Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 14 No. 4 Desember 2025 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 1187 Ae 1205 PERAN INFLUENCER DALAM MEMBENTUK KESEJAHTERAAN KONSUMEN UNTUK MENINGKATKAN NIAT BELI Faiq Raihan Wijanarko* Program studi Manajemen. Universitas Trisakti. Indonesia Yolanda Masnita Siagian Program studi Manajemen. Universitas Trisakti. Indonesia *Corresponding Author Faiq Raihan Wijanarko faiqwijanarko09@gmail. ARTICLE INFO Article history : Received: 14 October 2025 Revised: 26 November 2025 Accepted: 02 December 2025 ABSTRACT This study aims to analyze the role of influencers in shaping consumer well-being to increase purchase intention. The instrument used to measure the research variables has passed the validity and reliability Sampling was carried out using the non-probability sampling method with a purposive sampling technique. The respondent criteria in this study were men who were followers of social media influencers of men's skincare products in the past month. A total of 206 respondents who met the criteria had filled out the questionnaire online via Google Form. The data obtained were processed using the Structural Equation Modeling (SEM) analysis method using AMOS software. The results of this study indicate that trustworthiness has a positive effect on stickiness in influencer posts, then stickiness in influencer posts has a positive effect on hedonic well-being and eudaimonic well-being, and ultimately consumer eudaimonic well-being has a positive effect on purchase Therefore, managers can utilize the role of trusted influencers to increase consumer attachment and eudaimonic well-being which can ultimately increase purchase intention. However, this study found that physical attractiveness and expertise did not have a positive effect on stickiness in influencer posts. Consumer hedonic well-being also does not have a positive effect on purchase intention. Based on these findings, it is suggested that future research add gender and influencer reputation variables as moderating variables and add attitude variables toward influencers as mediating variables in the conceptual framework so that the research model becomes more comprehensive. Keywords: Physical Attractiveness. Expertise. Trustworthiness. Stickiness. Hedonic Well-being. Eudaimonic Well-being. Purchase Intention This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah memengaruhi hampir semua sendi kehidupan, termasuk cara perusahaan merancang strategi pemasaran dan berinteraksi dengan konsumen (Jibril. Amoah. Panigrahi, & Gochhait, 2. Secara global, penggunaan internet terus meningkat dari tahun ke tahun, dan tren yang sama juga terlihat di Indonesia. Survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 221,6 juta jiwa atau 79,5% dari total populasi, meningkat sekitar 1,4% dibanding periode sebelumnya (APJII, 2. Peningkatan ini mengonfirmasi bahwa penetrasi internet di Indonesia masih berada pada tren naik dan menjadi fondasi penting bagi transformasi pemasaran menuju ranah digital. Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan internet telah mendorong pergeseran strategi pemasaran dari konvensional ke digital, salah satunya melalui pemanfaatan platform media sosial (Chetioui. Benlafqih, & Lebdaoui, 2. Media sosial memungkinkan merek menyajikan konten inspiratif, edukatif, dan menghibur sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Melalui strategi yang bijak dan transparan, merek dapat memperoleh kepercayaan dan dukungan pengguna media sosial (Panangian. Masnita, & Trisakti, 2. Di Indonesia, jumlah pengguna media sosial terus meningkat, dengan 139 juta pengguna aktif pada Januari 2024 atau setara 49,9% dari total populasi (Rizaty, 2. Perkembangan media sosial telah merubah cara orang mencari informasi tentang produk sekaligus mengubah cara membuat keputusan pembelian. Seiring pertumbuhan social media platform, fenomena Social Media Influencer (SMI) juga mengalami perkembangan yang pesat (Agnihotri et al. , 2. SMI telah menjadi pemimpin pendapat yang mampu mempengaruhi pengikut . untuk bertindak sesuai rekomendasi para influencer (Sun et al. , 2. Dari sisi konsumen, berbagai studi menunjukkan bahwa konsumen cenderung lebih mempercayai social media influencer (SMI) sebagai sumber penyampai pesan pemasaran (Agnihotri. Chaturvedi, & Kushagra Kulshreshtha, 2. Dari sisi pemasar, baik global maupun lokal. SMI telah dipercaya sebagai sarana komunikasi pemasaran yang efektif (Ghosh & Islam, 2. Penelitian (Cam. Dinh. Wang, & Lee, 2. menunjukkan bahwa 85% pemasar menggunakan SMI untuk menarik perhatian konsumen dan mempromosikan produk. Penelitian mengenai SMI juga telah berkembang luas, mencakup tema pengaruh SMI, persepsi pemangku kepentingan, keterkaitan SMI dengan kategori produk, proses identifikasi dan seleksi influencer, hingga isu etika (Ye. Hudders. Jans, & Veirman, 2. Selain itu, riset INSG. CO tahun 2022 menunjukkan bahwa terdapat tiga kategori produk yang paling banyak memanfaatkan influencer dalam strategi pemasarannya. Gambar 1. Konten Influencer Terpopuler Di Indonesia Berdasarkan Industri Sumber : INSG. CO, 2022 Berdasarkan informasi yang dapat dilihat pada gambar 1. 