Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021, 33-42 available: http://journal. com/index. php/jpe Peningkatan Aktivitas Belajar dan Keterampilan Membaca Intensif dengan Melalui Penerapan Metode CIRC dan Media Styrofoam Sundarini SMPN 23 Surakarta sundarini@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan keterampilan membaca intensif menggunakan metode CIRC dan media styrofoam siswa kelas IX F Semester 1 SMPN 23 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPN 23 Surakarta pada semester I tahun pelajaran 2017/ 2018 selama 3 bulan. Subyek penelitian adalah 30 siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus melalui 4 tahapan yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, . Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode CIRC dan media styrofoam dapat meningkatkan aktivitas belajar dan keterampilan membaca intensif pada kelas IX F Semester 1 SMPN 23 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018. Kata Kunci: Aktivitas belajar. Hasil belajar. Keterampilan membaca intensif. Metode CIRC. Media styrofoam. Increasing Activeness and Science Learning Outcomes Through Team Game Tournament Strategy Abstract This study aims to improve learning activities and intensive reading skills using the CIRC method and Styrofoam media for class IX F Semester 1 students of SMPN 23 Surakarta in the 2017/2018 academic year. This classroom action research was conducted at SMPN 23 Surakarta in the first semester of the 2017/2018 academic year for 3 months. The research subjects were 30 students of class IX F SMPN 23 Surakarta. The method used in this research is a classroom action research method which is carried out in 2 cycles through 4 stages, namely . planning, . implementation, . observation, . In the implementation of classroom action research using observation sheets and learning outcomes tests. Data analysis used comparative descriptive analysis technique. The results showed that the application of the CIRC method and styrofoam media could improve learning activities and intensive reading skills in class IX F Semester 1 of SMPN 23 Surakarta in the 2017/2018 academic year. Keywords: Learning activities. Learning outcomes. Intensive reading skills. CIRC method. Styrofoam media. -------------------------------Pendahuluan Membaca intensif merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan memiliki keterampilan membaca intensif, siswa dapat memahami isi bacaan dengan tepat. Latihan membaca dalam hati haruslah dimulai semenjak anak-anak sudah dapat membaca sendiri. Tujuan utama membaca dalam hati adalah untuk memperoleh informasi. Setelah meninggalkan bangku sekolah, mayoritas pelajar akan sedikit sekali membaca bersuara, tetapi membaca dalam hati. Menurut Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Tarigan . lebih banyak waktu harus diberikan untuk membaca dalam hati bila pelajar meningkat dari kelas rendah ke kelas yang lebih tinggi. Pembelajaran membaca sering kali dihadapkan pada banyak kendala seperti kemampuan guru dalam mengajar, kemampuan siswa dan aktivitas belajar siswa yang rendah terhadap membaca. Kendala yang berasal dari siswa antara lain rasa malas dari siswa dalam kegiatan membaca. Sebagian besar siswa malas membaca karena membaca memerlukan konsentrasi agar isi bacaan dapat diserap dengan baik. Selain itu, siswa juga malas untuk mencari buku-buku atau sumber-sumber bacaan sehingga peningkatan keterampilan membaca siswa menjadi kurang optimal. Permasalahan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia pada keterampilan membaca juga dialami oleh siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan peneliti, ditemukan beberapa permasalahan dalam pembelajaran keterampilan membaca. Metode dan model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran belum Pada dasarnya guru sudah melaksanakan keterampilan dalam mengajar di kelas, namun guru belum mampu melaksanakan 8 keterampilan mengajar guru dengan Kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia terutama pada keterampilan membaca kurang optimal karena masih menggunakan metode informatif/ceramah yang terpusat oleh guru kelas. Media pembelajaran pada keterampilan membaca belum mampu menarik perhatian siswa secara maksimal. Pembelajaran keterampilan membaca yang terpusat pada guru mengakibatkan siswa cepat merasa bosan dan minat siswa terhadap bacaan menjadi berkurang. Kurangnya semangat belajar siswa dan minat baca siswa dipengaruhi oleh perilaku siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Beberapa perilaku siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta yang mengganggu proses kegiatan pembelajaran seperti: tidak membawa buku pelajaran, membuat gaduh di ruang kelas, mengganggu teman sebangku, dan berbicara sendiri ketika guru menyampaikan materi. Kondisi tersebut berakibat pemahaman siswa terhadap bacaan kurang maksimal. Hal ini disebabkan membaca intensif merupakan keterampilan membaca yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam memahami isi bacaan secara teliti, kritis, dan menyeluruh. Hal inilah yang menjadi alasan perlunya upaya meningkatkan