https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Volume 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Page 30-36 NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Oleh: Dani Devia Utami Kabri Maria Fransisca Andanti Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha. STIAB Smaratungga Jl. Ampel. Boyolali. Jawa Tengah 57352. Indonesia deviautami9313@gmail. com, kabri@smaratungga. id, andanti@smaratungga. Proses Review 12 Agustus-13 September, dinyatakan Lolos 14 September Abstract IndonesiaAos diversity, which consists of various ethnic groups or ethnic groups, makes it a country thatAos rich in culture, language and traditions. IndonesiaAos diversity can be found in various regions, one of which is on the island of Lombok, precisely in Jiliman Ireng Hamlet. Tebango. The people of Jiliman Ireng Hamlet. Tebango have a tradition thatAos still maintained and maintained today, namely the Muja Wali tradition. The Muja Wali tradition is one of the traditions carried out by the community as a form of respect and gratitude to the ancestors for the blessings they have received. The purpose of this study is to find out the Buddhist values AUAUcontained in the Muja Wali tradition in Jiliman Ireng Hamlet. Tebango. North Lombok Regency. The research method used is the descriptive qualitative method. The research subjects were taken from people who were directly involved and played an active role in following the Muja Wali tradition. Data collection techniques used are observation, interviews, and The results of the study found that there were several processes carried out in the implementation of the Muja Wali tradition, namely Gundem. Pemarek. Pelangehan. Sorak Siu. Unggah Sesaji, and Pamitan. In addition, the Muja Wali tradition has Buddhist values AUAUcontained in it, namely in its implementation the stakeholders recite the Parittas aimed at the ancestors. Later found in the Sigalovada Sutta, and Manggala Sutta. Keywords: Muja Wali Tradition, implementation, and Buddhis values Abstrak Keragaman Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis atau kelompok suku bangsa menjadikannya sebagai Negara yang kaya akan budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman yang dimiliki In30 Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 donesia dapat dijumpai di berbagai daerah, salah satunya yaitu di pulau Lombok tepatnya di Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango memiliki salah satu tradisi yang masih dijaga dan dipertahankan sampai saat ini yaitu tradisi Muja Wali. Tradisi Muja Wali merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur terhadap para leluhur atas berkah yang diperoleh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam tradisi Muja Wali di Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Kabupaten Lombok Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian diambil dari orang-orang yang terjun langsung dan berperan aktif dalam mengikuti tradisi Muja Wali. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa proses yang dilakukan dalam pelaksanaan tradisi Muja Wali yaitu Gundem. Pemarekan. Pelangehan. Sorak Siu. Unggah Sesaji, dan Pamitan. Selain itu, tradisi Muja Wali memiliki nilai-nilai Buddhis yaitu dalam pelaksanaannya para pemangku membacakan paritta-paritta yang ditujukan untuk para leluhur. Kemudian terdapat dalam Sigalovada Sutta, dan Manggala Sutta. Kata kunci: Tradisi Muja Wali, pelaksanaan. Nilai-nilai Buddhis PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, tradisi, bahasa, dan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat. Antara & Vairagya . mengatakan bahwa Indonesia menyimpan kekayaan lebih dari 300 kelompok etnis 340 kelompok suku bangsa. Berbagai keragaman dari kelompok etnis atau suku bangsa ini melahirkan bentuk keragaman budaya di Indonesia, seperti upacara adat, rumah adat, pakaian adat tradisional, tarian adat tradisional, senjata tradisional, dan lain sebagainya. Keanekaragaman ini juga dipengaruhi oleh luasnya wilayah Indonesia sehingga membuat budaya