1, penelitian ini fokus pada produk kecantikan yang merupakan industri terbanyak dalam menggunakan Produk kecantikan dan perawatan tubuh memang identik dengan kaum wanita, namun seiring berjalannya waktu, cara pandang masyarakat telah berubah. Masyarakat menganggap bahwa penampilan fisik merupakan faktor yang semakin penting dan diutamakan baik untuk wanita maupun pria (Knudsen & Andersen, 2. Sebelumnya, pria sering diidentifikasi dengan ciri-ciri maskulinitas tradisional seperti kekuatan fisik, keberanian, serta sikap acuh tak acuh terhadap penampilan. Namun sekarang, banyak pria yang juga fokus menjaga penampilan dengan kulit yang sehat, bersih, dan terawat (Barber & Bridges, 2017. Knudsen & Andersen, 2. Hal ini semakin berkembang dengan munculnya tren pria metroseksual di penghujung abad ke-20 hingga awal abad ke-21 (Magklaras. Kapoulas, & George Miaoulis, 2. Istilah pria metroseksual menggambarkan meningkatnya perhatian pria terhadap penampilan, termasuk perawatan kulit dan penggunaan produk kecantikan, yang mencerminkan pergeseran pandangan sosial tentang maskulinitas (Kertamukti, 2020. Barber & Bridges, 2. Perkembangan ini menjadikan produk skincare tidak lagi eksklusif bagi wanita, tetapi juga menjadi kebutuhan penting bagi pria. Di Indonesia, industri kecantikan pria menunjukkan pertumbuhan positif dan stabil, dengan proyeksi pertumbuhan pasar mencapai 8,6% hingga tahun 2030 (Josh Howarth, 2. Penelitian mengenai peran influencer telah banyak dilakukan dengan beragam landasan teori, seperti Source Credibility Theory. Attribution Theory. Persuasion Knowledge and Social Comparison Theory. Dual Process Models, dan Elaboration Likelihood Model (Jamil. Qayyum, & Ramiz, 2. Studi literatur (Lu & Chen, 2. menunjukkan bahwa Source Credibility tidak hanya memprediksi sikap konsumen terhadap produk atau merek, tetapi juga kepuasan dan sikap pengikut terhadap social media influencer (SMI). Namun, kajian tentang consumer well-being dan stickiness dalam konteks SMI masih relatif terbatas (Jamil et al. , 2023. Lu & Chen, 2. Temuan (Lu & Chen, 2. ) menunjukkan bahwa physical attractiveness, trustworthiness, dan expertise berpengaruh terhadap stickiness, yang selanjutnya berdampak positif pada hedonic dan eudaimonic well-being. Sementara itu, (Jamil et al. , 2. menemukan bahwa argument quality, source credibility, dan kindness berpengaruh positif terhadap consumer wellbeing, yang kemudian memengaruhi purchase intention. Penelitian ini mengintegrasikan model dari (Jamil et al. , 2. dan (Lu & Chen, 2. untuk menganalisis peran influencer dalam membentuk stickiness pengikut pria terhadap konten skincare, yang berdampak pada kesejahteraan konsumen dan minat beli. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi variabel yang memengaruhi kesediaan follower pria meluangkan waktu menonton serta mengunjungi kembali video influencer . Selanjutnya, penelitian ini mengkaji konsekuensi stickiness terhadap peningkatan kesejahteraan konsumen . onsumer well-bein. dan minat beli . urchase intentio. produk skincare pria. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausal dengan desain crosectional untuk menguji hubungan struktural antara karakteristik influencer, stickiness, kesejahteraan konsumen . edonic dan eudaimonic well-bein. , serta niat beli. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengujian peran kesejahteraan konsumen sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan pengaruh influencer terhadap niat beli dalam konteks influencer skincare pria, yang masih relatif terbatas dikaji pada penelitian-penelitian Model penelitian memposisikan tiga dimensi karakteristik influencer, yaitu physical attractiveness, expertise, dan trustworthiness, sebagai anteseden stickiness. Selanjutnya, stickiness menjadi prediktor hedonic well-being dan eudaimonic well-being, dan kedua dimensi well-being tersebut menjadi prediktor purchase intention terhadap produk skincare yang dipromosikan. Populasi penelitian adalah pengguna media sosial pria yang mengikuti influencer produk skincare pria. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria: . berjenis kelamin pria, . mengikuti influencer skincare pria, dan . mengakses konten influencer tersebut dalam satu bulan terakhir. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan diperoleh 206 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan SPSS dan AMOS. Uji instrumen meliputi uji validitas melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan uji reliabilitas menggunakan Composite Reliability. Pengujian hipotesis dilakukan pada tingkat signifikansi 5% . < 0,. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini adalah hasil uji validitas yang telah dilakukan terhadap indikator yang digunakan untuk mengukur variabel dalam penelitian ini. Table 1. Hasil Pengujian Validitas . = . Variabel dan Pernyataan Factor Loading Physical Attractiveness Influencer ini tampan/cantik. 0,829 Influencer ini terlihat menarik. 0,766 Influencer ini lebih menarik untuk diikuti 0,602 dibandingkan influencer lain. Influencer ini sangat menarik secara fisik. 0,778 Trustworthiness Influencer ini dapat diandalkan. 0,788 Influencer ini jujur. 0,795 Influencer ini bertanggung jawab. 0,769 Influencer ini tulus. 0,791 Influencer ini dapat dipercaya. 0,781 Expertise Influencer ini ahli di bidangnya. 0,830 Influencer ini berpengalaman di bidangnya. 