. Dalam hal ini tasawuf yang diteladani adalah tasawuf akhlaqi yaitu kajian ilmu yang sangat memerlukan praktik untuk menguasainya. Tidak hanya berupa teori sebagai sebuah pengetahuan, tetapi harus dilakukan dengan aktifitas kehidupan Di dalam diri manusia juga ada potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan. 1651 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1646 -1654 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Ada yang disebut dengan fitrah yang cenderung kepada kebaikan. Ada juga yang disebut dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan. Jadi, tasawuf akhlaqi yaitu ilmu yang memperlajari pada teori-teori perilaku dan perbaikan akhlak. (Khoirul Anwar, 2. Tidak dapat dipungkiri bahwa tasawuf merupakan salah satu aspek penting dalam Islam. Bukan hanya fakta bahwa tasawuf telah dipraktekkan sebagai ritual, tetapi juga merupakan faktor dalam menghasilkan penyebaran Islam. Tarekat atau gerakan sufi di seluruh dunia dikatakan bertanggung jawab dalam mempromosikan dakwah meskipun posisi dan praktik dakwah mereka terkadang dikaitkan dengan konotasi negatif seperti berpikiran sempit dan terbelakang (Badlihisham Mohd Nasir dan Othman Haji Talib, 2. Salah satu topik dalam tasawuf yang dibicarakan oleh para tokoh sufi adalah tentang Zuhud. Dalam Memahami konsep zuhud sering kali terjadi pro kontra, ada pendapat yang mengharuskan seseorang menjalani zuhud untuk mencapai ma'rifat pada Allah, dan dianggap sebagai salah satu tangga . yang harus dilalui. Dan ada pula yang menganggap bahwa konsep zuhud dalam ajaran tasawauf merupakan konsep yang menjauhkan sesorang dari persoalan dunia sehingga berdampak negatif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Konsep dan praktek zuhud dalam ajaran tasawuf merupakan konsep yang bersumber dari ajaran Islam . l-Qur'an dan Hadit. yang merupakan keharusan untuk dipraktekkan bagi orang yang ingin mencapai ma'rifat pada Allah SWT. Melakukan hidup zuhud merupakan suri tauladan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dalam prakteknya para tokoh sufi menggolongkan beberapa tingkatan, mulai dari tingkat displin terendah sampai pada tingkatan tertinggi, tergantung pada kadar kemampuan orang yang mempraktekkannya (Muhammad Hafiun, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kajian ini menemukan bahwa model dakwah tasawuf sebagai model keberagamaan sebagai bentuk strategis yang dapat mempersiapkan Indonesia maju dan menghadapi sustainable development government. Melalui upaya melalui menganalisis dan merespon problematika dan dinamika aktual strategis dalam melakukan dakwah tasawuf. Dibutuhkan nilai keterbukaan, kejujuran, kerjasama, toleransi, kebersamaan, musyawarah dan adaptif-inovatif terhadap kondisi. Karenanya, dalam konteks penanaman nilai-nilai moderasi beragama dalam proses dakwah tasawuf sebagai model dakwah setiap individu DAFTAR PUSTAKA