yang dimiliki tiap daerah berbeda-beda (Khusna, dkk. , 2. Perbedaan budaya-budaya tersebut melahirkan kekayaan, nilai-nilai kehidupan, dan ilmu pengetahuan yang kemudian diaplikasikan oleh masyarakat melalui tradisi (Darwis, 2. Qurtuby . mengungkapkan bahwa tradisi merupakan sebuah kepercayaan, kebiasaan, pandangan, sikap, atau praktik yang sudah berlangsung lama di masyarakat kemudian diwariskan karena dipahami sebagai segala sesuatu yang bersifat turun temurun dari nenek moyang. Tradisi biasanya berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan, kepercayaan . maupun non keagamaan seperti ucapan salam, jamuan makan pada tamu, cara memasak, dan sebagainya. Sejalan dengan pengertian tradisi di atas, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa tiap tradisi yang berbeda-beda di masyarakat mengandung nilai-nilai yang beragam. Mulai dari nilai religius, nilai ibadah, keteladanan, serta nilai kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut memiliki hubungan yang erat dengan tuhan dan manusia yang bersumber dari agama. Keragaman nilai-nilai ini dapat ditemukan pada tradisi Meron dan tradisi Misalin (Subqi, 2020. Ratih. Pulau Lombok tepatnya di Dusun Jiliman Ireng Tebango, memiliki salah satu tradisi yang dipertahankan hingga sekarang oleh masyarakat, yaitu tradisi Muja Wali. Masyarakat Dusun Jiliman Ireng Tebango yang seluruh penduduknya beragama Buddha masih memegang teguh adat istiadat yang telah diwariskan kepada mereka oleh nenek moyangnya. Dapat dilihat dari pengamatan peneliti bahwa masyarakat dalam ikut melaksanakan tradisi Muja Wali tersebut sangat antusias. Pelaksanaan tradisi Muja Wali wajib dilakukan oleh masyarakat tersebut selama satu tahun sekali tepatnya pada bulan Oktober sebelum perayaan hari Raya Kathina. Pelaksanaan tradisi ini dipimpin oleh pemangku adat dengan membacakan beberapa paritta, yaitu Karaniyametta Sutta dan paritta Ratana Sutta. Selain itu, tidak ada pembunuhan makhluk hidup dalam persembahan sesaji. Artinya, dalam tradisi Muja Wali terdapat nilai-nilai di dalam pelaksanaannya dan tertanam ajaranajaran Buddha. NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Dani Devia Utami | Kabri | Maria Fransisca Andanti Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Tradisi Muja Wali tidak hanya dilaksanakan oleh umat Buddha di Dusun Jiliman Ireng saja, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat Buddha lainnya di Kabupaten Lombok Utara. Beberapa penelitian telah dilakukan yang meneliti tentang bentuk wacana dan makna dari pelaksanaan tradisi Muja Wali. Namun, dalam penelitian-penelitian tersebut belum ada yang mengkaji tentang nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi Muja Wali, khususnya nilai-nilai Buddhis. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui adakah nilai-nilai Buddhis dan nilai-nilai Buddhis apa sajakah yang terkandung di dalam tradisi Muja Wali di Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Kabupaten Lombok Utara. II. METODE Penelitian ini dilakukan di Dusun Jiliman Ireng Tebango. Kabupaten Lombok Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian diambil dari orang-orang yang terjun langsung dan berperan aktif dalam mengikuti tradisi Muja Wali yang dilaksanakan di Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Subjek penelitian ini adalah dua orang tokoh yang dijadikan sumber informasi dalam penelitian. Adapun objek dari penelitian adalah nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam tradisi Muja Wali yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Kabupaten Lombok Utara. Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. PEMBAHASAN Tradisi Muja Wali Tradisi Muja Wali merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Jiliman Ireng. Tebango setiap tahunnya. Kata Muja Wali sendiri mempunyai makna yang Berdasarkan asal katanya Muja Wali terdiri dari dua kata yaitu Muja/Puja dan Wali. Muja/Puja yang berarti penghormatan dan Wali adalah leluhur. Jadi, tradisi Muja Wali dapat diartikan sebagai penghormatan kepada leluhur. Tradisi Muja Wali dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan, ungkapan rasa syukur, sembah sujud dan bakti kepada para leluhur atas berkah yang diberikan baik hasil alam, kehidupan yang harmonis, dan kemakmuran bagi masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango. Proses Pelaksanaan Tradisi Muja Wali Berdasarkan hasil wawancara, tradisi Muja Wali memiliki berbagai tahapan dalam proses Gundem/Musyawarah Musyawarah merupakan suatu pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, kemudian disepakati secara bersama-sama sehingga dapat terselesainya suatu permasalahan (Hafidzi, dkk. , 2019: . Masyarakat Dusun Jiliman Ireng, sebelum terlaksananya tradisi Muja Wali, para tokoh dan pemangku adat atau tetua setempat melakukan musyawarah terlebih dahulu, dalam bahasa sasaknya disebut AuGundem. Ay Piniati . mengatakan bahwa Gundem merupakan proses yang dilalui oleh para tokoh dan pemangku adat dalam memilih hari dan tanggal untuk pelaksanaan tradisi Muja Wali. Ketika proses Gundem berlangsung, tetua atau pemangku adat melakukan musyawarah dengan para tokoh untuk pembentukan panitia terlebih dahulu dan menentukan hari maupun tanggal yang akan digunakan pada saat pelaksanaan tradisi Muja Wali. Pemarekan Pemarekan merupakan ritual singkat yang dilakukan oleh para pemangku adat dengan melantunkan doa-doa yang kemudian diikuti oleh beberapa tokoh lainnya. Pemarekan dilakukan dengan tujuan untuk meminta izin kepada para leluhur bahwa dilaksanakannya ritual Muja Wali. Pemarekan berlangsung satu hari setelah melalui proses Gundem oleh para pemangku, dan para tokoh. Setelah Pemarekan, para tokoh dan para pemangku makan bersama yang disediakan oleh para pemuda sebagai bentuk bakti, pengabdian, dan rasa hormat mereka kepada yang lebih NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Dani Devia Utami | Kabri | Maria Fransisca Andanti ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Pelangehan Pelangehan merupakan salah satu syarat yang harus dilakukan oleh masyarakat, para tokoh, dan para pemangku sebelum mengikuti ritual Sorak Siu. Pelangehan dilakukan dengan mengoleskan santan kelapa diatas kepala sebanyak tiga kali dengan menggunakan daun sirih. Masyarakat, para tokoh, dan para pemangku berdiri di depan Sesanggah untuk melakukan Pelangehan diikuti dengan menggunakan sesembek. Pelangehan adalah salah satu ritual inti, termasuk Sorak Siu. Unggah Sesaji, dan Pamitan. Sorak Siu Sorak Siu merupakan bahasa sasak. Kata Sorak memiliki arti yaitu bersorak dan Siu adalah Sorak Siu adalah ritual yang dilaksanakan setelah Pelangehan. Masyarakat, para tokoh, dan para pemangku menuju Bale Beleq untuk memberikan sarana persembahan berupa Banten (Amisa Puj. Setelah Banten (Amisa Puj. diletakkan di Bale Beleq, masyarakat, para tokoh, dan para pemangku berdiri di hadapan Sanggar Agung yaitu tempat penyimpanan benda pusaka. Para pemangku dalam istilah sasaknya mentabeq . untuk menurunkan benda pusaka. Saat benda pusaka telah diturunkan, diadakan atau dilakukan prosesi keliling tiga kali searah jarum jam (Pradaksin. mengitari Sanggar Agung, kemudian benda pusaka tersebut dibawa menuju ke Pemalik Lumedung Sari. Masyarakat, para tokoh, dan para pemangku berjalan bersama-sama menuju Pemalik Lumedung Sari dengan Sorak Siu . ersorak serib. sangat keras secara terus Tiba di Pemalik Lumedung Sari, para pemngku mengadakan ritual singkat dengan Ngaturang atau bahasa adat Jiliman Ireng AuSedah Canang. Kelupo Kelape. Ay Setelah selesai Ngaturang, masyarakat, para tokoh, dan para pemangku kembali menuju Bale Beleq dengan Sorak Siu dan pradaksina sebanyak tiga kali. Pada tahap ini benda pusaka yang di bawa oleh para pemangku diletakan di Bale Beleq. Masyarakat, setelah mengikuti prosesi atau ritual Sorak Siu, mereka duduk tenang dan mendengarkan Pengaksamo atau kisah asal-usul Bale Beleq dan Muja Wali. https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Unggah Sesaji Unggah Sesaji adalah proses yang dilakukan oleh para pemangku dengan memimpin doa yang kemudian diikuti oleh