0,736 Influencer ini berpengetahuan luas di bidangnya. 0,818 Influencer ini kompeten di bidangnya. 0,792 Influencer ini terampil di bidangnya. 0,755 Stickiness Bersedia berlama-lama saat 0,821 postingan atau video influencer ini. Menghabiskan banyak waktu untuk menonton 0,828 video atau membaca postingan influencer ini. Berniat untuk semakin berlama-lama menelusuri 0,855 video atau postingan influencer ini. Menelusuri video atau postingan influencer ini 0,863 hampir setiap hari. Memiliki kebiasaan mencari video atau 0,850 postingan baru dari influencer ini saat mengakses Sering mengunjungi video atau postingan 0,870 influencer ini. Hedonic Well-being Menonton video atau membaca postingan 0,876 influencer ini membuat hidup terasa lebih baik. Menonton video atau membaca postingan 0,801 influencer ini membuat hidup terasa lebih Menonton video atau membaca postingan 0,819 influencer ini membuat hidup terasa lebih Menonton video atau membaca postingan 0,854 influencer ini membuat hidup terasa lebih Eudaimonic Well-being Menonton video atau membaca postingan 0,871 influencer ini membuat merasa berbeda dari orang lain. Menonton video atau membaca postingan 0,804 influencer ini membuat merasa lebih percaya diri. Menonton video atau membaca postingan 0,758 influencer ini membuat merasa lebih positif. Menonton video atau membaca postingan 0,885 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Variabel dan Pernyataan Factor Loading influencer ini membuat merasa semakin ideal. Purchase Intention Saya berniat untuk membeli Skincare setelah 0,842 menonton video promosi dari seorang influencer media sosial. Kemungkinan besar saya akan membeli Skincare 0,835 setelah menonton video promosi. Saya bersedia membeli Skincare setelah 0,878 menonton video promosi. Source: Output SPSS Keterangan Valid Valid Valid Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa nilai factor loading untuk setiap indikator dari semua variabel lebih dari 0,40, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator tepat dalam mengukur masing-masing variabel penelitian (Physical Attractiveness. Trustworthiness. Expertise. Stickiness. Hedonic Well- being. Eudaimonic Well-being, dan Purchase Intentio. Uji reliabilitas bertujuan untuk menilai konsistensi internal di antara indikatorindikator yang digunakan untuk mengukur sebuah variabel (Sekaran & Bougie, 2. Dalam penelitian ini alat analisis yang akan digunakan dalam menguji reliabilitas adalah korelasi internal croanbachAos alpha Variabel Physical Attractiveness Trustworthiness Expertise Stickiness Hedonic Wellbeing Eudaimonic Wellbeing Purchase Intention Source: Output SPSS Tabel 2. Hasil Pengujian Reliabilitas . = . CroanbachAos Jumlah Coefficient Alpha Item Pertanyaan 0,736 Keterangan Reliabel 0,844 0,845 0,922 0,857 Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0,850 Reliabel 0,809 Reliabel Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel di atas, menunjukkan bahwa seluruh instrumen yang mengukur masing-masing variabel (Physical Attractiveness. Trustworthiness. Expertise. Stickiness. Hedonic Well-being. Eudaimonic Well- being, dan Purchase Intentio. reliabel atau terdapat konsistensi internal antar indikator yang mengukur masing-masing variabel. Berikut ini adalah hasil analisis statistik deskriptif yang mencakup nilai mean dan standar deviasi untuk setiap variabel. Tabel 3. Hasil Uji Statistik Deskriptif . = . Indikator Mean Physical Attractiveness Influencer ini tampan/cantik. 4,097 Influencer ini terlihat menarik. 4,456 Influencer ini lebih menarik untuk diikuti 4,364 dibandingkan influencer lain. Influencer ini sangat menarik secara fisik. 4,320 Rata - rata variabel Physical Attractiveness 4,30 Trustworthiness Influencer ini dapat diandalkan. 4,267 Influencer ini jujur. 4,422 Influencer ini bertanggung jawab. 4,286 Influencer ini tulus. 4,379 Influencer ini dapat dipercaya. 4,379 Rata - rata variabel Trustworthiness 4,34 Expertise Influencer ini ahli di bidangnya. 4,223 Influencer ini berpengalaman di bidangnya. 4,354 Influencer ini berpengetahuan luas di 4,393 Influencer ini kompeten di bidangnya. 4,456 Influencer ini terampil di bidangnya. 4,398 Rata - rata variabel Expertise 4,36 Stickiness Bersedia berlama-lama saat menelusuri 4,078 postingan atau video influencer ini. Menghabiskan 4,136 menonton video atau membaca postingan influencer ini. Berniat untuk semakin berlama-lama 4,083 menelusuri video atau postingan influencer Menelusuri video atau postingan influencer 4,126 ini hampir setiap hari. Memiliki kebiasaan mencari video atau 4,170 postingan baru dari influencer ini saat mengakses internet. Sering mengunjungi video atau postingan 4,233 influencer ini. Rata - rata variabel Stickiness 4,13 Hedonic Well-being Menonton video atau membaca postingan 4,083 influencer ini membuat hidup terasa lebih Menonton video atau membaca postingan 4,199 influencer ini membuat hidup terasa lebih Menonton video atau membaca postingan 4,223 influencer ini membuat hidup terasa lebih Menonton video atau membaca postingan 4,267 influencer ini membuat hidup terasa lebih Rata - rata variabel Hedonic Well-being 4,19 Standar Deviasi 0,826 0,695 0,704 0,786 0,772 0,765 0,746 0,779 0,734 0,801 0,755 0,702 0,716 0,696 0,907 0,932 0,893 1,004 0,934 0,928 0,859 0,857 0,843 0,791 Indikator Mean Eudaimonic Well-being