aktifitas belajar, dan atau meningkatkan keterampilan membaca intensif. Upaya yang digunakan adalah metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Slavin . berpendapat bahwa membaca merupakan salah satu dasar dari CIRC berupa program komprehensif untuk mengajari pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi. Pengembangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pengajaran-pengajaran membaca, menulis, seni berbahasa. Sebagai tindak lanjut. CIRC bersifat universal yang artinya selalu menggunakan kelompok membaca yang terdiri atas siswa dengan tingkat kinerja yang sama. Fokus utama kegiatan CIRC adalah membuat penggunaan waktu menjadi lebih Siswa dikondisikan dalam tim-tim kooperatif yang kemudian dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya memenuhi tujuan lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Tujuan utama CIRC adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas (Slavin, 2. Belajar dengan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC merupakan belajar mandiri tanpa harus selalu mengandalkan peran guru, karena mereka telah dibagi dalam kelompok-kelompok yang memiliki kemampuan yang sama . iswa dipilih berdasarkan Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Dalam pembelajaran model ini guru hanya bertugas untuk memberikan bantuan pada kelompok bila kelompok tersebut belum dapat menyelesaikan tugasnya. Penerapan metode CIRC dalam kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih optimal apabila didukung oleh media pembelajaran yang sesuai. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa (Aqib, 2. Peneliti memilih media styrofoam yang akan dipadukan dengan metode CIRC untuk meningkatkan aktifitas belajar dan meningkatkan keterampilan membaca intensif. Styrofoam ini digunakan siswa sebagai media untuk membuat berbagai bentuk iklan atau poster. Aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat karena dengan diterapkannya media styrofoam, siswa dapat lebih memahami Siswa tidak hanya menerima materi yang disampaikan guru, tetapi mereka juga mengingatnya kembali dengan temannya dalam suasana yang menyenangkan. Mereka dapat belajar sambil bermain. Dengan mengulang kembali materi yng telah dipelajari maka ingatan siswa terhadap materi lebih kuat. Hal inilah yang dianggap peneliti akan mampu menunjang metode CIRC untuk meningkatkan aktivitas membaca siswa terhadap bahan bacaan. Selama pembelajaran siswa akan lebih aktif, kreatif, saling kerjasama, dan termotivasi dalam belajar. Dengan demikian pembelajaran yang berlangsung akan lebih Upaya meningkatkan aktifitas belajar dan meningkatkan keterampilan membaca intensif melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan media Styrofoam diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Untuk mengetahui proses penyelesaian tersebut, akan disajikan dalam sebuah penelitian tindakan dengan judul. AyPeningkatan Aktivitas Belajar dan Keterampilan Membaca Intensif Melalui Penerapan Metode CIRC dan Media Styrofoam Siswa Kelas IX F Semester 1 SMPN 23 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018Ay. Kajian Pustaka Aktivitas Belajar Aktivitas belajar dapat diidefinisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar-mengajar. Aktivitas belajar ini didesain agar memungkinkan siswa memperoleh muatan yang ditentukan, sehingga berbagai tujuan yang ditetapkan, terutama maksud dan tujuan kurikulum, dapat tercapai (Hamalik, 2010. Menurut Sardiman . aktivitas belajar itu adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental dan emosional. Aktivitas belajar adalah penekanannya pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situas belajar aktif. Belajar aktif adalah suatu aitem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif, akfektif dan psikomotor (Rusman, 2. Aktivitas belajar dapat dilihat dari kegiatan siswa selama pembelajaran. Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi interaksi yang kondusif, guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar mengajar, sehingga guru merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh siswa. Guru sebagai fasilitator akan memimpin terjadinya interaksi belajar mengajar (Sardiman. Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Menurut Diedrich . alam Sardiman, 2. , indikator yang menyatakan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar adalah: . Visual activities seperti membaca. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 memperhatikan gambar, demontrasi, mengamati percobaan. Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi. Listening activities seperti mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan, mendengar diskusi, dan mendengarkan pidato. Writing activities seperti membuat laporan, menulis, mengisi angket dan menyalin. Drawing activities seperti menggambar, membuat grafik, membuat peta dan diagram. Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi model, melakukan demonstrasi. Mental activities seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan dan mengambil . Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira bersemangat, bergairah, berani, tegang, dan gugup. Keterampilan Membaca Intensif Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan mendengarkan dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara menyimak dan berbicara (Mulyati, dkk. , 2. Menurut Brooks, . alam Tarigan 2. yang dimaksud dengan membaca intensif adalah studi seksama, telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas pendek kira-kira dua sampai empat halaman perhari. Membaca intensif dapat diartikan sebagai kegiatan membaca yang dilakukan secara seksama dan merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis (Ngalimun & Noor, 2. Membaca intensif dianggap sebagai salah satu pemerolehan ilmu pengetahuan karena penekanannya adalah persoalan pemahaman yang mendalam, pemahaman ide-ide penjelas, dari hal-hal yang rinci, sampai ke relungrelungnya. Pada umumnya membaca intensif menggunakan objek kajian karya- karya ilmiah seperti buku pelajaran dan perkuliahan, makalah, esai, karya-karya analisis, dan seterusnya (Saddhono dan Slamet, 2. Membaca intensif terdiri atas membaca telaah bahasa dan membaca telaah isi. Membaca telaah bahasa terdiri atas membaca bahasa dan membaca sastra. Tujuan utama pada membaca bahasa ini adalah: . mengembangkan daya kata. mengembangkan kosakata (Tarigan, 2. Sedangkan membaca sastra merupakan membaca berbagai jenis karya sastra yang menekankan pada keserasian, keharmonisan antara keindahan bentuk dan keindahan isi. Dengan kata lain, suatu karya sastra dikatakan indah kalau bentuknya maupun isinya sama-sama indah, terdapat keserasian, keharmonisan antar Metode CIRC Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC merupakan metode pembelajaran yang pertama kali dikembangkan oleh Stavens dkk . alam Huda, 2015: . Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC merupakan singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition dan merupakan salah satu metode pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Sharan, 2. Menurut Uno dan Muhamad . CIRC merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang merupakan komposisi terpadu membaca dan menulis secara kooperatif . Yaitu membaca materi yang diajarkan dari berbagai sumber dan selanjutnya menuliskannya ke dalam bentuk tulisan yang dilakukan secara kooperatif. Model ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk membaca dan menerima umpan balik dari kegiatan membaca yang telah Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Metode ini dapat membuat siswa lebih mampu menyalurkan keaktifan belajarnya dengan cara berdiskusi secara kelompok dan juga sangat menunjang pembelajaran dalam menentukan pikiran pokok karena tahap-tahap pembelajarannya sangat memudahkan siswa dalam memahami materi. Hal lain yang mendasari penerapan model ini adalah karena prinsi-prinsip kooperatif yang sangat baik diterapkan untuk memperbaiki permasalahan pengelolaan kelas yang ditemukan. Prinsip utama kooperatif yang mengaharuskan semua anggota kelompok saling membantu serta adanya tanggung jawab anggota kelompok terhadap kelompoknya, membuat pembelajaran menjadi lebih Selain siswa mampu saling membantu dalam pemahaman, siswa juga tidak akan saling mengganggu karena akan merugikan kelompoknya. Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) terdiri atas tiga unsur penting, yaitu: . kelompok membaca. kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita (Slavin, 2. Langkah-langkah pembelajaran dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) menurut Shoimin . 4: . adalah sebagai berikut: . guru membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen. guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik . siswa bekerja sama saling membaca dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas. siswa mempresentasikan/ membacakan hasil kelompok. guru dan siswa membuat kesimpulan bersama. Media Styrofoam Styrofoam adalah sebuah polimer dengan monomer stirena, sebuah hidrokarbon cair yang dibuat secara komersial dari minyak bumi. Styrofoam termasuk ke dalam kategori jenis plastik. Styrofoam atau polistirena foam terbuat dari monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk melunakan resin dan menguapkan sisa blowing agent (Sari, 2. Media styrofoam dalam penelitian ini adalah inovasi media pembelajaran yang berupa Styrofoam sebagai media siswa untuk membuat berbagai bentuk iklan atau poster. Metode Penelitian PTK ini dilaksanakan di SMPN 23 Surakarta. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2017/ 2018 yaitu mulai bulan Juli 2017 s. bulan September 2017. Penelitian terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta sejumlah 30 siswa. Data yang dikumpulkan berupa informasi tentang aktivitas belajar dan Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada siswa kelas IX F pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018. Pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis diskriptif Ae komparatif yang dilanjutkan refleksi. Adapun indikator kinerja untuk aktivitas belajar Bahasa Indonesia yaitu aktivitas belajar Bahasa Indonesia kondisi awal lebih dari 15 siswa . %) atau sebagian besar siswa memiliki aktivitas belajar Bahasa Indonesia rendah, target yang dicapai pada siklus 2 adalah lebih dari 23 siswa . %) atau sebagian besar siswa mempunyai aktivitas belajar Bahasa Indonesia tinggi. Sedangkan indikator kinerja untuk keterampilan membaca intensif Bahasa Indonesia yaitu keterampilan membaca intensif Bahasa Indonesia kondisi awal 15 siswa . ,15%) tuntas atau memenuhi KKM yaitu 78, target yang dicapai pada siklus 2 keterampilan membaca intensif dan memindai kegiatan membaca Bahasa Indonesia minimal 21 orang . ,37%) siswa tuntas atau memenuhi KKM yaitu 78. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Hasil Penelitian Kondisi Awal Hasil observasi aktivitas belajar tersebut dapat dituangkan dalam tabel 1 berikut. Tabel 1. Aktivitas Belajar Bahasa Indonesia Kondisi Awal No. Aktivitas Belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 16 siswa . ,3%) 12 siswa . ,0%) 2 siswa . ,7%) Pada kondisi awal, berdasarkan hasil ulangan pertama dari 30 siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta, tercatat hanya 11 siswa yang tuntas dalam belajar, yang artinya baru 36,67% siswa yang tuntas. Hasil tersebut dapat dituangkan dalam tabel 2 berikut. Tabel 2. Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia Kondisi Awal No. Keterampilan Membaca Intensif Jumlah (Presentas. Tuntas 11 siswa . ,67%) Belum Tuntas 19 siswa . ,33%) Siklus I Hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar Bahasa Indonesia di SMPN 23 Surakarta pada siklus I Menunjukkan bahwa dari 30 siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta, 3 siswa . ,0%) sudah sangat aktif, 17 siswa . ,7%) aktif, sedangkan sisanya 10 siswa . ,3%) kurang aktif. Hasil observasi terhadap aktivitas belajar Bahasa Indonesia tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 3. Aktivitas Belajar Bahasa Indonesia Siklus I No. Keaktifan Belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 10 siswa . ,3%) 17 siswa . ,7%) 3 siswa . ,0%) Keterampilan membaca intensif siswa kelas IX F setelah menggunakan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam, berdasarkan hasil ulangan siklus pertama . ari Rabu, tanggal 26 Juli 2. , dari 30 siswa yang tuntas adalah 19 siswa atau 63,33%, sisanya 11 siswa atau 36,67% belum tuntas. Hasil tes siklus 1 dapat dilihat dalam tabel Tabel 4. Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada Siklus I No. Keterampilan Membaca Intensif Tuntas Belum Tuntas Jumlah (Presentas. 19 orang . ,33%) 11 orang . ,67%) Refleksi tindakan dilakukan untuk penyempurnaan kekurangan-kekurangan dari pelaksanaan tindakan yang disusun dalam siklus I. Hasil refleksi pada siklus I yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 5. Refleksi Aktivitas belajar Bahasa Indonesia Siklus I Kondisi Awal Aktivitas belajar siswa sebelum siklus sebagian besar . ebih dari 50%) siswa rendah Siklus I Aktivitas belajar siswa setelah siklus I sudah lebih dari separo jumlah siswa menunjukkan aktivitas yang tinggi . ,00%) Refleksi Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus I meningkat yaitu 60,00% dari jumlah siswa menunjukkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia yang tinggi Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Hasil refleksi keterampilan membaca intensif Bahasa Indonesia pada siklus I yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 6. Refleksi Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada Siklus I Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia Kondisi Awal 11 siswa ,67%) 19 siswa ,33%) Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada Siklus I 19 siswa ,33%) Belum 11 siswa ,67%) Deskriptif Komparatif Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus I siswa yang tuntas meningkat sebesar 26,67% . Siklus II Hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar Bahasa Indonesia di SMPN 23 Surakarta pada siklus I dari hasil observasi yang peneliti lakukan adalah bahwa, dari 30 siswa kelas IX F SMPN 23 Surakarta, 8 siswa . ,7%) sudah sangat aktif, 18 siswa . %) aktif, sedangkan sisanya 4 siswa . ,3%) kurang aktif. Hasil observasi terhadap aktivitas belajar Bahasa Indonesia tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 7. Aktivitas Belajar Bahasa Indonesia pada Siklus II No. Aktivitas Belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 4 siswa . ,3%) 18 siswa . ,0%) 8 siswa . ,7%) Keterampilan Membaca Intensif siswa IX F setelah menggunakan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam, berdasarkan hasil ulangan siklus II dari 30 siswa yang tuntas adalah 27 siswa atau 90%, sisanya 3 siswa atau 10% belum tuntas. Hasil tes siklus II tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 8. Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada Siklus II No. Keterampilan Membaca Intensif Tuntas Belum Tuntas Jumlah (Presentas. 