masyarakat sesuai dengan objek masing-masing, dalam bahasa adat sasak Jiliman Ireng adalah AuMenunas Mesak-mesakAy di dalam hati masing-masig. Pamitan Pamitan adalah acara terakhir dari rangkaian ritual Muja Wali yang dilakukan dihari berikutnya yaitu pada sore hari. Namun sebelum dilaksanakan Pamitan, masyarakat menampilkan salah satu kesenian sasak yang ada di Lombok yaitu Peresehan. Kesenian Peresehan ini ditujukan sebagai hiburan bagi masyarakat disana, dan alat yang digunakan dari pelapah daun pisang. Pada tahap Pamitan, para pemangku melakukan ritual kemudian menurunkan benda pusaka dari Bale Beleq. Masyarakat, para tokoh, serta para pemangku kembali melakukan keliling atau pradaksina dan Sorak Siu, kemudian menuju Sanggar Agung unuk menyimpan kembali benda pusaka tersebut. Setelah prosesi dilakukan, para masyarakat, para tokoh, dan para pemangku kembali ke Bale Beleq untuk melakukan Pamitan dengan bernamaskhara sebanyak tiga kali. Berbagai proses yang dilakukan dalam ritual tradisi Muja Wali yang diikuti oleh seluruh masyarakat Dusun Jiliman Ireng. Tebango tidak lepas dari bentuk rasa hormat, dan rasa syukur masyarakat terhadap berkah yang diperoleh pada kehidupan saat ini. Nilai-nilai Buddhis dalam Tradisi Muja Wali Dalam tradisi Muja Wali terkandung nilainilai kehidupan yang tinggi, salah satunya adalah sebagai wujud rasa hormat terhadap para leluhur. Agama Buddha memiliki caranya sendiri untuk melakukan penghormatan terhadap Buddha dengan menggunakan altar. Hal ini berkaitan dengan upacara tradisi yang memang sudah diwariskan kepada anak cucunya dan tetap dilakukan sampai saat ini Sudarto . Lebih lanjut Sudarto . mengungkapkan bahwa dalam agama Buddha untuk memberi- NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Dani Devia Utami | Kabri | Maria Fransisca Andanti Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X kan penghormatan serta menunjukkan rasa bakti kepada para leluhur atas berkah, perlindungan, dan bimbingan yang telah diberikan, mereka mengundang para dewa dan mengajak untuk mendengarkan serta merenungkan kembali dhamma yaitu melalui pembacaan paritta. Penjelasan di atas sejalan dengan proses pelaksanaan tradisi Muja Wali, dimana untuk memberikan penghormatan kepada leluhurnya dipersembahkan sesajian berupa Amisa Puja yang diikuti dengan pembacaan doa-doa atau Amisa Puja dalam konsep agama Buddha adalah bentuk penghormatan yang dilakukan dengan memberikan persembahan berupa materi seperti lilin, bunga, dupa, manisan, dan sebagainya yang tidak melibatkan pembunuhan makhluk hidup. Pada dasarnya persembahan dalam ritual suatu tradisi erat kaitanya dengan pengorbanan makhluk hidup. Sang Buddha mengajarkan untuk tidak melakukan pengorbanan yang dapat menyakiti makhluk hidup lainnya. Dalam Brahmajala Sutta. Digha Nikaya: AuMenghindari pembunuhan. Petapa Gotama berdiam dengan menjauhi pembunuhan, tanpa tongkat dan pedang, cermat, tidak melakukan kekerasan, penuh belas kasih, ia hidup mengasihi dan menyayangi semua makhlukAy (DN. Dari sutta tersebut menunujukkan bahwa Buddha menganjurkan untuk selalu mengembangkan kebajikan dengan selalu menyayangi dan menghargai kehidupan makhluk hidup lainnya. AuBarang siapa yang mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk hidup lainnya yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaanAy (Dhp. Dalam tradisi Muja Wali sesuai dengan ajaran Buddha diatas, ritual dalam tradisi ini tidak menggunakan persembahan berupa pengorbanan hewan. Berkaitan dengan persembahan sarana puja yang di persembahkan untuk para leluhur, dijelaskan juga dalam Tirokudda Sutta. Khuddaka Patha. Khuddaka Nikaya: AuDemikianlah mereka yang welas asih dengan sepenuh hati mempersembahkan makanan dan minuman yang baik sesuai dengan waktu, semoga timbunan kebajikan ini melimpah pada sanak keluarga yang telah meninggal dunia, dengan harapan semoga mereka berbahagia. Bagaikan air hujan turun dari ketinggian mengalir menuju ke dataran yang rendah, demikian pula dengan persembahan yang diberikan dari alam manusia menuju para