Menonton video atau membaca postingan 3,942 influencer ini membuat merasa berbeda dari orang lain. Menonton video atau membaca postingan 4,277 influencer ini membuat merasa lebih percaya Menonton video atau membaca postingan 4,316 influencer ini membuat merasa lebih positif. Menonton video atau membaca postingan 4,296 influencer ini membuat merasa semakin ideal. Rata - rata variabel Eudaimonic Well4,20 Purchase Intention Saya berniat untuk membeli Skincare setelah 4,126 menonton video promosi dari seorang influencer media sosial. Kemungkinan besar saya akan membeli 4,194 Skincare setelah menonton video promosi. Saya bersedia membeli Skincare setelah 4,160 menonton video promosi. Rata - rata variabel Purchase Intention 4,16 Source: Output SPSS Standar Deviasi 0,986 0,835 0,766 0,886 0,890 0,905 0,843 Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa Physical Attractiveness memiliki nilai mean atau rata Ae rata yaitu sebesar 4,30. Hal ini berarti rata - rata responden menganggap influencer yang mereka ikuti menarik secara fisik. Secara spesifik, yang dimaksud menarik secara spesifik adalah tampan atau cantik, terlihat menarik, dan penampilannya dianggap lebih memikat untuk diikuti dibandingkan dengan influencer lainnya. Nilai standar deviasi yang diperoleh yaitu sebesar 0,564 sehingga menunjukkan bahwa tanggapan dari responden cukup bervariasi. Tabel 3 juga menunjukkan bahwa Trustworthiness memiliki nilai mean sebesar 4,34 yang menunjukkan bahwa rata-rata responden menganggap influencer yang mereka ikuti merupakan sosok yang dapat dipercaya. Kepercayaan yang dimaksud berkaitan dengan kejujuran, ketulusan dan bertanggung jawab. Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,596 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap Trustworthiness influencer cukup bervariasi. Nilai rata-rata Expertise dalam tabel 3, menunjukkan angka 4,36 yang berarti bahwa rata-rata responden menganggap influencer yang mereka ikuti memiliki keahlian. Keahlian yang dimaksud adalah memiliki pengalaman dan pengetahuan luas di Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa influencer ini dipandang kompeten serta memiliki keterampilan yang mumpuni, sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang yang digelutinya. Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,577 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap Expertise mereka ikuti cukup bervariasi. Berdasarkan tabel 3. Stickiness memiliki nilai mean sebesar 4,13 yang menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki kelekatan dengan influencer yang mereka ikuti. Kelekatan yang dimaksud dalam konteks penelitian ini adalah kesediaan menghabiskan waktu lebih lama untuk menelusuri, menonton, atau membaca video dan postingan dari influencer yang mereka ikuti. Responden juga cenderung memiliki kebiasaan untuk mencari dan mengakses konten baru dari influencer tersebut secara rutin, bahkan hampir setiap hari. Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,791 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator Hedonic Well- being bervariasi. Hedonic Well-being memiliki nilai mean sebesar 4,19 sebagaimana terlihat di tabel 3, menunjukkan bahwa rata-rata responden merasakan senang secara hedonik dengan menonton video atau membaca postingan dari influencer ini, seperti membuat hidup terasa lebih baik, lebih memuaskan, dan lebih bahagia. Selain itu, responden juga merasa bahwa konten yang disampaikan oleh influencer ini mampu meningkatkan rasa optimisme dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,701 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator Hedonic Wellbeing bervariasi. Tabel 3, juga menunjukkan bahwa Eudaimonic Well-being memiliki nilai mean sebesar 4,20, yang berarti rata-rata responden merasakan adanya kesejahteraan secara eudomonik dengan menonton video atau membaca postingan dari influencer, seperti mereka merasa berbeda dari orang lain, merasa percaya diri, mempunyai pandangan yang lebih positif, dan membuat responden merasa semakin dekat dengan versi ideal diri Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,724 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator Eudaimonic Well-being bervariasi. Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa Purchase Intention memiliki nilai mean sebesar 4,16 yang menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki niat untuk membeli skincare yang dipromosikan influencer. Bahkan, kemungkinan besar akan membeli produk tersebut setelah melihat video promosi, dan menyatakan kesediaan untuk melakukan pembelian setelah terinspirasi oleh konten menarik dari influencer yang ditonton. Nilai standar deviasi yang diperoleh sebesar 0,749 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator Purchase Intention bervariasi. Hasil Uji Goodness of Fit Jenis Indikator Nilai Pengukuran Absolute Fit ECVI 6,277 Measure Incremental Fit Measure RMSEA 0,087 Batas Penerimaan yang Disarankan Mendekati nilai Saturated . dibanding Independent . O 0,10 IFI 0,854 Ou 0,90 Goodness of Fit Marginal Fit NFI TLI CFI RFI 0,780 0,838 0,853 0,759 Ou 0,90 Ou 0,90 Ou 0,90 Ou 0,90 Poor Fit Marginal Fit Marginal Fit Poor Fit Kesimpulan Goodness of Fit Parsimonius Fit Measure CMIN/DF 2,549 AIC Batas bawah 1, batas atas 5 1286,690 Mendekati nilai Saturated . dibanding Independent . Goodness of Fit Goodness of Fit Sumber : Output AMOS Berdasarkan Tabel 4. 