27 siswa . %) 3 siswa . %) Hasil refleksi pada siklus II yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel Tabel 9. Refleksi Aktivitas belajar Bahasa Indonesia pada Siklus II Kondisi Awal Aktivitas belajar siswa sebelum siklus sebagian besar . ebih dari 75%) siswa rendah Siklus II Aktivitas belajar siswa setelah siklus II sudah sebagian besar siswa . ebih dari 75%) dari jumlah siswa menunjukkan aktivitas yang tinggi Refleksi Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus II meningkat dari sebagian besar rendah ke sebagian besar siswa menunjukkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia yang tinggi Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Hasil refleksi Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada siklus II yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 10. Refleksi Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada Siklus II Keterampilan Membaca Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Intensif Bahasa Indonesia Kondisi Awal Indonesia pada Siklus II tuntas 11 siswa tuntas 27 siswa ,67%) belum 19 siswa Belum 3 siswa tuntas . ,33%) . %) Deskriptif Komparatif Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus II siswa yang tuntas meningkat sebesar 26,67% . Pembahasan Siklus I dilaksanakan mulai hari Jumat tanggal 21 Juli 2017. Siklus I berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 40 menit. Pertemuan ke 2 dilaksanakan hari Rabu 26 Juli 2017 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam. Pelaksanaan tindakan siklus I, diketahui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus I meningkat yaitu 66,67% dari jumlah siswa menunjukkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia tinggi. Penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus I siswa yang tuntas meningkat sebesar 26,67% . Kendalanya, beberapa siswa masih berusaha menyesuaikan dengan metode dan media pembelajaran yang digunakan guru. Siswa ini memerlukan kesempatan kedua untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar dan Keterampilan Membaca Intensif bahasa Indonesia. Siklus II dilaksanakan mulai hari Jumat tanggal 4 Agustus 2017. Siklus II berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 40 Pertemuan ke 2 pada hari Rabu, 9 Agustus 2017 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam. Pelaksanaan tindakan siklus II, diketahui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus II meningkat yaitu 86,67 dari jumlah siswa siswa menunjukkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia tinggi. Penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dari kondisi awal ke siklus 3 siswa yang tuntas meningkat sebesar 53,33% . Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I dan siklus II dapat dikatakan bahwa: Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dapat meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IX F semester 1 di SMPN 23 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dapat meningkatkan Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia siswa kelas IX F semester 1 di SMPN 23 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Hasil tersebut dapat dituangkan dalam gambar 1 berikut. Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Keaktifan Belajar Hasil Belajar Sebelum Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 1. Grafik Aktivitas Belajar dan Keterampilan Membaca Intensif Siswa Kelas IX F Semester 1 di SMPN 23 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018 Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dapat meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas IX F semester 1 di SMPN 23 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Melalui penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dapat meningkatkan Keterampilan Membaca Intensif Bahasa Indonesia pada siswa kelas IX F semester 1 di SMPN 23 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah disimpulkan di atas dan dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dikemukakan saran sebagai berikut: . Sekolah, madrasah, atau satuan pendidikan lainya, hendaknya metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam dapat dijadikan solusi bagi pembelajaran membaca atau pembelajaran lainnya. Penerapan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam telah terbukti meningkatkan pembelajaran membaca, khususnya pembelajaran membaca cepat untuk menemukan informasi secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, bagi satuan pendidikan, sekolah atau madrasah yang bersangkutan persoalan dalam penelitian ini dapat menjadi solusi penyelesaian dalam meningkatkan keterampilan membaca cepat untuk menemukan informasi dengan cepat dan tepat. Siswa hendaknya senang membaca, rajin belajar, banyak berlatih, dan mempraktikkan metode pembelajaran CIRC dengan media styrofoam untuk menemukan informasi dalam pembelajaran membaca cepat atau kegiatan membaca lainnya supaya lebih senang, nyaman, tidak bosan, kreatif, dan kreativitas lebih meningkat. Selain itu, siswa hendaknya lebih aktif, mandiri, serius, antusias, dan berani mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seperti itu akan meningkatkan hasil pembelajaran dan mengubah perilaku peserta didik ke arah lebih baik. Kepada peneliti selanjutnya, mengingat hasil penelitian ini belum optimal dan masih banyak keterbatasan maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang serupa pada mata pelajaran lain. Daftar Pustaka