mendiang. Seperti air sungai yang melimpah memenuhi samudera, demikian pula persembahan yang diberikan oleh sanak keluarga dari alam manusia menuju para mendiang. Seperti yang telah diberikan kepadaku, seperti yang telah dilakukan kepadaku, para sahabat dan sanak saudaraku, berikanlah persembahan kepada mereka seperti yang telah mereka lakukan pada masa lampauAy (Sudarto, 2. Jadi, sesuai dengan sutta di atas, dalam mempersembahan sesajian, masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango dalam ritual tradisi Muja Wali memberikan sarana puja dengan tidak mempersembahkan makanan dari hasil pengorbanan hewan kepada para leluhurnya dengan harapan mereka dapat mencapai kebahagiaan. Selain itu, penyaluran atau pemberian persembahan sarana puja juga dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur karena telah diberikan kemakmuran, kesehatan, serta hasil alam yang tidak hentinya melimpah di masyarakat Dusun Jiliman Ireng Tebango. Agama Buddha dalam ajaranya memang tidak diperkenankan untuk menyakiti makhluk lain demi kepuasan dan kebahagiaan semata Hal ini sesuai dengan pelaksanaan ritual tradisi Muja Wali dimana mereka menghindari penyiksaan atau pengorbanan untuk persembahan karena dapat menyebabkan penderitaan bagi makhluk hidup lainnya. Sehingga persembahan yang disalurkan kepada para leluhur dalam ritual pelaksanaan tradisi ini hanya berupa lilin, canang . , dupa, buah-buahan, air, manisan, jajanan, dan kelapa. Ketika sarana puja (Amisa puj. telah dipersembahkan, para pemangku membacakan paritta dengan tujuan agar para makhluk yang ada di alam semesta senantiasa selalu berbahagia. AuYe keci pANabhtatthi. TasA vA thAvarA vA anavasesA. DighA vA ye mahantA vA. MajjhimA rassakA anukathla. DihA vA ye va adihA. Ye ca dure vasanti avidre. BhtA vA sambhaves vA. Sabbe satta bhavantu sukhitattAAy. Artinya: AuMakhluk hidup apapun juga, yang lemah dan kuat tanpa terkecuali, yang panjang atau besar, yang sedang, pendek, kecil atau gemuk, yang tampak atau tak tampak, yang jauh ataupun NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Dani Devia Utami | Kabri | Maria Fransisca Andanti ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X dekat, yang telah lahir ataupun yang akan lahir. Semoga semua makhluk berbahagiaAy. Paritta yang dibacakan oleh para pemangku merupakan paritta Karaniyametta Sutta pada bait keempat dan kelima. Selain paritta Karaniyametta Sutta, para pemangku juga membacakan paritta Ratana Sutta yang teridiri dari bait satu, dua, lima belas, enam belas, dan tujuh belas. AuYanidha bhutAni samAgatAni. BhummAni va yaniva antalikkhe. Sabbeva bhtA sumanA bhavantu. Athopi sakkacca sunantu bhAsitam. TasmA hi bhtA nisAmetha sabbe. Mettam karotha manusiyA pajAya. Diva ca ratto ca haranti ye balim TasmA hi ne rakkhatha appamattA. Yanidha bhtAni samAgatAni. BhummAni va yaniva antalikkhe. TathAgatam devamanussapjitaA. BuddhaA namassAma suvatthi hotu. Yanidha bhtAni samAgatAni. BhummAni vA yAniva antalikkhe. TathAgatam devamanussapujitam. Dhammam namassAma suvatthi hotu. Yanidha bhtAni samAgatAni. BhummAni vA yAniva antalikkhe. TathAgataA devamanussapjitam. SanghaA namassAma suvatthi hotuAy Artinya: AuMakhluk apapun juga yang berkumpul disini, baik dari bumi, maupun di angkasa, semoga semuanya bersukacita. Kini, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh ajaran ini. Duhai para makhluk, perhatikanlah, perlakukanlah semua manusia dengan cinta kasih. Lindungilah mereka dengan tekun, sebagaimana mereka mempersembahkan sesajian siang dan Makhluk apapun juga yang berada disini, baik yang berada di bumi ataupun di angkasa, marilah bersama-sama menghormat Sang Buddha. Tathagata, yang dipuja oleh para dewa dan manusia, semoga memperoleh kesejahteraan. Makhluk apapun juga yang berada disini, baik yang berada di bumi ataupun di angkasa, marilah bersama-sama menghormat Dhamma. Tathagata, yang dipuja oleh para dewa dan manusia, semoga memperoleh kesejahteraan. Makhluk apapun juga yang berada disini, baik yang berada di bumi ataupun di angkasa, marilah bersama-sama