3, empat dari sembilan indikator menunjukkan hasil goodness of fit yang memenuhi kriteria, yaitu ECVI. RMSEA. CMIN/DF, dan AIC. Mengacu pada Hair et al. , suatu model penelitian dapat dinyatakan layak apabila minimal satu kriteria goodness of fit terpenuhi. Dengan demikian, model penelitian ini dinilai layak dan dapat dilanjutkan ke tahap pengujian berikutnya, yaitu uji hipotesis. Hasil Analisis Jalur dan Uji Hipotesis No. Jalur Hubungan Variabel Struktural (Notas. SK <--- PA Physical Attractiveness Ie Stickiness SK <--- EXP Expertise Ie Stickiness SK <--- TW Trustworthiness Ie Stickiness HW <--- SK Stickiness Ie Hedonic well-being EW <--- SK Stickiness Ie Eudaimonic well-being PI <--- EW Eudaimonic well-being Ie Purchase Intention PI <--- HW Hedonic well-being Ie Purchase Intention Estimate 0,052 0,283 0,182 0,855 -0,046 0,449 1,040 0,607 -0,103 1,714 0,918 0,087 0,949 0,075 12,709 < 0,001 (***) 0,932 0,077 12,140 < 0,001 (***) 1,813 0,404 4,492 < 0,001 (***) -0,955 0,390 -2,446 0,014 Berdasarkan hasil analisis jalur struktural pada model SEM, dapat disimpulkan bahwa dari sisi atribut influencer. Physical Attractiveness (H. dan Expertise (H. tidak berpengaruh signifikan terhadap Stickiness, sehingga kedua hipotesis tersebut tidak Sebaliknya. Trustworthiness (H. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Stickiness, sehingga H2 didukung. semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap influencer, semakin tinggi pula stickiness pengikut pada kontennya. Selanjutnya. Stickiness terbukti berpengaruh positif dan signifikan baik terhadap Hedonic well-being (H. maupun Eudaimonic well-being (H. , sehingga H4 dan H5 Artinya, semakin tinggi stickiness terhadap konten influencer, semakin meningkat kesejahteraan hedonis . asa senang dan terhibu. serta kesejahteraan eudaimonis . asa bermakna, ideal, dan percaya dir. yang dirasakan konsumen. Pada tahap akhir, pengaruh well-being terhadap Purchase Intention menunjukkan bahwa Hedonic well-being (H. tidak mendukung hipotesis awal karena koefisiennya bernilai negatif meskipun signifikan. dengan demikian H6 secara substantif tidak didukung. Sebaliknya. Eudaimonic well-being (H. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Purchase Intention, sehingga H7 didukung: semakin tinggi eudaimonic wellbeing yang dirasakan konsumen, semakin tinggi pula niat beli terhadap produk skincare yang dipromosikan influencer. Hipotesis 1 Hipotesis satu menguji pengaruh positif Physical Attractiveness terhadap Stickiness, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. Ho: Physical Attractiveness tidak berpengaruh positif terhadap Stickiness H1: Physical Attractiveness berpengaruh positif terhadap Stickiness Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 1 pada tabel 4. 4, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,427 . ebih besar dari 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. tidak didukung. Artinya tidak terdapat pengaruh Physical Attractiveness terhadap Stickiness. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama tidak didukung. Hipotesis 2 Hipotesis dua menguji pengaruh positif Trustworthiness terhadap Stickiness, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. H0 : Trustworthiness tidak berpengaruh positif terhadap Stickiness. H2 : Trustworthiness berpengaruh positif terhadap Stickiness. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 2 pada tabel 4. 4, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,043 . urang dari 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. tidak didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. didukung, yang berarti terdapat pengaruh signifikan Trustworthiness terhadap Stickiness. Selain itu jika dilihat dari nilai estimate sebesar 1,040 yang menunjukkan arah pengaruh Trustworthiness terhadap Stickiness adalah pengaruh positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai p-value dan estimate seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka hipotesis kedua didukung, artinya terdapat pengaruh positif Trustworthiness terhadap Stickiness. Hipotesis 3 Hipotesis tiga menguji pengaruh positif Expertise terhadap Stickiness, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. Ho: Expertise tidak berpengaruh positif terhadap Stickiness H3: Expertise berpengaruh positif terhadap Stickiness Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3 pada tabel 4. 4, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,459 . ebih dari0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. tidak didukung, artinya tidak terdapat pengaruh Expertise terhadap Stickiness. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga tidak Hipotesis 4 Hipotesis empat menguji pengaruh positif Stickiness terhadap Hedonic well- being, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. H0 : Stickiness tidak berpengaruh positif terhadap Hedonic well-being. H4 : Stickiness berpengaruh positif terhadap Hedonic well-being. Berdasarkan tabel 4. 4 pada hasil uji hipotesis 4, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,000 . urang dari 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. tidak didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. didukung, artinya terdapat pengaruh signifikan Stickiness terhadap Hedonic well-being. Selain itu, jika dilihat dari nilai estimate nya sebesar 0,949 yang menunjukkan arah pengaruh Stickiness terhadap Hedonic well-being adalah pengaruh positif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan berdasarkan nilai p-value dan estimate seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka hipotesis keempat didukung, artinya terdapat pengaruh positif Stickiness terhadap Hedonic well-being. Hipotesis 5 Hipotesis lima menguji pengaruh positif Stickiness terhadap Eudaimonic wellbeing, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. H0 : Stickiness tidak berpengaruh positif terhadap Eudaimonic well-being. H5 : Stickiness berpengaruh positif terhadap Eudaimonic well-being. Berdasarkan tabel 4. 4 pada hasil uji hipotesis 5, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,000 . ebih dari 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. tidak didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. didukung, yang berarti terdapat pengaruh signifikan Stickiness terhadap Eudaimonic well-being. Selain itu, jika dilihat dari nilai estimate nya sebesar 0,932 yang menunjukkan arah pengaruh Stickiness terhadap Eudaimonic wellbeing adalah pengaruh positif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan berdasarkan nilai pvalue dan estimate seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka hipotesis keempat didukung, artinya terdapat pengaruh positif Stickiness terhadap Eudaimonic well-being. Hipotesis 6 Hipotesis enam menguji pengaruh positif Hedonic well-being terhadap Purchase Intention, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. H0 : Hedonic well-being tidak berpengaruh positif terhadap Purchase Intention. H6 : Hedonic well-being berpengaruh positif terhadap Purchase Intention. Berdasarkan tabel 4. 4 pada hasil uji hipotesis 6, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,007 . urang dari 0,. yang berarti terdapat pengaruh Hedonic well-being terhadap Purchase Intention. Namun, jika dilihat dari nilai estimate nya sebesar -0,955 yang menunjukkan arah pengaruh Hedonic well-being terhadap Purchase Intention adalah pengaruh negatif. Sehingga tidak sesuai dengan bunyi hipotesis enam yang menyatakan adanya pengaruh positif Hedonic well-being terhadap Purchase Intention. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. tidak Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis keenam tidak didukung. Hipotesis 7 Hipotesis tujuh menguji pengaruh positif Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention, dengan bunyi hipotesis sebagai berikut. H0 : Eudaimonic well-being tidak berpengaruh positif terhadap Purchase Intention. H7 : Eudaimonic well-being berpengaruh positif terhadap Purchase Intention. Berdasarkan tabel 4. 4 pada hasil uji hipotesis 7, dapat dilihat nilai p-value sebesar 0,000 . urang dari 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. tidak didukung, sehingga hipotesis alternatif (H. didukung, yang berarti terdapat pengaruh signifikan Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention. Selain itu, jika dilihat dari nilai estimate nya sebesar 1,813 yang menunjukkan arah pengaruh Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention adalah pengaruh positif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan berdasarkan nilai p-value dan estimate seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka hipotesis ketujuh didukung, artinya terdapat pengaruh positif Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention. PEMBAHASAN HASIL UJI HIPOTESIS H1 : Terdapat pengaruh positif Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh positif Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan influencer. Hal ini berarti semakin influencer menarik secara fisik tidak otomatis dapat meningkatkan kesediaan follower untuk berlama-lama menonton postingan dari influencer yang diikuti. Hasil ini tidak mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh (Lu & Chen, 2. yang menunjukkan adanya pengaruh Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan influencer. Studi literatur yang dilakukan oleh (N. Kumar & Nawaz, 2. menunjukkan bahwa salah salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses keputusan pembelian konsumen adalah jenis kelamin. Otak laki-laki dan perempuan bekerja secara berbeda dalam proses pembuatan keputusan pembelian. Persepsi dalam mengkonsumsi produk, termasuk dalam mengunjungi website . alam konteks penelitian ini, mengunjungi postingan influence. akan bervariasi tergantung pada jenis kelamin follower maupun jenis kelamin influencer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (N. Kumar & Nawaz, 2. juga menunjukkan adanya peran gender dalam memoderasi pengaruh attractiveness terhadap keputusan Berdasarkan pembahasan tersebut diatas, salah satu alasan tidak didukungnya hipotesis 1 yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan influencer adalah tidak dilibatkannya variabel jenis kelamin yang bisa memoderasi hubungan dari kedua variabel tersebut. Dengan demikian, pengaruh Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan influencer juga ditentukan atau tergantung pada jenis kelamin influencer. H2 : Terdapat pengaruh positif Trustworthiness terhadap Stickiness pada postingan Influencer Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh positif Trustworthiness terhadap Stickiness pada postingan influencer. Hasil ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh (Lu & Chen, 2. yang menemukan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan konsumen terhadap influencer maka semakin tinggi juga tingkat kelekatannya pada influencer tersebut. Tingkat kelekatan yang dimaksud adalah perlilaku seperti bersedia untuk berlama lama menonton vidio yang diposting oleh influencer, bersedia menghabiskan banyak waktu untuk menonton vidio postingan influencer, berniat untuk menelusuri vidio postinga influencer, dan sering mengunjungi vidio postingan influencer. Penelitian ini juga memperkuat temuan dari (Lee & Youn, 2. yang menunjukkan bahwa influencer trustworthiness berpengaruh besar terhadap sikap konsumen terhadap influencer . ang dalam konteks penelitian ini berupa Stickines. Oleh karena itu manajer harus mengelola dengan baik rasa percaya konsumen terhadap influencer marketing yang mereka gunakan dalam mempromosikan produk mereka. H3 : Terdapat pengaruh positif Expertise terhadap Stickiness pada postingan Influencer Hasil penelitian ini juga tidak mendukung adanya pengaruh positif Expertise terhadap Stickiness pada postingan influencer. Hasil ini sesuai dengan temuan penelitian (Lu & Chen, 2. yang menunjukkan bahwa Expertise tidak berpengaruh positif terhadap Stickiness pada postingan influencer. Menurut (Lu & Chen, 2. , konsumen lebih berorientasi mencari hiburan dalam menonton postingan seorang influencer, bukan untuk menilai ketrampilan influencer tersebut. Oleh karena itu, semakin ahli seorang influencer tidak menjamin semakin tinggi juga kesediaannya untuk berlama-lama menonton postingan dari influencer tersebut. Hasil penelitian (B. Kumar, 2. menemukan bahwa pengaruh Expertise terhadap proses keputusan pembelian seorang konsumen . ang salah satunya adalah dalam pencarian informasi dengan menonton postingan seorang influence. dimoderasi oleh jenis kelamin. (Agnihotri et al. , 2. menyatakan bahwa untuk sampai pada niat membeli, seorang konsumen tidak cukup hanya dibujuk oleh seorang influencer yang memiliki keahlian dibidang produk yang dipromosikan saja. Namun keahlian tersebut harus berhasil menumbuhkan sikap suka pada sang influencer. Dengan attitude yang positif pada influencer inilah yang dapat mengantarkan pada kesediaan konsumen untuk menonton terus postingan influencer dan pada gilirannya nanti akan dapat meningkatkan niat beli. Dari beberapa alasan tersebut, kemungkinan pengaruh Expertise terhadap Stickiness pada postingan Influencer adalah pengaruh tidak langsung, namun harus dimoderasi oleh jenis kelamin atau dimediasi oleh attitude to influencer. H4 : Terdapat pengaruh positif Stickiness pada postingan influencer terhadap Hedonic well-being Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat, dapat disimpulkan bahwa tingkat stickiness pada postingan influencer memiliki pengaruh positif terhadap Hedonic wellbeing. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat Stickiness konsumen terhadap influencer yang diikutinya . ang dapat dilihat dari kesediaan konsumen untuk menghabiskan waktu menelusuri postingan atau video influencer, kebiasaan mencari konten baru, serta intensitas kunjungan yang ruti. , maka semakin besar pula dampaknya pada peningkatan hedonic well-being konsumen. Hedonic Well-being ini tercermin dari hidup yang terasa lebih baik, lebih memuaskan, lebih bahagia, dan lebih optimis setelah mengakses postingan influencer tersebut. Dengan demikian, ketika konsumen semakin terlibat secara mendalam dengan postingan influencer, kesejahteraan hedonis mereka juga meningkat secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Brooks, 2. Penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam proses pembelajaran kelas dapat meningkatkan kepuasan siswa terhadap pembelajaran (Brooks, 2. Sementara itu, penelitian (Lu & Chen, 2. dalam bidang pemasaran influencer di media sosial menemukan bahwa frekuensi pengguna mengakses konten influencer yang mereka ikuti dapat meningkatkan kesejahteraan hedonis. Hal ini membuat konsumen merasa lebih bahagia, puas, dan optimis terhadap hidup mereka. Yang berarti semakin tinggi tingkat Stickiness konsumen terhadap influencer yang diikutinya, dapat dilihat dari kesediaan konsumen untuk menghabiskan waktu menelusuri postingan atau video influencer, kebiasaan mencari konten baru, serta intensitas kunjungan yang rutin, maka semakin besar pula dampaknya pada peningkatan hedonic well-being konsumen. Hal ini tercermin dari perasaan hidup yang terasa lebih baik, lebih memuaskan, lebih bahagia, dan lebih optimis setelah mengakses konten tersebut. Dengan demikian, ketika konsumen semakin terlibat secara mendalam dengan postingan influencer, kesejahteraan hedonis mereka juga meningkat secara signifikan. H5 : Terdapat pengaruh positif Stickiness pada postingan influencer terhadap Eudaimonic well-being Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kelima, dapat disimpulkan bahwa tingkat Stickiness pada postingan influencer memiliki pengaruh positif terhadap Eudaimonic well-being. Yang berarti semakin tinggi tingkat stickiness . eperti semakin bersedia untuk menghabiskan waktu lebih lama menelusuri konten influencer, semakin tinggi kebiasaan mencari postingan baru dari influencer yang diikuti, dan semakin tinggi frekuensi kunjungan yang konsiste. maka semakin besar pula dampaknya terhadap peningkatan eudaimonic well-being konsumen. Eudaimonic well-being ini tercermin dari konsumen yang merasa lebih berbeda dan unik dibandingkan orang lain, merasa lebih percaya diri,memiliki pandangan yang lebih positif, serta perasaan menjadi versi diri yang lebih ideal setelah mengakses konten influencer. Dengan demikian, keterlibatan yang mendalam dengan postingan influencer secara signifikan dapat memperkuat kesejahteraan eudaimonik konsumen. Hasil penelitian (Al-okaily. Alzboun. Alrawadieh, & Slehat, 2. juga menyatakan bahwa media sosial menciptakan pengalaman emosional yang memperkuat kesejahteraan konsumen pada aspek eudaimonik. Ketertarikan mendalam terhadap konten yang dibagikan oleh influencer tertentu, seperti membaca unggahan atau menonton video, dapat memberikan dampak positif pada konsumen, seperti meningkatkan rasa percaya diri, perasaan menjadi lebih ideal, dan perasaan unik dibandingkan dengan orang lain (Lu & Chen, 2. H6 : Terdapat pengaruh positif Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention Berdasarkan tabel hasil uji hipotesis keenam, yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh positif Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian (Jamil et al. , 2. yang menunjukkan bahwa pengaruh positif Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention dimoderasi oleh popularitas influencer. Popularitas seorang influencer memiliki pengaruh yang kuat terhadap niat dan keputusan pembelian konsumen (Ladhari. Massa, & Skandrani, 2. Berdasar penjelasan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention kemungkinan besar adalah tidak langsung, melainkan harus dimoderasi oleh variabel popularitas. Selain itu, jika dicermati, indikator-indikator yang digunakan dalam mengukur variabel Customer Hedonic Wellbeing, cenderung mencerminkan kesejahteraan yang menyoroti aspek subjektif seperti kebahagiaan dan kepuasan hidup. Indikator-indikator ini sesuai dengan definisi Hedonic Well-being yang dikemukakan oleh (Guzzo. Wang, & Abbott, 2. dan (Jian. Zhou, & Nan Zhou, 2. Konsumen yang merasa bahagia tidak menjamin akan memiliki niat beli terhadap sebuah produk. Hanya konsumen yang merasa bahwa dengan produk skincare yang diposting influencer akan membuat dirinya berbeda, membuat lebih percaya diri dan membuat hidup lebih bermakna lah yang akan menimbulkan niat beli terhadap skincare tersebut. H7 : Terdapat pengaruh positif Consumer Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketujuh, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention. Hal ini berarti Eudaimonic well-being juga berperan penting dalam memengaruhi niat beli konsumen terhadap produk yang dipromosikan oleh influencer. Semakin besar perasaan konsumen bahwa mereka berbeda dari orang lain, lebih percaya diri, dan menjadi versi diri yang lebih ideal setelah mengakses konten influencer, semakin tinggi pula niat mereka untuk membeli produk yang direkomendasikan. KESIMPULAN Berdasarkan pengolahan data dari 206 responden, dapat disimpulkan bahwa influencer yang diikuti dinilai menarik secara fisik, kredibel, dan memiliki keahlian di bidangnya. Responden juga menunjukkan minat untuk terus mengikuti konten yang diunggah serta merasakan kesejahteraan baik secara hedonic maupun eudaimonic. Selain itu, responden menyatakan kesediaan untuk membeli produk yang dipromosikan influencer. Secara umum, influencer berperan dalam meningkatkan kesejahteraan konsumen yang selanjutnya berpengaruh positif terhadap niat beli produk yang dipromosikan. Tidak terdapat pengaruh positif Physical Attractiveness terhadap Stickiness pada postingan influencer. Semakin influencer menarik secara fisik, tidak secara langsung akan mengakibatkan kesediaan follower untuk terus mengikuti postingan influencer tersebut. Terdapat pengaruh positif Trustworthiness terhadap Stickiness pada postingan Influencer. Semakin tinggi tingkat kejujuran dari seorang influencer maka semakin tinggi juga kesediaan follower untuk berlama lama mengikuti postingan influencer tersebut. Tidak terdapat pengaruh positif Expertise terhadap Stickiness pada postingan Influencer. Semakin ahli seorang influencer, tidak menjamin kesediaan konsumen untuk mengunjungi postingan influencer secara terus menerus. Terdapat pengaruh positif Stickiness pada postingan influencer terhadap Hedonic well-being. Semakin tinggi tingkat kesediaan follower dalam mengikuti postingan influencer maka semakin tinggi juga kesejahteraannya secara hedonic. Terdapat pengaruh positif Stickiness pada postingan influencer terhadap Eudaimonic well-being. Semakin bersedia konsumen mengikuti postingan dari influencer maka semakin tinggi juga tingkat kesejahteraannya secara eudaimonic. Tidak terdapat pengaruh positif Consumer Hedonic well-being terhadap Purchase Intention. Semakin tinggi kesejahteraan konsumen secara hedonic . emakin bahagi. , tidak menjamin kesediaannya untuk membeli produk yang diposting Terdapat pengaruh positif Consumer Eudaimonic well-being terhadap Purchase Intention. Semakin tinggi kesejahteraan konsumen secara eudaimonic . emakin percaya dir. , semakin tinggi juga kesedian konsumen untuk membeli produk yang diposting influencer. REFERENSI