menghormat Sangha. Tathagata, yang dipuja oleh para dewa dan manusia, semoga memperoleh kesejahteraanAy . wawancara terhadap narasumbe. Masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango yang melaksanakan tradisi Muja Wali mendoakan para leluhurnya dengan penuh cinta kasih https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 yang tinggi. Dalam bait paritta Rattana Sutta yang berbunyi: AuMakhluk apapun juga yang berada disini, baik yang berada di bumi ataupun di angkasa, marilah bersama-sama menghormat Sang Buddha. Dhamma, dan SanghaAy Artinya bahwa dari pembacaan paritta ini, para pemangku juga mengundang para leluhur untuk ikut serta dalam memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan di dalam Manggala Sutta: AuPuja ca pujaniyanam EtammangalamuttamamAy. Menghormati yang patut dihormti adalah berkah utama (Bhumi. 2021: . Tradisi Muja Wali tidak hanya dilakukan untuk penghormatan kepada para leluhur saja, tetapi dalam tradisi tersebut masyarakat juga memberikan penghormatan kepada para Buddha. Bodhisatva dan Mahasatva. Masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango menyelenggarakan tradisi Muja Wali dengan penuh suka cita, karena tradisi tersebut tidak terlepas dari rasa tanggung jawab dan rasa bakti masyarakat terhadap para leluhurnya yang telah memberikan berkah bagi kehudupan masyarakat pada saat ini. Selain itu, masyarakat juga bertanggung jawab dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan. Dalam Sigalovada Sutta, anak memiliki kewajiban dalam menjaga dan memelihara kehormatan serta tradisi di keluarga, dan anak memiliki kewajiban menjaga warisan dari orang tua. Walshe . menerangkan bahwa di dalam Sigalovada Sutta. Digha Nikaya, terdapat kewajiban orangtua kepada anakanaknya. AuTerdapat Lima cara oleh orang tua yang dilayani sedemikian oleh putranya sebagai arah timur, akan membalas: mereka harus menjauhinya dari kejahatan, mendukungnya dalam melakukan kebaikan, mengajarinya beberapa keterampilan, mencarikan istri yang pantas, dan pada waktunya mewariskan warisan kepadanyaAy (DN. Hal ini sejalan dengan tradisi Muja Wali, dimana masyarakat Dusun Jiliman Ireng. Tebango khususnya para orang tua, para tokoh, dan para pemangku telah meneruskan atau mewariskan ajaran para leluhurnya secara turun temurun kepada anak-anaknya yaitu tradisi Muja Wali yang masih dilestarikan hingga saat ini. Sehingga petunjuk Buddha mengenai kewajiban orang tua untuk memberikan warisan kepada anak-anaknya, dan kewajiban anak selain memelihara warisan yang diterimanya, juga ha- NILAI-NILAI BUDDHIS DALAM TRADISI MUJA WALI DI DUSUN JILIMAN IRENG TEBANGO KABUPATEN LOMBOK UTARA Dani Devia Utami | Kabri | Maria Fransisca Andanti Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X rus menjaga kehormatan termasuk melanjutkan tradisi yang sudah diwariskan. Jadi. Nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam tradisi Muja Wali dapat dimaknai bahwa tradisi ini telah memberikan dampak yang positif dalam kehidupan masyarakat. Adanya tradisi ini dapat memberikan pemahaman dan kesadaran kepada mereka bahwa dalam menjalankan tradisi Muja Wali tidak hanya sebatas ritual saja. Namun bagaimana masyarakat mampu mengimplementasikan nilai-nilai dalam tradisi tersebut dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat dan dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. IV. PENUTUP Masyarakat Buddha di Dusun Jiliman Ireng. Tebango memegang teguh adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun temurun. Salah satu tradisi yang di jaga oleh mereka adalah tradisi Muja Wali. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan bakti masyrakat terhadap para leluhur atas berkah yang telah mereka peroleh, baik itu berkah kesehatan, kemakmuran, kehidupan yang harmonis, serta hasil alam yang melimpah. Pentingnya tradisi Muja Wali bagi masyarakat di Dusun Jiliman Ireng. Tebango karena dapat memberikan pemahaman bahwa tradisi ini memiliki nilai-nilai ajaran Buddha yang berperan besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA